Anda di halaman 1dari 29

BAB VII

PELURUHAN BETA
A. Kecepatan dan Energi Partikel
Bila suatu partikel bergerak dalam medan magnet yang orbitnya berupa
lingkaran dengan jari- jari r ditentukan oleh hubungan:
F F
s
m
m v2
Hev
r
Her
v
m

F Bqv
m
F Hev
m
m v2
F
s
r

Karena

Her
v2
2
v

maka
v
m
1
c2
O
2
c

(7.1)

Energi Kinetik Partikel


E E T
o
2
m c m c2 T
o
m c2
o
T
m c2
o
v2
1
c2

1
T m c2
1
o
v2
1

c2

di mana mo= massa diam dari electron, e = muatan elektron persamaan (7.1):c
v

Her
v2
1
m
c2
o

v
e
Hr
c
m c
o

v2

xc

c2

Muatan spesifik elektron dalam satuan elektron adalah:

7.2

e
emu
1,7588 x 107
m
gr
o
cm
c 2,99793 x 1010
dt
Her

m c v
o

e
c

2
v 2
1
c 2

(7.3)

Ada tiga macam peluruhan


1. Pemancaran elektron(-)
A X A Y 0 e
Z
Z 1 1

(7.4)

2. Pemancaran positron (+)


A X A Y 0 e
Z
Z 1 1

(7.5)

3. Penangkapan elektron
A X 0 e A Y
Z
1
Z 1

(7.6)

Ketiga gejala ini disebut transformasi isobarik, sebab nomor massa A tak
berubah.
Apabila suatu inti berada di daerah inti-inti yang tidak stabil, maka akan
meluruh sampai menjadi stabil. Jika inti tersebut berada di sebelah kiri daerah
stabil ia akan memancarkan partikel - (elektron) sedangkan jika inti tersebut
berada di sebelah kanan daerah stabil, maka ia akan memancarkan partikel +
(positron) atau penangkapan elektron (EC) sampai mencapai kestabilan.
B. Kestabilan Inti
N
dalam suatu inti
Z

Perbandingan antara cacah neutron dan proton

atom sangat menentukan kestabilan inti tersebut. Dengan demikian, menentukan


apakah inti tersebut bersifat radioaktif atau tidak.

Tabel 1. Komposisi Inti Berbagai Isotop Fosfor


Isotop

28

N
Z

Sifat inti

Radioaktif

28

15

13

13
15

29

15

14

14
15

30

15

15

15
15
16
15

Stabil
Radioaktif

29

30

31

p
31

15

16

32

32

15

17

17
15

33

33

15

18

18
15

34

34

15

19

p
p
p

19
15

Ada isotop Fosfor yang masing-masing mempunyai 15 proton dan sejumlah


neutron yang berbeda-beda banyaknya, mulai dari 13 sampai 19 (lihat tabel). Pada
tabel tampak bahwa stabil atau tidaknya inti atom isotop-isotop Fosfor tergantung
pada harga

N
N 16
N 16

. Harga
yang merupakan isotop stabil.
dan
Z
Z 15
Z 15

N 16

bersifat radioaktif.
Z 15
Pada tabel nuklida di bawah ini, nuklida - nukida tidak memenuhi seluruh tabel
melainkan hanya berada pada suatu pita yang berada di sekitar diagonal tabel
tersebut.

Tabel 2.2. Nuklida

Ternyata bahwa nuklida- nuklida stabil terletak di sekitar garis yang ada
di tengah-tengah pita yang diduduki oleh nuklida- nuklida itu. Garis ini disebut
garis kestabilan. Garis kestabilan ternyata berhenti hanya sampai nukida dengan
nomor atom 82, yaitu Bismuth. Dari sudut pandang ini, nuklida-nukllida
radioaktif adalah nuklida- nuklida yang harga

N
lebih kecil atau lebih besar dari
Z

N
stabil yaitu di atas atau di bawah garis kestabilan. Disamping itu ada juga
Z

nuklida-nuklida radioaktif yang di luar garis kestabilan yaitu mempunyai nomor


atom lebih dari 83.
a.

N
N

stabil
Z
Z
Inti-inti di daerah ini tidak stabil karena mengandung terlalu banyak

neutron dibandingkan dengan cacah protonnya. Untuk menstabilkannya,


sebuah neutron (n) akan berubah menjadi proton (p +). Peluruhan ini akan diikuti
dengan pancaran partikel beta (-) dan sebuah anti neutrino ( ). Anti neutrino ( )
adalah partikel elementer yang tidak mempunyai massa diam dan tidak bermuatan
listrik sehingga sangat sukar dibuktikan keberadaannya. Anti neutrino
dipostulatkan ada agar hukum kekekalan massa dan tenaga dalam peluruhan tetap terpenuhi.
1n 1p 0
0
1
1
atau
A X A Y 0
Z
Z 1
1

b.

N
N

stabil
Z
Z
Nuklida-nuklida ini tidak stabil karena intinya mengandung proton

terlalu banyak dibandingkan dengan neutronnya, untuk menstabilkannya,


sebuah proton akan berubah menjadi neutron. Dengan demikian menaikkan

mendekati
1).

N
stabil. Perubahan tersebut dapat melalui dua cara yaitu:
Z

Peluruhan +
1p 1n 0
1
0
1
A X A Y 0
Z
Z 1
1

2).

Penangkapan elektron

N
Z

1p 0 e 1n
1
1
0
A X 0e A Y
Z
1
Z 1
Syarat Terjadinya Peluruhan Beta
A. Pemancaran Elektron (elctron emission)
Untuk pemancaran elektron berlaku persamaan:
A X A Y 0 e
Z
Z 1 1
Misal mp= massa inti induk X (inti mula- mula)
md = massa dari inti anak Y (inti yang terjadi setelah peluruhan )
me = massa elektron diam
Kp =0 (inti induk mula- mula diam)
Kd = energi kinetik dari inti anak
Ke = energi kinetik dari elektron
Menurut hukum kekekalan energi:
Ei = Ef
di mana, Ei = Kp+Mpc2, karena inti induk mula-mula diam maka K p=0
sehingga
Ei = mpc2
Ef = mdc2+Kd+mec2+Ke
maka Ei = Ef
m c 2 = m c 2 +K +m c 2 +K
p
d
d e
e
2
2
K +K = m c - m c - m c2
d e
p
d
e
Oleh karena itu, energi disintegrasi Q adalah
Q = K + K = m c2 - m c2 - m c 2
d
e
p
d
e
2
Q = (m - m - m ) c
p d e
Untuk peluruhan spontan, maka energi disintegrasi Q harus positif.

Dari persamaan Q tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pemancaran


elektron hanya mungkin jika massa diam inti induk lebih besar dari massa
diam inti anak ditambah massa diam elektron.
m > (m + m ) maka Q = positif (pemancaran elektron)
p
d
e
Jika M(Z) = massa atom dari sebuah atom induk dengan nomor massa A
dengan nomor atom Z , M(Z+1) = massa atom dengan nomor atom (Z+1)
Di sini energi ikat dari elektron sangat kecil, sehingga dapat diabaikan:
M(Z) = M + m z
p
e
M = M(Z) - m z inti induk
p
e
maka dapat dituliskan
M(z+1) = M + m (z+1)
d
e
M = M(z+1) - m (z+1) Inti anak
d
e
Sehingga
Q = (M - M - m ) c2
p
d e

= M Z - m Z - M Z+1 - m Z+1 - m c 2
e
e
e

2
= M Z - m Z - M Z+1 + m Z+1 - m c
e
e
e
= M Z - m Z - M(Z+1) + m Z + m m c2
e
e
e
e
2
= M Z - M(Z+1) c

Syarat terjadinya peluruhan partikel beta spontan dalah Q > 0. sehingga

M Z - M(z+1)

c2 > 0
M Z - M(z+1) 0
.
Jadi M Z > M(z+1) Syarat terjadinya pemancaran elektron,
dengan A tetap

B. Pemancaran positron (+)


Untuk pemancaran positron (+) berlaku persamaan
A X A Y 0e
Z
Z-1
+1
Energi disintegrasi untuk pemancaran positron diberikan oleh

Q=K +K
d
e
= (M - M - m ) c2
p
d e
Dalam bentuk massa atomik dan energi ikat dari elektron diabaikan.
M(Z) = M + m Z
p
e
M M(Z) - m Z inti induk
p
e
M(Z-1) = M + m Z-1
d
e
M M(Z-1) - m Z-1 inti anak
d
e
Q = (M - M - m ) c 2
p
d e
Sehingga energi disintegrasinya:

Q = M(Z) - m Z - M(Z-1) - m (Z-1) -m c 2

e
e
e
= M(Z) - m Z - M(Z-1) + m (Z-1) - m c2
e
e
e

= M(Z) - m Z - M(Z-1) + m Z - m - m c2
e
e
e e
2
= M(Z) - M(Z-1 ) - 2 m c
e

Syarat terjadi peluruhan spontan adalah Q > 0, sehingga

M(Z) -M Z-1 - 2 me c

>0

M(Z) -M Z-1 - 2 m > 0


e

atau M(Z) > M(Z-1) + 2 me, Syarat terjadinya pemancaran positron dengan A
tetap.
C. Penangkapan Elektron
Untuk penangkapan elektron berlaku persamaan:
A
Z

X 01 e ZA1Y

Elektron
E le k tro n A u g e r

dalam

ditangkap

ada

kalanya masuk ke dalam inti dan


ditangkap.

kulit

Elektron
itu

yang

meninggalkan

lubang dalam kulit K, sehingga

In ti

terjadi transisi elektron dari kulit


L untuk mengisi lubang di kulit K
tersebut.
Akibat transisi itu dipancarkan sinar x yang energinya dapat dihitung dari:
h =E -E
K
K L
di mana EK= energi elektron di kulit K
EL= energi elektron di kulit L
Kadang-kadang sinar X yang dipancarkan berinteraksi dengan elektron di
kulit L atau lainnya, sehingga dipancarkanlah elektron yang disebut elektron
Auger.
Energi kinetik elektron Auger dari kulit L dapat dihitung dari:
K =h -E
e
K L , karena h K = E K - E L maka
K = E - E - E = E -2 E ,
e
K
L
L
K
L

diskrit

Penangkapan elektron tak dapat dideteksi secara langsung melainkan


biasanya dengan mendeteksi elektron Auger yang dipancarkan pada saat
terjadinya penangkapan elektron.
Ei=Mpc2+Kp+ me c2+Ke; karena Kp= 0 (diam), maka
Ei= Mp c2 + me c2 + Ke
E = M c2 + K
f
d
d
Menurut hukum kekekalan energi:
Ei=Ef
Mp c2+me c2+Ke=Md c2+Kd
Mp c2+me c2+Ke=Md c2+Kd
Mp c2+me c2-Md c2= Kd -Ke

10

(Mp+me- Md) c2= Kd -Ke


Q= Kd -Ke
Q= (Mp+me- Md)c2
M(Z)=Mp+meZ massa atom induk
Mp= M(Z) - me Z inti induk
M(Z-1) = Md + me(Z-1) massa atom anak
Md = M(z-1) - me(Z-1) inti anak
Sehingga energi disintegrasi:
Q = (Mp + me- Md)c2

2
Q = M(Z) - me Z + me - M(Z-1) - me (Z-1) c

Q M(Z) - m Z + m - M(Z-1) - m Z + m c 2

e
e
e
e

Q = M(Z) - me Z + me - M(Z-1) + me Z - me

Q = {M(Z) - M(Z-1)} c2
Syarat terjadinya penangkapan elektron ialah Q > 0
{M(Z) - M(Z-1)} c2 > 0
M(Z) - M(Z-1) > 0
Jadi M(Z) > M(Z-1). Syarat terjadinya penangkapan elektron dengan A tetap.
C. SPEKTRUM ENERGI PARTIKEL BETA
Kecepatan atau momentum partikel beta diukur dengan pembelokan
lintasan partikel dalam suatu medan magnet.
Gaya magnet Fm=Hev
Gaya sentripetal Fs m

v2
r

di mana r = jari-jari orbit

Fs Fm
v2
m Hev
r
v
m He
r
e
vHr
m
Kecepatan partikel beta

11

mo

v Hr

v2
c2

Sehingga dapat ditulis


v Hr

m c v
v2
Hr o 1 2
e c
c

Energi kinetik
K=mc2-moc2

moc 2
1

v
c2

1
2

2,997931010 v
v2

1,758810 7 c
c 2

moc2

:c

v
e
v2
Hr
1 2
c
moc
c

e
v
1 2
mo
c

e
v2
1 2
mo
c

v
v2
1704,5 1 2
c
c

1
2

1
2

1
2

v
1 2
c

mo c
2

karena
e
1,7588107 emu
mo
c 2,997931010 cm/s 2
Energi partikel beta yang dipancarkan oleh suatu sunber mempunyai
energi yang tidak sama. Spektrum energi beta yang diamati selama peluruhan dari
nuklida tertentu diperoleh kontinyu, yaitu partikel beta yang dipancarkan oleh
suatu sumber mempunyai range energi dari hampir nol sampai energi maksimum
dari distribusi yang berhubungan dengan perbedaan antara massa inti induk dan
inti anak.
Spektrum energi dari partikel beta dapat dituliskan dengan memplot
energi kinetik partikel beta terhadap jumlah relatif partikel beta atau rigid
magnetik terhadap jumlah relatif partikel beta.
Suatu inti meluruh dengan memancarkan - atau + spektrum energi kontinyu
mempunyai karakteristik:
a. Disini ada suatu nilai maksimum tertentu dalam distribusi dan berhubungan
dengan energi yang bergantung pada tipe inti di bawah peluruhan partikel .

12

b. Disini ada suatu titik akhir energi tertentu yang sama dengan sumber
disintegrasi yang tersedia. Energi titik akhir maksimum adalah fungsi dari
peluruhan partikel .
Karena jumlah partikel beta yang dipancarkan adalah berbeda dengan energi yang
berbeda maka energi sering dinyatakan dalam bentuk energi rata- rata:
E0

N(E) E dE
0
E0

N(E) dE
0

N(E)dE= jumlah elektron yang mempunyai energi antara E dan (E+dE)


E0= energi titik akhir
E sekitar

1
energi maksimum yang tersedia.
3

Karena partikel beta yang dipancarkan dari suatu inti radioisotop


mempunyai kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya maka geraknya
digambarkan dalam teori relativitas khusus.
Dalam beberapa kasus pemancaran partikel ditemukan spektrum
kontinyu dengan energi akhir adalah tunggal. Beberapa pemancaran partikel
mempunyai spektrum kompleks, di mana di sini ada dua atau lebih spektrum
dengan energi titik akhir dan intensitas yang berbeda.

13

Hasil pengukuran spektrum beberapa isotop


- dari isotop 64Cu

+ dari 64Cu

2 ,0

0 ,2 8

1 ,6

0 ,2 4

1 ,2

0 ,2 0

0 ,8

0 ,1 6

0 ,4

0 ,0 8

0 ,2

0 ,8

1 ,0

1 ,8

1 ,4

0 ,3

Spektrum - dari 64Cu

0 ,7

1 ,1

p
1 ,5

1 ,9

Spektrum + dari 64Cu


- dari 198Au

N
Jumlah elektron

K
40
L+M
30
20
10

1000

2000

3000

4000

Energi beta (k eV)

Spektrum - dari 198Au


Menurut hipotesis Pauli: bersama- sama dengan partikel ada partikel
lain yang dipancarkan. Partikel ini harus netral, mempunyai spin

1
dan massa
2

diamnya = 0. Partikel ini sangat sukar dideteksi secara langsung yang disebut
neutrino.
Untuk memenuhi hukum kekekalan energi maka haruslah:
Q=E+Ev
di mana:
E = energi partikel beta
Ev= energi partikel neutrino
Emaks= energi maksimum partikel

14

Apabila E = 0 maka Ev mencapai maksimum. Dari hipotesis ini maka


bentuk spektrum dapat diterangkan tetapi pada saat itu neutrino belum dapat
dideteksi secara langsung, setelah ada liquid sentillator neutrino baru dapat
dideteksi secara langsung oleh Reines dan Cowan (1953)
Ketiga macam peluruhan yaitu - , +dan penangkapan elektron dapat
dianggap sebagai transformasi neutron menjadi proton atau sebaliknya. Proses ini
terjadi dalam inti. Maka dapat ditulis:
1n 1p 0
0
1 1
1p 1n 0
1
0
1
1p 0 e 1n
1 -1
0
= neutrino

= anti neutrino
Untuk lebih jelasnya lihat beberapa contoh sebagai berikut:
1. Peluruhan
t
12tahun
3 H
1/2

1
Proses yang terjadi:
1n 1p 0
1
1
1

3 He 0
2
1

2. Peluruhan +
t
20,5 menit
11C
1/2

6
Proses yang terjadi:
1p 1n 0
1
1
1

11B 0
5
1

3. Penangkapan elektron
7 Be t1/2 83,9 menit
4

7 Li e
5
K

Proses yang terjadi: 1p 0 e 1n


1
1
1
Peluruhan dari neutron menjadi neutron baru ditunjukkan setelah adanya reaktor
dari

15

1n 56 Fe 1H 56 Mn
0
26
1
25
t

26
jam
56 Mn 1/2
56 Fe 0
25
26
1

1n 1H 0
0
1
1
Perbedaan dari neutrino dan anti neutrino dapat dari helisitasnya
r r
p
Helisitas=
= +1 untuk anti neutrino; = -1 untuk neutrino
p

=spin Pauli, p = momentum linier

180 o
cos 1
Neutrino

0o
cos 1

Antineutrino

Untuk menentukan apakah neutrino atau atau anti neutrino yang


dipancarkan dalam peluruhan beta, maka dapat digunakan hukum kekekalan
lepton. Lepton adalah partikel ringan seperti elektron, positron dan neutron. Setiap
lepton diberi bilangan yang disebut bilangan lepton.
Bilangan lepton = +1, anti lepton = -1. partikel-partikel yang bukan termasuk
lepton mempunyai bilangan lepton = 0
Hukum kekekalan lepton: dalam suatu reaksi jumlah bilangan lepton adalah kekal.
Misal:

n p

Bilangan lepton = 0
Jumlah bilangan lepton = 0

n p

Bilangan lepton = 0
Jumlah bilangan lepton = 0

16

D. TEORI ELEMENTER PELURUHAN BETA


Pada tahun 1934 Fermi telah mengajukan teori peluruhan beta
berdasarkan hiportesis Pauli. Asumsi yang dikemukakan dalam teori Fermi:
karena elektron/ positron dan neutron tidak ada di dalam inti, maka mereka harus
dibentuk dahulu pada saat disintegrasi:
1n 1H 0
0
1
1
Menurut Fermi, ada interaksi antara neutron dengan - dan menyatakan
tranformasi dari neutron ke proton. Jadi ada interaksi antara medan elektronneutron dengan nukleon.
Integrasinya adalah sangat lemah 10-13 dan berjangkauan pendek.
Probabilitas transisi per satuan waktu untuk pemancaran partikel beta dengan
range tipis momentum antara p ke (p+dp) dapat dihitung dari:
N(p)dp

2 dn
2
f | H op | i

dE

H if f | H op | i = elemen matrik untuk transisi tersebut.


H if *f H op i dv

i =fungsi gelombang pada keadaan awal dari sistem inti


*f = fungsi gelombang pada keadaan akhir dari sistem inti.
Sehingga
N(p)dp

2 dn
2
*

dv
f
op
i

dE

Hop= absorber interaksi yang menyebabkan transisi.


dn
= faktor statistik yang menyatakan keadaan akhir per satuan energi atau rapat
dE
energi keadaan persatuan volume.
Jumlah keadaan total yang didapat dari suatu partikel dengan momentum
antara p dan (p+dp) adalah peluruhan dengan volume suatu kulit bola dalam ruang
momentum yang jari- jarinya p dan tebal dp adalah:

17

dp

dv p 2sin d dpd

p 2 sin d dp
0

dv 4p dp
Menurut ketidakpastian Heisenberg, yaitu ketidakpastian posisi dari partikel
2

diberikan oleh:
x p ~ h
(x y z) (pxpypz) ~ h3
Kita asumsikan bahwa interaksi mengambil tempat dalam satu satuan volume
Ruang posisi: x y z = 1
Ruang momentum: pxpypz ~ h3
Jumlah keadaaan awal (dn) dalam kulit bola tipis

dV 4p 2
3 dp
h3
h

Jumlah keadaan dari elektron yang dipancarkan dengan momentum antara p dan
(p+dp) dengan neutrino dengan momentum dari pv dan (pv+dpv)
4 p2
dn =
dp

h3
4 p2
dn =
dp

3
h
Jumlah keadaan total (dn) yang diberikan dalam suatu disintegrasi suatu elektron
dengan momentum antara p dan (p+dpv) adalah:
dn = dn dnv
dn

4 2
4
16 2 2 2
p dp
p dp
p p dp dp


h3
h3
h6

18

Karena dari hukum kekekalan energi p dan pv tidak saling bergantung, tetapi
dihubungkan dengan
E+Ev=Emaks

(a)

Energi elektron dari teori relativistik:


E m 2 c4 + p 2 c2

2
4
2
2

m c +p c 2

o

Sedang energi dari neutrino dengan asumsi bahwa neutrino memiliki laju massa
diam = 0, mov= 0 sehingga menjadi:
E = m2 c4 + p2 c2

E =p c

Jika persamaan (b) disubstitusikan ke dalam (a) memberikan


16 2
h6

p 2p 2 dp dp

2
2
E
E

2
maks
p

dE
16 2 2 E maks


dn
p
dp


c
c
h6

p2
2
16 2

dn
E

E
maks
dp dE
6
3

h
c
karena h 2h,maka
2
16 2p 2 E
E dp dE
maks


dn
2h 6 c3
2
16 2p 2 E
E dp dE
maks


dn
4 4c3h6
2
p 2 E
E dp
maks

dn
4 4c3h6
dn

19

E E E

maks
1

2 4
2 2 p c m 2c 4 p 2
c2
m c p c

o
maks
o

dari persamaan a dan c


E -E E

maks
dE
1
dE

dE dE

E
E p cp

c
dE
dE
c dp

dp
c

atau dE c dp

1
dE c dp dp dE

Probabilitas transisi:
2 dp
dE

2
2 H * dv dp E
P
f op i

23c3h7

2
*
Np dp
H fdv
op i
h

E
maks

Harga ekspetasi Hif dan operator Hop diberikan:


2 H * dv
H
if f op i

Untuk menentukan Hop, Fermi telah memakai analogi dari elektrostatik. Dalam
elektrostatik, energi potensial dinyatakan dengan V e
di mana:e = muatan

= potensial
Berdasarkan analogi itu, Fermi telah mengambil: Hop g
di mana g = suatu konstanta interaksi

= fungsi gelombang elektron

20

Neutrino dapat dianggap suatu partikel bebas karena interaksinya lemah sekali.
Jadi
r
i q r
=e
uur
p

di mana q ;
h

p momentum linear neutrino

q bilangan gelombang

Elektron dipancarkan mempunyai kecepatan tinggi, sehingga elektrostatika dapat


(interaksi Coulomb) diabaikan maka
r r
ik
e r

p
r

k
h

pr momentum linear partikel


k bilangan gelombang
r r r
2
i
k

r
g2
*
N p dp e
E p dp 2
f d x dp E i maks

3
3
7
2 c h
r r r
i k q r
misalkan M e *
d
f
i

g2 M 2
sehingga
x dp E
E 2p 2dp
maks

3
3
7
2 c h
Konstanta g melukiskan interaksi lemah yang besarnya g = 1,4.10-49 erg.cm3
Perbandingan harga konstanta gandengan interaksi lemah, interaksi
elektromagnetik dan interaksi nuklir. Untuk interaksi lemah, konstanta gandengan
mempunyai harga:
g2
10-13
hc
Untuk interaksi elektromagnetik:
Untuk interaksi nuklir:

f2
1
hc

g2
10-2
hc

21

Transisi yang diperbolehkan:


r r r
i
k
q r dan diekspansikan dengan
Dengan meninjau bentuk eksponensial
e

deret Taylor:
xn
x x2
ex
1
....
n!
1!
2!
r r r
r nr r
r r r k q r
i k q r
e
1 i k q r
....
2!

Biasanya nilai k dan q kecil.


Sedang fungsi gelombang hanya mempunyai arti dalam inti, sehinga untuk
partikel beta dengan energi beberapa MeV berlaku:
r r r
r r r 1
i k q r
k q r~
Sehingga e
10
*
Jadi M f i d
f i

di mana i dan f masing-masing adalah fungsi gelombang sistem inti awal dan
akhir.
Meskipun tidak diketahui i dan f tetapi diketahui bahwa fungsi-fungsi
gelombang adalah eigen fungsi dari operator spin inti I.
Jadi M = 0. kecuali jika Ii dan If tak berubah atau I = If - Ii = 0. keadaan tersebut
disebut transisi yang diperbolehkan.

22

Kurie Plot
Untuk transisi yang diperbolehkan berlaku:
g2

2
E maks E 2p dp
3
3
7

2 c h
p dan dp dp

2
2
g
E

maks
23c3h7
2
c E
E
maks

N p dp
p

N p
p2

N p

p2

c E
E
maks

m c +K
o 2

E
,maka
maks
m c2 K
o

2
m c K
o
maks
maka
E
E m c2 K
m c2 K
maks
o
maks
o

E
E K
K
maks
maks

gM
dengan c
1
3
3
7
2 c h 2
karena E

dan E
p
E

E
maks

Kmaks= energi kinetik maksimum partikel beta


N p

Apabila digambarkan dalam grafik


2
p

versus K akan didapatkan grafik

yang berpotongan dengan sumbu K dan menimbulkan K maks. Grafik disebut Curie
Plot. Kmaks atau energi Curie Plot.

23

N p

p 2

2
9
8
7
6

N e u tro n

5
4
3
2
1
0

200

400

600

800

K (K e V )

Gambar 2. Curie plot peluruhan neutron. Pengaruh interaksi Coulomb


pada peluruhan beta.
Jika teori di atas dikoreksi, plot Curie didapat dari nilai experimen akan
berupa garis lurus. Sebelum digunakan, teori ini perlu dites. Hal itu diperlukan
karena permakaian koreksi sesuai dengan medan Coulomb dari inti pemancaran dan +
Untuk - interaksi Coulomb menghalangi pemancaran.
Untuk + interaksi Coulomb mendorong pemancaran.
Pengaruh ini dapat dilihat dalam spektrum pancaran - dan +

m aks

Gambar 3. pengaruh interaksi Coulomb dalam spektrum pancaran - dan +


Koreksi interaksi Coulomb dinyatakan dengan faktor Coulomb F(Z;p)
Ze2E
2
maks
F Z;p
di mana
-2

2
1-e
hc p
Tanda (+) untuk pancaran - dan () untuk pancaran +
Maka kebolehjadian pemancaran partikel jika pengaruh interaksi Coulomb
diperhitungkan menjadi:

24

g2 M 2
F Z,E E
E
maks
3
3
7

2 c h
Bila p p dan dp dp

Maka
2
N p dp
c2 E
E dp
maks
F Z,E p2
N p dp

N p

c2 E
E
maks
2

F Z,E p
1
N p 2
c E
E
maks
2

F Z,E p
atau
1
N p 2
c K
K
maks

F Z,E p2

2
p dp

25

N p

F Z,E p 2

1
2
3
3
0 1
1 H 2 He 1

12

16

20

24

K (K e V )

Gambar 4. Curie plot peluruhan 3 H .


1
Transisi Terlarang
Ada kalanya pemancaran partikel beta tidak memberikan Curie plot
yang lurus seperti pada transisi yang diperbolehkan. Hal ini disebabkan karena
elemen matrik yang tergantung pada energi (E). Transisi seperti ini
diklasifikasikan transisi terlarang. spektrum dari spektrum n terlarang
N (p) ~ F (Z,E) P (Emaks-E)2Sn(E)
Sn(E)= faktor shape (bentuk) dan tergantung pada tipe interaksi.
S1(E)=E2-mo2c4)+(Eo-E)2
Transisi terlarang I

10 2
2
2 4
E moc E o E
3

S2 (E) E 2 - m o2 c 4 E o E
Transisi terlarang II

Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut:


r r r
i k q r
M f e
i

r r r 2
r r r

k
q r
i kq r

f i f e
i f
i ....
2!

Misal f i 0 . Karena kaidah seleksi tak dipenuhi ( 0) maka suku ke- 2 dan
ke- 3 belum tentu sama dengan nol.

26

dan hal ini memungkinkan adanya transisi walaupun menurut kaidah seleksi
transisi itu terlarang. Jadi jika suku ke- 1 = 0 sedang suku ke- 2 dan ke- 30 maka
transisi tersebut disebut transisi terlarang II
N p

1
2

p 2

Gambar 5. Curie Plot untuk transisi terlarang I tidak lurus seperti


halnya dalam transisi yang diperbolehkan.
Laju Peluruhan Beta dan Comparative Life-Time
Probabilitas transisi (pemancaran partikel beta) per satuan waktu, dengan
momentum antara p dan p+d
g2 M 2
N p dp
F Z,E K
K p 2dp
maks
3
3
7
2n c h

Probabilitas pancaran elektron per detik dengan mengintegrasikan persamaan


tersebut di atas dari 0 sampai pmaks. Maka laju peluruhan dapat dihitung dari
p
maks
1
N p dp

0
di mana

27

g 2 M 2 m5c 4
F Z,E K
K p 2dp
maks
3
5
7
7
2 m c h
2 p 2 dp
g 2 M 2 m5c 4
N p dp
F Z,E K
K

maks
mc
mc
2 3h3
p
maks
2 p 2 dp
g 2 M 2 m5c 4
dp
F Z,E K
K

maks
mc
mc
2 3h7
0
p
2 p 2 dp
g 2 M 2 m5c 4 maks

F Z,E K
K

maks
mc
mc
2 3h7
0
g 2 M 2 m5c 4

f Z,K
maks
2 3h7
N p dp

di mana f Z,K maks

p maks

p dp
F Z,E K maks K

mc mc
2

Dalam kasus khusus


p maks
E
1 atau maks2 1 dan F E,Z 1 maka diperoleh
mc
mc
2
2
p maks
dp
K maks K p
f Z,K maks

2
mc mc mc
0
2
pmaks
dp
K maks k
p

2
m c 0 m c m c
2
3
k p
1 K
maks 2 maks
3 m c
m c
Karena
K
K maks ~Pmaks c p maks maks
c
2
3
3
1 K maks K maks
1 1

5
Sehingga f Z,K maks ~
m c2 ~K o K maks ; di mana K o 3 m c2
3 m c2

f Z,K maks ~K o K 5 maks


1
~ ~K 5maks

28

Jika t1/2 adalah waktu paruh peluruhan maka dapat dituliskan


ln 2
ln 2t 1 2
=
t1 2
2
2
5 4
ln 2 g M m c

f
t1/2
2 3 h 7
2 3 h 7 ln 2
f t1/2 2
2
g M m 5c 4
C
f t1/2 o2 disebut comparative half life time
M
2 3 h7 ln 2
di mana C o
g 2 m5c4
f t1/2 = comparative half life-time, yakni waktu paruh yang telah dikoreksi

dengan Z dan E. f t1/2 dipakai untuk membandingkan berbagai pemancaran


partikel beta berdasarkan Z dan Kmaksnya
--------------------------selesai --------------------------

TUGAS BAB 7 PELURUHAN .


1.

Tentukan energi maksimum beta negative pada saat


isotop Ne-23 menjadi Na-23, jika diketahui massa atomic masing-masing
isotop adalah 22,994466 dan 22,98977 .

2.

Peluruhan Cs-137 menjadi Ba-137 memiliki transisi


0,6616 MeV. Tentukan energi elektron konversi untuk kulit K dan L. Energi
ikat kulit K dan L untuk Cs adalah 35,9 keV dan 5,7 keV, sedangkan untuk Ba
adalah 37,4 keV dan 6,0 keV.

3.

Hitunglah energi titik akhir spektrum beta neutron


(MeV) dari massa neutron dan Hidrogen.

4.

Assumsikan bahwa inti Be-7 dalam keadaan diam


sebelum terjadi tangkapan elektron K. Tentukan kecepatan dan energi elektron

29

setelah terjadi tangkapan elektron K, anggap massa neutrino nol. Perbedaan


massa atomik Be-7 dan li-7 adalah 0,86 MeV.
--------------------selamat mengerjakan----------------------------