Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seringkali kita mendengar istilah tanaman dan tumbuhan. Namun, tahukah


anda apakah perbedaan tanaman dan tumbuhan? Ataukah tanaman dan tumbuhan
itu sama? Sekilas tanaman dan tumbuhan itu sama. Bahkan banyak yang
menganggap bahwa tanaman itu adalah sama dengan tumbuhan. Faktanya,
tanaman dan tumbuah itu adalah berbeda. Walau sama-sama merujuk pada satu
hal, yaitu istilah untuk flora, misalnya tomat. Tumbuhan adalah flora yang hidup
dan tumbuh secara alami tanpa adanya campur tangan manusia. Sementara
tanaman adalah sebutan untuk flora yang sudah dibudidayakan oleh manusia
sehingga mempunyai nilai guna yang lebih baik. Banyak hal yang dapat
menganggu perkembangan tanaman, misalnya OPT (organisme penggangu
tanaman) yang terdiri dari hama, patogen, dan gulma. Hama sendiri merupakan
salah satu OPT yang mengkhawatirkan bagi para manusia yang menanam
tanaman khususnya para petani. Untuk menghindari hal tersebut, maka perlu
dilakukan upaya Perlindungan Tanaman. Perlindungan tanaman dapat diartikan
sebagai segala usaha yang dilakukan manusia untuk melindungi tanaman dari
hambatan atau gangguan yang berasal dari luar, yang dapat mengakibatkan
tanaman tidak dapat menghasilkan produk sesuai dengan yang diharapkan dilihat
dari sisi kuantitas, kuantitas dan kontinuitas.

Oleh karena itu, penulis ingin membuat makalah yang berjudul: Perkembangan
Perlindungan Tanaman Hama Terpadu.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis menyusun rumusan masalah


sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan hama?


2. Apa saja ciri-ciri berserta contoh dari hama?
3. Apa yang dimaksud dengan perlindungan tanaman?
4. Apa saja peran perlindungan tanaman?
5. Bagaimana perkembangan perlindungan tanaman terhadap hama?

II.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hama

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hama adalah


hewan yang mengganggu produksi pertanian seperti babi hutan, tikus,
dan serangga.

Menurut Raharjo (2012), hama adalah suatu gangguan yang terjadi


pada tanaman atau pada komoditas tertentu yang disebabkan oleh
binatang sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan dan kerugian
secara ekonomis.

Menurut Smith (1983), hama adalah semua organisme atau agens


biotik yang merusak tanaman dengan cara yang bertentangan dengan
kepentingan manusia.

Kesimpulannya, hama adalah seluruh organisme hidup yang


mampu mengurangi produksi tanaman pertanian biasanya berupa
serangga yang mudah dikenali dan terlihat dengan jelas tanpa alat
bantu.

B. Ciri dan Contoh Hama

Adapun ciri dan contoh hama, adalah sebagai berikut:

1. Hama dapat dilihat oleh mata telanjang


2.

Umumnya dari golongan hewan (tikus, burung, serangga, ulat


dan sebagainya).

3.

Hama

cenderung

merusak

bagian

tanaman

tertentu

sehingga tanaman menjadi mati atau tanaman tetap hidup tetapi


tidak banyak memberikan hasil.
4.

Serangan

hama

biasanya

lebih

mudah

diatasi

karena

hamanya tampak oleh mata atau dapat dilihat secara langsung.


Contoh dari hama berdasarkan ciri-ciri di atas adalah wereng,
gangsir, tikus, lalat buah, walang sangit, artona, dan lain-lain.

C. Pengertian Perlindungan Tanaman

Perlindungan tanaman dapat diartikan sebagai segala usaha yang


dilakukan manusia untuk melindungi tanaman dari hambatan atau
gangguan yang berasal dari luar, yang dapat mengakibatkan tanaman tidak
dapat menghasilkan produk sesuai dengan yang diharapkan dilihat dari sisi
kuantitas, kuantitas dan kontinuitas. Gangguan dari luar tersebut dapat
berupa gangguan atau serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT)

atau gangguan yang disebabkan dari faktor-faktor non-OPT seperti


dampak fenomena iklim (kekeringan dan banjir), kebakaran lahan atau
kebun dan penjarahan.

Menurut UU No.12 Thun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman,


dikatakan bahwa Perlindungan tanaman adalah segala upaya untuk
mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh
oeganisme pengganggu tanaman.

D. Peran Perlindungan Tanaman

Perlindungan tanaman mempunyai peranan yang sangat penting dalam


mempertahankan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas dari produk-produk
pertanian. Selain itu, ada beberapa peran penting lainnnya diantaranya
sebagai berikut :

1. Mendorong peningkatan kuantitas dan mutu produk

Perlindungan tanaman akan mengatasi permasalahan OPT, seperti


hama pengorok daun jeruk (Philloxnitis citrella), penggurulng daun
pisang (Erionata trax) dan sebagainya dapat dikendalikan kerusakan
dan kehilangan hasil akaibat dari seranagan hama tersebut. Sehingga
dengan dikendalikannya hama-hama yang merusak tanaman itu maka
kuantitas hasil pertanian akan meningkat. Selain itu, adanya gejala

penyakit pada tanaman akibat serangan patogen sepeerti jamur,


bakteri, dan virus, juga dapat mengurangi kualitas dari produk
pertanian. Hal ini karena buah dan sayuran terkena serangan patogen
sehingga menjadi busuk dan kualitasnya menurun akibatnya konsumen
tidak mau membeli. Misalnya gejala penyakit cacar daun teh
(Exobasidium vexan) akan mengurangi produktivitas daun teh dan
mutu produk menurun, gejala hawar daun kentang (phytopthora
infentans) dan sebagainya.

2. Mempertahankan produktivitas pertanian pada taraf tinggi

Kegiatan perlindungan tanaman dengan mengendalikan OPT, secara


umum akan mempertahankan produktifitas. Karena intensitas serangan
hama dan penyakit dapat berkurang sehingga kuantitas produksi dapat
ditingkatkan.

3. Meningkatkan kontinuitas produk, antara lain menjamin keberhasilan


penanaman

Dengan perlindungan tanaman maka keberhasilan penanaman


komoditas pertanian dapat dijamin keberhasilannya. Hal ini karena
hama dan penyakit yang menyerang biji dapat dikurangi dan
dikendalikan sehingga biji akan berdomansi dan berkecambah
akibatnya tanaman akan tumbuh dengan baik. Hama yang menyerang

biji diantaranya Agromyza phaseoli yang menyerang biji kedelai di


pertanaman.

4. Mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efisiensi produksi sehingga


harga lebih dapat bersaing

Pengendalian terhadap serangan hama dan patogen pada komoditas


pertanian dapat mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efisiensi
produksi. Dengan memperkirakan serangan OPT akan mengefektifkan
penggunaan pestisida sehingga biaya produksi akan berkurang. Jika
serangan OPT dapat dikendalikan maka fokus dan konsentrasi
terhadap budidaya tanaman akan meningkat sehingga kuantitas
produksi dan kualitasnya dapat diperkirakan.

5. Mernigkatkan keamanan produk dan menurunkan kandungan residu


cemaran berbahaya (pestisida dan logam berat) pada produk pangan
sehingga tidak berbahaya bagi konsumen
6. Meningkatkan kepercayaan pasar domestik dan global terhadap produk
pertanian Indonesia

Jika produk pertanian kita tidak terserang oleh hama maupun penyakit
atau dengan kata alin terbebas dan OPT maka produk kita akan
dipercaya oleh luar negeri sehingga mereka akan mengimpor produk
kita secara berkelanjutan.

7. Mendorong peningkatan kualitas manajemen usaha, kemandirian dan


volume usaha

Pembagian kerja atau manajemen kerja dapat dilakukan dengan


dengan baik sehingga tercipta manajemen usaha yang berkualitas.

8. Memberdayakan dan memandirikan petani sebagai pengelola usaha tani


yang profesional dan berorientasi pasar serta selera konsumen
9. Meningkatkan kemampuan kelompok tani menjadi unit pembelajaran, unit
produksi dan unit pemasaran
10. Meningkatkan kesadaran dan komitmen petani terhadap pelestarian
lingkungan hidup lokal, nasional, dan global
11. Meningkatkan kemampuan petani dalam mengembangkan dan
menerapkan teknologi khas lokasi, memanfaatkan sumberdaya lokal,
berwawasan lingkungan dan berdaya saing

E. Perlindungan Tanaman Terhadap Hama

Tahun 1939 : DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane) adalah salah satu


yang dikenal pestisida sintetis. Ini merupakan bahan kimia yang panjang,
unik, dan sejarah kontroversial diformulasikan di Swiss sebagai racun
perut dan racun kontak

Tahun 1962 : Rachel Carson menerbitakan buku yang Silent Spring


(musim semi yang sunyi) tentang bahaya pestisida. Buku ini menjelaskan
dampak dari penyemprotan DDT di Amerika Serikat. DDT banyak
mengandung bahan kimia yang dampaknya akan mempengaruhi ekologi
dan kesehatan manusia. DDT dan pestisida dapat menyebabkan kanker
dan pertanian jika terus digunakan dapat menjadi ancaman bagi satwa liar,
terutama burung. Silent Spring menyebabkan masyarakat banyak yang
tidak setuju atas DDT yang kemudian dilarang di AS pada 1972.

Tahun 1972 : EPA (Environmental Protection Authority) melarang


menggunakan DDT untuk pertanian di seluruh dunia di bawah Konvensi
Stockholm.

1990s : PHT diperkenalkan sehingga penggunaan pestisida berkurang

Sekarang, riset banyak dikembangkan terhadap :

1. Rekayasa genetik agen biokontrol


2. Pembuatan tanaman transgenik tahan OPT

Pestisida yang paling banyak digunakan di dunia adalah Herbisida, umumnya


masyarakat di negara maju mempunyai areal yang sangat luas,maka dari itu untuk
mengefisienkan tenaga kerja mereka lebih banyak menggunakan herbisida untuk
mengendalikan gulma.
Revolusi Hijau :

Varietas unggul

Penggunaan pupuk

Penggunaan pestisida : Penggunaan pestisida terlalu banyak akan


mengakibatkan Resurgensi (hama sekunder menjadi hama penting)

Akibat kerugian dari pestisida :


a. Berdampak pada kesehatan masyarakat
b. Resistensi OPT
c. Kekurangan hasil
d. Kontaminasi atau Pencemaran lingkungan
e. Terbunuhnya organisme non-target

Pengendalian terpadu :

Bertujuan untuk mengurangi penggunaan pestisida

Mengintegrasikan seluruh teknik dan metode pengendalian yang


kompatibel dengan menerapkan konsep agroekologi

PHT konsep lama :

Lebih ditujukan untuk mengurangi frekuensi dan jumlah pemakaian


pestisida

Karena pestisida merupakan pilihan terakhir, maka Pengendalian Terpadu


hanya diterapkan sebagai pilihan terakhir pula

Harus menghitung ambang ekonomi OPT dan ambang kendali terlebih


dahulu

Bersifat kuratif (pengendalian) dan bukan pencegahan

PHT konsep baru :


a. Bersifat holistik dengan menerapkan Agroekologi
b. Pestisida boleh digunakan diawal kegiatan budidaya (ex : perlakuan benih)
c. Tidak terlalu tergantung pada batasan ambang ekonomi
d. Bersifat preventif (pencegahan), dengan tujuan mengutamakan kesehatan
tanaman
Tindakan Preventif dalam arti sempit : Tindakan pencegahan, berdasarkan kepada
pengalaman masa lalu tentang pemecahan masalah suatu jenis hama.
Tindakan Kuratif dalam arti sempit : Tindakan pelaksanaan berdasarkan
kenyataan, yang ada timbulnya masalah hama yang harus segera ditanggulangi.
Aplikasi Preventif dalam arti luas adalah aplikasi insektisida yang dilakukan
sebelum ada serangan hama dengan tujuan untuk melindungi tanaman. Aplikasi
insektisida secara preventif dianggap tidak sesuai dengan prinsip pengendalian
hama terpadu (prinsip no pest no spray). Akan tetapi, dalam kondisi tertentu,
aplikasi preventif seringkali perlu dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Perlakuan benih (Seed Treatment)
b. Penaburan insektisida butiran
c. Pencelupan (dipping) benih tanaman (termasuk stek) ke dalam larutan
insektisida

d. Penyemprotan dengan insektisida

Pada dasarnya, perlindungan tanaman merupakan usaha yang


dilakukan para manusia untuk melindungi tanaman mereka dari OPT
(orgnanisme perusak tanaman). Hama merupakan dari OPT yang dapat
merusak perkembangan pada tanaman yang dapat menyebabkan
penyakit dan efek negatif lainnya. Perlindungan tanaman agar dapat
mencegah atau menghindari adanya hama tersebut dapat dilakukan
dengan cara pengendalian hama. Pada dasarnya, pengendalian hama
merupakan setiap usaha atau tindakan manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung untuk mengusir, menghindari dan membunuh
spesies hama agar populasinya tidak mencapai aras yang secara
ekonomi merugikan. Pengendalian hama tidak dimaksudkan untuk
meenghilangkan spesies hama sampai tuntas, melainkan hanya
menekan populasinya sampai pada aras tertentu ynag secara ekonomi
tidak merugikan. Oleh karena itu, taktik pengendalian apapun yang
diterapkan dalam pengendalian hama haruslah tetap dapat
dipertanggungjawabkan secara ekonomi dan secara ekologi.

Falsafah pengendalian hama yang harus digunakan adalah Pengelolaan


atau Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang dalam implementasinya
tidak hanya mengandalkan satu taktik pengendalian saja. Taktik
pengendalian yang akan diuraikan berikut ini mengacu pada buku

karangan Metcalf (1975) dan Matsumura (1980) yang terdiri dari :

1. Pengendalian secara mekanik


2. Pengendalian secara fisik
3. Pengendalian hayati
4. Pengendalian dengan varietas tahan
5. Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam
6. Pengendalian hama dengan sanitasi dan eradikasi
7. Pengendalian kimiawi

III.

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Hama adalah seluruh organisme hidup yang mampu mengurangi


produksi tanaman pertanian biasanya berupa serangga yang mudah
dikenali dan terlihat dengan jelas tanpa alat bantu.
2. Perlindungan tanaman dapat diartikan sebagai segala usaha yang
dilakukan manusia untuk melindungi tanaman dari hambatan atau
gangguan yang berasal dari luar, yang dapat mengakibatkan
tanaman tidak dapat menghasilkan produk sesuai dengan yang
diharapkan dilihat dari sisi kuantitas, kuantitas dan kontinuitas.
3. Peran perlindungan tanaman berupa: mendorong peningkatan
kuantitas dan mutu produk, mempertahankan produktivitas
pertanian ..
4. ...
B. Saran

Sesuai dengan kesimpulan di atas, penulis berharap para pembaca dapat


memahami konsep dan perkembangan perlindungan tanaman terhadap
hama terpadu.

DAFTAR PUSTAKA