Anda di halaman 1dari 19

REFARAT

HIPERTENSI EMERGENSI di UGD RSU UKI


PERIODE 1 AGUSTUS 31 OKTOBER 2015

Pembimbing:
dr. Frits R.W. Suling ,Sp.JP, FIHA

Disusun Oleh:
Raga Manduaru
1061050135
Nathaniel Aranjuez Pakpahan
1161050174

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA RSU UKI
PERIODE :
14 DESEMBER 2015 27 FEBRUARI 2016

BAB I
PENDAHULUAN
Hipertensi krisis merupakan salah satu kegawatan dibidang neurovaskular yang sering
dijumpai di instalasi gawat darurat. Hipertensi krisis ditandai dengan peningkatan tekanan
darah akut dan sering berhubungan dengan gejala sistemik yang merupakan konsekuensi dari
peningkatan darah tersebut. Ini merupakan komplikasi yang sering dari penderita dengan
hipertensi dan membutuhkan penanganan segera untuk mencegah komplikasi yang
mengancam jiwa. Duapuluh persen pasien hipertensi yang datang ke UGD adalah pasien
hipertensi krisis.1
Data di Amerika Serikat menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi dari 6,7%
pada penduduk berusia 20-39 tahun, menjadi 65% pada penduduk berusia diatas 60 tahun.
Data ini dari total penduduk 30% diantaranya menderita hipertensi dan hampir 1%-2% akan
berlanjut menjadi hipertensi krisis disertai kerusakan organ target. Sebagian besar pasien
dengan stroke perdarahan mengalami hipertensi krisis.1
Di Indonesia belum ada laporan tentang angka kejadian ini. Berbagai gambaran klinis
dapat menunjukkan keadaan krisis hipertensi (HT) dan secara garis besar, The Eight Report
of the Joint National Comitte on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure
(JNCVIII) membagi krisis HT ini menjadi 2 golongan yaitu : hipertensi emergensi (darurat)
dan hipertensi urgensi (mendesak).1
Membedakan kedua golongan krisis HT ini bukanlah dari tingginya TD, tapi dari
kerusakan organ sasaran. Kenaikan TD yang sangat pada seorang penderita dipikirkan suatu
keadaan emergensi bila terjadi kerusakan secara cepat dan progresif dari sistem syaraf sentral,
miokardinal, dan ginjal. HT emergensi dan urgensi perlu dibedakan karena cara
penaggulangan keduanya berbeda. Gambaran kilnis krisis HT berupa TD yang sangat tinggi
(umumnya TD diastolik > 120 mmHg) dan menetap pada nilai-nilai yang tinggidan terjadi
dalam waktu yang singkat dan menimbulkan keadaan klinis yang gawat. Seberapa besar TD
yang dapat menyebabkan krisis HT tidak dapat dipastikan, sebab hal ini juga bisa terjadi pada
penderita yang sebelumnya nomortensi atau HT ringan/sedang. 1.2
Walaupun telah banyak kemajuan dalam pengobatan HT, namu para kilinisi harus
tetap waspada akan kejadian krisis HT, sebab penderita yang jatuh dalam keadaan ini dapat
membahayakan jiwa/kematian bila tidak ditanggulangi dengan cepat dan tepat. Pengobatan
yang cepat dan tepat serta intensif lebih diutamakan daripada prosesur diagnostik karena
1

sebagian besar komplikasi krisis HT bersifat reversibel. Dalam menanggulangi krisis HT


dengan obat anti hipertensi, diperlukan pemahaman mengenai autoregulasi TD dan aliran
darah, pengobatan yang selektif dan terarah terhadap masalah medis, yang menyertai,
pengetahuan mengenai obat parenteral dan oral anti hipertensi, variasi regimen pengobatan
untuk mendapatkan hasil pengobatan yang memadai dan efek samping yang minimal. Dalam
referat ini akan dibahas klasifikasi, patofisiologi pendekatan diagnosis, dan penatalaksanaan
krisis hipertensi yang terfokus pada hipertensi emergensi.

BAB II
PEMBAHASAN
2

Pembagian klasifikasi hipertensi secara periodik selalu dikembangkan oleh Joint


National Committee (JNC) untuk pendeteksi, evaluasi dan penatalaksanaan pada tekanan
darah

tinggi.

JNC

mengklasifikasikan

hipertensi

pada

empat

stadium:

normal,

prehypertension, stage I dan stage II (tabel I).1

Tabel I. klasifikasi hipertensi


National Comitte (JNC)-8

berdasarkan

Joint

Menurut klasifikasi JNC VIII pasien dengan tekanan darah sistolik > 180 mmHg atau
diastolik > 110 mmHg dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Hampir seluruh episode krisis
hipertensi berhubungan dengan tekanan darah diastolik > 120 mmHg.2 Hanya sebagian kecil
pasien dengan hipertensi yang datang dengan krisis hipertensi, sekitar 1-2%.3
2.1

Krisis Hipertensi
Epidemiologi krisis hipertensi mirip dengan hipertensi (yaitu lebih tinggi di antara

Afrika- Amerika dan orang tua); Namun, penderita pada laki-laki lebih banyak dua kali lebih
sering dari pada wanita. Diperkirakan 1% dari pasien hipertensi akan, pada suatu waktu,
berubah menjadi krisis hipertensi.4
2.2

Klasifikasi Krisis Hipertensi


Krisis hipertensi dimasukkan ke dalam hipertensi emergensi bila terdapat kerusakan

organ target, sebaliknya pada urgensi.5 Sumber lain membagi menjadi tiga kategori, yaitu
hipertensi berat, urgensi, dan emergensi. Seorang pasien dikatakan hipertensi berat bila
tekanan darah melebihi 180/110 tanpa gejala selain nyeri kepala ringan atau sedang, dan tidak
ditemukan tanda-tanda kerusakan target organ. Hipertensi urgensi ditemukan bila tekanan
darah melebihi 180/110 dengan gejala signifikan seperti nyeri kepala berat atau sesak, tanpa
atau dengan sedikit kerusakan target organ. Hipertensi emergensi ditemukan bila tekanan
darah sangat tinggi (dapat mencapai 220/140) dengan adanya tanda-tanda disfungsi organ

yang mengancam nyawa.3 Selain itu, ada istilah lama yaitu hipertensi maligna, dimana
tekanan darah tinggi disertai papilledema (retinopati grade IV).
Klasifikasi yang umum dipakai adalah klasifikasi pertama, yaitu hipertensi emergensi
dan urgensi saja. Membedakan kedua kondisi tersebut penting dalam hal tatalaksana. Pada
pasien dengan hipertensi urgensi, tekanan darah perlu diturunkan dalam waktu 24-48 jam,
sementara pada hipertensi emergensi tekanan darah diturunkan secepatnya, walaupun tidak
sampai kondisi norma.5 Pada pembahasan kali ini kami akan menggunkan klasifikasi Krisis
hipertensi yang akan dibagi menjadi dua kelompok: i. hipertensi emergensi, ii. Hipertensi
urgensi. Pembagian krisis hipertensi diatas berdasarkan ada atau tidaknya keterlibatan target
organ.4
2.3

Hipertensi Emergensi
Hipertensi emergensi didefinisikan sebagai hipertensi krisis yang masuk dalam

karakteristik peningkatan tekanan darah >180/120 mmHg yang disertai disfungsi target organ
(lihat table II), baik yang akan terjadi atau progresif. Disfungsi organ jarang terjadi apabila
tekanan darah diastolic < 130mmHg (kecuali pada anak anak atau ibu hamil).

Untuk

mencegah atau membatasi kerusakan target organ, diperlukan penurunan segera tekanan
darah dengan target penurunan Mean arterial pressure (MAP) sebesar<25 % semula dengan
waktu yang cepat (selama 1 jam).6 Beberapa contoh kondisi target organ yang dapat muncul
pada krisis hipertensi, dapat dilihat pada tabel II. Pada tekanan darah sistolik >169 atau
tekanan darah diastolik>109 mmHg dengan penderita ibu hamil harus dipertimbangan
kejadian hipertensi emergensi yang membutuhkan terapi farmakologis dengan cepat.4

Tabel II. Berbagai kondisi penyerta yang dapat

2.4
Patofisiologi
timbul sebagai
target ogan

Patofisiologi dari krisis hipertensi belum sepenuhnya dipahami. Nampaknya


kecepatan kerusakan target organ dan beratnya peningkatan tekanan darah pada saat pasien
datang disebabkan oleh kegagalan fungsi autoregulasi normal dan peningkatan mendadak
tahanan vaskular perifer. Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan endovaskular dengan
nekrosis pada arteriol. Peristiwa yang terjadi kemudian yaitu meningkatkan permeabilitas,
aktivasi dari kaska defaktor koagulasi dan platelet, deposisi fibrin dan kerusakan fungsi
autoregulasi.4 (gambar 1)
Proses tersebut dapat menghasilkan suatu kejadian iskemik dan keluarnya mediator
vasoaktif selama kerusakan vascular terjadi. Renin angiotensin aldosterone sering teraktivasi
yang akan mengakibatkan vasokontriksi dan produksi sitokin proinflamasi seperti interleukin
6 (IL-6). Lalu, aktivitas NADPH oxidase akan meningkat yang akan memeperberat kejadian
iskemik organ pada krisis hipertensi.5

2.4.1

Kegagalan Autoregulasi7
Autoregulasi merupakan penyesuaian fisiologis organ tubuh terhadap kebutuhan dan

pasokan darah dengan mengadakan perubahan pada resistensi terhadap aliran darah dengan
6

berbagai tingkatan perubahan kontraksi/dilatasi pembuluh darah. Bila tekanan darah turun
maka akan terjadi vasodilatasi dan jika tekanan darah naik akan terjadi vasokonstriksi. Pada
individu normotensi, aliran darah otak masih tetap pada fluktuasi Mean Atrial Pressure
(MAP) 60-70 mmHg. Bila MAP turun di bawah batas autoregulasi, maka otak akan
mengeluarkan oksigen lebih banyak dari darah untuk kompensasi dari aliran darah yang
menurun. Bila mekanisme ini gagal, maka akan terjadi iskemia otak dengan manifestasi
klinik seperti mual, menguap, pingsan dan sinkop. Pada penderita hipertensi kronis, penyakit
serebrovaskuar dan usia tua, batas ambang autoregulasi ini akan berubah dan bergeser ke
kanan pada kurva,sehingga pengurangan aliran darah dapat terjadi pada tekanan darah yang
lebih tinggi.1,7
Pada penelitian Stragard, dilakukan pengukuran MAP pada penderita hipertensi
dengan yang normotensi. Didapatkan penderita hipertensi dengan pengobatan mempunyai
nilai diantara grup normotensi dan hipertensi tanpa pengobatan. Orang dengan hipertensi
terkontrol cenderung menggeser autoregulasi ke arah normal.
Dari penelitian didapatkan bahwa baik orang yang normotensi maupun hipertensi,
diperkirakan bahwa batas terendah dari autoregulasi otak adalah kira-kira 25% di bawah
resting MAP. Oleh karena itu dalam pengobatan hipertensi krisis, penurunan MAP sebanyak
20%-25% dalam beberapa menit atau jam,tergantung dari apakah emergensi atau urgensi.
Penurunan tekanan darah pada penderita diseksi aorta akut ataupun edema paru akibat payah
jantung kiri dilakukan dalam tempo 15-30 menit dan bisa lebih cepat lagi dibandingkan
hipertensi emergensi lainya. Penderita hipertensi ensefalopati, penurunan tekanan darah 25%
dalam 2-3 jam. Untuk pasien dengan infark serebri akut ataupun perdarahan intrakranial,
penurunan tekanan darah dilakukan lebih lambat (6-12 jam) dan harus dijaga agar tekanan
darah tidak lebih rendah dari 170-180/100 mmHg.7
Walaupun seluruh pasien dengan hipertensi emergensi datang dengan tekanan darah
tinggi, gejala yang dikeluhkan seringkali bervariasi tergantung organ mana yang terpengaruh.
Organ terget penting pada hipertensi emergensi yaitu otak, jantung, ginjal, dan uterus gravid.
Sebuah studi oleh Zampaglione et al menyebutkan bahwa pada 83% kasus terjadi kerusakan
satu target organ, 14% pada dua organ, dan 3% pada tiga organ atau lebih. 2 Tabel III
menunjukkan prevalensi kerusakan masing-masing target organ.

Tabel III. Prevalensi kerusakan target


organ

2.5

Manifestasi Klinik8,9
Manifestasi klinis hipertensi krisis berhubungan dengan kerusakan organ target yang

ada. Tanda dan gejala hipertensi krisis berbeda-beda setiap pasien. Pada pasien dengan
hipertensi krisis dengan perdarahan intrakranial akan dijumpai keluhan sakit kepala,
penurunan tingkat kesadaran dan tanda neurologi fokal berupa hemiparesis atau paresis
nervus cranialis. Pada hipertensi ensefalopati didapatkan penurunan kesadaran dan atau
defisit neurologi fokal. Pada pemeriksaan fisik pasien bisa saja ditemukan retinopati dengan
perubahan arteriola, perdarahan dan eksudasi maupun papiledema. Pada sebagian pasien yang
lain manifestasi kardiovaskular bisa saja muncul lebih dominan seperti; angina, akut
miokardial infark atau gagal jantung kiri akut. Dan beberapa pasien yang lain gagal ginjal
akut dengan oligouria dan atau hematuria bisa saja terjadi.

Tabel IV. Hipertensi Emergensi


2.6

Pendekatan Diagnosis8
Kemampuan dalam mendiagnosis hipertensi emergensi dan urgensi harus dapat

dilakukan dengan cepat dan tepat sehingga dapat mengurangi angka morbiditas dan
mortalitas pasien. Anamnesis tentang riwayat penyakit hipertensinya, obat-obatan anti
hipertensi yang rutin diminum, kepatuhan minum obat, riwayat konsumsi kokain,
amphetamine dan phencyclidine. Riwayat penyakit yang menyertai dan penyakit
8

kardiovaskular atau ginjal penting dievaluasi. Tanda-tanda defisit neurologic harus diperiksa
seperti sakit kepala,penurunan kesadaran, hemiparesis dan kejang.
Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan seperti hitung jenis, elektrolit, kreatinin
dan urinalisa. Foto thorax, EKG dan CT- scan kepala sangat penting diperiksa untuk pasienpasien dengan sesak nafas, nyeri dada atau perubahan status neurologis. Pada keadaan gagal
jantung kiri dan hipertrofi ventrikel kiri pemeriksaan ekokardiografi perlu dilakukan. Berikut
adalah bagan alur pendekatan diagnostik pada pasien hipertensi:

Hipertensi
Urgensi

Pasien dengan
hipertensi
YA
TD > 180/120 mmHg

Kerusakan
organ target

TIDAK

Bukan krisis
hipertensi

PREHIPERTENS
I
HIPERTENSI
GRADE I
HIPERTENSI
GRADE II

Hipertensi
emergensi

1. Neurologi

o
o
o
o

Tanda stroke iskemik/hemoragik


Penurunan kesadaran
Kelumpuhan anggota gerak
Bicara cadel
Mulut mencong
Flapping tremor

2. Jantung PARU
o
o
o
o

Perbedaan TD lengan Ka/ki > 20


mmHg
Auskultasi murmur/mitral
regurgitasi/gallop
Jvp meningkat
Ronki basah/sesak nafas

3. Ginjal
o
o
o

YA

TIDAK

Oliguria/anuria
Hematuria/proteinuria
Peningkatan serum kreatinin

4. Mata
o

Funduskopi KW III/IV

Hipertensi
urgensi

Tabel V. Alur Pendekatan Hipertensi Krisis

10

2.7

Penatalaksanaan7,8,10
Tujuan pengobatan pada keadaan darurat hipertensi ialah menurunkan tekanan darah

secepat dan seaman mungkin yang disesuaikan dengan keadaan klinis penderita. Pengobatan
biasanya diberikan secara parenteral dan memerlukan pemantauan yang ketat terhadap
penurunan tekanan darah untuk menghindari keadaan yang merugikan atau munculnya
masalah baru.8,10
Obat yang ideal untuk keadaan ini adalah obat yang mempunyai sifat bekerja cepat,
mempunyai jangka waktu kerja yang pendek, menurunkan tekanan darah dengan cara yang
dapat diperhitungkan sebelumnya, mempunyai efek yang tidak tergantung kepada sikap tubuh
dan efek samping minimal.10
Penurunan tekanan darah harus dilakukan dengan segera namun tidak terburu-buru.
Penurunan tekanan darah yang terburu-buru dapat menyebabkan iskemik pada otak dan
ginjal. diturunkan lagi ke 160/100 dalam 2 sampai 6 jam. Medikasi yang diberikan sebaiknya
per parenteral. Obat yang cukup sering digunakan adalah Nitroprusid IV dengan dosis
0,25ug/kg/menit. Bila tidak ada, pengobatan oral dapat diberikan sambil merujuk penderita
ke Rumah Sakit rujukan. Pengobatan oral yang dapat diberikan meliputi Nifedipinde 5-10
mg, Captorpil 12,5-25 mg, Clonidin 75-100 ug, Propanolol 10-40 mg. Penderita harus
dirawat inap.Tekanan darah harus dikurangi 25% MAP dalam waktu 1 jam sampai 3 jam
(10% selama 1 jam awal dan 15% pada 2-3 jam berikutnya).7
Tabel VI: Algoritma untuk Evaluasi Krisis Hipertensi
Parameter

Hipertensi Mendesak

Hipertensi Darurat

Tekanan

Biasa
> 180/110

> 220/140

Mendesak
> 180/110

darah
(mmHg)
Gejala

Sakit

kepala, Sakit kepala hebat, Sesak napas, nyeri dada,

kecemasan; sering
kali tanpa gejala

sesak napas

nokturia,

dysarthria,

kelemahan,

kesadaran

menurun

11

Pemeriksaan

Tidak

ada Kerusakan

kerusakan

organ Ensefalopati,

organ target; muncul klinis insufisiensi ginjal, iskemia

target, tidak ada penyakit


penyakit

jantung

kardiovaskuler, stabil

kardiovaskular
Awasi 1-3 jam; Awasi 3-6 jam; obat Pasang

Terapi

Rencana

edemaparu,

jalur

IV, periksa

memulai/teruskan

oral berjangka kerja laboratorium standar, terapi

obat oral, naikkan

pendek

dosis
Periksa

obat IV

ulang Periksa ulang dalam Rawat ruangan/ICU

dalam 3 hari

24 jam

Adapun obat hipertensi oral yang dapat dipakai untuk hipertensi mendesak (urgency)
dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel VII: Obat hipertensi oral
Obat
Captopril

Dosis
Efek / Lama Kerja
Perhatian khusus
12,5 - 25 mg PO; 15-30
min/6-8 Hipotensi, gagal ginjal,
ulangiper 30 min ; SL, jam ;

SL 10- stenosis arteri renalis

Clonidine

25 mg
PO 75

Propanolo

ulangiper jam
10 - 40 mg

ulangisetiap30 min

jantung,

hipotensi

Nifedipine

5 - 10 mg PO; ulangi 5 -15 min/4-6 jam

ortostatik
Takikardi,

hipotensi,

150

20 min/2-6 jam
ug, 30-60 min/8-16 jam
PO; 15-30 min/3-6 jam

setiap 15 menit
SL, Sublingual. PO, Peroral

Hipotensi,

mengantuk,

mulutkering
Bronkokonstriksi,

blok

gangguan koroner

Sedangkan untuk hipertensi darurat (emergency) lebih dianjurkan untuk pemakaian


parenteral, daftar obat hipertensi parenteral yang dapat dipakai dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel VIII: Obat hipertensi parenteral


Obat

Dosis

Efek / Lama Perhatian khusus


12

Kerja
Parenteral vasodilator
Sodium
0,25-10 mg / kg / menit langsung/2-3
nitroprusside

sebagai infus IV

Mual,

muntah,

menit setelah jangka


infus

penggunaan

panjang

menyebabkan

dapat
keracunan

tiosianat, methemoglobinemia,
asidosis, keracunan sianida.
Nitrogliserin

500-100

mg

infus IV

Selang infus lapis perak


sebagai 2-5 min /5-10 Sakit
kepala,
takikardia,
min

muntah, , methemoglobinemia;
membutuhkan

sistem

pengiriman khusus karena obat


Nicardipine

infus IV
Klonidin

mengikat pipa PVC


min/15- Takikardi, mual, muntah, sakit

5-15 mg / jam sebagai 1-5

30 min

150 ug, 6 amp per 250 30-60


cc

Glukosa

kepala, peningkatan tekanan


intrakranial; hipotensi
min/ Ensepalopati dengan gangguan

5% 24 jam

koroner

mikrodrip
5-15 ug/kg/menit sebagi 1-5 min/ 15- Takikardi,
infus IV

Fenoldopam

tekanan intrakranial; hipotensi


0.1-0.3 mg/kg/mnt iv < 5 menit/30 Sakit
kepala,
takikardi,

Verapamil

infusion
menit
flushing, phlebitis lokal
5-10 mg iv; infus 3-25 3-5 menit/30- Heart block (derajat 1,2,3)
60 menit

sakitkepala,

muntah,

Diltiazem

mg/jam

30 min

mual,

terutama
dengan

Hydralazine

10-20 mg iv bolus / 10- 10

terkontaminasi
digitalis/

bradikardi
menit/>1 Takikardi,

40 mg im; diulang tiap jam (iv), 20- muntah,


Enlaprilat

peningkatan

sakit
agravitasi

4-6 jam
30 menit im
pectoris
0.625-1.25 mg tiap jam 15-60 menit/ Gagal ginjal
iv

12-24 jam

stenosis

B-bloker;

pada

bilateral

kepala,
angina
pasien
arteri,

hipotensi
Parenteral adrenergic inhibitor
Labetalol
10-80 mg iv bolus 5-10 mnt/2-6 Bronkokonstriksi, heart blok,
setiap 10 menit; sampai jam

hipotensi ortostatik
13

Esmolol

2 mg/mnt iv infus
500
mg/kg
bolus 1-5
inijeksi

iv/

menit/ Av blok derajat 1. Gagal

25-100 15-30 menit

jantung kongestif, Asma

mg/kg/mnt infusion bisa


diulang bolus setelah 5
menit atau peningkatan
kecepatan infus sampai
Phentolamine

300 mg/kg/mnt
5-15 mg iv bolus

1-2

mnt/10- Takikardi, hipotensi ortostatik

30 mnt
Pada hipertensi darurat (emergency) dengan komplikasi seperti hipertensi emergensi
dengan penyakit payah jantung, maka memerlukan pemilihan obat yang tepat sehingga tidak
memperparah keadaannya. Pemilihan obat untuk hipertensi dengan komplikasi dapat dilihat
pada tabel 9.
Tabel IX: Obat yang dipilih untuk Hipertensi darurat dengan komplikasi 2,5
Komplikasi
Diseksi aorta

ObatPilihan
Nitroprusside + esmolol

Target TekananDarah
SBP
110-120
sesegera

mungkin
nitroprusside, Sekunder

AMI, iskemia

Nitrogliserin,

Edema paru

nicardipine
Nitroprusside,

iskemia
nitrogliserin, 10% -15% dalam 1-2 jam

Gangguan Ginjal

labetalol
Fenoldopam,

nitroprusside, 20% -25% dalam 2-3 jam

Kelebihan katekolamin
Hipertensi ensefalopati
Subarachnoid

labetalol
Phentolamine, labetalol
10% -15% dalam 1-2 jam
Nitroprusside
20% -25% dalam 2-3 jam
Nitroprusside,
nimodipine, 20% -25% dalam 2-3 jam

hemorrhage
nicardipine
Stroke Iskemik
Nicardipine
AMI, infark miokard akut; SBP, tekanan sistolik darah.
2.8

untuk

bantuan

0% -20% dalam 6-12 jam

Pemakaian obat-obat untuk krisis hipertensi


Obat anti hipertensi oral atau parenteral yang digunakan pada krisis hipertensi

tergantung dari apakah pasien dengan hipertensi emergensi atau urgensi. Jika hipertensi

14

emergensi dan disertai dengan kerusakan organ sasaran maka penderita dirawat diruangan
intensive care unit, ( ICU ) dan diberi salah satu dari obat anti hipertensi intravena ( IV ).6,7
1.

Sodium Nitroprusside : merupakan vasodilator direkuat baik arterial maupun venous. Secara
i. V mempunyai onsep of action yang cepat yaitu : 1 2 dosis 1 6 ug / kg / menit. Efek
samping : mual, muntah, keringat, foto sensitif, hipotensi.

2.

Nitroglycerini : merupakan vasodilator vena pada dosis rendah tetapi bila dengan dosis tinggi
sebagai vasodilator arteri dan vena. Onset of action 2 5 menit, duration of action 3 5
menit. Dosis : 5 100 ug / menit, secara infus i. V. Efek samping : sakit kepala, mual,
muntah, hipotensi.

3.

Diazolxide : merupakan vasodilator arteri direk yang kuat diberikan secara i. V bolus. Onset
of action 1 2 menit, efek puncak pada 3 5 menit, duration of action 4 12 jam. Dosis
permulaan : 50 mg bolus, dapat diulang dengan 25 75 mg setiap 5 menit sampai TD yang
diinginkan. Efek samping : hipotensi dan shock, mual, muntah, distensi abdomen,
hiperuricemia, aritmia, dll.

4.

Hydralazine : merupakan vasodilator direk arteri. Onset of action : oral 0,5 1 jam, i.v : 10
20 menit duration of action : 6 12 jam. Dosis : 10 20 mg i.v bolus : 10 40 mg i.m
Pemberiannya bersama dengan alpha agonist central ataupun Beta Blocker untuk
mengurangi refleks takhikardi dan diuretik untuk mengurangi volume intravaskular.
Efeksamping : refleks takhikardi, meningkatkan stroke volume dan cardiac out put,
eksaserbasi angina, MCI akut dll.

5.

Enalapriat : merupakan vasodelator golongan ACE inhibitor. Onsep on action 15 60 menit.


Dosis 0,625 1,25 mg tiap 6 jam i.v.

6.

Phentolamine ( regitine ) : termasuk golongan alpha andrenergic blockers. Terutama untuk


mengatasi kelainan akibat kelebihan ketekholamin. Dosis 5 20 mg secar i.v bolus atau i.m.
Onset of action 11 2 menit, duration of action 3 10 menit.

7.

Trimethaphan camsylate : termasuk ganglion blocking agent dan menginhibisi sistem


simpatis dan parasimpatis. Dosis : 1 4 mg / menit secara infus i.v. Onset of action : 1 5
menit. Duration of action : 10 menit. Efek samping : opstipasi, ileus, retensia urine,
respiratori arrest, glaukoma, hipotensi, mulut kering.

8.

Labetalol : termasuk golongan beta dan alpha blocking agent. Dosis : 20 80 mg secara i.v.
bolus setiap 10 menit ; 2 mg / menit secara infus i.v. Onset of action 5 10 menit Efek
samping : hipotensi orthostatik, somnolen, hoyong, sakit kepala, bradikardi, dll. Juga tersedia

15

dalam bentuk oral dengan onset of action 2 jam, duration of action 10 jam dan efek samping
hipotensi, respons unpredictable dan komplikasi lebih sering dijumpai.
9.

Methyldopa : termasuk golongan alpha agonist sentral dan menekan sistem syaraf simpatis.
Dosis : 250 500 mg secara infus i.v / 6 jam. Onset of action : 30 60 menit, duration of
action kira-kira 12 jam. Efek samping : Coombs test ( + ) demam, gangguan gastrointestino,
with drawal sindrome dll. Karena onset of actionnya bisa takterduga dan kasiatnya tidak
konsisten, obat ini kurang disukai untuk terapi awal.

10.

Clonidine : termasuk golongan alpha agonist sentral. Dosis : 0,15 mg i.v pelan-pelan dalam
10 cc dekstrose 5% atau i.m.150 ug dalam 100 cc dekstrose dengan titrasi dosis. Onset of
action 5 10 menit dan mencapai maksimal setelah 1 jam atau beberapa jam. Efek samping :
rasa ngantuk, sedasi, hoyong, mulut kering, rasa sakit pada parotis. Bila dihentikan secara
tiba-tiba dapat menimbulkan sindroma putus obat.

BAB III
PENUTUP
Hipertensi emergensi didefinisikan sebagai hipertensi krisis yang masuk dalam
karakteristik peningkatan tekanan darah >180/120 mmHg yang disertai disfungsi target
organ. Dariu definsi diatas didapatkan bahwa membedakan kedua golongan krisis HT ini
bukanlah dari tingginya TD, tapi dari kerusakan organ sasaran. Kenaikan TD yang sangat
pada seorang penderita dipikirkan suatu keadaan emergensi bila terjadi kerusakan secara
cepat dan progresif dari sistem syaraf sentral, miokardinal, dan ginjal. HT emergensi dan
16

urgensi perlu dibedakan karena cara penaggulangan keduanya berbeda. Gambaran kilnis
krisis HT berupa TD yang sangat tinggi (umumnya TD diastolik > 120 mmHg) dan menetap
pada nilai-nilai yang tinggi dan terjadi dalam waktu yang singkat dan menimbulkan keadaan
klinis yang gawat.
Tujuan pengobatan pada keadaan darurat hipertensi ialah menurunkan tekanan darah
secepat dan seaman mungkin yang disesuaikan dengan keadaan klinis penderita. Penurunan
tekanan darah harus dilakukan dengan segera namun tidak terburu-buru. Penurunan tekanan
darah yang terburu-buru dapat menyebabkan iskemik pada otak dan ginjal. diturunkan lagi ke
160/100 dalam 2 sampai 6 jam. Medikasi yang diberikan sebaiknya per parenteral. Obat yang
cukup sering digunakan adalah Nitroprusid IV dengan dosis 0,25ug/kg/menit. Bila tidak ada,
pengobatan oral dapat diberikan sambil merujuk penderita ke Rumah Sakit rujukan.
Pengobatan oral yang dapat diberikan meliputi Nifedipinde 5-10 mg, Captorpil 12,5-25 mg,
Clonidin 75-100 ug, Propanolol 10-40 mg. Penderita harus dirawat inap.Tekanan darah harus
dikurangi 25% MAP dalam waktu 1 jam sampai 2 jam.

Daftar Pustaka

1. James PA, et.al. 2014 Evidence-Based Guideline for The Management of High Blood
Pressure in Adults: Report from the Panel Members Appointed to the Eighth Joint
National Committee (JNC 8). 2014 Guideline for Management of High Blood
Pressure. JAMA. 2014;311(5):507-520.
2. Flanigan JS, Vitberg D. Hypertensive emergency and severe hypertension: what to
treat, who to treat and how to treat. Med Clin N Am 2006;90:439-51.)(chobanian AV,
17

Bakris GL, Black HR, et.al. Seventh report of Joint National Committe of High Blood
Pressure. Hypertension 2003. Dec; 42(6): 1206-52
3. Hebert CJ. Vidt DG. Hypertensive crises. Prim Care Clin Office Pract 2008:35:47587.
4. Varon J, et.al. Treatment of Acute Severe Hypertension Current and Newer Agents.
The University of Texas Health Science Center at Houston, Houston, Texas, USA.
Drugs 2008; 68 (3)
5. Marik PE, Varon J. Hypertensive crisis: challenges and management. Chest
2007;131:1949-62.
6. Pollack CV and Rees CJ. Hypertensive emergencies: acute care evauation and
management. Emergency medicine cardiac research and education group. 2008:3:112.
7. Devicaesaria A. Hipertensi Krisis. Departemen Neurologi. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo. Medicinus: vol. 27, No.3,
Desember 2014.
8. Vaidya CK, Ouellette JR. Hypertensive Urgency and Emergency. 2007. Pp. 43-50
9. Hopkins C. Hypertensive Emergencies in Emergency Medicine. 2011.
10. Thomas L. Managing Hypertensive Emergency in the ED. Can FamPhysician.
2011.57:1137-41.

18