Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Gangguan pendengaran pada anak perlu dideteksi seawal


mungkin mengingat pentingnya peranan fungsi pendengaran
dalam proses perkembangan bicara.
Fungsi pendengaran dan perkembangan bicara & bahasa sudah termasuk dalam
program evaluasi perkembangan anak secara umum yang dilakukan oleh profesi di
bidang kesehatan mulai dari tingkatan Posyandu.
Identifikasi gangguan pendengaran pada anak secara awal dengan cara pengamatan
reaksi anak terhadap suara atau tes fungsi pendengaran dengan metode dan peralatan
yang sederhana, perlu difahami oleh semua profesi di bidang kesehatan yang banyak
menghadapi bayi dan anak. Dokter Puskesmas, petugas Posyandu atau bidan di
klinik Ibu dan Anak perlu mengetahui cara identifikasi gangguan fungsi
pendengaran secara awal dan kondisi klinis yang perlu dicurigai akan
mengakibatkan gangguan pendengaran.

Untuk membantu program penanganan awal , identifikasi awal


gangguan pendengaran dan bagaimana proses perkembangan
bicara pada anak perlu ditingkatkan dengan penyuluhan atau
seminar kepada para orang tua .

Tes pendengaran pada anak tidak bisa ditunda hanya dengan


alasan usia anak belum memungkinkan untuk dilakukan tes
pendengaran.
Tes pendengaran secara obyektif dibidang audiologi dengan peralatan
elektrofisiologik saat ini sudah banyak dikembangkan di beberapa Rumah Sakit dan
klinik seperti ABR, ASSR, elektroakustik imitans, OAE yang sangat berharga dalam
diagnostik fungsi pendengaran secara dini tidak tergantung usia. Akan tetapi

masalahnya adalah tidak semua Rumah Sakit memiliki peralatan tersebut dan biaya
pemeriksaan yang relatif mahal. Sekalipun sudah ada tes elektrofisiologik yang
canggih, tes pendengaran dengan pengamatan tingkah laku anak terhadap rangsang
suara ( behaviour observation audiometry ), tetap harus dilakukan di bidang
audiologi pediatri.1,2,3

Orang tua memegang peran yang sangat penting dalam deteksi


dini untuk Identifikasi Awal Gangguan Pendengaran Pada
Balita
Orang tua yang jeli akan menangkap tanda-tanda bayi / anak kurang memberikan
reaksi terhadap suara disekitarnya dan akan segera datang ke klinik guna evaluasi
pendengaran, tanpa menunggu usia anak lebih besar. Keterlambatan diagnosis
disebabkan masih adanya anggapan bahwa anak tidak memberikan respons terhadap
suara karena faktor usia atau karena anak yang kurang perhatian akan menyebabkan
tertundanya diagnosis secara dini.

Berdasarkan pengamatan pada 192 kasus anak dengan gangguan


fungsi pendengaran, didapati 12% keluhan datang dari orang tua
dan usia rata-rata diatas 2 tahun. Hanya 4% dibawah usia 1 tahun
yang semuanya dikirim oleh dokter anak karena riwayat kelahiran
dengan faktor resiko tinggi 4 .
Beberapa orang tua masih belum memahami masalah gangguan pendengaran pada
anak secara awal, karena masih adanya anggapan bahwa anak masih belum
responsif terhadap suara karena anak : cuek, bandel atau karena faktor usia anak
masih belum mengerti bagaimana harus memberi respons terhadap stimulus suara.
Anggapan tersebut mengakibatkan tertundanya diagnosis lebih awal karena sikap
menunggu sampai usia anak dianggap mampu memberikan respons atau dapat

dilakukan tes pendengaran. Pengalaman di klinik juga cukup banyak didapati


ketidak tahuan orang tua akan peranan pendengaran sebagai dasar perkembangan
bicara 4. Hal ini terbukti dari masalah yang dikemukakan orang tua pada saat
membawa anaknya ke klinik. Masalah yang masih sering dikemukakan adalah ,
anak saya belum bisa berbicara, jarang yang mengajukan pertanyaan tolong
diperiksa pendengarannya, karena saya curiga anak saya ada masalah pendengaran .
Bahkan ada beberapa orang tua yang mengemukakan kemungkinan ada masalah di
pita suara atau lidahnya yang membuat anak belum bisa berbicara 4,5.
Riwayat kecurigaan gangguan pendengaran oleh orang tua merupakan informasi
yang sangat berharga dalam diagnosis masalah gangguan pendengaran pada anakanak.
Misalnya, anak sama sekali tidak ada respons terhadap stimulus suara kecuali yang
keras atau anak memberikan respons karena dibantu input visual. Atau anak tidak
ada respons bila dipanggil, tetapi ada respons terhadap suara-suara lain seperti iklan
atau lagu-lagu anak di TV yang disukainya .
Respons anak terhadap stimulus dilingkungan yang sudah terbiasa di rumahnya
sendiri dengan orang-orang disekitarnya yang sudah dikenalnya dengan baik dapat
memberikan informasi yang berharga mengenai kondisi pendengarannya pada anak
yang pemalu, penakut yang mungkin tidak ada respons pada saat dilakukan tes di
klinik audiologi 6.

RIWAYAT / ANAMNESA RESPONS ANAK TERHADAP RANGSANG


SUARA
Informasi dari orang tua dengan tuntunan anamnesa yang cermat mengenai respons
anak terhadap rangsang suara dilingkungan sehari-hari dirumah dan kemampuan
vokalisasi dan cara pengucapan kata-kata anak sangat membantu menilai masalah
gangguan pendengaran dan perkembangan bicara-bahasa pada anak 3,5,6

Kecurigaan orang tua akan masalah gangguan pendengaran pada


anaknya. Kalau ada kecurigaan, dalam kondisi dan situasi yang
bagaimana . Apakah anak ada respons terhadap suara tertentu saja
,tetapi tidak ada respons terhadap suara yang lain. Bagaimana kekerasan
suaranya ? Bagaimana kondisi dan situasi saat pengamatan berlangsung.
Sepi / ramai. Apakah dibantu input visual atau organ sensorik yang lain
Usia 0-4 bulan : Apakah bayi kaget kalau mendengar suara yang sangat
keras ? Apakah bayi yang sedang tidur terbangun kalau mendengar
suara keras ?
Usia 4-7 bulan : usia 4 bulan apakah anak mulai mampu menoleh
kearah datangnya suara diluar lapangan pandang mata ? Apakah anak
mulai mengoceh di usia 5-7 bulan Sebelum usia 7 bulan apakah anak
mampu menoleh langsung ke arah sumber suara diluar lapangan
pandang mata ?
Usia 7-9 bulan. Apakah anak mampu mengeluarkan suara dengan nada
yang naik turun atau monoton saja ?
Usia 9-13 bulan. Apakah anak menoleh bila ada suara dibelakangnya ?
Apakah anak mampu menirukan beberapa jenis suara ? Apakah anak
sudah mampu mengucapkan suara konsonan seperti beh, geh , deh,
ma
Usia 13-24 bulan. Apakah dia mendengar bila namanya dipanggil dari
ruangan lain ? Apakah anak memberikan respons dengan bervokalisasi
atau bahkan datang kepada anda ? Kata-kata apa saja yang mampu
diucapkan ? Apakah kwalitas suara dan cara pengucapannya normal ?
Berikan contoh!
Informasi yang diperoleh dari orang tua mengenai respons anak terhadap suara dan
kemampuan berbicara disertai dengan penilaian kwalitas vokalisasi dan bicara pada
saat anak datang di klinik dapat di perkirakan derajat dan onset gangguan
pendengaran anak. Suara anak yang melengking tinggi tanpa bisa mengontrol
kekerasan suara dan hanya mampu mengeluarkan suara huruf hidup, kemungkinan

anak mengalami gangguan pendengaran derajad berat sejak dilahirkan. Apabila


kwalitas suaranya lebih baik kemungkinan gangguan pendengaran terjadi kemudian
setelah anak mampu berbicara.

Beberapa gejala pada anak dengan kemungkinan mengalami gangguan


pendengaran yang bisa diamati sehari-hari oleh orang tua 7,8,9
Kurang responsif terhadap suara suara yang ada disekitarnya : vacuum
cleaner, klakson mobil, petir
Anak kelihatannya kurang perhatian terhadap apa yang terjadi disekitarnya,
kecuali yang bisa dinikmati dengan melihat. Anak tidak mudah tertarik dengan
pembicaraan atau suara-suara yang ada disekelilingnya
Cenderung berusaha melihat muka lawan bicara dengan tujuan mencari
petunjuk dari gerak bibir dan ekspresi muka guna mendapat informasi tambahan apa
yang diucapkan . Anak kurang responsif apabila diajak bicara tanpa diberi
kesempatan melihat muka lawan bicara
Sering minta kata-kata diulang lagi
Jawaban yang salah dengan pertanyaan atau perintah sederhana
Kesulitan menangkap huruf mati/ konsonan
Anak hanya memberikan respons terhadap suara tertentu atau dengan
kekerasan tertentu
Anak memberikan respons yang tidak konsisten pada waktu yang berbeda.
kemungkinan mengalami gangguan pendengaran yang hilang timbul sebagai akibat
otitis media serosa. Orang tua sering menganggap karena anak cuek atau bandel,
hanya memberikan respons kalau anak sedang mau saja
Kesulitan menangkap pembicaraan didalam ruangan yang ramai. Anak
dengan gangguan pendengaran ringan atau sedang masih mampu menangkap
pembicaraan dilingkungan yang ribut seperti di kelas atau dirumah dengan suarasuara TV yang cukup mengganggu. Anak dengan pendengaran yang normal
mempunyai kemampuan mengatasi kesulitan di lingkungan mendengar yang sulit

Ucapan anak yang sulit dimengerti merupakan salah satu kemungkinan anak
mengalami gangguan pendengaran. Hal ini disebabkan anak tidak mampu
menangkap semua elemen pembicaraan dengan jelas sehingga anak akan mengalami
kesulitan meniru ucapan dengan betul dan baik. Anak juga akan mengalami
gangguan pola berbicara yang sering rancu dengan masalah intelegensinya
Bicara anak lemah atau bahkan terlalu keras. Hal ini menunjukkan bahwa anak
tidak mendengar suaranya sendiri. Anak yang bicaranya pelan kemungkinan
mengalami tuli konduktif karena anak dapat menangkap suaranya sendiri melalui
jalur hantaran tulang sekalipun hantaran udaranya mengalami gangguan. Anak
dengan tuli sensorineural akan berbicara lebih keras supaya bisa menangkap
suaranya sendiri
Kemampuan berbicara dan pemahaman kata-kata terbatas. Anak dengan
gangguan pendengaran akan mengalami penurunan kemampuan mendengar dan
memahami arti kata-kata sehingga menghambat proses perkembangan bicara
Nilai di sekolah menurun atau dibawah rata-rata kelas
Masalah tingkah laku, baik disekolah maupun dirumah

Tes pendengaran dengan pengamatan perilaku anak terhadap stimulus


suara ( Behavioral Observation Audiometry /BOA ) 10,11,12
Pada prinsipnya metode tes pendengaran pada anak dibedakan menjadi tes yang
subyektif berdasarkan pada pengamatan perilaku anak terhadap rangsang suara
( behavioral observation audiometry, visual re-inforcement audiometry ) dan tes
yang non behavioral atau obyektif dengan menggunakan alat elektrofisologik
( Auditory brainstem response / ABR, Auditory Steady State Response / ASSR ,
Otoacoustic Emission / OAE ).
Perubahan perilaku anak terhadap stimulus suara tergantung pada beberapa faktor
antara lain faktor usia, status mental yang mencakup kondisi mental anak, kemauan
melakukan tes, rasa takut, status neurologik yang berhubungan dengan
perkembangan motorik dan persepsi 3

Neonatus akan memberikan respons yang lebih spontan terhadap stimulus suara
dengan intensitas tinggi ( 115 dB SPL). Dengan semakin bertambahnya usia,
spontanitas respons terhadap suara menurun tergantung pada kemauan anak.
Selama ini masih ada yang beranggapan bahwa tes pendengaran secara pengamatan
perilaku (behavioral observation audiometry / BOA ) harus menunggu sampai anak
usia mampu berbicara sehingga dapat mengikuti prosedur tes, yang sebenarnya tidak
demikian . Tes BOA sudah dapat dilakukan pada semua usia mulai bayi baru lahir
dengan mempertimbangkan usia dan status perkembangan anak secara umum.
Tes behaviour cukup dapat memberikan nilai ketepatan, efisiensi dan cukup obyektif
apabila dilakukan oleh klinikus yang berpengalaman 10. Selain itu tes BOA cukup
relibel, cukup menyenangkan bagi anak-anak, cukup efisien dari segi waktu dan
beaya. Prinsip dasar tes BOA dapat dilakukan dengan conditioning atau
tanpa conditioning , tergantung pada faktor usia . Tes BOA sederhana yang sering
dilakukan di klinik Ibu dan Anak adalah dengan menggunakan benda / mainan yang
berbunyi seperti bel, terompet.

BOA non conditioning


Tehnik BOA sudah lama dikembangkan untuk evaluasi pendengaran anak-anak usia
< 18 bulan, sejak belum tersedia alat-alat elektrofisiologik 3
Tehnik yang non conditioning tidak menggunakan re-inforcer, hanya berdasarkan
pada hasil observasi reaksi perilaku anak terhadap rangsang bunyi. Tidak ada
ketentuan yang khusus mengenai penilaian reaksi bayi terhadap rangsang suara.
Metode sederhana yang selama ini dilakukan untuk screening pendengaran pada
neonatus dengan mengamati refleks Moro atau refleks startle . Prosedur tes dapat
dilakukan dengan stimulasi suara pada waktu bayi sedang tidur didalam box/tempat
tidur bayi di ruangan yang sunyi. Sebaiknya tanpa selimut sehingga gerakan-gerakan
anggota tubuhnya dapat diamati lebih jelas 3
Tidak ada definisi yang khusus mengenai reaksi bayi terhadap suara. Respons bayi
terhadap stimulus suara yang selama ini dipakai adalah berupa respons motorik

gerakan berupa sentakan tangan atau kaki, tangan terangkat kesamping, jari-jari
tangan mengembang, kaki terangkat dan kepala tergerak ke arah belakang . Pada
bayi dengan pendengaran normal, refleks startle timbul pada intensitas yang agak
tinggi yaitu sekitar 85 dB SPL. Dengan intensitas yang lebih tinggi : 105-115 dB
SPL dapat menimbulkan refleks auro-palpebral berupa kedipan mata atau mata lebih
terpejam pada saat mata tertutup sebagai respons terhadap stimulus suara 11,12
Respons perilaku non conditioning lain yang bisa diamati adalah perubahan ritme
gerakan-gerakan tertentu yang sedang dilakukan anak pada saat pemberian stimulus
bunyi. Misalnya pada bayi saat menghisap susu , tiba-tiba berhenti atau sebaliknya
justru frekuensi menghisapnya menjadi lebih cepat

Gambar 1. Ilustrasi respons sistem sonomotor. Contoh area yang direkam


dan respons yang timbul Dikutip dari Zerlin dan Naunton 1977 13

Gambar 2. Kemampuan respons anak usia 0-12 bulan terhadap stimulus suara
Sesuai perkembangan motorik ( Northern & Down 1001 )3
Pengamatan respons pada tes BOA perlu dipertimbangkan perkembangan anak
secara keseluruhan baik dari segi kepekaan menangkap suara dan perkembangan
motoriknya.
Ewing dan Ewing 1947 14, pertama kali melakukan tes pendengaran pada bayi
dengan menggunakan noise makers yang dibagi menjadi 3 kriteria : kriteria
distraksi, kooperatif dan kriteria respons. Ternyata pemberian signal frekuensi 4000
Hz lebih mudah menimbulkan respons dan kemampuan melokalisasi arah suara
lebih baik setelah usia 6 bulan 15 .

Tes Ewing, merupakan tes distraksi dengan mengamati respons anak berupa
menolehnya kepala tanpaconditioning dengan menggunakan 6 jenis stimulus yang
diberikan pada jarak 1 m di belakang anak 14
1.Bunyi : psss-psss untuk menggambarkan suara frekuensi tinggi
2.Suara frekuensi rendah : uuh- uuh
3.Suara sendok dan cangkir ( white noise )
4.Suara remasan kertas ( frekuensi 6000 Hz )
5.Suara bel (frekuensi puncak 2000 Hz )
6. Mainan giring-giring ( frekuensi puncak 4000 Hz )

Pada prinsipnya ada 4 jenis stimulus yang dipakai untuk refleks orientasi bayi
terhadap suara12:
Suara manusia atau kata-kata ( live voice )
Bunyi alat musik : perkusi ( genderang ) ,bel, triangle
Alat tiup : 120-1900 Hz
Suara-suara yang mudah dikenal : bunyi decak mulut, ketukan pintu, remasan
kertas atau plastik
Noise maker sederhana yang dapat dipakai untuk tes BOA screening 3, 7,15,16
Jenis Intensitas
Bola ping- pong diisi 6 butir beras panjang 40 dB 10 cm dibelakang telinga anak
diberi tangkai untuk pegangan ; tangkai
diputar2 secara perlahan
Terompet 100 dB SPL 10 cm dibelakang
telinga anak
Plastik diremas2 40 dB SPL 10 cm dibelakang telinga
Menggesek tepi cangkir dengan sendok 4000 Hz
Mengetuk dasar cangkir dengan sendok 900 Hz
Suara mulut sssss 4000 Hz
Suara mulut oe-oe-oe 250 Hz
Mainan dari karet yang berbunyi kalau 4000 Hz , 60 dB SPL

Dipencet ( squeeze toys )

AB
Gambar 2 A & B Alat untuk BOA dengan frekuensi yang spesifik
A.Infant audiometer
B.Tiga buah alat perkusi yang masing-masing menghasilkan frekuensi yang berbeda

Gambar 3. Noise maker untuk BOA ( frekuensi


tinggi )

BOA dengan conditioning


BOA dengan conditioning : VRA, TROCA, VROCA merupakan prosedur tes
pendengaran anak dengan menggunakan re-inforcer untuk meningkatkan respons
dan lebih memotivasi anak memberikan reaksi terhadap stimulus bunyi.
Karakteristik re-inforcer adalah pengalaman sensorik yang menyenangkan atau
aktivitas permainan yang diberikan dalam waktu yang pendek.
Visual Reinforcement Audiometry ( VRA)
VRA merupakan tes pendengaran yang sangat bermakna apabila dilakukan oleh
audiologis yang terlatih dan berpengalaman. 10 . Prinsip VRA adalah menilai
berpalingnya kepala anak terhadap stimulus suara denganconditioning. Untuk re-

inforcer dapat menggunakan lampu berkedip-kedip, mainan yang di beri iluminasi


lampu atau manual dengan menggunakan sarung tangan berbentuk boneka. 15.
Selain itu dapat juga cara dengan memberikan sanjungan misalnya dengan acungan
jempol, tepuk tangan atau menelus tangan/pipi ( pengalaman dengan elusan pipi
sangat bermanfaat pada kasus dengan kelainan ganda ) yang membuat anak senang
bahwa dia sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Fungsi pendengaran anak usia 1-3 tahun dapat dinilai dengan metode VRA dengan
hasil yang sangat bermakna apabila dilakukan oleh pemeriksa yang terlatih dan
berpengalaman 10 .
Ruang tes VRA menggunakan ruang yang cukup luas sehingga dapat menampung
sekitar 3 4 orang yang terdiri dari pemeriksa yang melakukan distraksi, anak dan
orang tua yang mendampingi anak selama tes, ruang untuk penempatan re-inforcer
berikut alat pengeras suara.
Prinsip dasar tes VRA adalah reinforce respons behavioral ( gerakan menolehnya
kepala terhadap suara dengan frekuensi spesifik disertai upah/hadiah/penghargaan
secara visual dengan mainan atau lampu yang berkedip. Anak diusahakan tertarik ke
arah bunyi dengan memberikan reinforce secara visual apabila anak menoleh ke
arah sumber bunyi. Frekuensi dan intensitas diubah-ubah untuk mendapatkan
ambang pada beberapa frekuensi. Gerakan kepala anak menoleh ke arah sumber
bunyi dikenal dengan refleks orientasi. Apabila bunyi diberikan berulang kali refleks
orientasi akan mengalami habituasi yang membuat anak kurang memberikan
respons . Diperlukan selingan tes dengan memberikan stimulus bunyi dari mainanmainan yang menarik untuk merangsang anak menoleh ke arah sumber bunyi.
Hubungan antara stimulus visual dan bunyi juga akan menimbulkan refleks
orientasi. Apabila anak cukup tertarik akan stimulus visual dan anak mampu
menghubungkan antara stimulus bunyi dan stimulus visual maka terjadi
mekanisme conditioning 17,18. Anak akan menoleh ke arah sumber bunyi dengan
tujuan melihat stimulus visual yang merupakan prinsip VRA : suara membuat kepala
menoleh ke arah suara yang kemudian di reinforce dengan stimulus visual. Stimulus
visual tidak selalu menarik perhatian anak-anak. Pada anak yang usianya lebih besar
dapat dengan cara memberikan sanjungan setiap kali anak memberikan respons

misalnya dengan acungan jempol, tepuk tangan atau menelus tangan/pipi.


Pengalaman dalam klinik audiologi pediatri, metode sanjungan dengan elusan dipipi
sangat bermanfaat pada kasus dengan kelainan ganda yang membuat anak merasa
senang bahwa dia sudah melakukan tugasnya dengan benar.

Gambar 4. VRA pada anak usia 11 bulan

Gambar 5. Setting ruangan untuk tes VRA


Prosedur TROCA dan VROCA
Tangible Reinforcement Operant Conditioning Audiometry / TROCA dan Variant
Reinforcement Operant Conditioning Audiometry /VROCA merupakan prosedur tes
pendengaran untuk anak-anak usia 24 36 bulan 15,16 . Prinsip dasar TROCA dan
VROCA , anak harus menekan tombol setiap kali mendengar rangsang
bunyi.Reinforcement yang dipakai apabila anak memberikan respon dengan benar
menggunakan obyek nyata misalnya kismis atau cereal bergula yang diatur unit
TROCA apabila respons yang diberikan benar anak akan menekan tombol dan
kismis akan keluar dari dispenser yang sudah tersedia 16 ( J.Gravel ). Anak yang
hiperaktif atau yang perhatiannya mudah beralih dapat dipakai metode tangible
reinforcement operant conditioning audiometry / TROCA. Anak pada umumnya
lebih memberikan respons dengan metode TROCA dan dengan tersedianyaalternate
conditioning technique seperti TROCA memungkinkan pengembangan metode tes
untuk menilai ambang speech dan ambang hantaran tulang 19 . Anak- anak pada
umumnya lebih menyukai metode tes tanpa pakai headphone . Seperti halnya tes
pengamatan perilaku / BOA pada umumnya, keberhasilan metode TROCA
tergantung pada paradigma conditioning 16 .
Penilaian fungsi pendengaran anak dengan pengamatan respons terhadap rangsang
suara sangat tergantung pada beberapa faktor 3,7,16 :

1. Ambang pendengaran
2. Usia anak dan pengalaman anak pernah mendengar rangsang suara yang sama
3. Perkembangan anak secara umum
4. Status mental
5. Kondisi anak pada saat pengamatan/ tes pendengaran
6. Jenis stimulus yang dipakai
Riwayat / anamnese mengenai respons anak terhadap stimulus suara sebaiknya
meliputi beberapa macam rangsang suara yang ada dilingkungan anak sehari-hari
seperti suara dering tilpon, acara iklan di TV, bel pintu , klakson mobil yang mau
masuk rumah, musik yang menawarkan ice cream , bunyi balon yang dijajakan di
jalan di depan rumah dsbnya. Yang penting dalam menilai respons anak terhadap
rangsang suara adalah : jangan melibatkan organ sensorik yang lain seperti : visual,
peraba, penciuman.
Prosedur tes conditioning pada anak usia pra- sekolah 20,21
Evaluasi audiologik anak usia prasekolah tetap memakai dasar metode reinforcement dengan menilai respons behavioral. Respons motorik diubah dengan
tetap mempertahankan kematangan fungsi motorik dan kognitif, penggunaan reinforcement berperan untuk mempertahankan perhatian dan motivasi selama tes
audiometri
Anak yang belum mampu menjalankan tes audiometri bermain, diperlukan
tehnikconditioning sebelum tes pendengaran dilakukan untuk melatih bagaimana
memberikan respons yang sederhana setelah pemberian stimulus suara. Stimulus
dapat menggunakan warble tone pada sound field atau nada murni apabila
menggunakan headphone. Tehnik conditioning dilakukan dengan suara yang agak
keras ( suprathreshold ) agar anak memahami jenis stimulus. Respons dapat
dilakukan dengan bermain seperti memasukkan kelereng kedalam kotak khusus atau
menyusun mainan setiap kali mendengar stimulus suara. Keuntungan cara tersebut
adalah apabila anak memberikan respons yang positif palsu (anak memberikan
respons padahal tidak ada stimulus ), dapat dikoreksi dengan cara mengambil
kembali mainan yang sudah dimasukkan, sehingga anak mengerti bahwa dia telah
melakukan respons yang salah.

Pada anak dengan kecurigaan gangguan pendengaran derajad sedang - berat


berdasarkan anamnese ( di rumah tidak respons terhadap suara apapun ), maupun
dari hasil tes sound field, pemberian contoh stimulus melalui vibrator (vibrotactile
conditioning ) dapat membantu anak lebih mudah memahami stimulus suara pada
tes audiometri nada murni (MSc, McGormick ).

Audiometri bermain / play audiometry 21


Anak yang cukup kooperatif , mau pakai headphone dan bisa diajarkan bagaimana
memberikan respons apabila mendengar suara dapat dilakukan metode audiometri
nada murni seperti tes pada orang dewasa. Hanya metode respons apabila
mendengar suara dilakukan dengan mainan, seperti memasukkan kelereng ke dalam
boks setiap mendengar suara.

Gambar 6. Play audiometry pada anak usia 5 tahun


Tes fungsi perseptif pada anak-anak 15,22,23
Tes diskriminasi kata-kata pada anak-anak mempunyai nilai yang tinggi untuk
mengetahui kemampuan reseptif pendengaran anak, tanpa dipengaruhi oleh
kemampuan ekspresifnya. Anak-anak usia 2.5 tahun atau lebih umumnya sudah
cukup matang mengenal kata-kata. Akan tetapi untuk tes kata-kata dengan
menggunakan headphone anak-anak belum bisa, sehingga umumnya menggunakan
tehnik ucapan langsung dan dengan menggunakan sound level meter .
Bahan tes berupa gambar gambar yang dapat dipilih dari perbendaharaan kata anak
sesuai dengan perkembangan anak secara individu. Bila kemampuan berbicara anak
terbatas, tetapi sudah mampu mengenal nama beberapa benda dengan menggunakan

gambar, dapat dipakai metode word intelligibility by picture identification test


( WIPI) dengan tehnik closed set dengan cara menunjuk gambar dengan benar.
Apabila anak sudah mampu berbicara dapat dipakai metode open set. Tes diulang
dengan setiap kali menurunkan intensitas suara .
Tes diskriminasi kata yang sederhana untuk anak dapat menggunakan materi tes
berupa gambar-gambar yang mudah dikenal oleh anak-anak. Orang tua bisa
membantu dengan memilih bahan tes berupa gambar-gambar yang sudah dikenal
oleh anaknya. Dengan menyebut nama benda dari belakang anak ( tanpa input visual
) anak diminta menunjuk gambar yang disebut atau menirukan nama benda sambil
menunjuk benda yang dimaksud. Materi gambar-gambar dalam bahasa Indonesia
untuk tes diskriminasi kata pada anak-anak saat ini telah tersedia serial gambargambar bisilabik yang telah disusun oleh Dahlia 24. Keuntungan tes dengan metode
seperti ini adalah, orang tua ikut menyaksikan bagaimana kemampuan anak, tidak
hanya fungsi pendengaran anak, akan tetapi juga kemampuan anak mengenal namanama benda yang memerlukan integritas yang lebih tinggi .

Gambar 7.Tes fungsi persepsi pada anak usia 5 tahun


KESIMPULAN
Gangguan pendengaran pada anak perlu dideteksi seawal mungkin mengingat
pentingnya peranan fungsi pendengaran dalam proses perkembangan bicara.
Identifikasi gangguan pendengaran pada anak secara awal dengan cara pengamatan
reaksi anak terhadap suara atau tes fungsi pendengaran dengan metode dan peralatan
yang sederhana, perlu difahami oleh semua profesi di bidang kesehatan yang banyak
menghadapi bayi dan anak. Penilaian fungsi pendengaran pada anak-anak
memerlukan pemahaman, latihan dan pengalaman klinis yang cukup luas. Hasil
pemeriksaan berdasarkan pengamatan tingkah laku anak terhadap stimulus suara
sangat dipengaruhi oleh keterbatasan perkembangan dan kematangan bayi/ anak.
Dengan demikian pemilihan jenis tes BOA perlu disesuaikan dengan situasi dan
kondisi masing-masing anak secara individu
Saat ini sudah banyak metode untuk menilai fungsi pendengaran anak baik secara
subyektif maupun obyektif Tes pendengaran secara obyektif dibidang audiologi
dengan peralatan elektrofisiologik saat ini sudah banyak dikembangkan di beberapa

Rumah Sakit dan klinik seperti ABR, ASSR, elektroakustik imitans,OAE yang
sangat berharga dalam diagnostik fungsi pendengaran . Keuntungan pemeriksaanpemeriksaan tersebut tidak tergantung usia , sehingga masalah gangguan
pendengaran dapat dideteksi secara dini. Tes pendengaran pada anak tidak bisa
ditunda hanya dengan alasan usia anak belum memungkinkan untuk dilakukan tes
pendengaran.
Yang perlu dipertimbangkan adalah penilaian fungsi pendengaran pada anak-anak
merupakan proses yang dilakukan secara berkelanjutan dan harus dipandang sebagai
bagian yang integral dalam menangani gangguan pendengaran pada anak .
DAFTAR PUSTAKA
Jerger,J.F and Hayes,D : The Cross-check Principle in Pediatric Audiometry. Arch
Otolaryngol. 1976. 102 : 614-620
Finitzo-Hieber ,T : Auditory Brainstem Response : Its place in Infant Audiological
Evaluations. Sem Speech Lang and Hear. 1982. 3: 76- 86
3. Northern,J.L and Down,M.P : Behavioral Hearing Testing in Children. In :
Hearing test in Children. 4rd ed. Williams & Wilkins 1991. pp 139 187
4. Abiratno, S.F : Hearing loss in Children. Observation on Parents Concern of
Children Hearing Impairment and the first hearing Evaluation.Presented in the
Asean Pasific Conference for the Deaf. Jakarta July 31st- August 4th ,1989
Abiratno,S.F : Gangguan Perkembangan Bicara dan Bahasa ditinjau dari Bidang
THT. Seminar Keterlambatan Bicara dan Bahasa pada Anak. RS Fatmawati Jakarta
26 Januari 2002
Abiratno,S.F : Deteksi dini gangguan fungsi pendengaran dan perkembangan bicara
pada anak. Anamnesa dan tes pengamatan tingkah laku terhadap rangsang suara.
Pelatihan Dokter Puskesmas dalam upaya Kesehatan telinga Komunitas. RS Hasan
Sadikin Unpad Bandung 15-16 September 2001
Bellman,M : Hearing test in Children. MSc Course in Audiological
Medicine. University College London1990
Martin J.A.M : Auditory Communication Disorders of Childhood.Clinical and
Practical. MSc in Audiological Medicine Course. University College London. 1989

9. Law,J. The Development of Early Communication. In: The Early Identification of


Language Impairment in Children.Ed: Law.J. Chapman & Hall.London 1992. pp
pp 1-14
Birtles , G.J : A Visual Re-inforcement Orientation Audiometry Screening
Procedure. Aust. J.Aud 1989. 11 : 1-9
Johansson,R.K and Salmivalli,A. Arousing Effects of Sounds for testing Infants
Hearing Ability. Audiology 1983. 22: 417-420
Junker,K.S : Selective Attention in Infants and Consecutive Communicative
Behaviour. Acta Ped. Scan Suppl 231. 1972 pp 21
Zerlin,S dan Naunton,R.F : Electrocochleographic Detection of Hearing Impairment.
In : ChildhoodDeafness.Causation,Assessment& Management. Bess,F (Ed).Grunne
Stratton.1977
Ewing,I.R and Ewing, A.W.G : The Ascertainment of Deafness in Infancy and Early
Childhood.J.Laryng 1944, 59: 309-333.
McGormick,B. Behavioral Hearing Tests for 6 mo- to 3.6 yrs. In: Pediatric
Audiology 0-5 yrs. McGorick (Ed) 1993. Whurr Publ Ltd
Gravel,J.S . Behavioral Audiologic Assessment .In : Pediatric Otology and
Neurotology. Lalwani,Akand Grundfast,K.M ( Ed ). Lippincot-Raven
Pub Philadelphia . 1998 pp 103 111
Liden G and Kankkunen A. 1969. : Visual Reinforcement Audiometry. Acta
Otolaryng 67: 281-292
Bamford,J and McSporran,E : Visual Reinforcement Audiometry. In :Barry
McGormick (Ed): Paediatric Audiology 0-5 years. 2nd ed Whurr
Publisher London 1993
Bess,F : Childhood Deafness. Causation ,Assessment & Management. (Ed).Grunne
Stratton.1977
Matkin N : Assessment of Hearing Sensitivity during the Preschool Years . In : Bess
FH (Ed): Childhood Deafness . New York .Grune Stratton 1977
Haug, O, Baccaro,P dan Guilford,F . 1967. A pure tone audiogram for children under
three years of age: Audiogram on the infant : The PIWI technique .Arch Otolaryngol
86: 435 - 440

Kirk, K.I, Diedendorf,A.O, Pisoni,D.B and Robbins,A.M : Assessing Speech


Perception in Children. In : Audiologic Evaluation and Management and Speech
Perception Assessment .Mendel,L.L and Danhauer,J.L (Ed). Singular Pub. Group Inc
San Diego-London 1997 .pp 101 131
Jerger,S .Jerger,J .1983. Pediatric Speech Intelligibility Test. Performance intensity
characteristic. Ear Hear 4: 138-145
Dahlia Eka Sartika : The Development of a Speech Test for Children in Indonesian
Language or Bahasa Indonesia . 1999. Thesis Master of Audiology. Speech, Hearing
& Language Research Centre. McQuire University Sydney