Anda di halaman 1dari 23

Risiko Operasinal

Dewasa ini risiko operasional semakin diakui sebagai salah satu


faktor kunci yang perlu dikelola dan dicermati oleh para pelaku
usaha, khususnya di bidang jasa keuangan. Dalam industri lain
yang memiliki aktivitas perdagangan, risiko operasional pun
dianggap sebagai komponen vital dalam kerangka pengelolaan risiko
perusahaan yang lebih luas. Oleh karena itu, pemahaman
mengenai konsep risiko operasional beserta pendekatan matematis
dan probabilistik menjadi sangat penting dikuasai oleh para praktisi
dunia usaha dan akademis. Manajemen risiko operasional itu sendiri
merupakan serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan
untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan
risiko pasar yang timbul dari kegiatan perusahan. Untuk
memahami pengertian risiko operasional terlebih dahulu kita harus
mengetahui apa sebenarnya risiko itu sendiri.
Secara umum risiko dapat diartikan sebagai potensi terjadinya suatu
peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.
Maka risiko operasional merupakan risiko yang antara lain
disebabkan adanya ketidakcukupan atau tidak berfungsinya proses
internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau adanya
problem eksternal yang mempengaruhi operasional perusahaan.

Baik Lembaga Pengawas maupun bank menyadari


bahwa perubahan dalam industri perbankan telah
mendorong pula perubahan karakteristik risiko
operasional bank. Event yang secara historis
berasal dari kesalahan yang mengandung biaya
rendah sebagai pelengkap atau diganti dengan
event yang memiliki frekuensi rendah tetapi
memiliki dampak yang besar.
Peristiwa risiko operasional dikelompokkan dalam
dua faktor yaitu frekuensi dan dampak. Frekuensi
adalah seberapa sering suatu peristiwa operasional
itu terjadi, sedangkan dampak adalah jumlah
kerugian yang timbul dari peristiwa tersebut.
Pengelompokkan risiko operasional didasarkan pada
seberapa sering peristiwa terjadi dan dampak
kerugian yang ditimbulkan (severity). Misalkan ada
empat jenis kejadian operasional (events), yaitu:

a.
b.
c.
d.

Low Frequency/High Impact (LFHI)


High Frequency/High Impact (HFHI)
Low Frequency/Low Impact (LFLI)
High Frequency/Low Impact (HFLI)

Risiko mempunyai 2 dimensi, yaitu :


Likelihood : Kemungkinan terjadinya risiko
Impact
: Akibat atau dampak ketika risiko tersebut terjadi
Inherent Risk : Impact X Likelihood

Definisi
Risiko

&

Konsep
Risiko dinilai sebelum dan sesudah
mempertimbangkan kontrol.
Risiko Inherent (IHR)
Risiko yang dinilai impact dan
likelihoodnya sebelum
mempertimbangkan adanya kontrol.
Risiko Residual (RDR)
Risiko yang dinilai impact dan
likelihoodnya setelah
mempertimbangkan adanya kontrol.

Risiko Proses Internal


Risiko kerugian akibat adanya kesengajaan untuk
melakukan penggelapan, penyalahgunaan properti
atau pelanggaran peraturan, hukum atau kejadian
perusahaan, tidak termasuk perbedaa/diskriminasi
kejadian kejadian yang melibatkan paling tidak satu
pihak internal. Contoh kerugian karena pemakaian
komputer sistem oleh orang yang tidak berwenang
untuk penggelapan aset perusahaan atau untuk
mengambil keuntungan pribadi atau menguntungkan
pihak lain yang berakibat perusahaan mengalami
kerugian material maupun kurang material. Biasanya
dilakukan oleh satu orang jika build in control kurang,
dilakukan oleh lebih dari satu orang jika build control
cukup memadai.

Infrastruktur Manajemen Risiko Operasional

Metodologi Manajemen Risiko Operasional:


adalah cara atau pendekatan yang dilakukan
untuk melaksanakan tahapan manajemen risiko
yang meliputi identifikasi, pengukuran,
pengendalian dan pemantauan risiko. Secara
umum terdapat tiga perangkat manajemen risiko
operasional yang banyak dipergunakan untuk
mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan dan
memantau risiko operasional, yaitu :
a) Risk Assessment.
b) Risk Indicator.
c) Data Base.

Risk Assessment sebagai perangkat yang bertujuan


untuk mendiagnosis masalah, bersifat prediktif, dan
kualitatif. (misalnya: dugaan adanya penyimpangan
penilaian ).
Risk Indicator sebagai perangkat yang bertujuan untuk
mengetahui, mengukur dan memonitor perubahan
faktor-faktor risiko, dapat bersifat prediktif hingga
historis, dapat bersifat kualitatif hingga kuantitatif
(Indikator rasio market value mengalami penurunan).
Data Base sebagai perangkat yang bertujuan untuk
mengumpulkan dan mencatat kejadian yang berpotensi
menimbulkan kerugian, hampir menimbulkan kerugian
atau telah menimbulkan kerugian. Bersifat kuantitatif
dan historis. (Hambatan yang pernah dialami sebagai
pengalalman buruk perusahaan)

Sistem Informasi Manajemen


Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan salah satu
infrastruktur penting dalam implementasi manajemen
risiko. Pengembangan SIM untuk memenuhi kebutuhan
manajemen risiko dilakukan melalui dua komponen, yaitu
sistem dan informasi. Sistem adalah suatu proses atau
mekanisme perolehan, pengolahan, penyampaian
informasi baik dilakukan secara manual maupun dengan
bantuan teknologi. Sedangkan informasi itu sendiri,
melingkupi jenis, isi, stuktur informasi, yang disesuaikan
dengan kebutuhan pengguna.
Cost-benefit analysis dalam memilih sistem informasi
manajemen harus tetap dipertimbangkan. Jangan sampai
biaya yang dikeluarkan menjadi lebih mahal dari risiko
yang akan dimitigasi.

Limit (Kewenangan)
Limit diperlukan sebagai tindakan untuk mengendalikan risiko.
Limit yang ditetapkan didasarkan atas kompetensi,
pengalaman, latar belakang pendidikan.Penetapan limit risiko
disesuaikan dengan kondisi sumber daya manusia dari
perusahaan yang bersangkutan.
Sistem Pengawasan
Sistem pengawasan dapat berupa:
a. Organisasi dan pengawasan komisaris dan direksi.
b. Kebijakan dan prosedur mengarahkan proses manajemen
risiko.
c. Metodologi manajemen risiko.
d. Sistem informasi manajemen risiko beserta perangkatnya.
e. Sistem pengendalian risiko dan penetapan limit.
f. Penguatan fungsi internal control.
g. Pengembangan budaya manajemen risiko dan program
komunikasi manajemen risiko.

Tuntutan stakeholders telah memaksa adanya kebutuhan


untuk menerapkan manajemen risiko operasional yang
terbaik. Bila dilakukan dengan tepat, perusahaan akan
menghemat modal. Di satu sisi, kondisi ini membuat
peran dan fungsi professional risk manager semakin
diperlukan, seperti: Chief Risk Officer, Risk Based Auditor,
Risk Based Supervisor.
Dari pembahasan di atas, kita bisa melihat bahwa risiko
bersifat inheren, dan ada pada semua aktivitas. Risiko
tidak bisa dihilangkan namun risiko bisa dimitigasi.
Berbisnis pada hakekatnya adalah mengambil risiko dan
sekaligus mendapatkan reward atas risiko yang kita
ambil. Manajemen risiko bertujuan untuk mengelola
risiko-risiko dalam rangka mencapai tujuan perusahaan
dan menjaga kelangsungan usaha (protect capital and
maximize risk-return trade-off)

Risiko Sumber Daya


Manusia
Kerugian yang ditimbulkan dari
Tindakan yang tidak konsisten dalam ketenaga kerjaan sehingga
pihak karyawan merasa dirugikan dan tertekan
Peraturan kesehatan kurang memadai dapat mempengaruhi
ketenangan dalam bekerja.
Keselamatan kerja mencakupi sarana prasarana kerja yang
kurang diperhatikan
Perjanjian kerja sama (dengan serikat pekerja) yang masih
belum disepakati
pembayaran klaim kecelakaan kerja
kejadian perbedaan/diskriminasi.
Contohnya kerugian perusahaan karena adanya pemogokan
karyawan yang mengakibatkan perusahaan berhenti beroperasi
sehingga prodiktivitas terganggu.

Risiko sumber daya manusia merupakan risiko yang


dapat dikendalikan oleh pihak perusahaan, sehingga
dapat meminimalkan kerugian yang dialami oleh
perusahaan. Risiko kecurangan identik dengan
pemalsuan-pemalsuan laporan keuangan yang
dilakukan oleh pihak yang bekerja dalam perusahaan
tersebut, jika kecurangan terus-menerus terjadi,
pengembangan usaha akan terhambat, karena kualitas
dari karyawan yang bekerja tidak mendukung proses
pengembangan usaha.
Frekuensi risiko yang terjadi pada suatu usaha yang
sangat rentan adalah masalah risiko kecurangan,
dimana risiko ini akan membawa dampak kepada
menurunnya pendapatan serta rendahnya profitabilitas
yang dicapai oleh suatu usaha.

Tanggungan atau efek yang ditimbulkan dalam suatu


kegiatan yang bersifat personal yang timbul baik dengan
adanya pengaruh dari luar maupun dari dalam kegiatan
tersebut. Beberapa perusahaan menghadapi risiko-risiko
strategis dalam hal kurangnya persiapan untuk suksesi
(pergantian pimpinan). Perusahaan keluarga kadangkadang sulit untuk menentukan bagaimana
mengendalikan perusahaan di masa depan karena sulit
untuk memilih siapa yang akan memimpin perusahaan.
Pilihannya apakah pada seorang anggota keluarga yang
profesional tetapi masih berusia muda, atau mereka yang
sudah cukup dewasa tetapi amatir, atau diserahkan
kepada orang luar yang profesional dan matang usianya.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan
bahwa risiko adalah penyimpangan rencana yang telah
dibuat tanpa diperkirakan atau diduga sebelumnya.

Risiko ketenagakerjaan ialah risiko kehilangan pekerjaan,


kehilangan kompensasi atau hilangnya reputasi managerial.
Imbalan non finansial bagi karyawan adalah untuk
memuaskan kebutuhan psikologis dan status para karyawan.
Termasuk dalam kategori ini antara lain adalah kendaraan
dinas pribadi, pengemudi, tempat parkir khusus dipelataran
parkir, makan siang atas biaya perusahaan dan sekretaris
pribadi.
Risiko sumber daya manusia yang terjadi dalam usaha
tersebut adalah bagaimana potensi yang dimiliki oleh orangorang yang ada sehingga usaha yang dilakukan dapat berjalan
dengan baik. Potensi-potensi tersebut adalah skill, pendidikan,
kemauan serta kemampuan dalam pengembangan kegiatan.
Kita ketahui apabila sesorang mempunyai ilmu tentang usaha
yang dijalankan namun tidak memiliki kemauan
mengembangkan usaha maka pada akhirnya hanya kerugian
yang didapat nantinya namun apabila semua potensi yang ada
dapat dikembangkan dan dijalankan maka niscaya usaha akan
berjalan dengan baik.

Risiko Kecurangan.
Risiko kecurangan menurut yang dipaparkan oleh Halim
(2005) adalah unsur dari risiko murni yang dapat
ditimbulkan dalam setiap usaha. Halim mengemukakan
dari kedua macam risiko yang merupakan bagian dari
risiko murni adalah merupakan dampak dari suatu usaha
yang harus mendapatkan perhatian lebih karena dalam
menjaga agar tidak terjadinya risiko tersebut adalah
sangat riskan.
Banyak perusahaan mengatakan kecurangan merupakan
kejadian yang lumrah dan alamiah di perusahaan selama
mental orang-orang dalam perusahaan masih
menganggap uang adalah tujuan bekerja, selain
lemahnya moral. Kecurangan dapat diketahui dengan
cepat tetapi dapat juga memakan waktu yang lama.

Indikator kecurangan, yaitu:


a. Jumlah barang secara fisik didalam gudang
memperlihatkan jumlah yang berkurang jika dibandingkan
dengan yang ada di catatan atau komputer.
b. Ada karyawan yang terlihat menjadi kaya mendadak,
dimana dia beralasan misalnya karena kekayaan itu
didapat dari judi atau lotere.
c. Karyawan yang jarang libur walaupun pada hari-hari libur
resmi dimana karyawan lain tidak ada dikantor.
d. Bukti-bukti yang melibatkan pemasok, misalnya hanya
pemasok tertentu saja yang dilibatkan dalam suatu
proyek.
e. Bukti-bukti yang melibatkan konsumen, misalnya catatan
tentang pemberian kredit yang disamarkan.

Risiko Eksternal
Peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan terjadi atau
terjadi di luar kontrol perusahaan dapat menimbulkan
efek atau dampak yang merugikan bisnis-bisnis berskala
kecil maupun besar. Contoh peristiwa-peristiwa yang tidak
diharapkan terjadi atau terjadi di luar kontrol perusahaan,
seperti kebakaran, bencana alam, jaringan yang
bermasalah serta kebijakan pemerintah yang dapat
mempengaruhi bisnis perusahaan. Kegagalan membuat
perencanaan dapat berakibat fatal.
Dampak yang paling buruk adalah hilangnya pelangganpelanggan penting pada saat anda sedang berusaha
memulihkan bisnis anda dan bukan tidak mungkin dapat
berdampak pada ditutupnya bisnis jika bisnis anda sudah
tidak dapat dipulihkan lagi.

Pada bulan Februari 2010, sekitar 200 pekerja


kontrak bagian operasi di Jakarta International
Container Terminal (JICT) melakukan demo atau aksi
unjuk rasa menuntut pengangkatan mereka sebagai
karyawan tetap. Hal ini melumpuhkan kegiatan
ekspor impor melalui Pelabuhan Tanjung Priok
selama beberapa jam, yaitu dari jam 07.00 hingga
13.00 WIB, karena para pekerja memblokir pintu
masuk terminal peti kemas terbesar di pelabuhan,
sehingga truk pengangkut peti kemas tidak bisa
masuk dan keluar. Peristiwa ini merupakan
ancaman serius. Kalau tidak segera diatasi, posisi
Pelabuhan Tanjung Priok yang sudah memenuhi
ketentuan International Ship and Port Facilities
Security Code terancam dicabut.
Direktur Utama Pelindo II - Jose Richard Lino,
menyiapkan rencana kontingensi (contingency plan)

Apakah yang dimaksud dengan contingency plan?


Contingency plan adalah langkah-langkah atau tindakantindakan yang terorganisir dan terkoordinasi yang akan
dilaksanakan oleh suatu perusahaan untuk mencegah
ataupun meminimalkan resiko yang ditimbulkan akibat
terjadinya suatu keadaan darurat atau bencana yang
dapat mengganggu operasional perusahaan.
Kapan anda harus membuat sebuah contingency plan?
Jika anda mengidentifikasi sebuah risiko atau krisis yang
memiliki peluang cukup besar untuk terjadi dan akan
menimbulkan dampak yang signifikan pada usaha anda.
Anda sudah mencoba berbagai cara untuk mengurangi
potensi terjadinya suatu peristiwa, tapi anda tidak bisa
mengurangi atau memperkecil risiko sampai pada
tingkat yang diinginkan.

Ada banyak kemungkinan terjadinya peristiwa yang


dapat menimbulkan krisis bagi bisnis anda, misalnya :
1. Bencana alam, misal banjir, gempa bumi, dan lainlain
2. Pencurian
3. Kebakaran
4. Padamnya listrik.
5. Kurangnya bahan bakar
6. Gagalnya sistim teknologi informasi.
7. Terbatasnya akses menuju ke suatu lokasi
8. Karyawan kunci sakit/ cuti.
9. Serangan teroris
10. Krisis yang mempengaruhi supplier
11. Krisis yang mempengaruhi pelanggan.
12. Krisis yang mempengaruhi reputasi perusahaan,

Hal-hal utama yang harus anda perhatikan ketika


menyusun contingency plan
1. Ruang lingkup apa risiko yang perlu diperhatikan
secara khusus yang membuat disusunnya sebuah
contingency plan
2. Inisiasi bagaimana anda mengetahui kapan
rencana itu dilaksanakan
3. Tindakan apa tindakan-tindakan yang akan anda
lakukan untuk mengontrol masalah dan
meminimalisasi dampak yang ditimbulkannya
4. Peran dan tanggung jawab - siapa yang akan
melakukan, apa yang akan dilakukan dan kapan?