Anda di halaman 1dari 24

SEMINAR GEOLOGI TIPE II

POTENSI GERAKAN TANAH DAERAH DESA SUMAMPIR DAN


SEKITARNYA
KECAMATAN REMBANG KABUPATEN PURBALINGGA
PROPINSI JAWA TENGAH
Dr.Ir. BAMBANG SUNARWAN,MT

Dipresentasikan kembali oleh:


DWI PUTRA HANDUNG PRAKOSA
NOMOR MAHASISWA : 410012272

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI
NASIONALYOGYAKARTA
TAHUN 2015

Latar Belakang
Daerah Desa Sumampir dan sekitarnya merupakan daerah rawan
bencana longsor, terutama di daerah Desa Gunung Wuled.
Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui keadaan dan kondisi
geologi serta potensi gerakan tanah yang memberikan informasi
daerah-daerah yang berpotensi gerakan tanah.

Maksud dan Tujuan


Maksud dari penelitian ini yakni untuk melakukan studi terkait
potensi gerakan tanah dengan analisis geologi pada daerah
sumampir dan sekitarnya.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui aspek geomorfologi,
tatanan stratigrafi, sturktur geologi, sejarah geologi, dan potensi
gerakan tanah daerah penelitian.

Lokasi Penelitian
Daerah penelitian dilakukan di daerah Desa Sumampir dan
sekitarnya, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa
Tengah. Secara geografis daerah penelitian terletak pada 109
30' 3BT - 109 34' 23 BT dan 07 16' 23 LS -07 20' 21 LS,
dengan luas daerah penelitian kurang lebih 7,3 km x 8 km atau
58 km2.

POTENSI GERAKAN
TANAH

Pengertian
Tinjauan Pustaka
Faktor-faktor

Metode Penelitian
Hasil Dan
Pembahasan
Kesimpulan

1.
2.
3.
4.
5.

Fisiografi
Geomorfologi
Stratigrafi
Struktur
Gerakan Tanah di lokasi
Penelitian

1. Analisis Peta Kemiringan


Lereng
2. Analisis Peta Satuan Batuan
3. Analisis Peta Buffering
Struktur Geologi
4. Analisis Peta Tutupan Lahan
5. Analisis Peta Kerapatan
Sungai
6. Analisis Peta Potensi Gerakan

Pengertian
Gerakan tanah adalah perpindahan masa tanah atau batuan akibat gaya
gravitasi, yang sering disebut sebagai longsoran dari masa tanah atau
batuan. suatu peristiwageologi yang terjadi karena pergerakan masa
batuanatautanahdengan berbagai tipe dan jenis seperti

Fisiograf

Gambar 2. Fisiografi Lokasi Penelitian (Van Bemmelen, 1949).


Kabupaten Purbalingga terletak pada fisiografi perbatasan antara
Zona Serayu Utara dan Zona Vulkanik Kwarter.

Geomorfologi

Daerah penelitian dibagi menjadi 4 (empat) satuan geomorfologi yaitu


1. Satuan Geomorfologi Perbukitan Patahan
dicirikan oleh bentuk morfologi perbukitan
landai hingga terjal, berupa punggungan yang
memanjang dari barat-timur, terdapat gawirgawir
yang
dikontrol
struktur
patahan.
Menempati 15 % luas daerah penelitian dan
pada peta geomorfologi satuan ini memiliki
kisaran kelerengan 7% 70% dan berada pada
ketinggian 350 m.dpl s/d 1000 m.dpl. Sungai
yang mengalir pada satuan ini memiliki pola
aliran rektangular, ditandai dengan pola kontur
yang rapat.
Bentuk morfologi perbukitan patahan Gn. Wuled, Gambar diambil dari
Desa Tanalum ke arah utara.

1. Satuan Geomorfologi Perbukitan Homoklin


menempati 40% luas daerah penelitian,
tersebar di Desa Sumampir, Desa Tanalum,
Desa Losari, Desa Makam dan Desa Bodas
Karangjati. Satuan geomorfologi ini dicirikan
dengan kisaran kelerengan 5%-15% dan dan
berada pada kisaran ketinggian 200 m.dpl s/d
500 m.dpl.
Morfologi
perbukitan
terbentuk
oleh
kemiringan lapisan batuan yang relatif searah,
kemiringan lapisan ke arah selatan dan pola
kontur pada satuan ini agak renggang hingga
rapat.
Bentuk morfologi perbukitan homoklin, Gambar diambil di daerah Desa
Sumampir ke arah utara daerah penelitian.

3. Satuan Geomorfologi Perbukitan Kaki Gunungapi

menempati 35% luas daerah penelitian, tersebar


di Desa Jembangan, Desa Karangbawang, Desa
Punggelan, Desa Bantarbarang, Desa Kecepit dan
Desa Karangsari. Satuan geomorfologi ini
dicirikan dengan kisaran kelerengan 3%-30% dan
dan berada pada kisaran ketinggian 350 m.dpl s/d
750 m.dpl. Morfologi perbukitan berupa
pegunungan yang memanjang dengan arah relatif
barat-timur dan pola kontur pada satuan ini agak
rapat hingga renggang.
Bentuk morfologi perbukitan kaki gunungapi, Gambar diambil di daerah Desa Losari ke
arah tenggara daerah penelitian.

4. Satuan Geomorfologi Dataran Aluvial

menempati 10% luas daerah penelitian, ini


dicirikan adanya dataran banjir dan endapan
rombakan yang terbawa aliran sungai dengan
ukuran mulai dari pasir halus sampai bongkah.
Terdiri dari bongkah batuan beku dan batuan
sedimen. Satuan ini berada pada ketinggian 200
m.dpl s/d 300 m.dpl.

Bentuk morfologi dataran alluvial, Gambar diambil di Sungai Gintung ke arah barat
daerah penelitian.

STRATIGRAFI

Tatanan batuan dari yang tertua hingga termuda adalah Satuan Batuan
Lava Andesit dan Breksi-Formasi Kumbang, berumur Pliosen Awal
diendapkan pada lingkungan laut dalam, dengan mekanisme turbidit
berada pada fasies kipas bawah laut Upper fan channel fill (Walker,
1978). Secara selaras di atas satuan ini di endapkan Satuan Batuan
Batulempung selang-seling Batupasir-Formasi Tapak berumur Pliosen
Tengah-Pliosen Akhir atau N20-N21 diendapkan pada lingkungan
neritic tepi-neritik tengah (5-100 meter). Dan secara tidak selaras di
atasnya di endapkan Satuan Batuan Breksi dan Andesit-Formasi
Ligung pada kala Pliosen Akhir-Pleistosen. Aluvial sungai yang terdiri
dari material lepas lempung hingga bongkah merupakan endapan
termuda yang ada didaerah penelitian

Kesebandingan stratigrafi daerah penelitian dengan peneliti sebelumnya

Struktur
Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah struktur
patahan, yaitu Sesar Naik Gunung Wuled (barat-timur). Dengan arah
gaya utama N150E relatif utara-selatan.

Cermin sesar pada lava andesit, di daerah Kali Panyutan.

Gerakan Tanah di lokasi Penelitian

Debris fall di daerah Desa Tanalum Debris slide di tepi Sungai


Puguhan

Rock fall di daerah Desa


Losari

Soil creep ,di daerah Desa Losari

Faktor-Faktor Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor eksternal
Curah hujan
Tutupan lahan
Getaran gempa
Aktifitas
manusia

Faktor internal :
Kondisi
geologi
Kelerengan
Hidrologi
Struktur
geologi

Metode Penelitian

Pembuatan peta-peta yang berkaitan dengan gerakan tanah


berisikan bobot dengan besaran yang berbeda-beda tergantung
pengaruhnya terhadap gerakan tanah.nilai bobot tersebut adalah
Peta kemiringan lereng dengan bobot 5, Peta satuan batuan
dengan bobot 5, Peta buffering struktur dengan bobot 3, Peta
tutupan lahan dengan bobot 4, Peta densitas sungai dengan
bobot 4.
Disamping pemberian bobot, pada peta tersebut diberikan skoring
sesuai dengan kecenderungan terhadap gerakan tanah. Skoring
tersebut adalah sangat rendah = 1, rendah = 2, sedang = 3, tinggi
= 4, sangat tinggi = 5. setelah pemerian skoring pada masingmasing peta, nilai skoring tersebut dikalikan nilai bobot peta maka
dihasilkan nilai NKB (nilai kali bobot). Nilai ini yang nantinya
menjadi acuan untuk pembuatan Peta Potensi Gerakan Tanah.

nalisis Peta Kemiringan Lereng

Informasi kelas lereng yang dipakai untuk potensi gerakan tanah


memakai klasifikasi lereng yang dibuat olehVan Zuidam (1985).
Pemerian bobot 5 (lima) pada kemiringan lereng ini dikarenakan
kelerengan sangat berpengaruh terhadap gerakan tanah akibat dari
gaya gravitasi yang membuat masa tanah dan batuan bergerak
cenderung ke arah vertikal. Namun dibeberapa tempat terdapat
longsoran yang terjadi pada daerah yang landai, hal tersebut dapat
terjadi dikarenakan faktor lain disamping kemiringan lereng.

Nilai kemiringan lereng

Analisis Peta Satuan Batuan


Informasi satuan batuan menunjukkan kondisi kekuatan batuan saat
menerima tekanan/beban. Semakin kuat batuan tersebut menerima
beban dan tekanan maka daerah tersebut dapat lebih stabil terhadap
gerakan tanah. Pemerian bobot 5 pada satuan batuan ini dikarenakan
satuan batuan adalah aspek penting pada gerakan tanah, dimana
karakter batuan menjadi pengendali dalam gerakan tanah.

Nilai satuan batuan

alisis Peta Buffering Struktur Geologi


Struktur geologi merupakan pencerminan seberapa besar suatu wilayah
mengalami perubahan/periode tektonik. Pemerian bobot 3 (tiga) pada
struktur karena semakin rumit struktur geologi yang berkembang di
suatu wilayah, maka wilayah tersebut cenderung menjadi wilayah yang
tidak stabil. Pengkajian potensi gerakan tanah menggunakan satuan
jarak terhadap zona sesar untuk penentuan kestabilan.

Nilai buffering struktur geologi

Analisis Peta Tutupan Lahan


Tutupan lahan daerah penelitian berupa persawahan, ladang, semak
atau belukar, perkebunan dan pemukiman. Daerah dengan tutupan
lahan berupa semak atau belukar dan perkebunan akan relatif stabil
jika dibandingkan dengan persawahan, ladang dan pemukiman.
Pemerian bobot 4 (empat) pada tutupan lahan didasarkan pada
pengaruh tutupan lahan terhadap gerakan tanah sebagai pengontrol
rembesan air, pelapukan dan penguat lereng.

Nilai tutupan lahan

Analisis Peta Kerapatan Sungai

Nilai kerapatan sungai daerah penelitian berada pada kerapatan


sungai rendah (<0,25 km/km2) dan kerapatan sungai sedang (0,2510 km/km2).

Nilai kerapatan sungai

alisis Peta Potensi Gerakan Tanah


Peta potensi gerakan tanah merupakan hasil akhir dari overlay peta-peta
sebelumnya yang mencangkup seluruh nilai yang ada pada peta-peta
tersebut. Pembagian area pada peta ini didasarkan atas nilai NKB, berikut
perhitungannya
: potensi rendah
1. Daerah dengan
a. Sudut lereng 2%-7% (NKB 10)
b. Satuan Endapan Aluvial (NKB 5)
c. Buffering struktur geologi 600 meter-1000 meter (NKB 6)
d. Tutupan lahan ladang (NKB 8)
e. Densitas sungai rendah (NKB 8) Total NKB adalah 37,
Dengan demikian area pada peta potensi gerakan tanah dengan nilai
kurang dari 37 masuk dalam kategori potensial rendah.
2. Daerah dengan potensi sedang
a. Sudut lereng 7%-15% (NKB 15)
b. Satuan Batuan Breksi dan Andesit (NKB 10)
c. Buffering struktur geologi 300 meter-600 meter (NKB 9)
d. Tutupan lahan pemukiman dengan NKB 12
e. Densitas sungai sedang dengan NKB 12.
Total NKB adalah 58 dengan demikian area pada peta potensi
gerakan tanah dengan nilai kurang dari 58 dan lebih dari 34masuk
dalam kategori potensial sedang.

3. Daerah dengan potensi tinggi


a. Sudut lereng 30%-70% (NKB 25)
b. Satuan Batuan Batulempung selang-seling Batupasir (NKB 20)
c. Buffering struktur geologi 100 m (NKB 15)
d. Tutupan lahan sawah (NKB 16)
e. Densitas sungai sedang (NKB 12)
Total NKB adalah 88, dengan demikian area pada peta potensi
gerakan tanah dengan nilai kurang dari 88 dan lebih dari 58 masuk
dalam kategori potensial tinggi. Berdasarkan bukti di lapangan
dengan jumlah longsoran 17 titik, 75% yaitu 12 titik longsor berada
pada area potensi tinggi, dan 25% yaitu 5 titik longsor berada di
area potensi sedang.

Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan di lapangan, gerakan tanah yang
terjadi di daerah penelitian berupa : jatuhan rombakan (debris
fall), luncuran rombakan (debris slide), jatuhan batuan (rock
fall), dan nendatan (soil creep). Berdasarkan total NKB, daerah
penelitian dibagi menjadi 3 daerah, yaitu potensi gerakan tanah
rendah (NKB 37), potensi gerakan tanah sedang (NKB 58) dan
potensi gerakan tanah tinggi (NKB 88). Secara umum daerah
penelitian terletak pada daerah yang berpotensi gerakan tanah
rendah-tinggi.