Anda di halaman 1dari 9

Gastroenteritis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan.


Informasi dalam artikel ini boleh digunakan hanya untuk penjelasan
ilmiah, bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan
diagnosis medis.
Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat
medis.Wikipedia bukan pengganti dokter.
Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan
tenaga kesehatan profesional.

Gastroenteritis
Klasifikasi dan rujukan luar

Gastroenteritis viruses: A = rotavirus, B = adenovirus, C =


Norovirus and D = Astrovirus. The virus particles are shown at
the same magnification to allow size comparison.

ICD-10

A02.0, A08., A09.,J10.8, J11.8,K52.

ICD-9

008.8 009.0, 009.1, 558

DiseasesDB

30726

eMedicine

emerg/213

MeSH

D005759

Gastroenteritis adalah kondisi medis yang ditandai dengan peradangan ("-itis") pada saluran
pencernaan yang melibatkan lambung ("gastro"-) dan usus kecil ("entero"-), sehingga
mengakibatkan kombinasi diare, muntah, dan sakit serta kejang perut.[1] Gastroenteritis juga
sering disebut sebagai gastro,stomach bug, dan stomach virus. Walaupun tidak berkaitan
denganinfluenza, penyakit ini juga sering disebut flu perut dan flu lambung.

Secara global, sebagian besar kasus pada anak-anak disebabkan olehrotavirus.[2] Pada orang
dewasa, norovirus[3] dan Campylobacter[4] menjadi penyebab yang lebih umum. Penyebab lain
yang lebih jarang ditemukan yakni bakteri lain (atau racun bakteri) dan parasit. Penularannya
bisa terjadi karena konsumsi makanan yang dimasak secara tidak benar atau air yang
terkontaminasi atau melalui persinggungan langsung dengan orang yang terinfeksi.
Yang paling utama dalam penanganan penyakit ini adalah hidrasi yang cukup. Untuk kasus
ringan atau sedang, ini bisa dilakukan melalui pemberian larutan rehidrasi oral. Untuk kasus
yang lebih berat, pemberian cairan melalui infus mungkin diperlukan. Gastroenteritis paling
banyak terjadi pada anak-anak dan masyarakat di negara berkembang.

Daftar isi
[sembunyikan]

1Gejala dan tanda

2Penyebab
o

2.1Virus

2.2Bakteri

2.3Parasit

2.4Penularan

2.5Non-infeksi

3Patofisiologi

4Diagnosis
o

4.1Dehidrasi

4.2Diagnosis diferensial

5Pencegahan
o

5.1Gaya hidup

5.2Vaksinasi

6Manajemen
o

6.1Rehidrasi

6.2Makanan

6.3Antimuntah

6.4Antibiotik

6.5Agen antimotilitas

7Epidemiologi

8Sejarah

9Masyarakat dan budaya

10Penelitian

11Pada hewan lain

12Referensi

13Pranala luar

Gejala dan tanda[sunting | sunting sumber]


Gastroenteritis biasanya disertai dengan diare dan muntah,[5] atau, meskipun tidak terlalu banyak
terjadi, hanya disertai dengan salah satu gejala tersebut. [1] Kejang perut juga bisa timbul.
[1]
Tanda-tanda dan gejala biasanya muncul 1272 jam setelah terjangkit agen penginfeksi. [6] Bila
disebabkan oleh virus, kondisi ini biasanya membaik dalam satu minggu. [5]Beberapa gejala yang
diakibatkan oleh virus juga mungkin diasosiasikan dengan demam, letih, sakit kepala, dan nyeri
otot.[5] Jika tinja mengandung darah, lebih kecil kemungkinannya disebabkan oleh virus [5] dan
lebih besar kemungkinannya disebabkan oleh bakteri.[7] Beberapa infeksi bakteri juga bisa
diasosiasikan dengan nyeri perut akut dan mungkin bertahan selama beberapa minggu. [7]
Anak-anak yang terinfeksi rotavirus biasanya sembuh total dalam tiga sampai delapan hari.
[8]
Akan tetapi, di negara-negara miskin, perawatan untuk infeksi akut seringkali sulit didapatkan
sehingga biasanya diare terus-menerus terjadi.[9] Dehidrasimerupakan komplikasi umum
dari diare,[10] dan pasien anak dengan tingkat dehidrasi parah bisa mengalami pengisian kembali
pembuluh kapiler berkepanjangan, turgor kulit yang buruk, dan pernapasan abnormal.[11]Infeksi
berulang biasanya ditemukan di tempat-tempat dengan sanitasi buruk, dan malnutrisi,[6] yang
dapat menghambat pertumbuhan, dan keterlambatan kognitif jangka panjang. [12]
Artritis reaktif terjadi pada 1% dari kelompok yang terinfeksi spesies Campylobacter , dan 0,1%
mengalami sindrom Guillain-Barre.[7] Sindrom uremik-hemolitik (HUS) dapat terjadi karena infeksi
spesies Escherichia coli atau Shigella yang mengeluarkan racun Shiga, sehingga
mengakibatkan jumlah trombosit yang rendah, fungsi buruk ginjal, dan jumlah sel darah merah
yang rendah (karena kerusakannya).[13] Anak-anak lebih cenderung mengalami HUS
dibandingkan orang dewasa.[12] Beberapa infeksi virus mungkin mengakibatkan kejang infantil
jinak.[1]

Penyebab[sunting | sunting sumber]


Virus (terutama rotavirus) dan spesies bakteriEscherichia coli dan Campylobacter adalah
penyebab utama gastroenteritis.[14][6] Akan tetapi, banyak agen infeksi lain yang dapat
menyebabkan sindrom ini.[12] Penyebab non-infeksi kadangkala terlihat, tetapi lebih jarang
daripada etiologi virus atau bakteri.[1] Risiko infeksi lebih tinggi pada anak-anak karena
kurangnya kekebalan mereka dan kebersihan yang relatif buruk.[1]

Virus[sunting | sunting sumber]

Virus yang diketahui menyebabkan gastroenteritis meliputi rotavirus, norovirus, adenovirus,


dan astrovirus.[5][15] Rotavirus adalah penyebab gastroenteritis yang paling umum pada anakanak,[14] dan mengakibatkan tingkat insiden yang serupa baik di negara maju maupun negara
berkembang.[8] Virus mengakibatkan sekira 70% episode diare menular pada kelompok usia
anak-anak.[16] Rotavirus lebih jarang menjadi penyebab pada orang dewasa karena kekebalan
alami mereka.[17]
Norovirus adalah penyebab utama gastroenteritis pada orang dewasa di Amerika,
mengakibatkan lebih dari 90% wabah.[5]Epidemi lokal ini biasanya terjadi jika sekelompok orang
berada dalam jarak fisik yang berdekatan, seperti di kapal pesiar,[5]rumah sakit, atau di restoran.
[1]
Orang-orang mungkin tetap bisa menularkan virus bahkan setelah sembuh dari diarenya.
[5]
Norovirus adalah penyebab dari kira-kira 10% kasus pada anak-anak. [1]

Bakteri[sunting | sunting sumber]

Salmonella enterica serovar Typhimurium (ATCC 14028) seperti terlihat pada


mikroskop dengan pembesaran 1000 kali dan pewarnaan Gram.
Di negara maju Campylobacter jejuni menjadi penyebab utama gastroenteritis bakteri, dimana
separuh dari kasus ini terkait dengan pajanan terhadap unggas.[7]Pada anak-anak, bakteri
merupakan penyebab dari sekira 15% kasus, dengan jenis yang paling umum meliputi
spesies Escherichia coli, Salmonella,Shigella, danCampylobacter.[16] Bila makanan
terkontaminasi dengan bakteri dan berada pada suhu ruangan selama beberapa jam, bakteri
berkembang biak dan meningkatkan risiko infeksi pada orang-orang yang mengonsumsi
makanan tersebut.[12] Beberapa makanan yang umum dikaitkan dengan penyakit ini yakni daging
mentah atau daging yang kurang matang, ayam, makanan laut, dan telur; kecambah mentah;
susu yang belum dipasteurisasi dan keju lunak; serta jus jeruk dan sayuran. [18] Di negara
berkembang, khususnya Afrika subwilayah Sahara dan Asia, kolera adalah penyebab umum
gastroenteritis. Infeksi ini biasanya ditularkan melalui air atau makanan yang terkontaminasi. [19]
Clostridium difficile toksigenik adalah penyebab utama diare yang lebih sering terjadi pada
manusia berusia lanjut.[12] Bayi dapat menjadi pembawa bakteri ini namun tidak berlanjut ke arah
munculnya gejala.[12] Ini adalah penyebab diare yang umum pada mereka yang dirawat inap dan
sering dikaitkan dengan penggunaan antibiotik.[20] Diare infeksi Staphylococcus aureus juga
mungkin terjadi pada mereka yang menggunakan antibiotik.[21] "Travelers diarrhea" biasanya
merupakan jenis gastroenteritis bakteri. Obat penekan asam tampaknya meningkatkan risiko
infeksi secara signifikan setelah terpajan sejumlah organisme, termasuk spesies Clostridium
difficile, Salmonella, dan Campylobacter.[22] Risiko ini lebih tinggi bagi mereka yang
menggunakan penghambat pompa proton dibandingkan dengan mereka yang
menggunakan antagonis H2.[22]

Parasit[sunting | sunting sumber]


Beberapa protozoa dapat mengakibatkan gastroenteritis paling umum adalah Giardia lamblia
tetapi spesies Entamoeba histolytica danCryptosporidium juga terlibat.[16] Sebagai sebuah
kelompok, agen ini mencakup sekira 10% kasus pada anak-anak.[13] Giardia lebih umum terjadi
di negara berkembang, tapi agen etiologi ini menyebabkan jenis penyakit ini dengan jumlah
tertentu hampir di semua tempat.[23] Ini lebih umum terjadi pada orang-orang yang pernah
bepergian ke tempat-tempat dengan prevalensi tinggi, anak-anak di penitipan anak, laki-laki
yang berhubungan seksual dengan laki-laki, dan dalam keadaan setelah terjadinya bencana.[23]

Penularan[sunting | sunting sumber]


Penularan dapat terjadi melalui konsumsi air yang terkontaminasi, atau ketika sekelompok orang
menggunakan benda pribadi mereka bersama-sama.[6] Di wilayah yang memiliki musim hujan
dan musim kemarau, kualitas air biasanya memburuk selama musim hujan, dan ini berhubungan
dengan saat terjadinya wabah.[6] Di negara-negara dengan beberapa musim, infeksi lebih banyak
terjadi pada musim dingin.[12] Pemberian susu untuk bayi menggunakan botol yang tidak
disterilisasikan dengan benar adalah penyebab terbesar dalam skala global. [6] Tingkat penularan
juga berhubungan dengan kebersihan yang buruk, terutama pada kalangan anak-anak, [5] di
perumahan padat,[24] dan pada kelompok yang pernah mengalami gizi buruk.[12] Setelah
mengembangkan toleransi terhadap penyakit ini, orang dewasa dapat menjadi pembawa
organisme tertentu tanpa menunjukkan tanda atau gejala, dan mereka berperan
sebagai reservoir alami dari penularan.[12] Beberapa agen (seperti Shigella) hanya muncul
pada primata, sedangkan yang lainnya dapat muncul pada berbagai jenis binatang
(seperti Giardia).[12]

Non-infeksi[sunting | sunting sumber]


Ada beberapa penyebab non-infeksi peradangan saluran pencernaan. [1] Beberapa penyebab
yang lebih umum meliputi obat-obatan (seperti NSAID), makanan tertentu seperti laktosa (bagi
mereka yang tidak bisa mengonsumsi laktosa), dangluten (bagi mereka dengan penyakit
seliak).Penyakit Crohn juga merupakan sumber non-infeksi gastroenteritis (yang seringkali akut).
[1]
Penyakit yang disebabkan oleh racun juga mungkin terjadi. Beberapa kondisi yang diakibatkan
oleh makanan dikaitkan dengan mual, muntah, dan diare termasuk: keracunan ciguatera karena
konsumsi ikan pemangsa yang terkontaminasi, scombroid yang diasosiasikan dengan konsumsi
jenis ikan tertentu yang telah basi, keracunan tetrodotoksin karena konsumsi antara lain ikan
buntal, dan botulisme yang biasanya disebabkan oleh makanan diawetkan secara tidak benar.[25]

Patofisiologi[sunting | sunting sumber]


Gastroenteritis diartikan sebagai muntah-muntah atau diare yang disebabkan oleh infeksi di usus
kecil atau usus besar.[12]Perubahan di usus kecil biasanya bukan peradangan, sedangkan di
usus besar merupakan peradangan.[12]Jumlah patogen yang dapat menyebabkan infeksi
bervariasi dari satu (untuk Cryptosporidium) sampai 108 (untuk Vibrio cholerae).[12]

Diagnosis[sunting | sunting sumber]


Gastroenteritis biasanya didiagnosis secara klinis, berdasarkan tanda-tanda dan gejala yang
dialami seorang pasien.[5]Tidak ada perbedaan dalam penanganan kondisi apa pun
penyebabnya, sehingga menentukan penyebab penyakit ini tidak diperlukan. [6] Akan
tetapi, kultur tinja harus dilakukan pada mereka yang tinjanya mengandung darah, mereka yang
mungkin keracunan makanan, dan mereka yang baru bepergian ke negara berkembang. [16] Uji
diagnostik juga dapat dilakukan untuk observasi. [5] Karena hipoglikemia terjadi pada sekira 10%
bayi dan anak kecil, pengukuran glukosa serum pada populasi ini sangat dianjurkan.
[11]
Elektrolit dan fungsi ginjal juga harus diperiksa ketika muncul kekhawatiran terhadap
terjadinya dehidrasi akut.[16]

Dehidrasi[sunting | sunting sumber]


Penentuan apakah seseorang mengalami dehidrasi atau tidak adalah bagian penting dari
penilaian. Dehidrasi secara umum dibagi menjadi kasus ringan (35%), sedang (69%), dan
berat (10%).[1] Pada anak-anak, tanda paling akurat dari dehidrasi sedang atau berat
adalah pengisian kembali pembuluh kapiler yang berkepanjangan, turgor kulit yang buruk, dan
pernapasan yang tidak normal.[11][26] Penemuan lain yang berguna(jika dikombinasikan) termasuk
mata cekung, aktivitas yang berkurang, kurangnya air mata, dan mulut kering. [1] Urin yang
normal dan konsumsi cairan oral dapat memastikan kondisi ini.[11] Uji laboratorium memberikan
lebih sedikit manfaat klinis dalam penentuan tingkat dehidrasi. [1]

Diagnosis diferensial[sunting | sunting sumber]


Penyebab potensial lain dari tanda dan gejala yang sama seperti pada gastroenteritis yang perlu
dikesampingkan meliputiusus buntu,volvulus, penyakit usus inflamatori, infeksi saluran kencing,
dan diabetes melitus.[16] Insufisiensi pankreas,sindrom usus pendek, penyakit Whipple, penyakit
seliak, dan penyalahgunaan pencahar juga harus dipertimbangkan.[27]Diagnosis diferensial agak
rumit bila seseorang hanya menunjukkan gejala muntah atau diare (alih-alih keduanya). [1]
Usus buntu dan muntah, sakit perut, dan beberapa kali diare terjadi pada hampir 33% kasus.
[1]
Ini bertolak belakang dengan diare yang sering yang umum terjadi pada gastroenteritis.
[1]
Infeksi paru-paru atau saluran kencing pada anak-anak juga dapat menjadi penyebab muntah
atau diare.[1] Ketoasidosis diabetik (DKA) klasik muncul dengan sakit perut, mual, dan muntah,
tapi tanpa diare.[1] Salah satu studi menemukan bahwa 17% dari anak-anak dengan DKA
mulanya didiagnosis mengalami gastroenteritis.[1]

Pencegahan[sunting | sunting sumber]

Persentase uji rotavirus dengan hasil positif, per minggu pengamatan, Amerika
Serikat, Juli 2000 Juni 2009.

Gaya hidup[sunting | sunting sumber]


Pasokan air yang tidak terkontaminasi dan mudah didapat serta penerapan sanitasi yang baik
menjadi hal penting untuk mengurangi tingkat infeksi dan gastroenteritis yang berarti dari segi
klinis.[12] Langkah-langkah pribadi (seperti mencuci tangan) diketahui dapat mengurangi tingkat
insidensi dan prevalensi gastroenteritis baik di negara berkembang maupun di negara maju
hingga sebesar 30%.[11] Gel berbahan dasar alkohol mungkin juga efektif. [11] Menyusui itu
penting, terutama di tempat-tempat dengan kebersihan yang buruk, begitu juga dengan
meningkatkan kebersihan secara umum.[6]ASI mengurangi frekuensi dan durasi infeksi.
[1]
Menghindari makanan atau minuman yang terkontaminasi juga efektif. [28]

Vaksinasi[sunting | sunting sumber]


Karena efektivitas dan keamanannya, pada tahun 2009 World Health Organization
merekomendasikan agar vaksin rotavirus diberikan kepada semua anak di seluruh dunia. [29]
[14]
Dua vaksin rotavirus sudah tersedia untuk dapat dibeli dan beberapa lainnya sedang
dikembangkan.[29] Di Afrika dan Asia vaksin ini mengurangi penyakit akut pada bayi [29] dan
negara-negara yang telah mengadakan program imunisasi nasional telah melihat adanya
penurunan jumlah dan tingkat keparahan penyakit ini. [30][31] Vaksin ini juga dapat mencegah
menyebarnya penyakit ini pada anak yang tidak divaksin dengan cara mengurangi jumlah infeksi
yang beredar.[32] Sejak tahun 2000, penerapan program vaksin rotavirus di Amerika Serikat telah
mengurangi jumlah kasus diare hingga 80 persen.[33][34][35] Dosis vaksin pertama harus diberikan
kepada bayi berusia antara 6 sampai 15 minggu. [14] Vaksin kolera oral diketahui dapat bekerja
secara efektif hingga 5060% selama lebih dari 2 tahun.[36]

Manajemen[sunting | sunting sumber]


Gastroenteritis secara umum merupakan penyakit akut dan terbatas yang tidak selalu
memerlukan pengobatan.[10]Pengobatan yang disukai untuk mereka yang
mengalami dehidrasi ringan hingga sedang yakni dengan terapi rehidrasi oral(ORT).[13] Akan
tetapi metoclopramide dan/atau ondansetron dapat bermanfaat pada sekelompok pasien anak,
[37]
danbutylscopolamine berguna untuk mengobati sakit perut.[38]

Rehidrasi[sunting | sunting sumber]


Penanganan utama untuk gastroenteritis pada anak-anak maupun orang dewasa adalah
dengan rehidrasi. Ini sebaiknya dilakukan melalui terapi rehidrasi oral, walaupun
pemberian infus mungkin diperlukan bila tingkat kesadaraan berkurangatau pada dehidrasi
berat.[39][40] Produk terapi pengganti terapi oral yang dibuat dengan karbohidrat kompleks (yakni
yang terbuat dari gandum atau beras) terkadang lebih baik dibandingkan dengan yang berbasis
gula sederhana.[41] Minuman dengan kandungan gula sederhana yang sangat tinggi,
seperti minuman ringan dan jus buah, tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak di bawah 5
tahun karena dapat memperparah diare.[10] Air putih dapat digunakan bila persiapan ORT yang
lebih spesifik dan efektif tidak tersedia atau tidak disukai karena rasanya yang tidak
enak. [10] Nasogaster tubedapat digunakan oleh anak kecil untuk memasukkan cairan apabila
diperlukan.[16]

Makanan[sunting | sunting sumber]


Bayi yang mengonsumi ASI dianjurkan untuk tetap disusui seperti biasa, dan bayi yang diberi
susu formula melanjutkan konsumsi formulanya sesaat setelah rehidrasi dengan ORT.
[42]
Formula bebas laktosa atau pengurangan laktosa biasanya tidak diperlukan. [42]Anak-anak
harus melanjutkan makanannya seperti biasa selama diare namun harus menghindari makanan
yang banyak mengandung gula sederhana.[42] Diet BRAT diet (pisang, nasi, saos apel, roti
panggang dan teh) tidak direkomendasikan lagi, karena tidak mengandung gizi yang cukup dan
tidak memiliki manfaat dibandingkan dengan pemberian makanan seperti biasa.
[42]
Beberapa probiotik terbukti bermanfaat untuk mengurangi lamanya penyakit dan frekuensi
buang air besar.[43] Probiotik juga mungkin berguna dalam mencegah dan mengobati diare terkait
antibiotik.[44]Produk susu fermentasi (seperti yogurt) juga bermanfaat.
[45]
Suplemen seng tampaknya efektif dalam mengobati dan mencegah diare pada kalangan
anak-anak di negara berkembang.[46]

Antimuntah[sunting | sunting sumber]


Obat antimuntah mungkin berguna untuk menangani muntah pada anakanak. Ondansetron memiliki beberapa kegunaan, dimana satu dosisnya diasosiasikan dengan
berkurangnya kebutuhan atas cairan infus, berkurangnya kemungkinan rawat inap, dan
berkurangnya muntah.[47][48][49] Metoclopramid juga mungkin berguna.[49] Akan tetapi, penggunaan
ondansetron mungkin berhubungan dengan meningkatnya frekuensi perawatan kembali di
rumah sakit pada pasien anak-anak.[50]Persiapan infus untuk ondansetron dapat diberikan secara
oral bila diperlukan berdasarkan penilaian klinis.[51]Dimenhydrinate, walaupun mengurangi
muntah, tampaknya tidak mempunyai manfaat klinis yang berarti. [1]

Antibiotik[sunting | sunting sumber]


Antibiotik biasanya tidak digunakan untuk gastroenteritis, meskipun terkadang dianjurkan jika
gejalanya termasuk berat[52]atau jika penyebab bakteri rentannya terisolasi atau masih sebatas
kecurigaan.[53] Bila antibiotik akan diberikan, makrolid(seperti azitromisin) lebih diutamakan
dibandingkan dengan fluoroquinolone karena tingginya tingkat kekebalan terhadap
fluoroquinolone.[7] Kolitis pseudomembranosa, yang biasanya disebabkan oleh penggunaan
antibiotik, ditangani dengan menghentikan agen penyebab dan mengobatinya
dengan metronidazol atau vankomisin.[54] Bakteri dan protozoa yang dapat diobati termasuk
spesies Shigella[55] Salmonella typhi,[56] dan Giardia.[23] Pada penyakit yang disebabkan oleh
spesies Giardia atau Entamoeba histolytica, pengobatan tinidazol lebih disarankan dan lebih baik
dibandingkan metronidazol.[57][23] World Health Organization (WHO) menganjurkan penggunaan
antibiotik pada anak kecil yang mengalami diare berdarah dan demam.[1]

Agen antimotilitas[sunting | sunting sumber]


Obat antimotilitas mempunyai risiko yang secara teori dapat menyebabkan komplikasi, dan
meskipun pengalaman klinis menunjukkan ini tidak mungkin terjadi, [27] obat ini tidak disarankan
bagi orang yang mengalami diare berdarah atau diare yang disertai demam. [58] Loperamid,

sebuah analog opioid, umumnya digunakan untuk pengobatan gejala diare.[59] Akan tetapi
loperamide tidak dianjurkan untuk digunakan pada anak-anak, karena mungkin dapat
menimbulkan sawar darah otak imatur dan menyebabkan toksisitas. Bismut subsalisilat,
kompleks tidak larut dari bismut trivalen dan salisilat, dapat digunakan pada kasus ringan sampai
sedang,[27] tetapi toksisitas salisilat dapat terjadi berdasarkan teori yang ada.[1]

Epidemiologi[sunting | sunting sumber]

Tahun hidup tuna upaya untuk diare per 100.000 penduduk pada tahun 2004.
no data
less 500
5001000
10001500
15002000
20002500
25003000

30003500
35004000
40004500
45005000
50006000
6000

Diperkirakan tiga sampai lima miliar kasus gastroenteritis terjadi di seluruh dunia setiap tahun,
[60]
terutama menjangkiti anak-anak dan orang di negara berkembang.[6] Ini mengakibatkan sekira
1,3 juta kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun sejak 2008, [61] sebagian besar kasus
terjadi di negara-negara paling miskin di dunia.[12] Lebih dari 450.000 kematian tersebut
disebabkan oleh rotavirus pada anak di bawah usia 5 tahun.[62][63]Kolera menyebabkan sekira tiga
hingga lima juta kasus penyakit dan membunuh sekira 100.000 orang setiap tahun. [19] Di negara
berkembang anak-anak di bawah usia dua tahun sering mengalami infeksi enam kali atau lebih
setiap tahun sehingga mengakibatkan tingginya gastroenteritis secara klinis. [12] Ini lebih jarang
terjadi pada orang dewasa, sebagian karena berkembangnya kekebalan dapatan.[5]
Pada tahun 1980, gastroenteritis dengan semua penyebabnya mengakibatkan 4,6 juta kematian
pada anak-anak, dengan mayoritas kasus terjadi di negara berkembang. [54] Tingkat kematian
berkurang secara signifikan (menjadi sekitar 1,5 juta kematian setiap tahun) sejak tahun 2000,
terutama karena pengenalan dan penggunaan luas terapi rehidrasi oral.[64] Di AS, infeksi yang
menyebabkan gastroenteritis adalah infeksi paling umum kedua (setelah selesma), dan
menyebabkan 200 hingga 375 juta kasus diare akut[5][12] dan sekira sepuluh ribu kematian setiap
tahun,[12] 150 hingga 300 kematian ini terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun. [1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]


Istilah "gastroenteritis" pertama kali digunakan pada 1825.[65] Sebelumnya penyakit ini secara
khusus dikenal antara lain sebagai demam tifoid atau "kolera morbus", atau lebih umum disebut
"keluhan usus", "kekenyangan", "fluks", "kolik", "masalah usus", atau beberapa nama kuno lain
untuk diare akut.[66]

Masyarakat dan budaya[sunting | sunting sumber]


Gastroenteritis diasosiasikan dengan banyak nama dalam gaya bahasa tidak formal, antara lain
"Pembalasan Montezuma", "Delhi belly", "la turista", dan "back door sprint". [12] Istilah tersebut
banyak digunakan dalam banyak kampanye militer dan diyakini sebagai asal usul istilah "no guts
no glory".[12]
Gastroenteritis menjadi alasan utama dari 3,7 juta kunjungan ke dokter setiap tahun di Amerika
Serikat[1] dan 3 juta di Perancis.[67] Di Amerika Serikat gastroenteritis secara keseluruhan diyakini

menghabiskan biaya 23 miliar dolar AS per tahun[68] penyebab yang berupa rotavirus sendiri
menghabiskan biaya 1 miliar dolar AS per tahun.[1]

Penelitian[sunting | sunting sumber]


Terdapat beberapa vaksin yang sedang dikembangkan untuk gastroenteritis. Contohnya, vaksin
untuk Shigella dan enterotoksigen Escherichia coli (ETEC), dua bakteri utama penyebab
gastroenteritis di seluruh dunia.[69][70]

Pada hewan lain[sunting | sunting sumber]


Gastroenteritis pada kucing dan anjing disebabkan oleh banyak agen yang sama seperti
penyebab penyakit pada manusia. Organisme paling umum yaitu: Campylobacter, Clostridium
difficile, Clostridium perfringens, dan Salmonella.[71] Banyak tanaman beracun juga
menyebabkan gejala gastroenteritis.[72] Beberapa agen lebih spesifik terhadap spesies
tertentu.Koronavirus gastroenteritis menular(TGEV) yang terjadi pada babi mengakibatkan
muntah, diare dan dehidrasi.[73] Penyakit ini diyakini ditularkan kepada babi oleh burung liar dan
tidak ada pengobatan spesifik yang tersedia.[74] Jenis ini tidak menulari manusia.[75]