Anda di halaman 1dari 74

LAPORAN KASUS

TB Paru BTA +3 Lesi Luas Kasus Lalai


Pengobatan
Pembimbing
dr. Eva Lydia I.R. Munthe Sp. P
Gagat adiyasa
I11109071

Kepaniteraan Klinik Ilmu Pulmonologi


Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura
RSUD Agoes Djam
Ketapang
2016

ANAMNESIS
Identitas
Nama

: Tn. A

Jenis Kelamin
Umur

: Laki-laki
: 26 tahun

Alamat

: Tanjung upat, sungai daka

Agama

: Islam

Pekerjaan

:-

Tanggal Masuk RS : 26 Februari 2016


Anamnesis dilakukan pada tanggal 3 maret 2016
secara Autoanamnesis dan Alloanamnesis kepada
ayah pasien.

Keluhan Utama
Sesak nafas
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh sesak napas sejak 2 bulan
yang lalu. Sesak semakin memberat kurang
lebih 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak
dirasakan hilang timbul. Sesak tidak diserta
dengan mengi. Sesak tidak dipengaruhi oleh
aktivitas, cuaca maupun debu. Sesak timbul
kapan saja.

Pasien tidur dengan 1 bantal. Pasien tidak pernah


terbangun dari tidur karena sesak. Riwayat asma
sejak kecil disangkal. Dada berdebar-debar disangkal.
Sesak disertai dengan batuk. Batuk dirasakan hilang
timbul sejak kurang lebih 1 tahun sebelum masuk
rumah sakit. Batuk tidak berdahak. Batuk darah (+) 1
minggu yang lalu. Batuk darah hanya sedikit-sedikit.
Pasien tidak mengkonsumsi obat sebelumnya untuk
batuk dan sesaknya.

Pasien juga mengeluh nyeri dada (+). Nyeri


dada dirasakan kurang lebih sejak 2 hari SMRS.
Nyeri dada seperti diremas. Nyeri hilang timbul.
Nyeri terutama saat bernapas. Nyeri tidak
menjalar ke belakang maupun ke tangan kiri.
Nyeri dada tidak dipengaruhi oleh aktivitas dan
tidak berkurang dengan istirahat.

Demam (+) hilang timbul sejak 2 bulan yang


lalu. Demam bisa pagi, siang, sore maupun
malam. Mengigil (-). Keringat malam (+). Nafsu
makan turun. Baju pasien terasa semakin kendur
sejak 2 bulan ini.

Nyeri ulu hati (+). Nyeri seperti ditusuk-tusuk


dan hilang timbul. Nyeri bertambah ketika
terlambat makan. Nyeri berkurang dengan
minum obat dan setelah makan. Mual (-), Muntah
(-). Rasa panas di dada disangkal. Pasien
biasanya minum obat maag yang dibeli sendiri
dari warung apabila sakit maag kambuh. Bab
dan BAK tidak ada keluhan

Riwayat Penyakit Dahulu


Terdapat riwayat berobat lama karena penyakit paru 9
tahun yang lalu. Pasien berobat selama 2 bulan,
pasien tidak kontrol ke dokter dan pasien tidak
melanjutkan obatnya kembali. Obat paru yang
diberikan menyebabkan kencing berwarna merah.
Pasien tidak pernah berobat kembali untuk sakit paruparunya selama 9 tahun ini. Riwayat maag (+). Hasil
Rontgen lama tidak dibawa. Riwayat asma dan alergi
disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat anggota keluarga dengan keluhan
yang sama disangkal. Riwayat alergi dan
asma disangkal.
Kebiasaan
Pasien pernah merokok selama kurang lebih 1
tahun dengan frekuensi 1 hari kurang lebih 12 batang. Pasien sudah berhenti merokok 15
tahun yang lalu. Indeks Brinkman: Perokok
ringan. Pasien suka makan-makanan pedas.

Riwayat sosial ekonomi


Pasien sehari-hari tidak bekerja, Biaya
pengobatan ditanggung oleh asuransi
Jamkesmas. Pasien tinggal bersama seorang
orang tua, kakak dan adiknya. Satu rumah
berisi 5 orang.

PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 3 maret 2016
Status Generalis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran

: kompos mentis, GCS : E4V5M6

BB

: 30 kg

Tanda vital
Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi
teratur

: 128x/menit, isi cukup dengan irama

Napas
torakal

: 33 x/menit, pernapasan abdomino-

Suhu

: 38,3C, aksilar

Kepala

: bentuk tidak ada kelainan,


simetris, dan nyeri tekan (-)

Mata
mm,
sklera
Telinga

: pupil (isokor) diameter 3 mm/3


konjungtiva anemis (-/-),
ikterik (-/-)
: Deformitas auricular (-), sekret (-)

Hidung : sekret (-), deviasi septum (-)


Mulut
Leher
deviasi
tiroid (-),

: bibir sianosis (-), lidah kotor (-),


tonsil T1/T1
:

pembesaran limfonodi (-),


trakea (-), pembesaran
bendungan JVP (-)

Paru-paru
Inspeksi
warna

:
: Pola pernapasan abdomino torakal, simetris,
kulit normal pengembangan paru

dekstra=sinistra.
Penggunaan otot bantu napas (+).
Palpasi

: NT (-). Vokal fremitus dekstra=sinistra,


Pengembangan paru dekstra=sinistra.

Perkusi

: Sonor pada hampir semua lapang paru.

Auskultasi : Suara napas dasar vesikular (+/+), Rh (+/+)


pada kedua apeks paru, Wh (+/-) pada apeks
paru, ekspirasi memanjang.

Jantung

Inspeksi
midclavula

: Iktus kordis terlihat di SIC V linea


sinistra

Palpasi

: Iktus kordis teraba di SIC V linea midclavula


sinistra

Perkusi

: Batas jantung kiri: SIC VI 1 jari lateral linea


midclavicula sinistra. Batas jantung

kanan:
SIC IV linea parasternal dextra.
Auskultasi : S1S2 regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen :
Inspeksi : Permukaan abdomen tampak datar,
Sikatriks (-).
Palpasi

: Soepel, Nyeri tekan (+) regio epigastrium.

Perkusi

: Timpani pada seluruh lapang abdomen,

panjang hepar 8 cm
Auskultasi

: Bising usus (+) 10 x/menit-normal

Ekstremitas : Perfusi hangat-merah-kering, CRT <


2,
edema (-),sianosis (-)

Foto Toraks PA

Kesan :
Foto thoraks PA
Kekerasan Foto : Terlalu keras
Inspirasi cukup
Trakea letak tengah
Kesimetrisan Foto : Simetris
Soft tissue : Dalam batas normal
Tulang : Intak

Kesan :
Hemitoraks kanan: Tampak gambaran
infiltrat pada hemitoraks tengah dan atas,
kavitas pada hemitoraks atas, titik
kalsifikasi pada parasternal kanan, sinus
costofrenicus lancip, sinus cardiofrenikus
tumpul
Hemitoraks kiri: Tampak gambaran infiltrate
pada hemitoraks tengah, sinus
costofrenicus lancip, sinus cardiofrenicus
lancip
CTR : < 50%

Pemeriksaan Laboratorium
Hb: 10,8
Eritrosit: 4,76 juta
Leukosit: 15.600
Trombosit: 699.000
HT: 54
GDS: 96
SGOT: 34
SGPT: 19
Sputum BTA: +3. +1, +1

Resume
Pasien mengeluh sesak napas sejak 2 bulan
smrs. Sesak semakin memberat kurang lebih
2 hari smrs. Sesak dirasakan hilang timbul.
Sesak timbul kapan saja. Batuk dirasakan
hilang timbul sejak kurang lebih 1 tahun
sebelum masuk rumah sakit. Batuk kering.
Batuk darah (+) berupa bercak 1 minggu
smrs.

Nyeri dada dirasakan sejak 2 hari SMRS. Nyeri


dada seperti diremas dan hilang timbul. Nyeri
terutama saat bernapas. Demam (+) hilang
timbul sejak 2 bulan smrs. Keringat malam (+).
Nafsu makan turun. Baju pasien terasa semakin
kendur.

Nyeri ulu hati (+). Nyeri seperti ditusuk-tusuk dan

hilang timbul. Nyeri bertambah ketika terlambat


makan. Nyeri berkurang dengan minum obat dan
setelah makan. Terdapat riwayat berobat lama
karena penyakit paru 9 tahun yang lalu. Pasien
berobat selama 2 bulan, pasien tidak kontrol ke
dokter dan pasien tidak melanjutkan obatnya
kembali. Riwayat maag (+).

Pasien tampak sakit sedang. Suhu tubuh pasien 38,3


oC. Pernapasan 33x/menit. Tanda-tanda vital lain
dalam batas normal. Retraksi dinding dada (+).
Rhongki (+/+) pada kedua apeks paru, Wheezing (-/
+), ekspirasi memanjang. Nyeri tekan (+) regio
epigastrium. Pada gambaran radiologi, hemitoraks
kanan, tampak gambaran infiltrat pada hemitoraks
tengah dan atas dan titik kalsifikasi pada parasternal
kanan. Pada hemitoraks kiri, tampak gambaran
infiltrate pada hemitoraks tengah. Leukosit
ditemukan meningkat. Pemeriksaan BTA +3.

DIAGNOSIS

TB Paru BTA +3 lesi luas kasus putus berobat

Sindrom dyspepsia ec. Susp. gastritis

TATALAKSANA

Tirah baring

Terapi nutrisi TKTP

Pemberian O2 2-3 lpm

IVFD RL 20 tpm

Ranitidin inj 50 mg/12 jam

Nebulizer salbutamol 1amp/8 jam

Paracetamol infus /8 jam

Metil prednison inj 62,5/8 jam

OAT kategori II

Ambroxol tab 3x30 mg

Salbutamol tab 3x2 mg.

PROGNOSIS

Ad vitam

: bonam

Ad functionam

Ad sanactionam : dubia ad bonam

: bonam

Catatan Kemajuan Pasien


S

Sesak (+), batuk (+) kering, batuk berdarah (-),


demam (-), mual (-), muntah (-), BAB dan BAK tidak

ada keluhan
Keadaan umum

: Tampak Sakit Sedang

Kesadaran : Kompos mentis


Tanda vital

: Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 90 x/menit

Napas

: 32 x/menit

Suhu

: 36,8 oC

Status generalis:
Mata

: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-),

THT

: Faring tidak hiperemis, tonsil T1/T1, lidah kotor


(-), pernapasan cuping hidung (-)

O Leher : Trakea letak tengah, Pembesaran KGB (-)


Paru-paru
Inspeksi

: Gerakan dinding dada statis dan dinamis

dekstra=sinistra, tampak ekspirasi memanjang,


penggunaan otot bantu napas (+)
Palpasi

: Vokal fremitus sinistra=dekstra

Perkusi

: Sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi

: Suara napas dasar vesikular (+/+), Rh

(+/+), Wh (-/-), ekspirasi memanjang.


Jantung
Inspeksi

Iktus

kordis

terlihat

di

SIC

linea

midclavula sinistra
Palpasi

: Iktus kordis teraba di SIC V linea midclavula

sinistra
Perkusi

: Batas kiri jantung: SIC V 1 jari lateral linea

O Auskultasi

: S1S2 regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

Permukaan

abdomen

tampak

datar,

Sikatriks (-).
Palpasi

: Soepel, Nyeri tekan (+) regio epigastrium.

Perkusi

: Timpani pada seluruh lapang abdomen,

panjang hepar 8 cm
Auskultasi

: Bising usus (+) 10 x/menit-normal

Ekstremitas :

Akral

hangat,

CRT

ekstremitas atas dan bawah (-)

<2,

Edema

Susp. TB Paru BTA belum diperiksa lesi luas kasus

putus obat
Farmakologi:
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam
Nebu Ventolin 1 respule/ 8 jam
Ambroxol tab 3x30 mg
Parasetamol 3x500 mg
Nonfarmakologi:
O2 3-4 lpm
Hidrasi D5 14 tpm
Cek BTA SPS

Follow up

27 februari 2016: Tx lanjut. Hasil foto rontgen toraks,

29 Februari 2016: Demam


Parasetamol tab 3x 500 mg

1 maret 2016: Demam (+), Cek Ureum kreatinin, inj.


metil prednisolone 31,5 mg/8 jam, Parasetamol infus
1gr/8 jam,

2 maret 2016: Demam (-) Hasil ureum kreatinin dalam


batas normal, mulai OAT kategori 2.

5 maret 2016: keluhan berkurang. Obat pulang, pasien


mendapat sefadroksi 2x500 mg, kapsul batuk 3x1 dan B.
Kompleks 1x1

(+),

Cek

sputum

BTA,

Tinjauan pustaka

Tuberkulosis
TB adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman MTB. Sebagian
besar kuman MTB menyerang paru, tetapi
dapat juga mengenai organ tubuh lainnya
TB Paru : TB yang menyerang jaringan
parenkim paru, tidak termasuk pleura
(selaput paru) dan kelenjar pada hilus
TB Ekstra paru : TB yang menyerang organ
tubuh lain selain paru (pleura, mening,
pericard, kelenjar limfe, rulang, persendian,
kulit, usus saluran urin, alat kelamin)

ETIOLOGI
Mycobacterium tuberculosis adalah
suatu jenis kuman yang berbentuk
berbentuk batang, tidak berspora dan
bersifat
aerobic,
dengan
ukuran
panjang 1-4/um dan tebal 0,3- 0,6/um,
mempunyai sifat khusus yaitu tahan
terhadap asam pada pewarnaan.

Diagnosis
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
Radiologi
Laboratorium
Dahak / sputum
Darah lengkap

Patogenesis
TB primer
Bakteri tuberculosis masuk melalui saluran
napas
Afek primer
Limfangitis local
Limfadenitis regional
Kemudian menjadi:
Sembuh tanpa cacat
Sembuh dengan bekas
Menyebar: perkontinuatum, bronkogen,
hematogen, dan limfogen.

Patogenesis
TB post primer
muncul bertahun-tahun kemudian setelah
tuberkulosis primer.
Sarang dini.
Menjadi:
sembuh tanpa meninggalkan cacat.
Sarang tersebut akan meluas dan
segera terjadi proses penyembuhan
dengan penyebukan jaringan fibrosis.
Sarang meluas, membentuk jaringan
keju


Gejala klinis
Gejala Respiratorik
Batuk-batuk lebih dari 2 minggu
Batuk darah
Sesak nafas
Nyeri dada
Gejala Sistemik
Demam
Gejala sistemik lain : malaise, keringat
malam, anoreksia, berat badan menurun
Gejala Tuberkulosis ekstra paru

Hasil Pemeriksaan Fisik TB


TB Paru:
SN: bronkial, amforik, SN melemah, Rh
Basah,
Tanda2 Penarikan
mediatinum

paru,

diafragma

&

Limfadenitis TB: Pembesaran KGB, cold


abses
Pleuritis TB: perkusi redup/pekak, SN
melemah tak terdengar pada sisi yg
trdapat cairan

Radiologi TB aktif dan Inaktif


Aktif:
Bayangan Berawan/nodulari segmen apikal &
posterior Lob atas paru , dan superior lobus
bawah
Kavitas (dikelilingi bayangan opak berawan)
Bayangan bercak milier
Efusi Pleura uni dan bilateral (jrg)
Inaktif:
Fibrotik
Kalsifikasi
Penebalan pleura (Schwarte)

Klasifikasi

TB Paru BTA +
Minimal 2 dari 3 spesiman dahak SPS
hasilnya BTA (+)
1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA (+)
positif dan foto toraks dada menunjukkan
gambaran TB
1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA (+)
dan biakan kuman TB (+)

TB paru BTA Minimal 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA


(-)
Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran
TB
Tidak ada perbaikan setelah pemberian AB
non OAT
Ditentukan o/ dokter utk diberi pengobatan

Kasus baru: pasien yang belum pernah


mendapat pengobatan dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari satu
bulan.
Kasus kambuh: pasien tuberkulosis yang
sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh
atau pengobatan lengkap, kemudian kembali
lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak
BTA positif atau biakan positif.

Kasus defaulted/drop out: pasien yang telah


menjalani pengobatan>1 bulan dan tidak
mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau
lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
Kasus gagal: pasien BTA positif yang masih
tetap positif atau kembali menjadi positif pada
akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir
pengobatan) atau akhir pengobatan.

Kasus kronik: pasien dengan hasil


pemeriksaan BTA masih positif setelah
selesai pengobatan ulang dengan
pengobatan kategori 2 dengan pengawasan
yang baik.
Kasus bekas TB:
Pemeriksaan BTA negatif dan gambaran
radiologi paru menunjukkan lesi TB yang
tidak aktif, atau foto serial menunjukkan
gambaran yang menetap.
Gambaran radiologi meragukan dan telah
mendapat pengobatan OAT 2 bulan serta
pada foto toraks ulang tidak ada
perubahan gambaran radiologi

OAT
Lini 1 (HRZES)
Lini 2 (Kanamisin, Amikasin, Kuinolon,
Kapreomisin, Sikloserin,
Etionamid/protionamid, Para-amino
salisilat (PAS)

Paduan OAT yang digunakan


di Indonesia
a) KATEGORI 1
Kategori 1 digunakan pada :
Pasien TB paru BTA (+), kasus baru
Pasien TB paru BTA (-), dengan gambaran
radiologik lesi luas (termasuk luluh paru)
b) KATEGORI 2
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA
positif yang telah diobati sebelumnya:
Pasien TB paru kasus kambuh
Pasien TB Paru kasus gagal pengobatan
Pasien TB Paru dengan pengobatan terputus

Dosis OAT
Obat Dosis
Dosis yg
Dosis
(Mg/Kg
dianjurkan
Maks
BB/Hari (mg/ kgBB /hari) (mg)
Harian Intermitte
)
n

R
H
Z
E

8-12
4-6
20-30
15-20

10
5
25
15

10
10
35
30

600
300

15-18

15

15

1000

Dosis (mg) / berat


badan (kg)
< 40

40-60

>60

300
150
750
750
Sesuai
BB

450
300
1000
1000

600
450
1500
1500

750

1000

Sediaan OAT yang ada di


Indonesia
Rifampisin: tablet dan kapsul 300 mg, 450
mg mg dan 600 mg
Isoniazid: tablet 100 mg dan 300 mg
Pirazinamide tablet 500 mg
Etambutol: tablet 250 mg dan 500 mg
Streptomisin vial 1gram dan 5 gram
FDC: R: 150 mg, H: 75 mg, Z: 400 mg, E: 275
mg

Efek samping obat


Efek samping

Kemungkinan
Penyebab
Minor
Tidak nafsu makan, mual, Rifampisin
sakit perut
Nyeri sendi
Pyrazinamid
Kesemutan s/d rasa
INH
terbakar di kaki

Tatalaksana

Warna kemerahan pada


air seni

OAT diteruskan
Obat diminum malam
sebelum tidur
Beri aspirin /allopurinol
Beri vitamin B6
(piridoksin) 1 x 100 mg
perhari
Beri penjelasan, tidak
perlu diberi apa-apa

Rifampisin

Mayor
Gatal dan kemerahan
pada kulit
Tuli
Gangguan keseimbangan
(vertigo dan nistagmus)
Ikterik /Hepatitis Imbas
Obat (penyebab lain
disingkirkan)

Hentikan obat
Semua jenis OATBeri antihistamin dan
dievaluasi ketat
Streptomisin
Streptomisin dihentikan
Streptomisin
Streptomisin dihentikan

Sebagian besar Hentikan semua OAT


OAT
sampai ikterik
menghilang dan boleh
diberikan
hepatoprotektor
Muntah dan confusion
Sebagian besar Hentikan semua OAT dan
(suspected drug-induced OAT
lakukan uji fungsi hati
pre-icteric hepatitis)
Gangguan penglihatan
Etambutol
Hentikan etambutol
Kelainan sistemik,
Rifampisin
Hentikan rifampisin
termasuk syok dan
purpura

KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi yang mungkin timbul
adalah :
1. Batuk darah
2. Pneumotoraks
3. Gagal napas
5. Gagal jantung
6. Efusi pleura

Pembahasan
kasus

TB Paru
Pustaka
Gejala Respiratorik

Batuk-batuk lebih
dari 2 minggu
Batuk darah
Sesak nafas
Nyeri dada

Gejala Sistemik

Demam
Gejala sistemik lain :
malaise, keringat
malam, anoreksia,
berat badan
menurun

Kasus
Batuk kurang lebih 1
tahun
Batuk darah (+)
Sesak napas (+)
Nyeri dada (+)
Demam (+) suhu
38,3oC
Keringat malam (+)
Nafsu makan turun
Baju semakin
kendor

Pustaka

Kasus

TB Paru:
SN: bronkial,
amforik, SN
melemah, Rh
Basah,
Tanda2
Penarikan paru,
diafragma &
mediatinum

suara napas rhonki


basah kasar pada
kedua apeks paru
Penggunaan otot
bantu napas (+).

Pemeriksaan BTA
Pustaka

Kasus

Minimal 2 dari 3
spesiman dahak SPS
hasilnya BTA (+)

1 spesimen dahak
SPS hasilnya BTA
(+) positif dan foto
toraks dada
menunjukkan
gambaran TB
1 spesimen dahak
SPS hasilnya BTA
(+) dan biakan
kuman TB (+)

hasil pada
pemeriksaan: +3,
+1, +1.
Interpretasi hasil:
BTA (+)

Pemeriksaan Radiologi Lesi


aktif
Pustaka

Bayangan
Berawan/nodulari
Kavitas
(dikelilingi
bayangan opak
berawan)
Bayangan bercak
milier
Efusi Pleura uni
dan bilateral

Kasus

Infiltrat pada
hemitoraks
kanan tengah
dan atas,
Kavitas pada
hemitoraks
kanan atas
Infiltrate pada
hemitoraks kiri
tengah

Klasifikasi TB paru
berdasarkan tipe pasien
Pustaka

Kasus lalai/putus
pengobatan:
pasien yang telah
menjalani
pengobatan>1
bulan dan tidak
mengambil obat 2
bulan berturutturut atau lebih
sebelum masa
pengobatannya
selesai.

Kasus

Riwayat berobat
lama karena
penyakit paru 9
tahun yang lalu.
Pasien berobat
selama 2 bulan,
pasien tidak
kontrol ke dokter
dan pasien tidak
melanjutkan
obatnya kembali.

Sesak pada TB paru disebabkan oleh


reaksi peradangan yang disebabkan
akumulasi mucus di jalan nafas. Hal ini
akan menyebabkan gangguan proses
difusi oksigenasi. Hal ini akan merangsang
tubuh untuk meningkatkan gerakan
pernapasan sehingga timbul sesak.

Batuk pada pasien disebabkan oleh usaha


tubuh pasien untuk mengeluarkan sekret
di jalan napas.
Hemopitis pada TB paru disebabkan oleh
robekan atau ruptur aneurisma arteri
pulmoner atau akibatnya pecahnya
anastomisis bronkopulmoner atau proses
erosif pada arteri bronkialis.

Demam pada pasien TB disebabkan oleh


rangsangan dari bakteri TB yang
merangsang reaksi radang yang
menyebabkan dilepaskannya zat endogen
pyrogen di dalam tubuh sehingga timbul
demam.
Keringat malam pada pasien disebabkan
karena faktor irama temperatur sirkadian
normal yang berlebihan.

Anoreksia disebabkan oleh peningkatan


produksi serotonin akibat perangsangan
sel darah putih akibat infeksi sistemik.
Penurunan berat badan akibat
hipermetabolisme pada infeksi sistemik
sehingga memecah cadangan-cadangan
makanan di dalam tubuh.

Sindroma dispepsia
Pustaka

Salah satu dari gejala:

Rasa penuh setelah makan yang


mengganggu

Perasaan cepat kenyang

Nyeri ulu hati

Rasa terbakar di daerah ulu


hati/epigastrium

Kasus

Gastritis: Gejala dispepsia


Diagnosis pasti: Endoskopi

Nyeri ulu hati (+).


Nyeri seperti
ditusuk-tusuk dan
hilang timbul.

Tatalaksana
Antibiotik OAT
Terapi simptomatik

Obat Anti Tuberkulosis


Pengobatan yang diberikan OAT kategori 2,
dengan pertimbangan bahwa pasien
termasuk dalam TB paru kasus putus obat.
Regimen: 2RHZES/RHZE/5RH
Rifampisin 30x10 mg/kgBB
Isoniazid 30x5 mg/kgBB

: 300 mg

: 150 mg

Pirazinamide 30x25 mg/kgBB


Etambutol 30x20 mg/kgBB

: 750 mg
: 600 mg

Streptomisin inj. 30x15 mg/kgBB

: 450 mg

Antipiretik
Paracetamol
Menghambat sintesis prostaglandin di
system saraf pusat.
Digunakan sebagai terapi simptomatis
untuk menurunkan demam pada
pasien.

Steroid
Metilprednisolon
Suatu glukokortikoid yang menekan
inflamasi dengan mengontrol sintesis
protein, menekan migrasi PMN dan
fibroblast, serta menurunkan permeabilitas
kapiler.
Indikasi pemberian steroid:
Tanda / gejala meningitis
Sesak napas
Tanda / gejala toksik
Demam tinggi

Bronkodilator
Salbutamol
Golongan agonis beta-2
Bentuk nebulizer digunakan untuk
mengatasi eksaserbasi akut.

Mukolitik
Ambroxol
Meningkatkan sekresi mucus->
mengencerkan sputum dengan mengubah
komposisi sputum.
Meningkatkan motilitas siliar ->
meningkatkan mucous siliar clearance
Pemberian ambroxol oral pada pasien
untuk mengencerkan sekret pada pasien.

H2 reseptor antagonis
Ranitidin
Menghambat reseptor H2 pada sel parietal
lambung, sehingga menghambat sekresi
gaster.
Pemberian ranitidin pada pasien ini
digunakan untuk mengurangi keasaaman
lambung sehingga keluhan akibat
peningkatan asam lambung pada pasien
dapat dikurangi.

Kesimpulan
Pasien Tn. A (26 tahun) datang dengan
keluhan utama sesak napas. Dari anamnesis,
pemfis dan pemeriksaan penunjang berupa
cek sputum BTA dan rontgen thorak, dapat
ditegakkan diagnosis TB paru serta diberikan
terapi yang sesuai.

TERIMAKASIH