Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pernapasan atau respirasi adalah pertukaran gas antara mahkluk hidup
(organisme) dengan ligkungannya. Secara umum, pernapasan dapat diartikan
sebagai proses menghirup oksigen dari udara serta mengeluarkan karbon
dioksida dan uap air. Dalam proses pernapasan, oksigen merupakan zat
kebutuhan utama. Oksigen untuk pernapasan diperoleh dari udara di
lingkungan sekitar. Bila dalam proses ini terjadi suatu bronkokontriksi atau
penyempitan bronkus adalah suatu penyempitan jalan nafas khususnya
bronkioli. Penyempitan ini disebabkan oleh kontriksi otot ataupun akibat reaksi
radang, sentuhan (misal: intubasi bronkoskopi),bahan kimia (misal: alergen/
asap). Penumpukan mukus di dalam saluran napas, peradangan dan pengecilan
saluran napas ketika serangan asma dapat dikurangi secara cepat dengan obat
dan teknik penggunaan inhaler yang sesuai. Obat bronkodilator pada saat
serangan dan atau obat antiimflmasi sebagai obat pengendali untuk menekan
reaksi imflamasi yang terjadi (Warner, 1998).
Pemberian bronkodilator ini diberikan melalui jalur inhalasi. Pengobatan
ini bertujuan untuk memperlebar jalan nafas, dengan melemaskan otot
bronkioli atau mengurangi rasa radang. Terapi inhalasi merupakan satu teknik
pengobatan penting dalam proses pengobatan penyakit respiratori (saluran
pernafasan) akut dan kronik. Penumpukan mukus di dalam saluran napas,
peradangan dan pengecilan saluran napas ketika serangan asma dapat dikurangi
secara cepat dengan obat dan teknik penggunaan inhaler yang sesuai.
Obat yang diberikan dengan cara ini absorpsinya terjadi secara cepat
karena permukaan absorpsinya luas, terhindar dari eliminasi lintas pertama di
hati, dan pada penyakit paru-paru misalnya asma bronkial, obat dapat diberikan
langsung pada bronkus. Tidak seperti penggunaan obat secara oral (tablet dan
sirup) yang terpaksa melalui sistem penghadangan oleh berbagai sistem tubuh,
seperti eleminasi di hati (Setiawati 1995).

Terapi inhalasi dapat menghantarkan obat langsung ke paru-paru untuk


segera bekerja. Dengan demikian, efek samping dapat dikurangi dan jumlah
obat yang perlu diberikan lebih sedikit dibanding cara pemberian lainnya. Tapi
cara pemberian obat ini diperlukan alat dan metoda khusus yang agak sulit
dikerjakan, sukar mengatur dosis, dan obatnya sering mengiritasi epitel paru
(Setiawati, 1995).
Terapi inhalasi pada asma dewasa telah banyak digunakan dan
keberhasilannya cukup baik. Penggunaannya pada anak belum banyak atau
apabila diberikan seringkali cara dan jenis obat inhalasi tidak tepat atau bahkan
anak atau orang tua tidak cukup mengerti kapan dan bagaimana
penggunaannya untuk pengobatan asma anaknya. Selain itu jenis terapi inhalasi
yang dipasarkan saat ini dibuat untuk orang dewasa yang kemudian digunakan
juga untuk anak. Untuk menunjang keberhasilan penggunaan pada anak
diperlukan pengetahuan mengenai perbedaan antara dewasa dananak dalam hal
fisiologi dan sistem koordinasi serta tentang teknik inhalasi yang optimal
sehingga penggunaan terapi inhalasi dapat lebih dipahami Dolovich, 2001).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Fisiologi Saluran Nafas
Untuk memahami tentang penggunaan serta farmakokinetik (terutama
absorpsi dan bioavailabilitas) dan farmakodinamik obat secara inhalasi,
sebelumnya kita harus memahami anatomi dan fisiologi pernapasan terlebih
dahulu. Secara fungsional saluran pernapasan dibagi atas bagian yang
berfungsi sebagai konduksi (penghantar udara) dan bagian yang berfungsi
sebagai respirasi (pertukaran gas). Pada bagian konduksi, udara bolak-balik di
antara atmosfir dan jalan napas seakan organ ini tidak berfungsi (dead space),
akan tetapi organ tersebut selain sebagai konduksi juga berfungsi sebagai
proteksi dan pengaturan kelembaban udara. Adapun yang termasuk ke dalam
konduksi adalah rongga hidung, rongga mulut, faring, laring, trakea, sinus
bronkur dan bronkiolus nonrespiratorius (Rab, 1996).
Pada gambar II.1 adapun yang termasuk ke dalam konduksi adalah rongga
hidung, rongga mulut, faring, laring, trakea, sinus bronkur dan bronkiolus
nonrespiratorius . Pada bagian respirasi akan terjadi pertukaran udara (difus)
yang sering disebut dengan unit paru (lung unit), yang terdiri dari bronkiolus
respiratorius, duktus alveolaris, atrium dan sakus alveolaris (Rab, 1996).

Gambar II.1 Target jalan napas dan anatomi jalan napas (lee, 2009)
Secara histologis epitel yang melapisi permukaan saluran pernapasan
terdiri dari epitel gepeng berlapis berkeratin dan tanpa keratin di bagian
rongga mulut; epitel silindris bertingkat bersilia pada rongga hidung, trakea,
dan bronkus; epitel silindris rendah/kuboid bersilia dengan sel piala pada
bronkiolus terminalis; epitel kuboid selapis bersilia pada bronkiolus
respiratorius; dan epitel gepeng selapis pada duktus alveolaris dan sakus
alveolaris serta alveolus. Di bawah lapisan epitel tersebut terdapat lamina
propria yang berisi kelenjar-kelenjar, pembuluh darah, serabut saraf dan
kartilago. Dan berikutnya terdapat otot polos dan serabut elastin (Ganong,
1995).
Dari semua itu barulah kita pahami bagaimana obat dapat masuk dan
bekerja pada paru-paru. Obat masuk dengan perantara udara pernapasan
(mekanisme inspirasi dan ekspirasi) melalui saluran pernapasan, kemudian
menempel pada epitel selanjutnya diabsorpsi dan sampai pada target organ
bisa berupa pembuluh darah, kelenjar dan otot polos. Agar obat dapat sampai
pada saluran napas bagian distal dan mencapai target organ, maka ukuran
partikel obat harus disesuaikan dengan ukuran/diameter saluran napas.
B. Definisi Terapi Inhalasi
Memurut Rasmin (2001), terapi inhalasi adalah pemberian obat ke dalam

saluran napas dengan cara inhalasi. Definisi lainnya menyebutkan bahwa


terapi inhalasi adalah cara pengobatan dengan memberi obat untuk dihirup
agar dapat langsung masuk menuju paru-paru sebagai organ sasaran obatnya.
Terapi inhalasi merupakan cara pengobatan dengan memberi obat dalam
bentuk uap secara langsung pada alat pernapasan menuju paru-paru. Terapi
inhalasi dapat digunakan pada proses perawatan penyakit saluran pernafasan
yang akut maupun yang kronik, misalnya asma (penyakit asma paling sering
dijumpai pada anak-anak) dan pada saat bayi/anak terserang batuk berlendir.
Terapi inhalasi juga dapat diartikan sebagai suatu pengobatan yang ditujukan
untuk mengembalikan perubahan-perubahan patofisiologi pertukaran gas

sistem kardiopulmoner ke arah yang normal, seperti dengan menggunakan


respitor atau alat penghasil aerosol (Bia, 1994).
C. Tujuan Pemasangan Terapi Inhalasi
Prinsip farmakologis terapi inhalasi yang ideal untuk penyakit saluran

napas adalah obat dapat sampai pada organ target dengan menghasilkan
partikel aerosol berukuran optimal agar terdeposisi di paru, onset kerjanya
cepat, dosis obat kecil, efek samping minimal karena konsentrasi obat di
dalam darah sedikit atau rendah, mudah digunakan, serta efek terapeutik
tercapai yang ditandai dengan tampaknya perbaikan klinis (Dolovich, 2001).
Meskipun saluran napas mempunyai beberapa mekanisme antara lain
refleks batuk, bersin serta klirens mukosilier yang akan melindungi terhadap
masuk dan mengendapnya partikel obat sehingga akan mengeliminasi obat
inhalasi. Namun dengan memperhatikan metode untuk menghasilkan aerosol
serta cara penyampaian/delivery obat yang akan mempengaruhi ukuran
partikel yang dihasilkan dan jumlah obat yang mencapai berbagai tempat di
saluran napas maka diharapkan obat terdeposisi secara efektif (Newman,
1997).
Pada gambar II.2 menunjukkan mekanisme deposisi di jalan napas yaitu
berupa impaksi, sedimentasi dan difusi. Ukuran partikel akan mempengaruhi
sampai sejauh mana partikel menembus saluran napas. Partikel berukuran >
15 mm tersaring oleh filtrasi rambut hidung sedangkan > 10 mm akan
mengendap di hidung dan nasofaring. Partikel yang besar ini terutama
mengendap karena benturan inersial bila terdapat aliran udara yang cepat
disertai perubahan arah atau arus turbulen. Partikel berukuran 0,5 5 mm
akan mengendap secara sedimentasi karena gaya gravitasi sedangkan partikel
berukuran < 0,1 mm akan mengendap karena gerak Brown. Dengan demikian
untuk mendapatkan manfaat obat yang optimal, obat yang diberikan secara
inhalasi harus dapat mencapai tempat kerjanya di dalam saluran pernapasan.
Bentuk aerosol yang digunakan yaitu suspensi partikel di dalam gas, dan
partikel dalam aerosol yang mempunyai ukuran berkisar 2-10 m7 atau 1-7
m.9 Penelitian lainnya mendapatkan bahwa partikel berukuran 1-8 m

mengalami benturan dan pengendapan di saluran nafas besar, kecil, dan


alveoli (Kanner 1997).

Gambar II.2 Mekanisme deposisi di jalan napas (Dolovich 2001)


Karena terapi inhalasi obat dapat langsung pada sasaran dan absorpsinya
terjadi secara cepat dibanding cara sistemik, maka penggunaan terapi inhalasi
sangat bermanfaat pada keadaan serangan yang membutuhkan pengobatan
segera dan untuk menghindari efek samping sistemik yang ditimbulkannya
(Rasmin, 2001).
Biasanya terapi inhalasi ditujukan untuk mengatasi bronkospasme, mengencerkan sputum, menurunkan hipereaktiviti bronkus, serta mengatasi infeksi.
Terapi inhalasi ini baik digunakan pada terapi jangka panjang untuk
menghindari efek samping sistemik yang ditimbulkan obat, terutama
penggunaan kortikosteroid (Rasmin, 2001).
Pada asma penggunaan obat secara inhalasi dapat mengurang efek
samping yang sering terjadi pada pemberian parenteral atau peroral, karena
dosis yang sangat kecil dibandingkan dengan jenis lainnya, dan pada bayi
yang mengalami batuk lendir, pada bayi atau anak- anak ini kemampuan reflek
batuk ini sangat lemah. Sehingga dibutuhkan terapi inhalasi ini yang akan
membantu lendir di dalam paru- paru mencair. Terapi ini biasanya digunakan

dalam proses perawatan penyakit saluran pernafasan yang akut maupun


kronik, misalnya pada penyakit asma. Asma termasuk penyakit yang sering
terjadi pada anak-anak. Asthma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial
yang mempunyai ciri bronchospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran
nafas). Selain asma ada batuk / pilek karena alergi adalah gangguan saluran
pernafasan yang paling umum terjadi. Banyak cara dicoba untuk mempercepat
penyembuhan dan pengurangan gejala akibat masalah ini termasuk secara
inhalasi.
D. Indikasi Terapi Inhalasi
Penggunaan terapi inhalasi ini diindikasikan untuk pengobatan asma,
penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), sindrom obstruktif post tuberkulosis,
fibrosis kistik, bronkiektasis, keadaan atau penyakit lain dengan sputum yang
kental dan lengket (Rasmin, 2001).
Menurut Setawati (1995), penggunaan obat ini terbatas hanya untuk obatobat yang berbentuk gas atau cairan yang mudah menguap dan obat lain yang
berbentuk aerosol. Pada penyakit Asma dan Chronic Obstructive pulmonal
disease (COPD = PPOK & PPOM) terapi inhalasi merupakan terapi pilihan
(Rab, 1996).
Dengan terapi inhalasi obat dapat masuk sesuai dengan dosis yang
diinginkan, langsung berefek pada organ sasaran. Dari segi kenyamanan
dalam penggunaan, cara terapi MDI banyak disukai pasien karena obat dapat
mudah di bawa ke mana-mana. Kemasan obat juga menguntungkan karena
dalam satu botol bisa dipakai untuk 30 atau sampai 90 hari penggunaan
(Rasmin, 2001).
E. Kontra Indikasi Terapi Inhalasi
Kontra indikasi mutlak pada terapi inhalasi tidak ada. Indikasi relatif pada

pasien dengan alergi terhadap bahan atau obat yang digunakan (Rasmin,
2001).
F. Alat terapi inhalasi:
1. Metered Dose Inhaler (MDI) dengan spacer
2. Metered Dose Inhaler (MDI) tanpa Spacer

Spacer (alat penyambung) akan menambah jarak antara alat dengan mulut,
sehingga kecepatan aerosol pada saat dihisap menjadi berkurang. Hal ini
mengurangi pengendapan di orofaring (saluran napas atas). Spacer ini berupa
tabung (dapat bervolume 80 ml) dengan panjang sekitar 10-20 cm, atau bentuk
lain berupa kerucut dengan volume 700-1000 ml. Penggunaan spacer ini
sangat menguntungkan pada anak
G. Cara Penggunaan Berbagai Terapi Inhalasi
Ada beberapa cara dalam terapi inhalasi, yaitu (Rasmin, 2001):
1. Inhaler dosis terukur (MDI, metered dose inhaler)
2. Penguapan (gas powered hand held nebulizer)
3. Inhalasi dengan intermitten positive pressure breathing (IPPB), serta
4. Pemberian melalui intubasi pada pasien yang menggunakan ventilator.
1. Inhaler dosis terukur (MDI/ Metered Dose Inhaler)
Metered dose inhaler (MDI) atau inhaler dosis terukur merupakan

cara inhalasi yang memerlukan teknik inhalasi tertentu agar sejumlah dosis
obat mencapai saluran pernafasan. Pada inhaler ini bahan aktif obat
disuspensikan dalam kurang lebih 10 ml cairan pendorong (propelan) dan
yang biasa digunakan adalah kloroflurokarbon (chlorofluorocarbon =
CFC) pada tekanan tinggi. Akhir-akhir ini mulai dikembangkan
penggunaan bahan non-CFC yaitu hidrofluroalkana (HFA) yang tidak
merusak lapisan ozon (Leach, 1997; Bleecker, 1997).
Propelan mempunyai tekanan uap tinggi sehingga di dalam tabung
(kanister) tetap berbentuk cairan. Bila canister ditekan, aerosol
disemprotkan keluar dengan kecepatan tinggi yaitu 30 m/detik dalam
bentuk droplet dengan dosis tertentu melalui aktuator (lubang). Pada ujung
aktuator ukuran partikel berkisar 35 m, pada jarak 10 cm dari kanister
besarnya menjadi 14 m, dan setelah propelan mengalami evaporasi
seluruhnya ukuran partikel menjadi 2,8-4,3 m. Dengan teknik inhalasi
yang benar maka 80% aerosol akan mengendap di mulut dan orofarings
karena kecepatan yang tinggi dan ukurannya besar, 10% tetap berada
dalam aktuator, dan hanya sekitar 10% aerosol yang disemprotkan akan
sampai ke dalam paru-paru (Reiser, 1986).

Inhaler dosis terukur atau lebih sering disebut MDI diberikan dalam
bentuk inhaler aerosol dengan/tanpa spacer dan bubuk halus (dry powder
inhaler) yaitu diskhaler, rotahaler, dan turbohaler. Pada umumnya
digunakan pada pasien yang sedang berobat jalan dan jarang dipergunakan
di rumah sakit. Cara ini sangat mudah dan dapat dibawa kemana-mana
oleh pasien, sehingga menjadi pilihan utama pagi penderita asma (Rasmin,
2001).
MDI terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian kotak yang mengandung zat
dan bagian mouthpiece. Bila bagian kotak yang mengandung zat ini dibuka
(ditekan), maka inhaler akan keluar melalui mouthpiece (Rab, 1996).
a. Pemakaian inhaler aerosol.
Pemberian inhaler aerosol yang ideal adalah dengan alat yang
sederhana, mudah dibawa, tidak mahal, secara selektif mencapai
saluran napas bawah, hanya sedikit yang tertinggal di saluran napas
atas, serta dapat digunakan oleh anak, orang cacat, dan orang tua.
Namun keadaan ideal tersebut tidak dapat sepenuhnya tercapai
(Rasmin, 2001).
Pemakaian inhaler aerosol tanpa ruang antara (spacer).
Menurut Kamps (2000) dan Dolovich (2001) pada cara inhalasi ini
diperlukan koordinasi anatar penekanan canister dengan inspirasi
napas. Berikut cara pemakaian inhaler aerosol tanpa ruang antara
(spacer):
1) Inhaler dikocok lebih dahulu agar obat homogen
2) Tutup inhaler dibuka inhaler dipegang tegak
3) Dilakukan maksimal ekspirasi pelan-pelan mulut inhaler diletakan
di antara kedua bibir
4) Mulut canister diletakkan diatara bibir, lalu bibir dirapatkan dan
lakukan inspirasi perlahan sampai maksimal
5) Pada waktu yang sama kanester ditekan untuk mengeluarkan obat
tersebut dan penarikan napas diteruskan sedalam-dalamnya
6) Menahan napas sampai 10 detik atau dengan menghitung hitungan
10 hitungan pada inspirasi maksimal
7) Prosedur tadi dapat diulangi setelah 30 detik sampai 1 menit
kemudian tergantung dosis yang diberikan oleh dokter.

8) Setelah proses selai jangan lupa berkumur untuk mencegah efek


samping.
Langkah-langkah di atas harus dilaksanakan sebelum pasien
menggunakan obat asma jenis MDI. Langkah di atas sering tidak
diikuti sehingga pengobatan asma kurang efektif dan timbul efek
samping yang tidak diinginkan. Beberapa ahli mengidentifikasi
beberapa kesalahan yang sering dijumpai antara lain kurangnya
koordinasi pada saat menekan kanister dan saat menghisap, terlalu
cepat inspirasi, tidak berhenti sesaat setelah inspirasi, tidak mengocok
kanister

sebelum

digunakan,

dan

terbalik

pemakaiannya.

Kesalahankesalahan di atas umumnya dilakukan oleh anak yang lebih


muda, manula, wanita, dan penderita dengan social ekonomi dan
pendidikan yang rendah (kamps, 2000).
Pemakaian inhaler aerosol dengan ruang antara (spacer).
Spacer (alat penyambung) akan menambah jarak antara aktuator
dengan mulut sehingga kecepatan aerosol pada saat dihisap menjadi
berkurang dan akan dihasilkan partikel berukuran kecil yang
berpenetrasi ke saluran pernafasan perifer. Hal ini merupakan
kelebihan dari penggunaan spacer karena mengurangi pengendapan di
orofaring. Spacer ini berupa tabung (dapat bervolume 80 ml) dengan
panjang sekitar 10- 20 cm, atau bentuk lain berupa kerucut dengan
volume 700-1000 ml. Untuk bayi dianjurkan menggunakan spacer
volume kecil (babyhaler) agar aerosol yang dihasilkan lebih mampat
sehingga lebih banyak obat akan terinhalasi pada setiap inspirasi.
Beberapa alat dilengkapi dengan katup satu arah yang akan terbuka
saat inhalasi dan akan menutup pada saat ekshalasi misalnya
Nebuhaler (Astra), Volumatic (A&H) (Nikander, 2000).
Pengendapan di orofaring akan berkurang yaitu sekitar 5% dosis
yang diberikan bila digunakan spacer dengan katup satu arah. Pada
spacer tanpa katup satu arah, pengendapan di orofaring sekitar 8-60%
dosis. Dengan penggunaan spacer, deposit pada paru akan meningkat
menjadi 20% dibandingkan tanpa spacer. Penggunaan spacer ini
10

sangat menguntungkan pada anak karena pada anak koordinasinya


belum baik. Dengan bantuan spacer, koordinasi pada saat menekan
kanister dengan saat penghisapan dapat dikurangi atau bahkan tidak
memerlukan koordinasi (Ahonen, 2000).
Apabila spacer ini tidak tersedia maka sebagai penggantinya bisa
digunakan spacer sederhana yang murah dan mudah dibuat yaitu dari
plastic coffee cup yang dilubangi dasarnya untuk tempat aerosol. Cara
ini sudah terbukti bermanfaat hanya untuk bronkodilator dan belum
dibuktikan berguna untuk natrium kromoglikat dan steroid (Reiser,
1986).
Berikut adalah cara penggunaan Metered Dose Inhalaer (MDI)
dengan spacer:
1) Inhaler dikocok lebih dahulu dan buka tutupnya
2) Kemudian mulut inhaler dimasukan ke dalam lubang ruang antara
3) mouth piece diletakan di antara kedua bibir, lalu kedua bibir
dikatupkan, pastikan tidak ada kebocoran
4) tangan kiri memegang spacer, dan tangan kanan memegang
kanester inhaler tekan kanester sehingga obat akan masuk ke
dalam spacer,
5) kemudian tarik napas perlahan dan dalam, tahan napas sejenak, lalu
keluarkan napas lagi. Hal ini bisa diulang sampai merasa yakin
obat sudah terhirup habis.
Easyhaler
Easyhaler adalah inhaler serbuk multidosis yang merupakan
alternatif dari MDI. Komponennya terdiri dari plastik dan cincin
stainless steel dan mengandung serbuk untuk sekurang-kurangnya 200
dosis. Masing-masing dosis obat dihitung secara akurat dengan cara
menekan puncak alat (overcap) yang akan memutari silinder (metering
cylindric) pada bagian bawah alat tersebut. Cekungan dosis berisi
sejumlah obat berhubungan langsung dengan mouth piece. Saluran
udara ke arah mouthpiece berbentuk corong dengan tujuan untuk
mengoptimalkan deposisi obat di saluran napas. Terdapat takaran dosis
yang berguna untuk memberi informasi kepada pasien mengenai sisa

11

dosis obat. Pelindung penutup berguna untuk mencegah kelembaban.


Partikel obat yang halus (<10 ) sulit untuk melayang jauh dan
cenderung untuk menggumpal, oleh karena itu zat aktif tersebut
dicampur dengan sejumlah kecil laktosa yang berperan sebagai
pembawa. Pada easyhaler ukuran partikel laktosa cukup besar untuk
deposit di saluran napas bawah sehingga diharapkan akan jatuh di
orofaring. Keadaan ini mempunyai keuntungan untuk memberitahukan
pada penderita bahwa obatnya benar terhisap dengan rasa manis di
mulut (Ahonen, 2000).
b. Dry Powder Inhaler (DPI)
Pada awalnya di tahun 1957 jenis inhaler ini digunakan untuk
delivery serbuk antibiotik. Selanjutnya banyak penelitian uji klinis
yang menunjukkan bahwa DPI bias digunakan untuk pengobatan asma
anak. Dalam perkembangannya pada tahun 1970 dibuat inhaler yang
hanya memuat serbuk kering dosis tunggal seperti misalnya spinhaler
dan rotahaler, dan akhir tahun 1980 diperkenalkan inhaler yang
memuat multiple dosis yaitu yang dikenal dengan diskhaler (8 dosis)
dan turbuhaler. Beberapa tahun terakhir ini diperkenalkan diskus (di
Inggris dikenal dengan accuhaler) yang memuat 60 dosis dan dapat
dipergunakan untuk 1bulan terapi (Newman, 1997).
Inhaler jenis ini tidak mengandung propelan sehingga mempunyai
kelebihan dari MDI. Penggunaan obat serbuk kering pada DPI
memerlukan inspirasi yang cukup kuat. Pada anak yang kecil hal ini
sulit dilakukan mengingat inspirasi kuat belum dapat dilakukan,
sehingga deposisi obat pada saluran pernafasan berkurang. Pada anak
yang lebih besar, penggunaan obat serbuk ini dapat lebih mudah,
karena kurang memerlukan koordinasi dibandingkan dengan MDI.
Dengan cara ini deposisi obat di dalam paru lebih tinggi dan lebih
konstan dibandingkan MDI sehingga dianjurkan diberikan pada anak
di atas 5 tahun. Cara DPI ini tidak memerlukan spacer sebagai alat
bantu sehingga mudah dibawa dan dimasukkan ke dalam saku. Hal ini
yang juga memudahkan pasien dan lebih praktis (Dolovich, 2001).
12

Penggunaan obat dry powder (serbuk kering) pada DPI


memerlukan hirupan yang cukup kuat. Pada anak yang kecil, hal ini
sulit dilakukan. Pada anak yang lebih besar, penggunaan obat serbuk
ini dapat lebih mudah, karena kurang memerlukan koordinasi
dibandingkan MDI. Deposisi (penyimpanan) obat pada paru lebih
tinggi dibandingkan MDI dan lebih konstan. Sehingga dianjurkan
diberikan pada anak di atas 5 tahun.
Pemakaian diskhaler
1) Lepaskan tutup pelindung diskhaler,
2) pegang kedua sudut tajam,
3) tarik sampai tombol terlihat
4) tekan kedua tombol dan keluarkan talam bersamaan rodanya
5) letakkan diskhaler pada roda, angka 2 dan 3 letakkan di depan
bagianmouth piece
6) masukan talam kembali, letakan mendatar dan tarik penutup
sampai tegak lurus dan tutup kembali
7) keluarkan napas, masukan diskhaler dan rapatkan bibir, jangan
menutupi lubang udara, bernapas melalui mulut sepat dan dalam,
kemudian tahan napas, lalu keluarkan napas perlahan-lahan.
8) putar diskhaler dosis berikut dengan menarik talam keluar dan
masukan kembali.
Pemakaian rotahaler.
1) Pegang bagian mulut rotahaler secara vertikal, tangan lain memutar
badan rotahaler sampai terbuka
2) masukan rotacaps dengan sekali menekan secara tepat ke dalam
lubang empat persegi sehingga puncak rotacaps berada pada
permukaan lubang
3) pegang permukaan rotahaler secara horizontal dengan titik putih di
atas dan putar badan rotahaler berlawanan arah sampai maksimal
untuk membuka rotacaps
4) keluarkan napas semaksimal mungkin di luar rotahaler, masukan
rotahaler dan rapatkan bibir dengan kepala agak ditinggikan
dengan kepala agak ditengadahkan ke belakang
5) hiruplah dengan kuat dan dalam, kemudian tahan napas selama
mungkin.

13

6) Lalu keluarkan rotahaler dari mulut, sambil keluarkan napas secara


perlahan-lahan.
Pemakaian turbohaler.
1) Putar dan lepas penutup turbohaler
2) pegang turbohaler dengan tangan kiri dan menghadap atas lalu
dengan tangan kanan putar pegangan (grip) ke arah kanan sejauh
mungkin kemudian putar kembali keposisi semula sampai
terdengar suara klik
3) hembuskan napas maksimal di luar turbohaler
4) letakkan mouth piecedi antara gigi, rapatkan kedua bibir sehingga
tidak ada kebocoran di sekitar mouth piece kemudian tarik napas
dengan tenang sekuat dan sedalam mungkin
5) sebelum menghembuskan napas, keluarkan turbohaler dari mulut.
Jika yang diberikan lebih dari satu dosis ulangi tahapan 2 5
(tanda panah) dengan selang waktu 1 2 menit pasang kembali
tutupnya.
Setelah penggunaan inhaler.
Basuh

dan

kumur

dengan

menggunakan

air.

Ini

untuk

mengurangi/menghilangkan obat yang tertinggal di dalam rongga mulut


dan tenggorokan, juga untuk mencegah timbulnya penyakit di mulut akibat
efek obat (terutama kortikosteroid) (Rasmin, 2001).
Cara mencuci inhaler.
Kegagalan mencuci inhaler dengan cara yang benar akan menimbulkan
sumbatan dan pada akhirnya dapat mengurangi jumlah/dosis obat. Cuci
bekas serbuk yang tertinggal di corong inhaler. Keluarkan bekas obat dan
basuh inhaler dengan air hangat dengan sedikit sabun. Keringkan dan
masukan kembali ke dalam tempatnya (Rasmin, 2001).
Cara untuk mengetahui inhaler sudah kosong.
Setiap inhaler telah dilabelkan dengan jumlah dos yang ada. Contoh di
bawah akan menerangkan bagaimana untuk menentukan kandungan obat
di dalam inhaler. Jika botol obat mengandungi 200 hisapan dan kita harus
mengambil 8 hisapan sehari, maka obat habis dalam 25 hari. Jika kita mula
menggunakan inhaler pada tanggal 1 Mei, maka gantikan inhaler tersebut

14

dengan yang baru pada/atau sebelum tanggal 25 Mei. Tulis tanggal mula
menggunakan inhaler pada botol obat untuk menghindari kesalahan
(Rasmin, 2001).
Kandungan inhaler juga boleh diperkirakan dengan cara memasukkan
botol obat ke dalam air. Kedudukan botol obat di dalam air
menggambarkan kandungan obat dalam inhaler.
2. Penguapan (Nebulizer)
Alat nebulizer dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi

aerosol terus menerus, dengan tenaga yang berasal dari udara yang
dipadatkan, atau gelombang ultrasonik. Aerosol yang berbentuk dihirup
penderita melalui mouth piece atau sungkup Bronkodilator yang diberikan
dengan nebulizer . memberikan efek bronkodilatasi (pelebaran bronkus)
yang bermakna tanpa menimbulkan efek samping. Hasil pengobatan
dengan nebulizer lebih banyak bergantung pada jenis nebulizer yang
digunakan. Ada nebulizer yang menghasilkan partikel aerosol terusmenerus, ada juga yang dapat diatur sehingga aerosol hanya timbul pada
saat penderita melakukan inhalasi, sehingga obat tidak banyak terbuang
(Bertrand, 2001).
Keuntungan terapi inhalasi menggunakan nebuliser adalah tidak atau
sedikit memerlukan koordinasi pasien, hanya memerlukan pernafasan
tidal, beberapa jenis obat dapat dicampur (misalnya salbutamol dan
natrium kromoglikat). Kekurangannya adalah karena alat cukup besar,
memerlukan sumber tenaga listrik dan relatif mahal (Reiser, 1986).
Cara ini digunakan dengan memakai disposible nebulizer mouth
piecedan pemompaan udara (pressurizer) atau oksigen. Larutan nebulizer
diletakan di dalam nebulizer chamber. Cara ini memerlukan latihan khusus
dan banyak digunakan di rumah sakit. Keuntungan dengan cara ini adalah
dapat digunakan dengan larutan yang lebih tinggi konsentrasinya dari
MDI. Kerugiannya adalah hanya 50 70% saja yang berubah menjadi
aerosol, dan sisanya terperangkap di dalam nebulizer itu sendiri (Rab,
1996).

15

Jumlah cairan yang terdapat di dalam hand held nebulizer adalah 4 cc


dengan kecepatan gas 6 8 liter/menit. Biasanya dalam penggunaannya
digabung dalam mukolitik (asetilsistein) atau natrium bikarbonat. Untuk
pengenceran biasanya digunakan larutan NaCl (Rab, 1996).
Cara menggunakannya yaitu (Rasmin, 2001):
a. Buka tutup tabung obat, masukan cairan obat ke dalam alat penguap

sesuai dosis yang ditentukan


b. gunakan mouth piece atau masker (sesuai kondisi pasien). Tekan
tombol on pada nebulizer
c. jika memakai masker, maka uap yang keluar dihirup perlahan-lahan
dan dalam inhalasi ini dilakukan terus menerus sampai obat habis
masker.
d. Bila memakai mouth piece, maka tombol pengeluaran aerosol ditekan
sewaktu inspirasi, hirup uap yang keluar perlahan-lahan dan dalam.
e. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai obat habis (10 15 menit).
Beberapa contoh jenis nebulizer uap antara lain:
a. Simple nebulizer
b. Jet nebulizer, menghasilkan partikel yang lebih halus, yakni antara 2

8 mikron. Biasanya tipe ini mempunyai tabel dan paling banyak


dipakai di rumah sakit. Alat ini paling banyak digunakan banyak
negara karena relatif lebih murah daripada ultrasonic nebuliser.
Dengan gas jet berkecepatan tinggi yang berasal dari udara yang
dipadatkan dalam silinder ditiupkan melalui lubang kecil dan akan
dihasilkan tekanan negatif yang selanjutnya akan memecah larutan
menjadi bentuk aerosol. Aerosol yang terbentuk dihisap pasien melalui
mouth piece atau sungkup. Dengan mengisi suatu tempat pada
nebuliser sebanyak 4 ml maka dihasilkan partikel aerosol berukuran <
5 m, sebanyak 60-80% larutan nebulisasi akan terpakai dan lama
nebulisasi dapat dibatasi. Dengan cara yang optimal maka hanya 12%
larutan akan terdeposit di paru-paru (Reiser, 2007). Bronkodilator yang
diberikan dengan nebulizer memberikan efek bronkodilatasi yang
bermakna tanpa menimbulkan efek samping (Bertrand, 2001).

16

c. Ultrasonik nebulizer, alat tipe ini menggunakan frekuensi vibrator

yang tinggi, sehingga dengan mudah dapat mengubah cairan menjadi


partikel kecil yang bervolume tinggi, yakni mencapai 6 cc/menit
dengan partikel yang uniform. Besarnya partikel adalah 5 mikron dan
partikel dengan mudah masuk ke saluran pernapasan, sehingga dapat
terjadi reaksi, seperti bronkospasme dan dispnoe. Oleh karena itu alat
ini hanya dipakai secara intermiten, yakni untuk menghasilkan sputum
dalam masa yang pendek pada pasien dengan sputum yang kental. Alat
ini juga menghasilkan aerosol melalui osilasi frekuensi tinggi dari
piezo-electric crystal yang berada dekat larutan dan cairan memecah
menjadi aerosol. Keuntungan jenis nebuliser ini adalah tidak
menimbulkan suara bising dan terus menerus dapat mengubah larutan
menjadi aerosol sedangkan kekurangannya alat ini mahal dan
memerlukannbiaya perawatan lebih besar.
d. Antomizer nebulizer, partikel yang dihasilkan cukup besar, yakni
antara 10 30 mikron. Digunakan untuk pengobatan laring, terutama
pada pasien dengan intubasi trakea.
Beberapa bentuk jet nebulizer dapat pula diubah sesuai dengan keperluan,
sehingga dapat digunakan pada ventilator dan IPPB, dimana dihubungkan
dengan gas kompresor.
3. Intermiten Positive Pressure Breathing (IPPB)
Cara ini biasanya diberikan di rumah sakit dan memerlukan tenaga
yang terlatih. Cara ini jauh lebih mahal dan mempunyai indikasi yang
terbatas, terutama untuk pasien yang tidak dapat bernapas dalam dan
pasien-pasien yang sedang dalam keadaan gawat yang tidak dapat
bernapas spontan. Untuk pengobatan di rumah cara yang terbaik adalah
dengan menggunakan MDI (Rab, 1996).
4. Ventilator
Dapat dengan menggunakan MDI atau hand held nebulizer, yakni
melalui bronkodilator Tee. Dengan cara ini sebenarnya tidak efektif oleh
karena banyak aerosol yang mengendap, sehingga cara ini dianggap
kurang efektif dibandingkan dengan MDI (Rab, 1996).

17

H. Kortikosteroid Inhalasi
Kortikosteroid terdapat dalam beberapa bentuk sediaan antara lain oral,

parenteral, dan inhalasi. Ditemukannya kortikosteroid yang larut lemak (lipidsoluble) seperti beclomethasone, budesonide, flunisolide, fluticasone, and
triamcinolone, memungkinkan untuk mengantarkan kortikosteroid ini ke
saluran pernafasan dengan absorbsi sistemik yang minim. Pemberian
kortikosteroid secara inhalasi memiliki keuntungan yaitu diberikan dalam
dosis kecil secara langsung ke saluran pernafasan (efek lokal), sehingga tidak
menimbulkan efek samping sistemik yang serius. Biasanya, jika penggunaan
secara inhalasi tidak mencukupi barulah kortikosteroid diberikan secara oral,
atau diberikan bersama dengan obat lain (kombinasi, misalnya dengan
bronkodilator). Kortikosteroid inhalasi tidak dapat menyembuhkan asma. Pada
kebanyakan pasien, asma akan kembali kambuh beberapa minggu setelah
berhenti menggunakan kortikosteroid inhalasi, walaupun pasien telah
menggunakan kortikosteroid inhalasi dengan dosis tinggi selama 2 tahun atau
lebih. Kortikosteroid inhalasi tunggal juga tidak efektif untuk pertolongan
pertama pada serangan akut yang parah.
Contoh kortikosteroid inhalasi yang tersedia di Indonesia antara lain:
a. Fluticasone Flixotide (flutikason propionate50 g , 125 g /dosis) Inhalasi

aerosol Dewasa dan anak > 16 tahun: 100-250 g, 2 kali sehariAnak 4-16
tahun; 50-100 g, 2 kali sehari
b. Beclomethasone dipropionate Becloment (beclomethasone dipropionate
200g/ dosis) Inhalasi aerosol Inhalasi aerosol: 200g , 2 kali seharianak:
50-100 g 2 kali sehari.
c. Budesonide Pulmicort (budesonide 100 g, 200 g, 400 g / dosis)
Inhalasi aerosolSerbuk inhalasi Inhalasi aerosol: 200 g, 2 kali
sehariSerbuk inhalasi: 200-1600 g / hari dalam dosis terbagianak: 200800 g/ hari dalam dosis terbagi.
d. Dosis untuk masing-masing individu pasien dapat berbeda, sehingga harus
dikonsultasikan lebih lanjut dengan dokter, dan jangan menghentikan
penggunaan kortikosteroid secara langsung, harus secara bertahap dengan
pengurangan dosis.

18

Berikut adalah contoh dari penggunaan terapi inhalasi :


1. Contoh obat Nebulizer (Ventolin) dan dosis :

Gambar II.3 : Ventolin Nebules, Dosis anak dan dewasa


I. Keberhasilan Terapi Inhalasi ( aerosol )
Aerosol adalah gas yang dihasil kan melalui proses dispersi (pemecahan)

atau suspensi partiel padat maupun cair. Keberhasilan pengobatan aerosol ini
tergantung pada beberapa faktor, yaitu (Rab, 1996):
1. Ukuran partikel.
Partikel dengan ukuran 8 15 mikron dapat sampai ke bronkus dan
bronkiolus, sedangkan partikel dengan ukuran 2 mikron dapat sampai le
alveolus. Akan tetapi partikel dengan ukuran 40 mikron hanya dapat
sampai di bronkus utama. Partikel yang banyak digunakan pada terapi
aerosol adalah partikel yang berukuran antara 8 15 mikron.
2. Gravitasi (gaya berat).
Semakin besar suatu partikel, maka akan semakin cepat pula partikel
tersebut menempel pada saluran pernapasan. Akan tetapi keadaan ini juga
tergantung pada viskositas dari bahan pelarut yang dipakai.
3. Inersia
Inersia menyebabkan partikel didepositkan. Molekul air mempunyai massa
yang lebih besar daripada molekul gas di dalam saluran pernapasan.

19

Partikel yang ada di bronkus lebih mudah bertabrakan daripada parti.kel


yang ada di saluran pernapasan yang besar. Semakin kecil diameter saluran
pernapasan, maka akan semakin besar pula pengaruh dari inersia gas.
4. Aktivitas kinetic
Keadaan ini dialami oleh partikel yang lebih kecil dari 0,5 mikron.
Semakin besar energi kinetik yang digunakan, maka akan semakin besar
kemungkinan terjadinya tabrakan di antara aerosol dan akan semakin
mudah terjadinya kolisi dan selain itu juga akan semakin mudah partikel
tersebut bergabung.
5. Sifat-sifat alamiah dari partikel.
Sifat-sifat alamiah dari partikel ditentukan oleh tonik (osmotik). Larutan
yang hipotonik akan mudah kehilangan air akibat dari penguapan. Aerosol
elektrik yang dihasilkan oleh ultrasonik nebulizer bermuatan lebih besar
daripada mekanikal nebulizer. Pada temperatur yang panas molekulmolekul akan mempunyai ukuran yang lebih besar dan akan mudah jatuh.
6. Sifat-sifat dari pernapasan.
Pada prinsifnya jumlah dari aerosol yang berubah menjadi cairan
ditentukan pula oleh volume tidal, frekuensi pernapasan, kecepatan aliran
inspirasi, dan apakah bernapas melalui mulut atau hidung, dan juga
memeriksa faal pernapasan pada umumnya.
Sedangkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi delivery
aerosol pada anak antara lain (Dolovich, 2001):
1.

Perubahan anatomi
Bagaimana efek perubahan anatomi pada awaltahun kehidupan tidak jelas.
Saluran pernapasan anak relatif lebih kecil dibandingkan dewasa sehingga
aliran udara inspirasi lebih rendah yang menyebabkan deposit obat

terutama pada saluran pernapasan sentral.


2. Kompetensi
Kompetensi atau kemampuan anak merupakan faktor sangat penting
dalam delivery obat. Anak kecil tidak mempunyai kompetensi untuk
melakukan manuver inhalasi yang kompleks. Alat/ jenis inhalasi yang
tersedia dan dipasarkan saat ini dibuat untuk orang yang bisa melakukan
inhalasi melalui mulut waktu melakukan manuver inhalasi yang kompleks,

20

misalnya pressured metered dosed inhalers (pMDIs). Anak sekolah sudah


dapat melakukan usaha inspirasi maksimal yang diperlukan untuk
menggunakan alat inhalasi jenis dry powder inhaler (DPI) dan hanya
sedikit yang bisa menggunakan pMDI
3. Pola pernapasan bayi
Pola pernapasan bayi dan anak akan mempengaruhi seberapa banyak
aerosol yang diinhalasi ke dalam paru-paru. Pernapasan pada bayi dan
anak menunjukkan volume pernapasan tidal yang kecil sehingga
mengurangi delivery obat, pola pernapasan bervariasi luas dengan aliran
udara inspirasi (inspiratory flow rates=IFR) bervariasi antara 0 sampai 40
L/menit. Aliran udara yang cepat akan menyebabkan deposit pada saluran
napas yang lebih proksimal.
4. Anak yang menangis mempunyai IFR tinggi dan terjadi pernapasan mulut
sehingga seharusnya akan meningkatkan delivery obat ke paru-paru.
Namun, kenyataannya jumlah obat yang diinhalasi ke paruparu berkurang
karena kurang baiknya masker muka menempel dan pada waktu menangis
pernapasan pendek dan cepat.
J. Beberapa zat yang terdapat pada terapi inhalasi
Beberapa zat yang biasanya digunakan secara aerosol pada umumnya
adalah beta 2 simpatomimetik, seperti metaprotenolol (Alupen), albuterol
(Venolin dan Proventil), terbutalin (Bretaire), bitolterol (Tornalat), isoetarin
(Bronkosol),

Steroid

seperti

beklometason

(Ventide),

triamnisolon

(Azmacort), flunisolid ( Aerobid), Antikolinergik seperti atropin dan


ipratropium (Atrovent), dan Antihistamin sebagai pencegahan seperti natrium
kromolin (Intal) (Rab, 1996).
Keuntungan dari aerosol ini baik diberikan secara aerosol maupun dengan
inhaler, adalah memberikan efek bronkodilator yang maksimal yang lebih baik
dari cara pemberian lain, sementara itu pengaruh sistemiknya hampir tidak
ada. Oleh karena itu cara pengobatan ini adalah merupakan cara yang paling
optimal (rab, 1996).
Salah satu terapi inhalasi yang paling banyak digunakan adalah terapi
inhalasi pada asma. yaitu tata laksana serangan dan tata laksana jangka
21

panjang. Seorang anak yang telah didiagnosis asma harus ditentukan


klasifikasinya. Berdasarkan Konsensus Nasional Penanganan Asma (KNAA)
klasifikasi asma di luar serangan adalah asma episodik jarang, episodic sering,
dan asma persisten (UKK Pulmunologi IDAI, 2000).
Pada asma episodik jarang, tidak diperlukan obat pengendali (controller)
untuk tata laksana jangka panjangnya sedangkan pada asma episodik sering
dan asma persisten harus diberikan obat pengendali. Obat pengendali dari
golongan

antiinflamasi

yang

sering

digunakan

adalah

budesonid,

beklometason dipropionat, flutikason, dan golongan natrium kromoglikat


(UKK Pulmunologi IDAI, 2000).
Bila terjadi serangan maka digunakan obat pereda (reliever). Obat yang
sering digunakan yaitu golongan bronkodilator seperti metilsantin (teofilin),
2 agonis, dan ipratropium bromida. Obat-obat ini dapat digunakan secara
oral, parenteral, dan inhalasi, tetapi untuk metilsantin pemberian secara oral
dan intravena lebih dipilih daripada inhalasi karena obat ini menyebabkan
iritasi saluran napas (Reiser, 1986).
Telah diketahui secara luas bahwa obat antiinflamasi yang sering
digunakan adalah golongan steroid. Mekanisme dasar asma adalah terjadinya
reaksi inflamasi sehingga pengendalian dengan obat antiinflamasi sangat
dianjurkan pada asma episodik sering dan persisten. Namun harus disadari
penggunaan kortikosteroid jangka panjang peroral atau parenteral dapat
mengganggu tumbuh kembang anak secara keseluruhan selain efek samping
lain yang mungkin timbul seperti hipertensi dan moon-face. Untuk itu
pemberian inhalasi sangat dianjurkan. Jenis terapi inhalasi yang diberikan
dapat disesuaikan dengan usia pasien dan patokan ini tidak berlaku secara
kaku. Patokan yang diajukan oleh Dolovich dan Everard di bawah ini dapat
dipakai sebagai acuan. Bagaimana sebenarnya penggunaan obat inhalasi pada
asma anak dapat diterangkan sebagai berikut:
Tabel II.1 Nebulizer pada kelompok umur
Umur
(tahun)
0-3

Pereda

Pengendali

pMDI / dengan spacer

pMDI / dengan spacer nebuliser

22

3-5

nebuliser
pMDI / dengan spacer

pMDI / dengan spacer nebulizer

>5

nebuliser
pMDI / dengan spacer DPI

DPI
pMDI / dengan space DPI

nebuliser
Pada saat serangan obat yang digunakan adalah obat golongan
bronkodilator dan yang sering digunakan yaitu 2 agonis yang dapat diberikan
sendiri atau bersama-sama dengar ipratropium bromid. Pada serangan asma
yang ringan obat inhalasi yang diberikan hanya 2 agonis saja meskipun ada
juga yang menambahkan dengan ipratropium bromida. Schuch dkk dalam
penelitiannya mendapatkan bahwa dengan menggunakan 2 agonis saja dapat
meningkatkan FEV1 dan menghilangkan gejala serangannya, sedangkan
penambahan ipratropium bromida akan meningkatkan FEV1 yang lebih tinggi
lagi (Schuch, 1995).
Pada serangan asma yang berat, KNAA (2000), menganjurkan pemberian
2 agonis bersama-sama dengan ipratropium bromid.
Pemberian cara nebuliser untuk usia 18 bulan- 4 tahun dianjurkan
menggunakan mouthpiece daripada masker muka untuk menghindarkan
deposisi obat di muka dan mata (Reiser,1986).
Apabila dengan pemberian inhalasi obat tersebut serangan asma tidak
teratasi/sedikit perbaikan maka dapat diberikan steroid sistemik. Pemberian
steroid sistemik perlu diperhatikan pada anak dengan serangan asma yang
sering karena anak ini berisiko mengalami efek samping akibat pemberian
steroid sistemik berulang kali seperti supresi adrenal, gangguan pertumbuhan
tulang, dan osteoporosis. Untuk mengurangi pemberian steroid oral berulang,
maka sebagai alternatifnya dapat diberikan inhalasi budesonid dosis tinggi
(1600 mg perhari) pada anak yang serangan asmanya tidak teratasi dengan
penanganan inhalasi 2 agonis di rumah dan mereka belum/tidak perlu
perawatan di rumah sakit (Nuhoglu, 2001).
Penggunaan obat pereda secara inhalasi pada serangan asma sangat
bermanfaat dan justru sangat dianjurkan, namun demikian penggunaannya
masih belum banyak. Hal ini dimungkinkan karena penggunaannya yang

23

belum banyak diketahui dan harga obat masih mahal. Hal ini berlaku bukan
hanya di Indonesia, tetapi juga berlaku di negara maju. Penggunaannya pada
orang dewasa lebih banyak dibandingkan dengan anak (Nikander, 2000;Rabe,
2000)
Penatalansanaan di luar serangan maka obat inhalasi asma hanya diberikan
apabila memerlukan obat pengendali; yang biasa digunakan adalah natrium
kromoglikat dan golongan steroid. Natrium kromoglikat menurut KNAA
diberikan apabila termasuk asma episodik sering sedangkan penggunaan
steroid dapat diberikan pada asma episodik sering dan asma persisten.
Natrium kromoglikat menunjukkan absorbsi yang tidak baik sehingga hanya
efektif bila diberikan secara inhalasi. Obat ini tersedia dalam nebuliser
solution, serbuk aerosol dan aerosol dengan dosis 20 mg untuk nebulizer atau
2 mg secara aerosol (Reiser, 1986).
Penggunaan steroid pada asma anak masih jarang mengingat samping
yang mungkin ditimbulkan. Namun beberapa peneliti telah membuktikan
bahwa dengan penggunaan yang tepat dengan dosis, cara, dan jenis yang
sesuai maka efek samping dapat dikurangi. Penggunaan obat inhalasi yang
salah akan meningkatkan efek samping seperti jamur/kandidiasis di daerah
mulut, suara serak, dan efek lainnya. Dengan inhalasi sebagian obat juga akan
beredar ke seluruh tubuh melalui sistem gastrointestinal dan selanjutnya akan
dielimininasi melalui hati sehingga dalam peredaran sistemik kadarnya
berkurang (Gambar II.3). Obat yang baik adalah yang dapat elimininasi tubuh
dengan baik artinya kadar di dalam sirkulasi menjadi kecil. Penggunaan
steroid inhalasi pada asma episodik sering dan asma persisten memerlukan
waktu yang lama dan dosis yang mungkin bervariasi. Pada awal pengobatan
dapat diberikan dosis tinggi (400-800 mg per hari) dan diturunkan secara
perlahan sampai tercapai dosis optimum untuk anak tersebut dan
dipertahankan pada dosis optimum untuk beberapa lama dan kemudian
diturunkan secara bertahap sampai pada akhirnya kalau memungkinkan tidak
digunakan sama sekali. Penggunaan waktu lama (sekitar 2-3 tahun) dengan
dosis 400 mg perhari tidak mengganggu proses tumbuh kembang anak
(Allen,2000).
24

Untuk bayi dan anak berusia di bawah 4 tahun yang memerlukan steroid
inhalasi dapat digunakan suspensi budesonid inhalasi (pulmicort respules)
yang diberikan dengan nebulizer (Szefler, 2001).
Jadi penggunaan steroid inhalasi dapat lebih aman apabila kita mengetahui
cara penggunaannya.
K. Efek Samping dan Komplikasi Terapi Inhalasi
Jika aerosol diberikan dalam jumlah besar, maka dapat menyebabkan

penyempitan pada saluran pernapasan (bronkospasme). Disamping itu bahaya


iritasi dan infeksi pada jalan napas, terutama infeksi nosokomial juga dapat
terjadi (rab, 1996).

BAB III
PENUTUP
25

Terapi inhalasi adalah pemberian obat ke dalam saluran napas dengan


cara inhalasi.Terapi inhalasi merupakan satu teknik pengobatan penting dalam
proses pengobatan penyakit respiratori (saluran pernafasan) akut dan kronik.
Terapi inhalasi dapat menghantarkan obat langsung ke paru-paru untuk
segera bekerja. Dengan demikian, efek samping dapat dikurangi dan jumlah
obat yang perlu diberikan adalah lebih sedikit dibanding cara pemberian
lainnya. Sayangnya pada cara pemberian ini diperlukan alat dan metoda
khusus yang agak sulit dikerjakan, sukar mengatur dosis, dan sering obatnya
mengiritasi epitel paru.
Karena terapi inhalasi obat dapat langsung pada sasaran dan
absorpsinya terjadi secara cepat dibanding cara sistemik, maka penggunaan
terapi inhalasi sangat bermanfaat pada keadaan serangan yang membutuhkan
pengobatan segera dan untuk menghindari efek samping sistemik yang
ditimbulkannya. Seperti untuk mengatasi bronkospasme, meng-encerkan
sputum, menurunkan hipereaktiviti bronkus, serta mengatasi infeksi.
Pemberian per inhalasi adalah pemberian obat secara langsung ke
dalam saluran napas melalui hirupan. Pada asma, penggunaan obat secara
inhalasi dapat mengurangi efek samping yang sering terjadi pada pemberian
parenteral atau per oral, karena dosis yang sangat kecil dibandingkan jenis
lainnya.Untuk mendapatkan manfaat obat yang optimal, obat yang diberikan
per inhalasi harus dapat mencapai tempat kerjanya di dalam saluran napas.
Obat yang digunakan biasanya dalam bentuk aerosol, yaitu suspensi partikel
dalam gas.
Penggunaannya terbatas hanya untuk obat-obat yang berbentuk gas
atau cairan yang mudah menguap dan obat lain yang berbentuk aerosol.
Kontra indikasi mutlak pada terapi inhalasi tidak ada. Kontra indikasi relatif
pada pasien dengan alergi terhadap bahan atau obat yang digunakan
Ada beberapa cara dalam terapi inhalasi, yaitu (1) inhaler dosis terukur
(MDI, metered dose inhaler), (2) penguapan (gas powered hand held
nebulizer), (3) inhalasi denganintermitten positive pressure breathing (IPPB),

26

serta (4) pemberian melalui intubasi pada pasien yang menggunakan


ventilator.
Obat/zat yang biasanya digunakan secara aerosol pada umumnya
adalah

beta

simpatomimetik,

kortikosteroid,

antikolinergik,

dan

antihistamin. Bahaya iritasi saluran napas dan terjadinya bronkospasme serta


reaksi hipersensitivitas (obat atau vehikulum) dapat terjadi pada penggunaan
terapi ini.

27