Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

ASKEP KATARAK

DI SUSUN OLEH
KELOMPOK I :
1.
2.
3.

AMMARSAN FAHCHORY MS
IMELDA ANUGRAH PUTRI
SUTRISNO
PEMBIMBING :
Ns. HUSNI, S.Kep, M.Pd

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN
TAHUN 2015/2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Askep
Katarak ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima
kasih kepada Dosen mata kuliah yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Keperawatan Medikal Bedah. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.
Bengkulu,

November 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata pengantar ............................................................................................

Daftar isi ......................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG ......................................................................

1.2. TUJUAN PENULISAN ...................................................................

1.3. MANFAAT ......................................................................................

BAB II TINJAUAN TEORITIS


2.1. TINJAUAN TEORITIS ..................................................................

2.2. ASKEP KATARAK .........................................................................

BAB III PENUTUP


3.1. KESIMPULAN ................................................................................

14

3.2. SARAN ............................................................................................

14

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

15

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Katarak merupakan penyebab kebutaan nomor satu di dunia. Indonesia memiliki
angka penderita katarak tertinggi di Asia Tenggara. Dari sekitar 234 juta penduduk, 1,5
persen atau lebih dari tiga juta orang menderita katarak. Sebagian besar penderita katarak
adalah lansia berusia 60 tahun ke atas. Lansia yang mengalami kebutaan karena katarak
tidak bisa mandiri dan bergantung pada orang yang lebih muda untuk mengurus dirinya.
Berdasarkan survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996,
menunjukkan angka kebutaan di Indonesia sebesar 1,5%, dengan penyebab utama adalah
katarak (0,78%); glaukoma (0,20%); kelainan refraksi (0,14%); dan penyakit-penyakit
lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0,38%).
Dibandingkan dengan negara-negara di regional Asia Tenggara, angka kebutaan
di Indonesia adalah yang tertinggi (Bangladesh 1%, India 0,7%, Thailand 0,3%).
Sedangkan insiden katarak 0,1% (210.000 orang/tahun), sedangkan operasi mata yang
dapat dilakukan lebih kurang 80.000 orang/ tahun. Akibatnya timbul backlog
(penumpukan penderita) katarak yang cukup tinggi. Penumpukan ini antara lain
disebabkan oleh daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah, kurangnya
pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, serta ketersediaan tenaga dan fasilitas
pelayan kesehatan mata yang masih terbatas. Maka dari itu kami terdorong untuk
menyusun makalah ini,sehingga dapat menambah pengetahuan kita tentang insiden
katarak itu sendiri.
Dilihat dari jenis kelamin perbandingan kejadian katarak traumatik laki-laki dan
perempuan adalah 4 : 1. National Eye Trauma System Study melaporkan rata-rata usia
penderita katarak traumatik adalah 28 tahun dari 648 kasus yang berhubungan dengan
trauma mata.
1.2. TUJUAN
1.2.1. TUJUAN UMUM
Untuk mengetahui Askep dengan pasien Katarak
1.2.2. TUJUAN KHUSUS
1.

Untuk mengetahui Pengkajian keperawatan pada pasien Katarak

2.

Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan pada pasien Katarak


1

3.

Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada pasien Katarak

4.

Untuk mengetahui Implementasi keperawatan pada pasien Katarak

5.

Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan pada pasien Katarak

1.3. MANFAAT
1.3.1. Bagi penulis
Diharapkan

dapat

menambah

pengetahuan

dan

wawasan

serta

dapat

mengaktualisasikannya pada lingkungan sekitar, baik dalam lingkungan keluarga


maupun masyarakat.
1.3.2. Bagi pembaca
Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai asuhan
keperawatan medical bedah

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1. TINJAUAN TEORITIS
2.1.1. Definisi
Katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah
gambaran yang diproyeksikan pada retina. Katarak merupakan penyebab umum
kehilangan pandangan secara bertahap.
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih dan merupakan
suatu daerah yang berkabut dan keruh didalam lensa. Pada stadium dini pembentukan
katarak, protein dalam serabut-serabut lensa dibawah kapsul mengalami denaturasi.
Lebih lanjut protein tadi berkoagulasi membentuk daerah keruh menggantikan serabutserabut protein lensa yang dalam keadaan normal seharusnya transparan. Kekeruhan ini
terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai
usia tertentu. Katarak dapat terjadi pada saat perkembangan serat lensa masih
berlangsung

atau sesudah serat lensa berhenti dalam perkembangannya dan telah

memulai proses degenerasi. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif
2.1.2. Klasifikasi
Berdasarkan garis besar katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut :
a. Katarak perkembangan ( developmental ) dan degenerative.
b. Katarak trauma : katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata.
c. Katarak komplikata (sekunder) : penyakit infeksi tertentu dan penyakit seperti

DM dapat mengakibatkan timbulnya kekeruhan pada lensa yang akan


menimbulkan katarak komplikata.
Berdasarkan usia pasien, katarak dapat di bagi dalam :
a. Katarak kongeniatal : katarak yang di temukan pada bayi ketika lahir (sudah

terlihat pada usia di bawah 1 tahun)


b. Katarak juvenil : katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun dan di bawah usia 40

tahun
c. Katarak presenil, yaitu katarak sesudah usia 30-40 tahun
d. Katarak senilis : katarak yang terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. Jenis katarak

ini merupakan proses degeneratif ( kemunduran ) dan yang paling sering


ditemukan.
Adapun tahapan katarak senilis adalah :
3

Katarak

insipien : pada stadium insipien

masih sangat

minimal,

bahkan

tidak

(awal) kekeruhan lensa mata

terlihat

tanpa

menggunakan

alat

periksa. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak


teratur. Penderita pada stadium ini seringkali tidak merasakan keluhan atau
gangguan pada penglihatanya sehingga cenderung diabaikan.
-

Katarak immataur : lensa masih memiliki bagian yang jernih

Katarak matur : Pada stadium ini proses kekeruhan lensa terus berlangsung
dan bertambah sampai menyeluruh pada bagian lensa sehingga keluhan yang
sering disampaikan oleh penderita katarak pada saat ini adalah kesulitan saat
membaca, penglihatan menjadi kabur, dan kesulitan melakukan aktifitas seharihari.

2.1.3. Etiologi / Faktor Predisposisi


1. Penuaan usia
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya
usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada usia 60 tahun keatas.
2. Trauma
Cedera mata dapat mengenai semua umur seperti pukulan keras, tusukan benda,
terpotong, panas yang tinggi, dan bahan kimia dapat merusak lensa mata dan
keadaan ini disebut katarak traumatik.
3. Penyakit sistemik (DM)
Kelaianan pada diabetes militus dapat menyebabkan aliran darah ke pembuluh
darah kapiler pada mata terhambat sehingga kebutuhan akan O2 tidak terpunuhi
secara optimal.
4. Keturunan
Salah satu kelainan herediter sebagai akibat dari infeksi virus prenatal
seperti German measles atau rubella. Katarak kongenitalis bisa merupakan
penyakit keturunan ( diwariskan secara autosomal domonan ).
2.1.4. Manifestasi Klinis
1. Penglihatan

akan

suatu

objek

benda

atau

cahaya

menjadi

kabur,

buram.bayangan benda terlihat seakan seperti bayangan semu atau seperti


asap.
2. Kesulitan melihat ketika malam hari
3. Mata terasa sensitive bila terkena cahaya
4. Bayangan cahaya yang ditangkap seperti sebuah lingkaran
4

5. Membutuhkan pasokan cahaya yang cukup terang untuk membaca atau


beraktivitas lainnya
6. Sering mengganti kaca mata atau lensa kontak karena merasa sudah tidak
nyaman menggunakan nya
7. Warna cahaya memudar dan cenderung berubah warna saat melihat misalnya
cahaya putih yang ditangkap menjadi cahaya kuning
8. Jika melihat hanya dengan satu mata, bayangan berada atau cahaya terlihat
ganda
2.1.5. Patofisiologi
Katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah
gambaran yang diproyeksikan pada retina. Katarak merupakan penyebab umum
kehilangan pandangan secara bertahap.
Pada kasus penyakit ini, katarak banyak terjadi dikarenakan gangguan
metabolisme seperti diabetes militus. Diabetes militus ini menyebabkan vaskositois
pada darah yang kemudian menyumbat aliran darah ke pembuluh darah kapiler yang
berada pada mata, penyumbatan ini kemudian menyebabkan suplai O 2 ke mata tidak
terpenuhi secara optimal yang menyebabkan jaringan yang berada pada lensa mata
menjadi mati.
Penyakit ini juga banyak terjadi pada lansia usia 60 tahun keatas. Pada lansia
sistem imunnya sudah mulai berkurang sehingga menyebabkan lapisan luar katarak
mencair yang kemudian cairan tersebut membentuk cairan putih susu. Cairan yang
keluar terlalu banyak menyebabkan cairan tertumpuk pada kapsul lensa yang kemudian
menjadi pecah.
Gen juga menyababkan katarak. Ibu hamil yang menderita katarak dapat
menurunkan panyakit katarak yang dideritanya kepada anaknya. Bayi terinveksi virus
saat didalam kandungan ibunya. Setelah lahir sang bayi mengalami masalah
perkembangan fungsi penglihatan pada matanya, bayangan yang didapat oleh retina
memburuk.
Trauma merupakan penyebab yang bisa terjadi secara mendadak. Pada saat terjadi
trauma lensa mata mengalami degenerasi, karena mengalami degenerasi lensa
mengalami perubahan protein dan senyawa kimia lensa. Dari perubahan ini
menyebabkan koaguloasi serat protein yang kemudian terjadi noda pada lensa atau lensa
menjadi keruh.

Dari empat penyebab tersebut menyebabkan pandangan menjadi kabur yang


kemudian disebut katarak.
2.1.6. WOC
Pertambahan
usia

Gangguan
Metabolisme
(DM)

( Keturunan )
Degenerasi
lensa

Lapisan luar
katarak
mencair

Viskositas
darah

Menyumbat
aliran darah
ke pembuluh
mata

Membentuk
cairan putih
susu

Penumpukan
cairan (Edema
lensa)

Suplai O2 ke
mata

Kematian
jaringan pada
lensa

Trauma

Gen

Terinfeksi
virus saat ibu
hamil

Perubahan
protein dan
senyawa
kimia lensa

Perkembangan
penglihatan
terjadi masalah

Kapsul lensa
pecah

Koagulasi
serat rpotein

Pembentukan
bayangan
pada retina
memburuk

Noda pada
lensa (lensa
keruh)

Mengaburkan
pandangan

Jalan cahaya ke retina


terhambat

Penglihatan buram,
kontur bayangan
kurang jelas

Lensa mata tidak


dapat memfokuskan
cahaya ke retina

Kehilangan
penglihatan

Sensitivitas dan
ketajaman mata

MK : GANGGUAN
CITRA TUBUH

Mata tidak tahan


dengan silau cahaya

KATARAK

Tindakan
pembedahan dengan
mengganti lensa
mata
MK
:ansietas

MK : RESIKO
INFEKSI

ANSIETAS
MK : RESIKO
CIDERA

2.1.7. Komplikasi
1. Glaukoma
2. Ablasio retina
3. Astigmatisma
4. Uveitis
5. Endoflatmitis
6. Perdarahan
7. Butah
2.1.8. Pemeriksaan Diagnostik
1. mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan
kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit sistem
saraf, penglihatan ke retina.
2. Lapang Penglihatan : penuruan penglihatan mungkin karena massa tumor,
karotis, glukoma.
3. Pengukuran Tonografi : TIO (12 25 mmHg)
4. Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup
glukoma.
5. Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe gllukoma
6. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik,
papiledema, perdarahan.
7. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
8. Tes toleransi glukosa : kotrol DM
2.1.9. Penatalaksanaan Medis
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai ke
titik di mana pasien melakukan aktivitas sehari-hari, maka penanganan biasanya
konservatif. Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan
akut

untuk bekerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam

penglihatan yang terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi bila
ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup, atau bila visualisasi
segmen posterior sangat perlu untuk mengevaluasi perkembangan berbagai penyakit
retina atau saraf optikus, seperti diabetes dan glaucoma.
Pembedahan katarak terdiri dari pengangkatan lensa dan menggantinya dengan
lensa buatan.
7

a. Pengangkatan lensa
b. Penggantian lensa
2.2. ASKEP KATARAK
2.2.1. Pengkajian
a. Identitas
Berisi nama, usia, jenis kelamin, alamat, dan keterangan lain mengenai
identitas pasien. Pada pasien dengan katarak konginetal biasanya sudah
terlihat pada usia di bawah 1 tahun, sedangakan pasien dengan katarak
juvenile terjadi pada usia < 40 tahun, pasien dengan katarak presenil terjadi
pada usia sesudah 30-40 tahun, dan pasien dengan katark senilis terjadi pada
usia > 40 tahun
b. Riwayat kesehatan sekarang
Merupakan penjelasan dari keluhan utama. Misalnya yang sering terjadi pada
pasien dengan katarak adalah penurunan ketajaman penglihatan.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM,
hipertensi, pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya
memicu resiko katarak
d. Riwayat kesehatan keluarga
Adanya salah satu keluarga yang menderita penyakit katarak, atau penyakit
sistemik seperti DM, hipertensi, atau penyakit metabolic lainnya. Misal kakek
menderita DM.
e. Riwayat lingkungan
Lingkungan sekitar tempat tinggal seperti memiliki tetangga dan teman yang
perokok.
2.2.2. Diagnosa
1.
2.
3.
4.

Ansietas b.d tindakan pembedahan dengan mengganti lensa mata


Resiko infeksi b.d tindakan pembedahan dengan mengganti lensa mata
Resiko cedera b.d mata tidak tahan dengan silau cahaya
Gangguan citra tubuh b.d kehilangan penglihatan

2.2.3. Intervensi
No diagnosa

Tujuan dan kriteria Intervensi

rasional
8

Ansietas

hasil
b.d NOC

NIC

1.Menggunakan
pendekatan

tindakan

1.Anxiety self-control

Anxietyreduction

pembedahan

2.Anxiety level

( penurunan kecemasan menenagkan

dengan

3.Coping

mengganti

Kriteria hasil :

1.Gunakan

lensa mata

1.Klien

2.Menjelaskan
pendekatan prosedur dan apa yang

mampu yang menenangkan

mengidentifikasi

dan 2.

yang

Jelaskan

dirasakan

selama

semua prosedur

mengungkapkan gejala prosedur dan apa yang 3.Mendorong keluarga


cemas.

dirasakan

2.Mengidentifikasikan,

prosedur

mengungkapkan
menunjukkan
untuk

selama untuk menemani anak


4.Mendengarkan

dan 3.Temani pasien untuk dengan


teknik memberikan

keamanan perhatian

mengontrol dan mengurangi takut

cemas.

penuh

5.Membantu

Bantu

4.Dorong keluarga untuk pasien untuk mengenal

3.Vital sign dalam batas menemani anak

situasi

normal

menimbulkan

5.Lakukan back/neck rub

4.Postur tubuh,ekspresi 6.Dengarkan

yang

dengan kecemasan

wajah,bahasa tubuh dan penuh perhatian


tingkat

aktifitas 7.Identifikasi

tingkat

menunjukkan

kecemasan

berkurangnya

8.Bantu

kecemasan.

mengenal situasi yang

pasien

untuk

menimbulkan kecemasan
9.Instruksikan

pasien

menggunakan

teknik

relaksasi
10.Berikan obat untuk
2

Resiko infeksi NOC

mengurangi kecemasan
NIC

b.d

Infection

tindakan 1.Immune status

1.Membersihkan

control lingkungan

pembedahan

2.Knowledge : infection ( kontrol infeksi )

dengan

contol

1.Bersihkan

mengganti

3.Risk control

setelah

setelah

dipakai pasien lain

lingkungan 2.Mempertahankan

dipakai

pasien teknik isolasi


9

lensa mata

Kriteria hasil :

lain

3.Menintruksikan pada

1.Klien bebas dari tanda 2.Pertahankan


dan gejala infeksi

isolasi

2.Mendeskripsikan

3.Instruksikan

proses

teknik pengunjung

mencuci tangan saat


pada berkunjung

penularan pengunjung

penyakit, factor yang mencuci


mempengaruhi
penularan

untuk setelah
tangan

anti mikrobia sebelum

3.Menunjukkan

4.Gunakan

infeksi

dan

sabun

anti sebelum

timbulnya sesudah

dan

dan

tindakan

sebelum 5.Memonitor

tindakan keperawatan
tangan

kerentanan

sebagai

6.Monitor

alat 6.Menginfeksi
dan

kerentanan mukosa

terhadap infeksi
7.Inspeksi
membrane
terhadap

terhadap

baju,sarung infeksi

5.Menunjukkan prilaku pelindung


hidup sehat.

sesudah

untuk mikrobia sebelum dan keperawatan

4.Jumlah leukosit dalam 5.Gunakan


batas normal

berkunjung

saat meninggalkan pasien

serta berkunjung
meninggalkan pasien

mencegah

dan

berkunjung dan setelah 4.Menggunakan sabun

penatalaksanaanya
kemampuan

untuk

kulit

membrane
terhadap

kemerahan,

kulit

panas,

dan drainase, kondisi luka

mukosa dan insisi bedah


kemerahan,

panas, drainase, kondisi


luka dan insisi bedah
8.Dorong pasien untuk
istirahat
9.Ajarkan

pasien

dan

keluarga tanda dan gejala


infeksi
10.Ajarkan

cara

menghindari infeksi.
11.Lakukan

kolaborasi

dengan tenaga kesehatan


3

Resiko cedera NOC

lain.
NIC

1.Menyediakan
10

b.d mata tidak 1.Risk control

Environment

lingkungan yang aman

tahan

management

untuk pasien

dengan Kriteria hasil :

silau cahaya

1.Klien terbebas dari (


cedera

manajemen 2.

lingkungan )

2.Klien

Menghindari

lingkungan

mampu 1.Sediakan

yang

lingkungan berbahaya

menjelaskan cara untuk yang aman untuk pasien

3.

Menempatkan

mencegah cedera

saklar

lampu

3.Klien

2.Menghindari

mampu lingkungan

menjelaskan

yang mudah

factor berbahaya

resiko dari lingkungan

di

yang
jangkau

pasien

3.Menyediakan

tempat 4.

Menganjurkan

4.Mampu memodifikasi tidur yang nyaman dan keluarga


gaya

hidup

untuk bersih

mencegah cidera

untuk

menemani pasien

4.Menempatkan

saklar 5.

Mengontrol

5.Menggunakan fasiltas lampu yang mudah di lingkungan


kesehatan yang ada
6.Mampu

jangkau pasien

dari

kebisingan

mengenali 5.Membatasi pengunjung

perubahan

status 6.Menganjurkan keluarga

kesehatan.

untuk menemani pasien


7.Mengontrol lingkungan
dari kebisingan
8.Memindahkan barangbarang

yang

dapt

membahayakan pasien
9.Berikan

penjelasan

pada pasien dan keluarga


atau

pengunjung

mengenai
status
4

perubahan

kesehatas

Gangguan citra NOC

penyebab penyakit.
NIC

tubuh

Body

b.d 1.Body image

dan
1.Mengkaji

secara

image verbal dan nonverbal

kehilangan

2.Self esteem

enhancement

respon klien terhadap

penglihatan

Kriteria hasil :

1.Kaji secara verbal dan tubuhnya

1.Body image positive

nonverbal respon klien 2.

Memonitor
11

2.Mampu

terhadap tubuhnya

mengidentifikasikan

2.Monitor

kekuatan personal

mengkritik dirinya

3.Mendeskripsikan

3.Jelaskan

secara

actual

frekuensi

frekuensi dirinya
3.

kemajuan

4.Mempertahankan

penyakit

interaksi sosial.

4.Dorong

Menjelaskan

tentang tentang

fungsi pengobatan,perawatan,

tubuh

mengkritik

pengobatan,perawatan,

prognosis kemajuan

prognosis

penyakit
klien 4.Mengindetifikasi arti

mengungkapkan

pengurangan

perasaannya

pemakaian alat bantu

5.Identifikasi

arti 5.

pengurangan

melalui kontak

pemakaian alat bantu


6.Fasilitasi
dengan

melalui

Memfasilitasi
dengan

individu lain

dalam

kontak kelompok kecil

individu

lain

dalam kelompok kecil.


2.2.4. Implementasi
Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai
tujuan yang telah diterapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping

2.2.5. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan
pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada
tahap perencanaan. Adapun evaluasi dari tiap-tiap masalah di atas adalah
1. Ansietas yang b.d tindakkan pembedahan pada pasien tidak terlihat
2. Resiko infeksi b.d tindakkan pembedahan dengan mengganti lensa pada pasien
tidak ada
3. Resiko cedera b.d mata tidak tahan dengan silau cahaya pada pasien tidak ada
4. Gangguan citra tubuh b.d penglihatan pada pasien normal
12

13

BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Dari tinjauan teori dan dan askep di atas dapat disimpulkan bahwa katarak
adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah gambaran yang
diproyeksikan pada retina. Katarak merupakan penyebab umum kehilangan
pandangan secara bertahap.
Katarak dapat disebabkan oleh penyakit metabolic seperti DM, Gen
(keturunan), pertambahan usia, dan trauma.
Diagnosa keperawatan yang sering didapat pada penyakit katarak adalah
ansietas, resiko infeksi, resiko cedera, dan gangguan citra tubuh.
3.2. SARAN
3.2.1. Saran Bagi Penulis
Sebagai penulis kami berharap semoga makalah yang kami buat ini dapat
bermanfaat bagi kami, dapat menambah wawasan dan meningkatkan ilmu bagi
kami dalam ilmu keperawatan umumnya dan keperawatan medical bedah
khususnya.
3.2.2. Saran Bagi Pembaca
Kami juga berharap semoga makalah yang kami buat ini juga bermanfaat bagi
para pembaca dan menambah wawasan pembaca terkhusus keperawatan medical
bedah. Kami juga berharap jika terdapat banyak kesalahan kami mohon untuk
kritikan dan masukannya agar karya karya ilmiah kami dan para pembaca
kedepannya menjadi lebih baik dan dapat mendekati sempurna.

14

DAFTAR PUSTAKA

Carpentino, Lynda Juall.2001.Buku Saku : Diagnosa keperawatan edisi : 8 Penterjemah


Monica Ester.EGC.Jakarta

Doengoes, E Marlynn,dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3 penterjemah


Monica Ester.EGC.Jakarta

Sudoyo, Aru W. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi IV. Penerbit Ilmu Penyakit
Dalam: Jakarta

Nurarif, Huda Amin.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &


NANDA. Buku Jilid 1,2 Edisi Revisi.Yogyakarta

Nurarif, Huda Amin.2015.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &


NANDA. Buku Jilid 1,2,3 Edisi Revisi.Yogyakarta

https://www.scribd.com/document_downloads/direct/268921213?
extension=pdf&ft=1447150369&lt=1447153979&user_id=136689525&uahk=SShROE
KSQS5iPoRicH065ZfAw7o, diakses tanggal 3 November 2015

https://www.scribd.com/document_downloads/direct/54984881?
extension=pdf&ft=1447150126&lt=1447153736&user_id=136689525&uahk=XgTmw3
FPQ8UQT1QAIRRAMhtWO+4, diakses tanggal 3 November 2015

15