Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

PEWARNAAN NEGATIF & KAPSUL

Kamis, 19 Maret 2015


Kamis, Pukul 13.00 16.00 WIB

Nama

NPM

Vikneswaran Mutayah

260110132004

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

Nilai

TTD

PEWARNAAN NEGATIF & KAPSUL

I.

TUJUAN

1. Mengamati morfologi bakteri yang sukar diwarnai oleh pewarna-pewarna


sederhana, dengan menggunakan prosedur pewarnaan negatif. Memahami
setiap langkah dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam prosedur
tersebut.
2. Mengamati kapsul bakteri dengan menggunakan prosedur pewarnaan
kapsul (pewarnaan Burri-Gins). Memahami setiap langkah dan reaksireaksi kimia yang terjadi dalam prosedur tersebut.

II.

PRINSIP

1. Pewarnaan negatif
Pewarnaan negatif, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri tetapi latar
belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme
atau bakteri kelihatan transparan atau tembus pandang (Tryana, 2008).

2. Tolak Menolak Muatan


Pewarnaan negatif menggunakan pewarna nigrosin yang merupakan
pewarna bersifat asam. Dengan memberikan proton sebagai asam
kromofor dari pewarna menjadi bermuatan negatif. Karena dinding sel
juga bermuatan negatif

hanta latar belakang disekitar sel yang akan

terwarnai dan sel tidak terwarnai (Trie, 2012).

3. Kapsul Bakteri ( struktur penyusun, sifat)


Kapsula merupakan lapisan polimer yang terletak di luar dinding sel. Jika
lapisan polimer ini terletak berlekatan dengan sel maka lapisan ini disebut
kapsula. Kapsula terdiri dari polisakarida dan polipeptin (kelompok
polisakarida dengan protein) (Hastuti, 2008).

III.

TEORI DASAR
Kebanyakan bakteri mengeluarkan lendir pada permukaan selnya yang

melapisi dinding sel. Jika lapisan lendir ini cukup tebal dan kompak maka disebut
dengan kapsula. Pada beberapa bakteri adanya kapsula menunjukkan sifat yang
virulen. Kapsula bakteri tidak berwarna sehingga untuk mengetahui ada tidaknya
kapsula bakteri perlu dilakukan pewarnaan khusus (Hastuti, 2008).
Pewarnaan ini bisa dilakukan dengan menggunakan nigrosin, merah kongo
atau tinta cina. Setelah ditambahkan pewarna yang tidak menembus kapsul, maka
kapsul dapat tampak dengan menggunakan mikroskop cahaya. Ini merupakan
penampilan negatif kapsul yang terlihat jernih dengan latar belakang gelap
(Schlegel, 1994).
Kapsula merupakan lapisan polimer yang terletak di luar dinding sel. Jika
lapisan polimer ini terletak berlekatan dengan dinding sel maka lapisan ini disebut
kapsula. Tetapi jika polimer atau polisakarida ini tidak berlekatan dengan dinding
sel maka lapisan ini disebut lender. Baik kapsula maupun lendir terdiri dari
polisakarida dan polipeptin (komplek polisakarida dengan protein). Kapsula
bukan organ yang penting untuk kehidupan sel bakteri. Hal ini terbukti bahwa sel
bakteri yang tidak dapat membentuk kapsula mampu tumbuh dengan normal
dalam medium. Kapsula berfungsi dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Misalnya berperan dalam mencegah terhadap kekeringan, mencegah atau
menghambat terjadinya pencantelan bakteriofag, bersifat antifagosit sehingga
kapsul memberikan sifat virulen bagi bakteri. Kapsula juga berfungsi untuk alat

mencantelkan diri pada permukaan seperti yang dilakukan olehStreptococcus


muans (Darkuni, 2008).

Hal yang serupa juga dijelaskan dalam Dwidjoseputro (2005) bahwa


lapisan lendir terdiri atas karbohidrat dan pada beberapa spesies tertentu, lendir itu
juga mengandung unsur N atau P. Lendir bukan suatu bagian integral dari sel,
melainkan suatu hasil pertukaran zat. Lendir memberikan perlindungan terhadap
kekeringan, seakan-akan merupakan suatu benteng untuk bertahan. Kapsula
merupakan gudang cadangan makanan. Kapsula bakteri-bakteri penyebab
penyakit (patogen) berfungsi untuk menambah kemampuan bakteri untuk
menginfeksi. Selain itu, bakteri berkapsula juga menyebabkan adanya gangguan
lendir dalam proses industri. (Pelczar, 2007).
Ukuran kapsula sangat dipengaruhi oleh medium tempat ditumbuhkannya
bakteri tersebut. Pada beberapa kejadian tebalnya kapsula hanya satu per sekian
diameter selnya, namun dalam kasus-kasus lainya ukuran kapsula jauh lebih besar
daripada diameter selnya. Kapsul cukup tebal sehingga sulit diwarnai, oleh karena
itu diperlukan suatu pewarnaan khusus. Salah satu cara pewarnaan kapsula
menurut Raebiger yaitu dengan menggunakan pewarna larutan formol-gentian
violet Raebiger atau kristal violet. Satu lagi cara untuk perwarnaan kapsula bakteri
adalah dengan pewarnaan negatif (pewarnaan tidak langsung). Pada pewarnaan
negatif latarbelakangnya diwarnai zat warna negatif sedangkan bakterinya
diwarnai dengan zat warna basa. Kapsula tidak menyerap warna sehingga terlihat
lapisan terang yang tembus dengan latar belakang yang berwarna. (Waluyo, Lud:
2007).
Kapsul tidak memiliki aktifitas yang besar terhadap bahan-bahan cat basa.
Beberapa kapsul cepat rusak oleh gangguan mekanis atau larut bila dicuci dengan
air. Karena kapsul dari berbagai spesies berbeda dalam susunan zat-zatnya, maka
tidak semua kapsul dapat diperlihatkan dalam proses pewarnaan yang sama.
Beberapa cara pewarnaan telah dikemukakan dalam usaha memperlihatkan

adanya kapsul, cara tersebut antara lain adalah cara pewarnaan negatif dan cara
pewarnaan kapsul (Irianto, 2006).
Hasil

pewarnaan

dengan

menggunakan

cara

pewarnaan

negatif

menunjukkan bakteri berwarna merah, sedangkan kapsul tampak sebagai daerah


yang kosong di sekitar tubuh bakteri, dan latar belakang berwarna gelap. Cara
pewarnaan negatif ini dikemukakan oleh Burri-Gins. Menurut Tarigan (1988),
pengecatan negatif bertujuan untuk mewarnai latar belakang atau bidang pandang
di bawah mikroskop dan bukan untuk mewarnai sel-sel mikroba yang diperiksa.
Pengecatan negatif dapat digunakan untuk melihat kapsul yang menyelubungi
tubuh bakteri dengan hanya menggunakan satu macam cat saja. Sedangkan
pewarnaan kapsul (pewarnaan positif) pertama dikemukakan oleh Tyler. Dalam
pewarnaan positif ini digunakan senyawa kristal violet 0,18 gram. Hasil dari
pewarnaan kapsula ini adalah kapsul tampak berwarna biru-ungu yang terletak
disekitar tubuh bakteri. Sedangkan bakterinya sendiri berwarna biru kelam
(Irianto, 2006).
Pada dasarnya pewarnaan negatif bukan digunakan untuk mewarnai
bakteri, tetapi mewarnai latar belakangnya menjadi gelap, zat warna tidak akan
mewarnai sel melainkan mewarnai lingkungan sekitarnya, sehingga bakteri
tampak transparan dengan latar belakang hitam. Pewarnaan negatif, metode ini
bukan untuk mewarnai bakteri tetapi latar belakngnya menjadi hitam gelap. Pada
pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan (tembus pandang). Teknik ini
berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan
tidak mengalami pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan
kimia, maka terjadi penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehingga
penentuan sel dapat diperoleh dengan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat
nigrosin atau tinta cina. Pewarnaan negatif atau pewarnaan asam dapat terjadi
karena senyawa pewarnaan berwarna negatif. Dalam kondisi pH mendekati netral,
dinding sel bakteri cenderung bermuatan negatif sehingga pewarna asam yang
bermuatan negatif akan ditolak oleh dinding sel bakteri. Oleh karena itu dinding
sel menjadi tidak berwarna. Contoh pewarna yang biasa digunakan yaitu tinta

cina, larutan nigrosin, asam pikrat dan eosin. Teknik ini berguna untuk
menentukan moffologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan tidak
mengalami pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia,
maka terjadi penyusutan dan salah satu bentuk agar penentuan sel dapat diperoleh
denagan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina
(Hadiotomo,1990).
Pada pewarnaan negatif, lingkungan yang berwarna hitam disebabkan oleh
pewarna yang digunakan adalah nigrosin atau tinta cina yang memiliki warna
dasar hitam. Hal ini telah sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa zat
pewarna asam membawa suatu muatan negatif, maka pada sel yang
permukaannya juga negatif akan ditolak oleh sitoplasma sel sehingga zat warna
ini akan berkaitan dengan lingkungan yang mengelilingi sel dan bagian dalam sel
akan tetap berwarna bening (Alcamo,1996)
Selaini itu, disebutkan juga pustaka bahwa bakteri merupakan organisme
mikroseluler yang pada dinding selnya mengandung ion negatif, zat warna
(nigrosin) yang bermuatan negatif tidak akan mewarnai sel tetapi yang terwarnai
adalah lingkungan luarnya saja (Entjang,2003)

IV.

ALAT DAN BAHAN

4.1 Alat
1. Bak pewarna
2. Botol Semprot
3. Kaca obyek
4. Kapas
5. Kertas saring
6. Mikroskop majemuk
7. Ose
8. Pembakar spirtus.

4.2 Bahan
1. Air suling
2. Alkohol 70 %
3. Suspensi bakteri Klebsiella pneumoniae
4. Desinfektan
5. Minyak celup
6. Tinta Cina

4.3 Gambar Alat

V.

PROSEDUR

Pewarnaan Negatif
Dua kaca objek dibersihkan menggunakan alkohol 70 % lalu di
keringkan menggunakan kapas hingga kering dan bersih. Dilakukan fiksasi
ose diatas api hingga besi pada ose memerah, didinginkan didekat api.
Diambil suspensi bakteri Klebsiella pneumonia dalam tabung reaksi
menggunakan ose yang telah dingin lalu dilelakkan satu ose suspensi
bakteri dan satu tetes tinta cina (1:1) di dekat ujung kanan kaca objek
pertama. Dicampurkan keduanya dengan menggunakan kaca ojek kedua
sehingga homogen. Diletakkan kaca objek kedua pada kaca objek pertama
dengan membentuk sudut 450, lalu ditarik kaca objek kedua sepanjang
kaca objek pertama dengan menyeretnya ke arah kiri lalu dikeringkan
dengan kertas saring, lalu dibiarkan preparat tersebut mengering dengan
sendirinya. Diteteskan sedikit minyak imersi pada preparat lalu periksa di
bawah mikroskop dimulailah dengan objektif berkekuatan terendah 10X,
lalu ganti dengan lensa objektif berkekuatan 100X. Diamati dan dicatatkan
hasilnya.

Pewarnaan Kapsul
Dua kaca objek dibersihkan menggunakan alkohol 70 % lalu di
keringkan menggunakan kapas hingga kering dan bersih. Dilakukan fiksasi
ose diatas api hingga besi pada ose memerah, didinginkan didekat api.
Diambil suspensi bakteri Klebsiella pneumonia dalam tabung reaksi
menggunakan ose yang telah dingin lalu dilelakkan satu ose suspensi
bakteri dan satu tetes tinta cina (1:1) di dekat ujung kanan kaca objek
pertama. Dicampurkan keduanya dengan menggunakan kaca ojek kedua
sehingga homogen. Diletakkan kaca objek kedua pada kaca objek pertama
dengan membentuk sudut 450, lalu ditarik kaca objek kedua sepanjang
kaca objek pertama dengan menyeretnya ke arah kiri lalu difiksasi preparat
tersebut dengan melewatkannya sebanyak 3 kali di atas api. Digenangi

dengan pewarna air fuksin selama 5 menit, dibuang zat warna yang
berlebihan, lalu dikeringkan dengan kertas saring. Diteteskan sedikit
minyak imersi pada preparat, lalu diperiksa di bawah mikroskop.
Dimulailah dengan objektif berkekuatan rendah 10X, lalu diganti dengan
lensa objektif berkekuatan 100X.Diamati dan digambarkan hasilnya.

VI.

HASIL PENGAMATAN

Bakteri berbentuk coccus yang


tidak

terwarnai

(transparan)

dengan latar belakangnya hitam.


Pewarnaan negatif pada
pneumonia

menggunakan

Klebsiella
tinta

cina

dengan perbesaran 10X.

Bakteri
bakteri
sedangkan

kapsul

merupakan

bewarna

merah,

kapsul

tampak

sebagai bagian yang kosong di


sekitar tubuh bakteri dan sekitar
kapsul berwarna gelap.
Pewarnaan

kapsul

pada

Klebsiella

pneumonia menggunakan tinta cina &


air fuksin perbesaran 10X.

VII.

PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, telah dipelajari untuk mengamati morfologi bakteri yang

sukar diwarnai oleh pewarna-pewarna sederhana namun dengan menggunakan


prosedur pewarnaan negatif serta memahami setiap langkah dan reaksi-reaksi
kimia yang terjadi dalam prosedur pewarnaan negatif. Seterusnya dipelajari juga
untuk mengamati kapsul bakteri dengan menggunakan prosedur pewarnaan kapsul
(pewarnaan Burri-Gins) dan memahami setiap langkah dan reaksi-reaksi kimia
yang terjadi dalam prosedur pewarnaan kapsul. Sebagai praktek saya telah
mengapplikasikan beberapa prinsip dalam percobaan ini. Antara yang digunakan
adalah Pewarnaan negatif dimana metode ini bukan untuk mewarnai bakteri tetapi
latar belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme atau
bakteri kelihatan transparan atau tembus pandang. Prinsip selanjutnya adalah
Tolak Menolak Muatan yang disesuaikan dengan pewarnaan negatif
menggunakan pewarna nigrosin atau tinta cina yang merupakan pewarna bersifat
asam. Dengan memberikan proton sebagai asam kromofor dari pewarna menjadi
bermuatan negatif. Karena dinding sel juga bermuatan negatif

hanta latar

belakang disekitar sel yang akan terwarnai dan sel tidak terwarnai. Prinsip
terakhirnya adalah kapsula bakteri merupakan lapisan polimer yang terletak di
luar dinding sel. Jika lapisan polimer ini terletak berlekatan dengan sel maka
lapisan ini disebut kapsula. Kapsula terdiri dari polisakarida dan polipeptin yaitu
kelompok

polisakarida dengan protein. Secara umum, Klebsiella pneumonia

merupakan salah satu bakteri yang menghasilkan kapsul. Klebsiella pneumonia


mempunyai kapsul yang sangat tebal. Kebanyakan kapsul terdiri dari polisakarida,
tapi ada pula yang terdiri dari polipeptida. kapsul ini berbeda dari lapisan lendir
yang menghasilkan sel-sel yang paling bakteri dalam bahwa ini adalah, tebal
terdeteksi, diskrit lapisan luar dinding sel. Beberapa kapsul memiliki batas-batas
yang jelas, dan beberapa fuzzy, trailing tepi. Kapsul melindungi bakteri dari
tindakan fagositik leukosit dan memungkinkan patogen untuk menyerang tubuh.
Jika pathogen kehilangan kemampuannya untuk membentuk kapsul, dapat
menjadi avirulent. Pada percobaan kali ini telah dilakukan pewarnaan negative

dan kapsul menggunakan suspensi bakteri Klebsiella pneumonia. Secara teliti


dapat dikatakan bahwa cara pewarnaan negatif dan kapsul mempunyai cara
kerjaan yang hampir mirip. Seterusnya dimulai dengan pembuatan pewarnaan
megatif dengan menyiapkan dua kaca objek yang dibersihkan menggunakan
alkohol 70 % lalu di keringkan menggunakan kapas hingga kering dan bersih
dimana perlakuan ini betujuan agar tidak ada kontaminasi yang terjadi dan bebas
dari lemak yang masih menempel pada kaca objek karena lemak tersebut
cenderung berikatan dengan zat warna yang mampu memberikan hasil visualisasi
terhadap bakteri yang kurang efektif. Sebagai langkah pertama ose atau
innoculating loop terlebih dahulu harus di fiksasi dengan meletakkan hujung
bagian kawat ose pada api sehingga kawat pada ose bertukar menjadi merah.
Perlakan ini dilakukan untuk memastikan bahwa ose tersebut tidak mengandung
atau menpunyai penempelan sebarang bakteri dan kontaminan yang berada di
sekitar atau sekian pemakaian sebelumnya. Setelah fiksasi, ose didinginkan untuk
beberapa menit sehingga ose tidak panas lagi. Pendinginan ose adalah untuk
memastikan bahwa ose yang masih panas ketika dicelup kedalam sample bakteri
berpotensi membunuh bakteri yang ada pada sample sehingga hasil pengamatan
tidak dapat dikenal pasti. Berikutan itu, diambil suspensi bakteri Klebsiella
pneumonia dalam tabung reaksi menggunakan ose yang telah dingin lalu
dilelakkan satu ose suspensi bakteri dan satu tetes tinta cina dengan perbandingan
(1:1) di dekat ujung kanan kaca objek pertama. Perlakuan lelakkan satu ose
suspensi bakteri ini dilakukan berdekatan dengan api untuk mengurangkan dan
mencegah paparan kontaminasi yang mungkin terjadi pada proses pengambilan
sampel dan pengolesan sampel. Seterusnya, kaca objek yang dilelakkan suspensi
bakteri Klebsiella pneumonia dan tinta cina telah dicampurkan keduanya dengan
menggunakan kaca objek kedua sehingga homogen karena bakteri harus
terdispersi homogen ada preparat yang mampu memberikan visualisasi pada
mikroskop dengan lebih luas dan jumlah tinta Cina yang digunakan menentukan
keberhasilan pewarnaan maka tidak boleh berlebih. Seterusnya, diletakkan kaca
objek kedua pada kaca objek pertama dengan membentuk sudut 450, lalu ditarik
kaca objek kedua sepanjang kaca objek pertama dengan menyeretnya ke arah kiri.

Melalui perlakuan ini dapat dibahaskan bahwa kapsul adalah lapisan polimer yang
terdapat diluar dinding sel. Kapsul pada bakteri dapat diamati dengan mikroskop
dengan teknik pewarnaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada
perlakuan kali ini telah dilakukan pewarnaan secara tidak langsung dengan
menggunakan tinta cina. Pewarnaan secara tidak langsung ini dimaksudkan untuk
mewarnai latar belakangnya. Apabila bakteri mempunyai kapsul, maka dalam
pengamatan sel bakteri akan tampak transparan dan diselubungi oleh kapsul. Tinta
cina merupakan larutan yang mempunyai kromophore atau butir pembawa warna
yang bermuatan negatif yang memiliki anion, sedangkan muatan yang ada di
sekeliling bakteri juga bermuatan negatif (memiliki anion), sehingga terjadi
adanya tolak menolak antara kedua ion tersebut. Hal inilah yang menyebabkan
bakteri berwarna transparan dan nampak hanya warna latar belakangnnya yaitu
hitam. Terbentuknya warna transparan ini dikarenakan sel bakteri tidak mampu
menyerap warna. Pada pewarnaan ini preparat tidak mengalami pemanasan atau
perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia, maka terjadinya penyusutan dan
salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh dengan
lebih tepat. Dengan demikian pewarnaan negatif berguna untuk melihat bentukbentuk sel yang sesungguhnya serta berguna untuk pengukuran-pengukuran
bakteri. Seterusnya dilakukan proses pengeringan dengan kertas saring, lalu
dibiarkan preparat tersebut mengering dengan sendirinya karena kertas saring
dipakai untuk menyerap kelebihan tinta cina yang mampu menghalang visualisasi
pada mikroskop dan untuk proses pengeringan dilakukan agar benar-benar
suspensi bakteri itu menempel pada preparat. Proses akhirnya adalah penetesan
minyak emersi pada preparat yang bertujuan dapat memberikan visualisasi yang
lebih jelas dan terang ketika pengamatan dan juga melindungi mikroskop itu
sendiri. Minyak imersi memiliki indeks refraksi yang tinggi dibandingkan dengan
air atau udara sehingga objek yang kita amati dapat terlihat lebih jelas. Secara
akhirnya, telah diamati preparat yang adanya bakteri pada mikroskop majemuk
dengan kekuatan 10x dan 100x. Dari percobaan yang dilakukan ini, ditemukan
bahwa bakteri bentuk coccus yang tidak terwarnai (transparan) dan adanya
pantulan cahaya dari sumber cahaya mikroskop dari lubangan yang berbentuk

bintik-bintik kecil bangat tetapi latar belakangnya hitam karena tidak menyerap
zat warna yang diberikan yaitu tinta cina. Bintik-bintik kecil itu dapat dibahaskan
bahwa merupakan kapsul dari bakteri tersebut. Selanjutnya, percobaan ini
dilakukan dengan pewarnaan kapsul dengan prosedure yang hampir mirip dengan
pewarnaan negatif. Dimana dua kaca objek dibersihkan menggunakan alkohol 70
% lalu di keringkan menggunakan kapas hingga kering dan bersih. Dilakukan
fiksasi ose diatas api hingga besi pada ose memerah, didinginkan didekat api.
Diambil

suspensi

bakteri

Klebsiella

pneumonia

dalam

tabung

reaksi

menggunakan ose yang telah dingin lalu dilelakkan satu ose suspensi bakteri dan
satu tetes tinta cina (1:1) di dekat ujung kanan kaca objek pertama. Dicampurkan
keduanya dengan menggunakan kaca ojek kedua sehingga homogen. Diletakkan
kaca objek kedua pada kaca objek pertama dengan membentuk sudut 450, lalu
ditarik kaca objek kedua sepanjang kaca objek pertama dengan menyeretnya ke
arah kiri lalu difiksasi preparat tersebut dengan melewatkannya sebanyak 3 kali di
atas api. Sehingga ini, prosedur pewarnaan kapsul mirip malah yang beda Cuma
apabila digenangi dengan pewarna air fuksin selama 5 menit, lalu dibuang zat
warna yang berlebihan, lalu dikeringkan dengan kertas saring. Diteteskan sedikit
minyak imersi pada preparat, lalu diperiksa di bawah mikroskop. Dimulailah
dengan objektif berkekuatan rendah 10X, lalu diganti dengan lensa objektif
berkekuatan 100X. Diamati dan digambarkan hasilnya. Penambahan air fuksin
bertujuan untuk memberikan penampakan pada bakteri yang terlihat daripada latar
belakang yang hitam itu dab juga berfungsi sebagai zat pewarna tandingannya.
Menurut hasil yang diperolehi, didapati bahwa bakter kapsula adalah bakteri
bewarna merah, sedangkan kapsul tampak sebagai bagian yang kosong di sekitar
tubuh bakteri dan sekitar kapsul berwarna gelap / agak pekat disebabkan
pemakaian tinta cina. Pewarnaan kapsul ialah metode pewarnaan diferensial yang
dikhususkan untuk melihat bagian kapsul dari suatu bakteri.

VIII.

KESIMPULAN

1. Bakteri kapsul merupakan bakteri bewarna merah, sedangkan kapsul


tampak sebagai bagian yang kosong di sekitar tubuh bakteri dan sekitar
kapsul berwarna gelap.
2. Bakteri pewarnaan negatif berbentuk coccus yang tidak terwarnai
(transparan) dengan latar belakangnya hitam.
3. Telah dipelajari mengamati morfologi bakteri yang sukar diwarnai oleh
pewarna-pewarna sederhana, dengan menggunakan prosedur pewarnaan
negatif.
4. Telah dipelajari mengamati kapsul bakteri dengan menggunakan prosedur
pewarnaan kapsul (pewarnaan Burri-Gins). Memahami setiap langkah dan
reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam prosedur tersebut.

IX.

DAFTAR PUSTAKA

Alcamo, I.E.1996. Fundamental of Microbiology, 5th Edition. Addison Wesly


Longman, Inc : New York.
Darkuni, Radja. 2008. Buku Ajar Mikrobiologi Asas. Edisi Revisi. Jakarta: UI
Press.
Entjang, I.2003. Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan.
Citra Aditya Bakti. Bandung
Hadiotomo, Ratna Siri. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : PT.
Gramedia.
Hastuti, S.U. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang : UMM Press.
Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Organisme Jilid 1.Bandung.
Pelczar, Michael. 2007. Dasar Dasar Mikrobiologi. Jakata: U dan D

Schlegel Hans Gnter. 1994. Mikrobiologi Umum. Publisher, Gadjah Mada


University Press.
Trie, Ita. 2012. Laporan Mikrobiologi Pewarnaan Bakteri. UMM: Malang.
Waluyo lud; 2007, Mikrobiologi umum, Malang, Universitas Muhamadiyah
Malang.
Tryana, S.T.2008. Dasar-dasar Mikorobiologi. Malang : Djambatan

Anda mungkin juga menyukai