Anda di halaman 1dari 29

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bioetanol
Bioetanol adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari
sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol saat ini
yang diproduksi umumnya berasal dari etanol generasi pertama, yaitu etanol
yang dibuat dari gula (tebu, molases) atau pati-patian (jagung, singkong, dll).
Bahan-bahan tersebut adalah bahan pangan (Bambang Prastowo, 2007).
Pembuatan bioetanol bukan merupakan suatu hal yang baru. Secara
umum, proses pengolahan bahan berpati/karbohidrat seperti ubi kayu, jagung
dan gandum untuk menghasilkan etanol dilakukan dengan proses hidrolisis,
yakni proses konversi pati menjadi glukosa. Prinsip dari hidrolisis pati pada
dasarnya adalah pemutusan rantai polimer pati menjadi unit-unit dekstrosa
(C6H12O6). Pemutusan rantai polimer tersebut dapat dilakukan dengan
berbagai metode, misalnya secara enzimatis, kimiawi ataupun kombinasi
keduanya. Proses berikutnya adalah proses fermentasi untuk mengkonversi
glukosa (gula) menjadi etanol dan CO2.
Arah pengembangan bioetanol mulai berubah generasi kedua, yaitu
limbah pertanian yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin.
Selulosa merupakan karbohidrat utama yang disintesis oleh tanaman dan
menempati hampir 60% komponen penyusun struktur tanaman. Jumlah
selulosa di alam sangat melimpah sebagai sisa tanaman atau dalam bentuk
4

limbah pertanian seperti jerami padi, tongkol jagung, gandum dan kedelai.
Nilai ekonomi senyawa selulosa pada limbah tersebut sangat rendah karena
tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh manusia. Sulitnya mendegradasi
limbah tersebut menyebabkan petani lebih suka membakar limbah tersebut di
lahan pertanian dari pada memanfaatkannya kembali melalui pengomposan
(Salma & Gunarto, 1999). Untuk mengubah selulosa, hemiselulosa, dan lignin
dari limbah pertanian memerlukan jenis mikroba baru yang mampu
melakukannya (Kompas, 13 Agustus 2007).

2.2 Bahan Baku Pembuatan Bioetanol


Menurut Anggraeni, dkk (2009), industri kimia dengan proses
fermentasi bisa dikatakan fleksibilitas tinggi terhadap bahan bakunya.
Terhadap banyak variasi bahan baku yang dapat digunakan dalam industri
fermentasi. Dan hampir semuanya, bahan baku proses fermentasi, baik secara
langsung maupun tidak menggunakan hasil pertanian seperti: tebu, jagung,
umbi-umbian, nira, limbah tumbuhan yang menagndung selulosa, pati,
karbohidrat dan gula. Misalnya, jerami, tongkol jagung, sisa-sisa sayuran
(tomat, cabe yang hampir membusuk), sisa-sisa buah-buahan (kulit nanas,
kulit pisang, melon, semangka dll).
Produksi etanol dengan cara fermentasi dapat diproduksi dari 3 macam
karbohidrat, yaitu (Anggraeni, dkk, 2009):
a. Bahan yang mengandung gula atau disebut juga substansi sakarin yang
rasanya manis, seperti misalnya gula tebu, gula bit, molase (tetes), macam-

macam sari buah-buahan dan lain-lain. Molase mengandung 50-55% gula


yang dapat difermentasi, yang terdiri dari 69% sukrosa dan 30% gula
inversi.
b. Bahan yang mengadung pati misalnya: padi-padian, jagung, gandum,
kentang sorgum, malt, barley, ubi kayu dan lain-lain.
c. Bahan-bahan yang menagdung selulosa, misalnya: kayu, jerami, tongkol
jagung, cairan buangan pabrik pulp dan kertas (waste sulfire liquor).
Produksi ethanol/bio-ethanol (alkohol) dengan bahan baku tanaman
yang mengandung selulosa, dilakukan melalui proses konversi selulosa
menjadi gula (glukosa) larut air, kemudian dari

glukosa dikonversi lagi

menjadi ethanol.

2.3 Proses Pembuatan Bioetanol


Proses pembuatan etanol secara industri tergantung bahan bakunya.
Bahan yang mengandung gula biasanya tidak atau sedikit saja memerlukan
pengolahan pendahuluan. Tetapi bahan-bahan yang mengandung pati atau
selulosa harus dihidrolisa terlebih dahulu menjadi gula barulah dilakukan
fermentasi menjadi etanol.
Menurut Nurdyastuti (2008) produksi etanol/bioetanol (alkohol)
dengan bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat,
dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menajdi gula (glukosa) larut
air. Konversi bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat dan
tetes menjadi bioetanol ditunjukkan pada tabel 2.1 (Nurdyastuti, 2008):

Tabel 2.1 Konversi Bahan Baku Tanaman yang Mengandung Pati atau
Karbohidrat dan Tetes menajdi Bio-etanol
Kandungan gula
Jumlah Hasil
Bahan baku
Perbandingan
dalam Bahan Baku
Konversi
Bahan Baku
Bio-etanol
dan Bioetanol
Jenis
Konsumsi
(kg)
(liter)
Ubi kayu

1000

250-300

166,6

6,5:1

Ubi jalar

1000

150-200

125

8:1

Jagung

1000

600-700

200

5:1

Sagu

1000

120-160

90

12:1

Tetes

1000

500

250

4:1

Glukosa dapat dibuat dari pati-patian, proses pembuatannya dapat


dibedakan berdasarkan zat pembantu yang dipergunakan, yaitu hidrolisa asam
dan hidrolisa enzym. Berdasarkan kedua jensi hidrolisa tersebut, saat ini
hidrolisa enzym lebih banyak dikembangkan. Sedangkan hidrolisa asam
(misalnya dengan asam sulfat) kurang dapat berkembang, sehingga proses
pembuatan glukosa dari pati-patian sekarang ini dipergunakan dengan
hidrolisa enzym. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa)
larut air dilakukan dengan penambahan air dan enzym, kemudian dilakukan
proses peragian atau fermentasi gula menjadi etanol dengan menambahkan
yeast atau ragi (Nurdyastuti, 2008).
Reaksi yang terjadi pada proses produksi etanol/bioetanol secara
sederhana ditunjukkan pada reaksi 1 dan 2 (Nurdyastuti, 2008):

enzim

O
(C6 H10O5 )n H
N
2

..................(1)

C6 H12O6

selulosa
glukosa
(C6 H12O6 )n Yeast

2C2 H 5OH + 2CO2


glukosa

ethanol

.................(2)

karbondioksida

2.4 Jagung
Jagung termasuk komoditas strategis dalam pembangunan pertanian
dan perekonomian Indonesia, mengingat komoditas ini mempunyai fungsi
multiguna, baik untuk pangan maupun pakan. Penggunaan jagung untuk pakan
telah mencapai 50 % dari total kebutuhan (www.litbang_deptan.go.id). Dalam
kurun waktu tahun 2006-2010, kebutuhan jagung untuk bahan baku bioetanol
meningkat 16-22% per tahun. Perkembangan produksi jagung menurut BPS
selama periode 1990 sampai 2006 dapat dilihat pada table 2.2.
Tabel 2.2 Produksi Jagung Selama Periode 1990 sampai 2006
Tahun

Produksi (ribu ton)

1990

141.80

1991

33.20

1992

149.70

1993

60.80

1994

37.40

1995

79.10

1996

26.80

1997

18.90

1998

632.50

1999

90.60

2000

28.10

2001

90.50

2002

16.30

2003

33.70

2004

28.99

2005

62.75

2006

29.16

Sumber : www.litbang_deptan.go.id
Sebagai bahan pangan yang mengandung 70% pati, 10% protein, dan
5% lemak, jagung mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi
beragam macam produk. Produk turunan potensial yang biasa dihasilkan dari
komoditas jagung disajikan pada Gambar 2.1.

10

Gambar 2.1 Pohon Industri Jagung (www.litbang_deptan.go.id)

Jagung varietas bisma merupakan salah satu jenis jagung komposit.


Jagung komposit adalah jenis tanaman jagung yang berkualitas, berproduksi
tinggi, dapat ditanam di berbagai jenis lahan, dan dari hasil panen biji
jagungnya varietas bisma dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Karakteristik Jagung varietas Bisma

11

Persilangan Pool 4 dengan bahan introduksi

Asal

disertai seleksi selama 5 generasi

Golongan

Bersari bebas

Umur

50% keluar rambut 60 hari

Batang

Tegap, tinggi medium ( 190 cm)

Daun

Panjang dan lebar

Tongkol

Besar dan silindris

Biji

Setengah mutiara (semi flint)

Warna Daun

Hijau tua

Warna Biji

Kuning

Warna Janggel

Kebanyakan putih

Kelobot

Menutup tongkol dengan cukup baik

Baris Biji

Lurus dan rapat

Perakaran

Baik

Kerebahan

Tahan rebah

Jumlah Baris / Tongkol

12-18 baris

Bobot 100 Biji

307 g

Rata-rata hasil

5.7 ton/ha pipilan kering

Potensi Hasil

7.0 7.5 ton/ha pipilan kering

Ketahanan
Penyimpanan

Tahan penyakit karat, bercak daun, dan bulai.


Baik untuk dataran rendah sampai ketinggian

Keterangan

500m dpl (untuk dataran tinggi belum diadakan


percobaan)

Sumber : Suhartini 2001

Koswara (1991) mengatakan bahwa jagung terdiri dari kelobot (kulit),


biji dan tongkol. Kelobot berfungsi menutupi biji jagung yang tersusun pada
tongkol. Tongkol jagung merupakan tempat pembentukan lembaga dan

12

gudang penyimpanan makanan untuk pertumbuhan biji serta modifikasi dari


cabang. Tongkol mulai berkembang pada ruas-ruas batang. Tongkol utama
umumnya terdapat pada ruas batang keenam sampai kedelapan dari atas dan
pada ruas-ruas dibawah biasanya teerdapat lima sampai tujuh tongkol yang
tidak berkembang secara sempurna. Klasifikasi jagung adalah sebagai berikut:
Divisi

Spermatophyta

Sub Divisi

Angiospermae

Kelas

Monocotyledonae

Bangsa

Graminales

Suku

Graminaleae

Marga

Zea

Jenis

Zea mays L.

2.5 Tongkol Jagung dan Karakteristik Lignoselulosa


Menurut

Irawadi

(1991)

menyatakan

bahwa

tongkol

jagung

mengandung selulosa (40%), hemiselulosa (36%) dan lignin (16%).


Sedangkan menurut Richana et al. (2004) menyatakan bahwa tongkol jagung
mengandung selulosa (44.9%), xilan (31.8%), dan lignin (23.3%). Dengan
komposisi kimia seperti ini maka tongkol jagung dapat digunakan sebagai
sumber energi, bahan pakan ternak dan sebagai sumber karbon bagi
pertumbuhan mikroorganisme. Analisis Proksimat tongkol jagung sebagai
pakan ternak disajikan pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Komposisi Tongkol Jagung


Komponen
a (%)

b (%)

13

Air

9.6

7.7

Abu

1.5

Protein Kasar

2.5

Lemak Kasar

0.5

Serat Kasar

32.0

39.0

NDF

83.0

Hemiselulosa

36.0

Selulosa

40.0

44.9

Lignin

16.0

23.3

Xilan

30.0

31.8

Pektin

3.0

Pati

0.014

Ekstrak Nitrogen Bebas

53.5

Sumber : a Irawadi (1991)


b

Richana et al (2004)

Selulosa merupakan bagian dari tanaman, sehingga struktur tanaman


juga memegang peranan penting dalam reaksi hidrolitik. Serat selulosa yang
terdapat dalam dinding sel tanaman berstruktur sama. Dinding sel ini terdiri
atas dua lapisan yaitu lapisan primer dan lapisan sekunder. Dinding primer
mengandung sepertiga selulosa dan memiliki ketebalan sekitar 0.1 m.
Lapisan ini juga terdiri atas mikrofibril-mikrofibril yang berupa serat-serat
panjang (Dunlap dan Chiang, 1980).

14

Lapisan berikutnya adalah lapisan sekunder yang terdiri atas tiga


lapisan yaitu bagian luar, bagian tengah dan bagian dalam atau disebut juga
sebagai S1, S2 dan S3. Sub lapisan yang terpenting adalah S2, sebab sub
lapisan ini memiliki kadar selulosa yang paling tinggi dan merupakan
pembentuk sebagian besar dinding sel sekunder. Menurut Shuler (1980) pada
lapisan sekunder terdapat sekitar 90% selulosa.
Komponen lain dari serat adalah hemiselulosa dan lignin yang terletak
diantara mikrofibril. Lignin juga ditemukan pada bagian lamela tengah atau
ruang diantara serat.

2.5.1 Lignin
Lignin merupakan salah satu dari tiga komponen dasar dinding
sel tanaman selain selulosa dan hemiselulosa. Lignin merupakan bahan
organik bukan karbohidrat yang berbentuk amorf dan tersusun atas
satuan-satuan fenol (Chang et al., 1981).
Fungsi lignin adalah mengikat sel-sel tanaman satu dengan
lainnya dan pengisi dinding sel, sehingga dinding sel menjadi keras,
teguh dan kaku. Adanya ikatan alkil-alkil dan ester menyebabkan
lignin tahan terhadap hidrolisis. Pada sayur-sayuran terdapat pada
asparagus, wortel dan lobak cina. Sedangkan pada kayu, lignin juga
ditemukan pada pohon-pohon dan semak-semak, pakis, bambu, jerami,
kulit kacang tanah, dan tanaman jagung.
Lignin memiliki sifat kimiawi dan fisik yang berbeda dengan
selulosa. Menurut pasaribu (1987), lignin mudah dioksidasi oleh

15

larutan alkali dan bahan-bahan oksidator, tahan terhadap hidrolisis oleh


asam-asam mineral, mudah larut dalam larutan sulfit pada keadaan
basa dan lignin yang telah dihalogenasi dengan klor akan mudah larut
dalam alkali.
Selanjutnya Sofyan (1976), mengatakan bahwa lignin dapat
dilarutkan dalam larutan alaklimetal sulfit, dalam bentuk protolignin
(terikat pada karbohidrat) tidak larut, tidak memiliki titik lebur yang
pasti, hanya bisa melunakkan dengan suhu 90oC serta lignin
mengandung lebih sedikit grup hidrofilik daripada karbohidrat,
sehingga daya menyerap kelembabannya sedikit.
Lignin di didalam tongkol jagung merupakan senyawa polimer
tiga dimensi yang terdiri atas unit fenil propane yang diikat melalui
ikatan C-O-C dan C-C dengan berat molekul yang tidak terbatas.
Dimana terdapat hidrolisis dan pada jaringan tumbuhan, berfungsi
sebagai pemelihara dan perekat antar serat-serat. Bersama-sama
dengan hemiselulosa sehingga terlindung dari gangguan mikrobamikroba asing. Gambar 2.2 menampilkan struktur dari lignin tongkol
jagung.

16

Gambar 2.2 Struktur Lignin Tongkol Jagung


Selain lignin, komponen utama pada dinding sel tanaman
adalah selulosa dan hemiselulosa.

2.5.2 Selulosa
Selulosa merupakan kandungan utama tanaman dan merupakan
polisakarida yang terdiri atas satuan-satuan gula (glukosa) yang terikat
dengan ikatan 1,4--D glikosidik (Fennema, 1985).
Menurut Ward dan Seib (1970) adanya ikatan-ikatan molekul
glukosa dalam bentuk 1,4--D glikosidik yang membentuk rantairantai selulosa yang panjang menyebabkan selulosa sukar larut dalam
air. Sedangkan menurut Nur et al (1984) kekuatan dan kekakuan
selulosa diakibatkan oleh adanya ikatan-ikatan hydrogen pada
molekul-molekul berdampingan.
Selulosa-selulosa dalam dinding sel terkumpul dalam suatu
ikatan mikrofibril. Kumpulan mikrofibril membnetuk serat. Serat yang
satu dengan yang lainnya diikat oleh lignin dalam suatu ikatan yang

17

b
bentuk
ikatannnya kompakk dan tersusu
un rapat padda dinding seel tanaman,
sehingga meemberikan kketeguhan mekanis
m
atauu pengeras dinding
d
sel
taanaman.
Seluloosa pada m
mikrofibril teersusun atass bagian yaang teratur
(daerah habllur atau kriistal) dan bagian
b
yang tidak terattur (daerah
a
amorf).
Padaa daerah Krisstal susunan selulosa adaalah kompakk dan rapat,
sehingga lebiih sukar direeaksikan denngan pereakssi-pereaksi teertentu dan
m
memberikan
sifat keteguuhan yang kuat
k
dan kaaku. Sedangk
kan daerah
a
amorf
dapat memberikan
m
n sifat elastikk yang lebih baik.
Sifat fisik dan kkimiawi seluulosa yang lain menuruut pasaribu
(1987) yaitu tidak larut ddalam air dinngin, larutann asam dan alkali
a
encer
serta pelarut--pelarut organik netral seperti benzzene, alcoho
ol, eter dan
k
kloroform.
Selanjutnya Casey
C
(1980) mengatakaan bahwa sellulosa larut
d
dalam
asam sulfat 72%
%, asam klorrida 44% seerta asam fo
osfat 85%.
S
Selulosa
jug
ga tahan terhhadap oksiddasi oleh okksidator sepeerti klorin,
n
natrium
hipoklorit, kallsium hipok
klorit, kloriin-dioksida, hydrogen
p
peroksida,
naatrium perokksida dan okssigen.

Gam
mbar 2.3 Struuktur Selulosa

18

2.5.3 Hemiselulosa
Hemiselulosa didapatkan di alam pada dinding sel semua jenis
kayu, merang padi, buah-buahan dan kulit buah umbi-umbian.
Demikian pula pada alga juga ditemukan hemiselulosa. Hemiselulosa
merupakan karbohidrat dengan bobot molekul lebih rendah dari pada
selulosa dan tersusun atas satuan-satuan gula pentosan dan heksosan.
Menurut Richard dan Whistler (1970) sebagian besar hemiselulosa
terdiri atas dua sampai empat heteroglikan dan jarang yang sampai
lima atau atau enam jumlahnya. Heteroglikan yang umum ditemui
yaitu arabino D-xilan, L-arabino-D-glukurono-D-xilan, D-gluko-Dmannan, D-galakto-D-gluko-D-mannan dan L-arabino-D-galaktan.
Hemiselulosa memiliki derajat polimerisasi yang lebih rendah
daripada selulosa, yaitu maksimum 200. Dengan dasar bahwa rantai
hemiselulosa bercabang, maka umunya struktur hemiselulosa tidah
berbentuk kristal sehingga mudah dimasuki air atau pelarut lain
dibandingkan selulosa. Sedangkan sifat kimiawi hemiselulosa hamper
sama dengan selulosa. Gugus OH hemiselulosa dapat diesterifikasi.
Pengaruh alkalis pada suhu tinggi sekali menyebabkan pemecahan
hidrolitik dari ikatan glukosid. Pada medium asam terjadi perombakan
hidrolitik yang lebih rendah dibandingkan selulosa (Sofyan, 1976).
Dengan melihat struktur serat seperti diuraikan diatas, maka
selulosa sulit dihidrolisis secara langsung dengan asam maupun enzim.
Untuk mengatasi kesulitan ini diperlukan suatu perlakuan bahan

19

selulosik sebelum dihidrolisis atau sering juga dinamakan perlakuan


pendahuluan untuk membebaskan lignin dan hemiselulosa dari
selulosa.

Gambar 2.4 Struktur Hemiselulosa

2.6 Hidrolisa
Hidrolisa adalah proses peruraian suatu senyawa oleh air. Proses
tersebut dapat terjadi dalam suasana asam, basa, atau netral tergantung pada
senyawa yang bereaksi serta karena enzim. Hidrolisa selulosa merupakan
suatu proses yang dilakukan untuk menghasilkan glukosa. Ada dua cara yang
digunakan untuk hidrolisa selulose yaitu dalam suasana asam dan secara
enzimatis. Dibandingkan dengan hidrolisa asam, hidrolisa menggunakan
enzim mempunyai keuntungan berupa derajad konversi yang tinggi,
pembentukan hasil samping yang minimal, kebutuhan energi yang rendah, dan
kondisi operasi yang mudah dicapai. Enzim selulose merupakan enzim yang
kompleks yang terdiri atas tiga yaitu endoselulase, selobiohidrolase dan
selobiase. Ketiga enzim ini bekerja secara sinergis dalam menghidrolisa
selulosa menjadi glukosa. Selobiohidrolase menyerang struktur kristal selulosa
dan menghasilkan selobiosa (disakarida). Endoselulase menghidrolisa bagian

20

amorf selulosa menjadi senyawa-senyawa dengan bobot molekul yang lebih


kecil (-oligomer), sedangkan selobiase menghidrolisa -oligomer menjadi
glukosa. Pengaruh hidrolisa pada masing-masing enzim adalah rendah,
sedangkan

kombinasi

eksoenzim

(selobiohidrolase)

dan

endoenzim

menaikkan produksi glukosa. Jadi keseluruhan enzim bekerja sama dalam


mendegradasi selulose.
Adsorpsi enzim selulose pada permukaan selulose pada umumnya
diasumsikan lebih cepat dibandingkan dengan laju hidrolisis secara
keseluruhan Jumlah enzim selulose yang diadsorpsi terutama tergantung pada
tersedianya luas permukaan selulose dan konsentrasi enzim selulose. Oleh
karena itu, tipe selulose dan konsentrasi enzim selulose merupakan dua faktor
penting adsorpsi dalam sistem selulase-selulose.

2.7 Sumber Enzim


Sumber enzim, berasal dari jaringan tumbuhan, hewan dan
mikroorganisme yang terseleksi. Enzim yang secara tradisional diperoleh dari
tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mempunyai kelemahan yaitu variasi
musim, konsentrasi rendah, biaya tinggi, persediaan enzim terbatas, dan
adanya persaingan dengan pemanfaatan yang lain. Oleh karena itu
pengingkatan sumber enzim sedang dilakukan dengan cara memaksimalkan
dari mikroba pengahasil enzim yang sudah dikenal atau penghasil enzim baru
lainnya.

21

Sebagian besar enzim mikroba untuk keperluan industri hanya berasal


dari 11 jamur, 8 bakteri dan 4 ragi serta dalam prakteknya para produsen
biasanya mencari enzim baru dari kelompok ini. Kebanyakan mikroba yang
digunakan dari jamur adalah Aspergilus niger, Mucor sp., Rhizopus arrhizus,
Trichoderma viride, Penicillium vitale, Aerobacter aerogenes, dll. Sedangkan
dari bakteri adalah Bacillus subtilis, Bacillus coagulans, Escherichia coli, dll.
Sumber enzim yang didapat dari ragi adalah Saccharomyces cereviceae,
Streptomyces phaeochromogens, dll.

2.8 Delignifikasi Tongkol Jagung


Delignifikasi tongkol jagung merupakan proses pretreatment untuk
menghilangkan kandungan lignin dari selulosa dan hemiselulosa dalam
tongkol jagung. Banyaknya perolehan bioetanol sangat ditentukan oleh
keberhasilan proses delignifikasi ini untuk memisahkan lignin dari tongkol
jagung. Ada beberapa teori yang mengemukakan untuk delignifikasi, teori
pertama menyatakan bahwa permukaan serat bagian dalam berlaku sebagai
membran semi permeabel, dimana tekanan osmosis terjadi akibat melarutnya
rantai-rantai lignin dalam pelarut. Teori lain menyatakan bahwa penurunan
berat terjadi akibat penolakan elektrostatis antara partikel-partikel lignin.
Melarutnya bahan-bahan lignin oleh NH4OH disebabkan terjadinya proses
penyabunan dari group-group ester. Larutan pengembang tersebut secara
kimia dapat memutuskan ikatan hydrogen dari molekul glukosa yang
berdekatan dalam jaringan lignin.

22

Darwis et al, (1995). Melaporkan bahwa pengecilan ukuran tongkol


jagung menjadi 30-60 mesh dan dilanjutkan dengan proses delignifikasi
dengan NH4OH seperti yang dilakukan dengan penelitian ini, merupakan salah
satu upaya untuk meningkatkan efektivitas hidrolisis selulosa dalam proses
delignifikasi. Peningkatan efektivitas hidrolisis selulosa pada akhirnya akan
meningkatkan produktivitas mikroorganisme dalam memproduksi selulase.
Pengecilan ukuran dan delignifikasi menyebabkan terputusnya rantai
polimer yang panjang menjadi rantai polimer yang lebih pendek,
meningkatkan daerah amorf dengan kata lain (menurunkan derajat
kristalinitas) dan memisahkan bagian lignin dari selulosa. Perlakuan yang
efisien harus dapat membebaskan struktur kristal dengan memperluas daerah
amorfnya serta membebaskan juga lapisan ligninnya. Beberapa metoda
delignifikasi adalah sebagai berikut :

2.8.1 Metoda Kimia


Delignifikasi secara kimia bisa dilakukan dengan beberapa
larutan bahan kimia, yang biasa digunakan adalah NH4OH, NaOH,
H2SO4, MnSO4 dan Cadoxen.
a. Pelarut
Dengan

menggunakan

pelarut

yang

tepat

akan

dimungkinkan pemisahan lignin dari selulosanya secara rinci.


Pelarut ini tidak hanya memisahkan selulosa dari ligninnya, tetapi
juga merusak struktur yang aktif untuk di hidrolisis. Lignin yang
melarut dapat diendapkan dan lignin tersebut bersifat amorfus dan

23

reaktif terhadap bahan-bahan hidrolitik. Salah satu pelarut yang


dapat digunakan adalah cadoxen.
b. Pulping
Penggunaan gas SO2 sebagai pra perlakuan merupakan
inovasi terbaru pada teknik delignifikasi bahan lignoselulosik.
Penetrasi (penyerapan) bahan ke dalam struktur kapiler lignin lebih
cepat dan sempurna karena molekul-molekul gas berukuran kecil
dan tidak memerlukan biaya proses pencucian. Penggunaan gas
SO2 pada lignin basah pada suhu 120oC selama dua jam untuk kayu
keras atau tiga jam untuk kayu lunak menghasilkan peningkatan
pencernaan dari lignin.
Thomson (1976) melakukan percobaan memperlakukan
jerami gandum dengan gas SO2, yang diperlakukan selama 30
menit pada suhu 170oC. peningkatan pencernaan didapatkan
hingga maksimum 80 persen (dengan hasil sekitar 50 persen).

2.8.2 Metoda Fisika


Delignifikasi secara fisika meliput iradiasi, penggunaan panas
dan tekanan yang tinggi serta pembekuan. Perlakuan ini bertujuan
untuk memperluas permukaan yang bereaksi dengan enzim selulose
juga sedikit menghilangkan lignin.
a. Iradiasi
Sinar gamma atau iradiasi elektron meningkatkan secara
nyata pencernaan bahan selulosa oleh organisme rumen dan

24

selulose. Sinar gamma menyebabkan perubahan ikatan-ikatan


tertentu antara lignin dan selulose. Sinar gamma menyebabkan
perubahan ikatan-ikatan tertentu antara lignin dan selulosa. Derajat
polimerisasi juga menurun oleh perlakuan ini (Shuler, 1985).
Efektifitas iradiasi meningkat dengan cepat pada dosis penyinaran
antara 106 sampai 108 rad.
Perlakuan awal dengan menggunakan iradiasi dengan cara
lain ialah dengan menggunakan radiasi dengan cara lain ialah
dengan menggunakan radiasi nitrit foto-kimia. Pada teknik ini
selulosa dalam larutan natrium nitrit di iradiasi dengan sinar
ultraviolet.
b. Pemanasan dengan Uap
Pemanasan dengan uap dilakukan cara melewatkan uap
panas dengan suhu 180 - 200oC pada sumber selulosa selama 5
30 menit secara kontinyu, atau dengan suhu 245oC selama 0.5 2
menit dengan sistem curah. Metode ini dikenal nama Stake da
Iotech (Kirk, 1981).
Selama pemanasan dengan uap, akan berbentuk asam
akibat penguraian dari hemiselulosa pada suhu dan tekanan tinggi,
sehingga asam tersebut akan mempercepat penguraian selulosa.
Proses ini disebut dengan otohidrolisis. Setelah pemanasan sampai
lignin menjadi cukup lunak, sumber selulosa yang dipanaskan

25

dikeluarkan pada tekanan atmosfer sehingga lignin mudah di


bebaskan.
c. Pembekuan
Bykov dan Frolov (1961) di dalam Kirk (1981) dapat
menunjukan bahwa pembekuan ulang dan thawing lignin dalam
air pada suhu 75oC akan menurunkan derajat polimerisasi dan
meningkatkan reaktivitas ligninnya.

2.8.3 Metode Biologi


Pada metode biologi terdapat sejumlah mikroba yang
menghasilkan enzim pengurai lignin, sehingga selulosa yang tersisa
mudah dihidrolisa menjadi glukosa. Contoh mikroba itu adalah :
Streptomyces sp., Pseudomonas sp., Flovobacterium sp., dan Poria sp.
(Kirk, 1981).

2.9 Penelitian - penelitian pendukung proses delignifikasi.


Penelitian pendukung juga meliputi pengamatan cara menangani bahan
baku tongkol jagung (proses delignifikasi) agar didapatkan kadar lignin yang
maksimal sebagai bahan baku bioetanol. Berikut merupakan penelitianpenelitian proses delignifikasi yang sudah dilakukan :

2.9.1 Menurut Lewis et al (1988)


Proses delignifikasi dilakukan yaitu dengan menimbang 100
gram bubuk tongkol jagung yang sudah di cuci sebelumnya dengan air
destilat. Kemudian tambahkan bubuk tongkol jagung tersebut dengan

26

air destilat sebanyak 1550 ml. Tambahkan NaOH secukupnya dan atur
pH-nya menjadi 12, diamkan selama 12 jam, kemudian tambahkan
larutan H2O2 51 ml, tambahkan lagi NaOH secukupnya dan atur pHnya menjadi 11.5 diamkan selama 12 jam, kemudian proses
penyaringan dan pengeringan pada suhu 55oC, didapatkan substrat
dari proses delignifikasi. Gambar 2.5 menampilkan skema proses
tersebut.

27

Gambar 2.5 Proses Delignifikasi menurut Lewis et al., 1988

28

2.9.2 Menurut Nobuotoyama dan Ogawa (1975)


Proses delignifikasi dilakukan dengan menimbang 100 gram bubuk
tongkol jagung, kemudian direndam dengan NaOH 1% sebanyak 1000
ml selama 2 jam, panaskan pada suhu 120oC selama 3 jam, kemudian di
saring dan direndam dalam H2O2 1% dengan pH 11.5 selama 12 jam,
Kemudian filtrasi dengan air destilat, didapatkan substrat dari proses
delignifikasi. Gambar 2.6 menampilkan skema proses tersebut.

Gambar 2.6 Proses Delignifikasi menurut Nobuotoyama dan Ogawa (1975)

29

2.9.3 Menurut Anonim (1989),


Proses delignifikasi dilakukan dengan cara menimbang 100 gram
bubuk tongkol jagung dengan ukuran 40 mesh, kemudian tambahkan
H2SO4 4 % , panaskan pada 120oC selama 1 jam, filtrasi dengan air
destilat, didapatkan substrat dari proses delignifikasi. Gambar 2.7
menampilkan skema proses tersebut.

Gambar 2.7 Proses Delignifikasi Dengan Menggunakan H2SO4 4%,


120oC selama 1 jam.

2.10

Penelitian yang Pernah Dilakukan

30

a. Pembuatan bioetanol dari limbah tongkol jagung dengan proses


hidrolisa fermentasi, oleh Wahyuni Fitri Anggraeni, Miftakhul Jannah,
dan Noni Indrianti, 2009. UMP Purwokerto.
Metode yang digunakan menggunakan hidrolisis fermentasi pada
tongkol jagung, hidrolisa menggunakan asam sulfat (H2SO4) 10% dan
fermentasi menggunakan ragi Saccharomyces cereviciae. Dengan
variabel berubah waktu fermentasi, penggunaan jumlah ragi dan
penggunaan media permunian. Hasil penelitian menunjukan bahwa
waktu fermentasi yang optimal dalam proses fermetnasi adalah 3 hari
dan penggunaan jumlah ragi yang optimal adalah 0,3 g/L. Dan
penggunaan media pemurnian yang paling baik dalam proses
pemurnian adalah menggunakan zeolit alam, didapatkan kadar
bioetanol 75%.
b. Optimasi jumlah ragi pada pembuatan bioetanol nira kelapa, oleh Hesti
Fadhillah Rakhmawati, 2009. UMP Purwokerto.
Nira kelapa merupakan salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan
untk menghasilkan bioetanol. Dengan kadar gula sebesar 7,5 sampai
20,0% nira kelapa dapat di fermentasi dengan bantuan ragi
Saccharomyces cerevisiae untuk menghasilkan bioetanol.
Dari hasil penelitian didapatkan perolehan bioetanol terbesar pada
jumlah ragi 0,6 gr dengan dihasilkan etanol sebesar 60,6755 ml dan
pada jumlah ragi tersebut adalah jumlah ragi optimum untuk
menghasilkan bioetanol nira kelapa.

31

c. Pembuatan bioetanol dari singkong secara fermentasi menggunakan


ragi tape, oleh Heppy Rikana dan Risky Adam. UNDIP Semarang.
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan bioetanol dari singkong
secara fermentasi menggunakan ragi tape. Pada penelitian ini variabel
ang digunakan adalah rasio ragi (80 gr, 90 gr, 100 gr), penambahan
nutrien NPK (10 gr, 15 gr, 20 gr), dan lama fermentasi (10 hari, 14
hari, 18 hari).
Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa pada variabel ragi
penambahan ragi 90 gr diperoleh hasil paling tinggi yaitu 5,33% v/v,
untuk variabel nutrien penambahan NPK 20 gr diperoleh hasil paling
tinggi yaitu 4,98% v/v, sedangkan untuk variabel lain fermentasi
diperoleh hasil tertinggi pada lama fermentasi 14 hari yaitu 4,14% v/v.
Dengan persen error rata-rata untuk variabel ragi adalah 96,33%, untuk
variabel nutrien adalah 97,24%, pada fermentasi ini menggunakan
substrat singkong dengan kadar pati 21,6%.
d. Pemanfaatan jerami menjadi bioetanol, oleh Isroi, 2005.
Pengolahan jerami menajdi bioetanol dengan beberapa tahapan antara
lain: (1) proses hidrolisa pengasaman bertujuan untuk mengkonversi
selulosa menajdi glukosa dengan menggunakan asam sulfat dengan
konsentrasi 1-5% pada suhu 180C. (2) proses fermentasi dengan
menggunakan bakteri Saccharomyces cerevisiae selama 16-24 jam. (3)
proses selanjutnya destilasi dan dehidrasi. Dari percobaan yang ada

32

diperoleh 766-1.148 liter bioetanol dengan kadar 60% air dari 10-15
ton/ha jerami.

Anda mungkin juga menyukai