Anda di halaman 1dari 34

UNIVERSITAS SAM RATULANGI

FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN
TRANSPORTASI
Distribusi normal, disebut pula distribusi
Gauss, adalah
distribusi
probabilitas yang paling banyak digunakan dalam berbagai
analisis statistika. Distribusi normal baku adalah distribusi normal yang
memiliki rata-rata nol dan simpangan baku satu. Distribusi ini juga
dijuluki kurva lonceng (bell curve) karena grafik fungsi kepekatan
probabilitasnya mirip dengan bentuk lonceng.
Distribusi normal memodelkan fenomena kuantitatif pada ilmu
alam maupun ilmu sosial. Beragam skor pengujian psikologidan
fenomena fisika seperti jumlah foton dapat dihitung melalui pendekatan
dengan mengikuti distribusi normal. Distribusi normal banyak digunakan
dalam berbagai bidang statistika, misalnya distribusi sampling ratarata akan mendekati normal, meski distribusi populasi yang diambil tidak
berdistribusi normal. Distribusi normal juga banyak digunakan dalam
berbagai distribusi dalam statistika, dan kebanyakan pengujian
hipotesis mengasumsikan normalitas suatu data.

Distribusi normal merupakan suatu alat statistik yang sangat penting untuk
menaksir dan meramalkan peristiwa-peristiwa yang lebih luas. Distribusi
normal disebut juga dengan distribusi Gauss untuk menghormati Gauss
sebagai penemu persamaannya (1777-1855). Menurut pandangan ahli
statistik, distribusi variabel pada populasi mengikuti distribusi normal.
Karakteristik Kurva Distribusi Normal

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

1. Kurva berbentuk genta (m= Md= Mo)


2. Kurva berbentuk simetris
3. Kurva normal berbentuk asimptotis
4. Kurva mencapai puncak pada saat X= m
5. Luas daerah di bawah kurva adalah 1; di sisi kanan nilai tengah dan
di sisi kiri.

Jenis-Jenis Distribusi Probabilitas Normal

Distribusi kurva normal dengan m sama dan s berbeda

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Distribusi kurva normal dengan m berbeda dan s sama

Distribusi kurva normal dengan m dan s berbeda

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Fungsi Denitas Distribusi Normal


Fungsi densitas distribusi normal diperoleh dengan persamaan sebagai
berikut

dimana

= 3,1416

e = 2,7183

= rata-rata

= simpangan baku

Persamaan di atas bila dihitung dan diplot pada grafik akan terlihat seperti
pada Gambar 1 berikut.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
Gambar 1. kurva distribusi normal umum

MENEJEMEN TRANSPORTASI

Sifat-sifat penting distribusi normal adalah sebagai berikut:


1. Grafiknya selalu berada di atas sumbu x
2. Bentuknya simetris pada x =
3. Mempunyai satu buah modus, yaitu pada x =

4. Luas grafiknya sama dengan satu unit persegi, dengan rincian


o Kira-kira 68% luasnya berada di antara daerah dan +
o Kira-kira 95% luasnya berada di antara daerah 2 dan + 2
o Kira-kira 99% luasnya berada di antara daerah 3 dan + 3
Membuat kurva normal umum bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Lihat
saja rumus untuk mencari fungsi densitasnya (nilai pada sumbu Y) begitu
rumit. Oleh karena itu, orang tidak banyak menggunakannya.
Orang lebih banyak menggunakan DISTIBUSI NORMAL BAKU. Kurva
distribusi normal baku diperoleh dari distribusi normal umum dengan cara
transformasi nilai x menjadi nilai z, dengan formula sbb:

Kurva distribusi normal baku disajikan pada Gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Kurva distribusi normal baku


Kurva distribusi normal baku lebih sederhana dibanding kurva normal
umum. Pada kurva distribusi normal baku, nilai = 0 dan nilai =1,
sehingga terlihat lebih menyenangkan. Namun, sifat-sifatnya persis sama
dengan sifat-sifat distribusi normal umum.
Eko Putranto Kulo
Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
Untuk keperluan praktis, para ahli statistika telah menyusun Tabel distribusi
MENEJEMEN
TRANSPORTASI
normal baku dan tabel tersebut dapat
ditemukan hampir
di semua buku teks
Statistika. Tabel distribusi normal bakui disebut juga dengan Tabel Z dan
dapat digunakan untuk mencari peluang di bawah kurva normal secara
umum, asal saja nilai dan diketahui. Sebagai catatan nilai dan dapat
diganti masing-masing dengan nilai dan S.

Berikut adalah tabel distribusi normal standar, untuk P (X < x), atau dapat
diilustrasikan dengan luas kurva normal standar dari X = minus takhingga
sampai dengan X = x.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
Tabel Z
Contoh penggunaan tabel Z:
Hitung P (X<1,25)

MENEJEMEN TRANSPORTASI

Penyelesaian: Pada tabel, carilah angka 1,2 pada kolom paling kiri.
Selanjutnya, carilah angka 0,05 pada baris paling atas. Sel para pertemuan
kolom dan baris tersebut adalah 0,8944.

Dengan demikian, P (X<1,25) adalah 0,8944.

Contoh kasus menggunakan rumus Z


Rata-rata produktivitas padi di Aceh tahun 2009 adalah 6 ton per ha, dengan
simpangan baku (s) 0,9 ton. Jika luas sawah di Aceh 100.000 ha dan
produktivitas padi berdistribusi normal (data tentatif), tentukan
1. berapa luas sawah yang produktivitasnya lebih dari 8 ton ?
Jawab:
1. Hitung nilai z dari nilai x = 8 ton dengan rumus
2. Hitung luas di bawah kurva normal pada z = 2,22. Caranya buka Tabel Z
dan lihat sel pada perpotongan baris 2,20 dan kolom 0,02. Hasilnya
adalah angka 0,98679 dan bila dijadikan persen menjadi 98,679%.
Eko Putranto Kulo
Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
Angka ini menunjukkan bahwa luas di bawah kurva normal baku dari titik
MENEJEMEN
2,22 ke kiri kurva adalah sebesar
98,679%. KarenaTRANSPORTASI
luas seluruh di bawah
kurva normal adalah 100%, maka luas dari titik 2,22 ke kanan kurva
adalah 100% 98,679% = 1,321% (arsir warna hitam pada gambar).
Oleh karena itu, luas sawah yang produktivitasnya lebih dari 8 ton
adalah 1,321%, yaitu (1,321/100) x 100.000 ha = 1321 ha.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
Istilah dan definisi

MENEJEMEN TRANSPORTASI

1. Kereb
bagian dari jalan berupa struktur vertikal dengan bentuk tertentu yang
digunakan sebagai pelengkap jalan untuk memisahkan badan jalan dengan
fasilitas lain, seperti jalur pejalan kaki, median, separator, pulau jalan, maupun
tempat parkir
2. bentuk kereb
bentuk geometri dasar dari potongan melintang komponen vertikal kereb.
Bentuk dasar potongan melintang kereb pada komponen vertikal adalah
segitiga tegak lurus terpancung, sedangkan bentuk geometri dasar komponen
vertikal adalah persegi panjang
3. komponen vertikal
bagian kereb yang meninggi yang menentukan tingkat halangan kereb
terhadap kendaraan
4. komponen horizontal
bagian kereb yang berbatasan langsung dengan perkerasan, berupa bidang
datar yang merupakan kelanjutan dari muka kereb
5. muka kereb
bagian permukaan komponen vertikal kereb yang menghadap ke arah lalu
lintas
6. kereb tegak
kereb dengan bagian muka kereb yang hampir tegak, membentuk sudut 80,5
terhadap alas kereb
7. kereb miring
kereb dengan bagian muka kereb yang miring, membentuk sudut dengan
kemiringan sekitar 65o, terhadap lantai alas
8. kereb peninggi
kereb dengan tinggi komponen vertikalnya 200 mm, berfungsi sebagai kereb
yang dapat dinaiki ban kendaraan
9. kereb penghubung
kereb yang berfungsi menghubungkan kereb tegak atau kereb miring (yang
ketinggian komponen vertikalnya 350 mm) dengan kereb peninggi (yang
ketinggian komponen vertikalnya 200 mm)
Persyaratan

Umum
Kereb pada umumnya dipergunakan pada berbagai tipe jalan perkotaan untuk
kepentingan keselamatan dan pemanfaatan jalan. Konfigurasi kereb
bersangkutan dengan tipe, bentuk, dan dimensi kereb harus diatur secara
optimum, sehingga rangkaian kereb dapat berfungsi:
a. sebagai pembatas tepian badan jalan agar dapat memudahkan pengemudi
untuk mengidentifikasi jalur lalu lintas;
b. sebagai pembatas dan fasilitas pejalan kaki untuk melindungi agar perjalan
kaki tidak tertabrak oleh kendaraan yang mengalami lepas kendali;
c. sebagai bagian dari sistem drainase untuk mengalirkan air permukaan
sehingga perkerasan jalan terbebas dari genangan;
d. sebagai elemen estetika dari jalan sehingga harmonis dengan lingkungan
disekitarnya.
Komponen dan bagian-bagian penting dari kereb
Eko Putranto Kulo
Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
a. Kereb terdiri atas dua komponen dasar yang dapat menyatu atau berdiri
sendiri, yaitu komponen vertikal
dan komponen horizontal.
MENEJEMEN
TRANSPORTASI
b. Bagian-bagian dari kereb yang merupakan parameter penting dan banyak
diatur dalam standar ini terdiri atas:
alas;
dinding dalam;
muka;
penyambung, dan;
parit.
Komponen, bentuk dasar, dan bagian-bagian kereb adalah seperti Gambar
1.

Gambar 1 Komponen dan bagian-bagian kereb


Struktur dan pembetonan
Struktur kereb adalah sebagai berikut:
a. kereb dibuat dari beton dengan mutu fc=300 MPa (sebelumnya disebut
beton K300); ketentuan dan standar yang berlaku untuk perencanaan,
pemeriksaan, dan evaluasi beton dengan mutu fc=300 MPa berlaku untuk
spesifikasi ini;
b. ukuran butir agregat maksimum 20 mm;
c. kereb dibuat tanpa penulangan, seluruh ketentuan yang berlaku untuk
persyaratan struktur tanpa tulangan berlaku untuk spesifikasi ini;
d. kereb tidak boleh dicor di tempat, kecuali untuk kereb yang dipasang pada
suatu tepian jalan membentuk kurva dengan diameter 2000 mm.
Tipe kereb
Perbedaan tipe kereb didasarkan pada tinggi dan perbedaan tinggi dinding
dalam, kelandaian muka, tingkat halangan yang mungkin ditimbulkan oleh
komponen vertikal, dan ada tidaknya lubang masuk (inlet) untuk mengalirkan
air. Dari variasi parameter tersebut, kereb terdiri atas 4 tipe utama, yaitu:
a. kereb tegak;
b. kereb miring;
c. kereb penghubung, dan;
d. kereb peninggi.
Eko Putranto Kulo
Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Kereb tegak (tipe A1)


Kereb tipe ini terdiri dari dua jenis, yaitu kereb tegak dengan komponen horizontal
dan kereb
tegak tanpa komponen horizontal.

Kereb tegak dengan komponen horizontal (tipe A1h)


Kereb tegak berbentuk dasar segitiga tegak lurus terpancung. Bagian dalam
kereb adalah dinding tegak lurus, sedangkan muka kereb adalah dinding
dengan kemiringan 80,5o terhadap alas kereb. Bentuk dan dimensi kereb tipe
ini dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Kereb tegak dengan komponen horizontal (tipe A1h)

Kereb tegak tanpa komponen horizontal (A1nh)


Kereb tegak berbentuk dasar segitiga tegak lurus terpancung. Bagian dalam
kereb adalah dinding tegak lurus, sedangkan muka kereb adalah dinding

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
dengan kemiringan 80,5o hingga mencapai dasar kereb. Bentuk dan dimensi
kereb tipe ini dapat dilihat padaMENEJEMEN
Gambar 3.
TRANSPORTASI

Gambar 3 Kereb tegak tanpa komponen horizontal (Tipe A1nh)


Kereb tegak dengan bukaan (tipe A2)
Bentuk kereb tegak ini sama dengan kereb tipe A1, dimana pada bagian tengah
komponen horizontal diberi lubang dengan ukuran 300 mm memanjang dan 150
mm melintang yang difungsikan sebagai inlet parit menuju drainase. Bentuk dan
dimensi kereb tipe ini dapat dilihat pada Gambar 4.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 4 Kereb tegak dengan bukaan (tipe A2)


Kereb tegak tanpa komponen horizontal dengan bukaan (tipe A2nh)
Kereb ini memiliki bentuk permukaan yang sama dengan kereb tipe A1nh, dimana
pada
bagian bawah dari muka kereb memiliki lubang persegi panjang berukuran 300 mm
memanjang dan 150 mm melintang yang berfungsi sebagai inlet parit menuju
sistem
drainase. Bentuk dan dimensi kereb tipe ini dapat dilihat pada Gambar 5.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 5 Kereb tegak tanpa komponen horizontal dengan bukaan (tipe A2nh)
Kereb miring (tipe B1)
Kereb ini memiliki dinding dalam tegak lurus dan muka kereb relatif landai dengan
profil atas
lengkung memotong dinding dalam. Bentuk dan dimensi kereb tipe ini dapat dilihat
pada
Gambar 6.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 6 Kereb miring (tipe B1)


Kereb miring dengan bukaan (tipe B2)
Kereb ini memiliki bentuk permukaan yang sama dengan kereb tipe B2, hanya pada
bagian
tengah dari panjang kereb memiliki lubang persegi panjang berukuran 300 mm
memanjang
dan 150 mm melintang yang berfungsi sebagai inlet parit menuju sistem drainase.
Bentuk
dan dimensi kereb tipe ini dapat dilihat pada Gambar 7.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 7 Kereb miring dengan bukaan (tipe B2)


Kereb peninggi (tipe C)
Kereb ini berbentuk dasar persegi panjang terpancung. Dinding dalam tegak lurus
dan
dinding luar memotong dinding dalam tegak lurus; melandai; dan memotong alas
secara
tegak lurus. Bentuk dan dimensi kereb tipe ini dapat dilihat pada Gambar 8.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 8 Kereb peninggi (tipe C)


Kereb penghubung tegak (tipe D1)
Kereb ini memiliki bentuk dasar yang sama dengan kereb tipe A1 hanya sisi atas
dinding dalam menurun atau meninggi untuk memberikan kelandaian yang cukup
bagi pejalan kaki, kursi roda atau kendaraan tak bermotor lainnya. Kereb ini terdiri
atas empat tipe, yaitu:
a. tipe D11T adalah kereb tegak dengan sisi atas dinding dalam menurun.
Ketinggian bagian kiri dinding dalam kereb ini adalah 350 mm, sedangkan
bagian kanan dinding dalam 275 mm. Kereb ini dipergunakan untuk
menghubungkan kereb tipe A1 dengan kereb tipe D12T;

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 9 Kereb penghubung tegak menurun (tipe D11T)


b. tipe D12T adalah kereb tegak dengan ketinggian bagian kiri dinding dalam
275 mm, sedangkan bagian kanan dinding dalam 200 mm. Kereb ini
digunakan untuk menghubungkan kereb tipe D11T dengan kereb tipe C;

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 10 Kereb penghubung menurun (tipe D12T)


c. tipe D11N adalah kereb tegak dengan ketinggian bagian kiri dinding dalam
275 mm, sedangkan bagian kanan dinding dalam 350 mm. Kereb ini
digunakan untuk menghubungkan kereb tipe A1 dengan kereb tipe D12N;

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 11 Kereb penghubung tegak meninggi (tipe D11N)


d. tipe D12N adalah kereb tegak dengan ketinggian bagian kiri dinding dalam
200 mm, sedangkan bagian kanan dinding dalam 275 mm. Kereb ini
digunakan untuk menghubungkan kereb tipe D11N dengan kereb tipe C.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 12 Kereb penghubung tegak meninggi (tipe D12N)


Kereb penghubung miring (tipe D2)
kereb ini memiliki bentuk yang sama dengan tipe B1 hanya sisi atas dinding dalam
kereb
menurun atau menaik untuk memberikan kelandaian cukup bagi pejalan kaki, kursi
roda,
atau kendaraan tak bermotor lainnya. Kereb ini terdiri atas 4 tipe, yaitu:
tipe D21T, kereb yang menghubungkan kereb tipe B1 dengan kereb tipe D22T;
tipe D22T, kereb yang menghubungkan kereb tipe D21T dengan kereb tipe C2;
tipe D21N, kereb yang menghubungkan kereb tipe B1 dengan kereb tipe D22N;
tipe D22N, kereb yang menghubungkan kereb tipe D21N dengan kereb tipe C2;

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 13 Kereb penghubung miring menurun (tipe D21T)

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 14 Kereb penghubung miring menurun (tipe D22T)

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 15 Kereb penghubung miring naik (tipe D21N)

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 16 Kereb penghubung miring naik (tipe D22N)

Saringan bukaan
Bukaan pada kereb tegak tipe A2 dan kereb miring tipe B2 harus dilengkapi dengan
penutup berupa saringan dari bahan besi tuang (cast iron) untuk menghindarkan
terperosoknya kendaraan dan masuknya sampah ke dalam sistem drainase.
Saringan ini harus dilas pada kerangka bukaan yang ada atau diberi kunci untuk
menghindarkan hilang atau lepasnya saringan. Saringan harus cukup kuat untuk
menahan beban kendaraan dan dapat dipasang dengan rapih pada bukaan.
Saringan memiliki ketebalan sekurang-kurangnya 20 mm dengan ukuran lubang
25 mm.

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
MENEJEMEN TRANSPORTASI

Gambar 17 Bukaan pada kereb dan saringan bukaan

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
PERHITUNGAN T test

MENEJEMEN TRANSPORTASI

1. Pada sebuah ruas jalan dengan batas kecepatan 60 km/jam


diperkirakan rata rata kecepatan lalu lintas adalah 98% dari batas
kecepatan. Akan dibuktikan bahwa perkiraan ini adalah benar.
Berdasarkan sampel yang diambil dari 61 kendaraan acak diperoleh
data seperti di bawah ini
No

X^2

59

3481

60

3600

58

3364

59

3481

60

3600

58

3364

60

3600

59

3481

50

2500

10

60

3600

11

59

3481

12

50

2500

13

60

3600

14

59

3481

15

58

3364

16

50

2500

17

59

3481

18

60

3600

19

59

3481

20

60

3600

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

N
o
2
1
2
2
2
3
2
4
2
5
2
6
2
7
2
8
2
9
3
0
3
1
3
2
3
3
3
4
3
5
3
6
3
7
3
8
3
9
4
0

X^2

59

3481

50

2500

60

3600

60

3600

60

3600

60

3600

60

3600

50

2500

59

3481

60

3600

60

3600

60

3600

59

3481

60

3600

60

3600

60

3600

60

3600

60

3600

60

3600

60

3600

13021101015

N
o
4
1
4
2
4
3
4
4
4
5
4
6
4
7
4
8
4
9
5
0
5
1
5
2
5
3
5
4
5
5
5
6
5
7
5
8
5
9
6
0

X^2

50

2500

60

3600

60

3600

60

3600

59

3481

60

3600

60

3600

60

3600

60

3600

58

3364

60

3600

58

3364

50

2500

58

3364

60

3600

60

3600

58

3364

60

3600

60

3600

60

3600

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
6
1
60 TRANSPORTASI
3600
MENEJEMEN
20893
3565
9

Uji data di atas untuk 98% dari nilai batas kecepatan


PENYELESAIAN

s=

( x )
n
n1

( 3565 )
208939
61
s=
611

s=3,138602
x =

x
n

x =

3565
=58,44262
61

Rata-rata nilai ideal = 60 km/jam


98% dari rata-rata nilai ideal = 98% * 60

0=58,8 km/ jam

t hitung =

t hitung =

Untuk

x 0
s
n
58,4426258,8
=0,889314537
3,138602
61

=0,02

dan n = 61

Uji dua pihak :


Eko Putranto Kulo
Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016

df =n1=611=60
Di peroleh

t tabel =2 ,390

MENEJEMEN TRANSPORTASI

t hitung

<

t tabel

0,889314537

<

2,390

Ternyata

Kesimpulan
Jika thitung > ttabel : terima H0 tolak Ha (SALAH)
Jika thitung < ttabel : tolak H0 terima Ha (BENAR)
Ha : Rata rata kecepatan lalu lintas adalah 98% dari batas kecepatan
0 = 58,8 km/jam
H0 : Rata rata kecepatan lalu lintas tidak sama dengan 98% dari
batas kecepatan
0 58,8 km/jam

2. Di ketahui data pada tabel di bawah ini


Eko Putranto Kulo
Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
78
45
70
70
56
53

45
49
44
44
42
27

47
50
49
49
58
70

34
39
39
39
53
54

57
53
77
MENEJEMEN
69
45
55
48
54
60
48
54
70
76
45
56
66
51
53

49

59

59
44
42
27

60
49
58
70

TRANSPORTASI
45
54

Nilai ideal = 60 km/jam


Uji apakah ada perbedaan antara rata-rata nilai di atas dengan 60% dari nilai
ideal

PENYELESAIAN
X

s=

s=

2857

( x )
n
n1

x^2
15830
3

x 2

( 2857 )
54
541

158303

s=11,612
x =

x
n

x =

2857
=52,907
54

Rata-rata nilai ideal = 60 km/jam


60% dari rata-rata nilai ideal = 60% * 60
Eko Putranto Kulo
Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
0=36 km/ jam

t hitung =

t hitung =

Untuk

MENEJEMEN TRANSPORTASI

x 0
s
n
52,90736
=10,7
11,612
54
=0,4

dan n = 54

Uji dua pihak :

df =n1=541=53
Dengan metode interpolasi di dapat

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK

2016
Maka di peroleh,
Ternyata

t tabel =0,8489

MENEJEMEN TRANSPORTASI

t hitung

>

t tabel

10,7

>

0,84905

Kesimpulan
Jika thitung > ttabel : terima H0 tolak Ha (BENAR)
Jika thitung < ttabel : tolak H0 terima Ha (SALAH)
Ha : Rata rata kecepatan lalu lintas adalah 60% dari batas
kecepatan
0 = 36 km/jam
H0 : Rata rata kecepatan lalu lintas tidak sama dengan 60% dari
batas kecepatan
0 36 km/jam

Eko Putranto Kulo


Technical Civil Engineering

13021101015