Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Anatomi dan Fisiologi Mata

2.1.1 Anatomi Otot Mata


Pergerakan bola mata dilakukan oleh 6 pasang otot bola mata luar yaitu2:
1. Otot rektus medius, kontraksinya akan menghasilkan aduksi atau menggulirnya
mata kearah nasal dan otot ini dipersarafi oleh saraf ke III (saraf okulomotor).
2. Otot rektus lateral, kontraksinya akan menghasilkan aduksi atau menggulirnya
bola mata kearah temporal dan otot ini dipersarafi oleh saraf ke III (saraf
abdusen).
3. Otot rektus superior, kontraksinya akan menghasilkan elevasi, aduksi dan
intorsi dari pada bola mata dan otot ini dipersarafi saraf ke III (saraf
okulomotor).
4. Otot rektus inferior, kontraksinya akan menghasilkan depresi, adduksi dan
intorsi,yang dipersarafi oleh saraf ke III.
5. Otot oblique superior, kontraksinya akan menghasilkan depresi, intorsi, dan
abduksi yang dipersarafi saraf ke IV (saraf troklear).
6. Otot oblique inferior, kontraksinya akan mengakibatkan elevasi, ekstorsi dan
abduksi yang dipersarafi oleh saraf ke III.
Gambar 2.1 Anatomi Otot-otot Penggerak Bola Mata

2.1.2 Fisiologi
2.1.1 Aspek Motorik
2.1.1.1 Fungsi Masing-masing Otot
Setiap otot dari keenam otot ekstraokuler berperan dalam mengatur posisi
mata dalam tiga sumbu rotasi. Kerja primer suatu otot adalah efek utama yang
ditimbulkannya pada rotasi mata. Efek yang lebih kecil disebut kerja sekunder dan
tersier. Kerja setiap otot tergantung pada orientasi mata di dalam orbita dan
pengaruh jaringan ikat orbita, yang mengatur arah kerja otot ekstraokuler dengan
menjadi origo mekanis fungsional otot-otot tersebut.2,3
Otot rektus medialis dan lateralis masing-masing menyebabkan aduksi dan
abduksi mata, dengan efek ringan pada elevasi atau torsi. Otot rektus vertikalis

dan obliqus memiliki fungsi vertikal maupun torsional. Secara umum otot-otot
rektus vertikalis merupakan elevator dan depresor utama mata, dan otot obliqus,
terutama berperan dalam gerakan torsional. Efek vertikal otot rektus superior dan
inferior lebih besar saat mata berada dalam keadaan abduksi. Efek vertikal otot
obliqus lebih besar saat mata dalam keadaan aduksi.2,3

2.1.1.2 Bidang kerja


Posisi mata ditentukan oleh keseimbangan yang dicapai oleh tarikan keenam
otot ekstraokuler. Mata berada dalam posisi memandang primer saat keduanya
memandang lurus kedepan dengan posisi kepala dan badan yang tegak. Untuk
menggerakan mata kearah pandangan yang lain, otot agonis menarik mata kearah
tersebut dan otot antagonis berelaksasi. Bidang kerja suatu otot adalah arah
pandangan yang dihasilkan saat otot itu mengeluarkan daya kontraksinya yang
terkuat sebagai suatu agonis.2,3

2.1.1.3 Otot-otot sinergistik dan antagonistik


Otot-otot sinergistik adalah otot-otot yang memiliki bidang kerja yang
sama. Dengan demikian, untuk pandangan arah vertikal, otot rektus superior dan
obliqus inferior bersinergi menggerakan mata ke atas. Otot-otot yang sinergik
untuk suatu fungsi mungkin antagonistik untuk fungsi yang lain. Misalnya, otot
rektus superior dan obliqus inferior bekerja sebagai antagonis pada gerak torsi,
rektus superior menyebabkan intorsi dan obliqus inferior ekstorsi. Otot-otot
ekstraokuler, memperlihatkan persyarafan otot-otot antagonistik yang timbal balik

(hukum sheerington). Dengan demikian, pada dekstroversi (menatap ke kanan),


otot rektus lateralis medialis kanan dan lateralis kiri mengalami inhibisi sementara
otot rektus lateralis kanan dan medialis kiri terstimulasi.2,3

2.1.1.3 Otot-otot Pasangan Searah (hukum Hering)


Agar gerakan kedua mata berada dalam arah yang sama, otot-otot agonis
yang berkaitan harus menerima persarafan yang setara (hukum hering). Pasangan
otot agonis dengan kerja primer yang sama disebut pasangan searah (yoke pair).
Otot rektus lateralis kanan dan rektus medialis kiri adalah pasangan searah untuk
menatap ke kanan. Otot rektus inferoir kanan dan obliqus superior kiri adalah
pasangan searah untuk memandang ke kanan bawah.2,3

2.1.1.4 Perkembangan Gerakan Binokular


Sistem neuromuskular pada bayi masih belum matang sehingga tidak
jarang kesejajaran mata belum stabil pada bulan0bulan pertama kehidupan.
Esodeviasi sementara adalah penyimpangan yang paling sering dijumpai dan
mungkin

berkaitan

dengan

imaturitas

sistem

akomodasi

konvergensi.

Membaiknya ketajaman penglihatan secara bertahap disertai pematangan sistem


okulomotor memungkinkan penjajaran mata yang lebih stabil pada usia 2-3 bulan.
Setiap kelainan penjajaran setelah usia ini harus diperiksa oleh oftalmolog.2,3

2.1.2 Aspek Sensorik


2.1.2.1 Penglihatan Binokular

Disetiap mata, segala yang tercitra di fovea terlihat secara subjektif


sebagai tepat didepan. Dengan demikian, apabila dua objek yang tidak serupa
dicitrakan pada dua fovea. Kedua objek tersebut akan terlihat tumpang tindih,
tetapi ketidakserupaan tersebut akan menghambat fusi untuk membentuk suatu
kesan tunggal. Karena berbedanya titik nyaman (vantage point) di dalam ruang
setiap mata, bayangan disetiap mata sebenernya sedikit berbeda dengan bayangan
di mata sebelahnya. Fusi sensorik dan stereopsis merupakan dua proses fisiologik
berbeda yang berperan dalam penglihatan binokular.2,3

2.1.2.2 Fusi Sensorik dan Stereopsis


Fusi sensorik adalah proses yang membuat perbedaan-perbedaan antara
dua bayangan tidak disadar di bagian retina perifer. Masing-masing mata, terdapat
titik-titik korespondensi yang bila tidak ada fusi akan melokalisasi rangsangan
pada arah yang sama dalam ruang. Dalam proses fusi, nilai arah titik-titik ini dapat
dimodifikasi. Dengan demikian, setiap titik di retina pada masing-masing mata
mampu memfusikan rangsangan yang jatuh cukup dekat dengan titik
korespodensi di mata yang lain. Daerah titik-titik yang dapat difusikan ini disebut
daerah panum.2,3
Fusi dapat terjadi karena perbedaan-perbedaan ringan antara dua bayangan
diabaikan,

dan

stereopsis

atau

persepsi

kedalaman

(dept

perception)

binokularnterjadi karena integrasi serebral kedua bayangan yang sedikit berbeda


tersebut.2,3
Tabel 2.1 Fungsi otot-otot mata.2

Otot
Rektus lateralis (RL)
Rektus medialis (RM)
Rektus superior (RS)
Rektus inferior (RI)
Obliquus superior (OS)
Obliquus inferior (OI)

Kerja Primer
Abduksi
Aduksi
Elevasi
Depresi
Intorsi
Ekstorsi

Kerja Sekunder
Tidak ada
Tidak ada
Aduksi, intorsi
Aduksi, ekstorsi
Depresi, abduksi
Elevasi, abduksi

2.2 Strabismus
2.2.1 Definisi
Strabismus adalah keadaan dimana salah satu mata bisa tak sejajar dengan
mata yang lain sehingga pada satu waktu hanya satu mata yang melihat objek
yang dipandang. Ketidak sejajaran tersebut dapat terjadi di segala arah ke dalam,
keluar, atas, bawah, atau torsional. Macam-macam strabismus diantaranya
esotropia, exotropia, hypertropia, dan hypotropia.2,5
Hypotropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata
dimana salah satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu
penglihatan yang lainnya menyimpang pada bidang vertikal ke arah inferior
(bawah). Hypertropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata
dimana salah satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu
penglihatan yang lainnya menyimpang pada bidang vertikal ke arah superior
(atas). Eksotropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata
dimana salah satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu
penglihatan yang lainnya menyimpang pada bidang horizontal ke arah lateral.
Esotropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata dimana
salah satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu penglihatan
lainnya menyimpang pada bidang horizontal ke arah medial.2,5

10

Gambar 2.1 Macam-macam strabismus


Terdapat pula strabismus dengan A-V pattern yaitu adanya perbedaan
signifikan pada deviasi horizontal antara upgaze dan downgaze dari posisi
midline. Pada A pattern, mata tampak lebih divergensi pada saat downgaze
A
B
dibanding pada saat upgaze minimal sebesar
10 Prisma Dioptri (PD).Sedangkan
pada V pattern, divergensi meningkat pada upgaze dibandingkan downgaze
minimal sebesar 15 PD.2,5

11

Gambar 2.2 A. Esotropia V pattern; B. Eksotropia V pattern; C. Esotropia A


pattern; D. Eksotropia A pattern.5
2.2.2 Epidemiologi
Strabismus terjadi pada kira-kira 2% anak-anak usia di bawah 3 tahun dan
sekitar 3% remaja dan dewasa muda. Kondisi ini mengenai pria dan wanita dalam
perbandingan yang sama. Strabismus mempunyai pola keturunan, sebagai contoh,
jika salah satu atau kedua orangtuanya strabismus, sangat memungkinkan anaknya
akan strabismus juga. Namun, beberapa kasus terjadi tanpa adanya riwayat
strabismus dalam keluarga. Anak-anak disarankan untuk dilakukan pemeriksaan
mata saat usia 3-4 tahun. Bila terdapat riwayat keluarga strabismus, pemeriksaan
mata disarankan dilakukan saat usia 12-18 bulan.2,6

2.2.3 Anamnesis
Dalam mendiagnosis strabismus diperlukan anamnesis yang cermat.2,7
a) Riwayat Keluarga
Strabismus dan ambliopia sering ditemukan dalam hubungan keluarga.

12

b) Usia Onset
Ini merupakan faktor penting untuk prognosis jangka panjang. Semakin dini onset
strabismus, semakin buruk prognosis fungsi penglihatan binokularnya.
c) Jenis onset
Awitan dapat perlahan, mendadak, atau intermiten.
d) Jenis deviasi
Ketidaksesuaian penjajaran dapat terjadi di semua arah; dapat lebih besar di
posisi-posisi menatap tertentu, termasuk posisi primer untuk jauh dan dekat.
e) Fiksasi
Salah satu mata mungkin terus-menerus menyimpang atau mungkin terlihat
fiksasi yang berpindah-pindah.

2.2.4 Pemerikaan Fisik


a. Menentukan ketajaman penglihatan
Ketajaman penglihatan harus dievaluasi sekalipun hanya dapat dilakukan
perkiraan kasar atau perbandingan dua mata. Masing-masing mata dievaluasi
tersendiri karena pemeriksaan binokular tidak akan dapat memperlihatkan
gangguan penglihatan pada salah satu mata. Untuk pasien anak kecil, mungkin
hanya dapat dipastikan bahwa mata dapat mengikuti suatu sasaran yang bergerak.
Sasaran harus berukuran sekecil mungkin sesuai dengan usia, perhatian, dan
tingkat kewaspadaan anak. Fiksasi dikatakan normal apabila fiksasi tersebut
bersifat sentral (foveal) dan dipertahankan terus sementara mata mengikuti objek
yang bergerak.2

13

Pada anak strabismus yang belum bisa bicara, pengutamaan fiksasi


(fixation preference) pada satu mata menunjukan dugaan adanya ambiopia di mata
sebelahnya. Pada anak yang belum bisa bicara dengan pejajaran motorik yang
baik , perbedaan ketajaman yang ringan mungkin sulit dideteksi. Berdasarkan
perilaku mengikuti. Sebuah teknik pemeriksaan yang berguna dilakukan dengan
memegang dasar prisma 15-20 PD di depan mata sebelah bawah untuk
menginduksi suatu perbedaan vertikal pada bayangan. Pemeriksaan ini dikenal
sebagai uji tropia menginduksi, sedikit perbedaan dalam pengutamaan fiksasi
dapat terdeteksi dengan mudah. Teknik lain untuk mengukur ketajaman
penglihatan secara kuantitatif pada anak kecil adalah forced-choise preferential
looking.2,7
b. Menetukan kesalahan refraksi
Perlu

dilakukan

penentuan

kelainan

refraksi

sikloplegik

dengan

retinoskopi. Refraksi sikloplegik paling sering dilakukan dengan menggunakan


larutan oftalmik cyclopentolate 1%. Kadang-kadang, digunakan larutan atau salep
atropine 1% untuk mendapatkan sikloplegia sempurna pada anak dengan iris
berwarna gelap yang kurang berespons terhadap obat-obat yang lebih lemah.2
c. Inspeksi
Inspeksi saja dapat memperlihatkan apakah strabismus yang terjadi
konstan atau intermiten, berpindah-pindah atau tidak, dan apakah berubah-ubah.
Mungkin juga ditemukan adanya ptosis dan posisi kepala yang abnormal. Harus
diperhatikan kualitas fiksasi masing-masing mata dan kedua mata secara

14

bersmaan. Nistagmus menndakan adanya fiksasi yang tidak stabil dan biasanya
penurunan ketajaman penglihatan.2
Lipatan epikantus yang menonjol dan menghalangi seluruh atau sebagian
sklera nasal dapat menimbulkan gambaran eotropia (pseudostrabismus) ,
memperlihatkan uji refleksi cahaya yang normal pada kornea. Lipatan epikantus
yang menonjol menghilang secara bertahap pada usia 4 atau 5 tahun.2

2.2.5 Jenis-jenis Pemeriksaan Penunjang


a. Penentuan sudut strabismus (sudut deviasi)
a) Uji tutup dan prisma
Uji tutup terdiri atas empat bagian: uji tutup, uji membuka penutup, uji tutup
bergantian dan uji tutup bergantian plus prisma.
1. Uji tutup
Sewaktu pemeriksa mengamati satu mata, di depan mata yang lain
ditaruh penutup untuk menghalangi pandangannya terhadap sasaran.
Apabila mata yang diamati bergerak untuk melakukan fiksasi, mata tersebut
sebelunya tidak melakukan fiksasi pada sasaran, terdapat deviasi yang
bermanifestasi

(strabismus).

Arah

gerakan

memperlihatkan

arah

penyimpangan, misalnya jika mata yang diamati bergerak keluar untuk


melakukan fiksasi, terdapat esotropia.2
2. Uji membuka penutup
Sewaktu penutup diangkat setelah uji tutup, dilakukan pengamatan pada
mata yang sebelumnya terttutup tersebut. Apabila posisi mata tersebut
berubah, terjadi interupsi penglihatan binokular yang menyebabkan

15

berdeviasi, dan terdapat heterofosia. Arah gerakan korektif memperlihatkan


heteroforianya. Uji tutup/ membuka penutup dilakukan setiap mata.2
3. Uji tutup bergantian
Penutup ditaruh bergantian di depan mata yang pertama dan kemudian
di mata yang lain. Uji ini memperlihatkan deviasi total (heterotropia
ditambah heteroforia bila ada juga). Penutup harus dipindahkan dengan
cepat dari satu mata ke mata yang lain untuk mencegah refusi heteroforia.
4. Uji tutup bergantian plus prisma
Untuk mengukur deviasi secara kuantitatif, diletakkan prisma dengan
kekuatan yang semakin meningkat di depan satu mata sampai terjadi
netralisasi gerakan mata pada uji tutup bergantian. Contohnya, untuk
mengukur esodeviasi penug, penutup dipindah-pindah sambil diletakkan
prisma dengan kekuatan base-out yang semakin tinggi di depan satu mata
sampai gerakan refiksasi horizontal mata yang berdeviasi tersebut
dinetralisasi. Deviasi yang lebih besar mungkin memerlukan dua prisma
yang diletakkan di depan kudua mata, tetapi prisma-prisma itu tidak boleh
ditumpuk pada arah yang sama di depan satu mata.2
b) Uji objektif
Pengukuran dengan prisma dan penutup bersifat objektif karena tidak
memerlukan laporan pengamatan sensorik dari pasien. Namun, diperlukan
kerja sama dan keutuhan penglihatan kedua mata dalam kadar tertentu.
Penentuan klinis posisi mata yang tidak memerlukan pengamatan sensorik
pasien (uji objektif) dianggap kurang akurat walaupun masing bermanfaat.

16

Terdapat 2 metode, hasil dari kedua metode tersebut harus dimodifikasi dengan
mempertimbangkan sudut kappa.2
1. Metode Hirschbeg
2. Metode refleks prisma (uji krimsky reverse)
Pasien melakukan fiksasi terhadap suatu cahaya. Sebuah prisma
ditempatkan di depan mata yang dipilih, dan kekuatan prisma yang diperlukan
untuk membuat refleks cahaya terletak di tengah kornea mata yang strabismus
menentukan ukuran sudut deviasinya.2

b. Gerakan disjungtif
a) Konvergensi
Sewaktu mengikuti sebuah benda yang bergerak mendekat, kedua mata
harus berputar ke dalam untuk mempertahankan kesejajaran sumbu penglihatan
dengan obyek yang bersangkutan. Otot-otot rektus medialis berkontraksi dan
otot-otot rektus lateralis berelaksasi di bawah pengaruh stimulasi dan inhibisi
saraf.2
Konvergensi adalah suatu proses aktif dengan komponen volunter dan
involunter yang kuat. Salah satu pertimbangan penting dalam mengevaluasi
otot-otot ekstraokular pada strabismus adalah konvergensi.2
Untuk memeriksa konvergensi, sebuah objek kecil atau sumber cahaya
secara perlahan dibawa mendekat ke jembatan hidung . Perhatian pasien
ditujukan kepada benda tersebut dengan mengatakan Usahakan sekuat
mungkin jangan sampai bayangan terlihat ganda. Dalam keadaan normal,
konvergensi dapat dipertahankan sampai benda terletak dekat dengan jembatan

17

hidung. Nilai numerik konvergensi yang sebenernya dapat ditentukan dengan


mengukur jarak dari jembatan hidung (cm) pada saat mata kalah (saat mata
yang nondominan bergerak ke lateral sehingga konvergensi tidak lagi dapat
dipertahankan). Titik ini disebut titik dekat konvergensi , dan nilai sampai 5 cm
dianggap masih dalam batas normal.2
b) Divergensi

c. Pemeriksaan sensorik
a) Pemeriksaan Stereopsis
b) Pemeriksaan Supresi
c) Pemeriksaan Fusi

2.2.6

Kelainan Sensorik pada Strabismus


Kelainan sensorik pada strabismus, hingga 7 atau 8 tahun , otak biasanya

mengembangkan berbagai respons terhadap penglihatan binokular yang abnormal;


respons ini mungkin tidak timbul bila onset strabismusnya setelah usia tersebut.
Kelainan-kelainan tersebut adalah diplopia, supresi, anomali korespondensi retina
dan fiksasi eksentrik.2
a. Diplopia
Kedua fovea menerima bayangan yang berbeda. Objek yang terlihat oleh
salah satu fovea dicitrakan pada daerah retina perifer di mata yang lain. Bayangan
fovea terlokalisasi tepat di depan, sedangkan bayangan retina-perifer dari objek
yang sama di mata yang lain dilokalisasi di arah yang lain. Dengan demikian,
objek yang sama terlihat di dua tempat (diplopia).

18

b. Supresi
Dalam kondisi penglihatan binokular pasien strabismus, bayangan yang
terlihat di salah satu mata menjadi predominan dan yang terlihat di mata yang lain
tidak dipersepsikan (supresi)
c. Ambliopia
Pengalaman visual abnormal berkepanjangan yang dialami oleh seorang
anak berusia kurang dari 7 tahun dapat menyebabkan ambliopia
d. Anomali korespondensi retina
e. Fiksasi eksentrik

2.2.7 Penatalaksanaan
Terjadinya strabismus adalah akibat dari tidak dipenuhinya syarat2
binokuler vision normal, karena itu tujuan pengobatan strabismus adalah
mendapatkan binokuler vision yang baik.2,3
Tiga tahap pengobatan strabismus :2,3
1. Memperbaiki visus masing-masing mata :
Dengan menutup mata yang baik
Pemberian kaca mata
Latihan ( oleh orthoptist )
2. Memperbaiki kosmetik :
Mata diluruskan dengan jalan operasi
Pemberian kaca mata
Kombinasi keduanya

19

3. Penglihatan binokuler :
Latihan orthoptic
Operasi & orthoptic
Kaca mata & orthoptic
Jadi pengobatan strabismus dapat disimpulkan :2,3
A. Non operatif
1. Kaca Mata
2. Orthoptics :
a. Oklusi Mata yang sehat ditutup dan diharuskan melihat dengan mata
yang ambliopia. Oklusi sebagian juga harus bisa dilakukan dengan
membrane plastik, pita, lensa, atau mata ditutup dengan berbagai cara.
b. Pleoptic
c. Obat-obatan
d. Latihan Synoptophore
3. Memanipulasi akomodasi
a. Lensa plus / dengan miotik
Menurunkan beban akomodasi dan konvergensi yang menyertai
b. Lensa minus dan tetes siklopegik
Merangsang akomodasi pada anak-anak
4. Penutup Mata
Jika

anak

menderita

strabismus

dengan

ambliopia,

dokter

akan

merekomendasikan untuk melatih mata yang lemah dengan cara menutup mata
yang normal dengan plester mata khusus (eye patch). Penggunaan plester mata

20

harus dilakukan sedini mungkin dan mengikuti petunjuk dokter. Sesudah berusia 8
tahun biasanya dianggap terlambat karena penglihatan yang terbaik berkembang
sebelum usia 8 tahun.

B. Operatif
a. Melemahkan otot : Recession
b. Memperkuat otot : Recection
Contoh:
-

Esotropia jarak jauh, dilakukan reseksi m.rektus eksternus, (otot yang lemah).
Pada esotropia jarak dekat, perlu resesi m.rektus internus (otot yang kuat). Untuk
esotropi yang hebat, lebih dari 30 derajat, terjadi jauh dekat, dilakukan operasi
kombinasi.

Eksotropia untuk jarak jauh, dilakukan dari resesi m.rektus lateralis, sedang pada
kelemahan dari daya konvergensi, yang timbulkan eksotropia pada jarak dekat
dilakukan reseksi dari m.rektus medialis. Untuk eksotropia yang menetap untuk
jauh dan dekat, dilakukan operasi kombinasi.

2.2.8 Tujuan dan Prinsip Terapi Strabismus


Tujuan utama terapi strabismus pada anak adalah :3,8,9
a. Pemulihan efek sensorik yang merugikan (ambliopia, supresi dan hilangnya
stereopsis) dan
b. Penjajaran mata terbaik yang dapat dicapai dengan terapi medis atau bedah.

21

A. Terapi medis
a. Terapi ambliopia
Eliminasi ambliopia sangat penting dalam pengobatan strabismus dan selalu
merupakan salah satu tujuan. Deviasi akibat strabismus dapat membesar-jarang
mengecil-setelah terapi ambliopia. Hasul tindakan bedah dapat diperkirakan dan
stabil apabila ketajaman penglihatan kedua mata sebelum operasi baik.2,3
1. Terapi oklusi
Terapi ambliopia yang utama adalah oklusi. Mata yang baik ditutup
untuk merangsang mata yang mengalami ambliopia. Apabila terdapat
kesalahan refraksi yang cukup signifikan, juga digunakan kaca mata.
Dikenal dua stadium terapi ambliopia yang berhasil : perbaikan awal
dan pemeliharaan ketajaman penglihatan yang telah diperbaiki tersebut.
a) Stadium awal
Terapi awal standar adalah penutupan terus menerus. Pada beberapa
kasus hanya diterapkan penutupan paruh waktu apabila ambliopianya
tidak terlalu parah atau anak terlalu muda. Sebagai petunjuk, penutupan
terus menerus dapat dilakukan sampai beberapa minggu (setara dengan
usia anak dalam tahun) tanpa risiko penurunan penglihatan pada mata
yang baik. Terapi oklusi dilanjutkan selama ketajaman penglihatan
sebaiknya tidak terus menerus lebih 4 bulan apabila tidak terdapat
kemajuan.
b) Stadium pemeliharaan

22

Terapi pemeliharaan terdiri dari penutupan paruh waktu yang


dilanjutkan setelah fase perbaikan untuk mempertahankan penglihatan
terbaik melewati usia di mana ambliopia kemungkinan besar kambuh
(sekitar usia 8 tahun).
2. Terapi atropin
Beberapa anak intoleran terhadap terapi oklusi. Pada kasus-kasus
seperti ini yang memiliki hiperopia sedang atau tinggi, terapi atropin
mungkin efektf. Atropin menyebabkan siklopegia sehingga menurunkan
kemampuan akomodasi. Mata yang baik ditetesi dengan atropin, digunakan
kacamata untuk memfokuskan mata tersebut hanya untuk fiksasi jauh atau
dekat. Di luar waktu tersebut, pasien didorong menggunakan mata yang
ambliopik. Tetes atropin 1 % setiap beberapa hari biasanya cukup untuk
menimbulkan siklopegia menetap.8-10
b. Alat optik2,9,11
1. Kaca mata
Alat optik terpenting dalam pengobatan strabismus adalah kacamata
yang diresepkan secara akurat. Klarifikasi citra retina yang dihasilkan oleh
kacamata memungkinkan mata menggunakan mekanisme fusi alamiah
sebesar-besarnya. Kesalahan refraksi yang ringan tidak perlu diperbaiki.
Apabila terdapat hiperopia dan esotropia yang bermakna, esotropia tersebut
mungkin (paling tidak sebagian) disebabkan oleh hiperopia (esotropia
akomodatif).

Resep

kacamata

mengkompensasikan

temuan-temuan

23

sikloplegik penuh. Apabila mungkin, gunakan kacamata bifokus yang


memungkinkan relaksasi untuk akomodasi penglihatan dekat.
2. Prisma
Penggunaan prisma pada pasien strabismus dewasa umumnya
diterapkan. Indikasi untuk penggunaan didasarkan dari keadaan pasien
individu. Strabismus sudut kecil dengan diplopia adalah kondisi yang paling
umum di mana prisma akan efektif. Sebagai contoh, pasien dengan deviasi
vertikal 5-6 dioptri (satuan pengukuran sudut penyimpangan; salah satu
diopter sama dengan sekitar derajat sudut), yang merupakan comitant
(artinya sama di semua arah tatapan), disarankan menggunakan prisma.
Prisma mungkin berguna pada pasien yang menunjukkan koreksi lebih awal
setelah operasi strabismus, dan mungkin efektif dalam membantu menjaga
binocularity baik. Prisma juga telah digunakan dalam membantu ahli bedah
memutuskan berapa banyak operasi dilakukan. Prism Adaptation Trial
menunjukkan beberapa efektivitas dalam evaluasi pra operasi di esotropia.
Pasien yang merespon terhadap prisma (binocularly) dan yang sudut
meningkat menunjukkan keberhasilan bedah yang lebih besar. Namun,
harus disebutkan bahwa prisma tidak memiliki kelemahan, terutama prisma
dibatasi oleh fakta bahwa tidak praktis untuk memperbaiki penyimpangan
besar karena ketebalan dan berat prisma. Selain itu, pasien yang deviasi
incomitant atau perubahan dari satu posisi tatapan lain dapat menjadi
diplopia. Selain itu, pasien yang biasanya tidak memakai kacamata mungkin

24

menemukan kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kacamata dengan


prisma.
Prisma menghasilkan pengarahan ulang garis penglihatan secara
optis. Unsur-unsur retina dibuat segaris untuk menghilangkan diplopia.
Penjajaran sensorik mata yang tepat juga merupakan suatu bentuk terapi
antisupresi. Apabila digunakan sebelum operasi, prisma dapat merangsang
efek sensorik yang akan timbul setelah tindakan bedah. Pada pasien dengan
deviasi horizontal, prisma akan memperlihatkan kemampuan pasien untuk
memfusikan deviasi vertikal kecil yang simultan, sehingga dapat merupakan
indikasi apakah juga harus dilakukan tindakan bedah untuk komponen
vertikal. Pada anak dengan esotropia, dapat digunakan prisma sebelum
operasi untuk memperkirakan pergeseran posisi pascaoperasi yang dapat
mementahkan

hasil

pembedahan,

dan

rencana

pembedahan

dapat

dimodifikasi sesuai hal tersebut (uji adaptasi prisma).


c. Obat farmakologik :
1. Miotik
Ekotiopat iodida dan isoflurorat menyebabkan asetilkolinesterase
inaktif ditaut neuromuskular sehingga efek setiap impuls saraf menguat.
Akomodasi menjadi lebih efektif relatif terhadap konvergensi daripada
sebelum pengobatan. Karena akomodasi mengontrol refleks dekat (trias
akomodasi, konvergensi, dan miosis), penurunan akomodasi akan
menurunkan konvergensi dan sdudut deviasi akan secara bermakna
berkurang, sering sampai nol.

25

2. Toksin botulinum
Penyuntikan toksin botulinum tipe A (Botox) ke dalam suatu otot
intraokular menimbulkan paralisis otot tersebut yang lamanya bergantung
dosis. Penyuntikan diberikan dibawah kontrol posisi secara elektromiografik
dengan menggunakan jarum elektroda bipolar. Toksin berkaitan erat dengan
jaringan otot. Dosis yang digunakan sangat kecil sehingga tidak terjadi
toksisitas sistemik. Untuk memperoleh efek menetap, biasanya diperlukan
dua kali injeksi atau lebih.
d. Ortoptik
Seorang

ortoptis

dilatih

untuk

menguasai

metode-metode

pemeriksaan dan terapi pasien strabismus. Seorang ortoptis dapat membantu


dalam terapi praoperasi, terutama pada pasien-pasien dengan ambliopia.

B. Terapi Bedah
Berbagai perubahan dalam efek rotasi suatu otot ekstraokular dapat divapai
dengan tindakan bedah. Yaitu:2,9
1. Reseksi dan resesi.
Merupakan tindakan sederhana dengan memperkuat otot ekstraokular dan
melemahkan otot ekstraokular. Reseksi dimana otot dilepaskan dari mata,
diregangkan lebih panjang secara terukur, kemudian dijahit kembali ke mata,
biasanya ditempat insersi semula. Resesi dimana otot dilepas dari mata,
dibebaskan dari perlekatan fasia, dan dibiarkan mengalami retraksi. Otot tersebut
dijahit kembali ke mata pada ajarak tertentu di belakang insersinya semula.

26

2. Penggeseran titik perlekatan otot


Hal ini dapat menimbulkan efek rotasional yang sebelumnya tidak dimiliki
otot tersebut. Misalnya pergeseran vertikal kedua otot rektus horizontal di mata
yang sama akan mempengaruhi posisi vertikal mata. Penggeseran vertikal otot
rektus horizontal dalam arah yang berlawanan mempengaruhi posisi horizontal
mata sewaktu memandang ke bawah dan ke atas.
3. Tindakan faden
Merupakan suatu operasi khusus untuk melemahkan otot, disebut juga
tindakan fiksasi posterior. Dalam operasi ini diciptakan suatu insersi otot baru
jauh dibelakang insersi semula. Hal ini menyebabkan pelemahan mekanis otot
sewaktu mata berotasi di dalam bidang kerjanya. Apabila dikombinasi dengan
resesi otot yang sama, operasi faden menimbulkan efek melemahkan yang
mencolok tanpa perubahan bermakna pada posisi primer mata.