Anda di halaman 1dari 4

UNIVERSITAS SAM RATULANGI

FAKULTAS TEKNIK

2016
TUGAS 1
MENEJEMEN
TRANSPORTASI
Cari perbedaan antara Intersection
(persipangan),
Roundabout
(Bundaran) dan
Cari Perbedaan tanda STOP dan YIELD (give way)

Rambu prioritas (Give Way) atau rambu beri jalan merupakan rambu yang sering
digunakan di dalam pengaturan lalu lintas dari jalan minor ke jalan major. Rambu
ini dimanfaatkan untuk mengurangi konflik lalu lintas. Penggunaannya disarankan
bila jarak pandang dan ruang bebas samping sangat memenuhi. Penempatan
rambu pada persimpangan berfungsiuntuk mengatur pergerakan kendaraan dan
konflik lalu lintas (konflik berpotongan) pada lajur angkot dengan pergerakan
kendaraan dari jalan Gotot Subroto yang akan belok kanan masuk ke Jalan Gedung
Empat. Kemudian penempatan rambu prioritas lainnya digunakan untuk mengatur
pergerakan kendaraan dan konflik lalu lintas (konflik berpotongan dan konflik
merging) dari kendaraan yang masuk ke jalan Gedung Empat serta kendaraan yang
belok kanan ke Gedung Empat dari jalan GatotSubroto. Tata cara penempatan,
spesifikasinya mengikuti Keputusan Menteri Perhubungan No. 61 tahun 1993
tentang Rambu Jalan.
Rambu Tanda Berhenti
Rambu tanda berhenti (rambu
stop) sering dimanfaatkan untuk
mengatur pergerakan kendaraan
dari jalan minor ke jalan major.
Rambu ini sangat disarankan
terutama pada lokasi-lokasi
dengan jarak pandang serta ruang
bebas samping yang terbatas.
Pada persimpangan ini, rambu
STOP ditempatkan pada dua akses
ke Jalan Gedung Empat untuk
belok kanan dan belok kiri. Tata
cara penempatan, spesifikasinya
mengikuti Keputusan Menteri
Perhubungan No. 61 tahun 1993
tentang Rambu Jalan.

Mengenai konflik lalulintas


yang terjadi pada simpang empat bersinyal dengan rambu lalulintas dan
dengan lampu lalulintas dapat dilihat seperti gambar dibawah ini (MKJI., 1997).

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 1 Konflik Lalulintas pada Simpang Empat Lengan

Gambar 2 Konflik-konflik Utama dan Kedua pada Simpang Bersinyal


(Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia / 1997).
Menurut Hobbs F. D. (1995), arus lalulintas dari berbagai arah akan bertemu pada suatu titik
persimpangan, kondisi tersebut menyebabkan terjadinya konflik antara pengendara dari arah yang
berbeda. Konflik antar pengendara dibedakan menjadi dua titik konflik yang meliputi beberapa hal
sebagai berikut.
1. Konflik Primer, konflik antara lalu-lintas dari arah memotong
2. Konflik sekunder, konflik antara arus lalu-lintas kanan dan arus lalu-lintas arah lainnya atau
antara arus lalulintas belok kiri dengan pejalan kaki

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 2.3. Konflik primer dan sekunder pada persimpangan


(Sumber : Hobbs, 1995, Perencanaan dan Teknik Lalulintas).
Jumlah konflik yang terjadi setiap jamnya pada masing-masing pertemuan jalan dapat langsung
diketahui dengan cara mengukur volume aliran untuk seluruh gerakan kendaraan. Masing-masing
titik berkemungkinan menjadi tempat terjadinya kecelakaan dan tingkat keparahan kecelakaan
berkaitan dengan kecepatan relatif suatu kendaraan.
Pada persimpangan umumnya terdapat empat macam pola dasar pergerakan lalulintas kendaraan yang berpotensi
menimbulkan konflik (Underwood, 1991), yaitu: Merging (bergabung dengan jalan utama), Diverging (berpisah
arah dari jalan utama), Weaving (terjadi perpindahan jalur / jalinan), dan Crossing (terjadi perpotongan dengan
kendaraan dari jalan lain) sebagaimana terlihat pada Gambar 1.

Berbagai macam pola pergerakan tersebut akan saling berpotongan sehingga menimbulkan titik-titik konflik pada
suatu persimpangan. Sebagai contoh, pada persimpangan dengan empat lengan pendekat mempunyai 32 titik
konflik, yaitu 16 titik crossing, 8 titik merging, 8 titik diverging sebagaimana terlihat pada Gambar 2.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
Prinsip roundabout ini juga bisa diterapkan pada jaringan jalan yaitu dengan menerapkan larangan belok kanan
pada persimpangan. Dengan adanya larangan belok kanan di suatu persimpangan, maka konflik di persimpangan
dapat dikurangi. Untuk itu, sistem jaringan jalan harus mampu menampung kebutuhan pengendara yang hendak
belok kanan, yakni dengan melewatkan kendaraan melalui jalan alternatif yang pada akhirnya menuju pada arah
yang dikehendaki

MENEJEMEN TRANSPORTASI

Definisi dan Ciri Bundaran


Bundaran adalah suatu jenis pengaturan lalu lintas dipersimpangan (sebidang) tanpa menggunakan lampu lalu lintas
(walaupun pada prakteknya kadang juga dipasangi lampu lalu lintas) yang berbentuk bundaran dan kendaraan yang
melewatinya harus memutar dengan arah yang sama mengikuti bundarannya sebelum keluar pada lengan simpang
yang diinginkan. Bundaran biasanya ditinggikan sedikit dari lajur lalu lintas, namun adakalanya hanya ditandai
dengan cat pada permukaan perkerasan seperti pada mini-roundabout di Inggris.
Bundaran didesain untuk lalu lintas dengan kecepatan rendah dan konsisten. Jenis pengaturan lalu lintas dengan
bundaran ini sangat populer di Inggris dan diadopsi oleh banyak negara di dunia. Kunci utama keselamatan lalu
lintas dengan bundaran ini adalah dengan mengurangi jumlah titik konflik dan menurunkan derajatnya dari konflik
utama (pertemuan silang/crossing) menjadi konflik sekunder berupa kendaraan yang bergabung dan memisah
(weaving) seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Tipe titik konflik pada persimpangan biasa dan bundaran (Federal Highway Administration, 2000)
Traffic Circles
Lingkaran lalu lintas atau traffic circles yaitu dibangunnya pulau pada daerah persimpangan. Traffic circles
bertujuan untuk melancarkan lalu lintas, dan juga untuk mengatur kenyamanan berkendara bersama pada saat
berada di ruang lalu lintas jalan.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015