Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

General Anastesi
Pembimbing : dr. Santi , Sp. An
Disusun oleh : Bunga Nur Annisa

SMF ANESTESI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIANJUR


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIAH
PERIODE 01 DESEMBER 2014- 28 DESEMBER 2014

PENDAHULUAN

Anestesi berasal dari bahasa Yunani an (tidak, tanpa) dan


aesthetes (persepsi, kemampuan untuk merasa).

Kata anestesi diperkenalkan pertama kali oleh Oliver Wendell


Holmes yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat
sementara karena pemberian obat dengan tujuan untuk
menghilangkan nyeri pembedahan.

Anestesi dibagi menjai dua kelompok yaitu :

1. anestesi lokal, yaitu hilang rasa sakit tanpa disertai hilangnya


kesadaran

2. anestesi umum, yaitu hilang rasa sakit disertai hilang


kesadaran.

Obat untuk menghilangkan nyeri terbagi ke


dalam 2 kelompok yaitu analgetik dan anestesi.
Analgetik : obat pereda nyeri tanpa disertai
hilangnya kesadaran.
Anestesi menyebabkan hilangnya kesadaran.

TEORI

Anestesi umum adalah keadaantidak sadardan hilangnya


refleks pelindung yang dihasilkan dari satu atau
lebihagen anestesi umum.
Berbagaiobatdapat diberikan, dengan tujuan
keseluruhan untuk memastikanhipnosis,amnesia
,analgesia, relaksasiotot rangka.

TUJUAN ANESTESI
Anestesi memiliki beberapa tujuan termasuk :
Sedasi : hilangnya kesadaran
Analgesia : hilangnya respon terhadap nyeri
Muscle relaxant : relaksasi otot rangka

PERSIAPAN UNTUK ANESTESI


UMUM

Anamnesis : Apakah pernah mendapat anesthesia


sebelumnya.

Pemeriksaan fisik : dilakukan pemeriksaan keadaan


gigi-geligi, tindakan buka mulut. Apakah lidah relative
besar, leher pendek dan kaku.

Pemeriksaan laboratorium : atas indikasi yang tepat


sesuai dengan dugaan penyakit yang sedang dicurigai,
misalnya pemeriksaan darah (Hb, lekosit, masa
perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis.

KLASIFIKASI STATUS FISIK

Menggunakan The American Society of


Anesthesiologists (ASA).
ASA I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik,
biokimia.

ASA II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau


sedang.

ASA III : Pasien dengan penyakit sistemik berat,

sehingga aktivitas rutin terbatas.


ASA IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak
dapat melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya
merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.
ASA V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau
tanpa pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.
Pada bedah cito atau emergency biasanya dicantumkan
huruf E.

MASUKAN ORAL (PUASA)


Refleks laring mengalami penurunan selama
anesthesia.
Regurgitasi isi lambung dan kotoran yang
terdapat dalam jalan napas merupakan risiko
utama pada pasien-pasien yang menjalani
anesthesia.
Dewasa : 6-8 jam
Anak kecil : 4-6 jam
Bayi : 3-4 jam.

PREMEDIKASI

Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam


sebelum induksi anesthesia dengan tujuan untuk
melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari
anesthesia diantaranya :

Meredakan kecemasan dan ketakutan

Memperlancar induksi anesthesia

Meminimalkan jumlah obat anestetik

Mengurangi mual muntah pasca bedah

Menciptakan amnesia

Sungkup muka : Pemakaian sungkup muka berguna


untuk menyalurkan oksigen atau gas anestesi ke pasien.

Endotracheal tube (ETT) : ETT dapat digunakan

untuk memberikan gas anestesi secara langsung ke trakea


dan memberikan ventilasi dan oksigenasi terkontrol.

Sungkup laring (Laringeal mask airway =


LMA) : LMA digunakan untuk menggantikan sungkup

muka atau ETT saat pemberian anestesi, untuk membantu


ventilasi dan jalur untuk ETT pada pasien dengan jalan
nafas sulit.

PERSIAPAN OBAT
a.Sedatif
Miloz (Midazolam) : obat induksi tidur jangka
pendek.
b.Induksi
Propofol : untuk induksi dan pemeliharaan
dalam anastesia umum.
c.Analgesik
Fentanil : analgesik dengan kekuatan 100x
morfin.
d.Pelemah otot
Atracurium (Notrixum) : sebagai pelemah otot

TEKNIK ANESTESI UMUM


Induksi anestesi
Induksi intravena
Induksi intramuskular
Induksi inhalasi
Induksi per rektal
Obat pelemah otot

INDUKSI ANESTESI

Induksi anestesi :Tindakan untuk membuat


pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga
memungkinkan dimulainya anestesia dan
pembedahan.

S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan


jantung. Laringoskop pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai
dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang.
T : Tubes Pipa trakea. Pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun
tanpa balon (cuffed) dan usia > 5 tahun dengan balon (cuffed).
A : Airway Pipa mulut-faring (Guedel,orotracheal airway)
dan pipa hidung-faring (naso-tracheal airway). Pipa ini untuk
menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya
lidah tidak menyumbat jalan napas.
T : Tape Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong
atau tercabut
I : Introducer Mandrin atau stillet untuk memandu agar
pipa trakea mudah dimasukkan
C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan
anesthesia
S : Suction Penyedot lender dan ludah

Induksi intravena
Induksi intravena agen induksi seperti propofol
(recofol, diprivan). Propofol diberikan dengan
kepekatan 1% menggunakan dosis 2-3 mg /
kgBB. Penggunaan propofol dikaitkan dengan
kurang mual dan muntah pasca operasi dan
pemulihan terjadi lebih cepat.

Induksi intramuscular
Ketamin (ketalar)yang dapat diberikan secara
intramuscular dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan
setelah 3-5 menit pasien tidur.

Induksi inhalasi
Induksi inhalasi hanya dikerjakan dengan halotan
(fluotan) atau sevofluran.
Induksi halotan memerlukan gas pendorong O2 atau
campuran N2O dan O2.
Induksi dengan sevofluran lebih disenangi karena
pasien jarang batuk.
Induksi dengan enfluran (etran), isofluran (foran,
aeran) atau desfluran jarang dilakukan, karena
pasien sering batuk dan waktu induksi menjadi
lama.
Induksi per rektal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan
thiopental atau midazolam.

Pelemas otot
Bertindak melumpuhkan otot, termasuk otot-otot
pernapasan.
Antara pelemas otot yang dapat digunakan
adalah suksinil kolin, atrakurium, vekuronium,
pankuronium.

OBAT ANESTESI

Analgetik narkotik
a.Morfin
Dosis dewasa 8-10 mg (0,1-0,2 mg/kgBB)
intramuskular
Obat ini digunakan untuk mengurangi kecemasan
dan ketegangan pasien menjelang pembedahan.
Kerugiaan penggunaan morfin, pulih pasca bedah
lebih lama. Penyempitan bronkus dapat timbul pada
pasien asma. Mual dan muntah pasca bedah ada.
b.Pethidin
Dosis 1mg/kg bb dewasa
Menekan tekanan darah dan pernafasan, juga
merangsang otot polos.

Barbiturat
a.Pentobarbital dan sekobarbital sering
digunakan untuk menimbulkan sedasi dan
menghilangkan kekhawatiran sebelum operasi.
Obat ini dapat diberikan secara oral atau intra
muscular.
Pada dewasa dosis 100-200mg
Pada bayi dan anak-anak dosis 2mg/kg bb.

Pasien yang mendapat barbiturat sebagai


premedikasi biasanya bangun lebih cepat
daripada bila menggunakan narkotika.

Antikolinergik
Atropin efektif sebagai anti mual dan muntah.
Disamping itu efek lainnya adalah melemaskan
tonus otot polos organ-organ dan menurunkan
spasme gastrointestinal.
Dosis 0,4-0,6 mg intramuscular bekerja setelah
10-15 menit.

OBAT PENENANG (TRANQUILIZER)

a.Diazepam.
Pemberian dosis rendah, bersifat sedatif sedangkan
dosis besar hipnotik.
Dosis premedikasi dewasa 10 mg IM atau 5-10 mg
oral dengan dosis maksimal 15 mg.
Dosis sedasi pada analgesi regional 5-10 mg IV.
b.Midazolam.
Midazolam mempunyai awal dan lama kerja lebih
pendek daripada diazepam.
Dosis premedikasi dewasa 0,07-0,10 mg/kgBB,
disesuaikan dengan umur dan keadaan pasien. Dosis
lazim adalah 5 mg. pada orang tua dan pasien lemah,
dosisnya 0,025-0,05 mg/kgBB.

OBAT PELUMPUH OTOT

Obat golongan ini menghambat transmisi


neuromuskular sehingga menimbulkan
kelumpuhan pada otot rangka.
Pada anestesi umum obat ini memudahkan dan
mengurangi cedera tindakan laringoskopi dan
intubasi trakea, serta memberi relaksasi otot
yang dibutuhkan dalam pembedahan dan
ventilasi kendali.

OBAT PELUMPUH OTOT

a.Pavulon
Mulai kerja pada menit kedua-ketiga untuk selama 30-40
menit. Memiliki efek akumulasi pada pemberian berulang.
Dosis awal untuk relaksasi otot 0,08 mg/kgBB intravena
pada dewasa.

b.Suksametonium (suksinil kolin)

Mula kerja 1-2 menit dengan lama kerja 3-5 menit.

Dosis intubasi 1-1,5 mg/kgBB intravena.

OBAT ANESTESI INHALASI

a. Dinitrogen monoksida(N2O/gas gelak).


N2O merupakan gas yang tidak berwarna, berbau manis,
tidak iritatif, tidak berasa, lebih berat dari udara.
Penggunaan dalamanestesi umumnya dipakai dalam
kombinasi N2O:O2.
Dosis untuk mendapatkan efek analgesik digunakan dengan
perbandingan 20% : 80%, untuk induksi 80% : 20%, dan
pemeliharaan 70% : 30%.

b.Halotan
Halotan merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak,
tidak iritatif, mudah menguap, tidak mudah
terbakar/meledak, tidak bereaksi dengansoda lime,dan
mudah diuraikan cahaya. Keuntungan penggunaan halotan
adalah induksi cepat dan lancar, tidak mengiritasi jalan
napas, bronkodilatasi, pemulihan cepat, proteksi terhadap
syok, jarang menyebabkan mual/muntah.
Dosis induksi 2-4% dan pemeliharaan 0,5-2%.

OBAT ANESTESI INTRAVENA


a. Propofol
Propofol digunakan untuk induksi dan
pemeliharaan dalam anastesia umum
Obat ini dikemas dalam cairan emulsi lemak
berwarna putih susu bersifat isotonik dengan
kepekatan 1 % (1 ml = 10 mg).
Dosis induksi adalah 2,0-2.5 mg/kg IV, untuk
sedasi 25-75 g/kg/min dengan I.V infuse.
Dapat dilarutkan dengan Dextrosa 5 % untuk
mendapatkan konsentrasi yang minimal 0,2%.

b.Tiopental
Merupakan obat anestesi umum barbiturat short
acting
Dapat mencapai otak dengan cepat dan memiliki
onset yang cepat (30-45 detik).
Dosis yang banyak atau dengan menggunakan
infus akan menghasilkan efek sedasi dan
hilangnya kesadaran.
Dosis 3-5 mg/kg.

c.Ketamin
Ketamin hidroklorida adalah golongan fenil
sikloheksilamin, merupakan rapid acting non
barbiturate.
Ketamin kurang digemari untuk induksi
anastesia, karena sering menimbulkan takikardi,
hipertensi , nyeri kepala, muntah muntah ,
pandangan kabur dan mimpi buruk.
Ketamin diberikan secara I.V atau I.M.
Dosis induksi adalah 1 2 mg/KgBB secara I.V
atau 5 10 mg/Kgbb I.M
Dosis sedatif lebih rendah yaitu 0,2 mg/KgBB

KESIMPULAN

Anestesi umum adalah suatu tindakan meniadakan nyeri


secara sentral, disertai hilangnya kesadaran dan bersifat
reversible yang terdiri dari hipnotik, analgesia dan
relaksasi.
Sebelum dilakukan anestesi umum, harus dilakukan
penilaian pada psien yang mencakup beberapa hal yaitu
status kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium serta menentukan klasifikasi status fisik
menurut The American Society of Anaesthesiologist (ASA).
Selama proses anestesi, dilakukan pemantauan keadaan
umum, kesadaran, tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu
dan perdarahan. Jika terdapat kesulitan selama
melaksanakan anestesi umum, seperti jalan nafas dan
intubasi, harus ditangani dengan benar.

TERIMA

KASIH