Anda di halaman 1dari 7

Masruroh, Derivatisasi Furfural dari Alang-Alang (Imperata cylindrica) Menjadi Polifuran Sebagai Modul Sel

Surya Organik

DERIVATISASI FURFURAL DARI ALANG-ALANG (Imperata cylindrica) MENJADI


POLIFURAN SEBAGAI MODUL SEL SURYA ORGANIK
Umi Masruroh1*, Aviana Fadeline Siregar1, Lilis Diah Puspitasari1, Ferdian Dwi Cahyanto1, Yosua2
1

Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya
2

Jurusan Keteknikan Pertanian, Fakultas Teknologi Pertamian, Universitas Brawijaya


Jl.Veteran Malang 65145
*Tlp. 085736458520, Email: umi_masruroh91@yahoo.com

ABSTRAK
Furfural merupakan senyawa kimia yang bisa didapatkan dari biomassa, misalnya dari alang-alang
(Imperata cylindrica). Derivatisasi furfural menjadi polimer organik polifuran (PFu) sangat
menguntungkan karena menghasilkan material yang bersifat konduktif. Dalam penelitian ini,
dilakukan sintesis polifuran dari bahan dasar alang-alang melalui reaksi hidrolisis, oksidasi,
dekarboksilasi dan polimerisasi. Polimer organik yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan
semikonduktor untuk pembuatan polimer sel surya (solar cell). Tahap pertama adalah reaksi hidrolisis
alang-alang menjadi furfural. Didapatkan rendemen furfural sebanyak 3,75% dengan kemurnian
92,50% (hasil perhitungan dengan kromatografi gas). Tahap selanjutnya adalah reaksi oksidasi
furfural menjadi asam furoat. Rendemen yang didapatkan sebesar 14,6%. Asam furoat yang
didapatkan menunjukkan serapan FT-IR pada 3143 cm-1 untuk gugus OH dan 1685 cm-1 untuk C=O
karbonil dari asam. Reaksi dekarboksilasi menghasilkan furan dengan rendemen 50%. Tahap terakhir
adalah polimerisasi furan menjadi polifuran. Analisis gugus fungsi akan menunjukkan adanya serapan
FT-IR pada 734 cm-1 yang merupakan ciri khas ikatan 2,3-disubstitusi pada cincin furan. Polifuran
hasil sintesis dapat digunakan sebagai bahan dasar sel surya organik yang memiliki massa lebih
ringan dibandingkan silikon sehingga lebih kompatibel untuk berbagai kebutuhan.
Kata Kunci: furfural, alang-alang, polifuran, sel surya
ABSTRACT
Furfural is chemical compounds, which is isolated from biomass, such as reeds (Imperata cylindrica).
Derivation of furfural to organic polymer, that is, polyfuran (PFu) is very useful because it gives
electrically conductive polymer. In this research, synthesis of polyfuran (PFu) is carried out by
hydrolysis of reeds to furfural, followed by oxidation, decarboxylation, and polymerization. The
polymer from this reaction can be used as solar cell module to replace amorphous silicon solar cell.
From the hydrolysis of reeds, the furfural is obtained in 3.75%, has a purity of 92.50% (from
calculation by GC). The oxidation process is resulting furoic acid in 14.6%. Analysis using infrared
spectrophotometer (FT-IR) showed the vibration of carbonyl group C=O at 1685.67 cm-1 and OH
group of carboxylic at 3143.75 cm-1. In the decarboxylation reaction, furan is obtained at 50% yield.
The polymerization of furan into polyfuran is characterized by FT-IR, showed the characteristic
bands of 2,5-disubstituted furan units, that is, the CH out-of-pane vibration at 734 cm-1. Polyfuran
can be applied for organic solar cell which lighter that silicon solar cell, it makes the utilities become
preferable.
Keywords: furfural, reeds, polyfuran, solar cells

1.

PENDAHULUAN

Furfural adalah senyawa heterosiklis lingkar lima dengan gugus fungsi aldehida. Senyawa furfural
dapat diisolasi secara langsung dari biomassa pertanian melalui reaksi hidrolisis. Biomassa yang dapat
digunakan sebagai sumber furfural harus mengandung pentosan. Sumber biomassanya anatra lain tongkol
jagung, kulit kacang, bagas, sekam padi, dan alang-alang [1].

Masruroh, Derivatisasi Furfural dari Alang-Alang (Imperata cylindrica) Menjadi Polifuran Sebagai Modul Sel
Surya Organik

Alang-alang atau ilalang adalah sejenis rumput berdaun tajam dan merupakan gulma di lahan
pertanian. Hingga kini, tumbuhan ini masih tumbuh liar dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Pemanfaatannya hanya terbatas untuk bahan bakar langsung dan pakan ternak atau bahkan dibuang begitu
saja karena dianggap mengganggu. Di Indonesia terdapat 64,5 juta hektar padang rumput yang
sebagian besar berupa alang-alang (Imperata cylindrica). Komposisi kimia alang-alang adalah lignin
31,29%, holoselulosa 59,62%, -selulosa 40,22%; dan pentosan/hemiselulosa 18,40%. Kadar
hemiselulosa yang tinggi sangat menguntungkan untuk bahan dasar furfural [2].
Furfural banyak digunakan sebagai prekursor biofuel, akan tetapi pemanfaatannya sebagai
polimer organik yaitu polifuran (PFu) masih terbatas. PFu memiliki ikatan rangkap terkonjugasi dan
elektron bebas sehingga memiliki sifat konduktif. Sifat inilah yang dimanfaatkan menjadi modul sel
surya berbasis polimer organik. Contoh polimer organik yang telah dilaporkan adalah polipinol
(PPD), poliasetilen (PA), poliparafenilen (PPP), politiofen (PT), polianilin (PANI) dan
poliparafenilen (PPV) [3].
Polifuran (PFu) dapat disintesis dari furfural hasil isolasi alang-alang melalui tahap oksidasi,
dekarboksilasi dan polimerisasi furan [3], ditunjukkan pada Gambar 1. Pada tahap oksidasi melalui
reaksi Cannizarro menggunkaan katalis basa NaOH didapatkan asam furoat. Tahap dekarboksilasi
dilakukan untuk memutus ikatan karboksil dengan melepaskan gas CO2 membentuk senyawa furan.
Tahap selanjutnya adalah polimerisasi menggunakan katalis Asam lewis FeCl3 membentuk polifuran.

Gambar 1. Tahapan sintesis polifuran (PFu) dari furfural


Keunggulan sel surya dari bahan organik adalah sifatnya yang ramah lingkungan, fleksibel,
ringan, murah, dan efisien. Polimer sel surya memiliki potensi untuk diproduksi dengan biaya
yang lebih murah, proses yang lebih mudah dan dapat dikembangkan dengan substrat fleksibel,
misalnya plastik sehingga lebih ringan dan kompatibel jika dipasang di setiap tempat yang terkena
sinar matahari. Dengan demikian biaya produksi yang dibutuhkan relatif lebih murah dibandingkan
dengan silikon sel surya [4].
2.

METODE
Penelitian ini telah dilaksanakan selama 5 bulan, mulai bulan Februari-Juli 2015 di Laboratorium
Kimia Organik, Jurusan Kimia Universitas Brawijaya. Sampel alang-alang diambil dari daerah
Merjosari Malang. Bahan kimia yang digunakan berderajat kemurnian pure analysis (pa), yaitu
furfural (Sigma Aldrich), H2SO4 98% (Smart Lab), NaCl, kloroform, NaOH dan dietil eter yang
2

Masruroh, Derivatisasi Furfural dari Alang-Alang (Imperata cylindrica) Menjadi Polifuran Sebagai Modul Sel
Surya Organik

digunakan berderajat teknis. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat
destilasi, digital rotary evaporator IKA RV 10, spektrofotometer UV-Vis Shimadzu 1601,
spektrofotometer FTIR Shimadzu 8400S, digital melting point apparatus WRS-1B, Gas
Chromatography (GC) HP 5890.
Hidrolisis alang-alang (Imperata cylindrica) menjadi furfural. Serbuk alang-alang sebanyak
50 g dicampurkan dengan 250 mL larutan H2SO4 (10 %) serta ditambahkan 60 g NaCl, campuran
kemudian dihidrolisis selama 5 jam [5]. Filtrat yang didapatkan diekstraksi menggunakan
kloroform. Hasil yang diperoleh dipekatkan dengan rotary evaporator dan dialiri gas N2 sehingga
diperoleh furfural murni. Analisa furfural yang dihasilkan dari hidrolisis alang-alang dilakukan
dengan metode spektrofotometri IR, spektrofotometri UV-Vis, GC, dan KLT.
Oksidasi furfural menjadi asam furoat. Furfural sebanyak 6,2 mL didinginkan sampai suhu
58 C disertai dengan pengadukan secara konstan. Kemudian ditambah dengan 3 g NaOH
dalam 15 mL aquades deionisasi sedikit demi sedikit selama 20 menit dan direaksikan kembali
selama 2 jam. Hasil reaksi diekstrak menggunakan dietil eter (5x5 mL). Filtrat yang diperoleh
kemudian ditambah dengan H2SO4 30% hingga larutan menjadi asam dan membentuk endapan coklat
[6]. Padatan dipisahkan dengan penyaringan dan dikeringkan dalam oven sampai berat konstan.
Rekristalisasi dilakukan dengan menggunakan pelarut air. Asam furoat yang terbentuk dianalisis
menggunakan metode spektrofotometri IR dan digital melting point apparatus.
Dekarboksilasi asam furoat menjadi furan. Sebanyak 2,5 mL NaOH 10% dimasukkan ke
dalam 0,2 gram asam furoat dan kemudian direfluks selama 2 jam dengan suhu 97 C. Furan
didapatkan dengan ektraksi cair-cair menggunakan dietil eter (2x5 mL). Analisis furan dilakukan
dengan metode spektrofotometri IR untuk mengidentifikasi dilepasnya gugus karboksilat dalam
bentuk gas CO2 [7].
Polimerisasi furan menjadi polifuran. Sebanyak 10 mmol (0,68 g) furan direaksikan dengan
100 mL asetonitril (ACN) selama 15 menit di dalam ultrasonic bath. FeCl3 ditambahkan sebanyak 15
mmol (2,43 g) ke dalam larutan tersebut. Setelah penambahan FeCl3, campuran diaduk secara
konstan selama 24 jam pada suhu ruang. Hasil reaksi diendapkan, disaring, dan dicuci dengan
asetonitril (ACN) dan etanol hingga filtrat tidak berwarna. Setelah itu filtrat dikeringkan pada suhu
50 C selama 24 jam dibawah vacuum [8].
3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hidrolisis alang-alang (Imperata cylindrica) menjadi furfural. Hidrolisis alang-alang


dilakukan menggunakan katalis H2SO4 dengan metode destilasi. Mekanisme yang terjadi melalui
pemutusan polimer pentosan menjadi pentosa diikuti penataan ulang hidrida dengan melepas 3
molekul air membentuk furfural [9], ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Mekanisme reaksi pembentukan furfural [9]


3

Masruroh, Derivatisasi Furfural dari Alang-Alang (Imperata cylindrica) Menjadi Polifuran Sebagai Modul Sel
Surya Organik

Furfural yang dihasilkan berupa cairan berwarna kuning jernih dengan berat jenis 1,12 g/mL.
Proses hidrolisis alang-alang dilakukan menggunakan bagian daun dan batang secara terpisah.
Hidrolisis daun dan batang alang-alang masing-masing dilakukan sebanyak tiga kali dengan variasi
waktu penjemuran. Rendemen furfural hasil hidrolisis disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Rendemen furfural hasil hidrolisis alang-alang
Alangalang

Daun
Batang

Massa
alangalang
(g)
41,55
40,00
50
50

Waktu
penjemuran
(minggu)

Waktu
hidrolisis
(jam)

Massa
NaCl
(g)

Volume
H2SO4
(mL)

Massa
furfural
(gram)

Volume
furfural
(mL)

Rendemen
(%)

1
2
1
2

2
5
2,5
5

125
60
60
60

200
250
250
250

0,62
1,50
1,33
1,52

0,53
1,29
1,15
1,31

1,5
3,75
2,66
3,04

Berdasarkan Tabel 1, diketahui kondisi optimum untuk memperoleh rendemen furfural paling
banyak adalah dengan waktu penjemuran selama 2 minggu, volume H2SO4 10% sebanyak 250 mL
dan waktu hidrolisis selama 5 jam. Waktu penjemuran berhubungan dengan produksi metabolit
sekunder dalam suatu sampel tanaman atau bahan alam. Sedangkan jumlah katalis berpengaruh
terhadap konversi gula polimer (pentosan) menjadi gula monomer (pentosa) [10]. Hasil penelitian ini
didukung oleh laporan Setyadji (2007) yang menyatakan bahwa semakin besar jumlah H2SO4 maka
penguraian pentosan dalam alang-alang semakin sempurna sehingga hasil furfural semakin besar.
Selain itu penambahan waktu reaksi hingga 58 jam menyebabkan kontak antara zat-zat yang
bereaksi (sanyawa pentosan dengan asam sulfat) lebih lama sehingga waktu untuk menguraikan gula
polimer (pentosan) menjadi gula monomer (pentosa) terjadi secara optimum [11].
Karakterisasi furfural hasil isolasi delakukan dengan kromotografi lapis tipis (KLT),
spektrofotometeri UV-Vis, spektrofotometri FTIR, dan gas chromatography (GC). Analisis dengan
KLT dilakukan untuk waktu retensi (Rf) senyawa hasil isolasi, dibandingankan dengan senyawa
furfural standar. Apabila nilai Rf kedua senyawa sama, dapat diindikasikan senyawa yang dihasilkan
adalah furfural dengan derajat kemurnian yang tinggi. Nilai Rf furfural standar dan hasil isolasi
ditunjukkan pada Tabel 2. Nilai Rf furfural dari daun maupun batang adalah 0,320,47; sedangkan
furfural standart juga menunjukkan Rf yang sama. Hal ini mengindikasikan senyawa yang dihasilkan
dari hidrolisis alang-alang adalah furfural.
Tabel 2. Nilai Rf furfural hasil isolasi dan furfural standar
Bagian daun
Bagian batang
Hidrolisis keFurfural
Furfural
Furfural
Furfural
standar
hidrolisis
standar
hidrolisis
1
0,325
0,3625
0,3375
0,331
2
0,475
0,469
0,325
0,3375
3
0,331
0,3375
0,35
0,3375
Analisis selanjutnya dilakukan dengan spektrofotometer UV-Visible Shimadzu 1601. Penelitian
yang dilaporkan oleh Mitarlis [12] menyatakan bahwa furfural memiliki bilangan gelombang
maksimum (max) sebesar 276 nm. Hasil pengukuran UV-Vis pada sampel furfural menggunakan
pelarut metanol menunjukkan nilai max = 271 nm dan max furfural murni = 271,5 nm. Kesamaan

Masruroh, Derivatisasi Furfural dari Alang-Alang (Imperata cylindrica) Menjadi Polifuran Sebagai Modul Sel
Surya Organik

nilai max sampel furfural dengan senyawa standar dapat dijadikan acuan bahwa kemurnian furfural
yang dihasilkan tinggi.
Analisis kadar kemurnian furfural hasil isolasi dilakukan menggunakan Gas Chromatography
(GC) HP 5890 dalam pelarut etanol. Hasil analisis menggunkaan kolom HP5MS menunjukkan bahwa
waktu retensi furfural adalah 13,67 menit. Kemurnian furfural dari hasil isolasi bagian daun adalah
92,50% dan pada batang sebesar 91,75%. Penelitian sebelumnya belum ada yang mengisolasi furfural
secara terpisah antara bagian daun dan batang.
Oksidasi furfural menjadi asam furoat. Reaksi oksidasi dilakukan dengan reaksi Canizzarro
menggunakan katalis basa NaOH (Gambar 3). Pada tahap ini dihasilkan asam furoat dan furfural
alkohol sebagai hasil samping. Pemisahan kedua senyawa ini dilakukan dengan ekstraksi cair-cair
menggunakan dietil eter. Asam furoat diendapkan menggunakan larutan H2SO4 30% dan
direkristalisasi untuk pemurnian. Asam furoat yang diperoleh berupa kristal berbentuk jarum,
berwarna putih dengan rendemen sebesar 14,39%. Analisa titik lebur dilakukan dengan digital
melting point apparatus dan dibandingkan dengan asam furoat murni. Asam furoat yang dihasilkan
dari penelitian mempunyai titik lebur sebesar 129,8129,9 C. Hal ini sesuai dengan data yang
terdapat pada material safety data sheet [13], bahwa asam furoat murni memiliki titik lebur sebesar
128,5133,0 C. Dari analisis ini diketahui bahwa asam furoat hasil sintesis memiliki kemurnian yang
cukup tinggi.

Gambar 3. Sintesis asam furoat dari furfural


Analisis gugus fungsi pada asam furoat dilakukan dengan spektrofotometer FT-IR. Spektrum FTIR secara detail dapat dilihat pada Gambar 5. Gugus fungsi utama yang dapat diidentifikasi adalah
munculnya serapan karboksil yang melebar pada daerah 3143 cm-1 dan gugus karbonil pada asam
yang berada pada daerah 1685 cm-1. Serapan khas aldehida berupa serapan kembar fermi doublet
pada daerah 2850 dan 2812 cm-1 tidak terdeteksi. Hal ini menunjukkan bahwa furfural sudah
terkonversi menjadi asam furoat.
Dekarboksilasi asam furoat menjadi furan. Reaksi dekarboksilasi dilakukan dengan
mereaksikan NaOH dan asam furoat disertai pemanasan selama 2 jam. Gugus karboksil akan terlepas
sebagai gas CO2 dan dihasilkan furan (Gambar 4). Produk yang didapatkan dari reaksi ini berupa
cairan berwarna oranye kecoklatan dengan rendemen sebesar 50,0%.

Gambar 4. Sintesis furan dari asam furoat


Analisis menggunakan FT-IR menunjukkan bahwa tidak ditemukan serapan melebar gugus
karboksil. Karakteristik serapan CH aromatis pada furan diidentifikasi pada 3122 cm-1. Selain itu
serapan yang muncul pada 1576 cm-1 dan 1261 cm-1 menunjukkan adanya cincin furan dan COC
eter dalam furan [14]. Spektrum dari furan secara detail ditunjukkan pada Gambar 5.
5

Masruroh, Derivatisasi Furfural dari Alang-Alang (Imperata cylindrica) Menjadi Polifuran Sebagai Modul Sel
Surya Organik

Polimerisasi furan menjadi polifuran. Proses polimerisasi dilakukan dengan mereaksikan


furan dengan asetonotril (ACN). Reaksi ini dikatalis oleh asam Lewis FeCl3 dan direaksikan selama
24 jam. Polifuran (PFu) yang dihasilkan akan dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer FT-IR
(Gambar 5). FT-IR pada polifuran memiliki 4 karakteristik ikatan yaitu adanya 2,5-disubtitusi furan
yang ditunjukkan oleh munculnya vibrasi CH out-of-plane pada bilangan gelombang 734 cm-1;
regangan COC pada 1012 cm-1; regangan C=C dalam cincin furan pada 1624 cm-1; dan regangan
pada CH aromatik pada 3112 cm-1 [14]. Hasil analisis ini menunjukkan terbentuknya polifuran
(PFu).

2
6

2
6

5
4

Gambar 5. Spektra FT-IR senyawa hasil sintesis


Tabel 3. Data gugus fungsi senyawa hasil sintesis
Asam Furoat
Polifuran
Furan (cm-1)
(cm-1)
(cm-1)
3143,75
-

Gugus Fungsi
(cm-1)
O - H Karboksilat

No

Furfural (cm-1)

3122,54

3112

2848,67 dan
2812,02
1778,25

C H Aromatik
Fermi doublet
C-H Aldehid
C = O Aldehid

1685,67

C O Karbonil

1276,79

1236,29

1261,36

1012

C O Eter

Masruroh, Derivatisasi Furfural dari Alang-Alang (Imperata cylindrica) Menjadi Polifuran Sebagai Modul Sel
Surya Organik

4. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa senyawa


polifuran dapat disintesis dari furfural melalui empat tahapan, yaitu hidrolisis, oksidasi,
dekarboksilasi, dan polimerisasi. Hidrolisis alang-alang menghasilkan furfural sebesar 3,75%.
Selanjutnya reaksi oksidasi furfural menghasilkan asam furoat dengan rendemen 14,6%.
Reaksi dekarboksilasi menghasilkan furan dengan rendemen 50%. Reaksi polimerisasi
membentuk polifuran ditandai dengan munculnya serapan FT-IR pada 734 cm-1 yang
menunjukkan vibrasi dari CH out-of-plane. Polifuran inilah yang selanjutnya dapat
digunakan sebagai polimer alternatif pengganti amorphous silicon solar cell.
5.

UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kami tujukan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) sebagai pihak
yang memberikan dana penelitian. Dr. Sc. Siti Mariyah Ulfa, M.Sc, yang telah membimbing dan
berdiskusi terkait metode dan karakterisasi produk hasil hidrolisis, oksidasi, dekarboksilasi, dan
polimerisasi furan menjadi polifuran (PFu).
6. REFERENSI
[1] Malinowski, A., dan Wardziska, D. 2012. Catalytic conversion of furfural towards fuel
biocomponents. CHEMIK. 66: 982-990.
[2] Sutiya, B. 2012. Kandungan Kimia dan Sifat Serat Alang-alang (Imperata cylindrica) Sebagai
Gambaran Bahan Baku Pulp dan Kertas. Bioscientiae. 9 (1): 8-19.
[3] Safriani L, Yayah Y, Tuti A. 2003. Pengaruh
Doping Asam Protonik Terhadap
Kondulctivitas
dan Transparansi
Polianilin. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas
Padjajaran.
[4] Pratiwi ZR. 2013. Pengaruh Suhu Lapisan Aktif Polimer P3HT: PCBM Terhadap Unjuk Kerja Sel
Surya Polimer yang Ditumbuhkan di Atas Substrat Gelas. Perpustakaan.upi.edu. Diakses tanggal
07 Agustus 2014.
[5] Andaka, G. 2011. Hidrolisisi Ampas Tebu dengan Katalisator Asam Sulfat. Jurusan teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri. Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
[6] Furniss, B.S., Hannaford, A.J., Smith, P.W.G, and Tatchell, A.R. 1989. Textbook of Practical
Organic Chemistry Fifth Edition. John Wiley & Sons, Inc. New York
[7] Wilson, W.C. 1941. Furan. Coll. Vol. 1:274
[8] Gandini, A. and Mohamed, N.B. 1997. Furans in Polymer Chemistry. Elsevier Science Ltd.
France.
[9] Juwita, R., Syarif, L. R., dan Tuhuloula, A. 2012. Pengaruh Jenis Dan Konsentrasi Katalisator
Asam Terhadap Sintesis Furfural Dari Sekam Padi. Konversi, 1 (1): 34-38.
[10] Gauru, I. 2002. Produksi Furfural Dari Kulit Kacang Tanah Ditinjau Dari H2SO4 Dan Substrat,
Berbagai Konsentrasi H2SO4 Serta Lama Waktu Pemanasan. Jurusan Kimia Fakultas Sains Dan
Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
[11] Setyadji, M. 2007. Hidrolisis Pentosan Menjadi Furfural Dengan Katalisator Asam Sulfat Untuk
Meningkatkan Kualitas Bahan Bakar Mesin Diesel. Prosiding PPI PDIPTN, Batan
Yogyakarta.
[12] Mitarlis, I. dan Tukiran. 2011. Pengembangan Metode Sintesis Furfural Berbahan Dasar
Campuran Limbah Pertanian Dalam Rangka Mewujudkan Prinsip Green Chemistry. Jurnal
Manusia dan Lingkungan. 18 (3): 191-199
[13] Material Safety Data Sheet: 2-Furoic Acid MSDS
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9924109. Diakses tanggal 08 Mei 2015.
[14] Sen, S., Bardak, B., Yavuz, A.G., and Gk, A.U. 2008. Polyfuran/zeolite LTA composites and
adsorption properties. Furans in Polymer Chemistry. 44: 27082717.