Anda di halaman 1dari 95

Tropik Infeksi

BIMBEL UKDI MANTAP


dr. Anindya K. Zahra
dr. Gandhi Anandika F.
dr. Alexey Fernanda N.

UKDI MANTAP

Transmission Factor
Host

Vector
Virus

(WHO, 2011)

Vector

UKDI MANTAP

Mosquito: Aedes (Stegomyia) aegypti, Aedes


(Stegomyia) albopictus
Breed in the CLEAN WATER.
GEOGRAPHICAL LIMIT in winter min 10oC.
>1000 m height asl uncommon
MAX FLY DISTANCE : 50 m
Dengue vector is the FEMALE

(WHO, 2009; WHO, 2011)

UKDI MANTAP

Transmission

EXTRINSIC INCUBATION
PERIOD
8-12 days

INTRINSIC INCUBATION
PERIOD
5-7 days

UKDI MANTAP

Diagnosis and Clinical Manifestations

UKDI MANTAP

Classification (WHO, 1997)

UKDI MANTAP

Classification (WHO, 2009)

(WHO, 2009)

UKDI MANTAP

Classification (WHO, 2011)

(WHO, 2011)

Demam Berdarah Dengue


Manifestasi Klinis
Demam = onset akut, tinggi dan menetap, durasi 2-7 hari
Manifestasi perdarahan = tes tornikuet (+), petekiae, purpura,
ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis/melena
Hepatomegali
Syok = dimanifestasikan dengan takikardia, perfusi jaringan yang
buruk, nadi lemah, penyempitan tekanan nadi (< 20 mmHg),
hipotensi, kulit dingin dan lembap, gelisah

Temuan Laboratorium
Trombositopenia ( 100.000 /ml)
Hemokonsentrasi = peningkatan hematokrit 20 % dari baseline
pasien

UKDI MANTAP

Expanded Dengue Syndrome


Unusual manifestations severe organ
involvement such as liver, kidneys, brain or
heart associated with dengue infection
Reported in DHF and DF
May be associated with coinfections,
comorbidities or complications of prolonged
shock.

UKDI MANTAP

(WHO, 2009)

UKDI MANTAP

Malaria
Definisi: Penyakit infeksi parasit yang
disebabkan oleh Plasmodium yang menyerang
eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya
bentuk aseksual di dalam darah.
Transmisi di 103 negara
Indonesia endemis malaria di Kalimantan, Sulawesi
Tengah sampai Utara, Maluku, Papua, Lombok, NTT,
Sumatra bagian selatan
Melibatkan 1 milyar orang
Menyebabkan 1-3 juta kematian tiap tahun

UKDI MANTAP

Patogen dan Vector


Patogen:
P. falciparum
P. vivax
P. ovale
P. malariae

Vector:
Anopheles sp. (betina)

UKDI MANTAP

Malaria

Malaria

Tanpa
Komplikasi

Tx per oral

Berat

Tx
parenteral

UKDI MANTAP

Uncomplicated Malaria
The classic paroxysm
Shivering and chills (1-2 hours) high fever
excessive diaphoresis body temperature drops
Fatigue, Malaise, Shaking chills, Arthralgia, Myalgia

Less common symptoms


Anorexia and lethargy
Nausea and vomiting
Diarrhea
Headache

Severe
Malaria

UKDI MANTAP
Severe
Malaria

Beberapa Jenis Malaria Berat


berdasarkan WHO
Malaria Serebral: Malaria dengan koma yang
tidak dapat dibangunkan, atau koma setelah
kejang
Malaria Algid: Malaria yang disertai dengan
tanda shock ( TDS < 70 mmHG)
Malaria Hiperparasitemia: hitung parasit > 5%
pada daerah hipoendemik.
Malaria hemoglobinuria/ Black Water Fever

UKDI MANTAP

Patogenesis (Malaria Falciparum)


Cytoadherence
Perlekatan EP
matur pada
endotel

Rosetting

EP matur
dikelilingi 10
eritrosit normal
obstruksi aliran
darah
sitoaderensi

Sequestration

Pada jaringan
otak, hepar, ginjal
(FALCIPARUM)

EP: eritrosit yg terinfeksi plasmodium

UKDI MANTAP

UKDI MANTAP
Malaria Tropikana

Malaria Tertiana

Malaria Kuartana

UKDI MANTAP

Blood Smear
Criterion standard
Giemsa-stained
1x hasil negatif belum
dapat menyingkirkan
malaria
Butuh 3x hasil negatif

UKDI MANTAP

Identifikasi Plasmodium

Identifikasi Plasmodium
Morfologi

P.Falciparum

P.vivax

P.ovale

P.malariae

Masa inkubasi
(hari)

9 - 14 (12)

12 17 (15)

16 18 (17)

18 40 (28)

Daur siklus

48 jam

50 jam

72 jam

Jenis malaria

Malaria tropikana Malaria tertiana

Malaria tertiana

Malaria kuartana

Eritrosit

Sama dengan
normal

Lebih besar,
pucat

Lebih besar,
ovale

Sama dengan
normal

Tanda khas

Maurer spots

Schufner dots

Schufner dots

Ziemanns dots

Bentuk stadium
tropozoit

Ringform, acide,
accole ring

Ameboid, ring

Pita, rectangular

Bentuk stadium
skizont
Bentuk stadium
gametosit
Pigmen

Bunga
Bulan sabit,
pisang, sosis

Sferis
Tengguli

Sferis

Sferis
Besar, kasar,
gelap

Identifikasi Plasmodium
Etiologi

Plasmodium falciparum
Plasmodium vivax

P.falciparum dan
P.vivax
etiologi tersering
Plasmodium ovale

Plasmodium malariae

Terapi Malaria Tanpa Komplikasi


1st line

2nd line

Dosis
ACT (3 hari)
- BB >60kg: ACT
1x4tab
- anak: artesunat
1x2-4 mg/kg
Klorokuin (3 hari)
- (2x2, 2x2, 1x2)
Kina (7 hari)
- 3x 10mg/kgBB
Primakuin
- Vivax/ovale 1x1
(14 hari)
- Falciparum 1x3
(single dose)
Klindamisin
20mg/KgBB/ hari,
dibagi 3 dosis selama
7 hari

Falciparum

ACT + Primakuin

Kina + Primakuin +
(Doksisiklin/
Tetrasiklin)

Malariae

ACT

Kina + Primakuin +
(Doksisiklin/
Tetrasiklin)

Ovale Vivax

ACT + Primakuin

Kina + Primakuin

- RELAPS

ACT + Primakuin
double dose

Hamil trimester 1

Kina + Klindamisin

Hamil trimester 23

ACT

(ACT: FDC ARTEMISININ-BASED COMBINATION THERAPY.


Contoh: artesunat + amodiakuin, artemeter + lumefantrin, artesunat + mefloquine, dihidroartemisinin +
piperakuin)

Severe Malaria Treatment :


PARENTERAL

ARTESUNATE IV/IM
CDC: 2.4 mg/kg IV x4 doses over 3 days
WHO: 2.4 mg/kg IV/IM at 0, 12 hours, 24 hours,
THEN qDay

Alternatives: Artemether or Quinine


Artemether 3,2 mg/kg at admission then 1,6 mg/kg
per day

Kemoprofilaksis : Tergantung AREA

Sensitifklorokuin

Resisten
klorokuin

Klorokuin 2 tab/minggu, dari 1 minggu sebelum


sampai 4 minggu setelah kembali

Doksisiklin 200 mg (1 tab)/hari atau*


Mefloquine 250 mg (1 tab)/minggu atau**
Atovaquone (250 mg)-proguanil (100 mg) 1
tab/hari**

Indonesia = resisten klorokuin (CDC)


*Doksisiklin diminum 1-2 hari sebelum pergi sampai 4 minggu setelah pulang/keluar dari daerah
endemis. Kontraindikasi pada ibu hamil.
**Mefloquine diminum >2 minggu sebelum pergi sampai 4 minggu setelah pulang/keluar dari
daerah endemis. Profilaksis malaria lini pertama untuk ibu hamil pada daerah resisten
klorokuin
***Atovaquone-proguanil diminum 1-2 hari sebelum pergi sampai 7 hari setelah pulang/keluar dar
idaerah endemis. Profilaksis malaria untuk ibu hamil yang tidak bisa diberikan meflokuin

UKDI MANTAP

Leptospirosis

UKDI MANTAP

lepto

UKDI MANTAP

Leptospirosis rash in an adolescent boy


that shows the generalized vasculitis
caused by this infection.

Pemeriksaan Penunjang
KONFIRMASI DIAGNOSIS
Kultur
Umumnya dilakukan setelah hari ke-4 gejala
Lama, mahal
Sampel
Blood : Dapat ditemukan 10 hari pertama gejala. Optimal sebelum dilakukan pemberian
antibiotik
Cerebrospinal Fluid : Minggu pertama gejala
Urine : Diatas 7 hari gejala

MAT (microscopic agglutination test)


Deteksi antileptospira antibodies
(+) bila titer >1:200 (single) atau >1:100 (serial)
Terdeteksi setelah 1 minggu

Rapid: latex agglutination test, IgM ELISA


Terdeteksi dalam 3-5 hari sakit

Leptospirosis - Terapi
Leptospirosis
ringan

Doksisiklin 2 x 100 mg (selama 7 hari) or


Ampisilin 4 x 500 750 mg (selama 7 hari) or
Amoxicillin 4 x 500 mg (selama 7 hari)

Leptospirosis
berat

Penisilin G 1,5 juta U/6 jam (IV) (selama 7 hari) or


Ampisilin 1 g/6 jam (IV) (selama 7 hari) or
Amoxicillin 1 g/6 jam (IV) (selama 7 hari) or
Ceftriaxone 1 g/hari (IV) (selama 7 hari) or
Cefotaxim 1 g/6 jam (IV) (selama 7 hari)

Kemoprofilaksis

Doksisiklin 200 mg/minggu

UKDI MANTAP

Tipe-Tipe Demam
Continuous (Sustained)
Kenaikan persisten suhu tubuh dengan fluktuasi maksimal 0,40C selama periode 24 jam
Contoh : demam dengue, demam berdarah dengue

Remitten
Demam dengan fluktuasi suhu tubuh yang lebar (>10C). Suhu tubuh turun setiap hari,
namun tidak mencapai suhu normal. Demam biasanya rendah di pagi hari dan tinggi di
malam hari
Contoh : demam tifoid

Intermitten
Demam dengan fluktuasi suhu tubuh. Suhu tubuh turun dan mencapai suhu normal
terutama pada pagi hari dan meningkat pada sore hari
Contoh : malaria

Hectic (Septic)
Demam remitten atau intermitten dengan perbedaan suhu yang besar antara puncak
demam dan titik terendah demam

UKDI MANTAP

Step Ladder Pattern

1st

2nd

3rd

Demam

Demam terus
menerus

Komplikasi:

Nyeri kepala
Batuk kering

Bradikardia relatif

Nyeri perut
Rose spot

Lidah kotor, tepi


hiperemis, tremor

Konstipasi >> atau

Nyeri perut

Diare (pea soup)


Splenomegaly

Hepatomegaly
(50%)

Perdarahan usus
Perforasi usus
Meningitis tifosa
Hepatitis tifosa
Cholecystitis, etc

UKDI MANTAP

Patofisiologi Tifoid

UKDI MANTAP

UKDI MANTAP

Pemeriksaan Penunjang
Isolasi organisme

1st week: darah dan sumsum tulang


2nd week: feses
3rd week: urin
Widal

Reaksi antara antibodi aglutinin serum penderita terhadap


antigen O (somatic) dan H (flagellar)
Kenaikan titer O 1:320 atau kenaikan 4x support dx
Sensitivitas 64-74%, spesifisitas 76-83%
TUBEX

Deteksi IgM terhadap antigen O9 (spesifik Salmonella


serogroup D)
Sens 100%/spec 100% -- 78%/94% --91,2%/82,3%
(+) = >4. >6 indikasi kuat

Pemberian Antibiotik pada Demam


Tifoid
Sefalosporin generasi ketiga
Seftriakson 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc diberi
selama jam IV sekali sehari, 3-5 hari.

Fluorokuinolon
Norfloksasin, 2 x 400 mg/hari selama 14 hari.
Siprofloksasin, 2 x 500 mg/hari selama 6 hari (DOC
pada Dewasa)
Ofloksasin, 2 x 400 mg/hari selama 7 hari.
Pefloksasin, 400 mg/hari selama 7 hari
Fleroksasin, 400 mg selama 7 hari.

Kehamilan: Gunakan
amoxicillin/ampicillin/cefalosporin generasi 3

Pemberian Antibiotik pada Demam


Tifoid
Kloramfenikol (DOC pada Anak)
KI: hamil trimester 3 (Grey Baby Syndrome)
Kloramfenikol 4x500 mg, PO atau IV, ~7 hari bebas
panas.

Tiamfenikol
komplikasi hematologi lebih rendah daripada
kloramfenikol
Tiamfenikol 4 x 500mg

Kotrimoksazol 2 x 2 tablet, selama 2 minggu.


Ampisilin dan amoksisilin, kurang efektif dibanding
kloramfenikol, 50-150 mg/kgBB, selama 2 minggu.

UKDI MANTAP

HIV Phases
Window Period
Waktu dari infeksi primer sampai terbentuknya (terdeteksinya)
antibodi (<3 bulan paska pajanan).

Acute Phase
Flu-like syndrome (2-4 minggu paska pajanan)

Chronic Phase / Latent Phase


Virus hidup dan bereplikasi secara lambat. Tidak ada gejala

AIDS
CD4 <200 cells/mm3

UKDI MANTAP

UKDI MANTAP

Opportunistic Infection:
Mucocutaneous Manifestation

Oral Candidiasis
Tx Oral Candidiasis:
Gentian violet 1% (dibuat segar/baru) atau larutan nistatin 100.000 200.000 IU/ml
yang dioleskan 2 3 kali sehari selama 3 hari

UKDI MANTAP

Opportunistic Infection ~ CD4 Level

Infeksi HIV / AIDS

Interim WHO Clinical Staging of HIV/AIDS and HIV/AIDS Case Definitions for Surveillance (WHO 2005)

Infeksi HIV / AIDS

Interim WHO Clinical Staging of HIV/AIDS and HIV/AIDS Case Definitions for Surveillance (WHO 2005)

Interim WHO Clinical Staging of HIV/AIDS and HIV/AIDS Case Definitions for Surveillance (WHO 2005)

Konseling dan Tes HIV


Konseling
2 macam pendekatan untuk tes HIV
Konseling dan tes HIV sukarela (Voluntary Counseling &
Testing / VCT)
Tes HIV dan konseling atas inisiatif petugas kesehatan
(Provider-Initiated Testing and Counseling / PITC)
PITC kebijakan pemerintah di layanan kesehatan
Tes HIV dianjurkan pada ibu hamil, pasien TB, pasien yang
menunjukkan tanda dan gejala klinis HIV, pasien dari
kelompok berisiko
Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis dan Infeksi HIV dan Terapi Anti Retroviral Pada Orang Dewasa
(Kemenkes, 2011)

UKDI MANTAP

Pemeriksaan Penunjang HIV


Deteksi antibodi HIV

Contoh: Rapid Test, ELISA, Western Blot


Pilihan utama (rekomendasi WHO) untuk screening = Rapid Test

Viral Load
Deteksi viral replication rate, contoh: PCR
Bisa dipakai untuk skrining newborn

CD4
Untuk menentukan dimulainya terapi (CD4<350)

Kultur virus
Mahal, lama
Sulit terdeteksi untuk yang viral load rendah

Tes Antibodi HIV


Tes Antibodi HIV

3 strategi (3 pemeriksaan)
Didahului dengan konseling pra-tes dan informasi
Reagen tes cepat atau ELISA
Pemeriksaan pertama (A1) harus menggunakan tes
dengan sensitivitas tinggi (> 99 %). Umumnya
menggunakan ELISA atau EIA untuk mendeteksi
antibodi terhadap antigen HIV-1 dan HIV-2, dan/atau
antigen p-24 HIV
Pemeriksaan selanjutnya (A2 dan A3) menggunakan
tes dengan spesifisitas tinggi (> 99 %)
Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis dan Infeksi HIV dan Terapi Anti Retroviral Pada Orang Dewasa
(Kemenkes, 2011)

Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis dan Infeksi HIV dan Terapi Anti Retroviral Pada Orang Dewasa
(Kemenkes, 2011)

Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis dan Infeksi HIV dan Terapi Anti Retroviral Pada Orang Dewasa
(Kemenkes, 2011)

Terapi ARV

* Pada pasien HIV denga ko-infeksi TB, mulai terapi ARV sesegera mungkin setelah terapi TB
dapat ditoleransi (dalam 2-8 minggu pertama setelah memulai terapi OAT untuk TB)
Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis dan Infeksi HIV dan Terapi Anti Retroviral Pada Orang Dewasa
(Kemenkes, 2011)

Anjuran ARV Lini Pertama

NRTI (Nucleoside Reverse Transcriptase


Inhibitor
AZT = Zidovudine
3TC = Lamivudine
TDF = Tenofovir

NNRTI (Non-Nucleoside Reverse


Transcriptase Inhibitor
EFV = Efavirenz
NVP = Nevirapine

Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis dan Infeksi HIV dan Terapi Anti Retroviral Pada Orang Dewasa
(Kemenkes, 2011)

Disentri Basiler vs Amoeba


Disentri basiler LYING DOWN

Disentri amoeba WALKING

Kausa: Shigella dysenteriae


Mendadak, 6-24 jam pertama bisa
tanpa darah
Setelah 12-72 jam darah dan lendir
(+)
Panas tinggi (39,5 - 40,0 C), kelihatan
toksik.
Muntah-muntah
Anoreksia
Sakit kram di perut dan sakit di anus
saat BAB.
Kadang-kadang disertai dengan gejala
menyerupai ensefalitis dan sepsis
(kejang, sakit kepala, letargi, kaku
kuduk, halusinasi)
Antibiotik = Ciprofloxacin 2x500 mg
(5 hari), Cotrimoxazeole ( 2x960 mg,
5-7 hari)

Kausa : Entamoeba hystolitica


Diare disertai darah dan lendir dalam
tinja.
Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit
daripada disentri basiler (10x/hari)
Sakit perut hebat (kolik)
Gejala konstitusional (-) demam
hanya ditemukan pada 1/3 kasus)
Antiparasit = Metronidazole 3x500750 mg, 5-10 hari)

UKDI MANTAP

PARASITOLOGY

PROTOZOA
HELMINTH

UKDI MANTAP

Entamoeba histolytica

Cyst of Entamoeba histolytica, 5-20


in size. Chromatoid bodies are
often present with thick rodlike
masses. The number of nuclei

is 1-4.

Metronidazole 3x500750 mg, 5-10 hari)


Amebiasis. Trophozoite of Entamoeba
histolytica +RBC

UKDI MANTAP

Giardia lamblia

Cyst of Giardia lamblia showing ellipsoidal


shape with 2 nuclei and curved axoneme
(Iodine stain, 1000x)

Steatorrhea (diare
berlemak berminyak)

Trophozoite of Giardia lamblia showing pear-shaped


with 2 nuclei and 2 axoneme (I-H stain, 1000x). B.
Trophozoite of Giardia lamblia showing 2 nuclei,
axoneme and flagella (Giemsa stain, 1000x).

Metronidazole 3x250 mg,


5 hari)

UKDI MANTAP

Balantidium coli

Makro dan mikronukleus


Habitat: colon ascendens
Diare = watery, bloody, mucoid

UKDI MANTAP

Helminths
Trematoda

HELMINTH

Nematoda

Cestoda

UKDI MANTAP

Trematoda

Semua telur beroperkulum, kecuali schistosoma mansoni/haematobium


Telur besar beroperculum fasciola hepatica / fasciolopsis buski

UKDI MANTAP

Schistosoma /
Billharziasis

Blood flukes
Triple S:
Schistosoma
Spina
terminalis
Serkaria

UKDI MANTAP

Fasciolopsis buski
Intestinal flukes
Oper-Bus
jalur 12:
Operculum
F. Buski
B12
Duodenum
Metaserkaria

UKDI MANTAP

Nematoda

Prutitus ani
Bentuk
huruf D
(ingat
dubur)
Scotch tape
test

3 T:
Trichuris
Tempayan
(bentuk)
Turun
(prolapsus
recti)

Telur bulat-oval
dinding berlapis
Keluar cacing
Obstruktif
(Ileus)
Loeffler
syndrome
(sesak nafas)

Ancylostoma
duodenale &
Necator
americanus
Segmented ovum
Anemia
Harada mori test

Enterobius vermicularis / Oxyuris


vermicularis Life Cycle

Ascaris lumbricoides - Life Cycle

Hookworm - Life Cycle

UKDI MANTAP

Cestoda

Nana masak baso pake sasa bikin ngeces


Hymenolepis Nana
Babi T. Solium
Sapi T. Saginata
Cestoda

UKDI MANTAP

Cestoda: proglottid & scolex

UKDI MANTAP

Hymenolepis nana

Telur bulat, 6 kait &


filamen polar
Telur = infektif &
diagnostik

Taenia

UKDI MANTAP

Taenia

T. SAGINATA

Rostellum (+)

Rostellum (-)

Scolex

Segmen gravid
5-10 cabang
uterus

Segmen gravid
15-30 cabang
uterus

Proglottid

Proglottid

vs

Scolex

T. SOLIUM

UKDI MANTAP

UKDI MANTAP

Neurosistiserkosis

Trematoda
Praziquantel (10 mg/kg, dosis tunggal)
Kecuali pada Fascioliasis, yaitu memakai Bithionol

Nematoda
Enterobius

Pyrantel pamoate
(10 mg/kg, maks 1 g,
single dose)

Mebendazole
(500 mg, single dose)

Albendazole
(400 mg, single dose)

Trichuris

Mebendazole
(2x100 mg, 3 hari atau 600
mg, single dose)

Albendazole
(400 mg, single dose)

Ascaris

Albendazole
(400 mg, single dose)

Mebendazole
(2x100 mg, 3 hari)

Pyrantel pamoate
(hamil)
(10 mg/kg, maks 1 g,
single dose)

Ancylostoma

Albendazole
(400 mg, single dose)

Mebendazole
(2x100 mg, 3 hari)

Pyrantel pamoate
(10 mg/kg, maks 1 g,
single dose)

Cestoda
Albendazole (2x400 mg, 8-30 hari): DOC for potentially fatal cestode
infections (cysticercosisT solium)
Praziquantel (10 mg/kg, dosis tunggal) : DOC for hymenolepiasis

Mekanisme Antihelmintes
Albendazole
Menghambat transport glukosa pada cacing
Menghambat sintesis protein dan energi sehingga
menghambat sintesa ATP.
Mebendazole
Menghambat kerusakan struktur subselular
Menghambat sekresi asetilkolin-esterase, dan
menghambat ambilan glukosa secara irreversible
sehingga terjadi deplesi glukosa pada cacing.

Mekanisme Antihelmintes
Pyrantel Pamoate
Mendepolarisasi otot-otot cacing, memparalisis
cacing, menghambat frekuensi impuls sehingga cacing
mati dalam keadaan spatis, menghambat enzim kolin
esterase.
Piperazine
Blokade respon cacing terhadap asetilkolin
(neuromuscular block leading ), cacing mengalami
paralisis, sehingga mudah dikeluarkan oleh peristaltik
usus.

Filariasis
Agent: Wuchereria bancrofti,
Brugia malayi, Brugia timori
Vector: culex, anopheles, etc
Acute (limfadenitis, limfangitis, fever)
Chronic (elephantiasis): obstruction
of lymphatic vessels by adult worms

UKDI MANTAP

UKDI MANTAP

Wuchereria bancrofti

Edema skrotum

Chyluria

Elephantiasis

UKDI MANTAP

UKDI MANTAP

Filariasis
Diagnostik
Mikrofilaria dalam darah pada
malam hari (22.00-02.00)
Giemsa stain (MDT)

Terapi
Dietilcarbamazin (DEC) 3 x 6 mg/kgBB per hari (12 hari)
DEC tidak diindikasikan pada elephantiasis atau limfedema karena
pasien dengan kondisi tersebut biasanya sudah tidak terinfeksi
secara aktif

Profilaksis
DEC 6 mg/kgBB + Albendazol 400mg per tahun (5 tahun)

UKDI MANTAP

TETANUS
Clostridium
tetani (basil
Gram (+)
anaerob
berspora)
Toksin
tetanolisin,
tetanospasmin

Port d entree
Luka tusuk
dalam, luka
bakar, kotor
Otitis
media,
karies gigi,
luka kronik.
Pemotonga
n tali pusat
tidak steril

Risus
sardonicus

Lock jaw
Opistotonus
Spasme larynx
& otot nafas

UKDI MANTAP

Tetanus
Derajat I (tetanus ringan)

Trismus ringan sampai sedang


Kekakuan umum: kaku kuduk, opistotonus, perut papan
Tidak dijumpai disfagia atau ringan
Tidak dijumpai kejang
Tidak dijumpai gangguan respirasi

Derajat II (tetanus sedang)

Trismus sedang
Kekakuan jelas
Dijumpai kejang rangsang, tidak ada kejang spontan
Takipneu
Disfagia ringan

UKDI MANTAP

Tetanus
Derajat III (tetanus berat)

Trismus berat
Otot spastis, kejang spontan
Takipne, takikardia
Serangan apne (apneic spell)
Disfagia berat
Aktivitas sistem autonom meningkat

Derajat IV (stadium terminal), derajat III ditambah:

Gangguan autonom berat


Hipertensi berat dan takikardi, atau
Hipotensi dan bradikardi
Hipertensi berat atau hipotensi berat

Tatalaksana umum

Perawatan di ruang isolasi (gelap dan tenang)


Hindari stimulus taktil atau suara pada pasien
Pembersihan dan debridemen luka kotor
Diet TKTP, bila perlu lewat NGT
Support airway, breathing

Imunoterapi
Human tetanus immunoglobulin (TIG) 3000 5000 U (IM) single
dose dengan beberapa dosis diinfiltrasikan di sekitar luka atau
Anti Tetanus Serum (ATS) 50.000 U (IM) diikuti dengan 50.000 U
(infus IV lambat) skin test terlebih dahulu

Antibiotik
Metronidazole 500 mg / 6 jam (PO atau IV) selama 10 hari atau
Penicillin prokain 1,2 juta U / 6 jam (IM atau IV) selama 10 hari atau
Tetrasiklin 30-50 mg/kg/hari dibagi 4 dosis selama 10 hari atau
eritromisin 50 mg/kg/hari dibagi 4 dosis selama 10 hari
Current Recommendations for Treatment of Tetanus During Humanitarian Emergencies (WHO, 2010)
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (IDI, 2013)

Kontrol spasm otot dan kejang


Benzodiazepine : diazepam 5 mg (IV) atau lorazepam 2 mg
(IV), dinaikkan bertahap hingga mencapai kontrol spasm
tanpa menyebabkan distres respirasi
Bila pasien kejang, berikan diazepam 0,5 mg/kg/kali (IV
bolus lambat) dengan dosis optimum 10 mg/kali tiap kejang.
Kemudian diiikuti diazepam per oral 0,5 mg/kg/kali tiap 4
jam (dosis maks 240 mg/hari)

Imunisasi Tetanus
Tetanus tidak menginduksi imunitas
Pada pasien yang belum pernah diimunisasi Tetanus Toksoid
(TT), pemberian TT yang pertama dilakukan bersamaan
dengan antitoksin namun dengan spuit yang berbeda dan
sisi penyuntikan yang berbeda. Dosis 0,5 mL TT (IM)
Dosis kedua TT = 1-2 bulan setelah dosis pertama. Dosis
ketiga 6-12 bulan setelah dosis kedua
Current Recommendations for Treatment of Tetanus During Humanitarian Emergencies (WHO, 2010)
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (IDI, 2013)

UKDI MANTAP

Pencegahan Tetanus pada Luka


Riwayat
Imunisasi
sebelumnya

Luka Kecil & Bersih

Luka Lainnya

TD

TIG

TD

TIG

Tidak Tahu/<3
Dosis

YA

Tidak

YA

YA

3 Dosis

Tidak,
Kecuali > 10
tahun sejak
dosis terakhir

Tidak

Tidak, kecuali >


5 tahun sejak
dosis terakhir

Tidak

TIG: Tetanus Immunoglobulin 250 Unit IM (atau ATS 1500 Unit IM)
TD: Imunisasi aktif Tetanus Difteri (0,5 mL)

UKDI MANTAP
SIRS (Systemic Inflammatory Response Syndrome)

Sepsis
SIRS + infection

Severe Sepsis
Sepsis + hypoperfusion
Septic shock
Severe sepsis + refractory hypotension

UKDI MANTAP

TERIMA KASIH