Anda di halaman 1dari 20

PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA

DALAM KONTEKS RUU KUHP

*)

Oleh :
Barda Nawawi Arief
Pengantar :
Salah satu masalah besar pembangunan nasional yang dihadapi bangsa Indonesia
adalah masalah pembaharuan/pembangunan sistem hukum nasional, di antaranya
pembaharuan hukum pidana nasional, khususnya pembaharuan KUHP sebagai sistem
induk hukum pidana.
Jiwa/semangat nasionalisme dan keinginan the founding fathers agar bangsa Indonesia
mempunyai KUHP buatan bangsanya sendiri, terlihat sejak pertama kali WvS (KUHP
warisan Belanda) diberlakukan di Indonesia. Waktu itu ditegaskan (dalam PP No.
2/1945), bhw peraturan-peraturan yang ada sampai berdirinya negara R.I. pada tanggal 17
Agustus 1945, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar masih
berlaku, asal saja tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar.

Sewaktu WvS diberlakukan dg UU No. 1/1946, pun ditegaskan : Peraturan-peraturan


hukum pidana, yang seluruhnya atau sebagian sekarang tidak dapat dijalankan, atau
bertentangan dengan kedudukan Republik Indonesia sebagai Negara merdeka, atau tidak
mempunyai arti
lagi, harus dianggap seluruhnya atau sebagian sementara tidak berlaku.

Dari kedua statement di atas, jelas terlihat bhw diberlakukannya WvS/KUHP warisan
zaman Hindia Belanda itu BERSIFAT SEMENTARA, dan berlakunya WvS/KUHP
itu dibatasi dengan semangat patriotisme/nasionalisme para pendahulu/pejuang
kemerdekaan, untuk membangun/memperbaharui KUHP warisan Belanda.

*)

Bahan Pelatihan/penataran Asas-asas Hk Pidana dan Kriminologi, diselenggarakan oleh FH


UGM Yogyakarta dan Mahupiki, di University Club UGM Yogya , tgl. 23 s/d 27 Pebruari 2014.
Judul ini ditentukan oleh Panitia Pelatihan. Topik yg diminta sudah terlalu sering dibicarakan,
sehingga tidak mustahil materi yang disajikan dalam makalah ini, hanya sekedar pengulangan
dari yang pernah dikemukakan dalam berbagai forum dan artikel.

Dengan belum diperbarui/digantinya KUHP warisan zaman Hindia Belanda itu,


berdampak cukup luas pada keseluruhan pilar-pilar sistem penegakan hukum pidana
(yaitu pilar legislasi/formulasi; pilar yudikasi/aplikasi dan pilar edukasi/pendidikan
dan ilmu hukum). Pilar legislasi/formulasi (pembuatan/perumusan hk pidana dalam
peraturan perundang-undangan) saat ini, walaupun dibuat secara nasional oleh bangsa
Indonesia sendiri, namun selalu terikat/berorientasi pada KUHP/WvS sebagai sistem
induk buatan Belanda. Pada pilar yudikasi/yudisial, penegakan hukum pidana selalu
berorientasi pada asas-asas hukum pidana dalam aturan umum KUHP sebagai sistem
induk, antara lain dan terutama terikat pada asas legalitas formal (principle of legality)
sehingga terabaikanlah asas-asas lain yang tidak tertulis atau yang ada dalam ramburambu sistem penegakan hukum nasional, seperti asas keadilan berketuhanan, asas
kemanusiaan, asas demokrasi/kerakyatan, dan asas keadilan sosial. Pilar edukasi
(pendidikan/ilmu hukum) juga sangat dipengaruhi oleh hukum pidana positif yg
berlaku, sehingga ilmu hukum pidananya lebih terfokus pada ilmu hukum pidana
positif yg berorientasi pada KUHP sebagai sistem induknya, sehingga kurang
mengembangkan ilmu hukum yang berorientasi pada budaya hukum nasional
Pancasila.

Dengan

demikian

tidak

banyak

digali/diperdalam/dikembangkan

pembaharuan ilmu hukum berbasis budaya hukum nasional.

Sehubungan dengan masalah terakhir ini, saya kutipkan kembali sebagian orasi
pengukuhan saya pada tahun 1994 sbb. :
Pemahaman dan penguasaan normatif-dogmatis keseluruhan sistem KUHP memang
diperlukan dalam praktek penegakan

hukum, namun di sisi lain dapat berakibat

"kebekuan dan kekakuan" pemikiran

yang dapat menjadi faktor penghambat di

dalam memahami dan beradaptasi dengan pemikiran-pemikiran baru (konsepkonsep "lain") dalam rangka upaya pengembangan dan pembaharuan

hukum

pidana di Indonesia. Dalam pengalaman saya selaku salah seorang anggota Tim
Pengkajian dan

Penyusunan

Konsep KUHP Baru, sering dirasakan tidak

mudahnya menjelaskan aspek-aspek "baru" (konsep-konsep "lain") yang ada atau


yang ingin dimasukkan ke dalam Konsep KUHP Baru, bahkan sering mendapat
reaksi

dan kritik keras. Dengan mengungkapkan hal ini saya tidak bermaksud

menyatakan konsep mana yang lebih baik (yang ada di dalam KUHP atau yang ada
di dalam "Konsep KUHP"); tetapi sekedar ingin mengungkapkan bahwa di dalam
mengembangkan

"sesuatu (ide/konsep/ sistem) yang

lain/baru",

hambatan

pertama justru akan muncul dari mereka yang secara dogmatis sudah terbiasa
dengan ide/konsep/sistem yang lama. Hal lain yang ingin diungkapkan ialah, bahwa
usaha penemuan dan pengembangan ide/ konsep/sistem lain ("baru") khususnya
dalam upaya pengembangan dan pembaharuan hukum pidana Indonesia, harus
juga dilakukan dengan pengembangan ilmu hukum pidana yang diajarkan di
perguruan tinggi. Kalau yang diajarkan terlalu berorientasi pada IHP positif,
khususnya berorientasi pada pola/sistem KUHP (WvS), sulit diharapkan adanya
"pengembangan". IHP positif lebih bersifat "statis" karena yang terutama diajarkan
adalah penguasaan atau kemahiran/ ketrampilan

hukum positif. Dari tahun ke

tahun yang diajarkan tetap sama yaitu norma-norma substantif yang ada di dalam
hukum positif itu. Bahkan tidak ada perbedaan prinsip antara Ilmu Hukum Pidana
Positif sebelum dan sesudah kemerdekaan. Demikian pula ilmu/teori yang diajarkan
lebih ditekankan pada pengetahuan yang berhubungan langsung dengan bagaimana
hukum potitif/substantif itu diterapkan. Kebiasaan menerima, memahami

dan

menerapkan sesuatu (norma dan pengetahuan hukum) yang bersifat "statis" dan
"rutin" inilah, terlebih apabila diterima sebagai suatu "dogma", yang dapat menjadi
salah satu faktor penghambat upaya pengembangan dan pembaharuan hukum
pidana. 1

Akhirnya, dapat saya tegaskan kembali pernyataan saya pada seminar Munaslub
Mahupiki bulan September 2013 tentang akibat lamanya proses pembaharuan KUHP
nasional, sbb:
Lamanya perubahan/pembaharuan KUHP memang bukan masalah. Masalahnya
pada akibat/dampak yang ditimbulkannya. Selama KUHP/WvS warisan Belanda
(yang menjadi induk sistem hukum pidana) belum diganti, selama itu pulalah
terjadi penjajahan sistem hukum pidana. Ini

berarti ada penjajahan

Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Pengembangan Ilmu Hukum Pidana: Menyongsong Generasi Baru
Hukum Pidana,

(pemerkosaan/ pemasungan/pembunuhan) terhadap nilai-nilai luhur budaya


hukum nasional yang dicita-citakan dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.
Bahkan dapat dikatakan, semakin lama sistem hukum bekas penjajah/kolonial
diberlakukan, semakin tergeser/ tergoyahkan karakter jati diri bangsa yang ingin
dibangun. Sungguh sulit dibayangkan, bagaimana kualitas kehidupan masyarakat
yang berkarakter Pancasila dapat terwujud, kalau sistem hukumnya sendiri tidak
berkarakter Pancasila (tidak berkarakter ketuhanan/religius, tidak berkemanusiaan/humanis, tidak berkarakter nasionalis, demokratis/kerakyatan, dan tidak
berkarakter keadilan sosial).
RUANG LINGKUP PEMBAHARUAN HKM PIDANA DALAM RUU-KUHP
Secara garis besar, pembaharuan dalam konteks RUU KUHP dapat dijelaskan sebagai
berikut :
KUHP pada dasarnya dapat dilihat sebagai bangunan sistem hukum pidana yang
terdiri dari bangunan norma substantif dan bangunan sistem nilai/ide
dasar/konsep (kultural/filosofi).
norma substantifnya adalah norma hukum pidana substantif yang mengatur
keseluruhan sistem hukum pidana dan pemidanaan (penal/sentencing system), dan
sistem

nilai/ide

conception

dasar/konsep

yang

berada

adalah intelectual

dibalik

norma

philosophy/

substantifnya.

intelectual
Intellectual

philosophy/intellectual conception ini, kalau meminjam istilah W. Ewald 2 dapat


2

William Ewald menyatakan, bahwa : Comparative law is an essentially philosophical activity.


Comparative law as 'comparative jurisprudence' is the comparative study of the intellectual
conceptions that underlie the principal institutions of one or more foreign legal systems. (Esin rc,
CRITICAL COMPARATIVE LAW, Considering Paradoxes for Legal Systems in Transition, EJCL
vol.4.1, June 2000). Catherine Valcke sewaktu menjelaskan pendapat Ewald, mengemukakan :
William Ewald, has offered a powerful account of law as jurisprudence, and suggested that
we correspondingly think of comparative law as comparative jurisprudence. In very short, law
as jurisprudence stands for the proposition that law is more than just the sum of its factsthe texts,
the institutions, the sanctions, etc, created and implemented by the State. Law is also, and
crucially, the ideas that underlie, animate, and tie these facts together: the view of due process that
roots our court
system, the understanding of promise-keeping that informs our law of contracts, the conception of
crime that seeps through our criminal law.
Law as jurisprudence is neither law in books, nor law in action, both of which can be fully
grasped through external observation alone. It is law in minds --a deliberative enterprise
[taking place] within the logical space of reasons, a style of thought, a web of beliefs, ideals,
choices, desires, interests, justifications, principles, techniques, reasons, and assumptionswhich
accordingly can be

disebut sebagi law in mind yang bisa berupa pandangan (the view), pemahaman
(the understanding), atau konsep (the conception).
Oleh karena itu, ruang lingkup pembaharuan KUHP dapat dilihat dari
berbagai aspek :
- Kalau KUHP dilihat sebagai bangunan norma substantif, yaitu sebagai sistem
hukum pidana/sistem pemidanaan substantif, maka pembaharuan KUHP pada
dasarnya merupakan : perubahan/pembaharuan sistem hukum pidana/sistem
pemidanaan substantif. Secara singkat, aspek pertama ini dapat disebut
pembaharuan norma substantif atau pembaharuan

sistem hukum pidana/

sistem pemidanaan substantif (substantive penal/ sentencing system reform).


- Kalau KUHP dilihat sebagai manifestasi sistem budaya/kultur/nilai-nilai sentral/
ide dasar hukum suatu masyarakat, maka pembaharuan KUHP pada dasarnya
merupakan

perubahan/pembaharuan

sentral/ide

dasar/pokok

filosofi tertentu

sistem

nilai

budaya/kultur/nilai-nilai

pemikiran/pandangan/wawasan/konsep

yang melatar belakangi

sistem norma

intellektual

hukum pidana

substantifnya. Pembaharuan aspek kedua ini (aspek nilai/ide dasar/pokok


pemikiran/intellectual conception/intellectual philosophy) dapat disebut secara
singkat sebagai pembaharuan nilai/ide dasar/pokok pemikiran (bisa disebut
dengan berbagai istilah, a.l. value reform/cultural reform/basic-ideas reform
law in minds reform).

apprehended only from within, from the standpoint of legal actors. And comparative law as
comparative jurisprudence correspondingly is comparative law in minds: the comparative study
of the intellectual conceptions that underlie the principal institutions of one or more foreign legal
systems.32
Dari kutipan di atas terlihat jelas, bahwa hukum lebih dari sekedar fakta/facts (berupa teks/rumusan
norma, institusi, sanksi, dll ...) yang dibuat dan dilaksanakan oleh Negara, tetapi juga, yang penting
adalah ide-ide yang mendasari, yang menggerakkan/menghidupkan, dan yang mengikat fakta itu
bersama-sama. Ide-ide itu bisa berupa pandangan (the view), pemahaman (the understanding), atau
konsep (the conception). Ditegaskan pula, hukum sebagai ilmu bukan hanya law in books dan law in
action , yang keduanya dapat dipahami sepenuhnya melalui pengamatan eksternal/luar saja, tetapi
hukum juga merupakan law in minds ("hukum dalam ide-ide/ pikiran"), antara lain berbagai
alasan/pertimbangan logis, gaya pemikiran (style of thought), jalinan berbagai pendirian/keyakinan, ide,
pilihan-pilihan, keinginan, kepentingan, dasar- dasar pembenaran, prinsip-prinsip, teknik, alasan, dan
asumsi-asumsi yang hanya dapat dipahami dari
dalam. Perbandingan hukum sebagai ilmu perbandingan (comparative jurisprudence) adalah
"perbandingan hukum dalam pikiran/ide (comparative law in minds), yaitu "studi banding dari
konsepsi-konsepsi intelektual (intellectual conceptions) yang mendasari institusi pokok dari satu atau
lebih sistem hukum asing".

PEMBAHARUAN NORMA SUBSTANTIF

(SISTEM HUKUM PIDANA/

SISTEM PEMIDANAAN SUBSTANTIF).


Keseluruhan norma

substantif

dalam

KUHP,

pada

dasarnya

merupakan

keseluruhan bangunan sistem hukum pidana/sistem pemidanaan materiil/substantif


(substantive penal system/sentencing system), baik yang merupakan aturan umum
(general rules) maupun aturan khusus (special rules). RUU KUHP hanya terdiri
dari 2 (dua) buku : Buku I tentang Aturan Umum dan Buku II tentang : Tindak
Pidana.
Di dalam aturan umum Buku I dimasukkan bangunan konsepsional sistem hukum
pidana (sistem pemidanaan) yang mencakup ketentuan mengenai asas-asas, tujuan
pidana/ pemidanaan, aturan dan pedoman pemidanaan, serta berbagai pengertian/
batasan juridis secara umum yang berkaitan dengan ketiga masalah pokok (tindak
pidana, kesalahan, dan pidana). Secara doktrinal, bangunan konsepsional hukum
pidana yang bersifat umum inilah yang biasanya disebut ajaran-ajaran umum
(algemene leerstukken atau algemeine Lehren), seperti masalah tindak pidana,
sifat melawan hukum, kesalahan, pidana dan tujuan pemidanaan, asas-asas hukum
pidana dsb.
Di dalam KUHP yang sekarang berlaku, tidak semua bangunan/ konstruksi
konsepsional sistem hukum pidana atau ajaran hukum pidana umum itu
dimasukkan/ dirumuskan di dalam Bagian Umum Buku I. Yang tidak dimasukkan/
dirumuskan secara eksplisit dalam Buku I KUHP itu antara lain ketentuan
mengenai tujuan dan pedoman pemidanaan, pengertian/ hakikat tindak pidana, sifat
melawan hukum (termasuk asas tiada pertanggungjawaban pidana tanpa sifat
melawan hukum; no liability without unlawfullness; asas ketiadaan sama sekali
sifat melawan hukum secara materiel atau dikenal dengan asas afwezigheids van
alle materiele wederrechtelijkheid- AVAW), masalah kausalitas, masalah
kesalahan atau pertanggungjawaban pidana (termasuk asas tiada pidana tanpa
kesalahan; asas culpabilitas; no liability without blameworthiness; afwezigheids
van alle schuld-AVAS; pertanggungjawaban akibat/ erfolgshaftung, kesesatan/
error; pertanggungjawaban korporasi).

Walaupun ajaran umum atau konstruksi konsepsional yang umum itu tidak ada di
dalam KUHP, tetapi semua itu ada di dalam pelajaran/ ilmu hukum pidana dan
umumnya diajarkan kepada para mahasiswa hukum. Namun, karena tidak
tercantum secara tegas/ eksplisit di dalam KUHP, sering konstruksi konsepsional
yang umum itu dilupakan; bahkan kemungkinan diharamkan dalam praktek atau
putusan pengadilan. Demikian pulalah halnya dengan masalah tujuan dan pedoman
pemidanaan yang kemungkinan bisa dilupakan, diabaikan, atau diharamkan hanya
karena tidak ada perumusannya secara eksplisit di dalam KUHP. Padahal dilihat
dari sudut sistem, posisi tujuan sangat sentral dan fundamental. Tujuan inilah
yang merupakan jiwa/ roh/ spirit dari sistem pemidanaan.
Setiap sistem mempunyai tujuan. Sistem ketata-negaraan, sistem pembangunan
nasional, sistem pendidikan nasional, sistem pendidikan hukum dsb.nya juga
mempunyai tujuan (dikenal dengan istilah visi dan misi). Demikian pulalah
dengan sistem hukum (termasuk sistem hukum pidana), sehingga tepatlah apabila
dikatakan bahwa sistem hukum merupakan suatu sistem yang bertujuan
(purposive system).

Agar ada keterjalinan sistem, maka tujuan pemidanaan

dirumuskan secara eksplisit di dalam RKUHP. Di samping itu, perumusan yang


eksplisit itu dimaksudkan agar tidak dilupakan, dan terutama untuk menegaskan
bahwa tujuan pemidanaan merupakan bagian integral dari sistem pemidanaan.
Dengan konstruksi demikian, maka persyaratan pemidanaan atau dasar pembenaran
(justifikasi) adanya pidana, tidak hanya didasarkan pada adanya tindak pidana
(TP) dan kesalahan atau pertanggungjawaban pidana (K/PJP), tetapi juga
didasarkan pada tujuan pemidanaan. Persyaratan pemidanaan demikian dapat
diskemakan sebagai berikut :
PIDANA = TP + K (PJP) + Tujuan
Skema pemidanaan di atas dapat pula digambarkan dalam bentuk neraca
keseimbangan, sebagai berikut :

Skema pemidanaan di atas akan berbeda dengan syarat pemidanaan yang hanya
bertolak atau terfokus pada tiga masalah pokok hukum pidana [tindak pidana;
kesalahan/ pertanggungjawaban pidana; dan pidana]. Dengan hanya melihat tiga
masalah pokok itu, maka formula syarat pemidanaan yang sering dikemukakan
secara konvensional adalah:
PIDANA = TP + K (PJP)
Dalam formula/model/pola konvensional di atas, tidak terlihat variabel tujuan,
karena tidak dirumuskan secara eksplisit dalam KUHP, sehingga terkesan tujuan
berada di luar sistem. Dengan model demikian, dasar pembenaran atau justifikasi
adanya pidana hanya terletak pada TP (syarat objektif) dan Kesalahan (syarat
subjektif). Jadi seolah-olah pidana dipandang sebagai konsekuensi absolut yang
harus ada, apabila kedua syarat itu terbukti. Jelas terkesan sebagai model
kepastian yang kaku. Dirasakan janggal (menurut model ini), apabila kedua syarat
itu terbukti tetapi sipelaku dimaafkan dan tidak dipidana. Dengan demikian, ide
permaafan/ pengampunan hakim (Rechterlijk pardon/judicial pardon/dispensa de
pena) seolah-olah tidak mempunyai tempat atau setidak-tidaknya sulit diterima.
Lain halnya dengan model Konsep/RKUHP. Dengan dimasukkannya
variabel tujuan di dalam syarat pemidanaan, maka menurut Konsep, dasar
pembenaran atau justifikasi adanya pidana tidak hanya pada tindak pidana
(syarat objektif) dan
kesalahan (syarat subjektif), tetapi juga pada tujuan/ pedoman pemidanaan.
8

Dengan mengingat tujuan dan pedoman pemidanaan ini, maka menurut Konsep,
dalam kondisi tertentu hakim tetap diberi kewenangan untuk memberi maaf dan
tidak menjatuhkan pidana atau tindakan apapun, walaupun TP dan K telah
terbukti. Jadi Konsep memberi tempat pada ide permaafan/pengampunan hakim.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa model Konsep bukan model yang
kaku/absolut, tetapi model keseimbangan yang fleksibel. Latar belakang ide
fleksibilitas/elastisitas pemidanaan inipun terlihat di Belanda sewaktu dimasukkannya ketentuan Rechterlijk pardon ke dalam Pasal 9a WvS Belanda. Menurut
penjelasan Prof. Nico Keijzer dan Prof. Schaffmeister, dulu (sebelum adanya pasal
permaafan hakim), apabila dalam keadaan khusus hakim di Belanda berpendapat
bahwa sesungguhnya tidak harus dijatuhkan pidana, maka hakim terpaksa tetap
menjatuhkan pidana, walaupun sangat ringan.

Dari penjelasan demikian terlihat,

bahwa Pasal 9a WvS Belanda (Rechterlijk pardon) pada hakikatnya merupakan


pedoman pemidanaan yang dilatarbelakangi oleh ide fleksibilitas untuk
menghindari kekakuan. Dapat pula dikatakan, bahwa adanya pedoman permaafan
hakim itu berfungsi sebagai suatu katup/ klep pengaman (Veiligheids-klep) atau
pintu darurat (nooddeur).
Bangunan/struktur sistem normatif atau sistem hukum pidana/sistem pemidanaan
substantif dalam RUU KUHP dapat diskemakan sbb. :
SISTEM PEMIDANAAN
(SISTEM HK PIDANA)
Asas & Tujuan
Pemidanaan

Tindak
Pidana

Aturan/Pedoman Pemid.

Kesalahan
(PJP)

Pidana

Bangunan/struktur sistem normatif atau sistem hukum pidana/sistem pemidanaan


substantif dalam RUU KUHP di atas agak berbeda dengan KUHP (WvS) selama ini,
yang nampak lebih sederhana sebagaimana bagan/skema sbb. :
SISTEM PEMIDANAAN
(SISTEM HK PIDANA)

Asas
HP

Aturan
Pemidanaan
n
TP +
Pidana

PEMBAHARUAN IDE DASAR/LATAR BELAKANG PEMIKIRAN :


Kajian/diskusi mengenai pokok-pokok pemikiran (ide-dasar) ini menjadi sangat
penting, karena membangun atau melakukan pembaharuan hukum (law reform,
khususnya penal reform) pada hakikatnya adalah membangun/memperbaharui
pokok-pokok pemikiran/konsep/ide-dasar-nya, bukan sekedar memperbaharui/
mengganti perumusan pasal (UU) secara tekstual. Oleh karena itu, kajian/diskusi
tekstual mengenai Konsep/RUU KUHP harus didahului atau disertai dengan
diskusi konseptual.
Kajian konseptual mengenai pokok-pokok pemikiran (ide-dasar) Asas-Asas
Hukum Pidana (Materiel) Nasional sudah cukup lama dilakukan, yaitu sejak
dibahasnya Konsep I tahun 1964 sampai sekarang. Konsep pertama tahun 1964
berjudul Konsep RUU Tentang Asas-Asas dan Dasar-Dasar Pokok Tata Hukum
Pidana dan Hukum Pidana Indonesia. Konsep pertama ini dibahas dalam Kongres
PERSAHI di Surabaya tahun 1964, antara lain oleh almarhum Prof. Moeljatno
yang mengajukan prasaran berjudul Atas Dasar Atau Asas-Asas Apakah Hukum
Pidana Kita Hendaknya Dibangun?. Pokok-pokok pemikiran tersebut bergulir
terus dan diperkaya oleh pemikiran-pemikiran yang berkembang sampai saat ini.
Jadi masalah ini sudah merupakan proses kajian yang cukup panjang dan bahkan

10
10

bergenerasi (dari generasi kakek guru sampai ke cucu murid). Hasil kajian
itu kemudian dicoba untuk dituangkan, diimplementasikan, dan diformulasikan
dalam Konsep/RUU KUHP.
RUU KUHP (disingkat RKUHP) merupakan sebuah Rancang Bangun Sistem
Hukum Pidana Nasional (SHPN) yang bermaksud membangun/memperbaharui/
menciptakan sistem baru, maka pembahasan RKUHP seyogyanya bukan sekedar
membahas

masalah

perumusan/formulasi

pasal

(UU).

Membangun

atau

melakukan pembaharuan hukum (law reform, khususnya penal reform) pada


hakikatnya adalah membangun atau memperbaharui pokok-pokok pemikiran/
konsep/ide-dasarnya, bukan sekedar memperbarui/mengganti perumusan pasal
(UU) secara tekstual. Oleh karena itu, pembahasan tekstual RKUHP harus
dipahami

atau disertai dengan pembahasan konseptual dan konstekstual,

khususnya dalam konteks rekonstruksi konseptual pokok-pokok pemikiran atau


ide-ide dasar SHPN yang bertolak dari rambu-rambu dan nilai-nilai fundamental
SISKUMNAS, perkembangan problem faktual dan problem konseptual/keilmuan,
baik dari aspek nasional maupun global/internasional, bahkan dari perkembangan
problem di era digital saat ini.
Uraian di atas ingin menegaskan, bahwa membahas RKUHP pada dasarnya
membangun/memperbarui sistem hukum pidana nasional. Grand design Sistem
Hukum Pidana Nasional bagaimana yang dicita-citakan untuk dibangun,
merupakan

masalah

konseptual/gagasan besar

yang sudah cukup

lama

diungkapkan dan dibicarakan dalam berbagai dokumen nasional maupun berbagai


kegiatan ilmiah. Oleh karena itu, dalam membahas RKUHP seyogyanya ditelusuri
dan dipahami lebih dulu berbagai rangkaian kegiatan ilmiah dan rangkaian
ide/gagasan/pokok

pemikiran

yang

berkembang,

karena

pembaharuan/

pembangunan hukum pada hakikatnya merupakan pembaharuan/pembangunan


yang berkelanjutan (sustainable reform/sustainable development).3 Pembaharuan

Lihat Barda, BEBERAPA ASPEK PENGEMBANGAN ILMU HUKUM PIDANA (Menyongsong


Generasi Baru Hukum Pidana Indonesia), Pidato Pengukuhan, 1994, h. 15 : Pembaharuan
hukum merupakan kegiatan yang berlanjut dan terus menerus (kontinyu) tak kenal henti;
Konvensi Hk
Nasional 15 s/d 16 Maret 2008 di Jakarta : Pembangunan hukum adalah konsep yang
berkesinambungan dan tidak pernah berhenti; Jerome Hall (dalam Jay A. Sigler, Understanding

dan pembangunan hukum (law reform and development) terkait erat dengan
pembangunan masyarakat yang berkelanjutan/berkesinambungan (sustainable
society/ development), termasuk kegiatan pemikiran/ide dasar/konsep yang
berkesinambungan

(sustainable intellectual activity,sustainable intellectual

phylosophy, sustainable intellectual conceptions/basic ideas). Kajian terhadap


masalah ini tentunya merupakan kajian yang bergenerasi.
Tidak mudah menelusuri riwayat pokok pemikiran atau ide dasar penyusunan
RKUHP, karena sudah cukup panjang perjalanan RKUHP ini. Dihitung dari
Konsep pertama tahun 1964, saat ini (2014) sudah berjalan 50 tahun. Dalam
perjalanan yang cukup panjang itu, tidak sedikit pokok-pokok pemikiran yang
pernah dikemukakan oleh para pembicara dalam berbagai forum seminar dan
pertemuan ilmiah lainnya. Penelusuran perkembangan pemikiran itu, tentunya
menarik untuk dikaji tersendiri dalam bentuk tesis atau disertasi.
Bagi yang berminat untuk menelusuri perkembangan pemikiran dalam penyusunan
RKUHP, dapat kiranya dikemukakan beberapa bahan penelusuran latar belakang
pemikiran yang berkaitan dengan penyusunan Konsep/ RKUHP atau yang ada
pada saat berlangsungnya proses pembahasan Konsep/RKUHP, yaitu antara lain :
1.

Makalah Prof. Moeljatno dalam Kongres PERSAHI 1964 di Surabaya,


berjudul : Atas Dasar Atau Asas-Asas Apakah Hendaknya Hukum
Pidana Kita Dibangun?, sewaktu membahas Konsep Buku I KUHP 1964.

2.

Pidato pengukuhan Prof. Sudarto sebagai Guru Besar pada tgl. 21 Desember
1974 (berarti 10 tahun setelah Prof. Moeljatno), berjudul Suatu Dilemma
dalam Pembaharuan Sistem Pidana Indonesia, yang membahas Konsep
1968 dan Konsep 1971/1972.

3.

Makalah Barda Nawawi Arief berjudul Pokok-Pokok Pemikiran (Ide


Dasar) Asas-Asas Hukum Pidana Nasional,

dalam Seminar Nasional

Asas-asas Hukum Pidana Nasional tanggal 26 27 April 2004, yang


diselenggarakan oleh BPHN dalam rangka penyusunan Konsep 2004 (berarti

Criminal Law (Boston Toronto, Little, Brown & Company, 1981), hal. 269 : "improvement of
the criminal law should be a permanent ongoing enterprise.

30 tahun kemudian setelah Prof. Sudarto atau 40 tahun setelah Prof.


Moeljatno).
Patut kiranya dicatat, bahwa bahan penelusuran pokok-pokok pemikiran atau ide
dasar pembaharuan sistem hukum pidana nasional tentunya tidak terbatas pada
bahan yang dikemukakan di atas. Masih banyak yang lain. Bahan di atas, sekedar
yang berkaitan langsung dengan proses penyusunan RKUHP.
Penyusunan Konsep KUHP Baru dilatarbelakangi oleh kebutuhan dan tuntutan
nasional untuk melakukan pembaharuan dan sekaligus perubahan/penggantian
KUHP lama (Wetboek van Strafrecht) warisan zaman kolonial Belanda. Jadi
berkaitan erat dengan ide penal reform (pembaharuan hukum pidana) yang pada
hakikatnya juga merupakan bagian dari ide yang lebih besar, yaitu pembangunan/
pembaharuan (sistem) hukum nasional.
Upaya melakukan pembaharuan hukum pidana (penal reform) pada hakikatnya
termasuk bidang penal policy yang merupakan bagian dan terkait erat dengan
law enforcement policy, criminal policy, dan social policy. Ini berarti,
pembaharuan hukum pidana pada hakikatnya :
a.

merupakan

bagian dari kebijakan (upaya rasional) untuk memperbaharui

substansi hukum (legal substance)

dalam rangka lebih

mengefektifkan

penegakan hukum;
b.

merupakan bagian dari kebijakan (upaya rasional) untuk memberantas/


menanggulangi kejahatan dalam rangka perlindungan masyarakat;

c.

merupakan bagian dari kebijakan (upaya

rasional) untuk mengatasi masalah

sosial dan masalah kemanusiaan dalam rangka mencapai/ menunjang tujuan


nasional (yaitu social defence dan social welfare);
d.

merupakan upaya peninjauan dan penilaian kembali ("reorientasi dan reevaluasi") pokok-pokok pemikiran, ide-ide dasar, atau nilai-nilai

sosio-

filosofik, sosio-politik, dan sosio-kultural yang melandasi kebijakan kriminal


dan kebijakan (penegakan) hukum pidana selama ini. Bukanlah pembaharuan
("reformasi") hukum pidana, apabila orientasi nilai dari hukum pidana yang
dicita-citakan sama saja dengan orientasi nilai dari hukum pidana lama warisan
penjajah (KUHP lama atau WvS).

Dengan demikian, pembaharuan hukum pidana harus ditempuh dengan pendekatan


yang berorientasi pada kebijakan (policy oriented approach) dan sekaligus
pendekatan yang berorientasi pada nilai (value oriented approach).

Bertolak dari pemikiran di atas, maka penyusunan Konsep KUHP Baru tidak dapat
dilepaskan dari ide/kebijakan pembangunan Sistem Hukum Nasional yang
berlandaskan Pancasila sebagai nilai-nilai berkehidupan kebangsaan yang dicitacitakan. Ini berarti, pembaharuan Hukum Pidana Nasional seyogyanya juga
dilatarbelakangi dan bersumber/berorientasi pada ide-ide dasar (basic ideas)
Pancasila yang mengandung di dalamnya keseimbangan nilai/ide/paradigma :
(1) moral religius (Ketuhanan), (2) kemanusiaan (humanistik), (3) kebangsaan,
(4) demokrasi, dan (5) keadilan sosial. Keseimbangan lima sila itu dapat
dipadatkan menjadi keseimbangan tiga pilar, yaitu : (a) pilar ketuhanan
(religius); (b) pilar kemanusiaan (humanistik); dan (c) pilar kemasyarakatan
(kebangsaan/ nasionalistik; demokrasi/kerakyatan; dan keadilan sosial).
Di samping bertolak dari ide keseimbangan Pancasila, pembaharuan hukum pidana
di Indonesia (khususnya penyusunan Konsep KUHP Baru), dilatarbelakangi oleh
ide yang berulang kali dinyatakan dalam berbagai forum seminar nasional maupun
internasional, bahwa :
-

pembaharuan hukum pidana dan penegakan hukum pidana hendaknya dilakukan


dengan menggali dan mengkaji sumber hukum tidak tertulis dan nilai-nilai hukum
yang hidup di dalam masyarakat, antara lain dalam hukum agama dan hukum adat.

Ide demikian tertuang atau terlihat antara lain di dalam :


1.

kesepakatan pertemuan ilmiah nasional (antara lain dalam Seminar Hukum


Nasional I/1963; IV/1979; VI/1995; VIII/2003; Simposium Pengaruh Kebudayaan/
Agama Terhadap Hukum Pidana 1975 dan Simposium Pembaharuan Hukum Pidana

Nasional 1980);
2.

kebijakan legislatif nasional (antara lain dalam UU No. 1 Drt. 1951 dan UU No.
14/1970 jo. UU No. 35/1999 yang sudah diganti dengan UU No. 4/2004 dan
terakhir diganti lagi dengan UU No. 48/2009);

3.

laporan Kongres PBB mengenai The Prevention of Crime and the Treatment of
Offenders (antara lain Kongres V/1975; Kongres VI/1980; Kongres VII/1985;
Kongres VIII/1990) 4.

Laporan Kongres ke V (1975) :


a. ".... it was necessary, in the long term, to rethink the whole of criminal policy in a
spirit of rationalization, planning and democratization. ...............
the criminal justice
system should be transformed so as to be more responsive to contemporary social
necessities, the aspirations of the whole population and the demands of a scientific
evaluation of needs and means in preventing and containing criminality" (halaman
20);
b. "It was important that traditional forms of primary social control should be revived
and developed" (halaman 24).
Laporan Kongres ke VI (1980) :
a. "... development (berarti termasuk pembangunan di bidang hukum, pen.) was not
criminogenic per se, but could become such if it was not rationally planned,
disregarded cultural and moral values, and did not include integrated social
defence strategies" (halaman 42);
b. "... the importation of foreign cultural patterns which did not harmonize with the
indige-nous culture had had a criminogenic effect" (halaman 42);
Laporan Kongres ke VII (1985) :
a. "Crime prevention and criminal justice should not be treated as isolated problems to
be tackled by simplistic, fragmentary methods, but rather as complex and wideranging activities requiring systematic strategies and differentiated approaches in
relation to :
(a) The socio-economic, political and cultural context and circumstances of the
society in which they are applied;
(b) The developmental stage, ...................... ;
(c) The respective traditions and customs, making maximum and effective use of
human indigenous options".
(laporan halaman 10);
b. Written laws and societal structure and values :
"The conflicts existing in many countries between indigenous and traditions for the
solution of socio-legal problems and the frequently imported or super-imposed
foreign legislation and codes should be reviewed with a view to assuring that official
norms appropriately re-flect current societal values and structures" (halaman 13);
c. Traditional forms of social control :
"When new crime prevention measures are introduced, necessary precautions shoul
be taken not to disrupt the smooth and effective functioning of traditional systems,
full attention being paid to the preservation of cultural identities and the protection
of human rights" (halaman 14).
Laporan Kongres ke VIII (1990) :
"The trial process should be consonant with the cultural realities and social values of
society, in order to make it understood and to permit it to operate effectively within the
community it serves. Observance of human rights, equality, fairness and consistency
should be ensured at all stages of the process" (halaman 5).

Berbagai pernyataan (statement) pertemuan ilmiah yang dikemukakan di atas (baik


nasional maupun internasional) jelas menunjukkan, bahwa perlu ada harmonisasi/
sinkronisasi/konsistensi

antara

pembangunan/pembaharuan

hukum

nasional

dengan nilai-nilai atau aspirasi sosio-filosofik dan sosio-kultural yang ada di


masyarakat. Oleh karena itu, dalam melakukan upaya pembaruan hukum pidana
(KUHP) nasional, perlu dilakukan pengkajian dan penggalian nilai-nilai nasional
yang bersumber pada Pancasila dan yang bersumber pada nilai-nilai yang ada di
masyarakat (nilai-nilai religius maupun nilai-nilai budaya/adat).
Upaya pembaharuan hukum pidana (KUHP) Nasional yang saat ini sedang
dilakukan, khususnya dalam rangka menggantikan KUHP warisan zaman kolonial,
memerlukan kajian komparatif yang mendasar/fundamental, konseptual, kritis dan
konstruktif. Salah satu kajian alternatif/perbandingan yang sangat mendesak dan
sesuai dengan ide pembaharuan hukum nasional saat ini, ialah kajian terhadap
keluarga hukum (family law) yang lebih dekat dengan karakteristik masyarakat
dan sumber hukum di Indonesia. Karakteristik masyarakat Indonesia lebih bersifat
monodualistik dan pluralistik; dan berdasarkan berbagai kesimpulan seminar
nasional, sumber hukum nasional diharapkan berorientasi pada nilai-nilai hukum
yang hidup dalam masyarakat yaitu yang bersumber dari nilai-nilai hukum adat
dan hukum agama. Kajian komparatif dari sudut traditional and religious law
family itu tidak hanya merupakan suatu kebutuhan, tetapi juga suatu keharusan.
Bahkan dalam salah satu kesimpulan dan rekomendasi (saran pemecahan masalah)
Hasil Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII tahun 2003 di Kuta, Denpasar,
Bali, ditegaskan antara lain : 5)
Menjadikan ajaran agama sebagai sumber motivasi, sumber inspirasi, dan
sumber evaluasi yang kreatif dalam membangun insan hukum yang berakhlak
mulia, sehingga wajib dikembangkan upaya-upaya konkret dalam muatan
kebijakan pembangunan hukum nasional yang dapat :

5)

Lihat Rumusan Hasil Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, angka II sub B.7, termuat dalam
Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, Buku 1, BPHN Depkeh dan HAM, 2003, halaman 7.

memperkuat landasan budaya keagamaan yang sudah berkembang dalam


masyarakat;

memfasilitasi perkembangan keberagamaan dalam masyarakat dengan


kemajuan bangsa;

mencegah konflik sosial antar umat beragama dan meningkatkan (sic.;


meningkatkan kerukunan ?, pen.) antar umat bangsa.

Rekomendasi untuk melakukan kajian/penggalian hukum yang hidup (yang bersumber


dari

nilai-nilai

kecenderungan

hukum agama
kongres-kongres

dan

hukum

internasional

tradisional/ adat)
di

bidang

hukum

juga

menjadi

pidana

dan

kriminologi. Dalam berbagai kongres PBB yang diselenggarakan lima tahun sekali
mengenai The Prevention of Crime and the Treatment of Offenders sering
dinyatakan, bahwa sistem hukum pidana yang selama ini ada di beberapa negara
(terutama yang berasal/diimpor dari hukum asing semasa zaman kolonial), pada
umumnya bersifat obsolete and unjust (telah usang dan tidak adil) serta outmoded
and unreal (sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan kenyataan).
Alasannya, karena sistem hukum pidana di beberapa negara yang berasal/diimpor dari
hukum asing semasa zaman kolonial, tidak berakar pada nilai-nilai budaya dan bahkan
ada diskrepansi dengan aspirasi masyarakat, serta tidak responsif terhadap
kebutuhan sosial masa kini. Kondisi demikian oleh Kongres PBB dinyatakan sebagai
faktor kontribusi untuk terjadinya kejahatan (a contributing factor to the increase of
crime). Bahkan dinyatakan, bahwa kebijakan pembangunan (termasuk di bidang
hukum) yang mengabaikan nilai-nilai moral dan kultural, antara lain dengan masih
diberlakukannya hukum asing warisan zaman kolonial, dapat menjadi faktor
kriminogen.6

Bertolak dari kondisi demikian, kongres PBB menghimbau agar

dilakukan pemikiran kembali keseluruhan kebijakan kriminal (to rethink the whole
of criminal policy), termasuk di bidang kebijakan hukum pidana.
6

Dalam laporan Kongres PBB VI (Ibid., halaman 45) antara lain dinyatakan : "Acapkali, keti
adaan
konsistensi antara undang-undang dengan kenyataan merupakan faktor kriminogen; semakin jauh
UU
bergeser dari perasaan dan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat, semakin besar ketidakpercaya
an
akan keefektifan sistem hukum itu". (Often, lack of consistency between laws and reality was criminog
enic;
the farther the law was removed from the feeling and the values shared by the community, the gre
ater

was the lack of confidence and trust in the efficacy of the legal system).

17

Hal yang menarik dari kecenderungan internasional di dalam melakukan upaya


pemikiran kembali dan penggalian hukum dalam rangka memantapkan strategi
penanggulangan

kejahatan

yang integral,

ialah himbauan

untuk melakukan

pendekatan yang berorientasi pada nilai (value oriented approach), baik nilainilai kemanusiaan maupun nilai-nilai identitas budaya dan nilai-nilai moral
keagamaan. Jadi terlihat himbauan untuk melakukan pendekatan humanis,
pendekatan kultural, dan pendekatan religius yang diintegrasikan ke dalam
pendekatan rasional yang berorientasi pada kebijakan (policy oriented approach).
Himbauan untuk melakukan pendekatan kultural dan religius, menyebabkan pula
adanya perhatian untuk menoleh dan mengkaji sistem hukum yang bersumber
pada nilai-nilai hukum tradisional dan hukum agama. Misalnya dalam kongres
internasional kriminologi ke-10 di Hamburg pernah ditampilkan makalah-makalah
dari keluarga hukum tradisional dan hukum agama, yaitu dari Cina dan Arab Saudi.
Pembicara dari Cina, Xiang Guo, menyajikan makalah berjudul The Present Violent
Crime and Preventive Strategies in China. Pembicara dari Arab Saudi, M. Aref,
menyajikan makalah berjudul Criminality and Crime Prevention in Developing
Countries yang antara lain mengemukakan tentang Islamic perspective for crime
prevention, sedangkan pembicara lainnya, M. Zeid, menyajikan makalah berjudul
Crisis of Penal Sanction in Contemporary Societies yang mengemukakan antara lain
tentang Revitalization of Islamic Sanction in Islamic Societies.
Di samping kajian komparasi dan harmonisasi dari sudut traditional and
religious law system, pembaharuan hukum pidana nasional juga dituntut untuk
melakukan kajian komparasi dan harmonisasi dengan perkembangan pemikiran
dan ide-ide mutakhir dalam teori/ilmu hukum pidana dan dalam kesepakatan global/
internasional. Ide-ide itu antara lain mengenai ide keseimbangan antara
prevention of crime, treatment of offender, dan treatment of society;
keseimbangan antara social welfare dengan

social defence; keseimbangan

orientasi antara offender (individualisasi pidana) dan victim (korban); ide


penggunaan double track system (antara pidana/ punishment dengan
tindakan/treatment/measures); ide penggunaan pidana penjara secara selektif dan
limitatif,

yang identik dengan ide prinsip


18
18

penghematan

(the principle of parsimony) dan prinsip menahan diri (principle of

restraint) dalam menggunakan pidana penjara; identik juga dengan the ultimo-ratio
character of the prison sentence atau alternative to imprisonment or custodial
sentence; ide elasticity/flexibility of sentencing; ide "judicial corrective to the
legality

principle

untuk

menembus

kekakuan;

ide

modifikasi

pidana

(modification of sanction; the alteration/annulment/ revocation of sanction;


redetermining of punishment); dan ide permaafan/ pengampunan hakim
(rechterlijk pardon/judicial pardon/dispensa de pena), dan ide penyelesaian perkara
di luar proses atau ide tidak meneruskan perkara pidana secara formal (dikenal dengan
istilah ide diversi/ diversion) antara lain melalui perdamaian atau mediasi penal
(penal mediation).
Materi Konsep KUHP (sistem hukum pidana materiel dan asas-asasnya), ingin
disusun/diformulasikan dengan berorientasi pada berbagai pokok pemikiran dan ide
dasar yang telah diungkapkan di atas. Secara garis besar dapat disebut ide
keseimbangan, yang antara lain mencakup :
-

keseimbangan monodualistik antara kepentingan umum/masyarakat dan


kepentingan individu/perorangan;

keseimbangan antara perlindungan/kepentingan pelaku tindak pidana (ide


individualisasi pidana) dan korban tindak pidana;

keseimbangan antara unsur/faktor objektif (perbuatan/lahiriah) dan subjektif


(orang/batiniah/sikap batin); ide daad-dader strafrecht;

keseimbangan antara kriteria formal dan materiel;

keseimbangan antara kepastian hukum, kelenturan/elastisitas/fleksibilitas,


dan keadilan;

keseimbangan

nilai-nilai

nasional

dan

nilai-nilai

global/internasional/

universal;
Ide dasar keseimbangan itu diwujudkan dalam ketiga permasalahan pokok hukum
pidana, yaitu dalam masalah tindak pidana, masalah kesalahan/pertanggungjawaban pidana, dan masalah pidana dan pemidanaan.
-o0o19
19