Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris) (Vaughan & Asbury, 2013).
Radang konjungtiva (konjungtivitis) adalah penyakit mata paling umum di
dunia, penyakit ini bervariasi dari ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis
berat dengan banyak sekret purulen kental. Penyebabnya umumnya eksogen, namun
dapat endogen (Vaughan & Asbury, 2013).
Konjungtivitis dapat disebabkan bakteri seperti konjungtivitis gonokok, virus,
klamidia, alergi toksik dan mulluscum contagiosum. Gambaran klinis yang terlihat
pada konjungtivitis dapat berupa hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva),
lakrimasi, eksudat dengan sekret yang berlebih nyata pada pagi hari, pseudoptosis
akibat kelopak yang membengkak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran,
pseudomembran, granulasi, flikten, mata merasa seperti adanya benda asing dan
adenopati preaurikular (Shidarta Ilyas, 2009).
Pengobatan pada konjungtivitis bakteri akut biasanya jinak dan dapat sembuh
sendiri, berlangsung kurang dari 14 hari. Penggunaan obat antibakteri yang tersedia
biasanya dapat menyembuhkan dalam beberapa hari. Pada konjungtivitis bakteri
hiperakut (purulen) yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae atau Neisseria
meningitidis dapat menimbulkan komplikasi yang berat (Vaughan & Asbury, 2013).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
.1 Latarbelakang
Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan
kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di
limbus(Vaughan & Asbury, 2013).
Konjungtivaterbagiatas 3 yaitu :
1. Konjungtivapalpebralmelapisipermukaanposteriorkelopak matadan melekat
kerat ke tarsus.
2. Konjungtiva

bulbimenutupiskleradan

mudahdigerakkan

dari

skleradibawahnya.
3. Fornixtempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi (Shidarta
Ilyas, 2009).
Secara histologis konjungtiva terbagi atas:
1. Lapisan epitel konjungtiva.
Terdiri atas dua hingga lima lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial
dan basal. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval
yang mensekresikan mukus.
2. Stroma konjungtiva.
Dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan fibrosa
(profundus).
Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan beberapa tempat dapat
mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan
adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan.
Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada
lempeng tarsus. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.
Kelenjar lakrimal aksesorius (kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur
dan

fungsinya mirip dengan kelenjar lakrimal terletak didalam stroma.

Kelenjar Krause berada di forniks atas, sisanya terdapat di forniks bawah.


Kelenjar Wolfring terletak ditepi atas tarsus (Vaughan & Asbury, 2013).
Pendarahan, Limfatik dan Persarafan:
Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri ciliaris anterior dan arteri palpebralis.
Pembuluh limfe konjungtiva tersusun didalam lapisan superfisial dan profundus dan
bergabung dengan pembuluh limfe palpebra membentuk pleksus limfatikus.
Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan (oftalmik) pertama nervus V.
Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit (Vaughan & Asbury, 2013).
Gambar 1. Konjungtiva (Sobota, 2007)

2.2 Konjungtivitis
2.2.1 Definisi
Merupakan proses peradangan konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi
belakang kelopak dan bola mata (Shidarta Ilyas, 2009).
2.2.2 Etiologi

1. Bakteri
2. Klamidia
3. Virus
4. Rickettsial
5. Jamur
6. Parasit
7. Imunologik (reaksialergi)
8. Kimiawi/iritatif
9. Idiopatik
10. Manifestasipenyakitsistemik
11. Sekunder terhadap dakriosistisis / kanakulitis.
2.2.3 Gambaran Klinis
1.

Hiperemia
Tanda klinis konjungtivitis akut yang paling mencolok. Kemerahan semakin jelas di
forniks dan semakin berkurang ke arah limbus karena dilatasi pembuluh pembuluh
konjungtiva posterior. (Dilatasi perilimbus atau hiperemia siliaris mengesankan
adanya radang kornea atau struktur yang lebih dalam).

2.

Epiphora (berair mata)


Sekresi air mata diakibatkanolehadanyasensasibendaasing, sensasiterbakarataugatal,
ataukarenagatal.

3.

Sekret (discharge)
Merupakansuatuciri dari semuajeniskonjungtivitis akut. Eksudatnya berlapis-lapis dan
amorf pada konjungtivitis bakteri dan berserabut pada konjungtivitis alergika.
4. Pseudoptosis
Adalahturunnyapalpebrasuperiorkarenainfiltrasikemuskulus

Muller.

Keadaan

ini

dijumpaipadabeberapajeniskonjungtivitisberatsepertitrachomadankeratokonjungtivitis
epidemika.
5.

Hipertrofipapila
Merupakansuatureaksikonjungtiva

non-spesifik

terjadikarenakonjungtivaterikatpadatarsusataulimbusdibawahnyaolehserabut-

yang

serabuthalus.

Eksudatradangmengumpuldiantaraserabut-

serabutdanmembentuktonjolan-tonjolankonjungtiva.
6.

Kemosis
Kemosiskonjungtivasangatmengesankankonjungtivitisalergikadan dapat timbul pada
konjungtivitis gonokok atau meningokok akut dan terutama pada konjungtivitis
adenoviral.

7.

Folikel
Merupakan suatu hiperplasia limfoid lokal di dalam lapisan limfoid konjungtiva dan
biasanya mempunyai pusat germinal. Secara klinis dapat dikenali sebagai struktur
bulat kelabu atau putih yang avaskular. Pada pemeriksaan slit lamp, tampak
pembuluh-pembuluh kecil yang muncul pada batas folikel dan mengitarinya.
Ditemukan disebagian besar kasus konjungtivitis virus, konjungtivitis klamidia,
parasitik dan konjungtivitis toksik.
2.2.4 Diagnosis
Anamnesis
Pada anamnesis pasien dominan akan merasakan sensasi benda asing yaitu sensasi
tergores atau panas,sensasi penuh disekitar mata, gatal dan fotofobia. Adanya rasa
sakit dan sensasi adanya benda asing menandakan bagian kornea yang terkena.
PemeriksaanFisik
Padasaatinspeksi, hiperemia akan terlibatjelas dari konjungtivakearahkornea (cvi +).
Apabilaterjadikonjungtivitisolehkarenabakteri
mukopurulendisekitar

mata

akan

terlihatadanya

danpalpebraterlihatadanyafolikel

dan

sekret
edema.

Apabilaterjadikonjungtivitiskarena virus, maka akan terlihat sekret serous yang


dominandanfolikel di palpebra. Apabilaterjadikonjungtivitisvernal akan terlihat sekret
mukusserousdanadanyapapil di palpebra.

PemeriksaanPenunjang
Pemeriksaanpenunjang yang diperlukandapatberupacekdarahlengkap, pengecatan
gram/giemsa/kohuntukmengetahui etiologi. Selain itu dapatdilakukan kultur sekret
untukmengetahuilebihpastijenisbakteri yang menginfeksi.
Diagnosis Banding
Konjungtivitis

Uveitis

Glaukoma

Keratitis

Akut

Akut

Akut

Akut

Insiden

Sangat umum

Umum

Tidak umum

umum

Sekret

Sedang banyak

Tidak Ada

Tidak Ada

Serous

Visus

Normal

Agak kabur

Sangat kabur

Biasanya Kabur

Rasa Sakit

Tidak ada

Sedang

Sangat Sakit

Sedang berat

Injeksi

Difuse

Perikornea

Perikornea

Perikornea

Konjungtiva

konjungtiva

Kornea

Jernih

Ada bercak KP

Ukuran

Normal

Miosis

Midriasis

Normal

Berawan/keruh
dan

Bercak/ keruh
Normal/kecil

Pupil
Reflek Pupil

Normal

Kurang

fik
Tidak ada

Tekanan

Normal

Normal

Tinggi

Normal

Negatif

Negatif

Negatif

Positif Pada lesi

Tidak Ada Kuman

Tidak

Atropin, Steroid

kuman
Carpin 2%

Bola Mata
Tes
Flouresin
Smear

Ada

Terapi

Penyebab
Antibiotika

Dasar tetes
mata

2.2.5 Penatalaksanaan

Kuman

Ada

Positif
Infeksi
Antibiotika

Pada

Penatalaksanaanawalkonjungtivitisdapatberupaantibiotik

spektrum

luas,

artificialtears, vitamin c 500mg, dan anti inflamasiapabilaadaedemapalpebra


.Apabilasudahdiketahui

etiologi

dari

konjungtivitistersebut

untukkonjungtivitiskarenabakteridapatdiberikanvancomicin

(bakteri

maka
gram

+)

danceftriaxon (bakteri gram -). Konjungtivitiskarena virus dapatdiberikanacyclovir.


Konjungtivitisvernaldapatdiberikan steroid tetes mata (Xytrol, Tobroson) dantablet
antihistamin.
2.2.6 Komplikasi
Komplikasi yang dapatterjadipadapasienkonjungtivitisantaralain :
1.
2.
3.
4.
5.

Keratitis
Blepharitis
Dacriosistitis
UlkusKornea
SikatrikKornea

2.2.7 Prognosis
Hampirselalusembuhsendiri. Bila tidakdiobati, infeksiberlangsung 10-14 hari.
Jikadiobatidenganbaik, 1-3 hari, kecualikonjungtivitisstafilokokus (dapat berlanjut
menjadi blefarokonjungtivitis dan memasuki fase kronik) dan gonokok (bila tidak
diobati

dapat

berakibat

perforasi

Konjungtivitisbakterialmenahunmungkintidak
menjadimasalahpengobatan yang menyulitkan

kornea

dan

endoftalmitis).

didapatsembuhsendiri

dan