Anda di halaman 1dari 34

HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Praktikum

: Hidrodinamika Reaktor

2. Kelompok

: 1. Nayunda Bella Mahardini (21030114120022)


2. Ahmad Dzulfikar Fauzi

(21030114120030)

3. Wahyu Satyo Triadi

(21030114130126)

Telah disahkan pada :


Hari

Tanggal

Semarang, Maret 2016


Telah menyetujui,
Dosen Pengampu

Asisten
Proses Kimia

Luqman Buchori, S.T., M.T.


NIP. 19710501 1997021 001

Roynaldy Daud
NIM. 210301131

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT berkat rahmat dan
hidayah-Nya

sehingga

penyusun

dapat

menyelesaikan

proposal

praktikum

laboratorium Proses Kimia. Proposal ini disusun sebagai kelengkapan salah satu
syarat Praktikum Proses Kimia. Proposal Proses Kimia ini berisi materi
Hidrodinamika Reaktor
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada
1. Bapak Luqman Buchori, S.T., M.T. selaku dosen pengampu materi
Hidrodinamika Reaktor dalam Laboratorium Proses Kimia
2. Asisten Laboratorium Proses Kimia Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro Semarang Tahun 2016.
Penyusun menyadari pasti ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Maka dari
itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penyusun harapkan.

Semarang,

Maret 2016
Ttd

Penyusun

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tipe Reaktor Air-lift

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Hidrodinamika Reakto

11

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.3 Pengaruh Konsentrasi terhadap KLa

Grafik 4.4 Hubungan waktu terhadap KLa

INTISARI
Hidrodinamika reaktor merupakan ilmu yang mempelajari kelakuan dinamis
cairan dalam reaktor. Faktor yang mempengaruhi ialah hold up gas dan laju sirkulasi.
Kecepatan sirkulasi cairan sangat dipengaruhi oleh hold up gas sedangkan hold up
gas dipengaruhi oleh turbulensi Perpindahan massa terjadi karena adanya beda
konsentrasi dan ditentukan dengan koefisien perpindahan massa gas-cair volumetrik.
Metode perpindahan massa antara lain OTR-cd, dinamik, serapan kimia, kimia OTRcol, dan sulfit.
Reaktor merupakan alat utama pada industri yang digunakan untuk proses
kimia yaitu mengubah bahan baku menjadi produk. Reaktor dibagi berdasarkan cara
operasi, fase dan geometrinya. Salah satu reaktor fase hetergen adalah reaktor air-lift.
Tujuan dari praktikum hidrodinamika reaktor adalah menghitung hold up gas, laju
sikulasi dan koefisien massa gas-cair dari variabel perbedaan konsentras Na2SO3.
Pada praktikum ini, variabel berubah yaitu konsentrasi Na2SO3 yaitu 0,05 N,
0,06 N dan 0,07 N. Variabel tetap pada praktikum ini yaitu tinggi cairan setinggi 90
cm, konsentrasi natrium tiosulfat (Na2S2O3.5H2O) sebesar 0,1 N, panjang lintasan
sepanjang 30 cm, dan waktu berulang setiap 5 menit. Prosedur yang dilakukan yaitu
menentukan hold up gas pada riser dan downcomer, menentukan kecepatan sirkulasi
dan menentukan koefisien transfer massa gas-cair.
Hasil percobaan menunjukkan nilai hold up gas riser semakin naik, namun
pada downcomer semakin menurun, pada percobaan laju sirkulasi seiring
bertambahnya konsentrasi bertambah pula laju sirkulasi, pada percobaan menghitung
Kla, semakin besar konsentrasi, semakin naik pula Kla rata-rata.
Agar praktikum hidrodinamika reactor dapat berjalan lancer, perlu
diperhatikan beberapa saran seperti Biarkan kompresor tetap menyala tiap melakukan
percobaan tiap variable, perhatikan secara detail waktu ketika zat warna diteteskan
dalam downcomer, pembuatan amilum harus sesuai dengan prosedur karena amilum
menjadi indikator dalam analisis titrasi, pengamatan tinggi inverted manometer harus
teliti, laju alir gas harus selalu diperhatikan agar tidak berubah-ubah selama proses,
dan titrasi harus dilakukan dengan teliti hingga mencapai warna titik akhir titrasi.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Reaktor merupakan alat utama pada industri yang digunakan untuk
proses kimia yaitu untuk mengubah bahan baku menjadi produk. Reaktor dapat
diklasifikasikan atas dasar cara operasi, geometrinya, dan fase reaksinya.
Berdasarkan cara operasinya dikenal reaktor batch, semi batch, dan kontinyu.
Jika ditinjau dari geometrinya dibedakan menjadi reaktor tangki berpengaduk,
reaktor kolom, reaktor fluidisasi. Sedangkan bila ditinjau berdasarkan fase
reaksi yang terjadi didalamnya, reaktor diklasifikasikan menjadi reaktor
homogen dan reaktor heterogen
Reaktor heterogen adalah reaktor yang digunakan untuk mereaksikan
komponen yang terdiri dari minimal 2 fase, seperti fase gas-cair. Reaktor yang
digunakan untuk kontak fase gas-cair, diantaranya dikenal reaktor kolom
gelembung (bubble column reaktor) dan reaktor air-lift. Reaktor jenis ini
banyak digunakan pada proses industri kimia dengan reaksi yang sangat
lambat, proses produksi yang menggunakan mikroba (bioreaktor) dan juga
pada unit pengolahan limbah secara biologis menggunakan lumpur aktif.
Pada perancangan reaktor pengetahuan kinetika reaksi harus dipelajari
secara komprehensif dengan peristiwa-peristiwa perpindahan massa, panas dan
momentum untuk mengoptimalkan kinerja reaktor. Fenomena hidrodinamika
yang meliputi hold up gas dan cairan, laju sirkulasi merupakan faktor yang
penting yang berkaitan dengan laju perpindahan massa. Pada percobaan ini
akan mempelajari hidrodinamika pada reaktor air-lift, terutama berkaitan
dengan pengaruh laju alir udara, viskositas, dan densitas terhadap hold up, laju
sirkulasi dan koefisien perpindahan massa gas-cair pada sistem sequantial
batch.

1.2.

Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :

1. Menentukan pengaruh konsentrasi terhadap hold-up gas ()


2. Menentukan pengaruh konsentrasi terhadap laju sirkulasi (VL)
3. Menentukan pengaruh konsentrasi terhadap koefisien transfer massa gas-cair (KLa)
4. Menentukan hubungan koefisien transfer massa gas-cair (KLa) terhadap waktu

1.3.

Manfaat Percobaan

1. Mahasiswa dapat menentukan pengaruh konsentrasi terhadap hold up gas ()


2. Mahasiswa dapat menentukan pengaruh konsentrasi terhadap laju sirkulasi (VL)
3. Mahasiswa dapat menentukan pengaruh konsentrasi terhadap koefisien transfer massa
gas-cair (KLa)
4. Mahasiswa dapat menentukan hubungan koefisien transfer massa gas-cair

(K La)

terhadap waktu
5. Mahasiswa dapat mengetahui peran hidrodinamika reaktor pada industri kimia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Reaktor Kolom Gelembung dan Air-Lift


Reaktor adalah suatu alat tempat terjadinya suatu reaksi kimia untuk
mengubah suatu bahan menjadi bahan lain yang mempunyai nilai ekonomis
lebih tinggi. Reaktor Air-lift adalah reaktor yang berbentuk kolom dengan
sirkulasi aliran. Kolom berisi cairan atau slurry yang terbagi menjadi 2 bagian
yaitu raiser dan downcomer. Raiser adalah bagian kolom yang selalu
disemprotkan gas dan mempunyai aliran ke atas. Sedangkan downcomer
adalah daerah yang tidak disemprotkan gas dan mempunyai aliran ke bawah.
Pada zona downcomer atau riser memungkinkan terdapat plate penyaringan
pada dinding, terdapat satu atau dua buah baffle. Jadi banyak sekali
kemungkinan bentuk reaktor dengan keuntungan penggunaan dan tujuan yang
berbeda-beda (Widayat,2004).
Secara umum reaktor air-lift dikelompokkan menjadi 2, yaitu reaktor
airlift dengan internal loop dan eksternal loop (Christi, 1988; William, 2002).
Reaktor air-lift dengan internal loop merupakan kolom bergelembung yang
dibagi menjadi 2 bagian, riser dan downcomer dengan internal baffle dimana
bagian atas dan bawah raiser dan downcomer terhubung. Reaktor air-lift
dengan eksternal loop merupakan kolom bergelembung dimana riser dan
downcomer merupakan 2 tabung yang terpisah dan dihubungkan secara
horizontal antara bagian atas dan bawah reaktor. Selain itu reaktor air-lift juga
dikelompokkan berdasarkan sparger yang dipakai, yaitu statis dan dinamis.
Pada reaktor air lift dengan sparger dinamis, sparger ditempatkan pada riser
dan atau downcomer yang dapat diubahubah letaknya ( Christi, 1989., dan
William,2002)
Secara teoritis reaktor air-lift digunakan untuk beberapa proses kontak
gascairan atau slurry. Reaktor ini sering digunakan untuk beberapa fermentasi
aerob, pengolahan limbah, dan operasi-operasi sejenis.

Internal Loop

Eksternal Loop
Gambar 2.1 Tipe Reaktor Air-lift

Keuntungan penggunaan reaktor air-lift dibanding reaktor konvensional


lainnya, diantaranya :
1. Perancangannya sederhana, tanpa ada bagian yang bergerak
2. Aliran dan pengadukan mudah dikendalikan
3. Waktu tinggal dalam reaktor seragam
4. Kontak area lebih luas dengan input yang rendah
5. Meningkatkan perpindahan massa
6. Memungkinkan tangki yang besar sehingga meningkatkan produk

Kelemahan rekator air lift antara lain :


1. Biaya investasi awal mahal terutama skala besar
2. Membutuhkan tekanan tinggi untuk skala proses yang besar
3. Efisiensi kompresi gas rendah
4. Pemisahan gas dan cairan tidak efisien karena timbul busa (foamin
Dalam aplikasi reaktor air-lift terdapat 2 hal yang mendasari mekanisme kerja
dari reaktor tersebut, yaitu hidrodinamika dan transfer gas-cair.
2.2.

Hidrodinamika Reaktor
Di dalam perancangan bioreaktor, faktor yang sangat berpengaruh
adalah hidrodinamika reaktor, transfer massa gas-cair, rheologi proses dan
morfologi produktifitas organisme. Hidrodinamika reaktor mempelajari
perubahan dinamika cairan dalam reaktor sebagai akibat laju alir yang masuk
reaktor dan karakterisik cairannya. Hidrodinamika reaktor meliputi hold up gas
(fraksi gas saat penghamburan) dan laju sirkulasi cairan. Kecepatan sirkulasi
5

cairan dikontrol oleh hold up gas, sedangkan hold up gas dipengaruhi oleh
kecepatan kenaikan gelembung. Sirkulasi juga mempengaruhi turbulensi,
koefisien perpindahan massa dan panas serta tenaga yang dihasilkan.
Hold up gas atau fraksi kekosongan gas adalah fraksi volume fase gas
pada disperse gas-cair atau slurry. Hold up gas keseluruhan ().

...(1)
dimana :

= hold up gas
V = volume gas (cc/s)
VL = volume cairan (cc/s)

Hold up gas digunakan untuk menentukan waktu tinggal gas dalam


cairan. Hold up gas dan ukuran gelembung mempengaruhi luas permukaan gas
cair yang diperlukan untuk perpindahan massa. Hold up gas tergantung pada
kecepatan kenaikan gelembung, luas gelembung dan pola aliran. Inverted
manometer adalah manometer yang digunakan untuk mengetahui beda tinggi
cairan akibat aliran gas, yang selanjutnya dipakai pada perhitungan hold up gas
() pada riser dan downcomer. Besarnya hold up gas pada riser dan
downcomer dapat dihitung dengan persamaan :

...(2)
. ..(3)
...(4)

dimana :

= hold up gas

r = hold up gas riser


d = hold up gas downcomer
L

= densitas cairan (gr/cc)

= densitas gas (gr/cc)

hr = perbedaan tinggi manometer riser (cm)


hd = perbedaan tinggi manometer downcomer (cm)
Z

= perbedaan antara taps tekanan (cm)

Hold up gas total dalam reaktor dapat dihitung dari keadaan tinggi
dispersi pada saat aliran gas masuk reaktor sudah mencapai keadaan tunak
(steady state).
Persamaan untuk menghitung hol up gas total adalah sebagai berikut :

....(5)
dimana :

= hold up gas
ho = tinggi campuran gas setelah kondisi tunak (cm)
hi = tinggi cairan mula-mula dalam reaktor (cm)

Hubungan antara hold up gas riser ( r) dan donwcomer ( d) dapat


dinyatakan dengan persamaan 6 :
....(6)
dimana :

Ar = luas bidang zona riser (cm2)


Ad = luas bidang zona downcomer (cm2)

Sirkulasi cairan dalam reaktor air lift disebabkan oleh perbedaan hold
up gas riser dan downcomer. Sirkulasi fluida ini dapat dilihat dari perubahan
fluida, yaitu naiknya aliran fluida pada riser dan menurunnya aliran pada
downcomer. Besarnya laju sirkulasi cairan pada downcomer (ULd)
ditunjukkan oleh persamaan 7 dan laju sirkulasi cairan pada riser ditunjukan
oleh persamaan 8 :
....(7)
dimana :
Uld = laju sirkulasi cairan pada downcomer (cm/s)
Lc = panjang lintasan dalam reaktor (cm)
tc

= waktu (s)

Dikarenakan tinggi dan volumetric aliran liquid pada raiser dan


downcomer sama, maka hubungan antara laju aliran cairan pada riser dan
downcomer yaitu:
Ulr.Ar = Uld.Ad
dimana :

....(8)

Ulr = laju sirkulasi cairan riser (cm/s)


Uld = laju sirkulasi cairan downcomer (cm/s)
Ar

= luas bidang zona riser (cm2)

Ad = luas bidang zona downcomer (cm2)

Waktu tinggal tld dan tlr dari sirkulasi liquid pada downcomer dan riser
tergantung pada hold up gas seperti ditunjukan pada persamaan berikut :

.(9)
dimana :
tlr

= waktu tinggal sirkulasi liquid pada riser (s)

tld = waktu tinggal sirkulasi liquid pada downcomer (s)


Ar

= luas bidang zona riser (cm2)

Ad = luas bidang zona downcomer (cm2)

2.3.

= hold up gas riser

= hold up gas downcomer

Perpindahan Massa
Perpindahan massa antar fase gas-cair terjadi karena adanya beda
konsentrasi antara kedua fase. Perpindahan massa yang terjadi yaitu oksigen
dari fase gas ke fase cair. Kecepatan perpindahan massa ini dapat ditentukan
dengan koefisien perpindahan massa.
Koefisien perpindahan masssa volumetric (KLa) adalah kecepatan
spesifik dari perpindahan massa (gas teradsobsi per unit waktu, per unit luas
kontak, per beda konsentrasi). KLa tergantung pada sifat fisik dari sistem dan
dinamika fluida. Terdapat 2 istilah tentang koefisien transfer massa volumetric,
yaitu:

1. Koefisien transfer massa KLa, dimana tergantung pada sifat fisik dari cairan dan
dinamika fluida yang dekat dengan permukaan cairan. 2.
2. Luas dari gelembung per unit volum dari reaktor
Ketergantungan KLa pada energi masuk adalah kecil, dimana luas
kontak adalah fungsi dari sifat fisik design geometri dan hidrodinamika. Luas
kontak adalah parameter gelembung yang tidak bisa ditetapkan. Di sisi lain
koefisien transfer massa pada kenyataannya merupakan faktor yang
proposional antara fluks massa dan substrat (atau bahan kimia yang ditransfer),
Ns, dan gradient yang mempengaruhi fenomena beda konsentrasi. Hal ini
dapat dirumuskan dengan persamaan 11 :

N = KLa (C1-C2)

....(11)

dimana :

= fluks massa

KLa = koefisien transfer massa gas-cair (1/detik)


C1

= konsentrasi O2 masuk (gr/L)

C2

= konsentasi O2 keluar (gr/L)

Untuk perpindahan massa oksigen ke dalam cairan dapat dirumuskan


sebagai kinetika proses, seperti di dalam persamaan 10 :
....(12)
dimana:

C = konsentrasi udara (gr/L)

Koefisien perpindahan gas-cair merupakan fungsi dari laju alir udara


atau kecepatan superfitial gas, viskositas, dan luas area riser dan
downcomer/geometric alat.
Pengukuran konstanta perpindahan massa gas-cair dapat dilakukan
dengan metode sebagai berikut :
1. Metode OTR-Cd
Dasar dari metode ini adalah persamaan perpindahan massa (persamaan
12) semua variabel kecuali K0A dapat terukur. Ini berarti bahwa dapat
digunakan dalam sistem kebutuhan oksigen, konsentrasi oksigen dari fase gas
yang masuk dan meninggalkan bioreaktor dapat dianalisa.
2. Metode Dinamik
Metode ini berdasarkan pengukuran C0i dari cairan, deoksigenasi
sebagai fungsi waktu, setelah aliran udara masuk. Deoksigenasi dapat
diperoleh dengan mengalirkan oksigen melalui cairan atau menghentikan
aliran udara, dalam hal ini kebutuhan oksigen dalam fermentasi.
3. Metode Serapan Kimia
Metode ini berdasarkan reaksi kimia dari absorbsi gas (O 2, CO2) dengan
penambahan bahan kimia pada fase cair (Na2SO3, KOH). Reaksi ini sering
digunakan pada reaksi bagian dimana konsentrasi bulk cairan dalam komponen
gas = 0 dan absorpsi dapat mempertinggi perpindahan kimia.
4. Metode Kimia OTR-C0i
Metode ini pada dasarnya sama dengan metode OTR-Cd. Namun,
seperti diketahui beberapa sulfit secara terus-menerus ditambahkan pada cairan

selama kondisi reaksi tetap dijaga pada daerah dimana nilai C 0i dapat
diketahui. C0i dapat diukur dari penambahan sulfit. Juga reaksi konsumsi
oksigen yang lain dapat digunakan.
5. Metode Sulfit
Metode ini berdasarkan pada reaksi reduksi natrium sulfit. Mekanisme
yang terjadi : Reaksi dalam reaktor :
Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3(sisa)
Reaksi saat analisa :
Na2SO3(sisa) + KI + KIO3 Na2SO4 + 2KIO2 + I2(sisa)
I2 (sisa) + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI Mol
Na2SO3 mula-mula (a)

Mol I2 excess (b)

reaksi
Mol Na2SO3 sisa (c)

Mol O2 yang bereaksi (d)

O2 yang masuk reaktor (e)

Koefisien transfer massa gas-cair (KLa)


KLa

2.4.

Kegunaan Hidrodinamika Reaktor dalam Industri


Berikut ini beberapa proses yang dasar dalam perancangan dan
operasinya menggunakan prinsip hidrodinamika reaktor :

1. Bubble Column Reactor


Contoh aplikasi bubble column reactor antara lain :

10

a. Absorbsi polutan dengan zat tertentu (misal CO2 dengan KOH)


b. Untuk bioreactor
2. Air-lift Reactor
Contoh aplikasi air-lift reactor antara lain :
a. Proses produksi laktase (enzim lignin analitik yang dapat mendegradasi lignin) dengan
mikroba
b. Proses produksi glukan (polisakarida yang tersusun dari monomer glukosa dengan
ikatan 1,3 yang digunakan sebagai bahan baku obat kanker dan tumor) menggunakan
mikroba
c. Water treatment pada pengolahan air minum
d. Pengolahan limbah biologis.

11

BAB III
PELAKSANAAN PERCOBAAN
3.1.

Bahan dan Alat yang Digunakanan


3.1.1. Bahan yang digunakan

Na2S2O3.5H2O 0,1 N
KI 0,1 N
Na2SO3 235 gram
Larutan amylum
Zat Warna
Aquadest
3.1.2. Alat yang digunakan
Buret, statif, klem

Sparger

Gelas arloji

Pipet tetes

Beaker glass

Tangki cairan

Rotameter

Kompresor

Erlenmeyer

Reaktor

Inverted manometer

Sendok reagen

Gelas ukur

Picnometer

12

3.2.

ar Alat

Gamb

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Hidrodinamika Reaktor

Keterangan :

A. Kompresor

F. Reaktor

B. Sparger

G. Inverted manometer

C. Rotameter daerah riser

H. Inverted manometer

D. Tangki Cairan daerah downcomer

E. Pompa

3.3.

Variabel Operasi

a. Variabel tetap
b. Variabel berubah

Respon Uji Hasil

a. Tinggi riser dan downcomer


b. Volume titran Na2S2O3.5H2O
c. Densitas cairan
d. Kecepatan sirkulasi

13

3.4.

Prosedur percobaan

1. Menentukan hold-up pada riser dan downcomer


a. Mengisi reaktor dengan air dan menghidupkan pompa, setelah reaktor terisi air 90 cm
maka pompa dimatikan.
b. Menambahkan Na2SO3 0,05N

ke dalam reaktor, ditunggu 5 menit agar larutan

Na2SO3 larut dalam air.


c. Melihat ketinggian inverted manometer.
d. Hidupkan kompressor kemudian melihat ketinggian inverted manometer setelah
kompresor dihidupkan. Ambil sampel untuk titrasi dan menghitung densitasnya.
e. Menghitung besarnya hold up gas.
f. Ulangi untuk variable 0,06 N dan 0,07N

2. Menentukan konstanta perpindahan massa gas-cair


a. Mengambil sampel sebanyak 10 ml.
b. Menambahkan KI sebanyak 5 ml ke dalam sampel.
c. Menitrasi dengan Na2SO3.5H2O 0,1N sampai terjadi perubahan warna dari coklat tua
menjadi kuning jernih.
d. Menambahkan 3 tetes amilum.
e. Menitrasi sampel kembali dengan larutan Na2SO3.5H2O 0,1 N.
f. TAT didapat setelah warna putih keruh.
g. Mencatat kebutuhan titran.
h. Ulangi sampai volume titran tiap 5 menit konstan.
3. Menentukan kecepatan sirkulasi
a. Merangkai alat yang digunakan.
b. Mengisi reaktor dengan air dan Na2SO3 0,05 N.
c. Menghidupkan kompresor.
d. Memasukkan zat warna pada reaktor downcomer.
e. Mengukur waktu yang dibutuhkan oleh cairan dengan indikator zat warna tertentu
untuk mencapai lintasan yang telah digunakan.

14

f. Menghitung besarnya kecepatan sirkulasi.


g. Ulangi untuk Na2SO3 0,06 N dan 0,07 N
h.

15

BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh Konsentrasi Na2SO3 terhadap Hold up Gas ()

0.01
0.01
0.01
0.01
0.01
0.01
0.01
0.01
0
0.04

0.05

0.05
Riser

0.06

0.06

downcomer

0.07

0.07

0.08

total

Gambar 4.1 Hubungan konsentrasi Na2SO3 terhadap


hold up gas ()

Berdasarkan hasil percobaan yang ditunjukkan pada Gambar 4.1 dapat


dilihat bahwa hold up gas ada yang meningkat dan ada yang menurun
seiring dengan meningkatnya konsentrasi Na2SO3. Pada riser,
diperoleh hold up gas yang meningkat dari konsentrasi Na2SO3 0,05 N
sebesar 0,00626, menjadi 0,00876 pada konsentrasi Na 2SO3 0,06 N
dan kemudian konstan menjadi 0,00876 pada konsentrasi Na2SO3 0,07
N. Pada raiser mengalami kenaikan nilai hold up dari konsentrasi
16

Na2SO3 0,05 N hingga konsentrasi Na2SO3 0,07 N. Hal ini dapat


disebabkan oleh semakin besar konsentrasi Na2SO3, maka akan
semakin besar pula densitas cairan dalam reaktor, sesuai dengan
rumus normalitas dan densitas larutan Na2SO3 sebagai berikut :

N=

massa 1000
x
BM
V reaktor
L =

x valensi

massa
V

16

Dari hubungan dalam rumus tersebut, dapat dilihat apabila konsentrasi

Na2SO3 diperbesar, maka massa Na2SO3 yang dibutuhkan juga semakin besar. Massa
berbanding lurus dengan densitas, sehingga massa Na2SO3 yang semakin besar akan
menyebabkan densitas Na2SO3 juga semakin besar. Dengan semakin besarnya
densitas maka hold up gas juga akan meningkat pula sesuai dengan persamaan
hubungan antara hold up gas dengan densitas larutan sebagai berikut :

L
h
x
L g z

dengan = hold up gas, L = densitas cairan (g/ml), g = densitas gas


(gr/ml), dan z = perbedaan antara taps tekanan (cm), sehingga dari
hasil percobaan dapat dilihat bahwa hold up gas () berbanding lurus
dengan densitas cairan.

Pada downcomer, diperoleh hold up gas yang menurun


dari konsentrasi Na2SO3 0,05 N sebesar 0,01126, menjadi 0,00751
pada konsentrasi Na2SO3 0,06 N dan naik menjadi 0,00626 pada
konsentrasi Na2SO3 0,07 N. Pada downcomer mengalami penurunan
nilai hold up dari konsentrasi Na2SO3 0,05 N hingga konsentrasi
Na2SO3 0,07 N. Penurunan nilai gas hold-up pada peningkatan laju
cairan pada laju gas yang konstan dikarenakan pada peningkatan laju
cairan, energi kinetik yang dibawa oleh cairan yang keluar nosel
sangat besar, sehingga meningkatkan laju geser cairan terhadap
dinding leher ejektor. Peningkatan laju cairan menjadikan selimut jet
semakin mudah rusak oleh adanya peningkatan laju geser, sehingga
penahanan gas oleh selimut jet cenderung semakin sulit dilakukan
karena waktu tinggal gas di dalam cairan semakin sebentar, sehingga
menurunkan nilai gas hold-up (Mandal et.al, 2005).

17

4.2 Pengaruh Konsentrasi Na2SO3 terhadap Laju Sirkulasi

Gambar 4.2 Hubungan konsentrasi Na2SO3 terhadap laju sirkulasi


Berdasarkan hasil percobaan yang ditunjukkan pada Gambar 4.2 dapat

diamati bahwa semakin besar konsentrasi Na2SO3, maka laju sirkulasi semakin cepat.
Pada konsentrasi Na2SO3 0,05 N, waktu yang dibutuhkan untuk zat pewarna mengalir
dengan panjang lintasan (Lc) sepanjang 30 cm di bagian downcomer yaitu sebesar 3

sekon kemudian menurun menjadi 2 sekon pada konsentrasi Na 2SO3 0,006 N

dan semakin menurun menjadi 1,1 sekon pada konsentrasi Na2SO3 0,007 N. Dengan

17

waktu yang semakin cepat, maka laju sirkulasi semakin besar sesuai dengan
persamaan yang menyatakan waktu berbanding terbalik dengan laju sirkulasi sebagai
berikut :

Uld =

Lc
tc

dengan Uld = laju sirkulasi downcomer, Lc = jarak lintasan, dan t c =


waktu yang dibutuhkan.

Hal

ini berlawanan dengan teori yang ada, karena kenaikan

konsentrasi Na2SO3 menyebabkan viskositas cairan meningkat. Peningkatan


viskositas akibat naiknya konsentrasi Na 2SO3 akan menyebabkan menurunnya
laju sirkulasi cairan dan penurunannya merupakan penurunan yang linier. Hal
ini bisa dijelaskan dengan naiknya viskositas akan menaikkan hambatan
terhadap aliran fluida. Gaya gesek antara lapisan gas dan cairan yang semakin
besar menyebabkan penurunan laju sirkulasi cairan. (Widayat dan Haryani, 2011).

Dari hasil percobaan ini juga diperoleh hasil bahwa laju sirkulasi pada

bagian downcomer (Uld) lebih besar dibandingkan laju sirkulasi pada bagian riser
(Ulr). Hal ini disebabkan oleh luas area downcomer yaitu 77 cm 2 lebih kecil
dibandingkan luas area riser yaitu 126 cm 2. Luas area berbanding terbalik dengan
laju sirkulasi sesuai dengan persamaan sebagai berikut :

Ulr = Uld x

Ad
Ar

dengan Ulr = laju sirkulasi riser, Ad = luas area downcomer, dan Ar =


luas area riser. Oleh karena itu, luas permukaan downcomer yang
lebih kecil menyebabkan laju sirkulasi dalam area downcomer
menjadi lebih besar dibandingkan pada area riser.

17

4.3 Pengaruh Konsentrasi terhadap Koefisien Transfer Massa


Gas-Cair (KLa)

Tabel 4.3 Data KLa rata-rata tiap konsentrasi Na2SO3

Konsentrasi

KLa Rata-

0,05 N

rata (L/s)
1290,85

0,06 N

1549,24

0,07 N

2902,72

3500
3000
2500
2000

Kla (L/s) 1500


1000

Kla rata-rata

500
0
0.04

0.05

0.06

0.07

0.08

Konsentrasi (N)

Grafik 4.3 Pengaruh Konsentrasi terhadap KLa

Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa seiring dengan

meningkatnya Konsentrasi Na2SO3 maka nilai kLa (koefisien perpindahan massa


volumetrik) semakin meningkat. Konsentrasi Na2SO3 menyebabkan viskositas
larutan akan menurun. Hal ini menyebabkan meningkatnya nilai koefisien
perpindahan massa. Peningkatan nilai kLa dikarenakan berkurangnya viskositas
17

larutan sehingga laju perpindahan oksigen akan semakin besar. Hal ini
menyebabkan kLa semakin meningkat. (Widayat, 2004)

Reaksi yang terjadi :

Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3(sisa)

Jumlah gas oksigen yang masuk dihitung dari jumlah O2 yang

bereaksi pada reaksi diatas dengan rumus :

Mol O2 yang bereaksi = 0,5 (mol Na2SO3 awal - mol Na2SO3 sisa)

Mol O2 yang masuk reaktor =

Mol O2 Yanng beraksi X BM O2


t X 60

Nilai KLa sangat ditentukan oleh jumlah O2 yang ada dalam

reaktor, sepert yang ditunjukkan persamaan berikut :

Mol O2 Yanng beraksi X BM O2


Cxq

KLa =

Dari

persamaan

konsentrasi Na2SO3

diatas

dapat

menyebabkan

dilihat

viskositas

bahwa

semakin

larutan

berkurang.

tinggi
Ini

mengakibat laju perpindahan O2 dalam reaktor semakin besar sehingga nilai


KLa juga semakin besar. (Kristinah Haryani dan Widayat, 2011)

Sedangkan untuk mengetahui Na2SO3 sisa yang tidak bereaksi dapat

diketahui melalui reaksi berikut selama proses titrasi

Na2SO3(sisa) + KI + KIO3Na2SO4 + 2KIO2 + I2(sisa)

I2 (sisa) + 2 Na2S2O3Na2S4O6 + 2NaI

Dalam percobaan yang kami lakukan mol total untuk Na2SO3

mula-mula besar sesuai dengan rumus :

Mol Na2SO3 mula-mula(a)

(Popovic and Robinson,1989)

Semakin besar normalitas Na2SO3, maka mengakibatkan mol

Na2SO3 mula-mula semakin besar. Kemudian mol I2 sisa tetap pada setiap
pertambahan konsentrasi,sesuai dengan rumus:
17

Mol I2 excess(b)

(Popovic and Robinson,1989)

Dari rumus diatas terlihat bahwa pertambahan konsentrasi tidak

mempengaruhi mol I2 sisa.

Kemudian mol Na2SO3 sisa berkurang seiring

bertambahnya konsentrasi, sesuai dengan rumus :

Mol Na2SO3 sisa (c) =

(Popovic and Robinson,1989)

pertambahan konsentrasi Na2SO3. Kemudian mol O2 yang bereaksi

meningkat seiring pertambahan konsentrasi, sesuai dengan rumus:

Mol O2 yang bereaksi(d)

(Popovic and Robinson,1989)

Dari rumus diatas terlihat bahwa Mol O2 yang bereaksi meningkat

seiring pertambahan konsentrasi Na2SO3. Hal ini disebabkan karena

Mol

Na2SO3 mula- mula(a) meningkat seiring bertambahnya konsentrasi, sedangkan


mol I2 sisa (b) tetap pada setiap konsentrasi. Hal ini menyebabkan Mol O2 yang
bereaksi meningkat seiring pertambahan konsentrasi Na2SO3.

Kemudian O2 yang masuk reactor meningkat seiring pertambahan

konsentrasi pada waktu yang sama. Sesuai dengan rumus:

O2 yang masuk reaktor(e)


Dari rumus tersebut terlihat bahwa semakin besar Mol O2 yang

bereaksi(d), maka kadar O2 yang masuk reactor juga meningkat. Sehingga


kadar O2 yang masuk reactor meningkat seiring pertambahan konsentrasi pada
waktu yang sama.

Terakhir adalah KLa. KLa meningkat seiring pertambahan konsentrasi

pada waktu yang sama. Sesuai rumus

KLa

17

(Popovic and Robinson,1989)

Dari penjabaran tersebjt menunjukkan O Karena O2 yang masuk

reaktor(e) semakin meningkat, maka nilai kLa juga akan meningkat seiring
pertambahan konsentrasi Na2SO3.

4.4 Hubungan antara Waktu Tinggal dengan KLa

Tabel 4.4 Data Waktu Tinggal terhadap KLa pada Tiap Variabel Konsentrasi
Na2SO3

KLa (L/s)

O
3

0.
0
5

N
0

a2

a2

O3

0.

0.

06

7
N

40

70

,9

1,

9,

7
1

30

25

,5

5,

4,

9
17

8
1

13

57

,0

0,

3,

5
1

8
8

10

17

8,

,7

1
-

5
6

81

4,

8,

22

2
5

6
5,
3
5

17

5000
4000
3000

Kla (L/s)

0.05 N

2000

0.06 N
0.07 N

1000
0
0

10

15

20

25

30

35

Waktu (s)

Grafik 4.4 Hubungan antara Waktu Tinggal dengan KLa

Dari grafik diatas menunjukkan seiring bertambahnya waktu nilai

Kla semakin turun. Hal ini sudah sesuai teori dimana semakin lama waktu reaksi
dengan konsentrasi larutan awal sama maka laju perpindahan masa O 2 semakin
turun. Semakin lama waktu, jumlah O2 yang bereaksi berkurang karena reaktan
semakin jenuh oleh gas. Hal ini mengakibatkan jumlah mol O 2 yang bereaksi
menurun sehingga mol O2 yang ada di dalam reaktor berkurang dan menyebabkan
KLa semakin kecil. (Haryani dan Widayat,2011)

Reaksi yang terjadi :


Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3(sisa)

Nilai KLa sangat ditentukan oleh jumlah O2 yang ada dalam

reaktor, sepert yang ditunjukkan persamaan berikut :

KLa =

Mol O2 Yanng beraksi X BM O2


Cxq

(Popovic and Robinson,1989)


17

Namun pada menit ke 10 nilai K La pada konsentrasi 0,07 N lebih

kecil daripada konsentrasi 0,06 N, hal ini disebabkan karena semakin besar
konsentrasi maka nilai KLa akan semakin besar, dengan nilai KLa yang besar maka
larutan akan menjadi lebih cepat jenuh oleh gas(Haryani dan Widayat,2011).
Karena larutan jenuh oleh gas maka nilai Kla turun drastic

Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara umum semakin

tinggi konsentrasi maka laju Kla semakin besar, dan seiring berjalanya waktu
nilai Kla akan turun karena larutan sudah jenuh oleh gas.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Semakin meningkat konsentrasi Na2SO3 maka nilai semakin meningkat,


tetapi pada downcomer, nilai semakin menurun pada konsentrasi yang
semakin meningkat
2. Semakin besar konsentrasi Na2SO3, maka laju sirkulasi di riser maupun
downcomer semakin cepat
3. Semakin meningkat konsentrasi Na2SO3 maka nilai kLa (koefisien
perpindahan massa volumetrik) semakin meningkat.
17

4. Semakin bertambahnya waktu, nilai Kla semakin turun karena semakin


lama waktu, jumlah O2 yang bereaksi berkurang karena reaktan semakin
jenuh oleh gas.

5.2 Saran

1. Biarkan kompresor tetap menyala tiap melakukan percobaan tiap variable


2. Perhatikan secara detail waktu ketika zat warna diteteskan dalam
downcomer
3. Pembuatan amilum harus sesuai dengan prosedur karena amilum menjadi
indikator dalam analisis titrasi.
4. Pengamatan tinggi inverted manometer harus teliti.
5. Laju alir gas harus selalu diperhatikan agar tidak berubah-ubah selama
proses.
6. Titrasi harus dilakukan dengan teliti hingga mencapai warna titik akhir
titrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Christi, M. Y., 1989, Air-lift Bioreactor, El Sevier Applied Science,

London.

Christi Yusuf, Fu Wengen dan Murray Moo Young. 1994. Relationship


Between Riser and Downcomer Gas Hold-Up In Internal-Loop Airlift
Reactors Without Gas-Liquid Separator.

The Chemical Engineering

Journal,57 (1995) B7-B13. Canada

Haryani dan Widayat. 2011. Pengaruh Viskositas dan Laju Alir terhadap
Hidrodinamika dan Perpindahan Massa dalam Proses Produksi Asam
Sitrat dengan Bioreaktor Air-Lift dan Kapang Aspergillus Niger. Jurnal
Reaktor Vol. 13. Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro (diakses
tanggal 20 Juli 2015)

17

Popovic, M.K. and Robinson, C.W., (1989). Mass Transfer Stuy of


External Loop Airlift and a Buble Column. AICheJ., 35(3), pp. 393-405

Widayat. 2004. Pengaruh Laju Alir dan Viskositas Terhadap Perpindahan

Massa

Gas-Cair Fluida Non Newtonian Dalam Reaktor Air Lift Rectangular.


Posiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2004 ISSN : 1411

4216 (diakses tanggal 20 Juli 2015)

William, J. A., 2002, Keys To Bioreactor Selections, Chem. Eng.


Prog, hal 3441

Referensi

Semakin lama waktu, jumlah O2 yang bereaksi berkurang karena


reaktan semakin jenuh oleh gas. Hal ini mengakibatkan jumlah
mol O2 yang bereaksi menurun sehingga mol O2 yang ada di dalam
reaktor berkurang dan menyebabkan KLa semakin kecil. Selain itu,
laju alir juga akan sangat mempengaruhi oksigen yang terdifusi
dimana semakin tinggi laju alir maka nilai KLa pun akan semakin
kecil. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai kLa semakin berkurang
17

seiring pertambahan waktu dikarenakan jumlah mol O2 yang


bereaksi semakin menurun.

sama)

bahwa bertambahnya laju alir udara (dengan konsentrasi larutan yang


akan

mengakibatkan

peningkatan

koefisien

perpindahan

massa.

Kecenderungan yang diperoleh hampir sama untuk semua konsentrasi (hubungan


linier atau eksponensial) kecuali pada konsentrasi 5% kecenderungannya adalah
polinomial. Laju alir udara semakin besar maka udara yang dapat dipindahkan ke
dalam larutan akan semakin besar pula dan mengakibatkan laju perpindahan
oksigen semakin besar. Dengan demikian koefisien perpindahan massa juga akan
bertambah besar. Fenomena ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan
untuk reactor tangki maupun reaktor bergelembung

Haryani dan Widayat. 2011. Pengaruh Viskositas dan Laju Alir

terhadap Hidrodinamika dan Perpindahan Massa dalam Proses Produksi


Asam Sitrat dengan Bioreaktor Air-Lift dan Kapang Aspergillus Niger. Jurnal
Reaktor Vol. 13. Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro

Laju alir udara semakin besar maka udara yang dapat dipindahkan
ke dalam larutan akan semakin besar pula. Dengan demikian
koefisien perpindahan massa gas ke cair juga akan bertambah
besar. Fenomena ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan
untuk reaktor tangki maupun reaktor bergelembung.

Widayat. 2004. Pengaruh Laju Alir dan Viskositas Terhadap

Perpindahan Massa Gas-Cair Fluida Non Newtonian Dalam Reaktor Air Lift
Rectangular. Posiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2004

17

Anda mungkin juga menyukai