Anda di halaman 1dari 24

Bed-Side Teaching

HIFEMA

Oleh:
FLORA OKTAVIA

0910312030

MUHAMMAD FARID

1010312041

NIDIA RAMADHANI

1010313099

Pembimbing:
dr. Hj. Getry Sukmawati, Sp.M(K)
BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR. M. DJAMIL
PADANG
2014

BAB I
Ilustrasi Kasus
Seorang pasien laki-laki berumur 77 tahun datang ke UGD RS Dr. M. Djamil
Padang pada tanggal 18Agustus 2014 dengan:
Keluhan utama: lukarobek di kelopak mata kanan sejak + 3 jam sebelum masuk RS.
Sebelumnya pasien mengalami kecelakaan lalu lintas
Riwayat Penyakit Sekarang :

Luka robek di kelopak mata kanan sejak + 3 jam sebelum masuk RS.
Sebelumnya pasien mengalami kecelakaan lalu lintas.

Pasien mengeluhkan pandangan kabur dan nyeri pada mata kanan

Pasien mengeluhkan nyeri, hiperemis, dan lakrimasi pada mata kanan

Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak ada riwayat penyakit mata sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit seperti pasien.
Status Oftalmikus
SO

OD

OS

1/ proyeksi salah

5/20

Refleks fundus

Silia/supersilia

madarosis (+), trkikhiasis (-)

madarosis (+), trkikhiasis (-)

Palpebra superior

hematom (+)

hematom (+)

Palpebra inferior

hematom (+)

hematom (+)

Visus tanpa
koreksi
Visus dengan
koreksi

Margo palpebra
Aparat lakrimalis
Konjungtiva

hordeolum (-), khalazion (-)

hordeolum (-), khalazion (-)

lakrimasi N

lakrimasi N

hiperemis (-), folikel (-),

hiperemis (-), folikel (-),

papil (-)

papil (-)

hiperemis (-), folikel (-),

hiperemis (-), folikel (-),

papil (-), hechting (+)

papil (-)

injeksikonjungtiva (+)

injeksikonjungtiva (-)

tarsalis
Konjungtiva
fornics
Konjungtiva
bulbi

injeksisiliar (+)
injeksisiliar (-)
Sklera

putih

putih

Kornea

bening

bening

koagulan (+), cukupdalam

koagulan (-), cukupdalam

coklat

coklat

tampak membayang, semi

lonjong arah jam 1, semi

midriasis

midriasis

Lensa

keruh

keruh

KorpusVitreum

bening

bening

Fundus

bening

bening

Kamera Okuli
Anterior
Iris
Pupil

Media

keruh

keruh

Papil

tidak dapat dinilai

tidak dapat dinilai

optik

tidak dapat dinilai

tidak dapat dinilai

Retina

tidak dapat dinilai

tidak dapat dinilai

aa/vv
tidak dapat dinilai

tidak dapat dinilai

Tidak dilakukan pemeriksaan

Tidak dilakukan pemeriksaan

Tidak dilakukan pemeriksaan

Tidak dilakukan pemeriksaan

Posisi bulbus

ortho

ortho

okuli
Pemeriksaan

Retina
-

Makula

Tekanan bulbus
okuli
Gerakan bulbus
okuli

lainnya
Gambar

Diagnosis Kerja

HifemaTraumatika Grade III


Diagnosis Banding
Anjuran Terapi

:
Rubeosis Iridis
Neoplasma maligna
Xanthogranuloma juvenil
:

Cefotaxime 2 x 1 gr
LFX ed 6 x 1 OD
SA ed 2 x 1 ODS
Kloramfenikoleo 3 x OD
Noncorted 6 x 1 OD
Transamin 3 x 1 tab
Methyl Prednisolon 1 x 32 mg
Vitamin K 3 x 1 tab
Anjuran Kepada Pasien
-

Bedrest total
Elevasi kepala untuk mempercepat sedimentasi darah sehingga
memfasilitasi pemeriksaan segmen posterior dan pemulihan
fungsi penglihatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Anatomi Bilik Mata Depan dan Vaskularisasi Mata
2.1.1. Anatomi Bilik Mata Depan
Mata terbagi atas tiga kompartemen, yaitu ruang vitreus, bilik
mata depan (kamera okuli anterior), dan bilik mata belakang
(kamera okuli posterior). Bilik mata depan terletak antara iris dan
kornea sementara bilik mata belakang terletak posterior terhadap
iris dan anterior terhadap lensa. Bilik mata depan dan bilik mata
belakang sama-sama terisi cairan bening bernama aqueous humor,
yang dihasilkan oleh epitel ciliaris pada bilik mata belakang.
Kompartemen terbesar di mata adalah ruang vitreus, yang
menyusun lebih dari dua pertiga volume mata.1
Bilik mata depan dibatasi oleh kornea di bagian anterior serta
oleh diafragma pupil dan iris di bagian posterior. Sudut bilik mata
depan, yang tersusun atas garis Schwalbe, kanal Schlemm, jalinan
trabekula, taji sklera, tepi anterior corpus ciliaris, dan iris, terletak
pada persambungan kornea dan iris.1
Garis Schwalbe, suatu struktur yang terletak di bagian perifer
membran Descemet, menandai berakhirnya endotel kornea dan membentuk
margo anterior sulkus sklera interna. Sulkus ini ditandai dengan taji sklera di bagian
posteriornya. Taji sklera merupakan penonjolan sklera ke arah dalam di antara korpus

siliare dan kanal Schlemm, tempat iris dan korpus siliare menempel. 2 Insersi
musculus ciliaris longitudinalis berada pada taji sklera dan kontraksi otot ini akan
menyebabkan terbukanya ruang trabekula.1
Jalinan trabekula berbentuk segitiga pada potongan melintang, yang dasarnya
mengarah ke korpus siliare. Garis ini tersusun dari lembar-lembar bergelombang
jaringan kolagen elastik, yang membentuk suatu filter dengan memperkecil ukuran
pori ketika mendekati kanalis Schlemm. Bagian dalam jalinan ini, yang menghadap
ke kamera anterior dikenal sebagai jalinan uvea; bagian luar, yang berada di dekat
kanalis Schlemm, disebut jalinan korneosklera. Serat-serat longitudinal otot siliar
menyisip ke dalam jalinan trabekula tersebut. Saluran-saluran eferen dari kanalis
Schlemm (sekitar 300 saluran pengumpul dan 12 vena aquaeus) berhubungan dengan
sistem vena episklera (Gambar 1).2

Gambar 1. Anatomi bilik mata depan2


Aqueous humor yang mengisi bilik mata depan akan bergerak melalui apertura
pupil dan akan bermuara ke kanal Schlemm lewat jalur konvensional yang melalui
jalinan trabekula. Sebagian aqueous humor akan diserap melewati jalur drainase
uveosclera melewati corpus ciliaris menuju ruang supracilier.1
2.1.2. Vaskularisasi Mata

Pemasok arteri utama orbita dan bagian-bagiannya berasal dari arteri oftalmika,
yaitu cabang besar pertama dari arteri karotis interna bagian intrakranial. Cabang ini
berjalan di bawah nervus optikus dan bersamanya melewati kanalis optikus menuju
ke orbita. Cabang intraorbital pertama adalah arteri sentralis retina, yang memasuki
nervus optikus sebesar 8-15 mm di belakang bola mata. Cabang-cabang lain arteri
oftalmika adalah arteri lakrimalis, yang memvaskularisasi glandula lakrimalis dan
kelopak mata atas, cabang-cabang muskularis ke berbagai otot orbita, arteri siliaris
posterior longus dan brevis, arteri palpebra medialis ke kedua kelopak mata, dan
arteri supra orbitalis serta supra troklearis. Arteri siliaris posterior brevis
memperdarahi koroid dan bagian nervus optikus. Kedua arteri siliaris posterior
longus memperdarahi korpus siliaris dan saling beranastomosis satu sama lain serta
dengan arteri siliaris anterior membentuk circulus arterialis mayor iris.2
Aliran vena orbita terutama melewati vena oftalmika superior dan inferior yang
juga menampung darah dari vena siliaris anterior dan vena retina sentralis. Vena
oftalmika berhubungan dengan sinus kavernosus melalui fissura orbitalis superior
dan dengan pleksus venosus pterigoideus melalui fissura orbitalis inferior.2
2.2.
Hifema
2.2.1.
Definisi
Hifema merupakan suatu kondisi dimana terdapat darah
didalam bilik mata depan. Kata hifema berasal dari gabungan dua
kata dalam bahasa Yunani, yaitu hypo, yang berarti dibawah, dan
haemos, yang berarti darah sehingga hifema secara istilah dapat
dikatakan sebagai digenangi darah (hyphaemos). Hifema dapat
terjadi karena rusaknya pembuluh darah iris atau corpus ciliaris
akibat trauma yang terjadi pada mata.1,2
2.2.2.
Klasifikasi
2.2.2.1. Berdasarkan waktu terjadinya
1. Hifema primer, terjadi segera setelah trauma hingga
hari kedua setelah trauma.
2. Hifema sekunder, terjadi pada hari kedua hingga hari
kelima setelah trauma.
2.2.2.2. Berdasarkan penyebabnya

1. Hifema traumatik, terjadi akibat oleh adanya trauma


yang terjadi pada segmen anterior bola mata.
2. Hifema spontan, terjadi akibat kelainan non traumatik
lain yang dapat merusak pembuluh darah di daerah
bilik

mata

depan,

seperti

neoplasma

(retinoblastoma), gangguan penggumpalan darah,


dan juvenile xanthogranuloma.
2.2.2.3. Berdasarkan volume darah yang mengisi bilik
mata depan3
1. Hifema grade I : darah mengisi kurang dari sepertiga
COA
2. Hifema grade II : darah mengisi sepertiga hingga
setengah COA
3. Hifema grade III : darah mengisi setengah COA
hingga hampir total
4. Hifema
grade
IV
2.2.3.

darah

mengisi

COA

sepenuhnya/total
Epidemiologi

Hifema traumatik biasanya terjadi pada anak-anak atau lakilaki muda.1Insiden rata-rata dari kejadian hifema per tahunnya
adalah sekitar 2 per 10.000 orang. Perbandingan laki-laki dengan
perempuan adalah 3 : 1. Sekitar 60% kasus hifema biasanya terjadi
akibat cedera olahraga.4
2.2.4.
Etiologi
Hifema seringkali terjadi sebagai suatu sequelae trauma
tumpul atau tembus pada mata yang sifatnya mengancam
penglihatan (vision-threatening).3 Sebagian besar hifema bersifat
traumatik dan biasanya diasosiasikan dengan cedera/trauma yang
terjadi pada struktur sudut bilik mata, lensa, segmen posterior, dan
orbita.1 Akan tetapi, hifema dapat juga terjadi secara spontan.
Hifema yang bersifat spontan biasanya terjadi pada rubeosis iridis,
gangguan penggumpalan darah (clotting abnormalities), penyakit
herpes, dan permasalahan pada lensa intraokuler (intraocular

lens/IOL)

sementara

pada

anak

biasanya

terjadi

akibat

retinoblastoma, leukemia, atau xanthogranuloma juvenilis.1


2.2.5.
Patofisiologi
Benturan tumpul yang terjadi pada mata akan menyebabkan
distorsi berat pada arsitektur mata, dengan diikuti peningkatan
cepat tekanan intraokuler,peregangan globus, dan perpindahan
diafragma iris-lensa ke arah posterior. Trauma tersebut juga akan
menyebabkan ekspansi skleral di zona ekuator, yang menyebabkan
terganggunya lingkaran arteri utama iris, cabang arteri badan siliar,
dan atau arteri dan vena choroidal. 1Perubahan cepat ini akan
mengakibatkan

robekan

pada

sudut

bilik

mata

depan

dan

perdarahan pada bilik mata depan. Sebagian besar hifema terjadi


akibat robekan pada sisi anterior korpus ciliaris. Ruptur langsung
pembuluh darah iris, iridodialisis, atau siklodialisis dapat juga
menyebabkan perdarahan pada bilik mata depan.3

Gambar 2. Mekanisme cedera pada hifema1


Perdarahan pada pembuluh darah yang cedera pada hifema
traumatik akan berhenti dengan adanya penekanan (tamponade)
akibat peningkatan tekanan intraokuler, spasme vaskuler, dan
pembentukan

gumpalan

fibrin-trombosit

(clot).

Gumpalan

biasanya akan mencapai integritas tertinggi setelah 4 7

ini
hari

setelah cedera. Hifema berbeda dengan gumpalan darah di bagian


tubuh yang lain karena tidak adanya aktivitas fibroblastik maupun
neovaskularisasi di daerah gumpalan.3

Pemecahan gumpalan darah terjadi akibat fibrinolisis aktif


pada bilik mata depan. Plasminogen yang ada di darah akan diubah
menjadi plasmin yang akan mendegradasi gumpalan fibrin. Sel
darah yang terbebas dan produk degradasi fibrin akan dibersihkan
melalui jalur keluar trabekular (trabecular outflow pathway).3
Perdarahan ulang (rebleeding) terjadi pada 2 38% kasus
hifema dan akan menyebabkan pemanjangan waktu rawatan.
Perdarahan ulang ini terjadi pada hari ketiga hingga kelima setelah
cedera akibat adanya lisis gumpalan darah dan retraksi pada
pembuluh darah yang mengalami trauma.4
2.2.6.
Manifestasi Klinik
Pasien dengan hifema biasanya akan mengeluhkan penurunan
mendadak atau hilangnya penglihatan setelah adanya cedera pada
mata. Penurunan atau hilangnya penglihatan ini terjadi akibat
adanya gangguan pada media refraksi dan bergantung pada
derajat hifema. Pasien dengan mikrohifema biasanya datang
dengan penglihatan normal atau agak kabur, sementara pasien
dengan hifema penuh dapat datang dengan kehilangan penglihatan
yang hampir total. Seiring dengan berjalannya waktu, darah yang
ada pada bilik mata depan akan terdorong oleh arah gravitasi
menuju bagian terbawah dan penglihatan akan semakin membaik
kecuali bila terdapat trauma lain, atrofi nervus opticus, atau
corneal bloodstaining(pewarnaan darah pada jaringan kornea) yang
akan menyebabkan kehilangan penglihatan lebih lanjut.4
Selain perubahan pada penglihatan, pasien dengan hifema
dapat mengeluhkan rasa nyeri pada mata disertai dengan epifora
dan blefarospasme. Tekanan intraokuler dapat meningkat dan
menyebabkan glaukoma sekunder. Glaukoma ini terjadi akibat
massa darah yang menutupi trabekula dan bilik mata depan
sehingga akan mengganggu aliran cairan bilik mata depan. Selain
itu, peningkatan tekanan intraokuler dan disfungsi endotel yang
terjadi pada pasien hifema akan menyebabkan mudahnya terjadi

corneal bloodstaining, dimana hemoglobin eritrosit di bilik mata


depan akan masuk ke dalam stroma kornea posterior dan
diabsorpsi oleh keratosit. Hemoglobin ini akan diubah menjadi
hemosiderin

dalam

keratosit

keratosit.1
2.2.7.

Diagnosis

dan

menyebabkan

kematian

Pasien dengan hifema traumatik harus menjalani evaluasi oftamologi lengkap,


meliputi :
a. Anamnesis
Terutama onset dan jenis trauma penyebab. Mekanisme trauma bisa digunakan
untuk memperkirakan keparahan kerusakan ocular. Jika waktu kejadian sudah berlalu
cukup lama, munculnya penurunan ketajaman visus atau peningkatan nyeri ocular
menjadi signifikan, karena mengkin telah terjadi perdarahan sekunder ataupun
penigkatan TIO.
b. Pemeriksaan
Pemeriksaan mata harus dilakukan menyeluruh dan termasuk jaringanjaringannya. Pada kulit periorbital harus dicari area yang hiperestesi atau anestesi.
Trauma yang hebat juga mungkin menimbulkan fraktur sekitar mata, enoftalmos dan
juga restriksi dari rotasi otot ekstraokular. Pada kelopak mata dan konjungtiva harus
dicari apakah ada laserasi atau tidak. Edema konjungtiva yang disproportional
merupakan indikasi adanya ruptur sklera hingga terbukti tidak ada. Proptosis bisa
menunjukkan perdarahan retrobulbar.
- Ketajaman visus kedua mata dengan koreksi maksimal harus
diperiksa. Ketajaman visus yang sangat buruk menunjukkan adanay
-

kerusakan makua atau nervus optic.


Kornea diperiksa untuk melihat adanya kerusakan atau penyakit yang
ada sekarang, karena setiap kompromi endothelium meningkatkan

kerentanan terhadap blood staining.


Nilai jumlah dan jenis hifema, serta bentuk bekuan darah yang muncul
untuk mengevaluasi adanya perdarahan sekunder atau penyembuhan

hifema
Perhatikan iris dan lensa dibelakang hifema. Bentuk dan ukuran pupil,
sphincter tears, iridodialysis, dan dislokasi lensa.Pupil harus

dilebarkan jika dicurigai adanya benda asing intraokuler, ruptor atau


perforasi bola mata, robekan retina atau ablasio. Pemeriksaan fundus
hanya bisa dilakukan jika media jernih saat penyembuhan hifema.
Pengukuran TIO dengan tonometri applanasi. Gonioskopi tidak

dilakukan hingga hari ke 14 untuk menghindari terjadinya perdarahan


sekunder.
Banyak pasien hifema kesarannya somnolent. Mekanisme pasti reaksi ini
masih belum jelas. Jika dicurigai adanya trauma kepala, diperlukan konsul
neuro dan pemeriksaan penunjang seperti MRI. Pemriksaan laboratorium
meliputi hitung trombosit, PT dan PTT.
c. Pemeriksaan Penunjang
- USG
5% cedera mata dengan hifema disertai kerusakan struktur segmen
posterior. Karenanya penting untuk mengevaluasi adanya perluasan
kerusakan di segmen posterior.
-

Pemeriksaan Laboratorium
Pada ras tertentu seperti kulit hitam dan Hispanik, perlu dilakukan

pemeriksaan ke arah kemungkinan penyakit sickle cell dengan cara


pemeriksaan slide darah merah, elektroforesis hemoglobin, fungsi
pembekuan darah, fungsi ginjal dan hati (menunda tatalaksana obatobatan seperti perlunya pemberian antifibrinolitik atau tidak).
2.2.8.

Diagnosis Banding

Darah dapat terkumpul di bilik mata depan karena trauma trivial pada kasuskasus:
-

rubeosis Iridis

neoplasma maligna

xanthogranuloma juvenil

lensa intraokular (terutama bila bilik mata depan atau iris terfiksasi)
Sebagai tambahan, pada perdarahan spontan, kecurigaan kearah abnormalitas
faktor pembekuan darah dan trauma terbuka tersembunyi harus dipikirkan.
2.2.9.
Tatalaksana

Biasanya hifema akan hilang sempurna, bila perjalanan penyakit tidak berjalan
demikian maka sebaiknya penderita dirujuk. Walaupun perawatan penderita hifema
traumatik ini masih banyak diperdebatkan, namun pada dasarnya adalah :

Menghentikan perdarahan.

Menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder.

Mengeliminasi darah dari bilik depan bola mata dengan mempercepat


absorbsi.

Mengontrol glaukoma sekunder dengan mengendalikan tekanan bola mata


dan menghindari komplikasi yang lain.

Berusaha mengobati kelainan yang menyertainya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka cara pengobatan penderita dengan


traumatik hifema pada prinsipnya dibagi dalam 2 golongan besar yaitu perawatan
dengan cara konservatif/tanpa operasi, dan perawatan yang disertai dengan tindakan
operasi. Pada saat trauma terjadi pada mata:

Jangan menyentuh, menggosok atau menekan mata, apalagi dengan tangan yang
kotor, karena akan menyebabkan infeksi.

Jangan menghilangkan kotoran yang ada dimata akibat trauma yang terjadi pada
mata namun jika kotoran di mata ingin dihilangkan maka angkat bagian atas
kelopak mata atas bulu mata bawah tutup, kemudian kedip beberapa kali
sehingga memungkinkan air mata untuk membersihkan atau menghilangkan
partikel yang ada pada mata tersebut atau dapat pula di bilas dengan air. jika
kotoran tersebut tetap ada, maka usahakan mata tetap dalam kondisi tertutup dan
segeralah kedokter mata dan dapatkan bantuan medis.

Jangan oleskan salep atau obat untuk mata ataupun hindari pemberian aspirin,
ibuprofen

atau

non-steroid,

obat

anti-inflamasi

karena

obat-obat

ini

mengencerkan darah dan mungkin meningkatkan perdarahan tanpa saran dari


dokter.

Jika trauma pada mata akibat pukulan, maka letakan kompres dingin kecil untuk
mengurangi rasa sakit dan pembengkakan.

Menemui dokter sesegera mungkin, sebaiknya dokter mata.

Penanganan konservatif
o Tirah baring (bed rest total)

Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi


kepala diangkat (diberi alas bantal) dengan elevasi kepala 30 45 (posisi semi fowler). hal ini akan mengurangi tekanan darah
pada pembuluh darah iris serta memudahkan kita mengevaluasi
jumlah perdarahannya.

Ada banyak pendapat dari banyak ahli mengenai tirah baring


sempurna ini sebagai tindakan pertama yang harus dikerjakan
bila menemui kasus traumatik hifema. beberapa penelitian
menunjukkan bahwa dengan tirah baring kesempurnaan absorbsi
dari hifema dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya
komplikasi perdarahan sekunder.

Istirahat total ini harus dipertahankan minimal 5 hari mengingat


kemungkinan perdarahan sekunder. hal ini sering sukar
dilakukan, terlebih-lebih pada anak-anak.

o Bebat mata

Mengenai pemakaian bebat mata, masih belum ada persesuaian


pendapat di antara para sarjana. edward-layden lebih condong
untuk menggunakan bebat mata pada mata yang terkena trauma
saja, untuk mengurangi pergerakan bola mata yang sakit. bila
mungkin kedua mata ditutup untuk mengistirahatkan mata.

Selanjutnya dikatakan bahwa pemakaian bebat pada kedua mata


akan menyebabkan penderita gelisah, cemas dan merasa tidak
enak, dengan akibat penderita (matanya) tidak istirahat.

Akhirnya rakusin mengatakan dalam pengamatannya tidak


ditemukan adanya pengaruh yang menonjol dari pemakaian bebat
atau tidak terhadap absorbsi, timbulnya komplikasi maupun
prognosis dari tajamnya penglihatannya.

Pemakaian obat-obatan4

o Pemberian obat-obatan pada penderita dengan traumatic hyphaema


tidaklah mutlak, tapi cukup berguna untuk menghentikan perdarahan,
mempercepat absorbsinya dan menekan komplikasi yang timbul.
o Untuk maksud di atas digunakan obat-obatan seperti:

Koagulansia

Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral


maupun

parenterai,

berguna

untuk

menekan

atau

menghentikan perdarahan,

Misalnya : anaroxil, adona ac,coagulen, transamin,


vitamin k, dan vitamin c.

Pada hifema yang baru dan terisi darah segar diberi obat
anti fibrinolitik yaitu transamine/ transamic acid sehingga
bekuan darah tidak terlalu cepat diserap dan pembuluh
darah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dahulu
sampai sembuh. dengan demikian diharapkan terjadinya
perdarahan sekunder dapat dihindarkan.

Pemberiannya 4 kali 250mg dan hanya kira-kira 5


hari jangan melewati satu minggu oleh karena
dapat timbulkan gangguan transportasi cairan coa
dan terjadinya glaukoma juga imbibisio kornea.

Selama pemberiannya jangan lupa pengukuran


tekanan intraokular.

Midriatika miotika

Masih banyak perdebatan mengenai penggunaan obatobat golongan midriatika atau miotika, karena masingmasing obat mempunyai keuntungan dan kerugian
sendiri-sendiri. miotika memang akan mempercepat
absorbsi, tapi meningkatkan kongesti dan midriatika akan
mengistirahatkan perdarahan.

Pemberian

midriatika

dianjurkan

bila

didapatkan

komplikasi iridiocyclitis.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian


midriatika dan miotika bersama-sama dengan interval 30
menit sebanyak dua kali sehari akan mengurangi
perdarahan sekunder dibanding pemakaian salah satu obat
saja.

Ocular hypotensive drug

Semua ahli menganjurkan pemberian acetazolamide


(diamox) secara oral sebanyak 3x sehari bilamana
ditemukan adanya kenaikan tekanan intraokuler.

Pada hifema yang penuh dengan kenaikan tekanan intra


okular, berilah diamox, glyserin, nilai selama 24 jam.

Bila tekanan intra okular tetap tinggi atau turun,


tetapi tetap diatas normal, lakukan parasentesa
yaitu pengeluaran darah melalui sayatan di kornea

Bila tekanan intra okular turun sampai normal,


diamox terus diberikan dan dievaluasi setiap hari.

Bila tetap normal tekanan intra okularnya dan


darahnya masih ada sampai hari ke 5-9 lakukan
juga parasentesa.

Kortikosteroid dan antibiotika

Pemberian hidrokortison 0,5% secara topikal akan


mengurangi komplikasi iritis dan perdarahan sekunder
dibanding dengan antibiotik.

Obat-obat lain

Sedatif diberikan bilamana penderita gelisah. bila


ditemukan

rasa

sakit

diberikan

analgetik

atau

asetozalamid bila sakit pada kepala akibat tekanan bola


mata naik

Analgetik diberikan untuk mengatasi nyeri seperti


asetaminofen dengan atau tanpa kodein.

Operasi4,1
o Perawatan cara ini akan dikerjakan bilamana ditemukan glaukoma
sekunder, tanda imbibisi kornea atau hemosiderosis cornea. dan tidak ada
pengurangan dari tingginya hifema dengan perawatan non-operasi
selama 3 - 5hari.
o Untuk mencegah atrofi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila
tekanan bola mata maksimal lebih dari 50 mmhg selama 5 hari atau
tekanan bola mata maksimal lebih dari 35 mmhg selama 7 hari.
o Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila tekanan
bola mata rata-rata lebih dari 25 mmhg selama 6 hari atau bila ditemukan
tanda-tanda imbibisi kornea.
o Tindakan operatif dilakukan untuk mencegah terjadinya sinekia anterior
perifer bila hifema total bertahan selama 5 hari atau hifema difus
bertahan selama 9 hari.
o Untuk cegah timbulnya hemosiderosis kornea dan tidak ada pengurangan
dari tingginya hifema dengan perawatan non operasi selam 3-5 hari. atas
dasar di atas darr menentukan cara pengobatan traumatic hyphaema,
sedang rakusin menganjurkan tindakan operasi setelah hari kedua bila
ditemukan hyphaema dengan tinggi perdarahannya bilik depan bola
mata.
Intervensi bedah biasanya diindikasikan pada atau setelah 4 hari. dari

keseluruhan indikasinya adalah sebagai berikut :


o Empat hari setelah onset hifema total
o Microscopic corneal bloodstaining (setiap waktu)
o Total dengan dengan tekanan intra okular 50 mmhg atau lebih selama
4hari (untuk mencegah atrofi optic)
o Hifema total atau hifema yang mengisi lebih dari coa selama 6 hari
dengan tekanan 25 mmhg (untuk mencegah corneal blood staining)

o Hifema mengisi lebih dari coa yang menetap lebih dari 8-9 hari (untuk
mencegah peripheral anterior synechiae)
o Pada pasien dengan sickle cell disease dengan hifema berapapun
ukurannya dengan tekanan intra ocular lebih dari 35 mmhg lebih dari 24
jam. jika tekanan inta ocular menetap tinggi 50 mmhg atau lebih selama
4 hari, pembedahan tidak boleh ditunda. suatu studi mencatat atrofi optic
pada 50 persen pasien dengan total hifema ketika pembedahan terlambat.
corneal blood staining terjadi pada 43% pasien. pasien dengan sickle cell
hemoglobinopathi diperlukan operasi jika tekanan intra ocular tidak
terkontrol dalam 24 jam
Tindakan operasi yang dikerjakan adalah :
o Parasentesis ocular4

Parasentesis

merupakan

tindakan

pembedahan

dengan

mengeluarkancairan/darah dari bilik depan bola mata dengan


teknik sebagai berikut : dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus ke
arah kornea yang sejajar dengan permukaan iris. biasanya bila
dilakukan penekanan pada bibir luka maka koagulum dari bilik
mata depan akan keluar. bila darah tidak keluar seluruhnya maka
bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologis. biasanya luka
insisi kornea pada parasentesis tidak perlu dijahit. parasentese
dilakukan bila tio tidak turun dengan diamox atau jika darah
masih tetap terdapat dalam coa pada hari 5-9.

2.2.10.
Komplikasi Hifema Traumatika
Komplikasi yang paling sering ditemukan pada traumatik hifema adalah
perdarahan sekunder, glaukoma sekunder dan hemosiderosis di samping komplikasi dari
traumanya sendiri berupa dislokasi dari lensa, ablatio retina,katarak dan iridodialysis.
besarnya komplikasi juga sangat tergantung pada tingginya hifema.
Berikut ini komplikasi yang ada dari hifema :

Rebleeding4
o Komplikasi ini sering terjadi pada hari ke 3 sampai ke 6, sedangkan
insidensinya sangat bervariasi, antara 10 - 40%. perdarahan sekunder ini
timbul karena iritasi pada iris akibat traumanya, atau merupakan lanjutan
dari perdarahan primernya.
o Perdarahan sekunder biasanya lebih hebat daripada yang primer. terjadi
pada 1/3 pasien, biasanya antara 2-5 hari setelah trauma inisial dan selalu
bervariasi sebelum 7 hari post-trauma.

Glaukoma sekunder
o Timbulnya glaukoma sekunder pada hifema traumatik disebabkan oleh
tersumbatnya trabecular meshwork oleh butir-butir/gumpalan darah.

o Adanya darah dalam COA dapat menghambat aliran cairan bilik mata
oleh karena unsur-unsur darah menutupi sudut coa dan trabekula
sehingga terjadinya glaukoma.
o Glaukoma sekunder dapat pula terjadi akibat kontusi badan siliar
berakibat suatu reses sudut bilik mata sehingga terjadi gangguan
pengaliran cairan mata

Hemosiderosis kornea
o Pada penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari coa dalam
bentuk sel darah merah melalui sudut coa menuju kanal schlemm
sedangkan sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. penyerapan
pada iris dipercepat dengan adanya enzim fibrinolitik di daerah ini.
sebagian hifema dikeluarkan setelah terurai dalam bentuk hemosiderin.
o Bila terdapat penumpukan dari hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam
lapisan kornea, menyebabkan kornea menjadi bewarna kuning dan
disebut hemosiderosis atau imbibisio kornea, yang hanya dapat ditolong
dengan keratoplasti.
o Imbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh hifema yang penuh
disertai

glaukoma.

hemosiderosis

ini

akan

timbul

bila

ada

perdarahan/perdarahan sekunder disertai kenaikan tekanan intraokuler.


o Gangguan visus karena hemosiderosis tidak selalu permanen, tetapi
kadang-kadang dapat kembali jernih dalam waktu yang lama (2
tahun). insidensinya 10%.5
o Zat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila
didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan.

Sinekia posterior
o Sinekia posterior bisa timbul pada pasien traumatik hifema. komplikasi
ini akibat dari iritis atau iridocyclitis. komplikasi ini jarang pada pasien
yang mendapat terapi medikamentosa dan lebih sering terjadi pada pada
pasien dengan evakuasi bedah pada hifema.

Atrofi optik

o Atrofi optik disebabkan oleh peningkatan tekanan intra okular.

Uveitis
o Penyulit yang harus diperhatikan adalah glaukoma, imbibisio kornea,
uveitis. selain dari iris, darah pada hifema juga datang dari badan siliar
yang

mungkin

juga

masuk

ke

dalam

badan

kaca (corpus

vitreum) sehingga pada funduskopi gambaran fundus tak tampak dan


ketajaman penglihatan menurunnya lebih banyak.
o Hifema dapat sedikit, dapat pula banyak. bila sedikit ketajaman
penglihatan mungkin masih baik dan tekanan intraokular masih normal.
perdarahan yang mengisi setengah coa dapat menyebabkan gangguan
visus dan kenaikan tekanan intra okular sehingga mata terasa sakit oleh
karena glaukoma.
o Jika hifemanya mengisi seluruh COA, rasa sakit bertambah karena
tekanan intraokular lebih meninggi dan penglihatan lebih menurun lagi.
2.2.11.

Prognosis

Prognosis hifema bergantung pada jumlah darah dalam bilik mata depan. Bila
darah sedikit di dalam bilik mata maka darah ini akan hilang dan jernih dengan
sempurna. Sedangkan bila darah lebih dari setengah tingginya bilik mata depan, maka
prognosis buruk yang akan disertai dengan beberapa penyulit. Hifema total di dalam
bilik mata depan akan memberikan prognosis lebih buruk dibanding dengan hifema
subtotal,terlebih bila disertai dengan glaukoma dan imbibisi kornea5
Keberhasilan penyembuhan hifema tergantung dari tiga hal, yaitu:
-

jumlah kerusakan lain akibat hifema pada struktur mata (ruptur koroid,
pembentukan macula scar)

apakah terjadi hifema sekunder

apakah terjadi komplikasi akibat hifema seperti glaukoma, bercak darah pada
kornea dan atrofi optikus
Keberhasilan penyembuhan terjadi hampir 80 % pada hifema derajat 1.

sementara pada hifema derajat 4 angka kesembuhan mencapai 35%.

BAB III
DISKUSI
Telahdilaporkanseorangpasienlaki-laki, usia 77tahun, datang ke IGD RSUP Dr.
M.

Djamil

Padang

dengankeluhanlukarobek

di

kelopakmatakanan

yang

sebelumnyapasienmengalamikecelakaanlalulintas. Berdasarkan anamnesis, gejalaklinis,


danpemeriksaanfisik yang dilakukandapat ditegakkan diagnosis hifema traumatika
grade III.
Pada anamnesis pasien mengeluhkan pandangan kabur dan nyeri pada mata
kanan. Keluhan tersebut diikuti dengan nyeri, hiperemis, dan lakrimasi pada mata
sebelah kanan. Ditemukan darah mengisi hampir total COA.
Pada observasi keadaan umum didapatkan pasien tampak sakit sedang. Dari
status oftalmologi, pada mata kanan didapatkan visus 1/ proyeksi salah dan pada mata
kiri 5/20. Visus dapat menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina.
Pada konjungtiva palpebra tampak hiperemis, konjunctiva bulbi terdapat injeksi
konjunctiva +, dan injeksi siliaris +. Pada COA, lebih dari setengah COA tampak terisi
oleh darah encer. Perdarahan ini biasanya disebabkan oleh terjadinya robekan di arteri
siliar. Darah ini dapat mengotori permukaan kornea dan mengisi COA, sehingga
mengakibatkan penglihatan menjadi kabur.
Penatalaksanaan dari hifema bertujuan untuk menghentikan perdarahan atau
menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder, mengeliminasi darah dari bilik depan
bola mata, merawat dan mengobati jaringan sekitarnya, dan meminimalisasi kerusakan
lebih lanjut lagi.

DAFTAR PUSTAKA
1. American Academy of Ophthalmology, 2011. External Disease
and Cornea Section 8 Basic and Clinical Science Course.
America: American Academy of Ophthalmology.
2. Vaughan, Asbury, Riordan EP, 2010. Oftalmologi Umum, Edisi 17. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3. Albert DM, Miller JW, Azar DT, Blodi BA, Cohan JE, Perkins T
(ed.), 2008. Albert & Jakobiecs Principles and Practice of
Ophthalmology, 3rd Edition Volume 4. Philadelphia: Saunders
Elsevier Inc.
4. Gharaibeh A, Savage HI, Scherer RW, Goldberg MF, Lindsley K.
Medical

interventions

for

traumatic

hyphema.

Cochrane

Database of Systematic Reviews 2013, Issue 12.


5. Ilyas, Sidarta.2009.Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga.Jakarta : FKUIPress