Anda di halaman 1dari 29

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Apendisitis adalah peradangan dari apendik periformis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering (Dermawan & Rahayuningsih ,
2010
Istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat
karena usus yang buntu sebenarnya adalah sekum. Apendiks diperkirakan ikut
serta dalm system imun sektorik di saluran pencernaan. Namun,
pengangkatan apendiks tidak menimbulkan efek fungsi system imun yang
jelas (syamsyuhidayat, 2005). Peradangan pada apendiks selain mendapat
intervensi farmakologik juga memerlukan tindakan bedah segera untuk
mencegah komplikasi.
1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk melengkapi persyaratan tugas kepanitraan klinik stase Anak Rumah
Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam.
b. Tujuan Khusus
Memberikan penjelasan tentang pengertian sampai penanganan dari
Apendisitis.

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Anatomi
Appendiks merupakan suatu organ limfoid seperti tonsil, payer patch (analog
dengan Bursa Fabricus) membentuk produk immunoglobulin, berbentuk
tabung, panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm) dengan diameter 0,5-1
cm, dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan
melebar dibagian distal.(3)
Apendiks vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang
bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminale.
Mesenteriolum berisi a. Apendikularis (cabang a.ileocolica). Orificiumnya
terletak 2,5 cm dari katup ileocecal. Mesoapendiknya merupakan jaringan
lemak yang mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki
limfonodi kecil. (8,10)

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

Struktur apendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa,


submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan
serosa. Apendiks mungkin tidak terlihat karena adanya membran Jackson
yang merupakan lapisan peritoneum yang menyebar dari bagian lateral
abdomen ke ileum terminal, menutup caecum dan appendiks. Lapisan
submukosa terdiri dari jaringan ikat kendor dan jaringan elastic membentuk
jaringan saraf, pembuluh darah dan lymphe. Antara Mukosa dan submukosa
terdapat lymphonodes. Mukosa terdiri dari satu lapis collumnar epithelium
dan terdiri dari kantong yang disebut crypta lieberkuhn. Dinding dalam sama
dan berhubungan dengan sekum (inner circular layer). Dinding luar (outer
longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia colli pada
pertemuan caecum dan apendiks. Taenia anterior digunakan sebagai pegangan
untuk mencari apendiks.(8)
Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke-8
yaitu bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal,
pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi apendiks, yang akan
berpindah dari medial menuju katup ileosekal.(4)
Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan
menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya
insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65 % kasus, apendiks terletak
intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang
geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada
kasus selebihnya, apediks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di
belakang kolon asendens, atau ditepi lateral kolon asendens. Gejala klinis
apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.(3)
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti
a.mesenterika superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis
berasal dari n.torakalis X. Oleh karena itu, nyeri visceral pada apendisitis
bermula

disekitar

umbilikus.

Pendarahan

apendiks

berasal

dari

a.

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat,
misalnya karena trombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami gangrene.
(3)

Gambar 1 : Anatomi Apendiks

2.2.

Fisiologi
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir di muara apendiks
tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.(3)
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut associated
Lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk
apendiks, ialah IgA. Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

terhadap

infeksi.

Namun

demikian,

pengangkatan

apendiks

tidak

mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil
sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan diseluruh
tubuh.(3)
Jaringan lymphoid pertama kali muncul pada apendiks sekitar 2 minggu
setelah lahir. Jumlahnya meningkat selama pubertas, dan menetap saat
dewasa dan kemudian berkurang mengikuti umur. Setelah usia 60 tahun, tidak
ada jaringan lymphoid lagi di apendiks dan terjadi penghancuran lumen
apendiks komplit.(4)
2.3.

Definisi
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai
semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang
laki-laki berusia antara 10-30 tahun.(5)
Appendiks terletak di ileocaecum, pertemuan di 3 tinea (Tinea libera, tinea
colica, dan tinea omentum). Bentuk tabung panjang 7-10 cm, diameter 0,7 cm.
Memiliki beberapa jenis posisi yaitu:
-

Ileocecal

Antecaecal

Retrocaecal

Hepatica

Pelvica

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

Gambar 2 : jenis posisi apendiks


Vaskularisasi dari appendiks: a. Appendicularis, cabang dari a. Iliocaecalis,
cabang dari A. Mesentrika superior. Inervasinya simpatis

sedangkan

parasimpatis : N. Vagus (C.10)berasal dari N. Thoracalis 10. Apendiks


memiliki topografi yaitu pangkal appendiks terletak pada titik Mc Burney.
Garis Monroe

: Garis antara umbilicus dengan SIAS dekstra

Titik Mc Burney

: 1/3 bagian dari SIAS dekstra pada garis Monroe

Titik Lanz

: 1/6 bagian dari SIAS dekstra pada garis antara


IAS dekstra dan SIAS sinistra

Garis Munro

: Pertemuan antara garis Monroe dengan garis

pertengahan SIAS dekstra dengan simfisis. (4)


2.4.

Epidemiologi
Insiden apendisitis di Negara maju lebih tinggi daripada di Negara
berkembang. Namun, dalm tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya
menurun secara bermakna. Hal ini di duga disebabkan oleh meningkatnya
penggunaan makanan berserat pada diit harian (Santacroce,2009).
Tujuh persen penduduk di Amerika menjalani apendiktomi (pembedahan
untuk mengangkat apendiks) dengan insidens 1,1/1000 penduduk pertahun,
sedang di negara-negara barat sekitar 16%. Di Afrika dan Asia prevalensinya

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

lebih rendah akan tetapi cenderung meningkat oleh karena pola dietnya yang
mengikuti orang barat (www.ilmubedah.info.com, 2011).
Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di indonesia, apendisitis
akut merupakan salah satu penyebab dari akut abdomen dan beberapa indikasi
untuk dilakukan operasi kegawatdaruratan abdomen.
Insidens apendisitis di Indonesia menempati urutan tertinggi di antara kasus
kegawatan abdomen lainya (Depkes 2008). Dinkes jateng menyebutkan pada
tahun 2009 jumlah kasus apendisitis di jawa tengah sebanyak 5.980 penderita,
dan 177 penderita diantaranya menyebabkan kematian. Pada periode 1 Januari
sampai 31 Desember 2011 angka kejadian appendisitis di RSUD salatiga, dari
seluruh jumlah pasien rawat inap tercatat sebanyak 102 penderita appendisitis
dengan rincian 49 pasien wanita dan 53 pasien pria. Ini menduduki peringkat
ke 2 dari keseluruhan jumlah kasus di instalsi RSUD Salatiga. Hal ini
membuktikan tingginya angka kesakitan dengan kasus apendiksitis di RSUD
Salatiga
2.5.

Etiologi
Penyumbatan lumen apendiks disebabkan oleh hyperplasia folikel limfoid,
fekalit, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya,cacing usus atau
neoplasma. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah
erosi

mukosa

apendiks

karena

parasit

seperti

E.

Histolityca. (4)

Penyebab sumbatan 35% disebabkan karena 60% adalah hyperplasia kelenjar


getah bening dan 1% oleh striktur 4% oleh benda asing (termasuk cacing)
fekalith lumen yang bisa disebabkan karsinoma.(6)

2.6.

Gejala dan Tanda


Gambaran klinis appendicitis akut

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

1.

Tanda awal nyeri mulai di epigastrium atau region umbilicus disertai


mual dan anorexia. Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar
37,5C - 38,5 C. Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi
perforasi.

2.

Nyeri berpindah ke kanan bawah dan menunjukkan tanda rangsangan


peritoneum lokal di titik Mc Burney nyeri tekan nyeri lepas defans
muskuler

3.

Nyeri rangsangan peritoneum tak langsung nyeri kanan bawah pada


tekanan kiri (Rovsings Sign) nyeri kanan bawah bila tekanandi
sebelah kiri dilepaskan (Blumbergs Sign)

batauk atau mengedan.

Berjalan seperti nafas dalam nyeri kanan bawah bila peritoneum


bergerak. (3)
Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering
hanya rewel dan tidak mau makan. Anak biasanya tidak bisa melukiskan
rasa nyerinya. Dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah-muntah
dan anak menjadi lemah dan letargi. Karena gejala yang tidak khas tadi,
sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Pada bayi, 80-90%
apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.(3)
Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak
ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya, pada orang
berusia lanjut yang gejalanya sering samar-samar saja sehingga lebih dari
separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi.(3)
Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual dan
muntah. Yang perlu diperhatikan adalah, pada kehamilan trimester pertama
sering juga terjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut, sekum dan
apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan
diperu kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan. (3)

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

2.7.

Patofisiologi
Pada dasarnya appendicitis akut adalah suatu proses penyumbatan yang
mengakibatkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin
lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe
yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada
saat inilah terjadi apendisitis akut fokal

2005)yang ditandai oleh nyeri

epigastrium. (3)
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut
akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan
menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah.
Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. (5)
Setelah mukosa terkena kemudian serosa juga terinvasi sehingga akan
merangsang peritoneum parietale maka timbul nyeri somatic yang khas yaitu
di sisi kanan bawah (titik Mc Burney). Titik Mc Burney terletak pada 1/3
lateral garis yang menghubungkan SIAS dan umbilicus.(6)
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks
yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis
perforasi.(5)
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan
akan yaitubergerak ke arah apendiks sehingga melokalisasi daerah infalmasi
dengan mengelompok dan memebentuk suatu infiltrate apendiks dan disebut

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

proses walling off. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau
menghilang.(6)
Pada orangtua kemungkinan terjadi perforasi lebih besar karena daya tahan
tubuh sudah lemah dan telah ada gangguan pembuluh darah. Pada anak-anak,
karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks
lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih
kurang memudahkan terjadinya perforasi.(5)

2.8.

Pemeriksaan fisik
A. Pemeriksaan Fisik
1.

Inspeksi
-

Tidak ditemukan gambaran spesifik.

Kembung sering terlihat pada komplikasi perforasi.

Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada masaa atau abses
periapendikuler.

2.

Tampak perut kanan bawah tertinggal pada pernafasan


Palpasi

Nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri tekan
lepas.

Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum


parietale.

Pada apendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam


untuk menentukan adanya rasa nyeri.

3.

Perkusi
-

Terdapat nyeri ketok, pekak hati (jika terjadi peritonotos pekak hati
ini hilang karena bocoran usus karena udara bocor)

4.

Auskultasi
-

Sering normal

10

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

Peristaltic dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis


generalisata akibat apendisitis perforata pada keadaan lanjut

5.

Bising usus tidak ada (karena peritonitis)


Rectal Toucher

Tonus musculus sfingter ani baik

Ampula kolaps

Nyeri tekan pada daerah jam 09.00-12.00

Terdapat massa yang menekan rectum (jika ada abses).

Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan maka kunsi


diagnosis dalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.

6.

Uji Psoas
Dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi
panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha
kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menepel di m. poas
mayor, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri.

7.

Uji Obturator
Digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak
dengan m. obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil.
Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang
akan

menimbulkan

nyeri

pada

apendisitis

pelvika.

Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang


lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks.
8.

Alvarado Score
Digunakan untuk menegakkan diagnosis sebagai appendisitis akut atau
bukan,

menjadi

symptom,

sign

dan

laboratorium

Alvarado Score:
-

Appendicitis point pain

:2

Lekositosis

:2

11

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

Vomitus

:1

Anorexia

:1

Rebound Tendeness Fenomen: 1

Degree of Celcius (.>37,5)

:1

Observation of hemogram

:1

Abdominal migrate pain

:1+

Total : 10
Dinyatakan appendisitis akut bila skor > 7 poin. (3)
2.9.
1.

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
-

leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama pada


kasus dengan komplikasi.

pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat

b. Pemeriksaan urin untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri


di

dalam

urin.

Pemeriksaan

ini

sangat

membantu

dalam

menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau


batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan
appendicitis.(1)
c. Radiologis
a. Foto polos abdomen
Pada appendicitis akut yang terjadi lambat dan telah terjadi
komplikasi (misalnya peritonitis) tampak:
-

Scoliosis ke kanan

Psoas shadow tak tampak

Bayangan gas usus kananbawah tak tampak

Garis retroperitoneal fat sisi kanan tubuh tak tampak

12

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

5% dari penderita menunjukkan fecalith radio-opak

Appendicogram hasil positif bila : non filling, partial filling,


mouse tail, cut off. (6)

b. USG
Bila

hasil

pemeriksaan

fisik

meragukan,

dapat

dilakukan

pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya


abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis
banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya. (7)
c. Barium enema
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke
colon melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasikomplikasi dari appendicitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk
menyingkirkan diagnosis banding. Foto barium enema yang
dilakukan perlahan pada appendicitis akut memperlihatkan tidak
adanya pengisian apendiks dan efek massa pada tepi medial serta
inferior

dari

seccum;

pengisisan

lengkap

dari

apendiks

menyingkirkan appendicitis. (4)


d. Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang
dimasukkan dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara
langsung.Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum.
Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada
appendix maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan
pengangkatan appendix.(2)

2.10.

Diagnosa banding
1.

Gastroenteritis akut
Adalah kelainan yang sering dikacaukan dengan apendisitis. Pada
kelainan ini muntah dan diare lebih sering. Demam dan lekosit akan

13

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

meningkat jelas dan tidak sesuai dengan nyeri perut yang timbul.
Lokasi nyeri tidak jelas dan berpindah-pindah. Hiperperistaltik
merupakan gejala yang khas. Gastroenteritis biasanya berlangsung
akut, suatu observasi berkala akan dapat menegakkan diagnosis.
2.

Kehamilan Ektopik
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak
menentu. Jika ada rupture tuba atau abortus kehamilan di luar rahim
dengan perdarahan, akan timbul nyeri yang mendadak difus di daerah
pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan
vaginal didapatkan nyeri dan penonjolan cavum Douglas.

3.

Adenitis Mesenterium
Penyakit ini juga dapat menunjukkan gejala dan tanda yang identik
dengan apendisitis. Penyakit ini lebih sering pada anak-anak, biasanya
didahului infeksi saluran nafas. Lokasi neri diperut kanan bawah
konstan dan menetap.(3)

2.11.

Penatalaksanaan

1. Sebelum operasi
a. Observasi
Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala
apendisitis seringkali masih belum jelas. Dalam keadaan ini
observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah
baring dan dipuasakan. Laktasif tidak boleh diberikan bila dicurigai
adanya apendisitis ataupun bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan
abdomen dan rectal serta pemeriksaan darah (lekosit dan hitung
jenis) diulang secara periodic. Foto abdomen dan toraks tegak
dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada
kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di
daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.

14

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

b. Antibiotik.
Pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak perlu diberikan
antibiotic, kecuali pada apendisitis gangrenosa atau apendisitis
perforate. Penundaan tindak bedah sambil memberikan antibiotic
dapat mengakibatkan abses atau perforasi.
2.

Operasi
-

Appendiktomi cito (appendicitis akut, abses, dan perforasi)

Appendiktomi elektif (appendisitis kronis)

Konservatif kemudian operasi elektif (appendisitis infiltrat)

Operasi Appendisitis akut disebut : A. Chaud


Operasi Appendisitis kronis disebut : A. Froid
3.

Pascaoperasi
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui
terjadinya pendarahan di dalam, syok, hipertermia, atau gangguan
pernafasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga
aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posii
Fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjai gangguan.
Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar,
misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan
sampai fungsi usus kembali normal.
Satu hari pascaoperasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat
tidur selama 2x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan
duduk di luar kamar. Hari ke tujuh jahitan dapat diangkat dan pasien
diperbolehkan pulang. 1999)(www.kedokteranpacificinternet.com

2.12.

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin timbul adalah peritonitis, abses subfrenikus,
infiltrat dan fokal sepsis intraabdominal lain.(1)
15

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

2.13.

Prognosis
Mortalitas adalah 0.1% jika appendicitis akut tidak pecah dan 15% jika
pecah pada orangtua. Kematian biasanya berasal dari sepsis, emboli paru
atau aspirasi; prognosis membaik dengan diagnosis dini sebelum rupture
dan antibiotic yang lebih baik.
Morbiditas meningkat dengan rupture dan usia tua. Komplikasi dini adalah
sepsis. Infeksi luka membutuhkan pembukaan kembali insisi kulit yang
merupakan predisposisi terjadinya robekan. Abses intraabdomen dapat
terjadi dari kontaminasi peritonealis setelah gangren dan perforasi. Fistula
fekalis timbul dari nekrosis suatu bagian dari seccum oleh abses atau
kontriksi dari jahitan kantong. Obstruksi usus dapat terjadi dengan abses
lokulasi

dan

pembentukan

adhesi.

Komplikasi

lanjut

meliputi

pembentukan adhesi dengan obstruksi mekanis dan hernia.(4)


Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan, tingkat mortalitas dan
morbiditas penyakit ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan
meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi. Serangan
berulang dapat terjadi bila apendiks tidak diangkat. Terminologi
apendisitis kronis sebenarnya tidak ada. (3)

16

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

STATUS ORANG SAKIT

II

ANAMNESA PRIBADI OS:


Nama

: Maulana

Umur

: 9 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Jl.Medan Lubuk Pakam

Tanggal masuk

: 18 Januari 2014

BB Masuk

: 27 Kg

ANANMESA ORANG TUA OS:

17

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

Ayah

Ibu

Nama

Abdul Hanif

Misyati

Umur

42 tahun

40 tahun

Pekerjaan

PNS

IRT

Penyakit

S1

SMA

Jl. Medan Lubuk Pakam

Jl. Medan Lubuk Pakam

Perkawinan ke-

Pendidikan
Alamat

III

IV

RIWAYAT KELAHIRAN OS:


Tanggal lahir

:25 November 2004

Cara lahir

: PSP

Tempat lahir

:Rumah Sakit

Ditolong oleh

: Bidan

BB lahir

: 3100 gram

PB lahir

: 51 cm

ANAMNESA MAKANAN:
0 4 bulan

: ASI + susu formula

5 6 bulan

: ASI + susu formula

7 12 bulan

: ASI + susu formula + Bubur + Buah-buahan

1 tahun sekarang

: Susu Formula + Nasi

RIWAYAT IMUNISASI:
BCG

:1x

18

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

VI

DPT

:5x

Campak

:2x

Polio

:5x

Hepatitis B

:3x

Kesan

: Lengkap

RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU OS:


-

VII

KETERANGAN MENGENAI SAUDARA OS:


Anak tunggal

VIII

ANAMNESA PENYAKIT OS:


Keluhan utama

: sakit perut kanan bawah

Telaah

: sakit perut kanan bawah sudah dialami os 1

minggu, sakit hilang timbul, awalnya sakit pada daerah ulu hati kemudian
sekarang sakit pada bagian perut kanan bawah dan terasa semakain sakit
bila daerah tersebut ditekan. Demam sudah 1 minggu, os tidah suka
makan sayuran, nafsu makan menurun, mual (+), muntah (-), BAB (-)
sudah 2 hari, nyeri (-), sesak nafas (-).

IX

PEMERIKSAAN FISIK:
1

Status present
KU/KP/KG

: lemas

Sensorium

: compos mentis

HR

: 100 x/i

RR

: 20 x/i

Temperatur

: 37,5C

Cyanosis

:19

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

Anemia

:-

Dyspnoe

:-

Edema

:-

Ikterus

:-

Status lokalisata
A Kepala
Rambut

: hitam, lurus,

Mata

: anemis (-), ikterus (-)

Hidung

: dalam batas nornal

Telinga: dalam batas normal


Mulut

: dalam batas normal

B Leher
Pembesaran kelenjar getah bening (-)

C Thorax
Inspeksi

: simetris fusiformis, retraksi dinding dada (-),

Palpasi

: stem fremitus kiri = kanan

Perkusi

: sonor kedua lapang paru

Auskultasi

: vesikuler kedua lapang paru

D Abdomen
Inspeksi

: simetris, pembesaran (-)

Palpasi

: psoas sign (+)

Perkusi

: timpani

20

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

Auskultasi

: peristaltik (+)

E Ekstremitas
Superior

: Dalam Batas Normal

Inferior

: Dalam Batas Normal

F Genitalia
Laki-laki , Dalam Batas Normal

PEMERIKSAAN LABORATORIUM:
1

Darah
Tanggal : 18 januari 2014

WBC : 15,6 x 10 /uL

HGB : 12,6 g/dL

RBC

: 4, 66 x 10 /uL

HCT

: 35,6 %

PLT

: 320 x 10 /uL

LED

: 25 mm/jam

Bt/Ct : 4/9

Faces
-

Urine
-

Pemeriksaan radiologi
1

Foto thorax (18 Januari 2014) : Cor dan pulmo clear

Foto polos abdomen (20 Januari 2014) : ileus local

21

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

XI

RESUME:
Os datang ke RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam dengan keluhan sakit
perut kanan bawah sudah dialami os 1 minggu, sakit seperti ditusuk dan
hilang timbul, awalnya sakit pada daerah ulu hati kemudian sekarang sakit
pada bagian perut kanan bawah dan terasa semakain sakit bila daerah
tersebut ditekan. Demam sudah 1 minggu, os tidah suka makan sayuran,
nafsu makan menurun, mual (+), muntah (-), BAB (-) sudah 2 hari, , sesak
nafas (-).
Pada pemerikdaan fisik abdomen didapat
-

Inspeksi : simetris, pembesaran (-)

Palpasi

: psoas sign (+), defans muscular

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: peristaltik (+)

Pada pemeriksaan laoratorium pada tanggal 18 januari 2014 didapat WBC


: 15,6 x 10 /uL, HGB:

12,6

g/dL,

LED

25mm/jam.

Dan

pada

memeriksaan foto polos abdomen pada tanggal 20 Januari 2014 terlihat


ileus local.

XII

DIAGNOSA BANDING:
1

Gastroenteritis

Adenitis Mesenterium

Dyspepsia

XIII

DIAGNOSA KERJA:
Apendisitis akut

22

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

XIV

PENATALAKSANAAN:

IFVD Ringer laktat 30 gtt/i (mikro)

Ij. Ceftriaxone 1gr/12jam

Ij. Ranitidin 25gr/8jam

Ij. Novalgin 250gr/8jam

Ij. Metronidazole 150gr/8jam

Apendiktomi

XV

PROGNOSA:
Baik.
FOLLOW UP PASIEN KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT UMUM DELI SERDANG LUBUK PAKAM

TANGGAL : 18 Januari 2014

TANGGAL : 19 januari 2014

S:

S:

nyeri perut kanan (+), mual (+), deman

nyeri perut kanan (+), mual (-), deman

(+), BAB (-) sudah 2 hari.

(+), BAB (-) sudah 3 hari.

O:

O:

HR :

HR :

RR :

RR :

Temp :

Temp :

BB :

BB :

Psoan sign (+)

Psoan sign (+)

A: Susp. Apendisitis

A: Susp. Apendisitis

23

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

P:

P:
-

IFVD Ringer laktat 30 gtt/i


(mikro)

IFVD Ringer laktat 30 gtt/i


(mikro)

Ij. Ceftriaxone 1gr/12jam

Ij. Ceftriaxone 1gr/12jam

Ij. Ranitidin 25gr/8jam

Ij. Ranitidin 25gr/8jam

Ij. Novalgin 250gr/8jam

Ij. Novalgin 250gr/8jam

Ij. Metronidazole 150gr/8jam

Ij. Metronidazole 150gr/8jam

Foto thorax

Foto polos abdomen

TANGGAL : 20

TANGGAL : 21

S:

S:

O:

O:

A:

A:

24

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

P:

P:

TANGGAL :

TANGGAL :

S:

S:

O:

O:

A:

A:

P:

P:

TANGGAL :

TANGGAL :

25

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

S:

S:

O:

O:

A:

A:

P:

P:

TANGGAL :

TANGGAL :

S:

S:

26

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

O:

O:

A:

A:

P:

P:

TANGGAL :

TANGGAL :

S:

S:

O:

O:

27

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

A:

A:

P:

P:

TANGGAL :

TANGGAL :

S:

S:

O:

O:

A:

A:

28

[KKS ILMU PENYAKIT ANAK]

P:

P:

TANGGAL :

TANGGAL :

S:

S:

O:

O:

A:

A:

P:

P:

29