Anda di halaman 1dari 32

Mohammad Zain (2005 : 43)

mendefinisikan bahwa :
proses mengorganisasi usaha Wajib
Pajak atau kelompok Wajib Pajak
sedemikian rupa sehingga utang
pajaknya, baik wajib pajak
penghasilan maupun pajak-pajak
lainnya, berada dalam posisi yang
paling minimal sepanjang hal ini
dimungkinkan oleh ketentuan
perundang-undangan perpajakan
maupun secara komersial.

Penghindaran
Pajak Secara
Yuridis
Perbuatan dengan cara sedemikian rupa sehingga
perbuatan-perbuatan yang dilakukan tidak
terkena pajak.
Biasanya dilakukan dengan memanfaatkan
kekosongan atau ketidak jelasan undang-undang

Penyelundupan Pajak

Teknik Dasar Manajemen Pajak

Aspek-aspek dalam Tax Planning

Beberapa Contoh
Keputusan Manajemen

Uraian

Uraian

Penghasilan
Biaya
(komersial
termasuk biaya
natura
dan
kenikmatan)

Penghasilan
Biaya
(komersial termasuk
Penghasilan
sebelum
pajak
biaya natura
dan
Pajak
kenikmatan)penghasilan
(Badan)
Penghasilan
Penghasilan
sebelum pajak
setelah pajak
Koreksi PPh
Pajak penghasilan
Koreksi Biaya
(Badan)
Penghasilan
Penghasilan setelah
setelah Pajak
setelah koreksi
pajak
fiskal
Koreksi PPh
Koreksi Biaya
Penghasilan setelah
Pajak setelah

Exhibit 3-1
Perhitunga
Perhitung
n Komersial
(Rp)
an
Komersial
1.000.000.0
00,00
(Rp)
800.000.000
1.000.000.
,00
000,00
200.000.000
,00
42.500.000,
00

800.000.0
00,00
200.000.0
157.500.000
00,00
,00
90.000.000,
42.500.00
00
0,00
67.500.000,
157.500.0
00
00,00
90.000.00
0,00
67.500.00
0,00

Perhitu
ngan
Fiskal
(Rp)

Koreks
Perhitun
i Fiskal
gan (Rp)
Fiskal
1.000.00
0.000,00
300.00
(Rp) 0.000,0
500.000.
1.000.00 0
000,00
0.000,00
500.000.
000,00
132.500.
000,00

300.00
0.000,0
0
90.000.
000,00

500.000.
000,00
500.000.
367.500.
000,00 000,00
300.000.
132.500.
000,00
000,00
67.500.0
367.500.
00,00
000,00
300.000.
000,00
67.500.0
00,00

Koreksi
Fiskal
(Rp)
300.000.
000,00

300.000.
000,00
90.000.0
00,00

Exhibit 3-2
Penghasilan Kena Pajak s/d Rp 50.000.000
PSP = PK (0,10 X PKP)
Penghasilan Kena Pajak di atas Rp 50.000.000 s/d Rp
100.000.000
PSP = PK - {(0,15 X PKP 50.000.000) + 5.000.000}
Penghasilan Kena Pajak di atas Rp 100.000.000,00
PSP + PK - {(0,3 X PKP 100.000.000) + 12.500.000}

Catatan :
PSP = Penghasilan Setelah
Pajak
PK = Penghasilan cfm

Apabila rumus tersebut di atas,


diterapkan dengan perhitungan
ilustrasi, maka akan diperoleh

PSP = 200.000.000 - {(0,3 X (500.000.000


100.000.000) + 125.000.000} = 67.500.000

Misalkan Perusahaan ABU dan NIDAL sama-sama


mempertimbangkan untuk menaikkan gaji para
karyawannya yang berjumlah keseluruhannya Rp
25.000.000. Bagi Perusahaan ABU dan NIDAL
biaya langsung atau biaya sebelum pajak (pre-tax
cost) adalah semua besarnya yaitu masingmasing Rp 25.000.000 yang dapat di-kurangkan
dari penghasilannya, akan tetapi biaya setelah
pajaknya akan berbeda-beda tergantung kepada
tarif marjinalnya.
Apabila diasumsikan tarif marjinal perusahaan
ABU adalah 10%, sedang NIDAL menanggung
beban pajak atas dasar tarif marjinal 30%, maka
kenaikan beban pajak kedua perusahaan tersebut
tidak akan sama.

Exhibit 3-3
Uraian
Tarif Marjinal
Biaya sebelum pajak
(akibat kenaikan pajak)
Pajak yang dapat dihemat

ABU
(Rp)

NIDAL
(Rp)

10%
30%
25.000.000,0 25.000.000,
0
00
2.500.000,00 7.500.000,0
0

Biaya setelah pajak

22.500.000,0 17.500.000,
0
00

Pengaruh Pencatatan dan Sistem


Akuntansi dalam Manajemen dan
Perencanaan Pajak

Etika dalam Manajemen


Pajak

Contoh Kasus

1. Perencanaan Pajak Sederhana Dalam


Memilih Bentuk Badan Usaha

Penghasilan Rp 1.000.000.000,00
Gaji

Rp 150.000.000,00

Direktur
Laba Kena

Rp850.000.000,00

Pajak
PPh (25%)

Rp 212.500.000,00

Laba Stl

Rp 637.500.000,00

Pajak
A. Jika berbentuk PT. ABC.
Jika 50% dibagikan kepada pemegang saham
(perseorangan), maka terutang PPh Ps.23 sebesar =
15% x 50% x Rp 637.500.000,00 = Rp 47.812.500,00

PPh 21 atas Gaji Direktur:

Total Beban Pajak Bentuk PT:

Rp

Rp

150.000.000,0

212.500.000,

Gaji Direktur

0
Rp

PPh Badan
PPh Ps. 23

00
Rp

Pengurangan
Penghasilan

25.800.000,00
Rp

Deviden

47.812.500,00
Rp

Kena Pajak

124.200.000,00
Rp

PPh Ps. 21
Jumlah Beban

9.920.000,00
Rp

PPh (5%,10%)

9.920.000,00

PPh

270.232.500,00

Rasio =

270.232.500.00
1.000.000.000,00

X 100%

=27,02%

Jika berbentuk CV
Laba Stl Pajak ini dibagi kepada pengurus CV.ABC, maka bagian
masingmasing pengurus bukan lagi objek pajak sehingga beban
pajak hanya 25%.

Penghasilan

Rp 1.000.000.000,00

Gaji Direktur

Rp

0,00

Laba Kena Pajak Rp 1.000.000.000,00


PPh (25%)

Rp

Laba Stl Pajak

Rp

250.000.000,00
750.000.000,00

Maka Total Beban Pajak Bentuk PT dibanding CV :

PPh Badan
PPh CV
Penghematan

27,02%
25,00%
2,02%

Perencanaan Pajak Sederhana Dalam Pajak


Penghasilan (PPh 21)
Dwiyanto (K/3), karyawan memperoleh gaji setahun Rp 60 jt, iuran pensiun
1% dari gaji, iuran THT 1,5% dari gaji. Alterna Perencanaan sebagai berikut :
1. Pajak Ditanggung Perusahaan, atau
2. Diberi Tunjangan Pajak
Pajak ditanggung Perusahaan
Gaji setahun
Pengurang :
Biaya jabatan (5%)
Iuran Pensiun (1%)
Iuran THTn (1,5%)
Penghasilan Netto
setahun
PTKP K/3
PKP
PPh Ps 21 (5%) Setahun
PPh Ps 25 (25%) Setahun
yang muncul karena pajak
ditanggung tidak
dianggap biaya/pengurang
fiskal
Total Pengeluaran
Perusahaan (Gaji+PPh

Rp
Rp
Rp
Rp

3,000,000.00
600,000.00
900,000.00

60,000,000.00

Rp

4,500,000.00

Rp

55,500,000.00

Rp (32,400,000.00)
Rp 23,100,000.00
Rp

Rp

Rp

1,155,000.00

288,750.00

61,443,750.00

Diberi Tunjangan Pajak


Gaji sebulan
Tunjangan Pajak
Penghasilan Bruto
Setahun
Pengurang :
Biaya jabatan (5%)
Iuran Pensiun (1%)
Iuran THTn (1,5%)
Penghasilan Neto
setahun
PTKP K/3
PKP

Rp
Rp

Rp 3,000,000.00
Rp
600,000.00
Rp
900,000.00

60,000,000.00
1,155,000.00

Rp

61,155,000.00

Rp

4,500,000.00

Rp
Rp

56,655,000.00
Rp (32,400,000.00)
24,255,000.00

PPh Ps 21 (5%)
Setahun

Rp

1,212,750.00

Total Pengeluaran
Perusahaan

Rp

61,212,750.00

Penghematan
yang
dapat
dilakukan
oleh
perusahaan
Sehingga apabila perusahaan memberikan tunjangan pajak
perusahaan dapat melakukan penghematan pajak sebesar
Rp. 231.000,/ satu orang karyawan.

2. Manajemen Pajak
Contoh Manajemen Pajak :
Suatu perusahaan melakukan penjualan dengan orientasi
ekspor. Sedangkan, bahan baku banyak dibeli di dalam negeri.
Dengan demikian, maka PPN masukan yang diperoleh lebih besar
daripada PPN keluaran, akibatnya harus dilakukan restitusi,
mungkin tiap tahun atau tiap bulan harus dilakukan proses
tersebut. Divisi perpajakan harus melakukan suatu proses Tax
Management berupa me-manage restitusi pajak yang berjalan.
Misalnya : me-mantain suatu rekonsiliasi pajak antara Penjualan
menurut PPh badan dan menurut SPM PPN, merapikan faktur
pajak masukan, serta bank account
ataupun voucher
pembayaran yang diperlukan. Kita bisa bayangkan jika hal ini
tidak ter- manage dengan baik, restitusi akan membawa denda
dan hutang pajak yang materiil tentunya.