Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehadiran anak bagi orang tua merupakan suatu tantangan sehubungan
dengan masalah dependensi/ketergantungan, disiplin, meningkatkan mobilitas dan
keamanan bagi anak. Orang tua sering keliru dalam memperlakukan anak karena
ketidaktahuan mereka akan cara membimbing dan mengasuh yang benar. Apabila
hal ini terus berlanjut, maka pertumbuhan anak dapat terhambat.
Saat ini terjadi pergeseran peran orang tua, misalnya kedua orang tua lebih
banyak beraktifitas di luar rumah dan tingginya mobilitas di masyarakat. Untuk
itu diperlukan keseimbangan bagi model peran tradisional dalam pendidikan anak.
Orang tua pada masa sekarang memerlukan tenaga professional untuk
memberikan bimbingan guna merawat dan memelihara anak.
Sebagai bagian dari tenaga professional perawatan kesehatan, perawat
mempunyai peran yang cukup penting dalam membantu memberikan bimbingan
dan pengarahan pada orang tua, sehingga setiap fase dari kehidupan anak yang
kemungkinan mengalami trauma. Bimbingan ini dapat berupa suatu bentuk
antisipasi orang tua dalam mencegah terjadinya kecelakaan pada anak, makanan
dan minuman yang berguna dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak serta
pemenuhan kebutuhan istirahat tidur anak. Bentuk antisipasi ini secara
keseluruhan berguna dan sangat penting dalam menyeimbangkan kebutuhan anak
dan untuk menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian bimbingan antisipasi?
2. Bagaimanakah tahapan usia anticipatory guidance?
3. Apakah pengertian pencegahan kecelakaan pada anak?
4. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan?
5. Bagaimanakah pencegahan terhadap kecelakaan?
6. Bagaimanakah pendidikan kesehatan untuk orang tua?
7. Bagaimanakah bimbingan nutrisi pada anak?
8. Bagaimanakah bimbingan istirahat tidur pada anak?
1.3 Tujuan
1. Memahami pengertian bimbingan antisipasi
2. Mengetahui tahapan usia anticipatory guidance

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mengetahui pengertian pencegahan kecelakaan pada anak


Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan
Mengetahui pencegahan terhadap kecelakaan
Mengetahui pendidikan kesehatan untuk orang tua
Mengetahui bimbingan nutrisi pada anak
Mengetahui bimbingan istirahat tidur pada anak

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bimbingan Antisipasi
Bimbingan Antisipasi (Anticipatory Guidance) adalah bantuan perawat
terhadap orang tua dalam mempertahankan dan meningkatkan kesehatan melalui
upaya orang tua dalam mempertahankan dan meningkatkan kesehatan melalui

upaya pertahanan nutrisi yang adekuat, pencegahan kecelakaan dan supervise


kesehatan (Maslow, 1988).
Anticipatory Guidance merupakan petunjuk-petunjuk yang perlu diketahui
terlebih dahulu agar orang tua dapat mengarahkan dan membimbing anaknya
secara bijaksana, sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.
Pemberian bimbingan kepada orang tua untuk mengantisipasi hal-hal yang terjadi
pada setiap tingkat pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan pertumbuhan
dan perkembangan anak. Memberitahukan/upaya bimbingan kepada orang tua
tentang tahapan perkembangan sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan
dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan usia anak.
Anticipatory Guidance adalah pedoman/petunjuk untuk mengantisipasi
sebelum masalah kesehatan/tumbuh kembang terjadi. Anticipatory Guidance
merupakan kunci penting untuk mencapai tujuan perawatan pediatrik primer yang
menyangkut promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Anticipatory Guidance
merupakan tantangan karena rentang dan kompleksitas dari masalah, perbedaan
individual di antara anak normal dan keluarganya. Waktu yang terbatas pada saat
supervisi kesehatan.
2.2 Tahapan Usia Anticipatory Guidance
1. Anticipatory Guidance Pada Masa Bayi (0-12 Bulan)
a. Usia 6 (enam) bulan pertama
1) Memahami adanya proses penyesuaian antara orang tua dengan
bayinya, terutama pada ibu yang membutuhkan bimbingan/asuhan pada
masa setelah melahirkan.
2) Membantu orang tua untuk memahami bayinya sebagai individu yang
mempunyai kebutuhan dan untuk memahami bagaimana bayi
mengekspresikan apa yang diinginkan melalui tangisan.
3) Menentramkan orang tua bahwa bayinya tidak akan menjadi manja
dengan adanya perhatian yang penuh selama 4-6 bulan pertama.
4) Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal kebutuhan bayi dan
orang tuanya.
5) Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap
stimulasi lingkungan.

6) Menyokong kesenangan orang tua dalam melihat petumbuhan dan


perkembangan bayinya, yaitu dengan bersahabat dan mengamati
respon social anak misalnya dengan tertawa/tersenyum.
7) Menyiapkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dan
kesehatan bagi bayi misalnya imunisasi.
8) Menyiapkan orang tua untuk mengenalkan dan memberikan makanan
padat.
b. Usia 6 (enam) bulan kedua
1) Menyiapkan orang tua akan danya ketakutan bayi terhadap orang yang
belum dikenal (stranger anxiety).
2) Menganjurkan orang tua untuk mengizinkan anaknya dekat dengan
ayah dan ibunya serta menghindarkan perpisahan yang terlalu lama
dengan anak tersebut.
3) Membimbing orang tua untuk mengetahui disiplin sehubungan dengan
semakin meningkatnya mobilitas (pergerakan si bayi).
4) Menganjurkan untuk mengguanakan suara yang negative dan kontak
mata daripada hukuman badan sebagai suatu disiplin. Apabila tidak
berhasil, gunakan 1 pukulan pada kaki atau tangannya.
5) Menganjurkan orang tua untuk memberikan lebih banyak perhatian
ketika bayinya berkelakuan baik dari pada ketika ia menangis.
6) Mengajrkan mengenai pencegahan kecelakaan karena ketrampilan
motorik dan rasa ingin tahu bayi meningkat.
7) Menganjurkan orang tua untuk meninggalkan bayinya beberapa saat
dengan pengganti ibu yang menyusui.
8) Mendiskusikan mengenai kesiapan untuk penyapihan.
9) Menggali perasaan ornag tua sehubungan dengan pola tidur bayinya.
2. Anticipatory Guidance Pada Masa Toddler (1-3 Tahun)
a. Usia 12-18 bulan
1) Menyiapkan orang tua untuk antisipasi adanya perubahan tingkah laku
dari toodler terutama negativism.
2) Mengkaji kebiasaan makan dan secara bertahap penyapihan dari botol
serta peningkatan asupan makanan padat.
3) Menyediakan makanan selingan antara 2 waktu makan dengan rasa
yang disukai.
4) Mengkaji pola tidur malam, kebiasaan memakai botol yang merupakan
penyebab utama gigi berlubang.
5) Mencegah bahaya yang dapat terjadi di rumah.
4

6) Perlu ketentuan-ketentuan/disiplin dengan lembut untuk meminimalkan


negativism, tempertantrum serta penekanan akan kebutuhan yang
positif dan disiplin yang sesuai.
7) Perlunya mainan yang dapat

meningkatkan

berbagai

aspek

perkembangan anak.
b. Usia 18-24 bulan
1) Menekankan pentingnya persahabatan dalam bermain.
2) Menggali kebutuhan untuk menyiapkan kehadiran adik baru.
3) Menekankan kebutuhan akan pengawasan terhadap kesehatan gigi dan
4)
5)
6)
7)

kebiasaan-kebiasaan pencetus gigi berlubang.


Mendiskusikan metode disiplin yang ada.
Mendiskusikan kesiapan psikis dan fisik anak untuk toilet training.
Mendiskusikan berkembangnya rasa takut anak.
Menyiapkan orang tua akan adanya tanda regresi pada waktu

mengalami stress.
8) Mengkaji kemampuan anak untuk berpisah dengan orang tua.
9) Memberi kesempatan orang tua untuk mengekspresikan kelelahan,
frustasi dan kejengkelan dalam merawat anak usia toodler.
c. Usia 24-36 bulan
1) Mendiskusikan pentingnya meniru dan kebutuhan anak untuk dilibatkan
dalam kegiatan.
2) Mendiskusikan pendekatan yang dilakuakan dalm toilet training.
3) Menekankan keunikan dari proses berfikir toodler terutama untuk
bahasa yang diungkapkan.
4) Menekankan disiplin harus tetap terstruktur dengan benar dan nyata,
hindari kebingungan dan salah pengertian.
5) Mendiskusikan adanya taman kanak-kanak atau play group.
3. Anticipatory Guidance Pada Masa Preschool (3-5 Tahun)
Pada masa ini petunjuk bimbingan tetap diperlukan walaupun
kesulitannya jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Sebelumnya,
pencegahan kecelakaan dipusatkan pada pengamatan lingkungan terdekat,
dan kurang menekankan pada alas an-alasannya. Sekarang proteksi pagar,
penutup stop kontak disertai dengan penjelasan secara verbal dengan alas an
yang tepat dan dapat dimengerti.
Masuk sekolah adalah bentuk perpisahan dari rumah baik bagi orang tua
maupun anak. Oleh karena itu, orang tua memerlukan bantuan dalam

melakukan penyesuaian terhadap perubahan ini, terutama bagi Ibu yang


tinggal di rumah/tidak bekerja. Ketika anak mulai masuk taman kanak-kanak,
maka ibu mulai memerlukan kegiatan-kegiatan di luar keluarga, seperti
keterlibatannya dalam masyarakat atau mengembangkan karier. Bimbingan
terhadap orang tua pada masa ini dapat dilakukan pada anak umur 3, 4, 5
tahun.
a. Usia 3 tahun
1) Menganjurkan orang tua untuk meningkatkan minat anak dalam
hubungan yang luas.
2) Menekankan pentingnya batas-batas / peraturan-peraturan.
3) Mengantisipasi perubahan perilaku agresif.
4) Menganjurkan orang tua menawarkan anaknya alternative-alternatif
pilihan pada saat anak bimbang.
5) Perlunya perhatian ekstra
b. Usia 4 tahun
1) Menyiapkan orang tua terhadap perilaku anak yang agresif, termasuk
aktifitas motorik dan bahasa yang mengejutkan.
2) Menyiapkan orang tua menghadapi perlawanan anak terhadap
kekuasaan orang tua.
3) Kaji perasaan orang tua sehubungan dengan tingkah laku anak.
4) Menganjurkan beberapa macam istirahat dari pengasuh utama, seperti
menempatkan anak pad ataman kanak-kanak selama setengah hari.
5) Menyiapkan orang tua untuk menghadapi meningkatnya rasa ingin tahu
seksual pada anak.
6) Menekankan pentingnya batas-batas yang realistic dari tingkah laku.
7) Mendiskusikan disiplin.
8) Menyiapkan orang tua untuk meningkatkan imajinasi di usia 4 tahun,
dimana anak mengikuti kata hatinya dalam ketinggian bicaranya
(bedakan dengan kebohongan) dan kemahiran anak dalam permainan
yang membutuhkan imajinasi.
9) Menyarankan pelajaran berenang.
10) Menjelaskan perasaan-perasaan Oedipus dan reaksi-reaksinya. Anak
laki-laki biasanya lebih dekat dengan ibunya dan anak perempuan
dengan ayahnya. Oleh karena itu, anak perlu dibiasakan tidur terpisah
dengan orang tuanya.
11) Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi mimpi buruk anak dan
menganjurkan mereka agar tidak lupa untuk membangunkan anak dari
mimpi yang menakutkan.
6

c. Usia 5 tahun
1) Memberikan pengertian bahwa usia 5 tahun merupakan periode yang
relative lebih tenang dibandingkan masa sebelumnya.
2) Menyiapkan dan membantu anak memasuki lingkungan sekolah.
3) Mengingatkan imunisasi yang lengkap sebelum masuk sekolah.
4) Meyakinkan bahwa usia tersebut adalah periode tenang pada anak.
4. Anticipatory Guidance Pada Masa Usia Sekolah (6-12 Tahun)
a. Usia 6 tahun
1) Bantu orang tua memahami kebutuhan mendorong anak berinteraksi
dengan teman.
2) Ajarkan pencegahan kecelakaan dan keamanan terutama naik sepeda.
3) Siapkan orang tua akan peningkatan interst anak ke luar rumah.
4) Dorong orang tua untuk respek terhadap kebutuhan anak akan privacy
dan menyiapkan kamar tidur yang berbeda.
b. Usia 7-10 tahun
1) Menakankan untuk mendorong kebutuhan akan kemandirian.
2) Tertarik beraktifitas diluar rumah.
3) Siapkan orang tua untuk perubahan pada wanita pubertas.
c. Usia 11-12 tahun
1) Bantu orang tua untuk menyiapkan anak tentang perubahan tubuh
pubertas.
2) Anak wanita pertumbuhan cepat.
3) Sex education yang adekuat dan informasi yang adekuat.
2.3 Pencegahan Terhadap Kecelakaan Pada Anak
Kecelakaan merupakan kejadian yang dapat menyebabkan kematian pada
anak. Kepribadian adalah factor pendukung terjadinya kecelakaan. Orang tua
bertanggungjawab terhadap kebutuhan anak, menyadari karakteristik perilaku
yang menimbulkan kecelakaan waspada terhadap factor-faktor lingkungan yang
mengancam keamanan anak.
2.4 Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kecelakaan :
1) Jenis kelamin, biasanya lebih banyak pada laki-laki karena lebih aktif di
rumah.
2) Usia, pada kemampuan fisik dan kognitif, semakin besar akan semakin tahu
mana yang bahaya.
3) Lingkungan, adanya penjaga atau pengasuh.

2.5 Pencegahan Terhadap Kecelakaan


A. Masa Bayi
1) Usia : Lahir - 4 bulan
Jenis kecelakaan dan Pencegahan cedera
a. Aspirasi : Jangan menaburkan bedak langsung pada bayi
b. Jatuh:
1. Pasang selalu pagar keranjang bayi
2. Jangan pernah meninggalkan bayi pada permukaan yang tinggi tanpa
pelindung
3. Bila ragu tentang dimana anda akan menempatkan bayi,gunakan lantai
4. Pengaman (restraint) anak dalam kursi bayi dan jangan pernah
meninggalkannya tanpa pengawasan ketika ia dapat duduk dengan
baik dengan ditopang.
c. Keracunan: simpan bahan toxic dilemari.
d. Luka bakar:
1. Cek air mandi sebelum dipakai
2. Jangan menuangkan air panas bila berada di dekat bayi
3. Perhatikan abu rokok yang dapat menjatuhi bayi
e. Cedera tubuh:
1. Hindari objek tajam dan bergerigi
2. Jaga agar peniti popok tetap tertutup dan jauh dari bayi
2) Usia : 4 - 7 bulan
Jenis kecelakaan dan pencegahan cedera
a. Aspirasi:
1. Simpan kancing,biji-bjian,penutup jarum dan objek kecil lainnya di
luar jangkauan bayi
2. Pertahankan lantai bebas dari objek kecil
3. Jangan memberi makan bayi ketika bayi berbaring
4. Periksa mainan anak akan adanya bagian-bagian yang dapat dilepas
5. Simpan bedak di luar jangkauan
b. Jatuh:
1. Lakukan restrein jika duduk di kursi yang tinggi
2. Pertahankan pagar keranjang tempat tidur pada ketinggian penuh
c. Keracunan:
1. Pastikan bahwa cat untuk perabot atau mainan tidak mengandung
tembaga
2. Tempatkan zat-zat beracun di rak yang tinggi atau di lemari yang
terkunci
d. Luka bakar:
1. Tempatkan objek-objek panas (rokok,lilin,dupa) di permukaan tinggi
dan atau jauh dari jangkauan bayi
2. Batasi terpapar sinar matahari
8

e. Cedera Tubuh:
1. Hindari objek lancip sebagai mainan
2. Hindari mainan yang berbunyi keras
3. Simpan objek tajam di luar jangkauan bayi
3) Usia : 8 - 12 bulan
Jenis kecelakaan dan Pencegahan cedera
a. Aspirasi
1. Jaga agar benda-benda kecil tidak berada di lantai dan perabot jauh dari
jangkauan anak-anak
2. Perhatikan dalam memberikan table food yang padat untuk memastikan
bahwa yang diberikan adalah potongan-potongan yang sangat kecil
b. Sufokasi/Tenggelam
1. Pagari kolam renang
2. Awasi anak bila berada di dekat sumber air
3. Jaga agar pintu kamar mandi selalu tertutup
4. Kosongkan kolam-kolam yang tidak diperlukan
5. Pegang selalu satu tangan anak saat berafda di kamar mandi / awasi saat
anak mandi.
c. Jatuh
1. Pagari tangga di bagian atas dan bawah jika anak dapat menjangkau
bagian tersebut
2. Pakaikan bayi dengan sepatu dan pakaian yang aman (sol yang tidak
lengket di lantai, tali sepatu terikat, celana panjang yang tidak
menyentuh lantai )
3. Pastikan bahwa perabot cukup berat untuk anak untuk didorong sendiri
pada posisi berdiri dan meluncur.
d. Keracunan
1. Jangan sembarang memberikan obat-obatan kecuali jika diresepkan
oleh dokter
2. Simpan obat-obatan dan zat beracun pada tempat yang aman
e. Luka bakar
1. Tempatkan pelindung di depan dan mengintari alat panas, tempat api,
atau tungku pemanas
2. Simpan kawat listrik secara tersembunyi atau di luar jangkauan anak.
B. Masa Toddler
Jenis kecelakaan:
1. Jatuh/luka akibat mengendarai sepeda.
2. Tenggelam.
3. Keracunan atau terbakar.
4. Tertabrak karena lari mengejar bola/balon.
5. Aspirasi dan asfiksia.
9

Pencegahan:
1. Awasi jika dekat sumber air.
2. Ajarkan berenang.
3. Simpan korek api, hati-hati terhadap kompor masak dan strika.
4. Tempatkan bahan kimia/toxic di lemari.
5. Jangan biarkan anak main tanpa pengawasan.
6. Cek air mandi sebelum dipakai.
7. Tempatkan barang-barang berbahaya ditempat yang aman.
8. Jangan biarkan kabel listrik menggantung & mudah ditarik.
9. Hindari makan ikan yang ada tulang dan makan permen yang keras.
10. Awasi pada saat memanjat, lari, lompat karena sense of balance.
C. Pra Sekolah
Kecelakaan terjadi karena anak kurang menyadari potensial bahaya :
obyek panas, benda tajam, akibat naik sepeda misalnya main di jalan, lari
mengambil bola/layangan, menyeberang jalan.
Pencegahan ada 2 cara:
1. Mengontrol lingkungan.
a. Jauhkan korek api dari jangkauan.
b. Mengamankan tempat-tempat yang

secara

potensial

dapat

membahayakan anak.
2. Mendidik anak terhadap keamanan dan potensial bahaya.
a. Cara menyeberang jalan.
b. Arti rambu-rambu lalulintas.
c. Cara mengendarai sepeda yang aman dan peran orang tua perlu belajar
mengontrol lingkungan.
D. Usia Sekolah
a. Anak sudah berpikir sebelum bertindak.
b. Aktif dalam kegiatan : mengendarai sepeda, mendaki gunung, berenang.
Pencegahan:
1. Aturan lalu-lintas bagi pengendara sepeda.
2. Aturan yang aman dalam berenang
3. Mengawasi pada saat anak menggunakan alat berbahaya : gergaji, alat
listrik.
4. Mengajarkan agar tidak menggunakan alat yang bisa meledak/terbakar.
5. Ajari anak tentang bahaya menggunakan obta-obatan dan bahan kimia
yang tidak diresepkan.
6. Anjurkan untuk bermain di tempat yang aman.
7. Ajarkan anak agar tidak mengusik atau mengganggu anjing.
E. Remaja
1. Penggunaan kendaraan bermotor bila jatuh dapat : fraktur, luka pada
kepala
10

2. Kecelakaan karena olah raga.


Pencegahan:
1. Perlu petunjuk dalam penggunaan kendaraan bermotor sebelumnya ada
2.
3.
4.
5.

negosiasi antara orang tua dengan remaja


Menggunakan alat pengaman yang sesuai
Melakukan latihan fisik yang sesuai sebelum melakukan olah raga.
Berenang dengan teman
Tekankan prilaku yang tepat di area dengan bahaya terbakar (bensin,

6.
7.
8.
9.

kawat listrik, api)


Hindari hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan (merokok,dll)
Ajarkan bahaya penggunaan obat, termasuk alkohol
Ajarkan tindakan keamanan umum di semua aktivitas
Waspada terhadap tanda depresi (potensial bunuh diri)

2.6 Pendidikan Kesehatan Untuk Orang Tua


Upaya pencegahan kecelakaan pada anak orang tua harus diberikan
bimbingan dan antisipasi pendidikan kesehatan.
Prinsip pendidikan kesehatan:
1. Diberikan berdasarkan kebutuhan spesifik klien.
2. Pendidikan kesehatan yang diberikan harus bersifat menyeluruh
3. Hanya terjadi interaksi timbal balik antara perawat dan orang tua
dan bukan hanya perawat sepihak yang aktif memberikan materi
pendidikan kesehatan
4. Pendidikan kesehatan diberikan dengan mempertimbangkan usia
klien yang menerimanya.
5. Proses pendidikan kesdehatan harus memperhatikan prinsip belajar
dan mengajar.
6. Perubahan perilaku pada orang tua menjadi tujuan utama
pendidikan kesehatan yang diberikan.
2.7 Bimbingan Nutrisi
Nutrien adalah zat yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh dan
berkembang. Setiap anak mempunyai kebutuhan nutrient yang berbeda dan
anak mempunyai karakteristik yang khas dalam mengonsumsi makanan atau
zat gizi tersebut.
2.7.1 Dampak Nutrisi Terhadap Tumbuh Kembang Anak
Pemberian nutrisi pada anak tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan
fisik atau fisiologis anak, tetapi juga berdampak pada aspek
psikodinamik, perkembangan psikososial, dan maturasi organik.
a. Dampak Psikologis
11

Dampak psikologis nutrisi mencakup:


1) Aspek Psikodinamik (Freud)
Pada anak usia bayi, pemenuhan kebutuhan yang utama adalah
kebutuhan dasar melalui oral. Kebutuhan makan dan minum
anak dipenuhi oleh ibu, baik berupa air susu ibu maupun
makanan lumat.
2) Aspek Psikososial (Erikson)
Fase awal dari pertumbuhan dan perkembangan anak menurut
pendekatan psikososial adalah tercapainya rasa percaya dan
tidak percaya sebagai kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan
tersebut. Makanan dapat merupakn stimulus yang dapat
meringankan rasa lapar anak, dan pemuasan yang konsisten
terhadap rasa lapar dapat mempengaruhi kepercayaan anak
pada lingkungannya, terutama keluarga.
3) Maturasi Organik (Piaget)
Perkembangan organic yang dialami anak melalui makanan
adalah pengalaman mendapatkan beberapa sensoris, seperti
rasa atau pengecapan, penciuman, pergerakan, dan perabaan.
Melalui makanan anak dapat meningkatkan ketrampilan,
seperti memegang botol susu, memegang cangkir, sendok, dan
keterampilan

koordinasi

gerak

seperti,

menyuap

dan

menyendok makanan.
b. Dampak Fisiologis
Dampak nutrisi pada anak yang terlihat jelas adalah terhadap
pertumbuhan fisik anak. Selama masa intrauterine, asupan nutrisi
yang adekuat pada ibu berdampak tidak hanya pada kesehatan ibu,
tetapi lebih pada pertumbuhan janin. Asupan yang adekuat akan
berdampak pada saat janin siap dilahirkan janin akan lahir dengan
berat badan, panjang badan,dan pertumbuhan organ fisik lainnya
2.7.2

yang normal.
Kebutuhan Nutrisi pada Bayi dan Anak
Jenis nutrient yang dibutuhkan tubuh adalah air, protein, lemak,
karbohidrat, vitamin, dan mineral.
1. Makanan Bayi Umur 0-6 Bulan
Kebutuhan kalori bayi antara 100-200 kkal/kgBB. Berikan
hanya ASI saja sampai berumur enam bulan (ASI Eksklusif).

12

Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI


terutama 30 menit pertama setelah lahir. Pada periode ini ASI saja
sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi.Berikan ASI dari kedua
payudara, berikan ASI dari satu payudara sampai kosong kemudian
pindah ke payudara lainnya (Depkes RI, 2005).
Kolostrum jangan dibuang tetapi harus segera diberikan pada
bayi.Walaupun jumlahnya sedikit, namun sudah memenuhi
kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama.Pemberian ASI tetap
dilanjutkan hingga bayi berusia dua tahun.Waktu dan lama
menyusui tidak perlu dibatasi dan frekuensinya tidak perlu dijadwal
(diberikan pagi, siang dan malam hari).Serta sebaiknya jangan
memberikan makanan atau minuman (air kelapa, air tajin, air teh,
madu, pisang, dan lain-lain) pada bayi sebelum diberikan ASI
karena sangat membahayakan kesehatan bayi dan mengganggu
keberhasilan menyusui (Depkes RI, 2005).
2. Makanan Bayi Umur 6-9 Bulan
Hal-hal yang harus diperhatikan:
a. Pemberian ASI diteruskan.
b. Bayi mulai diperkenalkan dengan MP-ASI berbentuk lumat
halus karena bayi sudah memiliki refleks mengunyah. Contoh
MP-ASI berbentuk halus antara lain bubur susu, biskuit yang
ditambah air atau susu, pisang dan pepaya yang dilumatkan.
Berikan untuk pertama kali satu jenis MP-ASI dan berikan
sedikit demi sedikit mulai dengan jumlah 1-2 sendok makan, 1-2
kali sehari. Berikan untuk beberapa hari secara tetap, kemudian
baru diberikan jenis MP-ASI yang lain.
c. Perlu diingat tiap kali berikan ASI lebih dulu baru MP-ASI, agar
ASI dimanfaatkan seoptimal mungkin.
d. Memperkenalkan makanan baru pada bayi, jangan dipaksa.
Kalau bayi sulit menerima, ulangi pemberiannya pada waktu
bayi lapar, sedikit demi sedikit dengan sabar, sampai bayi
terbiasa dengan rasa makanan tersebut.
3. Makanan Bayi Umur 9-12 Bulan
Hal-hal yang perlu diperhatikan :

13

a. Pemberian ASI diteruskan.


b. Bayi mulai diperkenalkan dengan makanan lembek yaitu
berupa nasi tim/ saring bubur saring dengan frekuensi dua kali
sehari.
c. Untuk mempertinggi nilai gizi makanan, nasi tim bayi
ditambah sedikit demi sedikit dengan sumber zat lemak, yaitu
santan atau minyak kelapa/ margarin. Bahkan makanan ini
dapat menambah kalori bayi, disamping memberikan rasa enak
juga mempertinggi penyerapan vitamin A dan zat gizi lain
yang larut dalam lemak. Nasi tim bayi harus diatur secara
berangsur. Lambat laun mendekati bentuk dan kepadatan
makanan keluarga.
d. Berikan makanan selingan 1 kali sehari. Dipilih makanan yang
bernilai gizi tinggi, seperti bubur kacang hijau, buah dan lainlain. Diusahakan agar makanan selingan dibuat sendiri agar
kebersihan terjamin.
4. Makanan Anak Usia 1-5 Tahun
Dalam memenuhi kebutuhan zat gizi anak usia 1-5 tahun
hendaknya digunakan kebutuhan prinsip sebagai berikut :
a. Bahan makanan sumber kalori harus dipenuhi baik berasal dari
makanan pokok, minyak dan zat lemak serta gula
b. Berikan sumber protein nabati dan hewani
c. Jangan memaksa anak makan makanan yang tidak disenangi,
berikan makanan lain yang dapat diterima, misalnya jika anak
menolak sayuran mungkin karena cara memasaknya, buatlah
cara lain, jika masih menolak gantilah sayuran dengan
menambah buah buahan yang penting anak mendapat vitamin
dan mineral.
d. Berikan makanan selingan (makanan ringan) seperti biscuit
dsb diberikan antara waktu pagi, siang dan malam
e. Makanan anak usia 1 tahun belum banyak berbeda dengan
makanan waktu usia kurang dari 1 tahun, sebagaimana telah
dijelaskan bahwa anak disapih lebih baik pada umur 2 tahun,
sehingga pada umur 1 tahun ASI masih diberikan pada anak.

14

Pada umumnya makanan masih berbentuk lunak, baik nasi,


sayur dan lauk pauk seperti daging hendaknya dimasak sedemikian
rupa sehingga anak mudah mengunyahnya dan pencernaan mudah
mencerna.Anak mulai diajak makan bersama keluarga.
Makanan anak setelah umur 3 tahun lebih banyak makanan
padat, masa 1-3 tahun ini masa yang sangat labil dimana anak
mudah sekali terserang berbagai penyakit infeksi, sehingga keadaan
gizi anak harus mendapatkan perhatian yang baik.
Makanan usia 3-5 tahun tetap sama dengan makana anak
sebelumnya tetapi seperti kebutuhan protein sedapat mungkin
diambil dari makanan sumber hewani.
5. Makanan Anak Sekolah
Pada masa ini gigi anak mulai tangggal dan akan diganti
dengan gigi permanen sehingga makanan disiapkan selain untuk
pertumbuhan tubuhnya juga untuk pertumbuhan gigi permanennya.
Usia sekolah ini sudah aktif memilih makanan yang disukai,
kebutuhan energy semakin besar karena anak sudah banyak
melakukan kegiatan kegiatan lainnya. Kebutuhan kalori anak usia
sekolah adalah 85 kkal/kgBB.
Mulai usia 10 tahun kebutuhan gizi anak laki laki dengan
perempuan berbeda, anak laki laki lebih banyak melakukan
aktifitas sehingga membutuhkan energy yang lebih banyak
sedangkan anak perempuan membutuhkan protein dan zat besi
yang lebih banyak karena saat itu telah mulai haid.
6. Makanan Anak Remaja
Pada masa ini terjadi pertumbuhan pesat sehingga
dibutuhkan zat gizi yang cukup untuk mengimbangi pertumbuhan
dan perkembangan tubuhnya. Anak wanita biasanya pada masa ini
sering banyak yang mengurangi makan karena takut gemuk
sehingga akibatnya mereka akan sakit atau kurang gizi, untuk itu
perlu sekali ditanamkan pada mereka mengenai masalah gizi.
Kebutuhan kalori pada remaja dipengaruhi oleh waktu
pencapaian pubertas. Jadi anak perempuan lebih dini memerlukan
peningkatan kalori dibanding anak laki-laki. Sedangkan untuk

15

aktivitas fisik anak laki-laki memerlukan 60 kkal/kgBB dan anak


perempuan 50 kkal/kgBB.
2.8 Bimbingan Istirahat Tidur
Secara umum, istirahat berarti suatu keadaan tenang, relaks, tanpa
tekanan emosional, dan bebas dari perasaan gelisah. Jadi,beristirahat bukan
berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Terkadang,berjalan-jalan di
taman juga bias dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat (Mubarak, 2007).
Tidur didefenisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana
seseorang masih dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik
atau dengan rangsang lainnya (Guyton & Hall, 1997).
Tidur yang normal melibatkan 2 fase:pergerakan mata yang tidak cepat
( tidur nonrapid eye movement, NREM) dan pergerakan mata yang cepat
(tidur rapid eye movement, REM). Pola / tipe tidur biasa ini juga disebut
NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata tidak cepat). Pola tidur
NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek
karena gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang
alpha dan beta pada orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur Tandatanda tidur NREM adalah : Mimpi berkurang, Keadaan istirahat (otot mulai
berelaksasi), Tekanan darah turun, Kecepatan pernafasan turun, Metabolisme
turun dan Gerakan mata lambat. Pola / tipe tidur paradoksikal ini disebut juga
(Rapid

Eye

Movement

Gerakan

mata

cepat).

Tidur

tipe

ini

disebut Paradoksikal karena hal ini bersifat Paradoks, yaitu seseorang


dapat tetap tertidur walaupun aktivitas otaknya nyata. Selama tidur REM,
otak cenderung aktif dan metabolismenya meningkat hingga 20%. Pada tahap
ini individu menjadi sulit untuk dibangunkan atau justru dapat bangun dengan
tiba-tiba, tonus otot terdepresi, sekresi lambung meningkat, serta frekuensi
jantung dan pernafasan sering kali tidak teratur.
Secara umum, durasi atau waktu lama tidur mengikuti pola sesuai
dengan tahap tumbuh kembang manusia.
a. Bayi,
Pada bayi baru lahir membutuhkan tidur selama 14 18 jam sehari,
pernafasan teratur, gerak tubuh sedikit 50% tidur NREM dan terbagi

16

dalam 7 periode. Dan pada bayi tidur selama 12 14 jam sehari, sekitar 20
30 % tidur REM, tidur lebih lama pada malam hari dan punya pola
terbangun sebentar (Asmadi, 2008).
b. Toddler,
Kebutuhan tidur pada toddler menurun menjadi 10 12 jam sehari. Sekitar
20 30 % tidurnya adalah tidur REM, banyak. Tidur 11 siang dapat hilang
pada usia 3 tahun karena sering terbangun pada malam hari yang
menyebabkan mereka tidak ingin tidur pada malam hari (Asmadi, 2008).
c. Preschool,
Pada usia prescool biasanya memerlukan waktu tidur 11 12 jam
semalam. Kebanyakan pada usia ini tidak menyukai waktu tidur. Bisa jadi
anak usia 4 5 mengalami kurang istirahat tidur dan mudah sakit jika
kebutuhan tidurnya tidak terpenuhi. Sekitar 20 % tidurnya adalah tidur
REM (Asmadi, 2008).
d. Anak usia sekolah,
Anak usia sekolah tidur antara 8 12 jam semalam tanpa tidur siang. Anak
usia 8 tahun membutuhkan waktu kurang lebih 10 jam setiap malam. Tidur
REM pada anak usia ini berkurang sekitar 20 % (Asmadi, 2008).
e. Adolesen,
Kebanyakan remaja memerlukan waktu tidur sekitar 8 10 jam tiap
malamnya untuk mencegah terjadinya kelemahan dan kerentaan terhadap
infeksi. Tidur pada usia ini 20 % adalah tidur REM. Pada remaja laki-laki
megalami Nocturnal Emission (orgasme dan mengeluarkan cairan semen
pada tidur malam hari) yang biasanya kita kenal dengan istilah mimpi
basah (Potter, 2005).

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Bimbingan Antisipasi (Anticipatory Guidance) adalah bantuan perawat
terhadap orang tua dalam mempertahankan dan meningkatkan kesehatan melalui
upaya orang tua dalam mempertahankan dan meningkatkan kesehatan melalui

17

upaya pertahanan nutrisi yang adekuat, pencegahan kecelakaan dan supervise


kesehatan.
Kecelakaan merupakan kejadian yang dapat menyebabkan kematian pada
anak. Kepribadian adalah factor pendukung terjadinya kecelakaan. Orang tua
bertanggungjawab terhadap kebutuhan anak, menyadari karakteristik perilaku
yang menimbulkan kecelakaan waspada terhadap factor-faktor lingkungan yang
mengancam keamanan anak.
Nutrien adalah zat yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh dan
berkembang. Setiap anak mempunyai kebutuhan nutrient yang berbeda dan anak
mempunyai karakteristik yang khas dalam mengonsumsi makanan atau zat gizi
tersebut.
Istirahat berarti suatu keadaan tenang, relaks tanpa tekanan emosional,dan
bebas dari perasaan gelisah. Tidur didefenisikan sebagai suatu keadaan bawah
sadar dimana seseorang masih dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang
sensorik atau dengan rangsang lainnya.
3.2 Saran
Sebagai bagian dari tenaga professional dibidang kesehatan, perawat
hendaknya memberikan bimbingan dan pengarahan pada orang tua, sebagai suatu
bentuk antisipasi orang tua dalam mencegah terjadinya kecelakaan pada anak,
makanan dan minuman yang berguna dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak
serta pemenuhan kebutuhan istirahat tidur anak.

DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC
Guyton, A. C. and Hall, J. E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9.
Jakarta: EGC.
Mubarak, Wahid I., & Nurul C. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia:
Teori dan Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC.
Nursalam, Utami. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (Untuk Perawat
dan Bidan). Jakarta : Salemba Medika
Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan, Edisi 4. Jakarta: EGC.

18

Supartini, Yupi. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.


Wartonah, Tarwoto. 2004. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika

19