Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM MATA

PELAJARAN AGAMA
DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 PALEMBANG
Ripki
Mahasiswa Program Pascasarjana MAP Candradimuka

Dr. Hj. Umiyati, SE. M.Si


Dosen Pembimbing Utama / Ketua Komisi Penguji

Drs. Syahir, M.Si


Dosen Pembimbing Pembantu / Sekretaris Komisi Penguji
ABSTRAK

Tujuan penelitian adalah mengetahui motivasi belajar siswa dalam pelajaran Agama di Madrasah
Aliyah Negeri 1 Palembang. Variabel dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa dalam pelajaran
Agama. Unit analisis adalah Madrasah Aliyah Negeri I Palembang. Informan dalam penelitian ini adalah
kepala madrasah, wakil kurikulum, guru dan siswa Madrasah Aliyah Negeri I Palembang. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data
mengacu pada tahapan: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan
bahwa cita-cita atau aspirasi belajar siswa dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam masih cukup
rendah. Kemampuan belajar para siswa sudah cukup baik dalam pembelajaran agama Islam.
Kondisi fisik dan kondisi psikologis para siswa dalam pelajaran agama masih cukup baik.
Kondisi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat sudah
baik dan mendukung motivasi belajar siswa. Unsur dinamis yang berkaitan dengan
semangat belajar dan situasi belajar pelajaran agama Islam telah cukup baik. Desain pembelajaran
memungkinkan siswa untuk bersaing baik antar kelompok maupun antar individu dengan merancang
suasana belajar yang baik dan nyaman. Upaya guru yang mengampu mata pelajaran agama Islam
dinilai telah baik, dimana guru telah mampu menguasai materi pelajaran dan memberikan perhatian yang
baik kepada seluruh siswa dengan cara memberikan bimbingan di luar jam pelajaran.
Kata Kunci: Motivasi, Siswa, Pembelajaran

I. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan suatu bangsa,
pendidikan mempunyai peranan yang sangat
penting untuk menjamin perkembangan dan
kelangsungan hidup bangsa tersebut. Secara
langsung maupun tidak langsung pendidikan
adalah suatu usaha sadar dalam menyiapkan
pertumbuhan dan perkembangan anak melalui
kegiatan, bimbingan, pengajaran dan pelatihan
bagi kehidupan dimasa yang akan datang.
Tentunya hal ini merupakan tanggung jawab
bersama antara pemerintah, anggota masyarakat
dan orang tua. Oleh karena itu untuk mencapai
keberhasilan ini perlu dukungan dan partisipasi
aktif yang bersifat terus menerus dari semua
pihak.
Guru mengemban tugas yang berat untuk
tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu
meningkatkan kualitas manusia Indonesia,
manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti
luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras,
tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan
terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga
harus mampu menumbuhkan dan memperdalam
rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal

semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan


sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional
akan mampu mewujudkan manusia-manusia
pembangunan dan membangun dirinya sendiri
serta bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa. Depdikbud (1999).
Secara teoritis dalam peningkatan mutu
pendidikan guru memilki peran antara lain : (a)
sebagai salah satu komponen sentral dalam
sistem pendidikan, (b) sebagai tenaga pengajar
sekaligus pendidik dalam suatu instansi
pendidikan (sekolah maupun kelas bimbingan),
(c) penentu mutu hasil pendidikan dengan
mencetak peseta didik yang benar-benar menjadi
manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan YME, percaya diri,
disiplin, dan bertanggung jawab, (d) sebagai
faktor kunci, mengandung arti bahwa semua
kebijakan, rencana inovasi, dan gagasan
pendidikan yang ditetapkan untuk mewujudkan
perubahan system pendidikan, dalam rangka
mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan, (e)
sebagai pendukung serta pembimbing peserta
didik sebagai generasi yang akan meneruskan
estafet pejuang bangsa untuk mengisi
kemerdekaan dalam kancah pembangunan

2
nasional serta dalam penyesuaian perkembangaan
zaman dan teknologi yang semakin spektakuler,
(f) sebagai pelayan kemanusiaan di lingkungan
masyarakat, (g) sebagai pemonitor praktek
profesi.
Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 11 Ayat 1
mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah
daerah untuk menjamin terselenggaranya
pendidikan yang bermutu (berkualitas) bagi setiap
warga negara. Terwujudnya pendidikan yang
bermutu membutuhkan upaya yang terus menerus
untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikan.
Peningkatan kualitas pendidikan memerlukan upaya
peningkatan kualitas pembelajaran (instructional
quality) karena muara dari berbagai program
pendidikan adalah pada terlaksananya program
pembelajaran yang berkualitas.
Upaya peningkatan kualitas program
pembelajaran memerlukan informasi hasil evaluasi
terhadap kualitas program pembelajaran
sebelumnya. Dengan demikian, untuk dapat
melakukan pembaharuan program pendidikan,
termasuk di dalamnya adalah program
pembelajaran kegiatan evaluasi terhadap program
yang sedang maupun telah berjalan sebelumnya
perlu dilakukan dengan baik. Hasil evaluasi
program sebelumnya merupakan acuan yang tidak
dapat ditinggalkan untuk dapat menyusun program
yang lebih baik.
Evaluasi dapat dilakukan dengan cara
kuantitatif maupun kualitatif, dimana dengan
cara kuantitatif, berarti data yang dihasilkan
berbentuk angka atau skor. Sedangkan cara
kualitatif berarti informasi hasil test berbentuk
pernyataan-pernyataan verbal seperti kurang,
sedang, baik dan sebagainya. Kegiatan evaluasi
dapat dilaksanakan dengan menggunakan dua
jenis teknik yaitu teknik test dan non test. Teknik
test biasanya digunakan untuk mengumpulkan
data mengenai aspek kemampuan, dimana kita
mengenal misalnya test hasil belajar, test
inteligensi, test bakat khusus, dan sebagainya.
Sedangkan teknik non test biasanya digunakan
untuk menilai aspek kepribadian yang lain
misalnya minat, pendapat, kecenderungan dan
lain-lain, dimana digunakan wawancara, angket,
observasi, dan sebagainya.
Dalam kegiatan belajar mengajar yang
berlangsung telah terjadi interaksi yang
bertujuan. Guru dan anak didiklah yang
menggerakannya. Interaksi yang bertujuan itu
disebabkan gurulah yang memaknainya dengan
menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif
demi kepentingan anak didik dalam belajar. Guru
ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak
didik, dengan menyediakan lingkungan yang
menyenangkan dan menggairahkan. Guru
berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan

peranan yang arif dan bijaksana, sehingga


tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara
guru dengan anak didik.
Interaksi pembelajaran reflektif dapat
membuat anak didik untuk menjadikan hasil
belajar sebagai referensi refleksi kritis tentang
dampak ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap
masyarakat; mengasah kepedulian sosial,
mengasah hati nurani, dan bertanggung jawab
terhadap karirnya kelak. Kemampuan ini dimiliki
anak didik, karena dengan pola interaksi
pembelajaran tersebut, dapat membuat anak didik
aktif dalam berfikir (mind-on), aktif dalam
berbuat (hand-on), mengembangkan kemampuan
bertanya, mengembangkan kemampuan
berkomunikasi, dan membudayakan untuk
memecahkan permasalahan baik secara personal
maupun sosial.
Agar hasil ini dapat optimal, guru dituntut
untuk mengubah peran dan fungsinya menjadi
fasilitator, mediator, mitra belajar anak didik, dan
evaluator. Ini berarti, guru harus menciptakan
interaksi pembelajaran yang demokratis dan
dialogis antara guru dengan anak didik, dan anak
didik dengan anak didik (Moh. Shoechib: 1999;
dan Paul Suparno dkk: 2001). Interaksi
pembelajaran yang mengemas nilai-nilai tersebut
dapat membuat pembelajaran lingking (link and
math atau life skill) dan delinking (pemutusan
lingkungan negatif), diversifikasi kurikulum,
pembelajaran kontekstual, kurikulum berbasis
kompetensi, dan otonomi pendidikan pada tingkat
sekolah taman kanak-kanak dengan manajemen
berbasis sekolah, dan bertujuan untuk
mengupayakan pondasi dan mengembangkan
anak untuk memiliki kemampuan yang utuh yang
disebut: Pendidikan Anak Seutuhnya (PAS).
Berhasilnya tujuan pembelajaran
ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah
faktor guru dalam melaksanakan proses belajar
mengajar, karena guru secara langsung dapat
mempengaruhi, membina dan meningkatkan
kecerdasan, keterampilan, serta memotivasi
siswa. Peran guru sangat penting dan diharapkan
guru mampu menyampaikan semua mata
pelajaran yang tercantum dalam proses
pembelajaran secara tepat dan sesuai dengan
konsep-konsep mata pelajaran yang akan
disampaikan untuk mengatasi permasalahan di
atas serta pencapaian tujuan pendidikan secara
maksimal,.
Pembelajaran yang efektif bukan membuat
siswa pusing, akan tetapi bagaimana tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan
menyenangkan. (M. Sobry Sutikno. 2007).
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat
diartikan sebagai daya penggerak yang ada di
dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitasaktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan.

3
Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu
kondisi intern (kesiap siagaan). Menurut Mc.
Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam
diri seseorang yang ditandai dengan munculnya
perasaan dan di dahului dengan tanggapan
terhadap adanya tujuan. Pengertian yang
dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung
tiga elemen ciri pokok dalam motivasi itu, yakni
motivasi itu mengawali terjadinya perubahan
energi, ditandai dengan adanya perasaan, dan
dirangsang karena adanya tujuan.
Namun pada intinya bahwa motivasi
merupakan kondisi psikologis yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi
dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menjamin
kelangsungan dan memberikan arah kegiatan
belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai
dalam kegiatan belajar. Motivasi sangat
diperlukan dalam kegiatan belajar, sebab
seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam
belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas
belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan
materi pelajaran yang diberikan, bukanlah
masalah bagi guru. Di dalam diri siswa tersebut
ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang
demikian biasanya dengan kesadaran sendiri
memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin
tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran
yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada
disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya
agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi
siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya,
maka motivasi ekstrinsik yang merupakan
dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di
sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi
peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.
Pendidikan agama Islam (PAI) adalah
upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan
peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati, hingga mengamalkan ajaran agama
Islam, dan menghormati penganut agama lain
dalam hubungannya dengan kerukunan antara
umat beragama sehingga terwujudnya kesatuan
dan persatuan bangsa. Pendidikan agama Islam
adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan
terhadap anak didik agar kelak setelah selesai
pendidikannya dapa mengamalkan ajaran agama
Islam serta menjadikannya sebagai pandangan
hidup (way of life).
Pendidikan agama Islam adalah
pendidikan dengan ajaran-ajaran agama Islam,
yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap
anak didik agar nantinya setelah selesai dari
pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan
mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang
telah diyakininya secara menyeluruh, serta
menjadikan agama Islam itu sebagai suatu

pandangan hidupnya demi keselamatan dan


kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat.
Jadi, pendidikan agama Islam (PAI) merupakan
usaha sadar yang dilakukan dalam rangka
mempersiapkan peserta didik untuk menyakini,
memahami dan mengamalkan ajaran Islam
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau
pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Pendidikan agama adalah salah satu dari
tiga mata pelajaran wajib diberikan pada setiap
jenis, jalur dan jenjang pendidikan (Pendidikan
Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan
Kewarganegaraan), hal ini sesuai dengan pasal 12
bab V UU No. 20 Tahun 2003: Setiap peserta
didik pada setiap satuan pendidikan berhak
mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan
yang dianutnya dan diajarkan sesuai oleh peserta
didik yang beragama. Melihat posisi dan
peranan pendidikan agama tersebut, maka
pendidikan agama berfungsi sebagai berikut: 1)
Sebagai perbaikan, yakni memperbaiki
kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan,
pemahaman dan pendalaman ajaran Islam dalam
kehidupan sehari-hari. 2) Sebagai pencegahan,
yakni mencegah dan meninggalkan hal- hal
negatif dari lingkungannya atau dari budaya yang
asing yang dapat membahayakan anak didik dan
mengganggu perkembangan dirinya menuju
manusia seutuhnya. 3) Sebagai penyesuaian
mental, yakni membimbing anak didik untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik
lingkungan fisik maupun sosialnya dan dapat
mengarahkannya untuk dapat mengubah
lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam. 4)
Sebagai pengembangan, yakni menumbuh
kembangkan dan meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan anak didik kepada Allah SWT. yang
telah ditanamkan dalam keluarga. 5) Sebagai
penyaluran, yakni menyalurkan anak didik yang
memiliki bakat khusus yang ingin mendalami
bidang agama dan agar bakat tersebut dapat
berkembang secara optimal serta dapat
bermanfaat untuk dirinya sendiri dan bagi orang
lain. 6) Sebagai sumber nilai, yakni memberikan
pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan
hidup di dunia dan akhirat. 7) Sebagai
pengajaran, yakni menyampaikan pengatahuan
keagamaan secara fungsional. Fungsi ini juga
terlihat dari proses belajar mengajar pendidikan
agama di kelas sebagai salah satu pelajaran yang
harus dipelajari oleh semua siswa-siswi di
sekolah. Pembelajaran yang dikembangkan

4
selama ini adalah selalu menempatkan guru
sebagai pusat belajar sehingga target
pembelajaran adalah ilmu pengetahuan sebagai
pemberian guru kepada siswa (transfer of
knowledge) yang berbentuk penguasaan bahan
dan selalu berorientasi pada nilai yang tertuang
dalam bentuk angka-angka.
Motivasi dan peran guru kreatif yang
dapat membuat pembelajaran agama menjadi
menarik dan disukai oleh peserta didik, suasana
kelas perlu dirancang dan dibangun sedemikian
rupa dengan mengunakan model pembelajaran
yang tepat agar siswa dapatmemperoleh hasil
yang baik, optimal dan meningkatkan hasil
belajar siswa.
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat
dimengerti bahwa pelaksanaan pendidikan agama
Islam disekolah menghadapi sejumlah
permasalahan untuk dipecahkan. Jika tidak,
dikhawatirkan justru misi utama yang hendak
diemban oleh pendidikan agama Islam malah
tidak atau kurang mencapai sasaran. Evaluasi
atau penilaian adalah proses yang dilakukan oleh
guru untuk mengetahui, memahami, serta melihat
hasil kegiatan belajar siswa dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Proses penilaian
harus didasarkan atas beberapa selang waktu,
bukan sesaat saja. Ini berarti bahwa evaluasi
merupakan kumpulan dari sederetan pengukuran
yang dilakukan berkali-kali untuk dapat melihat
hasilnya. Hasil belajar anak yang diperoleh
melalui evaluasi itu tidak hanya sekedar untuk
diketahui dan dipahami guru, tetapi yang lebih B.
penting ialah agar dapat digunakan untuk tujuan
tertentu seperti kenaikan kelas dan meluluskan
siswa.
Permasalahan yang dihadapi di Madrasah
Aliyah Negeri 1 Palembang berkenaan dengan
motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran
Agama adalah rendahnya hasil belajar siswa pada
mata pelajaran agama di kelas Xll lPS yang juga
diakibatkan dari cara belajar masih monoton.
Selama ini siswa hanya menerima saja dari guru
tanpa berpikir sehingga tidak menghasilkan
pembelajaran yang optimal dan siswa tidak
termotivasi. Berdasarkan pengalaman tahuntahun sebelumnya siswa mendapat perolehan
skor nilai hasil belajar dari ulangan
harian/ulangan blok belum mencapai nilai KKM
(kriteria ketuntasan minimal) yaitu berkisar
antara 60% sampai 70% di bawah nilai KKM

yang sudah ditetapkan untuk mata pelajaran


agama Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 80.
Madrasah Aliyah Negeri I Palembang
merupakan salah satu lembaga pendidikan yang
melaksanakan proses pembelajaran dengan
mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Sebagian besar siswa yang
masuk ke Madrasah ini lulusan dari Sekolah
Menengah Pertama. Sehingga ini juga yang
menyebabkan permasalah guru dalam proses
9
pembelajaran di kelas. Pencapaian nilai mata
pelajaran agama dapat dilihat dari hasil nilai ratarata Mid Semester tahun Ajaran 2011 2012 dan
tahun Ajaran 2012 2013, sebagaimana tergambar
pada tabel berikut ini.
Tabel 1.1
Data Nilai Mid Semester Mata Pelajaran
Agama 2011-2013
No

Tahun Pelajaran

Nilai rata-rata

2011-2012

65

2
2012-2013
Sumber: Data diolah, 2014

70

Berdasarkan gambaran di atas penulis


tertarik untuk menelitian mengenai Analisis
Motivasi Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran
Agama Di Madrasah Aliyah Negeri 1
Palembang.
Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di
atas maka dapat diidentifikasikan permasalahan
penelitian dalam analisis motivasi belajar siswa
dalam mata pelajaran Agama di Madrasah
Aliyah Negeri 1 Palembang sebagai berikut:
1. Rendahnya hasil belajar mata pelajaran
agama yang dapat dilihat dari nilai ulangan
harian dan ulangan blok pelajaran agama
dibawah nilai KKM (kriteria ketuntasan
minimal) yaitu 80.
2. Ketekunan dalam mengerjakan tugas
pembelajaran Agama masih kurang, hal ini
ditunjukkan hanya 35% siswa yang
mengerti dan bertanya dengan guru tentang
tugas yang diberikan.
3. Kurangnya peralatan guru dalam proses
pembelajaran, dimana guru hanya
melaksanakan proses pembelajaran dengan

5
metode ceramah, membaca buku teks,
sehingga siswa kurang memperhatikan
pelajaran tersebut.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan indetifikasi dan pembatasan
masalah maka perumusan masalah adalah sebagai
berikut : Bagaimana Motivasi Belajar Siswa
dalam Mata Pelajaran Agama di Madrasah
Aliyah Negeri 1 Palembang?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah: Untuk mengetahui motivasi
belajar siswa dalam mata pelajaran Agama di
Madrasah Aliyah Negeri 1 Palembang.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
a. Melengkapi hasanah ilmu Administrasi
Negara, khususnya Administrasi Publik.
b. Sebagai masukan ilmiah untuk bahan
penelitian lanjutan
2.
Secara Praktis
a. Sebagai informasi bagi Kementrian
Agama (Kemenag) Kota Palembang
khususnya Madrasah Aliyah Negeri I
Palembang.

Ruang Lingkup penelitian ini adalah


Analisis Motivasi Belajar Siswa Dalam mata
Pelajaran Agama di Madrasah Aliyah Negeri 1
Palembang, sedangkan Fokus Penelitian ini
adalah mengenai Motivasi Belajar siswa dalam
pelajaran agama pada kelas XII IPS 1.
C. Variabel Penelitian
Keban (1998:23) menjelaskan bahwa cara
pengukuran variabel penelitian biasanya
dirumuskan dengan apa yang disebut sebagai
definisi konsep dan operasional. Dalam definisi
konsep peneliti berusaha menggambarkan
batasan variabel yang diteliti agar dalam definisi
operasional ditonjolkan bagaimana sifat atau
karakteristik suatu variabel dan bagaimana
pengukurannya sehingga dapat diproses dalam
bentuk statistik atau bahkan analisis kualitatif
1. Klasifikasi Variabel
Adapun variabel dalam penelitian ini
adalah: Analisis Motivasi Belajar siswa dalam
mata pelajaran Agama.
2. Definisi Konsep
a)
Analisis adalah proses pemecahan
masalah yang dimulai dengan hipotesis
(dugaan, dan sebagainya) sampai terbukti
kebenarannya melalui beberapa kepastian
(pengamatan, percobaan, dan sebagainya).
b)

Motivasi Belajar adalah sebagai suatu


perubahan tenaga di dalam diri / pribadi
sesorang siswa yang ditandai oleh dorongan
efektif dan reaksi - reaksi dalam usaha
mengikuti proses belajar mengajar.

c)

Pelajaran Agama adalah usaha sadar dan


terencana yang di berikan pada siswa untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya dalam
bidang pendidikan Agama Islam.

Dapat dijadikan referensi dan bahan


penelitian lanjutan bagi yang akan
datang.
METODE PENELITIAN
A.

Perspektif Pendekatan Penelitian


Adapun jenis penelitian yang digunakan
adalah metode penelitian kualitatif. Metode
penelitian kualitatif adalah metode penelitian
untuk membuat gambaran mengenai situasi atau
kejadian (Nasir, 1988:64). Metode penelitian
kualitatif digunakan adalah untuk memenuhi
tujuan penelitian yaitu untuk mengenai Analisis
Motivasi Belajar siswa dalam mata pelajaran
Agama di Madrasah Aliyah Negeri 1 Palembang.
Pendekatan kualitatif pada hakekatnya ialah
mengamati orang dalam lingkungan hidupnya,
berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami
bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia
sekitarnya.

3. Definisi Operasional
Untuk mengetahui Analisis Motivasi
Belajar siswa dalam mata pelajaran Agama di
Madrasah Aliyah Negeri 1 Palembang, diambil
dari teori Lingdren (dalam Max Darsono,
2001: 62) maka definisi operasionalnya di
dalam kehidupan sehari-hari motivasi
banyak dipelajari, termasuk motivasi
dalam belajar, sebagai berikut:
Tabel 3.1
Operasional Variabel

B. Ruang Lingkup / Fokus Penelitian


Variabel

Dimensi

Indikator

6
a.Cita-cita
1. Tujuan belajar
atau 2. Hasil belajar
Motivasi
Aspirasi

7
b.Kemamp 1. Perhatian
uan
siswa
Belajar 2. daya pikir
3. Ingatan
c.Kondisi 1. Fisik
Siswa 2. Kondisi
psikologi
Belajar d.Kondisi1. Keluarga
siswa
Lingkung
2. Sekolah
an
3. Masyarakat
e.Unsur 1. Semangat
Dinamis
belajar
2. Situasi belajar
f. Upaya 1. Penguasaan
Guru
materi
2. Perhatian guru
Sumber Lingdren ( dalam Max Darsono, 2001 :
62)
D. Unit Analisis
Untuk menganalisa suatu permasalahan
dibutuhkan lokus sebagai unit yang akan di
analisis. Menurut Singaribun dan Efendi (1995 :
155) unit analisis adalah unit yang akan diteliti
atau dianalisis. Dalam penelitian ini yang
menjadi unit analisis adalah organisasi dalam hal
ini Madrasah Aliyah Negeri I Palembang.
penelitian ini digunakan teknis pengambilan
data yaitu:
1. Wawancara (Interview)
2.
Wawancara dilakukan untuk
memperoleh data-data primer dengan
mengadakan tanya jawab langsung pada pihakpihak yang berkepentingan. Model ini
diaplikasikan untuk menggali data dari Kepala
Madrasah, Wakil Kurikulum, guru dan siswa.
3. Observasi
4.
Pengamatan terhadap objek penelitian,
dalam hal ini pengamatan terhadap Motivasi
Belajar siswa dalam mata pelajaran Agama di
Madrasah Aliayah Negeri I Palembang.
5. Angket
11.
analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Selanjutnya untuk
menguji keakuratan data digunakan triangulasi
metode pengumpulan data, oleh karena itu
tahapan analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah :
12.
a. Reduksi data; yaitu pengurangan
data data yang tidak terlalu peting kemudian
mengambil data untuk keperluan analisis. Atau
pengambilan data data yang diperlukan dari
seluruh data yang didapat untuk keperluan
analisis.
15.
16.Berdasarkan hasil wawancara
dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar para

E. Key Informants
Penelitian ini menggunakan teknik
wawancara sebagai salah satu alat pengumpulan
data. Dalam hal ini informan yang akan
diwawancarai adalah Kepalah Madrasah, Wakil
Kurikulum, Guru dan siswa Madrasah Aliyah
Negeri I Palembang.
F. Jenis dan sumber data
1. Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah kualitatif.
Menurut Lexy J. Moleong. (1989:75) penelitian
kualitatif dimaksud sebagai jenis penelitian yang
temuan-temuannya tidak diperoleh melalui
prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.
2. Sumber data dalam penelitian ini adalah:
a. Data Primer yaitu data yang didapat
langsung dari jawaban responden hasil dari
wawancara dan angket.
b. Data Sekunder yaitu data yang didapat dari
dokumen yang ada di kantor untuk
mengetahui latar belakang pendidikan,
golongan serta jabatan responden.
G. Teknik pengumpulan Data
Menurut Nazir (1998: 22). Pengumpulan data
adalah suatu proses pengadaan data primer untuk
keperluan penelitian. Untuk data yang diperlukan
tersebut digunakan beberapa teknis pengumpulan
data. Pada

6.
Merupakan daftar pertanyaan yang
diberikan kepada orang lain dengan maksud
orang tersebut bersedia untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan.
7. Dokumentasi
8.
Adalah teknik pengumpulan data
sekunder melalui referensi-referensi ilmiah,
seperti buku-buku, jurnal-jurnal ataupun
laporan-laporan lain yang relevan dengan
pembahasan.
9.
H. Teknik Analisis Data
10.
Teknik
13.
b. Display data; agar data lebih mudah
untuk dimengerti maka data dikumpulkan dalam
bentuk matrik, gambar atau skema sehingga
analisis yang digunakan akan lebih akurat.
14.
c. Kesimpulan dan verifikasi adalah
tahap penarikan kesimpulan, setelah melakukan
reduksi dan display terhadap data. Data
kualitatif ditriangulasikan dengan aturan yang
ada, sehingga mendapatkan gambaran yang
komprehensif mengenai Analisis Motivasi
Belajar siswa dalam pelajaran Agama.

siswa dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam


dari segi perhatian guru dalam proses

8
pembelajaran mata pelajaran agama sudah baik.
Guru harus mampu menumbuhkan

17.mengajar yang tepat.


Menginformasilkan dengan jelas tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai.
Menghubungkan kegiatan belajar dengan
minat siswa. Melibatkan siswa secara aktif
dalam kegiatan pembelajaran bersama.
Melakukan evaluasi dan menginformasikan

28.
29.
No

30.

33.
1

34. Citacita atau


Aspirasi

41.
2

42. Kema
mpuan
Belajar

52.
3

53. Kondis
i Siswa

60.
4

75.
No
79.
5

Dimens
i

hasilnya, sehingga siswa mendapat informasi


yang tepat tentang keberhasilan dan
kegagalan diri. Guru yang mengampu mata
pelajaran agama Islam dinilai telah
memberikan perhatian yang baik kepada
seluruh siswa dengan cara memberikan
bimbingan di luar jam pelajaran

18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27. Tabel 5.1
Rekapitulasi Hasil Penelitian
31.

Ringkasan Analisis

35.
Tujuan Belajar: Motivasi belajar para siswa dalam
pelajaran Pendidikan Agama Islam kaitan tujuan belajar
terlihat masih cukup rendah.
36.
Hasil Belajar: Hasil belajar mata pelajaran agama
berupa ulangan harian dan ulangan blok masih dibawah nilai
kriteria ketuntasan minimum.
43.
Perhatian: Sebagian besar siswa belum memiliki
perhatian untuk mengikuti pelajaran agama di kelas.
44.
Daya pikir: Daya nalar siswa sudah cukup baik dalam
mengikuti proses pembelajaran agama Islam.
45.
Daya Ingatan: Daya ingatan para siswa sudah cukup
baik dalam proses pembelajaran agama Islam

54.
Fisik: Secara fisik siswa tidak ada hambatan dan
kendala berkaitan dengan cacat fisik, baik penglihatan dan
pendengaran.
55.
Kondisi Psikologi: Sikap para siswa dalam mengikuti
pelajaran agama masih belum optimal.
61.
Kondisi 62.
Lingkungan Keluarga: Para orang tua siswa sangat
Lingkungan
mendukung proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri I
Palembang baik secara moral dan materiil.
63.
Lingkungan Sekolah: Interaksi antara guru dan siswa
Madrasah Aliyah Negeri I Palembang sudah baik, dimana
antara guru dan siswa telah meyadari peran dan tugas masingmasing dalam proses pembelajaran di kelas.
64.
Lingkungan Masyarakat: Ada sebagian siswa yang
tinggal di perkampungan yang masyarakatnya relatif
berpendidikan rendah dan tidak memiliki pekerjaan tetap
sehingga sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa
76. Dimens 77.
Ringkasan Analisis
i
80.
Unsur
82.
Semangat belajar: Semangat para siswa untuk belajar
Dinamis
agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri I Palembang belum
81.
optimal
83.
Situasi belajar: Guru telah cukup baik mendesain

32.

Ketera
ngan

37. Kuran
g
38.
39.
40. Kuran
g
46. Kuran
g
47.
48.
49. Baik
50.
51. Baik
56. Baik
57.
58.
59. Kuran
g
65.
Baik
66.
67.
68.
69.
Baik
70.
71.
72.
73.
74.
Kuran
g
78.
Ketera
ngan
84.
Kuran
g
85.
86.

88. 89.
6

97.
98.
99.

Upaya
Guru

pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing baik


antar kelompok maupun antar individu dengan merancang
suasana belajar yang baik dan nyaman
90.
Penguasaan materi: Secara umum para guru yang
mengajar mata pelajaran agama Islam telah menguasai materi
pelajaran dengan baik dan memiliki refernsi yang up to date.
91.
Perhatian: Guru yang mengampu mata pelajaran agama
Islam dinilai telah memberikan perhatian yang baik kepada
seluruh siswa dengan cara memberikan bimbingan di luar jam
pelajaran

87.

Baik

92.
93.
94.
95.
96.

Baik

Baik

100.
101.
102. KESIMPULAN DAN SARAN
103. Kesimpulan

104. Berdasarkan hasil


penelitian yang telah dilakukan
bahwa motivasi belajar siswa dalam
pelajaran agama di Madrasah Aliyah
Negeri 1 Palembang masih cukup
rendah. Hal ini dapat dilihat dari :
1. Cita-cita atau
Aspirasi
a. Tujuan belajar
105.Motivasi belajar para
siswa dalam pelajaran
pendidikan agama Islam
masih rendah.
b. Hasil belajar
106.Hasil belajar mata
pelajaran agama dan
ulangan blok masih di
bawah nilai Kriteria
Ketuntasan Minimum (KKM)
107.
2. Kemampuan
Belajar
a. Perhatian
108.Sebagian besar siswa
kurang perhatian untuk
mengikuti pelajaran agama di
kelas.
b. Daya pikir
109.Daya nalar siswa sudah
baik dalam mengikuti proses
pembelajaran agama Islam.
c. Daya ingatan
110.Daya ingatan para siswa
sudah baik dalam proses
pembelajaran agama Islam.
Kondisi Siswa

111.
a. Fisik
112.Secara fisik siswa tidak ada
hambatan dan
kendalaberkaitan dengan
cacat fisik, baik penglihatan
dan pendengaran.
b. Kondisi psikologi
113. Sikap para siswa
dalam mengikuti
pelajaran agama
masih belum optimal.
3. Kondisi
Lingkungan
a. Lingkungan keluarga
114.Para orangtua siswa sangat
mendukung proses
pembelajaran di Madrasah
Aliyah Negeri 1 Palembang
baik secara moral dan
materiil.
b. Lingkungan sekolah
115.Interaksi antara guru dan
siswa Madrasah Aliyah Negeri
1 Palembang sudah baik, di
mana antara guru dan siswa
telah menyadari pera dan
tugas masing-masing dalam
proses pembelajaran di kelas.
c. Lingkungan
masyarakat
116.Ada sebagian siswa yang
tinggal di perkampungan
yang masyarakatnya relatif
berpendidikan rendah dan
tidak memiliki pekerjaan
tetap sehingga sangat
berpengaruh terhadap
motivasi belajar siswa.

125

4. Unsur Dinamis
a. Semangat belajar
117.Semangat para siswa
untuk belajar agama Islam
di Madrasah Aliyah Negeri 1
Palembang belum optimal.
b. Situasi belajar
119.
120.

5. Upaya Guru
a. Penguasaan materi
121.Secara umum para guru
yang mengajar mata pelajaran
agama Islam telah menguasai
materi pelajaran dengan baik
danmemiliki referensi yang up
to date.
125. Motivasi belajar siswa
dalam pelajaran agama Islam di
Madrasah Aliyah Negeri 1
Palembang masih cukup rendah.

118.Guru telah cukup baik


mendesain pembelajaran
yang memungkinkan siswa
untuk bersaing baik antar
kelompok maupun antar
individu dengan merancang
suasana belajar yang baik
dan nyaman.
b. Perhatian
122.Guru yang mengampu mata
pelajaran agama Islam dinilai
telah memberikan perhatian
yang baik kepada seluruh
siswa dengan cara
memberikan bimbingan di
luar jam pelajaran.
123.
124.B. Saran
Oleh karena itu perlu untuk
diperbaiki lagi agar motivasi
belajar siswa dalam pelajaran
agar

10
126. lebih meningkat. Adapun saran
yang dapat diajukan adalah sebagai
berikut:
127.
1. Guru hendaknya selalu
memotivasi para siswa
dalam pendidikan
agama Islam.
2. Guru harus selalu
memperhatikan siswa
belajar dalam
pelajaran pendidikan
agama Islam.
3. Guru mata pelajaran
agama diharapkan
dapat selalu
memantau perhatian
siswa dalam mengikuti
pelajaran pendidikan
agama Islam.

4. Guru diharapkan selalu


memperhatikan
kondisi psikologi siswa
dalam mengikuti
pelajaran pendidikan
agama Islam.
5. Kepada orang tua para
siswa diharapkan
memperhatikan anakanaknya dalam
pergaulan di
lingkungan
masyarakatnya.
6. Diharapkan kepada
para siswa agar lebih
meningkatkan motivasi
dan semangat belajar
dalam mengikuti
pelajaran pendidikan
agama Islam.

128.
129.
130.DAFTAR PUSTAKA
131.
132.
133.

135.

A.M. Sardiman, 2001, Interaksi dan Motivasi


Belajar Mengajar: PT Raja Grafindo
136.
Persada. Jakarta.
137.
A.M. Sardiman, 2001, Macam-Macam
Motivasi, PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta.

134.
140.
141. A.M. Sardiman, 2001, Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar: PT Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
142.
143. A.M. Sardiman, 2001, Macam-Macam
Motivasi, PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
144.
145. A.M. Sardiman, 1996, Pengertian Motivasi
Ekstrinsik , PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
146.
147. Chaplin (Muhibbin). 2002. Pengertian
Belajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
148.
149. Dimyati dan Mudjiono. 2001. Belajar dan
pembelajaran. PT Rineka Cipta. Jakarta.
150.
151. Dimyanti Mudjiono. 1999. Belajar dan
Pembelajaran. Departemen pendidikan dan
Kebudayan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta
152.
153. Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan. PT
Renika Cipta . Jakarta.
154.

A.M. Sardiman, 1996, Pengertian Motivasi


Ekstrinsik , PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Chaplin (Muhibbin). 2002. Pengertian
Belajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

138.
139. Dimyati dan Mudjiono. 2001. Belajar dan
pembelajaran
155. Departemen Kebudayaan, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1999.Cet.ke.10.
Jakarta.
156.
157. Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis
Kompetisi Mata Pelajaran Sekolah Menengah Atas
dan Madrasah Aliyah. Depdiknas. Jakarta.
158.
159. Depdiknas. 2003. UU RI No : 20 Tahun
2003 Pasal 11 ayat 1 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Jakarta
160. Depdiknas. 2003. UU RI No : 20 Tahun
2003 Pasal 12 bab V Tentang Pendidikan
Pancasila, Agama dan Pendidikan
Kewarganegaraan, Jakarta.
161.
162. Depdiknas. 2003. UU RI No : 20 Tahun
2003 Pasal 1 ayat 1, Tentang Pelajaran Agama
Islam, JakartaDepdikbut. 1999. Pembelajaran
bermutu, Peningkatan mutu, Proses pembelajaran
dengan
163.
164. jamarah. 2002. Pengertian Belajar. Rineka
Cipta. Jakarta.
165.

166. Djamarah dan Zain. 1991. Motivasi


Belajar..Rineka Cipta. Jakarta.
167.
168. Djamarah dan Zain. 2002. Psikologi
Belajar. Rineka Cipta. Jakarta.
169. Djamarah dan Zain. 2006. Strategi Belajar
Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.
170.
171. Handoko Martin.: 1992. Motivasi Daya
Penggerak Tingkah laku. Kanisius. Yogyakarta
172.
173. Hintzman dan Muhibbin. 2003. Psikologi
Belajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
174.
175. Keban. 1998. Variabel Penelitian. Gaya
Media. Yogyakarta.
176.
177. Kamus Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa. 1996. Pengertian Analisis.
Jakarta
178.
179. Lingdern ( Max Darsono ) 2001 (62)
Belajar dan Pembelajaran, Ikip Semarang Press.
Cet.ke.II 2001.
180.
181. Lingdern ( Max Darsono ) 2001 (62)
Faktor faktor yang Mempengaruhi Motivasi
Belajar, Ikip Semarang Press. 2001.
182.
183. Muhibbinsyah. 2003. Pengertian Belajar.
PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
184. Mc. Donald ( dalam Sardiman) 2007-73.
Pengertian Motivasi Belajar. Jakarta.
185.
186. Moleong Lexy, J. Moleong,
2006.Metodologi penelitian, Remaja Rosdakarya,
Bandung,
187.
188. Moleong Lexy, J. Moleong, 1989. Jenis
dan Sumber Data, Remaja Rosdakarya, Bandung,
189.
190. Moh .Natsir, 1998. Metode Riset, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
191.
192. Moh .Natsir. 1988. Metode Penilitan.
Jakarta. Ghalia Indonesia. Jakarta.
193.
194. Moh. Shoechib.1999 dan Paul Suparno
dkk. 2001. PTK. Pendidikan agama Islam Metode
Kolaborasi. Jakarta.
195.
196. M. Sobry Sutikno 2007. Peran guru dalam
mengembangkan motivasi Belajar Siswa. Bandung.
197.
198.

199.
200.
201.
202.
203.
204.
205.
206.
207.
208.
209.
210.
211.
212.
213.
214.
215.
216.
217.
218.
219.
220.
221.
222.
223.
224.
225.
226.
227.
228.
11
229.
230. Muhibbinsyah. 2003. Psikologi belajar. PT
Raja Grafindo Persada. Jakarta.
231. Nazir. 1998. Tekhnik Pengumpulan Data.
Ghalia Indonesia
232. Nasution, S. 1982. Azas-azas Kurikulum.
Jemars. Bandung.
233. Nasution dkk. 1992, Psikologi Pendidikan ,
Dikti Depdikbut. Jakarta.
234. Ngalim Purwanto. 2002. Psikologi
pendidikan, PT Remaja Rosada Karya. Bandung.
235.
236. Novani. 2007. PTK. Motivasi Belajar
Siswa dalam Pemecahan Kontektual untuk
Memahami Volume Kerucut pada Siswa kelas VIII
SMP Muhammadiyah 7 Palembang.
237.
238. Peter Salim dan Yeni Salim. 2002. Kamus
Bahasa Indonesia Kontemporer.

239. Jakarta