Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum

Biokimia Klinis

Hari/tanggal : Jumat, 19 Februari 2016


Waktu
: 13.00 - 16.00 WIB
PJP
: dr. Husnawati, M.Si
Asisten
: Kartika Anggaeni
Rizqy Fachria
Dwi Fauziah
Rachmat Saputra Biki

URINALISIS
Kelompok 7
Rizky Nurhayati
Yunisa Anugrahwati
Afid Fitro S.
Nisa Widya A.

G84120036
G84130040
G84130043
G84130086

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

PENDAHULUAN
Cairan dalam tubuh manusia terbagi manjadi cairan intraselular dan
ekstraselular, dan cairan ekstraselular dibagi menjadi cairan interstisial dan
intravaskular. Semua pembagian ini pada prinsipnya saling menyeimbangkan.
Jika tubuh melewati batas kompensasinya maka diperlukan sejumlah besar cairan
intravena untuk mengkoreksi kekurangan cairan. Jika kompensasi ini tidak terjadi
atau tidak adanya penanganan yang adekuat maka akan berdampak perfusi ke
jaringan akan terganggu bahkan akan mengakibatkan kematian jaringan. Natrium
adalah kation terbanyak dalam cairan ekstrasel, kalium kation terbanyak dalam
cairan intrasel dan klorida merupakan anion terbanyak dalam cairan ekstrasel.
Jumlah natrium, kalium dan klorida dalam tubuh merupakan cermin
keseimbangan antara yang masuk terutama dari saluran cerna dan yang keluar
terutama melalui ginjal (Yasmir dan Ferawati 2012).
Urinalisis sering dilakukan pada manusia dan hewan kecil (Bolodeoku dan
Donaldson 1996), tetapi pada hewan ruminansia besar seperti sapi, hal ini belum
merupakan uji rutin. Analisis kimiawi urin umumnya dilakukan dengan cara uji
dipstickyaitu suatu tes yang menggunakan stik yang dibuat khusus yang terdiri
atas strip untuk mendeteksi glukosa, protein, bilirubin, urobilinogen, pH, berat
jenis, darah, keton, nitrit, dan leukosit. Penggunaan dipstickpada urinalisis tidak
memerlukan keterampilan khusus, selain itu hasilnya bisa didapat hanya dalam
waktu beberapa menit (Utama et al 2011).
Pemeriksaan kesehatan berdasarkan urin atau yang sering disebut dengan
urinalysis berdasarkan pada kandungan urin dapat menunjukkan potensi
kelainan pada pasien. Variasi warna urin dapat disebabkan oleh jenis makanan
atau obat yang dikonsumsi oleh pasien. Beberapa manfaat urinalysis adalah dapat
digunakan untuk mengetahui adanya potensi gangguan hati, diabetes mellitus,
infeksi pada ginjal atau saluran kemih (Izzah et al 2013).
Kelainan dan gangguan pada ginjal khusunya pada manusia antara lain
uremia yaitu tertimbunnya urea dalam darah sehingga mengakibatkan keracunan.
Albuminuria adalah urine mengandung albumin (protein darah). Hal ini dapat
terjadi karena adanya kerusakan pada glomerulus sehingga proses filtrasi
berlangsung tidak sempurna. Diabetes insipidus yaitu penyakit kekurangan
hormon vasopresin atau hormon antidiuretik (ADH) yang mengakibatkan
hilangnya kemampuan mereabsorpsi cairan. Akibatnya, penderita mengeluarkan
urin berlimpah (bisa mencapai 20 liter). Diabetes melitus ditandai oleh adanya
glokusa dalam urine. Diabetes militus terjadi karena menurunnya hormon insulin
yang dihasilkan pankreas. Nefritis adalah suatu gangguan pada ginja karena
infeksi bakteri Streptococcus sihingga mengakibatkan protein masuk ke dalam
urine. Batu ginjal adalah terbentuknya endapan dari garam kalsium dan
penimbunan asam urat sehingga membentuk CaC03 (kalsium karbonat) pada
ginjal maupun saluran ginjal atau kandung kemih. Kondisi ini dapat
mengakibatkan kesulitan pengeluatan urine. Batu ginjal dapat dihilangkan dengan
pembedahan (opersi). Selain itu batu ginjal juga dapat dipecahkan menggunakan
sinar leser. Gagal ginjal adalah ginjal tidak dapat berfungsi lagi sebagai organ
ekresi. Kegagalan ginjal yang akut dapa menyebapkan perdarahan dan fungsi
jantung terhenti secara tiba tiba. Kemudian untuk menggantikan fungsi ginjal,
penderita mempunyai dua alternatif yaitu melalui pencangkokan ginjal atau cuci
darah (dialisis).

Tujuan praktikum ini sebagai upaya mengenal berbagai macam pengujian


terhadap urin dan hubungannya dengan diagnosis suatu penyakit atau
kondisi/fungsi oorgan tertentu. Selain itu, mahasiswa mengerti prinsip-prinsip
biokimia serta melakukan berbagai macam pengujian tersebut.
METODE
Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum urinalisis ini dilakukan di Laboratorium Pendidikan Biokimia
Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB.
Waktu praktikum yaitu hari Jumat tanggal 19 Februari 2016 pukul 13.00-16.00
WIB.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sampel urin, urin
kualitatif, kertas saring, asam asetat 6%, pereaksi Bang (larutan buffer pH 4.7),
asam sulfosalisilat 25%, pereaksi Benedict, kristal ammonium sulfat, larutan
natrium nitroprusida 5%, amonia pekat, larutan benzidin 1%, larutan H2O2 3%,
pereaksi Diazo, larutan etanol, larutan Zn-asetat, dan larutan Lugol. Alat yang
digunakan dalam percobaan ini adalah urinometer, indikator pH universal, gelas
piala, labu Erlenmeyer, pipet mohr, penangas air, tabung reaksi, corong, dan
lampu UV.
Prosedur Penelitian
Pemeriksaan visual dan fisik. Sampel urin yang telah disiapkan diamati
warna dan baunya. Setelah itu, berat jenis sampel urin diukur dengan
menggunakan urinometer. Bila urin berbuih gunakan kertas saring untuk
menghilangkan buih dan faktor koreksi suhunya diperhatikan. Bobot jenis (BJ)
dalam tuga angka decimal. Kadar padatan urin dihitung dan dikalikan dua angka
terakhir BJ urin (dua decimal terakhir) dengan koefisien Long (2.6), maka akan
diperoleh kadar padatan dalam gram per 1000 mL urin. Setelah itu, pH urin diukur
dengan menggunakan indikator pH universal.
Proteinuria (uji koagulasi, uji Bang, uji asam sulfosalisilat). Uji
koagulasi dimulai dengan sampel urin yang disaring dan dipipet filtrat urinnya
sebanyak 5 mL. Setelah itu dipanaskan hingga mendidih. Kekeruhan akan timbul
dan berwarna putih dapat disebabkan oleh protein atau fosfat yang terkadung
dalam sampel urin. Asam asetat 6% ditambahkan ke dalam sampel urin setelah
pemanasan. Bila cairan menjadi jernih kembali maka kekeruhan disebabkan oleh
fosfat. Bila setelah penambahan asam asetat kekeruhan makin nyata maka
penyebab kekeruhan adalah protein. Uji Bang dimulai dengan sebanyak 5 mL
filtrat urin dipipet dan ditambahkan dengan 2 mL pereaksi Bang (larutan buffer
pH 4.7). Keduanya dicampurkan baik-baik dan dipanaskan. Hasil uji Bang
dibandingkan dengan hasil uji koagulasi. Uji asam sulfosalisilat dimulai dengan 3
mL filtrat urin dipipet dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi dengan
dimiringkan tabung reaksinya. Secara perlahan-lahan ditambahkan 3 mL pereaksi
(25% asam sulfosalisilat) melalui dinding tabung. Asam ini akan membentuk
lapisan di bawah cairan urin. Setalah 1 menit, kekeruhan yang timbul di
pertemuan antara lapisan asam dan urin diperhatikan dan dicatat hasilnya.
Glukosuria (uji Benedict). Sebanyak 5 mL pereaksi Benedict dipipet dan
ditambahkan dengan 8 tetes urin yang telah disaring. Setelah itu dipanaskan di
atas penangas air hingga mendidih, didinginkan, dan diperhatikan perubahan

warna larutan. Adanya gula pereduksi dapat dilihat bila larutan berubah warna
menjadi hijau-kuning-merah bata.
Ketonuria (uji Rothera). Sebanyak 5 mL urin dipipet dan ditambahkan
dengan kristal ammonium sulfat sampai jenuh. Setelah itu ditambahkan dengan 23 tetes larutan natrium nitroprusida 5% dan 1-2 mL amonia pekat. Hasil warna
yang terbentuk diperhatikan dan dicatat
Darah (uji peroksidase/uji benzidin). Sebanyak 3 mL larutan benzidin
1% ditambahkan 1 mL H2O2 3% dan dicampur baik-baik dengan cara memindahmindahkan larutan diantara dua tabung reaksi, selanjutnya dibagi ke dalam dua
tabung rekasi tersebut. Sampel urin disiapkan dan ditetesi ke dalam salah sau
tabung, sedangkan tabung yang lain digunakan sebagai blanko. Perubahan warna
yang terjadi diperhatikan dan dicatat hasilnya.
Bilirubin (metode Hyman-Bergh). Sebanyak 1 mL pereaksi Diazo yang
masih segar ditambahkan 1 mL urin beralkohol, dan dibubuhi setetes amonia
pekat. Adanya bilirubin ditunjukkan oleh timbulnya warna merah eosin.
Uribilinogen dan Urobilin (Metode Schlessinger). Sebanyak 5 mL urin
ditambahkan dengan suspensi Zn-asetat jenuh beralkohol. Setelah itu ditetesi
dengan sedikit amonia, dikocok, dan didiamkan sebentar. Selanjutnya disaring
dengan kertas saring kering dan ditampung filtratnya. Kemudian diamati ada atau
tidaknya flouresensi pada filtrat. Hal ini disebabkan oleh adanya urobilin
urobilinogen tidak memberi flouresensi, tetapi setelah dibubuhi beberapa tetes
larutan Lugol akan menghasilkan flouresensi juga. Hasilnya akan lebih nyata bila
menggunakan lampu UV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil praktikum, data urinalisis diperoleh sebagai berikut.
Tabel 1 Pemeriksaan visual dan fisik
Parameter
Warna
Bau
Buih
Berat jenis (mg / mL)
Kadar padatan (g / L)
pH
Suhu
Contoh perhitungan:
T urinometer = 20
Koreksi =
= 4.67 = 5
BJterkoreksi = 1.020 + 0.005

Hasil
Urin Probandus
Jingga
Bau urin
Berbuih
1.025
65
6
34 C

Urin kualitatif
Kuning
Tidak berbau
Tidak berbuih
1.013
33.8
10
33 C
Kadar padatan = 25 x 2.6
= 65 g / 1000 mL

= 1.025 mg / mL
Merujuk tabel 1, pemeriksaan visual dan fisik antara sampel urin probandus dan
urin kualitatif menunjukkan bahwa berat jenis urin probandus 1,025 dan urin kulaitatif
1,013. Kemudian dari warna terlihat berbeda, pada urin probandus terlihat warna jingga
sedangkan pada urin kualitatif berwarna kuning. Bau dan buih yang dihasilkan urin
probandus berbau dan berbuih, sedangkan urin kualitatif tidak berbau dan tidak berbuih.
Kadar padatan yang dihasikanpun sangat jauh berbeda, pada urin probandus kadar
padatannya 65 g/1000 mL, sedangkan kadar padatan pada urin kualitatif sebesar 33,8 g/L.

Suhu pada urin probandus sebesar 34 OC dan pH 6, sedangkan suhu pada urin
kualitatif 33 oC dan pH 10.
Urin manusia mempunyai pH fisiologis berkisar antara 4,6 hingga 8,0
dengan rerata sekitar 6,0. Kelaparan dan ketosis meningkatkan keasaman urin.
Sangat tidak lazim urin bersifat basa, kecuali pada kondisi tertentu seperti
alkalosis, terlalu banyak mengkonsumsi senyawa basa seperti obat untuk
penderita tukak lambung, atau adanya bakteri dalam urin yang menghasilkan
amonia. Penentuan pH dapat dilakukan dengan kertas celup yang mengandung
indikator asam/basa atau kertas indikator pH komersil.
Tabel 2 Uji kualitatif urin
Uji

Hasil
Urin probandus
Urin kualitatif

Koagulasi

Tidak keruh (-)

Tidak keruh (-)

Bang

Tidak ada
endapan (-)

Tidak ada
endapan (-)

Asam
sulfosalisilat

Tidak ada
lapisan (-)

Tidak ada
lapisan (-)

Benedict

Hijau (+)

Hijau (+)

Rothera

Kuning (-)

Lapisan merah
muda seulas
(+)

Gambar
Urin probandus
Urin kualitatif

*file not found !!

*file not found !!

Bilirubin

Kuning (-)

Lapisan merah
muda seulas
(+)

Urobilin

Tidak berpendar
(-)

Tidak
berpendar (-)

Berdasarkan tabel 2, uji koagulasi urin probandus dan urin kualitatif


disaring lebih dahulu kemudian pipet sebanyak 5 mL dan panaskan sampai
mendidih. Kekeruhan yang timbul dan berwarna putih dapat disebabkan oleh
protein, tetapi bisa juga oleh fosfat. Tambahkan 1-3 tetes asam asetat, bila cairan
menjadi jemih kembali maka kekeruhan disebabakan oleh fosfat. Berdasarkan
tabel 1, setelah penambahan asam itu keduanya tidak ada kekeruhan.
Glukosuria. Glukosa dapat ditemukan di dalam air kemih sebagai akibat
dari penyakit ginjal, namun hal ini sangat jarang terjadi. Umumnya pemeriksaan
gula di dalam urina dilakukan untuk menduga adanya penyakit diabetes atau
untuk memantau khasiat pengobatan insulin pada penderita diabetes. Pemeriksaan
dapat dilakukan dengan cara kimiawi maupun enzimatis. Pada prinsipnya secara
kimiawi suatu larutan basa CuSO4 yang panas akan mengoksidasi semua gula
pereduksi dan membentuk endapan Cu2O warna merah bata hingga kuning.
Sedangkan metode enzimatis yang sering digunakan ialah menggunakan batang
celup yang mengandung enzim glukosa oksidase dan peroksidase serta dua
senyawa kimia lain, yaitu suatu peroksida organik dan otolidina, suatu donor
hidrogen yang tak berwarna tetapi berubah menjadi biru bila dioksidasi
(kehilangan 2 atom H-nya). Glukosa oksidase mengoksidasi glukosa menjadi
asam glukonat dan H2O2. Setelah itu H2O2 diurai oleh peroksidase menjadi H2O
dan terjadi oksidasi terhadap o-tolidina menjadi pigmen biru. Enzim ini sangat
spesifik untuk beta-glukosa, namun reaksinya dapat dihambat oleh asam askorbat
atau asam urat di dalam urina sehingga menghasilkan reaksi negatif yang semu
(false negative), namun pada praktikum ini tidak dilakukan uji glukosuria.
Ketonuria. Badan-badan keton tidak ditemui dalam air kemih orang sehat
dengan menu seimbang. Akan tetapi senyawa ini mungkin terdapat dalam urina
penderita diabetes yang tak diobati, pada orang yang tidak makan beberapa hari
lamanya, atau yang tengah berdiet kaya lemak rendah karbohidrat. Metode yang
paling lazim dipakai untuk mendeteksi senyawa keton dalam urina berdasar pada
reaksi antara natrium nitroprusida dan asetoasetat atau aseton dalam suasana basa;
hasilnya senyawa berwarna merah muda keunguan (lavender), Betahidroksibutirat
tidak bereaksi dengan pereaksi ini.
Uji darah dalam urin, terdapat dua kemungkinan ditemukannya darah di
dalam air kemih yaitu pertama, hematuria yakni adanya sel darah merah (eritrosit)
dalam air kemih, dan yang ke dua, hemoglobinuria yaitu bila air kemih

mengandung hemoglobin. Hematuria umumnya disebabkan oleh adanya luka di


organ/saluran setelah ginjal (ureter, kandung kemih, uretra). Sel-sel darah merah
dapat langsung dilihat di bawah mikroskop setelah urina disentrifus lebih dahulu.
Terjadinya hemoglobinuria menandakan hemolisis dalam aliran darah di dalam
saluran kemih. Gejala ini lazim menyertai berbagai penyakit ginjal atau penyakit
pada saluran kemih. Darah (sel darah atau hemoglobin) yang jumlahnya sangat
sedikit dalam air kemih (hingga tidak terlihat mengubah warna air kemih) masih
dapat dideteksi secara enzimatis dengan kertas/gagang yang mengandung
senyawa peroksida. Hemoglobin akan betindak sebagai enzim yang menguraikan
senyawa peroksida, dalam proses ini akan terjadi oksidasi terhadap donor
hidrogen yang ditambahkan (o-tolidin) ke dalam sistem, sehingga akan terbentuk
warna biru. Cara kimiawi menggunakan prinsip yang sama, hanya cara ini tidak
terlalu sensitif karena memerlukan hemoglobin yang relatif cukup banyak untuk
menimbulkan hasil positif. Uji Benzidin (Uji Peroksidase).
Bilirubin, merupakan pigmen empedu utama, terbentuk dari
penghanghancuran hemoglobin yang berasal dari eritrosit yang telah usang.
Dalam prosesnya bilirubin harus dibuang ke luar tubuh; untuk itu metabolisme di
dalam hepatosit akan mengubahnya menjadi bilirubin diglukuronida (bilirubin
ester) yang larut air untuk dikeluarkan bersama cairan empedu. Di usus besar
bilirubin ester akan direduksi oleh bakteri usus menjadi urobilinogen, pigmen tak
bewarna; sebagian akan diserap-balik melalui vena porta ke hati, urobilinogen
yang tidak diserap-balik ke hati akan teroksidasi sebagian menjadi urobilin dan
pigmen berwarna kecoklatan lainnya untuk dikeluarkan bersama tinja. Ada
sebagian kecil (1%) urobilinogen akan dikeluarkan melalui ginjal bersama air
kemih. Oleh karena itu, bilirubin tidak akan terdeteksi di dalam air kemih individu
normal dan sehat. Adanya bilirubin dalam air kemih menandakan adanya
gangguan patologis pada hati atau sistem empedunya. Biasanya yang ditemui
adalah bentuk larut-nya yaitu bilirubin ester. Sebaliknya pada individu yang sehat
akan terdapat urobilinogen dalam air kemihnya sebagai hasil metabolisme
bilirubin. Kira-kira sebanyak 1-4 mg/24 jam uribilinogen dikeluarkan dalam air
kemih. Jumlah ini akan meningkat pada penyakit hemolisis (karena meningkatnya
sintesis bilirubin), pada penyakit hemolisis (akibai berkurangnya serap-balik oleh
hepatosit), dan pada gagal jantung. Adanya sumbatan oleh batu empedu, baik di
kantung mau pun di saluran empedu, akan menurunkan bahkan menihilkan
urobilinogen dalam air kemih. Uji Bilirubin metode Hyman vd Bergh.
Siklus urea terjadi di hati, produk akhirnya yaitu urea kemudian akan
masuk melalui sirkulasi darah dan dibuang lewat ginjal (urin).
SIMPULAN
Upaya mengenal berbagai macam pengujian terhadap urin dan
hubungannya dengan diagnosis suatu penyakit atau kondisi/fungsi organ tertentu
dapat dilakukan. Selain itu juga mengerti prinsip-prinsip biokimia serta
melakukan berbagai macam pengujian tersebut berupa pemeriksaan visual dan fisik
dan kemudian untuk uji kualitatif urin dapat dilakukan berupa uji proteinuria, uji
glukosuria, ketonuria, bilirubin, urobilinogen dan urobilin.
DAFTAR PUSTAKA
Bolodeoku J, Donaldson D. 1996. Urinalysis in clinical diagnosis. University of
Oxford J Clin Pathol 49: 623-626.

Izzah A, Ginardi H, Saikhu A. 2013. Pendekatan algoritma heuristik dan neural


network untuk screening test pada urinalisis. Jurnal Cybermatika 1 (2).
Utama Iwan H et al. 2011. Urinalisis menggunakan dua jenis Dipstic (batang
celup) pada sapi Bali. Jurnal Veteriner Universitas Udayana 12 (1) : 107112.
Yaswir R dan Ferawati I. 2012. Fisiologi dan gangguan keseimbangan natrium,
kalium, dan klorida serta pemeriksaan laboratorium. Jurnal Kesehatan
Andalas 1(2).