Anda di halaman 1dari 31

I.

MEMBUAT LUBANG RESAPAN BIOPORI (LRB)


A. Teori
Kondisi kota yang memiliki lahan resapan air yang sangat sedikit sekali disertai dengan
penggunaan air tanah yang sangat berlebihan menyebabkan penurunan permukaan tanah serta
mengakibatkan sulitnya untuk mendapatkan air berkualitas baik dan cukup di kawasan tersebut.
Akibat yang dapat dirasakan adalah keseimbangan lingkungan semakin rusak dan tidak
terkendali. Diperlukan adanya gerakan pelestarian alam sekitar yang dilakukan secara bersamasama oleh semua pihak serta berkesinambungan.
Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mencegah mengalirnya air hujan ke selokan
yang kemudian terbuang percuma ke laut lepas adalah dengan pembuatan Lubang Resapan
Biopori (LRB). LRB merupakan lubang berbentuk silinder, yang digali dalam tanah, dengan
garis tengah kurang lebih 10 cm dengan kedalaman sekitar 100 cm dari permukaan tanah.
Pemilihan dimensi tersebut bertujuan untuk efisiensi penggunaan ruang horizontal yang makin
terbatas dan mengurangi beban resapan. Tabel berikut akan memperjelas uraian di atas.
Tabel 1 : Hubungan garis tengah lubang dengan beban resapan dan pertambahan luas permukaan
resapan
Mulut
lubang
2
(cm )
10
78,57
40
1257
60
2829
80
5029
100
7857
Sumber : Brata, 2008
Garis tengah
lubang (cm)

Luas
dinding
2
(m )
0,31
1,26
1,89
2,51
3,14

Pertambahan
luas
(kali)
40
11
7
5
4

Volume (liter)
7,86
125,71
282,86
502,86
785,71

Beban
resapan
2
(liter/m )
25
100
150
200
250

LRB akan meningkatkan kemampuan tanah dalam meresapkan air. Air meresap melalui
biopori (yang menembus permukaan dinding LRB) ke dalam tanah sekitar lubang. Biopori
merupakan ruangan atau pori dalam tanah yang dibentuk oleh makhluk hidup, bentuk
menyerupai terowongan kecil dan bercabang-cabang, efektif menyalurkan air dan udara ke dan
di dalam tanah Jumlah dan ukuran biopori akan bertambah mengikuti peningkatan populasi dan
aktivitas organisme tanah
Beberapa manfaat Lubang Resapan Biopori (LRB) antara lain : memperbaiki ekosistem
tanah, meresapkan air, mencegah banjir, menambah cadangan air tanah, mengatasi kekeringan,

Panduan Praktikum Konservasi Tanah dan Air

Page 1

mengubah sampah menjadi kompos (maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah),
mempermudah penanganan sampah, menjaga kebersihan, mengatasi masalah akibat genangan.
Tempat tempat yang dapat dibuat Lubang resapan Biopori adalah tempat yang dilalui
aliran air/di mana air berkumpul, tidak berbahaya dan indah dilihat. Antara lain :
1. Saluran pembuangan air
2. Sekeliling pohon
3. Perubahan kontur taman
4. Tepi taman dan samping pagar
B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan Lubang Resapan Biopori antara lain :
1. Bor biopori.
2. Palu, bethel, pisau/belati
3. Sampah organik
4. Semen
5. Pralon/loster/tutup lubang air
C. Cara Pembuatan LRB :
1.

Siapkan peralatan, bahan yang digunakan, tentukan lokasi LRB

2.

Gunakan bethel, palu bila permukaannya keras. Siram dengan air bila permukaan tanah
terlalu keras

3.

Posisikan mata bor di permukaan tanah, tegakkan tangkai bor secara vertikal. Tekan dan
putar setang bor ke arah kanan

4.

Setelah masuk sedalam 20 cm, tarik bor keluar sambil diputar seperti saat masuk. Kenapa
setelah 20 cm ?

5.

Keluarkan tanah dari mata bor dengan belati atau pisau. Masukkan tanah ke dalam ember

6.

Lanjutkan pemboran dengan cara yang sama sampai kedalaman 100 cm. Kalau kena batu/bebatuan ?

7.

Perkuat mulut LRB dgn adukan semen dan pasir. Caranya :


a. Siapkan potongan pralon 4 dim, bungkus dengan kertas koran bagian luar
b. Lipat ujung koran ke dalam pralon hingga menyatu dgn pralonnya
c. Masukkan ke mulut LRB sedalam 2cm
d. Sisipkan adukan semen pasir seputar pipa pralon

e. Tambahkan hiasan pada permukaan adukan semen dengan batu hias/pecahan keramik.
Tekan sehingga kencang
f. Bila telah kering cabut pipa pralon, dorong kertas ke dalam LRB
8.

Masukkan sampah organik, lebih baik telah dipotong-potong,

9.

Dorong dgn tongkat atau bambu. Jangan terlalu padat. Kenapa ?

10. Tutup agar tdk berbahaya, sehingga kuat menahan beban tetapi fungsi LRB harus tetap
berjalan

Gambar 1. Skema lubang resapan biopori


Perawatan
Agar dapat berfungsi sebagai mana mestinya LRB perlu dirawat. Cara perawatan
sebagai berikut :
1. Bila mulut tertutup tanah terlalu tebal, keluarkan tanah dengan bor. Supaya air hujan tidak
terhambat masuk ke dalam LRB
2. Tambah sampah bila terjadi penurunan dari permukaaan (biasanya setelah hujan dan LRB
masih relatif baru)

II. PENGAMBILAN CONTOH TANAH


A. Teori
Ada beberapa cara pengambilan contoh tanah untuk keperluan analisis laboratorium,
yang masing masing cara tergantung pada macam analisis yang akan dilakukan terhadap contoh
tanah tersebut. Untuk penentuan sifat tanah, terutama sifat sifat fisika tanah ada 3 (tiga) macam
contoh tanah yang diperlukan yaitu :
1. Contoh tanah tak terusik (undisturbed soil sample), yang diperlukan untuk analisis penentuan
berat volume (bulk density), agihan ukuran besar pori (pore size distribution) kurva pF dan
permeabilitas.
2. Contoh tanah dengan agregat tak terusik (undisturbed soil aggregate), yang diperlukan untuk
menentukan kemantapan agregat tanah (aggregate stability).
3. Contoh tanah terusik (disturbed soil sample), yang diperlukan untuk penentuan penentuan :
kadar lengas, tekstur, angka angka Atterberg, kenaikan kapiler, sudut kontak, kadar lengas
kritikal, konduktivitas hidrolik tidak jenuh, erodibilitas/erosi dengan rainfall simulator, dan
aneka macam analisis sifat sifat kimia tanah.
B. Pengambilan contoh tanah tak terusik
1. Alat dan perlengkapan
a. Tabung berbentuk silinder terbuat dari kuningan berukuran tinggi 4 cm, dengan garis
tengah luar 7.93 cm dan garis tengah dalam 7,63 cm. Dapat pula terbuat dari baja
tahan karat (stainless steel) berukuran tinggi 5,1 cm dengan garis tengah luar 5,3 cm
dan garis tengah dalam 5,0 cm. Tebal tabung untuk pengambilan contoh tanah (ring
sampler) ini harus memenuhi syarat tertentu untuk menghindari tekanan dari samping.
Tabung biasanya ada nomornya.
b. Pisau tajam dan tipis.
c. Sekop atau cangkul
d. Tangkai pelengkap tabung
2. Cara kerja
a. Untuk tabung pengambil contoh (ring sampler) terbuat dari kuningan
1). Ratakan dan bersihkan lapisan tanah yang akan diambil contohnya, letakkan
tabung pengambil contoh tegak pada lapisan tanah, ingat nomor jangan terbalik.

2). Gali tanah di sekeliling tabung dengan sekop atau cangkul dan kerat memakai
pisau sampai hampir mendekati dinding tabung.
3). Tekan tabung sampai lebih dari separo tabung masuk ke dalam tanah, kemudian
tumpangkan tabung kosong yang lain di ats tabung pertama, tekan sampai bagian
bawah tabung kedua ini masuk ke dalam tanah 1 cm.
4). Tabung beserta tanah yang ada di dalamnya diambil dengan jalan digali dengan
sekop atau cangkul.
5). Pisahkan tabung kedua dengan hati hati, kemudian potong kelebihan tanah yang
ada di bagian atas maupun bawah tabung sampai rata.
Ingat : dalam memotong kelebihan tanah ini dilakukan dengan jalan mencacah
tanah tegak lurus permukaan ujung tabung, jangan langsung diiris.
6). Tutup kedua ujung tabung dengan tutup plastik.
7). Catat lokasi dan jeluk pengambilan contoh.
Catatan : Pengambilan contoh tanah tak terusik ini seyogyanya dilakukan pada
keadaan lengas tanah sekitar kapasitas lapangan. Kalau tanah terlalu kering, dapat
dilakukan penyiraman lebih dahulu sehari sebelum pengambilan contoh tanah
dilakukan.
Penggunaan palu atau pemukul yang lain dihindarkan. .
b. Untuk tabung pengambil contoh (ring sampler)terbuat dari stainless steel
1). Ratakan dan bersihkan lapisan tanah yang akan diambil contohnya.
2). Pasang tabung pada tangkai pelengkapnya, tekan dan masukkan tabung ke dalam
tanah.
3). Gali tanah di sekitar tabung dengan sekop atau cangkul dan kerat dengan pisau
sampai hampir mendekati dinding tabung.
4). Tabung beserta tangkai pelengkapnya diambil dengan jalan digali/didongkel
dengan sekop atau cangkul.
5). Ambil tabung yang berisi tanah, kemudian potong kelebihan yang ada di bagian
atas maupun bawah tabung sampai rata.
6). Tutup dengan tutup plastik.
7). Catat lokasi dan jeluk pengambilan contoh.

C. Pengambilan contoh tanah dengan agregat tak terusik dan contoh tanah terusik
1. Alat dan perlengkapan
a. Kotak terbuat dari aluminium atau seng atau kayu yang kuat dan berukuran cukup
untuk diisi sekitar 2 kg agregat tak terusik.
b. Sekop atau cangkul.
c. Kantong plastik untuk tempat contoh tanah terusik
2. Cara kerja
a. Gali tanah sampai jeluk atau lapisan yang diinginkan. Untuk kemantapan agregat
umumnya diambil sedalam mintakat (zone) perakaran.
b. Ambil gumpalan gumpalan tanah yang masih menunjukkan agregat agregat
aslinya, dan masukkan ke dalam kotak yang telah disiapkan. Apabila kotak semacam
ini tidak tersedia, dapat dipakai tempat yang lain (bekas kue/kaleng roti, kotak plastik
dan lain lain) asalkan dapat dijamin agregat tanah tetap utuh selama pengangkutan.
c. Untuk contoh tanah terusik contoh tanah yang diambil dimasukkan ke dalam kantong
plastik.
d. Catat lokasi dan jeluk pengambilan dan beri label pada kotak/kantong plastik.
D. Pengambilan contoh tanah dari profil
1. Gali lubang profil seperti yang dilakukan dalam survai tanah, bedakan masing masing
lapisan/horizon yang ada dengan batas batasnya kemudian candera profil tersebut.
2. Ratakan dan bersihkan permukaan tanah pada salah satu sisi lubang profil.
3. Ambil contoh tanah (baik yang tak terusik, agregat tak terusik ataupun terusik) seperti
cara yang telah dikemukakan di atas.
4. Buang/bersihkan sisa lapisan/horison pertama sampai batas lapisan kedua. Ratakan dan
ambil contoh tanahnya seperti tersebut di atas.
5. Demikian seterusnya sampai lapisan terakhir.

III. PENGUKURAN DEBIT


A. Teori
Istilah debit digunakan dalam hal pengawasan kapasitas atau daya tampung air di
sungai, bendungan, atau waduk, agar dapat dikendalikan. Debit air adalah kecepatan aliran zat
cait per satuan waktu. Misalnya Debit air sungai Pesanggrahan adalah 3000 l/detik. Artinya
setiap 1 detik air yang mengalir di sungai Pesanggrahan adalah 3000 l. Satuan debit digunakan
dalam pengawasan kapasitas atau daya tampung air di sungai atau bendungan agar dapat
dikendalikan.
Pada umumnya debit sungai tergantung pada musim dan lokasinya. Untuk memperoleh
angka debit rata rata diperlukan waktu 10 tahun lebih, minimal untuk memperoleh data debit
dalam musim hujan dan musim kering. Debit ditulis dengan rumus sebagai berikut :

=VA

Keterangan :
3

= debit air (m /detik, atau liter/detik)

= kecepatan aliran air (m/detik)

= luas penampang basah sungai/saluran (m )

Salah satu cara pengukuran debit adalah dengan menggunakan pelampung atau metode
apung (floating method). Metode ini digunakan untuk menentukan kecepatan aliran air.
Kecepatan aliran sungai diukur dengan menempatkan benda yang tidak dapat tenggelam di
permukaan aliran sungai untuk jarak tertentu dan mencatat waktu yang diperlukan oleh benda
apung tersebut bergerak dari satu titik pengamatan ke titik pengamatan lain yang telah
ditentukan. Benda apung yang digunakan dalam pengukuran ini pada dasarnya adalah benda apa
saja sapanjang dapat terapung dalam aliran sungai. Pemilihan tempat pengukuran sebaiknya pada
bagian sungai yang relatif lurus dengan tidak banyak arus tidak beraturan. Jarak antara dua titik
pengamatan yang diperlukan ditentukan sekurang-sekurangnya yang memberikan waktu
perjalanan selama 20 detik. Pengukuran dilakukan beberapa kali sehingga dapat diperoleh
kecepatan rata-rata permukaan aliran sungai. Secara sederhana dilakukan dengan mencatat waktu
(t) yang diperlukan oleh pelampung untuk menempuh jarak tertentu (D).

Bentuk penampang sungai atau saluran irigasi bermacam macam antara lain :
Berbentuk V, umumnya terdapat pada bagian hulu sungai atau di daerah sumber/pegunungan.
Berbentuk U atau parabola, umumnya terdapat pada Daerah Aliran Sungai (DAS)
Berbentuk trapezium sama kaki, umumnya terdapat pada sungai di daerah dataran rendah.
Pengukuran penampang basah didasarkan pada rumus :

Keterangan :
2

= luas penampang basah (m )

= lebar sungai (m)

= dalamnya sungai (m)

= angka koefisien penampang yang harganya tergantung pada bentuk penampang, dalam
praktek biasanya dipergunakan harga c = 0,6
Pengukuran lebar sungai (B) menggunakan alat pengukur biasa (meteran) atau

menggunakan Theodolit bila penampang sungai cukup lebar. Pengukuran dalam sungai (h) dapat
menggunakan beberapa alat antara lain : Tongkat ukur, Tambang + pemberat, Papan duga dan
Gelombang suara (Echo sounder). Pada sungai yang penampangnya lebar, pengukuran h dapat
dilakukan pada beberapa tempat atau pada setiap kolom (jalur) sehingga diperoleh pengukuran :
h1, h2, h3 .. hn, seperti terlihat pada skema di bawah ini.
b1

b2

A1

A2
h1

b3

b4

A3

A4

h2

h3

b5
A5
h4

Gambar 2. Skema pengukuran luas penampang basah


Berdasarkan skema di atas, maka dapat ditentukan luas penampang masing masing
kolom (jalur) dan kecepatan pada kolom (jalur) tersebut. Selanjutnya ditentukan debit pada
masing masing kolom (jalur). Debit sungai merupakan penjumlahan dari debit masing
masing kolom (jalur)

V1

A1

Q1 = A1V1

V2

A2

Q2 = A2V2

V3

A3

Q3 = A3V3

V4

A4

Q4 = A4V4

Vn

An

Qn = AnVn

dan seterusnya, selanjutnya

Debit sungai = Q1 + Q2 + Q3 + Q4 + + Qn
B. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam pengukuran debit ini adalah:
1. Rol meter
2. Meteran
3. Pelampung/bola pingpong
4. Stop watch/alat sejenis
5. Patok kayu
6. Tali plastik
C. Cara Kerja
1. Rentangkan tali plastik melintang tegak lurus sungai
2. Ukur lebar sungai dengan rol meter dari ujung tali yang tepat berada pada kedua tepi air
3. Bagi lebar sungai menjadi 5 bagian sama panjang (untuk 5 kelompok)
4. Beri tanda pada tiap tiap bagian tali plastik dengan karet gelang (jarak antar karet gelang
sama)
5. Ukur kedalam air pada tali plastik bertanda
6. Rentangkan tali plastik melintang tegak lurus sungai berjarak D meter dari tali plastik
pertama
7. Letakkan bola pingpong sebagai pelampung kira kira 100 cm sebelum tali plastik pertama.
8. Catat waktu yang diperlukan bola pingpong dari tali plastik pertama sampai tali plastik
kedua (t detik) dengan stopwatch/alat sejenis

9. Masing masing kelompok melakukan pengukuran kedalaman sungai, lebar sungai, waktu
tempuh pelampung dan jarak tempuh pelampung untuk semua kolom/lajur dengan cara
bergantian
10. Catat hasil pengamatan kelompok Saudara pada tempat yang disediakan
11. Bandingkan hasil pengamatan kelompok Saudara dengan kelompok lain
12. Beri komentar hasil pengamatan dan perhitungan yang diperoleh
D. Hasil Pengukuran
Kelompok :

No

D ke
(m)

t ke
(det)

V
(D/t)

b ke
(m)

1
2
3
4
5
Rata rata debit sungai

E. Perhitungan

h ke
(m)

A ke
2
bh (m )

Q
(V A)

F. Hasil Perhitungan Kelompok Lain


QA1/B1

QA2/B2

QA3/B3

QA4/B4

QA5/B5

G. Komentar

IV. MENENTUKAN EROSIVITAS HUJAN


A.Teori

Erosivitas hujan (=Indeks Erosi Hujan = Daya Erosi Hujan) adalah kemampuan hujan

untuk menimbulkan/menyebabkan erosi (Arsyad, 2000). Erosivitas hujan dipengaruhi oleh


jumlah curah hujan, intensitas hujan, diameter butir hujan, kecepatan jatuh butir hujan, kecepatan
angin dan distribusi hujan.
Jika alat pengukur hujan (Ombrometer) automatis, maka Erosivitas dihitung dengan rumus sbb:
-2

(EI30) = E (I30. 10 )
Keterangan:
EI30 : Interaksi Energi dg intensitas mak 30 menit
E

: Energi kinetik hujan = 210 + 89 log i; i adalah intensitas hujan

I 30

: Intensitas hujan mak selama 30 menit dlm suatu kejadian hujan

Jika alat pengukur hujan (Ombrometer) manual, maka Erosivitas dihitung dengan rumus sbb:
a. Lenvain (1975):
1,36

E I30 = 2,21 (Rain)m


(Rain)m = ch bulanan (cm)
b. Bols (1978):

E I30 = 6,119 (RAIN)

1,21

. (DAYS)

-0,47

0,53

. (MAXP)

RAIN = CH bulanan (cm)


DAYS = hari hujan /bulan
MAXP = CH mak selama 24 jam dlm bulan ybs (cm)
E I30 tahunan = jumlah E I30 bulanan (dari Januari s/d Desember). Erosivatas hujan untuk suatu
tempat adalah erosivitas hujan rata-rata hujan tahunan selama beberapa tahun. Misalnya 5 th,
atau 10 th dan seterusnya.

B. Bahan dan Alat


1. Data curah hujan bulanan selama 5 tahun, digunakan untuk menghitung erosivitas dengan
rumus Lenvain.
2. Data curah hujan bulanan disertai dengan hari hujan dan curah hujan maksimum selama 24
jam dalam bulan yang bersangkutan, untuk menghitung erosivitas dengan rumus Bols.
3. Alat penghitung (kalkulator) yang dapat menghitung pangkat pecahan atau minus.
C. Cara Kerja
1. Setiap kelompok/regu mencari data curah hujan di stasiun pengukur hujan atau di kantorkantor pengumpul data curah hujan 5 tahun terakhir. Data dari setiap kelompok harus
berbeda wilayahnya/stasiunnya dengan kelompok lainnya; misalnya kelompok A data
curah hujan Kec. Berbah, kelompok B data curah hujan Kec. Prambanan. Ingat data curah
hujan harus disertai dengan data hari hujan dan hujan maksimum.
2. Hitunglah masing-masing

data tersebut per tahun sampai dengan tahun ke-5, dengan

menggunakan rumus Lenvain dan Bols.


3. Bandingkan hasil erosivitas dari rumus Lenvain dengan Rumus Bols besar mana. Semakin
besar erosivitas, kemampuan hujan untuk menyebabkan erosi semakin besar. Maka saudara
harus memilih yang kecil. Sehingga apabila saudara penelitian harus pilih yang
erosivitasnya kecil.
D. Contoh
Data curah hujan, curah hujan maksimum, hari hujan suatu tempat bulan Januari 2005 adalah
sebagai berikut :
Curah hujan

= 213,5 mm

= 21,35 cm

MaksP

= 70,0 mm

= 7,00 cm

Hari hujan

= 14

E I30 menurut Lenvain

1,36

= 2,21 (Rain)m
= 2,21 (21,35)

1,36

= 142,0278
= 142,03 (dibulatkan)

E I30 menurut Bols

= 6,119 (RAIN)
= 6,119 (21,35)

1,21

1,21

. (DAYS)

(14)

-0,47

-0,47

(7)

. (MAXP)

0,53

0.53

= 201,5922
= 201,59 (dibulatkan)
Dengan cara yang sama dapat ditentukan E I30 pada bulan Februari Desember tahun yang
sama. Penjumlahan E I30 dari bulan Januari Desember untuk tahun 2005 merupakan E I30
tahun 2005. Selanjutnya dapat ditentukan erosivitas hujan suatu tempat untuk kurun waktu
tertentu (5 tahun atau 10 tahun).
E. Tugas/Praktikum
1. Dari data curah hujan yang diberikan tentukan E I30 bulanan dengan 2 cara yang
diberikan (Lenvain dan Bols)
2. Tentukan E I30 tahunan
3. Selanjutnya tentukan Erosivitas hujannya untuk 5 tahun
4. Selamat mencoba menghitung.
.

V. PEMBUATAN GARIS KONTUR


A. Teori

Garis kontur adalah garis yang menghubungkan tempat tempat yang mempunyai

ketinggian yang sama di permukaan bumi.


Pembuatan garis kontur (garis sabuk gunung) di daerah yang dikonservasi mutlak
diperlukan untuk mengefektifkan fungsi dari teknik konservasi tanah yang diterapkan. Teknik
konservasi yang memerlukan garis kontur detail antara lain adalah teras bangku, teras gulud,
teras kredit dan sistem pertanaman lorong pada lahan miring. Terdapat beberapa metode dalam
menentukan garis kontur di antaranya adalah dengan menggunakan theodolit, abney level,
waterpas selang plastik, dan ondhol ondhol. Pada praktek yang akan dilakukan adalah
pembuatan garis kontur dengan abney level dan ondhol ondhol.
Ondhol ondhol atau gawang segitiga (A frame) terbuat dari kayu atau bambu, terdiri
dari dua buah kaki yang sama panjang, sebuah palang penyangga, benang dan pemberat. Panjang
kedua kaki masing masing 2m dan panjang palang 1m. Pada bagian tengah palang diberi tanda
untuk menentukan bahwa kedua ujung kaki ondhol ondhol terletak pada posisi yang sama
tinggi. Ujung benang dikaitkan pada bagian atas ondhol ondhol, sedangkan pemberatnya dapat
bergerak bebas ke kiri dan ke kanan melewati palang.
B. Pembuatan Garis Kontur dengan Abney Level
1. Alat
a. Abney level
b. Patok panjang 1m (Patok 1)
c. Patok panjang 2m (Patok 2)
d. Patok
e. Meteran/tali plastik
2. Cara Kerja
a. Tentukan salah satu titik pada lahan yang akan dibuat garis konturnya, misalnya titik A
seperti pada Gambar 3. Siapkan patok yang panjangnya sesuai interval vertikal (IV). Bila
IV yang diinginkan adalah 1m, perlu disiapkan patok 1 dan patok 2.
b. Siapkan patok 1 sebanyak 3 buah dan sebuah patok 2. Patok 1 digunakan untuk menarik
garis kontur, sedangkan patok 1 dan patok 2 digunakan untuk menentukan titik dari satu
garis kontur ke garis kontur berikutnya.
c. Pancangkan patok 1 pada titik A. Stel abney level dengan bacaan 0 pada puncak patok.

Gambar 3. Pengukuran kontur dengan abney level


d. Tentukan titik A1, A2 dan seterusnya dengan membidik puncak patok 1 yang lainnya.
e. Makin dekat jarak antara A1 A2 A3 dan seterusnya, kan semakin halus garis kontur
yang didapat. Ukur jarak A A1 A2 A3 dst.
f. Sesudah garis kontur A - A1 A2 A3 dan seterusnya selesai dibuat, tentukan titik B yang
berada pada ketinggian 1m lebih rendah dari titik A. Titik B diperoleh dengan
mengarahkan abney level sejajar arah lereng (sepanjang garis AB). Dengan abney level
tetap menunjukkan angka 0, geser patok 2 sepanjang garis AB. Apabila abney level yang
dipancang di puncak patok 1 telah dapat membidik puncak patok 2 pada posisi bacaan 0,
maka berarti sudah ditemukan titik B. Ukur jarak AB.
g. Dengan cara yang sama seperti langkah d, tentukan titik B1 B2 B3 dst, diawali dengan
memasang patok 1 pada titik B. Ukur jarak B B1 B2 B3 dst.
h. Dengan cara yang sama tentukan garis kontur C C1 C2 C3 dst.
i. Berilah tanda berupa patok kayu atau bambu pada masing masing titik yang diperoleh.
j. Gambarlah (sket) garis kontur yang telah dibuat.

C. Pembuatan Garis Kontur dengan Ondhol Ondhol


1. Alat
a. Ondhol ondhol
b. Patok
c. Meteran
d. Bandhul/pemberat
2. Cara Kerja
a. Siapkan ondhol ondhol yang sudah dilengkapi bandhul/pemberat.
b. Tentukan puncak lereng, misal titik A seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Penentuan garis kontur dengan ondhol ondhol


c. Tentukan titik B C D dst. pada bagian lereng yang lebih rendah dengan jarak tertentu
dari titik A.
d. Letakkan kaki ondhol ondhol pada titik B, sedang kaki lainnya digerakkan ke atas ke
bawah sedemikian rupa sehingga tali bandhul/pemberat persis pada titik tengah palang
yang sudah ditandai. Titik yang baru ini, misalnya titik B1, adalah titik yang sama tinggi
dengan titik B.

e. Dari titik B1 tentukan titik B2 dengan cara yang sama dengan tahap d, demikian seterusnya
sehingga diperoleh sejumlah titik pada lahan yang akan ditentukan garis konturnya.
f. Tandai titik titik tersebut dengan patok kayu atau bambu.
g. Gambarlah (sket) garis kontur yang telah dibuat.
D. Pembuatan Garis Kontur dengan Waterpas Selang Plastik
1. Alat
a. Selang plastik
b. Patok
c. Meteran
2. Cara Kerja
a. Siapkan selang plastik yang telah diisi air sampai hampir penuh.
b. Tentukan puncak lereng, misal titik A seperti pada Gambar 5.,

Gambar 5. Pengukuran kontur dengan waterpas selang plastik


c. Dari titik A tentukan titik yang sama tinggi (kontur) dengan cara meletakkan ujung selang
plastik yang satu pada titik A sedang ujung selang lainnya pada titik A1 yang sama

tingginya dengan titik A yang ditandai dengan bacaan permukaan air yang sama pada
patok yang telah ditentukan tingginya.
d. Dengan cara yang sama dapat ditentukan titik A2, A3, A4 dan seterusnya.
e. Dari titik A tentukan titik B pada lereng bawah (garis AB sejajar arah lereng), sehingga
selisih permukaan air pada selang di atas titik A dan B sesuai dengan interval vertikal (IV)
yang diinginkan.
f. Titik B1 ditentukan dari titik B, dengan cara yang sama dengan penentuan titik A1, A2
dan seterusnya.
g. Berilah tanda dengan patok bambu pada masing masing titik yang telah diperoleh.
h. Gambarlah (sket) garis kontur yang telah dibuat.

VI. PEMANENAN AIR


(Run off Harvesting)
A.Teori
Perlu dipilahkan bahwa konservasi air terdiri atas 3 pengelolaan yaitu: (1) pengelolaan
air permukaan, (2) pengelolaan air tanah, dan (3) pengelolaan air irigasi. Pemanenan air (run off
harvesting) merupakan salah satu bagian dari pengelolaan air permukaan (Arsyad, 2000).
Pemanenan air sendiri dibagi menjadi 3 macam yaitu: (a) Pembuatan saluran resapan, (b)
pembuatan rorak,

dan (c) pembuatan embung. Dalam praktikum ini dipilih yang ukurannya

paling besar yaitu embung.


Pada umumnya pemanenan air dilakukan di daerah yang keadaannya sbb:
1. Daerah-daerah yang mempunyai curah hujan tahunan termasuk rendah.
2. Dilakukan pada waktu musim hujan, yang akan digunakan pengairan musim kemarau.
3. Pengunaan air pada musim kemarau untuk pertanian, peternakan ataupun keperluan rumah
tangga.
Syarat dilakukan pemanenan air:
1. Kawasan beriklim kering dan semi kering (> 4 bulan kering berturut-turut sepanjang tahun
atau 3 4 bulan tanpa hujan sama sekali).
2. Hasil tanaman pangan menurun karena kekurangan air
3. Tanah kurang mampu menyimpan air.
Embung:
1. Merupakan bangunan seperti rorak hanya perbedaan ukuran lebih besar.
2. Fungsi embung sebagi pemanenan air dan resapan air sebagai penyimpan air pada waktu
musim kemarau dengan demikian intensitas penanaman tidak lagi musim kemarau menjadi
kendala.
Embung Tradisional:
1. Merupakan bangunan tangkapan air yang bersekala kecil.
2. Dibangun

secara

perseorangan,

sehingga

bangunan

sangat

sederhana

dengan

memanfaatkan lapisan padas (kedap air) sebagai dasar bangunan embung.


3. Luasan sesuai kemampuan petani, embung tersebut pada umumnya berukuran panjang 2
4m, lebar 1 3m dan dalam 3 5m.

4. Bangunan embung tanpa ada penyemenan atau pelapisan plastik baik pada dasar dan
sisi embung.
Persyaratan Embung Tradisional:
1. Embung tradisional dibangun pada tanah-tanah yang mempunyai porositas
rendah sehingga daya lolos air kecil.
2. Lokasi pembuatan embung diletakan pada areal yang mudah untuk mengairi
tanaman pokok.
3. Dibuat saluran air masuk dan keluar.
B. Bahan dan Alat:
1. Meteran
2. Tongkat bambu/kayu untuk mengukur kedalaman embung dan airnya.
3. Kalkulator, untuk menghitung kapasitas embung dan kecukupan air dalam embung untuk
mengairi areal pertanian.
C. Cara Kerja:
1. Carilah bangunan embung milik petani di lapangan.
2. Ukurlah dimensi embung tersebut (panjang, lebar dan kedalaman), kemudian hitung
3

kapasitasnya berapa m .
3. Ukurlah kedalaman air yang ada di dalam embung, kemudian hitung volumenya berapa
3

m.
2

4. Ukurlah luas lahan yang akan/telah diairi oleh embung tersebut, berapa m .
5. Jika embung penuh apakah cukup untuk mengairi lahan yang telah anda ukur tadi, dengan
catatan tebal air di lahan rata-rata 5 cm.
6. Air yang ada sekarang cukup untuk mengairi tanah seluas berapa, dengan catatan tebal air
di lahan rata-rata juga 5 cm.
A. Perhitungan Run-off Harvesting:
Diketahui ch bulanan daerah setempat = 200 mm, luas lahan 60 x 30 m. Prediksi RO
(run-off) 30% dari ch. Berapakah RO yang harus ditampung embung? Supaya air tertampung
semua, berapa ukuran embung yang baik. Untuk mengantisipasi musim yang tidak menentu,
maka embung harus dibuat 2-3 x kapasitas. Bagaimanakan cara mendesain di lapangan.

Jawab:
2

Curah hujan: 200 mm = 0,2 m. Luas lahan: 60 x 30 m = 1.800 m


2

Vol air hujan = 0,2 m x 1.800 m = 360 m

RO yang harus ditampung = 0,3 x 360 m = 108 m

Ukuran embung yang baik = (3mx3mx3m) x 4 unit


Atau (4mx3mx 3m) x 3 unit
Atau (6mx3mx3m) x 2 unit.
Cara mendesign dilapangan dengan cara diletakkan secara zigzag.

4x3x3

4x3x3

4x3x3

B. Hasil Pengamatan :
1. Embung :
Lokasi

Panjang embung

Lebar embung

Tinggi embung

Tinggi permuk. Air

Panjang

Lebar

Tekstur tanah

: lempung/lempung debuan/lempung pasiran/geluh lempungde-

2. Lahan yang diairi


a. Petak 1

buan/geluh lempung pasiran/geluh debuan/geluh/geluh pasiran/


pasir geluhan/pasir *)

b. Petak 2
Panjang

Lebar

Tekstur tanah

: lempung/lempung debuan/lempung pasiran/geluh lempungdebuan/geluh lempung pasiran/geluh debuan/geluh/geluh pasiran/


pasir geluhan/pasir *)

c. Petak 3
Panjang

Lebar

Tekstur tanah

: lempung/lempung debuan/lempung pasiran/geluh lempungdebuan/geluh lempung pasiran/geluh debuan/geluh/geluh pasiran/


pasir geluhan/pasir *)

Keterangan : *) Garis bawahi tekstur yang dipilih


3. Tanaman
a. Petak 1 :

dan

b. Petak 2 :

dan

c. Petak 3 :

dan

d. Kondisi daun tanaman secara umum : segar/agak layu/layu


C. Perhitungan :
1. Volume embung

2. Volume air yang ada :

3. Luas petak 1

Luas petak 2

Luas petak 3

3
2
2
2

4. Bila tinggi/tebal pengairan adalah 5 cm (Ingat : jadikan m). Air yang dibutuhkan untuk :
Petak 1

Petak 2

Petak 3

+
Jumlah yang dibutuhkan

5. Sisa air dalam embung/kekurangan air

m (C2 C5). Hasil positif berarti

ada sisa air. Hasil negatif berarti kekurangan air.


6. Bila interval pengairan adalah 5 hari sekali. Air dalam embung dapat digunakan untuk

kali pengairan = .. hari.

(Jika C5 : positif. Juga tidak ada hujan).


D. Berikan komentar hasil pengamatan dan perhitungan Saudara

VII. METODE KONSERVASI TANAH


A. Teori
Tujuan konservasi tanah dan air pada prinsipnya adalah untuk meningkatkan
produktivitas lahan serta menurunkan atau menghilangkan dampak negatif pengelolaan lahan
seperti erosi, sedimentasi dan banjir.
Prinsip prinsip yang diperlukan dalam konservasi tanah dan air.
1. Mengusahakan agar kapasitas infiltrasi tanah tetap besar sehingga jumlah aliran permukaan
dapat dikurangi
2. Mengurangi laju aliran permukaan sehingga daya pengikisannya terhadap permukaan rendah
dan material yang terbawa aliran dapat diendapkan
3. Mengusahakan agar daya tahan tanah terhadap daya tumbuk atau penghancuran agregat tanah
oleh butir hujan tetap ada
4. Mengusahakan agar pada bagian bagian tertentu dari tanah dapat menjadi penghambat
menahan partikel yang terangkut aliran permukaan agar terjadi pengendapan yang tidak jauh
dari tempat pengikisan
Berdasarkan prinsip tersebut maka pengendalian erosi sedimentasi dapat dilakukan secara
teknik mekanis, vegetatif dan kimiawi.
B. Metode Mekanis
Pengendalian erosi secara mekanis, yaitu pengendalian erosi sedimentasi yang
memerlukan beberapa sarana fisik. Prinsip pengendalian erosi secara mekanis adalah :
1. Mengurangi kecepatan aliran permukaan sehingga daya kikis dan daya angkutnya melemah
2. Memperbesar kesempatan aliran permukaan untuk meresap ke dalam tanah
3. Mengurangi panjang lereng untuk mereduksi konsentrasi limpasan permukaan
4. Mengalirkan limpasan ke saluran yang aman
Beberapa metode mekanis antara lain :
1. Pengolahan tanah.
Pengolahan tanah adalah setiap kegiatan mekanik yang dilakukan terhadap tanah dengan
tujuan membuat keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman
yang sekaligus sebagai pemberantasan gulma. Dalam kaitannya dengan konservasi tanah dan
air, pengolahan tanah hendaknya dilakukan seperlunya saja.

2. Teras gulud
Teras gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan rumput penguat gulud dan
saluran air pada bagian lereng atasnya. Merupakan tumpukan tanah yang dibuat memanjang
menurut arah garis kontur atau memotong arah lereng diperkuat dengan tanaman rumput
sebagai penahan erosi tanah.

Gambar 6. Penampang samping teras gulud


Persyaratan :
a. Teras gulud cocok untuk kemiringan lereng antara 10 40%, tetapi juga dapat digunakan
pada kemiringan 40 60%, namun kurang efektif
b. Teras gulud dapat dibuat pada tanah tanah agak dangkal ( >20 cm)
c. Tanah mempunyai kecepatan infiltrasi dan permeabilitas tinggi.
3. Teras bangku
Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong lereng dan meratakan tanah
dibidang olah sehingga terjadi suatu deretan berbentuk tangga seperti bangku pada bagian
tanah yang akan ditanami. Ada 3 jenis teras bangku : gulir kampak, datar dan miring. Teras
bangku gulir kampak adalah teras bangku yang bidang olahnya miring beberapa derajad ke
arah yang berlawanan dengan lereng asli. Teras bangku datar adalah teras bangku yang
bidang olahnya datar (membentuk sudut 0 dengan bidang horizontal). Teras bangku miring
adalah teras bangku yang bidang olahnya miring ke arah lereng asli, namun kemiringannya
sudah berkurang dari kemiringan lereng asli. Teras bangku miring dapat dibuat langsung
seperti membuat teras bangku datar namun teras ini masih miring ke arah lereng asli. Teras
bangku miring dapat juga terbentuk secara perlahan dari teras kredit.

Gambar 7. Penampang samping teras bangku


Persyaratan :
a. Tanah mempunyai solum dalam dan kemiringan lereng 10 60%. Solum tanah > 90 cm
untuk lereng 60%, dan > 40 cm kalau lereng 10%
b. Tanah stabil, tidak mudah longsor
c. Tanah tidak mengandung bahan beracun seperti aluminium dan besi dengan konsentrasi
tinggi
d. Tersedia cukup tenaga kerja untuk pembuatan dan pemeliharaan teras
4. Teras individu
Teras individu merupakan bangunan konservasi tanah berupa teras yang dibuat hanya pada
tempat yang akan ditanami tanaman pokok. Teras dibuat sejajar kontur dan membiarkan
bagian lainnya tetap seperti keadaan semula yang biasanya ditanami tanaman penutup tanah.
Teras digunakan untuk/penanaman pohon tunggal/tidak bergerombol (tanaman tahunan) saja.
Selain untuk mengurangi erosi juga untuk meningkatkan ketersediaan air tanah.
Persyaratan :
a. Cocok untuk lereng 15 60% atau lebih dan tanahnya cukup dalam untuk menggali lubang
tanaman (> 25 cm)
b. Areal kosong di antara teras dapat ditanami dengan penanaman tanaman penutup tanah
(legume cover crop atau rumput)
c. Jarak tanam antar teras individu disesuaikan dengan jenis tanahnya. Jarak tanam berkisar
antara 4 7 m

Gambar 8. Teras individu


5. Teras kredit
Teras kredit adalah teras yang terbentuk secara bertahap karenakan tertahannya tanah yang
tererosi oleh guludan. Teras ini memotong lereng, sedangkan pada guludan ditanami secara
rapat dengan tanaman pagar dan/atau barisan rumput atau tanaman penutup lain untuk
mencegah erosi tanah. Tujuan dibuatnya teras kredit adalah untuk menangkap air aliran
permukaan dari areal bidang olah serta mengurangi erosi. Teras bangku akan terbentuk
dengan sendirinya setelah 3 7 tahun. Pembentukan teras bangku ditentukan oleh cara
pengolahan tanah. Apabila pengolahan tanah dilakukan sedemikian rupa sehingga bongkahan
tanah ditarik ke bagian bawah lereng, maka pembentukan teras bangku menjadi semakin
cepat.
Persyaratan :
a. Kemiringan lereng

6. Teras rumah

C. Metode Vegetatif
Pengendalian erosi secara vegetatif, yaitu pengendalian erosi yang didasarkan pada
peranan tanaman yang ditanam atau tumbuh dan berkembang pada tanah tersebut, terutama
kemampuannya dalam mengurangi daya pengikisan dan penghanyutan ketika berlangsung aliran
permukaan. Pengendalian erosi secara vegetatif bertujuan :
1. Melindungi permukaan tanah terhadap daya perusak tetesan air hujan dan mengurangi jumlah
air hujan yang langsung sampai di permukaan tanah
2. Melindungi tanah terhadap daya transportasi dari aliran permukaan
3. Menambah kapasitas infiltrasi
D. Metode Kimiawi
Pengendalian erosi secara kimiawi, yaitu pengendalian erosi yang didasarkan atas usaha
penambahan bahan kimiawi yang bersifat organik maupun an organik secara terencana ke dalam
tanah untuk memperbaiki/memulihkan sifat fisik dan kimiawi tanah. Pengendalian erosi secara
kimiawi yang tidak terencana dapat merugikan tanaman antara lain keracunan serta pengrusakan
sifat fisik tanah sehingga menjadi lebih peka terhadap erosi. Tujuan pengendalian erosi secara
kimiawi :
1. Memanipulasi struktur tanah sehingga terbentuk agregat
2. Mempercepat dekomposisi mulsa dan seresah
E. Hasil Pengamatan Lapangan
F. Komentar
G. Lain - lain

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad S., Bahrin Samad, Husainy Azharny. 1980. Ilmu Iklim dan Pengairan. Penerbit C. V.
Yasaguna, Jakarta.
Brata K. R., Anne Nelistya. 2002. Lubang Resapan Biopori. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta
Harsoyo, Bangun. 1977. Pengelolaan Air Irigasi. Dinas Pertanian Jawa Timur.
Kartasapoetra, Ir. A.G. dan Sutedjo Mulyani. 1986. Teknologi Pengairan Perikanan. Penerbit
Bina Aksara. Jakarta.
Sekretariat Tim Pengendalian Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat, 1997. Petunjuk Teknis
Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim PBPRP, Jakarta.
Soekodarmodjo S., Bambang Djadmo Kertonegoro, Sri Hastuti Suparnowo, Supriyanto
Notohadisuwarno, 1985. Panduan Analisis Fisika Tanah. Jurusan Ilmu tanah Fakultas
Pertanian UGM, Yogyakarta.

Sosrodarsono, Ir. Suyono, Cs. 1985. Hidrologi Untuk Pengairan. Penerbit Pradnya
Paramita. Jakarta.
Tim Peneliti BP2TPDAS IBB, 2002. Pedoman Praktik Konsevasi tanah dan Air. BP2TPDAS
IBB, Surakarta.