Anda di halaman 1dari 18

Makalah

PENGOLAHAN IKAN PEDA DAN BAKASANG

OLEH:
NURFADHILA SAFITRI ARSYAD
632 413 002
THPi A

TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


FAKULTAS ILMU PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2016

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang

Page 1

KATA PENGANTAR
Pertaman-tema saya ingin mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang
Maha Esa yang telah meridhoi saya. Sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Saya
juga mengucapkan terimakasih begi seluruh pihak yang telah membantu saya dalam
pembuatan makalah ini dan berbagai sumber yang telah saya pakai pakai sebagai data
dan fakta pada makalah ini.
Saya mengakui bahwa saya adalah manusia yang mempunyai keterbatasan
dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan
makalah ini yang telah saya selesaikan. Tidak semua hal dapat saya deskripsikan
dengan sempurna dalam makalah ini saya melakukannya semaksimal mungkin
dengan kemampuan yang saya miliki dimana saya juga memiliki keterbatasan
kemampuan.
Saya akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang
dapat memperbaiki makalah saya di masa yang akan datang. Sehingga semoga
makalah berikutnya dan makalah lain dapat diselesaikan dengan hasil yang baik.
Dengan menyelesaikan makalah ini saya mengharapkan banyak menfaat yang dapat
dipetik dan diambil dari makalah ini.
Semoga dengan adanya makalah ini dapat mengurangi, bahkan menghilangkan
penggunaan boraks dan formalin sebagai pengawet pada makanan khususnya pada
proses pembuatan ikan asin. Dengan begitu makanan kesehatan akan lebih terjamin
dan tidak ada lagi mucul berbagai penyakit.
Gorontalo, Februari 2015

Penyusun

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang

Page 2

DAFTAR ISI
Kata Pengantar....................................................................................................2
Daftar Isi...............................................................................................................3
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.................................................................................................4
1.2 Tujuan..............................................................................................................5
BAB II Pembahasan
2.1 Bakasang .........................................................................................................6
2.1.1 Proses Pembuatan Bakasang....................................................................6
2.1.2 Fermentasi Bakasang...............................................................................7
2.1.3 Mikroorganisme yang Berperan dalam Pembuatan Bakasang................10
2.2 Ikan Peda.........................................................................................................11
2.2.1 Pembuatan Peda dari Ikan Laut...............................................................11
2.2.2 Pembuatan Peda dari Ikan Air Tawar.......................................................13
2.3 Mutu Peda Ikan Air Tawar dan Ikan Laut ......................................................14
2.3.1 Mutu Peda Ikan Laut...............................................................................14
2.3.2 Mutu Peda Ikan Air Tawar.......................................................................14
BAB III Penutup..................................................................................................17
Daftar Pustaka

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang

Page 3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan merupakan salah satu sumber protein yang paling digemari oleh
masyarakat, karena kandungan proteinnya tinggi dibandingkan dengan kandungan
gizi lainnya (lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral).Selain itu ikan juga memiliki
rasa yang cukup gurih, mudah diperoleh, dan harganya terjangkau.Produk perikanan
memiliki kelemahan utama yang mudah mengalami pembusukan akibat pengaruh
fisiologis, mekanis, fisis kimiawi, dan mikrobiologis (Winarno et al., 1984). Upaya
mempertahankan mutu ikan agar tetap baik maka diperlukan suatu proses pengolahan
dan pengawetan ikan guna memperpanjang daya tahan mutunya (Afrianto &
Liviawaty, 1989).
Salah satu teknik pengolahan ikan yang sederhana dan mudah adalah
fermentasi. Fermentasi merupakan proses penguraian senyawa organikkompleks
menjadi senyawa yang lebih sederhana. Keunggulan produk fermentasi adalah
membantu mengawetkan makanan, memiliki cita rasa yang unik, dan meningkatan
nilai ekonomi (Hutkins, 2006).Contoh produk fermentasi yang banyak dikenal
masyarakat karena pembuatannya mudah dan murah adalah ikan pedadan bakasang.
Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan peda adalah ikan
kembung (Rastrelliger sp.). Proses pembuatan ikan peda sengaja dibiarkan setengah
basah agar proses fermentasi tetap berjalan. Proses fermentasi peda umumnya secara
spontan, pembuatannya memanfaatkan mikroorganisme yang berperan aktif dalam
proses fermentasi berkembang biak secara spontan karena lingkungan hidupnya yang
dibuat sesuai untuk pertumbuhannya (Desniar, 2009).Pengolahan ikan peda umumnya
menggunakan garam selama proses fermentasi.
Bakasang atau bekasang adalah produk fermentasi jeroan ikan berupa larutan
kental, dibuat dari jeroan ikan melalui fermentasi dengan penambahan garam, yang
rasanya asam dan biasanya disajikan untuk pelengkap lauk dengan dibumbui cabai
Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang

Page 4

dan gula. Bakasang umumnya berasal dari jeroan ikan cakalang yang termasuk
golongan ikan scombroid dari famili scombroidae. Jenis ikan tersebut mengandung
banyak histidin bebas dalam jaringan dagingnya. Proses penanganan dan pengolahan
dilakukan dengan tidak benar menyebabkan histidin bebas tersebut dapat berubah
menjadi histamin karena dekarboksilasi dan aktivitas bakteri pembentuk histamin.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui proses pengolahan bakasang dan ikan peda.

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang

Page 5

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bakasang
Bakasang atau bekasang adalah produk fermentasi jeroan ikan berupa larutan
kental, dibuat dari jeroan ikan melalui fermentasi dengan penambahan garam, yang
rasanya asam dan biasanya disajikan untuk pelengkap lauk dengan dibumbui cabai
dan gula. Bakasang umumnya berasal dari jeroan ikan cakalang yang termasuk
golongan ikan scombroid dari famili scombroidae. Jenis ikan tersebut mengandung
banyak histidin bebas dalam jaringan dagingnya. Proses penanganan dan pengolahan
dilakukan dengan tidak benar menyebabkan histidin bebas tersebut dapat berubah
menjadi histamin karena dekarboksilasi dan aktivitas bakteri pembentuk histamin.
2.1.1

Proses Pembuatan Bakasang


Bakasang istimewa karena pembuatannya membutuhkan waktu kurang lebih
satu minggu (tergantung pada jenis ikan). Untuk membuat bakasang dibutuhkan ikan
cakalang yang digiling halus. Daging giling dicampur dengan garam dan diungkep
selama satu minggu dan jadilah bakasang. Umumnya dilakukan penambahan bumbu
dengan cara mencampurkan satu sendok adonan bakasang diulek bersama cabai
sesuai selera dan perasan jeruk limau. Sambal biasanya ditambahi irisan bawang
merah, tomat, dan sedikit minyak goreng supaya sedap dan gurih. Berikut ini adalah
gambar bakasang yang biasa dikonsumsi masyarakat di daerah Manado dalam bentuk
sambal :

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang

Page 6

Gambar 1. Sambal Bakasang


(Sumber: www.resepmasakanindonesia.info.com)
2.1.2

Fermentasi Bakasang
Proses fermentasi yang terjadi pada ikan merupakan proses penguraian secara
biologis atau semibiologis terhadap senyawa-senyawa kompleks terutama protein
menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dalam keadaan terkontrol. Selama
proses fermentasi,protein ikan akan terhidrolisis menjadi asam-asam amino dan
peptida yang berperan dalam pembentukan cita rasa produk. Jika ke dalam bahan
mentahnya ditambahkan sumber karbohidrat, misalnya pati atau nasi, maka selama
fermentasi akan terjadi pemecahan pati menjadi komponen-komponen yang lebih
sederhana seperti asam dan alkohol (Rahayu et al. .1992; Winarno et al.1993).
Produk akhir fermentasi ikan dapat berupa ikan utuh, pasta atau saus. Prinsip
pengawetan pada produk fermentasi ikan disebabkan oleh beberapa faktor, di
antaranya penurunan aktivitas air oelh garam, gula, pengeringan, dan dikombinasikan
dengan penurunan pH oleh bakteri pembentuk asam (Rahayu, et al.1992). bakasang
adalah suatu produk fermentasi ikan berupa larutan kental (semisolid) dan dibuat
melalui fermentasi dengan medium garam yang akan menghasilkan produk dengan
rasa asam dan biasanya disajikan sebagai pelengkap lauk. Bakasang umumnya juga
diberikan tambahan bumbu cabai dan gula. Bakasang merupakan salah satu produk
fermentasi oleh mikroba fermentatif yang disebut bakteri asam laktat (Gunena. 2000;
Ijong dan Ohta. 1995).

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang

Page 7

Bakasang digolongkan dalam fermentasi spontan karena dalam pembuatannya


dilakukan penambahan garam dan tidak menambahkan starter mikroba maupun
karbohidrat. Produk fermentasi yang dibuat menggunakan kadar garam tinggi tidak
dapat digunakan sebagai alternatif makanan untuk memenuhi kebutuhan protein
sehari-hari karena rasanya yang terlalu asin sehingga jumlah yang dapat dikonsumsi
hanya sangat terbatas. Produk-produk semacam ini biasanya digunakan sebagai bahan
perangsang makan, penyedap makanan atau bumbu. Proses fermentasi ikan
merupakan proses biologis atau semi-biologis yang pada prinsipnya dapat dibedakan
atas empat golongan (Rahayu, et al.1992) yaitu :
1. Fermentasi menggunakan kadar garam tinggi, misalnya dalam pembuatan
peda, kecap ikan, dan bakasang
2. Fermentasi menggunakan asam-asam organik, misalnya dalam pembuatan
silase ikan dengan cara menambahkan asam-asam propionat dan format
3. Fermentasi menggunakan asam-asam mineral, misalya dalam pembuatan
silase ikan menggunakan asam-asam kuat
4. Fermentasi menggunakan bakteri asam laktat, misalnya dalam pembuatan
bakasang
Khusus pada pembuatan bakasang terjadi fermentasi garam dengan cara basah
yang juga berlanjut dengan fermentasi laktat. Menurut Bahlawan dan Farida (2010)
pada jurnal yang mempelajari mengenai reaksi kimia pada pembuatan bakasang,
Fermentasi garam dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu :
a.

Fermentasi dengan cara penggaramankering, biasanya dilakukan terhadap

b.

ikan-ikan yang mempunyai kandungan lemak rendah.


Fermentasi dengan cara penggaraman basah, yaitu merendam di dalam
larutan garam dan cara tersebut biasanya dilakukan terhadap ikan-ikan
berlemak tinggi.

Penambahan garam dalam fermentasi ikan mempunyai beberapa fungsi antara lain :
a. Meningkatkan rasa ikan
b. Membentuk tekstur yang diinginkan

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang

Page 8

c. Mengotrol mikroorganisme, yaitu merangsang pertumbuhan


mikroorganisme yang diinginkan berperan dalam fermentasi, dan
menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan patogen.
Fermentasi dengan cara penggaraman basah biasanya juga terjadi fermentasi
laktat. Pada cara itu, sering ditambahkan cuka, bumbu-bumbu dan bahan pengawet
lainnya. Fermentasi asam laktat dapat terjadi sebagai akibat aktivitas bakteri asam
laktat yang dibedakan menjadi dua kelompok yaitu :
1. Bakteri asam laktat homofermentatif.
Bakteri ini dapat mengubah 95% dari glukosa atau heksosa lainnya menjadi
asam laktat. Karbondioksida dan asam-asam volatil lainnya juga dihasilkan, tetapi
jumlahnya sangat kecil. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
C6H12O6 --------------------------------> 2CH3CHOHCOOH
Homofermentatif

(Asam Laktat)

2. Bakteri asam laktat heterofermentatif.


Bakteri ini mengubah glukosa dan heksosa lainnya menjadi asam laktat,
etanol, asam asetat, asam format dan CO2 dalam jumlah yang hampir sama. Berikut
ini adalah reaksi kimia yang terjadi :
C6H12O6---------------------------> CH3COCOOH + CH3COOH + CO2
(Glukosa piruvat)

(asam asetat)

3H2 -------------------> CH3CHOHCOOH ------------> CH3CHO


(Asam laktat)
(Asetaldehid)

CH3CH2OH
(Etanol)
2.1.3

Mikroorganisme yang Berperan dalam Pembuatan Bakasang

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang

Page 9

Daengsubha (1998) melaporkan bahwa dari produk Plaa-ra (produk sejenis


bakasang yang berasal dari ikan air tawar di Thailand) dengan waktu fermentasi
selama 6 bulan telah ditemukan mikroba seperti Bacillus, Pediococcus halophilus,
Micrococcus sp., dan Staphylococcus epidermis dengan komposisi terdiri dari 7,95%20,28% protein, 11,61-23,82% garam, pH 4,0-6,90 serta terdapat 0,71-1,94% asam
laktat. Sumanti (1998) berhasil melakukan isolasi dan identifikasi bakteri halofilik
selama fermentasi jeroan ikan cakalang, ditemukan bakteri seperti Micrococcus,
Halobacterium salinarum, Staphylococcus sp., dan Bacillus sp. Pada fermentasi
bakasang ikan sardin yang diteliti oleh ijong dan Ohta (1995), ditemukan bakteri
asam laktat Lactobacillus pada pH 5,5-5,9 menggunakan kadar garam 20% dan lama
fermentasi 14 hari.
Miroba yang berhasil diisolasi dari bakasang ikan mujair ditemukan
Lactobacillus, Streptococcus, Staphylococcus, Bacillus, Clostridium, Micrococcus,
Enterobacter, Enterococcus, dan Streptpcoccus dengan pH 5-7 selama 2 hari
fermentasi (Gunena, 2000).

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang Page 10

2.2 Ikan Peda

2.2.1

Pengolahan Peda dari Ikan Laut


Ikan-ikan kembung yang akan diproses, dibersihkan dari kotorankotoran yang
melekat pada bagian luar badan ikan dan isi perut. Pembuangan isi perut atau jerohan
yaitu dengan cara mengambil atau mengangkat kedua insang, maka dengan
sendirinya isi perut akan terangkat sekalian. Selanjutnya ikan dicuci dengan air
bersih, didalam pencucian ini sebaiknya digunakan air yang mengalir dan untuk
menjaga ikan tidak rusak serta bersih, maka pencucian ini dilakukan seekur demi
seekor.
Setelah ikan bersih dari kotoran yang melekat pada badan, bersih dari lender,
darah kemudian ikan ditiriskan dengan posisi mulut menghadap kebawah, hal ini
dilakukan selama lebih kurang 30 menit. Disiapkan garam dapur yang akan
digunakan sebanyak 25% dari berat ikan yang dibuat peda. Dari jumlah garam yang
akan digunakan dibagi menjadi dua bagian yaitu 90% untuk penggaraman tahap
pertama, dan 10% lagi digunakan untuk penggaraman tahap kedua. Adapun cara
pengolahannya adalah sebagai berikut:
1. Penggaraman Tahap Pertama
Ikan kembung dan garam yang telah ditentukan beratnya, disusun berlapis-lapis
antara garam dan ikan didalam tong plastik sehingga seluruh bagian tubuh ikan
terlumuri garam. Kemudian ditutup dengan daun pisang kering dan diatasnya ditutup
dengan papan yang dibuat lingkaran atau tampah, kemudian diberi pemberat dari
batu. Hal ini dimaksudkan agar ikan tersebut dapat terendam oleh air garam yang

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang Page 11

terbentuk. Selanjutnya tong yang berisi ikan tersebut disimpan di tempat bersih
selama 3-5 hari.
Setelah disimpan selama 3-5 hari (penggaraman pertama), ikan-ikan tersebut
dibongkar atau diangkat keluar kemudian dibersihkan dari sisa-sisa garam atau
kotoran yang masih menempel pada tubuh ikan dengan air bersih atau larutan garam
10% atau untuk membersihkan kotoran itu bisa digunakan larutan garam yang
terbentuk. Setelah dicuci bersih selanjutnya ikan-ikan tersebut ditiriskan selama lebih
kurang 24 jam (didalam penirisan tersebut jangan sampai terkena matahari.
Penirisan dilakukan diatas para-para atau tampah yang diatasnya diberi penutup
sehingga ikan-ikan tersebut tidak dhinggapi lalat atau hewan lainnya. Ikan-ikan
tersebut jika dipegang telah kelihatan kering atau kesat, maka dilanjutkan dengan
proses penggaraman kedua.
2. Penggaraman Tahap Kedua
Pada penggaraman tahap kedua ini, ikan-ikan tersebut dimasukkan kedalam
tong plastik, disusun berlapis-lapis antara ikan dan garam. Sedang garam yang
digunakan adalah garam yang telah disisakan sebanyak 10%. Setelah seluruh tubuh
ikan terlumuri garam, maka diatas ikan ditutup dengan daun pisang kering dan
kemudian disimpan selama 5-7 hari ditempat yang bersih. Pada penggaraman ini bias
ditambahkan bibit peda yang dihancurkan dengan garam. Jumlah bibit peda yang
digunakan sebesar 0,01% dari berat ikan, atau dengan melumuri ikan dengan minyak
ikan.
Cara pembuatan bibit peda sebagai berikut : Bibit peda dibuat dari peda yang
telah dipisahkan dari tulang, kulit, sirip dan kepala. Daging peda selanjutnya
dikeringkan di bawah sinar matahari atau dapat menggunakan oven pengering yang
suhunya 40C (selama 48 jam). Daging ikan yang sudah kering ditumbuk sampai
halus (diayak) atau diblender). Penggunaan bibit peda tergantung pada berat ikan dan
untuk menyimpan bibit peda ini sebaiknya disimpan didalam botol dan ditempat
kering. Dengan penambahan bibit peda ini diharapkan peda yang dihasilkan
mempunyai mutu yang lebih baik dan waktu fermentasi dapat dipercepat.
Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang Page 12

2.2.2

Pengolahan Peda dari Ikan Air Tawar


Ikan yang digunakan dalam pembuatan peda ini adalah ikan mas (Cyprinus
carpio L), ikan mujair (Tilapia mossambica Peters), dan ikan tawes (Puntius javanicus
Blkr). Cara pengolahannya adalah sebagai berikut :
1. Ikan dibuang isi perut dan insang, lalu dicuci dengan air besih dan ditiriskan,
2. Ikan lalu dilumuri dengan garam, jumlah garam yang dipakai kurang lebih 30%
dari berat ikan, termasuk yang diperlukan selama fermentasi.
3. Ikan dibiarkan didalam bak penggaraman selama 3 hari,
4. Kemudian ikan diangkat dari bak, lalu dicuci dengan air bersih dan ditiriskan
sambil dianginkan.
5. Setelah permukaan kelihatan kering, lalu diatur berlapis-lapis didalam besek
yang telah dilapisi kertas Koran. Diantara lapisan ikan, diberi lapisan garam
yang tadinya disisakan.
6. Besek yang telah penuh diatas ditutupi dengan kertas Koran dan disimpan di
tempat yang teduh.
7. Setelah 3 hari lalu

dilakukan

penganalisaan,

demikian

selanjutnya

penganalisaan dilakukan setelah satu minggu dan setelah dua minggu.

2.3.1

2.3 Mutu Peda Ikan Laut Dan Peda Ikan Air Tawar
Mutu Peda Ikan Laut

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang Page 13

Peda yang bermutu baik mempunyai kadar air 44%-47%, lemak 7- 15% dan
kadar protein 21-25% serta kadar garam 15-17%. Peda yang dibuat dari ikan
kembung perempuan mempunyai cirri-ciri sebagai berikut : a). Warna coklat
kemerah-merahan, b). kandungan lemak berkisar antara 7-15%, c). daging lunak
warna daging merah segar, d). pH berkisar antara 6,2-6,4 dan d).bau spesifik dan
rasanya khas peda.
Peda putih kering yang dibuat dari ikan kembung lelaki mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut : a). Warna ikan putih kotor, b). Kandungan lemak 2-7%, c). Warna
daging kekuning-kuningan,d). bau dan rasanya kurang khas. Mengenai komposisi
peda yang dibuat dari ikan kembung dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi peda ikan kembung
No.
1.
2.
3.
4.
2.3.2

Komposisi
Protein
Warna
Aroma
Tekstur

Peda
28%
Merah
Bau Khas
Masir

Mutu Peda Ikan Air Tawar


Pengamatan organoleptik dari ketiga jenis ikan air tawar yang dijadikan sebagai
bahan baku pembuatan peda adalah sebagai berikut: a). Kulit, masih agak mengkilat
berarti ikab masih belum membusuk, b). Tekstur daging masih agak liat, c). Warna
daging putih, d). Aroma daging mentah tidak tercium, bau anyir atau bau amoniak, e).
Daging masak setelah digoreng maka tercium bau ikan asin yaitu bau harum, dan f).
Daging mentah terasa liat dan asin, tetapi setelah digoreng rasa dagingnya enak dan
empuk. Mengenai komposisi kimia peda yang dibuat dari ikan air tawar dapat dilihat
pada Tabel 2
Tabel 2. Komposisi kimia peda ikan air tawar

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang Page 14

Selanjutnya mengenai perbandingan antara kadar protein dan kadar air ikan
segar dengan hasil pengolahan peda dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Perbandingan antara kadar protein dan kadar air ikan segar dengan
kadar protein dan kadar air hasil pengolahan peda

Dari Tabel diatas dapat dilihat bahwa adanya perbedaan kadar air, perubahan
kadar protein sebagai akibat dari fermentasi. Selanjutnya mengenai perbandingan
mutu organoleptik antara peda ikan laut dengan peda ikan tawar dapat dilihat pada
Tabel 4.
Tabel 4. Perbandingan mutu organoleptik antara peda laut dengan peda Tawar

Pada Tabel 4 di atas terlihat bahwa antara peda air tawar dengan peda laut
terdapat perbedaan mutu organoleptik. Pada peda air laut aromanya berbau khas
sedangkan pada peda air tawar tidak berbau. Begitu juga dengan tekstur pada peda air
tawar bersifat agak liat sedangkan pada peda laut teksturnya masir. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa tidak semua jenis ikan dapat menghasilkan peda yang sama

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang Page 15

dengan ikan kembung meskipun proses pembuatannya sama. Hal ini disebabkan
karena jenis-jenis bacteria yang sanggup menghasilkan plakalbumin tidak sama
banyaknya sehingga mengakibatkan hasil yang berlainan.

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang Page 16

BAB IV
KESIMPULAN
1. Peda adalah salah satu produk olahan tradisional yang banyak diusahakan oleh
nelayan pengolah untuk meningkatkan nilai tambah hasil ikan
2. Selama ini produk peda banyak dibuat dari ikan laut terutama dari jenis kembung,
sedangkan pembuatan peda dari ikan air tawar belum pernah dilakukan.
3. Pembuatan peda dari ikan air tawar walaupun tidak dapat menghasilkan peda yang
sama dengan ikan kembung walaupun proses pembuatannya sama, tetapi setidaknya
pengolahan ini dapat memperbaiki mutu protein pedanya.
4. Bakasang atau bekasang adalah produk fermentasi jeroan ikan berupa larutan kental,
dibuat dari jeroan ikan melalui fermentasi dengan penambahan garam

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang Page 17

DAFTAR PUSTAKA
Anwan Nur dan M.Sjachri. 1979. Fermentasi Ikan Tradisional . Kerjasama Tropical
Products Institut Ministry of Overseas Development London dengan
Departemen Pertanian Ri. Jakarta.
Aonim, 1982. Penuntun Teknik Pengolahan Peda. Direktorat Jenderal Perikanan.
Departemen Pertanian RI, Jakarta.
Hong,L.G. 1979. Jumlah Protein Ikani dalam Protein Makanan Sehari-hari
Masyarakat Indonesia Menurut Neraca Bahan Makanan dan Konsumsi Susenas
1976s. Lembaga Teknologi Perikanan, Jakarta.
Ilyas, S. 1979. Memperkembangkan Metode Pengolahan Tradisional Hasil Perikanan
Indonesia. Lembaga Teknologi Perikanan, Jakarta
Saraswati, E.D.. 2012. Makanan Fermentasi Khas Daerah Bakasang dan SilaseIkan.
Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Universitas Padjadjaran
Sukarsa,D.R.1979. Pembuatan Peda dari Ikan

Pengolahan Ikan Peda dan Bakasang Page 18