Anda di halaman 1dari 5

Laporan

Keuangan

Pemerintah UU
Perpajakan

Stakeholder

Manajemen

Pajak tangguhan:
Aktifa pajak tangguhan
Kewajiban pajak
tangguhan

Investasi pada
perusahaan

Wewenang Menerapkan
Kebijakan dan metode
akuntansi

Beban pajak
tangguhan (x1)

Profitabilitas
(x2)

Motivasi Bonus, Motivasi


kontrak, Motivasi politik,
Motivasi pajak, Pergantian
CEO, Penawaran saham,
Perdana (IPO), dan Motivasi

Manajemen laba
(Discretionary Accrual) (Y)

Laporan keuangan digunakan perusahaan sebagai salah satu alat untuk


mengukur

kinerja

perusahaannya

dan

merupakan

media

komunikasi

yang

menghubungkan antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Pihak


eksternal perusahaan misalnya pemerintah, kreditor (bank) dan investor (stakeholder),
sedangkan pihak internal perusahaan adalah pihak manajemen dan karyawan
perusahaan itu sendiri. Kebijakan dan keputusan yang diambil dalam rangka proses
penyusunan laporan keuangan akan mempengaruhi penilaian kinerja perusahaan.
Menurut Theresia (2005) manajemen laba merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi kinerja perusahaan. Manajemen akan memilih metode tertentu untuk
mendapatkan laba yang sesuai dengan motivasinya. Hal ini akan mempengaruhi kualitas
kinerja yang dilaporkan oleh manajemen (Gideon, 2005 dalam Arief dan Bambang.

Laporan keuangan dijadikan sebagai sarana oleh pihak manajemen untuk


melakukan manipulasi laba atau biasa yang lebih dikenal dengan manajemen laba. Hal
ini diperkuat oleh pendapat Belkaoui (2006:75) yang menyatakan bahwa : Manajemen
laba terjadi ketika para manajer menggunakan pertimbangan mereka dalam pelaporan
keuangan dan struktur transaksi untuk mengubah laporan keuangan dengan tujuan
menyesatkan beberapa pemangku kepentingan mengenai kondisi kinerja ekonomi
perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil-hasil kontraktual yang bergantung pada
angka-angka akuntansi yang dilaporkan.
Pentingnya informasi laba merupakan tanggung jawab dari pihak manajemen
yang diukur kinerjanya dari pencapaian laba yang diperoleh. Situasi ini memungkinkan
manajer untuk melakukan perilaku menyimpang dalam menyajikan dan melaporkan
informasi laba tersebut yang dikenal dengan praktik manajemen laba (earnings
management).
Fenomena manajemen laba telah banyak dijadikan objek penelitian di bidang
akuntansi dan keuangan. Banyak yang mencoba mengungkapkan keberadaan
manajemen laba yang dihubungkan dengan faktor tertentu yang mempengaruhinya.
Healy&Wahlen (1999) dalam Yuliati (2004:1) menggunakan perspektif oportunistik
menyebutkan bahwa tujuan manajer melakukan manajemen laba adalah untuk
menyesatkan stakeholders atas kinerja perusahaan atau untuk mempengaruhi tujuan
tertentu perusahaan yang didasarkan pada angka-angka laporan keuangan.
Manajemen laba merupakan fenomena yang sukar dihindari karena fenomena ini
hanya dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan.
Dasar akrual disepakati sebagai dasar penyusunan laporan keuangan karena dasar akrual
memang lebih rasional dan adil dibandingkan dasar kas. Tetapi di lain pihak, pencatatan
dengan komponen akrual mudah untuk dipermainkan besar kecilnya sehingga
memberikan peluang bagi manajemen untuk melakukan perekayasaan laporan keuangan
melalui praktik manajemen
Salah satu informasi yang penting bagi para pemakai laporan keuangan baik
pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan yaitu informasi mengenai
profitabilitas perusahaan. Profitabilitas suatu perusahaan bisa diidentifikasikan dengan

besarnya laba yang diperoleh pada suatu periode tertentu. Para pemakai sering
menggunakan informasi profitabilitas sebagai indikator utama untuk landasan dalam
pengambilan keputusan berinvestasi, dan rasio profitabilitas dapat menunjukkan
keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, dengan profitabilitas dapat
memprediksikan laba di masa yang akan datang.
Profitabilitas sebagai salah satu faktor pemicu manajemen laba telah dibuktikan
dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Yulianti yaitu profitabilitas merupakan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, berdasarkan hipotesis bonus
plan didalam teori akuntansi positif, manajer akan berusaha meningkatkan keuntungan
perusahaan jika ada insentif untuk mencapainya. Adanya kebijakan pemberian bonus
kepada manajer jika berprestasi, menyebabkan manajer akan memilih kebijakan
pencatatan laporan keuangan agar dapat mencatat laba yang lebih tinggi dari periode
sebelumnya.
Di samping itu, menurut Igan (2007), dalam penelitiannya menggunakan
profitabilitas sebagai salah satu variabel yang mempunyai pengaruh positif signifikan
terhadap praktik perataan laba yang merupakan bagian dari praktik manajemen laba.
Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi akan cenderung melakukan
manajemen laba karena manajemen tahu akan kemampuan untuk mendapatkan laba
pada masa mendatang sehingga memudahkan dalam menunda atau mempercepat laba
pada periode tertentu.
Laba yang diinginkan oleh pihak manajemen tentunya laba yang tinggi setelah
dikenakannya pajak secara keseluruhan. Adanya perbedaan antara laba akuntansi
dengan laba fiskal dapat menimbulkan kesulitan dalam penentuan besarnya laba
sehingga mempengaruhi posisi laporan keuangan dan menyebabkan tidak seimbangnya
saldo akhir sehingga perlu dilakukan penyesuaian saldo antara laba akuntansi dengan
laba fiskal melalui rekonsiliasi fiskal. Perbedaan temporer yang terjadi antara laba
akuntansi dengan laba fiskal menimbulkan beban pajak tangguhan.
Variabel beban pajak tangguhan timbul dari perbedaan yang terjadi antara
laporan keuangan fiskal dan laporan keuangan komersial. Perhitungan laba fiskal yang
didasarkan pada Undang-Undang Pajak memberikan batasan yang lebih ketat dalam

pengukuran akrual dibandingkan standar akuntansi sehingga semakin besar perbedaan


antara laba fiskal dan laba komersial menunjukkan semakin besarnya diskresi
manajemen. Besarnya diskresi manajemen tadi akan terefleksikan dalam variabel Biaya
(Penghasilan) Pajak Tangguhan. Dengan demikian semakin besar nilai beban pajak
tangguhan menunjukkan semakin besar kemungkinan perusahaan tersebut melakukan
manajemen laba
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh beban pajak tangguhan dan
profitabilitas dengan proksi ROA (Return On Assets) dan kewajiban laporan laba rugi
terhadap manajemen laba di suatu perusahaan.
Metode penelitian memakai metode deskriptip dengan datanya data sekunder.
Objek penelitian
1. 1.Beban pajak tangguhan di ukur dengan metode kewajiban laporan laba rugi
dengan melihat laporan laba rugi perusahaan dan metode asset dan kewajiban
2. 2.Profitabilitas di ukur dari nilai ROA (return on asset)
3. 3.Manajemen laba di ukur dengan metode akrual
Yang diteliti
1. 1.pengaruh beban pajak tangguhan terhadap manajemen laba
2. 2.pengaruh profitabilitas terhadap manajemen laba
3. 3.Pengaruh beban pajak tangguhan dan profitabiltas terhadap manajemen laba
Data penelitian menggunakan data sekunder yaitu diambil dari data dokumentasi pada
perusahaan
Cara mengolah datanya.
1. 1.Analisis statistik deskretif

dengan mencari nilai Mean,Median,standar

devlasi,nilai maximun,nilai minimum.


2. 2.Uji
asumsi
klasik
dengan

melakukan

uji

data,multikolinearitas,heteroskedastisitas,auto korelasi
3. 3.pengujian regresi linieritas berganda dengan melakukan SPSS

normalitas