Anda di halaman 1dari 3

C.7.

Energi Sosial Kreatif


Energi social adalah kemampuan masyarakat secara bersama-sama memanfaatkan
berbagai sumber daya yang tersedia. Energy social adalah kekuatan pokok yang memungkinkan
tumbuhnya kekuatan system yang kondusif bagi terciptanya pemungkinan, penguatan,
perlindungan, kemandirian dan kekuatan rakyat.
Megacu pada batasan Uphoff, energy social dalam system bersumber pada 3 unsur, yaitu:
1. Gagasan adalah hasil pikiran progresif yang tampil dan diterima bersama, serta datangnya
bisa dari dalam maupun dari luar karena dianggap bermanfaat untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Gagasan bisa berubah sesuai dengan perkembangan jaman,
karena memiliki nilai manfaat dan menjadi acuan pola pikir serta pola tindak masyarakat.
2. Idaman adalah harapan atau kepentingan bersama sebagai hasil dari gagasan. Sehingga
didalam diri masyarakat ada dorongan untuk mewujudkannya.
3. Persaudaraan adalah wujud solidaritas dalam satuan social sebagai daya utama dalam
proses mencapai idaman (harapan atas gagasan) yang telah dikukuhkan. Ketiga unsur
inilah yang menjadi dasar terjadinya gotong royong dan berkembangnya kepedulian
dalam konteks keterjaminan social.
Untuk itu, diusulkan definisi baru dari industry kreatif terkait pasar jaringan social yang
didasari klasifikasi industry berdasarkan sifat input kreatif dan kekayaan intelektual sebagai
output. Definisi yang menyangkut sejauh mana permintaan dan penawaran beroperasi di jaringan
social.
Social kreatif adalah kolektifitas yang dibangun untuk menyediakan layanan kreatif untuk
amal, bukan untuk oragnisasi bisnis atau perusahaan dan budaya. Yang bersifat dinamis, terarah,
membumi, dan menyeluruh.
Creativity is Good for Business
Numerous studies point to the importance of creativity and innovation in successful
businesses.

C.8. Faktor yang Mempengaruhi Berfikir Kreatif


Banyak factor yag mempengaruhi pemikiran kreatif, karena kreatif tidak berdiri sendiri
dalam diri atau pun komunitas sekalipun memalui proses pendidikan. Pendidikan kreatif harus
tetap berjalan terutama pada generasi muda karena pemuda hidup dalam masa perubahan budaya
yang cepat dan meningkatkan keragaman budaya. Pendidikan harus memungkinkan mereka
memahami dan menghormati nilai budaya dan tradisi yang berbeda serta prosesn perubahan
budaya dan pembangunan. Mesin perubahan budaya adalah kemampuan manusia untuk berfikir
kreatif.
Berfikir kreatif dipengaruhi oleh personal dan situasional. Menurut Coleman dan Hammen dalam
Jalaluddin Rakhmat, terdapat tiga factor yaitu.
1. Kemampuan kognitif.
2. Sikap yang terbuka.
3. Sikap yang bebas, otonom, dan percaya diri sendiri.
Berfikir kreatif hanya berkembang pada masyarakat yang terbuka, toleran terhadap ide
gila dan memberikan kesempatan kepada semua orag ntuk mengembangkan dirinya. Selain itu
ada pula factor situasional seperti lingkungan, hal yang istimewa, dan isolasi. Kreatifitas banyak
dihasilkan oleh individu sehingga seolah ada dan tiadanya dipengaruhi factor internal. Namun
ada pula factor eksternal yang berpengaaruh pada kuantitas, kualitas dan keberlanjutan profuk
kreatif. Rogers Von Och mengidentifikasi 10 faktor yang mempengaruhi berfikir kreatif.
1. Kebiasaan ilmiah yang hanya mencari satu jawaban yang benar.
2. Memusatkan upaya dan ide agar terlihat logis meski kreatif adalah divergen
3. Terbawa aturan harfiah, sehingga kaidah diabaikan.
4. Jebakan rutinitas praktikal yang menutup jawaban dan pemikiran atas imajinasi liar.
5. Mengecam kegiatan bermain padahal sebagai dasar eksplorasi ide seorang kreatif.
6. Perangkap spesialisasi yang kaku sehingga membuat ketertutupan atas aspek alternative.
7. Tidak memberi ruang ambiguitas sebagai dasar lahirnya hal kreatif.
8. Perasaan takut karena melakukan hal yang berbeda dengan umum.
9. Takut salah dan gagal serta enggal melakukan hal yang berbeda dengan umum.
10. Pesimis pada diri sendiri.
Clark (1983) mengatagorikan factor yang mempengaruhi kreatif menjadi 2 kelompok, yaitu.
1. Factor yang mendukung perkembangan kreatif,
a. Situasi yang menghadirkan ketidaklengkapan serta keterbukaan.
b. Situasi yang menimbulkan pertanyaan.

c.
d.
e.
f.

Situasi yang mendorong menghasilkan sesuatu.


Situasi yang mendorong kemandirian dan tanggung jawab.
Situasi yang menekan inisiatif.
Kedwibahasaan yang memungkinkan perkembangan kreatif secara lebih luas dan

bervariasi.
g. Posisi kelahiran.
h. Perhatian terhadap minat anak, stimulasi lingkungan sekolah, dan motivasi diri.
2. Factor yang menghambat perkembangan kreatifitas,
a. Adanya kebutuhan akan keberhasilan, ketidak beranian mengambil resiko.
b. Komformitas terhadap teman dan tekanan social.
c. Stereotip peran seks atau sejenis kelamin.
d. Diferensial antara bekerja dan bermain.
e. Otoritarianisme
f. Tidak menghargai fantasi dan khayalan
Dorothy Leonard dan Walter Swap (1999) menambahkan satu factor yakni psokologis,
karena dapat diperkuat dengan mengambil resiko dan kegagalan, komunikasi terbuka, motivasi,
serta membangun kultur kreatif dan nilai. Dari prespektif ilmu komunikasi (Tubbs, 1992),
mengidentifikasi adanya factor komunikasi (pernyataan) yang mempengaruhi timbul tidaknya
kreatifitas.
Kementrian Perdagangan RI mengidentifikasikan factor yang mempengaruhi daya kreatifitas.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Edukasi
Inovasi
Ekspresi
Kepercayaan Diri
Pengalaman dan proyek.
Proteksi.
Agen talenta.

kreatifitas tidak akan pernah terwujud tanpa belajar dan memulai, belajar penting untuk
mendapatkan pengetahuan bagi penguatan memori otak, sedangakan memulai penting untuk
mendapatkan pelatihan bagi penguatan memori otot -penulis-