Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama Islam adalah agama Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad
SAW untuk disampaikan serta diteruskan kepada seluruh umat manusia yang
mengandung ketentuan-ketentuan keimanan (aqidah) dan ketentuan-ketentuan ibadah
dan muamalah (syariah) yang menentukan proses berpikir, merasa, berbuat, dan proses
terbentuknya hati. Islam dijadikan sebagai penyempurna agama-agama terdahulu
dengan dasar Al Quran dan Al Hadist (Assunah). Negara Indonesia dijajah oleh
Belanda 3,5 abad lamanya, namun penjajahan ini tidak berdampak yang signifikan
dengan masukkan ajaran agama yang dibawa penjajah.
Bila dilihat sejarah masa lalu, Indonesia telah lama memiliki tradisi di mana
negara atau kerajaan-kerajaan menjalin agama dalam kehidupan masyarakat dan
berpolitik (Deliar Noer, 1996 : 4). Islam tiba di Indonesia setelah Indonesia lebih dulu
berkembang menjadi sebuah sistem yang tertentu, yang mengandung pula unsur
kebiasaan-kebiasaan, adat serta kebutuhan berbagai bangsa, seperti bangsa India,
Persia (Deliar Noer, 1996 : 10)
Salah satu Pejuang Nasional yang bergerak dalam gerakan pembaharuan Islam
adalah Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan yang kecilnya bernama Muhammad Darwis
ingin

mengadakan

suatu

pembaharuan

dalam

cara

berpikir

dan

beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam di


Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits, karena
pada masa itu situasi politik di indonesia tidak kondusif. Pengaruh penjajahan Hindia
Belanda menjadikan keprihatinan umat Islam di Indonesia dalam cara menjalankan
perintah-perintah agama Islam terpengaruh dari budaya atau tradisi agama terdahulu
dan banyak yang tidak bersumber dari ajaran Al Quran dan tuntunan Rasulullah SAW.
Hal itulah yang mendasari KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi islam dengan
lembaga-lembaga yang bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial budaya dan
kesehatan, dengan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam sehingga
terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya karena realita yang ada adanya
ajaran islam yang tidak murni di Indonesia, pendidikan Islam tidak maju, kemiskinan
rakyat, adanya misi kristenisasi penjajah, umat islam bersifat fanatisme sempit, taklid

buta, masih diwarnai konservartisme, formalisme dan tradisionalisme. Atas dasar


itulah KH Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Muhammadiyah.
B. Indentifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas muncul berbagai
permasalahan yaitu :
1. Bagaimana sejarah berdirinya Muhammadiyah?
2. Faktorfaktor apa saja yang mendukung munculnya gerakan Muhammadiyah?
3. Siapa saja pemikir yang terlibat dalam pendirian gerakan Muhammadiyah?
C. Pembatasan Masalah
Makalah ini akan membahas beberapa hal yang berkenaan dengan
Muhammadiyah, khususnya dalam hal :
1. Bagaimana sejarah berdirinya Muhammadiyah?
2. Faktorfaktor apa saja yang mendukung munculnya gerakan Muhammadiyah?
D. Manfaat Penulisan Makalah
1. Bagi Instansi
Sebagai referensi pustaka belajar dalam mendalami organisasi Muhammadiyah
2. Bagi Pembaca
Makalah ini bermanfaat sebagai tambahan informasi bagi pembaca yang bukan
Muhammadiyah, sedangkan bagi umat Muhammadiyah menyegarkan kembali
semangat yang mendasari berdirinya Muhammadiyah.
E. Metodologi Penulisan
Makalah ini disusun menggunakan metode studi Pustaka dan tinjauan historis.
Dengan membaca beberapa buku tentang gerakan Islam di Indonesia dan biografi KH
Ahmad Dahlan serta buku-buku lain yang terkait dengan kemuhammadiyahan, penulis
menemukan beberapa bukti yang terkait satu dengan lain yang mendukung sejarah
berdirinya Muhammadiyah. Komparasi beberapa teks yang berbicara tentang sejarah
berdirinya Muhammadiyah menambah komperhensifnya penulisan ini.
F. Telaah Pustaka
Beberapa

artikel

dan

buku

yang

terkait

dengan

sejarah

berdirinya

Muhammadiyah antara lain buku Gerakan Islam Moderen di Indoensia th 1900


1942 karya Deliar Noer. Buku ini menungkapkan keadaan bangsa Indonesia dari segi
sosiologis dan psikologis hingga berdirinya Muhammadiyah.
Makalah Perkembangan Pemikiran Modern Dalam Islam II yang ditulis oleh
Husaini yang berisi biografi Ahmad Dahlan serta Latar Belakang Berdirinya
2

Muhammadiyah, Artikel Sejarah Berdirinya Muhamadiyah oleh Muhamad Rizki


Perdana yang ada pada media on line yang diunggah 20 November 2012 berisi
riwayat hidup K.H. Ahmad Dahlan sampai berdirinya organisasi Muhammadiyah.
Artikel ini mengungkapkan sebab-sebab berdirinya organisasi Muhammadiyah sampai
organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Serta artikel-artikel
yang terkait dengan makalah yang penulis unduh.

BAB II
KERANGKA TEORI
A. Pembaharuan Islam
Bila kita berbicara tentang pembaharuan dalam Islam, atau mungkin lebih tepat
pembaharuan dalam pemahaman Islam, maka kita akan menanyakan, hal-hal apa saja
dalam dunia Islam yang sudah mengalami degradasi sehingga memerlukan
pembaharuan atau penyegaran. Pertanyaan ini muncul dalam pikiran penulis karena
sampai sekarang penulis melihat perselisihan umat Islam dalam mengaplikasikan
ajaran Islam. Perbedaan dalam pemahaman Islam sebenarnya sangat dipengaruhi oleh
kondisi sosial, budaya dan politik, ekonomi daerah setempat.
Sebagai seorang Muslim dan kita tahu bahwa Islam itu sebagai agama rahmatan
lilalamin dan juga bahwa Islam itu merupakan agama yang memberikan
kemaslahatan kepada kebaikan. Saya kira apa yang sedang didiskusikan, baik di
Indonesia maupun di dunia-dunia Islam lainnya mengenai pembaharuan Islam adalah
dalam rangka untuk menunjukan bahwa Islam itu bukan hanya agama yang
kompatibel dengan keadaan sekarang, tapi Islam mampu memberikan ruh,
memberikan spirit kepada satu peradaban sekarang yang sekular. Peradaban sekular itu
merupakan peradaban yang berilmu pengetahuan yang tidak berdasarkan pada
fondasi-fondasi keagamaan seperti kontribusi-kontribusi ketatanegaraan, demokrasi,
hukum semuanya bukan pada satu pemahaman demokrasi keagamaan tetapi sekular.
Fenomena Islam Indonesia tampaknya masih tetap menjadi fokus menarik bagi
para pemerhati, termasuk oleh Giora Eliraz, seorang sarjana lulusan Australian
National University yang sekarang mengajar di The Hebrew University of Jerusalem.
Karya Giora Eliraz yang di review oleh Jajang Jahroni. mengatakan; Eliraz menulis
bahwa wacana Islam di Asia Tenggara masih cenderung diabaikan dibanding,
misalnya, Timur Tengah yang menyita perhatian para sarjana Barat. Padahal Asia
Tenggara adalah kawasan yang dihuni oleh lebih dari dua ratus juta kaum muslim. Dan
yang lebih menarik lagi, dari waktu ke waktu, Islam di Asia Tenggara terutama di
Indonesia menampilkan wajah yang berbeda dengan wajah Islam yang selama ini
dikenal oleh Barat. Islam di Asia Tenggara adalah Islam moderat. Secara sederhana
Islam moderat didefinisikan sebagai Islam yang menjunjung tinggi toleransi dan
pluralisme. Penting dicatat di sini, seperti juga sering ditulis oleh para sarjana, bahwa

wajah Islam di Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara umumnya, digambarkan


lebih teduh ketimbang Islam di Timur Tengah yang tampak lebih keras.
Hal ini mungkin sebagai akibat dari kenyataan bahwa kaum muslim di kawasan
Asia Tenggara dan di Timur Tengah menghadapi persoalan yang berbeda. Kaum
Muslimin di Asia Tenggara tidak menghadapi persoalan-persoalan seruwet yang
dihadapi saudara-saudara mereka di Timur Tengah. Selanjutnya bagaimanakah kita
memahami perbedaan dan persamaan dalam berbagai cara dalam beragama kita?
Perhatian apa yang harus diberikan pada perbedaan dan persamaan itu? Menyikapinya
secara tepat sangatlah penting bagi pemerhati yang ingin secara cerdas mempelajari
dan mengaitkannya dengan tingkah laku dan ekspresi keagamaan para pengikutnya.
Hasrat menarik pemeluk baru dengan ditambah perasaan curiga kepada pihak-pihak
luar menimbulkan konflik mereka dengan tradisi agama-agama lain.
Islam dipahami oleh Pendirinya sebagai sebuah Agama Kedamaian, yakni
sebagai jalan hidup yang memungkinkan manusia hidup dengan baik di dunia ini dan
kembali dengan baik pula ke dunia lainnya. Islam menginginkan terciptanya
kedamaian dan kemakmuran di dunia ini. Nabi Muhammad mendefinisikan seorang
muslim sebagai orang yang tangan dan lidahnya tidak menyakiti seorang pun Muslim
lainnya. Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan,(Al Quran), sebagai pesan
kedamaian dan kemakmuran sekaligus sebagai hukum universal bagi penciptaan dan
manusia, Islam mengklaim diri sama tuannya dengan manusia itu sendiri.
Sejarah pemikiran dalam Islam memang merupakan bawaan dari ajaran Islam
sendiri. Karena dalam Al-Quran terdapat banyak ayat-ayat yang memerintahkan
untuk membaca, berfikir, menggunakan akal, yang kesemuanya medorong umat Islam
terutama pada ahlinya untuk berfikir mengenai segala sesuatu guna mendapatkan
kebenaran dan kebijaksanaan.
Kebangkitan pemikiran dalam dunia Islam baru muncul abad 19 yang dipelopori
oleh Sayyid Jamalludin al-Afghani di Asia Afrika, Muhammad Abduh di mesir. Bias
kedua tokoh ini di bawa oleh pelajar Indonesia yang belajar di Timur Tengah seperti
diantaranya K.H. Ahmad Dahlan. Berbekal ilmu agama yang ia kuasai dan ide-ide
pembaru dari Timur Tengah, K.H. Ahmad Dahlan mencoba menerapkannya di bumi
Nusantara.
B. Islam sebagaimana diajarkan oleh Rasullulah
Agama Islam melarang syirik. Pada dasarnya Islam mengajak kepada tauhid dan
menolak serta menentang persifatan terhadap Tuhan sebagai seorang bapak atau anak.
5

Al Quran mengatakan Dialah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dan tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan, dan tidak seorang pun yang setara dengan dia (Q.S.112:1-4)
Al Quran juga menegaskan ke-Esa-an Allah di dalam menciptakan alam,
menentang terhadap setiap perbuatan syirik kepada Allah. Yang kepunyaan-Nya
kerajaan langit dan kerajaan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada
sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya) dan Dia telah menciptakan segala sesuatu,
dan Dia telah menciptakan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. Kemudia mereka
mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya(untuk disembah) yang tuhan-tuhan itu
tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk
(menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil sesuatu
kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula)
membangkitkan.(Q.S.25: 2-3) Al Quran telah memberikan

jawaban yang tegas

perihal orang-orang yang menjadikan gejala alam sebagai sesembahan.

BAB III
POLA PEMIKIRANAN K.H AHMAD DAHLAN

A. Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan Mengembalikan Ajaran Islam Sesuai Al Quran


Keadaan umat Islam di Indonesia semasa K.H. Ahmad Dahlan hidup sangatlah
memprihatinkan, Mereka mengaku sebagai umat muslim tetapi tidak melaksanakan
ajaran-ajaran Rasullulah. Sebagai gambarannya umat Islam melaksanakan solat lima
waktu tetapi mereka juga masih melakukan penyembahan-penyembahan di tempattempat yang dikeramatkan. Ini tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad S.A.W.
Adat dan budaya asli yang berasal dari nenek moyang mereka masih terpelihara dan
dilaksankan dengan baik, dengan alasan mereka melaksanakan budaya, kebiasaan
nenek moyang yang dianggapnya sebagai ajaran Islam pula.
Keadaan yang memprihatinkan juga terjadi pada kehidupan keseharian yang
masih banyak melakukan judi, mulai judi yang menggunakan alat sampai termasuk
sabung ayam. Umat yang melakukan judi juga taat beragama, melakukan solat lima
waktu, tetapi juga tetap melaksanakan perjudian. Bahkan yang lebih parah lagi,
mereka ada yang menggantungkan hidupnya dari perjudian, menyewakan tempat
untuk berjudi. Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini juga yang membuat
K.H. Ahmad Dahlan merasa prihatin.
Hampir seluruh pemikiran K.H. Ahmad Dahlan berangkat dari keprihatinannya
terhadap situasi dan kondisi global umat Islam waktu itu yang tenggelam dalam
kejumudan (stagnasi), kebodohan, serta keterbelakangan. Kondisi ini semakin
diperparah dengan politik kolonial belanda yang sangat merugikan bangsa Indonesia.
Pemikiran atau ide-ide K.H. Ahmad Dahlan tertuang dalam gerakan
Muhammadiyah yang ia dirikan pada tanggal 18 Nopember 1912. Organisasi ini
mempunyai karakter sebagai gerakan sosial keagamaan. Titik tekan perjuangannya
mula-mula adalah pemurnian ajaran Islam dan bidang pendidikan. Muhammadiyah
mempunyai pengaruh yang berakar dalam upaya pemberantasan bidah, khurafat dan
tahayul. Ide pembaruannya menyetuh aqidah dan syariat, misalnya tentang upacara
kematian talqin, upacara perkawinan, kehamilan, sunatan, menziarahi kuburan yang
dikeramatkan, memberikan makanan sesajen kepada pohon-pohon besar, jembatan,
7

rumah angker dan sebagainya, yang secara terminologi agama tidak dikenal dalam
Islam.
Menurut K.H. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan
umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah
melalui pendidikan. Memang, Muhammadiyah sejak tahun 1912 telah menggarap
dunia pendidikan, namun perumusan mengenai tujuan pendidikan yang spesifik baru
disusun pada 1936. Pada mulanya tujuan pendidikan ini tampak dari ucapan K.H.
Ahmad Dahlan: Dadiji kjai sing kemajorean, adja kesel anggonu njambut gawe
kanggo Muhammadiyah( Jadilah manusia yang maju, jangan pernah lelah dalam
bekerja untuk Muhammadiyah).
B. KH Ahmad Dahlan Mengoreksi Arah Kiblat bagi Muslim di Indonesia dari Barat ke
Barat Laut
Pada masanya lumrah masjid dan langgar memiliki kiblat ke arah Barat.
Sebagai seorang alim yang memiliki otoritas di bidang ilmu falak, wajib baginya
menyampaikan kebenaran perkara arah kiblat walaupun tak serta merta diterima
dengan mudah, hal itu dianggap meresahkan warga, langgar warisan ayah KH Ahmad
Dahlan rata dengan tanah karena dibakar warga. Seketika ia mengajak istrinya untuk
hijrah namun sanak saudara tak ridha atas kepergiannya. Ia pun mengurungkan niatnya
untuk pergi dan membangun kembali langgar warisan sang ayah pada tahun 1901
dengan tetap menerapkan arah kiblat sebagaimana yang diyakininya.
Di masa kini kita dapat menjumpai Langgar K.H. Ahmad Dahlan dengan
kondisinya yang baru dipugar. Di pengimaman terdapat sebuah penanda, entah dibuat
oleh Kiai atau setelahnya, yang menunjukkan perhitungan arah kiblat. Kini hampir
setiap hari ruang langgar difungsikan untuk pengajian dan pengajaran setelah beberapa
masa kosong tanpa kegiatan. Ruang bawah langgar pun beralih fungsi menjadi kantor
yayasan dan museum K.H. Ahmad Dahlan. Sebuah upaya untuk mulai
memperkenalkan kembali sosok seorang ulama besar kepada generasi masa kini.

C. KH Ahmad Dahlan Menyeru Kepada Para Wanita Untuk Menutup Aurat


8

Sejak tahun 1910-an, KH. Ahmad Dahlan juga aktif menyiarkan dan
menyatakan bahwa jilbab adalah kewajiban bagi wanita Muslim. Ia melakukan
dakwah jilbab ini secara bertahap. Awalnya ia meminta untuk memakai kerudung
meskipun rambut terlihat sebagian. Kemudian ia menyarankan mereka untuk
memakai Kudung Sarung dari Bombay.
Pemakaian kudung ini dicemooh oleh sebagian orang. Mereka mencemoohnya
dengan mengatakan,Lunga nang lor plengkung, bisa jadi kaji (pergi ke utara
plengkung, kamu akan jadi haji). Namun KH. Ahmad Dahlan tak bergeming. Ia
berpesan kepada murid-muridnya, Demit ora dulit, setan ora Doyan, sing ora betah
bosok ilate, (Hantu tidak menjilat, setan tidak suka yang tidak tahan busuk lidahnya).
Upaya menggemakan kewajiban jilbab ini terus berjalan. Tak hanya itu, ia
mendorong wanita untuk belajar dan bekerja, semisal menjadi dokter, ia tetap
menekankan wanita untuk menutup aurat dan melakukan pemisahan antara laki-laki
dan perempuan.

D. Pemikiran Pendidikan Islam KH. Ahmad Dahlan


Dahlan merasa tidak puas dengan sistem dan praktik pendidikan yang ada di
Indonesia saat itu, dibuktikan dengan pandangannya mengenai tujuan pendidikan
adalah untuk menciptakan manusia yang baik budi, luas pandangan, dan bersedia
berjuang untuk kemajuan masyarakat. Karena itu Dahlan merentaskan beberapa
pandangannya mengenai pendidikan dalam bentuk pendidikan model Muhammadiyah
khususnya, antara lain:
1. Pendidikan Integralistik
K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man of action sehingga sudah
pada tempatnya apabila mewariskan cukup banyak amal usaha bukan tulisan.
Oleh sebab itu untuk menelusuri bagaimana orientasi filosofis pendidikan Beliau
musti lebih banyak merujuk pada bagaimana beliau membangun sistem
pendidikan. Namun naskah pidato terakhir beliau yang berjudul Tali Pengikat
Hidup menarik untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsen
Beliau terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika. Sedikitnya ada
9

tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat Beliau dalam


pencerahan akal, yaitu:
a. Pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat
dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat
dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan di dasari hati yang suci;
b. Akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia;
c. Ilmu mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang
hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah
SWT.
2. Mengadopsi Substansi dan Metodologi Pendidikan Modern Belanda dalam
Madrasah-madrasah Pendidikan Agama
Yaitu mengambil beberapa komponen pendidikan yang dipakai oleh
lembaga pendidikan Belanda. Dari ide ini, K.H. Ahmad Dahlan dapat menyerap
dan kemudian dengan gagasan dan prektek pendidikannya dapat menerapkan
metode pendidikan yang dianggap baru saat itu ke dalam sekolah yang
didirikannya dan madrasah-madrasah tradisional. Metode yang ditawarkan adalah
sintesis antara metode pendidikan modern Barat dengan tradisional.
3. Memberi Muatan Pengajaran Islam pada Sekolah-sekolah Umum Modern
Belanda
Sekolah Muhammadiyah mempertahankan dimensi Islam yang kuat, tetapi
dilakukan dengan cara yang berbeda dengan sekolah-sekolah Islam yang lebih
awal dengan gaya pesantrennya yang kental. Dengan contoh metode dan sistem
pendidikan baru yang diberikannya. K.H. Ahmad Dahlan juga ingin
memodernisasi sekolah keagamaan tradisional.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam, K.H. Ahmad Dahlan
mendirikan sekolah Muallimin dan Muallimat, Muballighin dan Muballighat.
Dengan demikian diharpakan lahirlah kader-kader muslim sebagai bagian inti
program

pembaharuannya

yang

bisa

menjadi

ujung

tombak

gerakan

Muhammadiyah dan membantu menyampaikan misi-misi dan melanjutkannya di


masa depan. K.H. Ahmad Dahlan juga bekerja keras meningkatkan moral dan
posisi kaum perempuan dalam kerangka Islam sebagai instrumen yang efektif dan
bermanfaat di dalam organisasinya karena perempuan merupakan unsur penting
berkat bantuan istri dan koleganya sehingga terbentuklah Aisyiah. di tempattempat tertentu, dibukalah masjid-masjid khusus bagi kaum perempuan, seseuatu
10

yang jarang ditemukan di Negara-negara Islam lain bahkan hingga saat ini. K.H.
Ahmad Dahlan juga membentuk gerakan pramuka Muhammadiyah yang diberi
nama Hizbul Watan.

11

BAB IV
LATAR BELAKANG BERDIRINYA MUHAMMADIYAH
A. Biografi K.H. Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868, Nama kecil KH.
Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Ia merupakan anak keempat dari tujuh
orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia
termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang
terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.
Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana Ainul
Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng
Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo,
Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan
Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).

B. Latar Belakang Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan


1. Belajar dari Home Schooling
Pada saat usianya memasuki usia sekolah, Muhammad Darwis tidak
disekolahkan di sekolah formal, melainkan diasuh dan didik mengaji al-Quran dan
dasar-dasar ilmu agama Islam oleh ayahnya sendiri di rumah. pada usia delapan
tahun ia telah lancer membaca al-Quran hingga khatam. Tidak hanya itu, ia juga
mempunyai keahlian membuat barang-barang kerajinan dan mainan. Tapi, Dahlan
kecil juga sangat senang bermain gasing dan laying-layang, seperti anak laki-laki
pada umumnya.
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun.
Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran
pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan
Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya Pada usia 20 tahun 1888, ia
berganti nama menjadi Haji Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali
12

ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada
Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada 8
Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan 18 November 1912., ia mendirikan
Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
2. Belajar dari Guru ke Guru
KH Ahmad Dahlan tidak pernah merasa puas hanya dengan belajar dengan
satu guru. Berbagai guru dari beragam disiplin ilmu sudah ia temui. Guru-Guru
KH. Ahmad Dahlan yaitu diantaranya adalah :
a) KH Abu Bakar (ayahnya)
b) KH. Ahmad Sholeh (Kakak Iparnya)
c) Ilmu Fiqih (KH. Muchsin)
d) Ilmu Nahwu (KH. AbdulHamid)
e) Ilmu Falaq (KH. Raden Dahlan dan Syeck Misri Mekkah)
f) Ilmu Fiqih dan Hadis (Kiai Mahfud)
g) Ilmu Hadist (Syeck Khayyat dan Sayyid Babussijjil)
h) Qiroatul Quran (Syeckh Amin dan Sayyid Bakri Syatha, Syekh Asyari
Baceyan)
i) Ilmu Pengobatan dan Racun (Syeck Hasan),
KH Ahmad Dahlan juga bertemu dan berdialog dengan ulama dalam negeri
yang bermukim di Mekkah ketika berhaji, yaitu: Syekh Muhammad Khatib
Minangkabau, Kiai Nawawi Al-Bantatni, Kiai Mas Abdullah Surabaya, Kiai
Faqih (Pondok Mas Kumambang) Gresik, Syekh Jamil Jambek dari
Minangkabau, kiai Najrowi dari Banyumas. Selama di Mekkah itu, seorang
gurunya yang bernama Syekh Bakri Syatha memberikan nama baru kepada
Muhammad Darwis, yaitu Ahmad Dahlan
13

3. Kitab-kitab yang beliau pelajari serta mengilhami kehidupan dan perjuangannya


adalah:
a) Ahlu - sunah wal jamaah dalam ilmu aqaid
b) Mazhab imam syafiie dalam ilmu fiqih
c) Imam ghozali dalam ilmu Tasawuf
d) Kitab Tauhid (Syeikh Muhammad Abduh)
e) Kitab Tafsir Juz Amma (Syeikh Muhammad Abduh)
f) Kitab Kanzul Ulum (Gudang Ilmu-ilmu)
g) Kitab Dairatul Maarif (Farid Wajdi)
h) Kitab fil Bidah (Inbu Taimiyah), diantaranya adalah At-Tawasul Wasilah karya
Ibnu Taimiyah
i) Kitab Islam wan Nashraniyyah (Syeikh Muhammad Abduh)
j) Kitab Izzharul Haqq (Rahmatullah al-Hindi)
k) Kitab-kitab Hadist (Ulama Al-Hanbali)
l) Kitab-kitab Tafsir al-Manar (Sayyid Rasyid Ridha) dan majalah Urwatus
Wustqa Tafshilun Nasjatain Tashilus Sahadatain
m) Matan al-Hikam Ibnu Athailah
n) Al-Qashaid ath-thasyiah Abdullah al-Aththas, dan lain-lain
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya
sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad
Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya
dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu
Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.
14

Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H.
Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak.
KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai
Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah
pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.
4. Usaha KH Ahmad Dahlan Pembaharuan Pemikiran Islam
Pembaharuan dalam kehidupan keagamaan bisa berupa pemikiran maupun
gerakan, sebagai reaksi atau tanggapan terhadap keyakinan dan urusan sosial umat
islam. Ada dua kecenderungan pembaharuan, yaitu salafi yang mengutamakan
pemurnian ibadah dan akidah dari bidah, khurahat, tahayul dan syirik, maupun
kecenderungan

kearag

modernism.

Kecenderungan

kedua

adalah

reformis/modernis, gerakan ini mengarah pada pembaharuan bidang pendidikan ,


politik, sosial, budaya, mengangkat harkat martabat kaum wanita pada 18
Nopember 1912 di Yogyakarta, yang bergerak dibidang keagamaan, pendidikan,
sosial budaya dan kesehatan Muhammdiyah berdiri setelah organisasi islam
sebelumnya tidak lagi menunjukkan aktifitasnya, yakni Jamiatul Khair (Didirikan
oleh orang-orang Arab) dan Al-Irsyad (Keduanya hanya bergerak dibidang
pendidikan). Sebelumnya pada 1909 KH Ahmad Dahlan juga memasuki
perkumpulan Budi Utomo, satu-satunya organisasi yang ditata secara modern pada
waktu itu. Ia mengharapkan agar ia dapat memberikan pelajaran agama kepada para
anggota perkumpulan itu, dan selanjutnya mereka akan meneruskannya ke kantor
dan sekolah masing-masing. dengan maksud mengajar agama, pada tahun 1909
Kyai Dahlan masuk Boedi Oetomo organisasi yang melahirkan banyak tokohtokoh nasionalis. Di sana beliau memberikan pelajaran-pelajaran untuk memenuhi
keperluan anggota. Pelajaran yang diberikannya terasa sangat berguna bagi anggota
Boedi Oetomo sehingga para anggota Boedi Oetomo ini menyarankan agar Kiai
Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh
organisasi yang bersifat permanen. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari
nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa tutup bila kiai pemimpinnya
meninggal dunia.

15

Bagi Kyai Dahlan, Islam hendak didekati serta dikaji melalui kacamata
modern sesuai dengan panggilan dan tuntutan zaman, bukan secara tradisional.
Beliau mengajarkan kitab suci Al Quran dengan terjemahan dan tafsir agar
masyarakat tidak hanya pandai membaca ataupun melagukan Quran semata,
melainkan dapat memahami makna yang ada di dalamnya. Dengan demikian
diharapkan akan membuahkan amal perbuatan sesuai dengan yang diharapkan
Quran itu sendiri. Menurut pengamatannya, keadaan masyarakat sebelumnya
hanya mempelajari Islam dari kulitnya tanpa mendalami dan memahami isinya.
Sehingga Islam hanya merupakan suatu dogma yang mati.
Di bidang pendidikan, Kiai Dahlan lantas mereformasi sistem pendidikan
pesantren zaman itu, yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif
metodenya lantaran mengutamakan menghafal dan tidak merespon ilmu
pengetahuan umum. Maka Kiai Dahlan mendirikan sekolah-sekolah agama dengan
memberikan pelajaran pengetahuan umum serta bahasa Belanda. Bahkan ada juga
Sekolah Muhammadiyah seperti H.I.S. metode Quran. Sebaliknya, beliau pun
memasukkan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Kiai Dahlan terus
mengembangkan dan membangun sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya,
beliau telah banyak mendirikan sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik,
dan rumah yatim piatu.
Kegiatan dakwah pun tidak ketinggalan. Beliau semakin meningkatkan
dakwah dengan ajaran pembaruannya. Di antara ajaran utamanya yang terkenal,
beliau mengajarkan bahwa semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya
dari Nabi Muhammad SAW. Beliau juga mengajarkan larangan ziarah kubur,
penyembahan dan perlakuan yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton
seperti keris, kereta kuda, dan tombak. Di samping itu, beliau juga memurnikan
agama Islam dari percampuran ajaran agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme,
dan kejawen.

5. Karya-karya dan Lembaga yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.


16

a) Sekolah Calon Guru, Al-Qismul Arqa


b) Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (Setaraf dengan Volkschool)
c) Dalam buku Islamic Movement in Indonesia, yang diterbitkan Pusat
,Muhammadiyah,

diungkapkan

bahwa

jumlah

lembaga

pendidikan

Muhammadiyah dari TK-Perguruan Tnggi tidak kurang dari 9500 unit


d) Mencetak selebaran berisi doa sehari-hari, jadwal sholat, jadwal puasa
ramadhan, dan masalah agama islam lainnya.
e) Menerbitkan buku-buku meliputi masalah fiqih, akaid, tajwid, hadist, sejarah
Para Nabi dan Rasul dan terjemahan ayat-ayat al-Quran mengenai akhlak dan
hokum
f) Menerbitkan terjemahan buku-buku untuk pengajian tingkat lanjut bagi orang
tua, seperti Maksiat Anggota yang Tujuh dari Ihyaul Ulumiddin karya AlGhazali
g) Terbitan lainnya yaitu, Rukuning Islam lan Iman, Aqaid, Salat, Asmaning Para
Nabi kang selangkung, Nasab Dalem Sarta Putra Dalem Kanjeng Nabi, Sarat
lan Rukuning Wudhu Tuwin salat,Rukun lan Bataling Shiyam, Bab Ibadah lan
Maksiyating Nggota utawi Poncodriyo, serta tulisan syeikh Abdul Karim
Amrullah di dalam sejarah Al-Munir yang di termahkan ke dalam bahasa jawa
h) Panti Asuhan Yatim Piatu (PAYP), Khusus PAYP putra diasuh oleh
Muhammadiyah, sedangkan PAYP putri diasuh oleh Aisyiah
i) Majlis Pembina Kesehatan dan Majlis Penegmbanagan Masyarakat
j) Ikatan Seniman dan Budayawan Muhammadiyah (ISBM), namun adakendala
dalam lemabag ini baik kurangnya dukungan dari ulama ataupun kondisi
politik yang kurang kondusif. Namun, berdasarkan keputusan Munas tarjih ke22 tahun 1995 ditetapkan bahwa seni hukumnya mubah selama tidak
mengakibatkan kerusakan, bahaya, kedurhakaan, dan terjauhkan dari Allah

17

k) Majelis Ekonomi Muhammadiyah

C. Sebab-sebab Berdirinya Organisasi Muhammadiyah


Mumahadiyah adalah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama
organisasi ini diambil dari nama nabi Mumahad SAW shingga Muhamadiyah juga
dapat dikenal

sebagai orang yang menjadi pengikut Nabi Mumahad SAW.

Muhamadiyah didirikan di kampung Kauman, Yogjakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah


1330 H atau 18 November 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis
kemudian dikenal K.H. Ahmad Dahlan.
K.H. Ahmad Dalam dalam mendirikan Organisasi Muhammadiyah dipengaruhi
oleh dua faktor, yaitu faktor subyektif dan obyektif, faktor objektif dibagi menjadi 2
yaitu

yang

bersifat

internal

dan

ekstenal

yang

mempercepat

berdirinya

Muhammadiyah.
1. Faktor Subyektif
Faktor Subyektif yang sangat kuat, bahkan dikatakan sbagai faktor utama
dan faktor penentu yang mendorong berdirinya Muhammadiyah adalah hasil
pendalaman KH Ahmad. Dahlan terhadap Al Qur'an dalam menelaah, membahas
dan meneliti dan mengkaji kandungan isinya. Sikap KH. Ahmad Dahlan seperti
ini sesungguhnya dalam rangka melaksanakan firman Allah sebagaimana yang
tersimpul dalam dalam surat An-Nisa ayat 82 dan surat Muhammad ayat 24 yaitu
melakukan taddabur atau memperhatikan dan mencermati dengan penuh ketelitian
terhadap apa yang tersirat dalam ayat.
Sikap seperti ini pulalah yang dilakukan KH. A. Dahlan ketika menatap
surat Ali Imran ayat 104:

18

"Dan hendaklah ada diantara kamu sekalian segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar,
merekalah orang-orang yang beruntung ".
Memahami seruan diatas, KH. Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk
membangan sebuah perkumpulan, organisasi atau persyarikatan yang teratur dan
rapi yang tugasnya berkhidmad pada melaksanakan misi dakwah Islam amar
Makruf Nahi Munkar di tengah masyarakat kita.
2. Faktor obyektif yang bersifat internal yang mempercepat berdirinya
Muhammadiyah adalah :
a. Kelemahan dan praktik ajaran Islam, ada dua bentuk :
1) Tradisionalisme
Pemahaman dan praktik Islam tradisonalisme

ini ditandai dengan

pengukuhan yang kuat terhadap khasanah intelektual Islam masa lalu dan
menutup kemungkinan untuk melakukan ijtihad dan pembaharuan
pembaharuan dalam bidang agama. Praktik agama semacam ini
mempersulit agenda umat untuk beradaptasi dengan perkembangan baru
yang banyak datang dari luar. Kegagalan ini termanifestasi dengan
penolakan terhadap perubahan dan kemudian dan berapologi terhadap
kebenaran tradisional yang telah menjadi pengalaman hidup selama ini.
2) Sinkritisme, pertemuan agama Islam dengan budaya lokal di samping
telah memperkaya khasanah budaya Islam, pada sisi lain telah
melahirkan format-format sinkretik, percampuradukan budaya yang tidak
dapat

dihindari,

percampuradukan

yang

kadang

menimbulkan

menimbulkan
penyimpangan

persoalan
dan

tidak

ketika
dapat

dipertanggungjawabkan dalam tinjauan aqidah Islam. Meski mengaku


sebagai orang Islam, kepercayaan terhadap agama asli tidak berubah.
Contoh: percaya tempat tempat tertentu angker, kuwalat, dan lain-lain.
Pentingnya kedudukan mistik dalam Islam di Indonesia janganlah
dianggap remeh. Panteisme mendapat tanah yang subur dalam kehidupan
rohaniah dan kehidupan emosional orang Islam di Indonesia disebabkan
oleh tabiat alam pikiran Indonesia dan oleh pengaruh berabad-abad dari
agama Hindu dan Budha.
b. Lembaga Pendidikan Islam Tidak Berfungsi Sebagaimana yang Dikehendaki
K.H. Ahmad Dahlan
19

Agama Islam sebagai sebuah pengajaran berkembang

menjadi

berbagai rupa bidang pengetahuan seperti Hadits dan tafsirnya, Quran serta
tafsirnya, fiqih(Deliar Noer,1996:10). Fiqih dan mistik , dua pengetahuan
yang banyak menguasai bidang pengajaran tradisional/ pondok pesantren.
(Deliar Noer, 1996 : 12).
Pesantren, merupakan lembaga pendidikan tradisonal Islam khas
Indonesia. Ada kelemahan dalam pendidikan di pesantren, salah satu
kelemahannya materi pelajarannya hanya mengajarkan pelajaran agama,
seperti bahasa Arab, Tafsir Hadits, ilmu kalam, Tasawwuf, dan ilmu falak.
Pesantren tidak mengajarkan materi-materi pendidikan umum seperti ilmu
berhitung, biologi, kimia, ekonomi dan sebagainya. Yang justru diperlukan
umat Islam untuk memahami perkembangan zaman dalam rangka
menunaikan tugas sebagai khalifah di muka bumi.
Pengajaran Al Quran terutama untuk membaca atau mengulang-ulang
Al Quran. Tidak dirasakan kepentingan untuk memahami isinya. Pengajaran
dilakukan dengan mengunjungi dari rumah ke rumah, dan lama kelamaan
berkembang menggunakan langgar sebagai tempat belajar/sekolah. Tidak
dirancang adanya kurikulum dalam mengajar, semua murid menerima
pelajaran yang sama, hal ini terjadi juga di pondok pesantren.
Pengikut mistik biasanya membentuk suatu orde yang disebut tarekat.
Ada tiga tarekat yang ada di Indonesia yang masing-masing mempunyai
jaringan sampai ke Timur Tengah. Dalam Tarekat ini kedudukan guru sangat
penting. Kedudukan guru sangat istimewa tergambar dalam ajaran berwirid.
Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam. Kemudaratan lain berupa
keuntungan yang diperoleh kyai dari muridnya. Kyai sering menjual zimat,
sering bertindak sebagai dukun. Hal ini juga terjadi pada guru guru fiqih.
Hal di atas melatarbelakangi KH. A. Dahlan mendirikan
Muhammadiyah yaitu untuk melayani kebutuhan

umat terhadap ilmu

pengetahuan yang seimbang antara ilmu agama dan ilmu duniawi.


3. Faktor objektif yang bersifat ekstenal yang mempercepat berdirinya
Muhammadiyah
a. Kristenisasi

20

sekolah

Faktor objektif yang bersifat eksternal inilah yang

banyak

memengaruhi berdirinya Muhammadiyah. Kristenisasi dilaksanakan secara


terencana, terprogram dan sistematis dan didukung oleh pemerintah kolonial.
Misi Kristen dan Katolik memiliki dasar yang kuat

dalam konstitusi

Belanda . Bahkan kegiatan ini didanai oleh negara Belanda. Efektivitas


penyebaran agama Kristen inilah yang menggugah KH. Ahmad Dahlan untuk
membentengi umat Islam dari pemurtadan.
b. Kolonialisme Belanda
Penjajahan Belanda berpengaruh buruk terhadap perkembangan Islam
di wilayah nusantara. Ditambah praktik pemerintahan Belanda yang secara
sadar dan terencana ingin menjinakkan kekuatan Islam, hal ini semakin
menyadarkan umat Islam untuk melakukan perlawanan. Menyikapi hal ini
KH. Ahmad Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah berupaya melakukan
perlawanan melalui pendekatan kultural, terutama meningkatkan kualitas
sumber daya manusia melalui jalur pendidikan.
c. Gerakan Pembaharuan Timur Tengah
Gerakan Muhammadiyah di Indonesia merupakan salah satu mata rantai
dari sejarah panjang gerakan pembaharuan yang dipelopori oleh Ibnu
Qayyim, Muhamad bin Abdul Wahab, Jamaluddin Afgani, Muhamad Abduh,
Rasyid Ridha(Maarif: 1985:85).

Persentuhan ini diawali dengan KH.

Ahmad Dahlan membaca tulisan-tulisan dalam majalah al-Urwatul Wutsqa.

21

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Muhammadiyah lahir dari kondisi masyarakat Islam Indonesia yang tidak
menjalankan agama sesuai dengan Al Quran dan Hadits. Muhammadiyah juga lahir
dari tekanan-tekanan Kolonial terhadap dakwah Islam di Indonesia.
Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi yang digunakan oleh KH Ahmad
Dahlan dalam mengaktualisasikan ajaran agama Islam menjadi rahmatan lil-alamin
dalam kehidupan di muka bumi ini. Muhammadiyah sebagai persyarikatan digunakan
oleh KH Ahmad Dahlan sebagai upaya

menegakkan dan menjunjung tinggi agama

Islam sehingga masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Ide-ide yang di kemukakan


K.H.Ahmad Dahlan telah membawa pembaruan dalam bidang pembentukan lembaga
pendidikan Islam yang semula bersistem pesantren menjadi sistem klasikal, dimana
dalam pendidikan klasikal tersebut dimasukkan pelajaran umum kedalam pendidikan
madrasah. Meskipun demikian, K.H. Ahmad Dahlan tetap mendahulukan pendidikan
moral atau akhlaq, pendidikan individu dan pendidikan kemasyarakatan, dan
pemikiran yang lain yang bisa dirasakan dalam dalam umat islam adalah merubah arah
kiblat menjadi arah barat laut dan menyerukan dalam beribadah untuk kembali
berdasarkan Al Quran dan Al Hadits.
B. Saran
Kami sadari bahwa dalam penyusunan makalah yang berjudul Biografi dan
pikiran pikiran Ahmad Dahlan Serta Sebab Lahirnya Muhammadiyah masih banyak
kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu kami mengharap kritik dan saran yang
membangun dari Dosen pembimbing dan rekan-rekan angkatan ke 13 semester 1
Pasca Sarjana PBSI Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

22

DAFTAR PUSTAKA
Amir

Hamzah Wirjosukarto, 1985, Pembaharuan


Islam,Jember: Mutiara Offset

Pendidikan

dan

Pengajaran

Hambali, Hamdan.2007. Ideologi dan Strategi Muhammadiyah.Yogjakarta: PT Surya


Sarana Utama.
Junus salam, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah, (Tangerang: Al-Wasat Publising
House, 2009), hal.56.
Noer, Deliar.1996. Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1990-1942. Jakarta: PT Pustaka
LP3ES.
Nugraha, Adi. 2009. Biografi Singkat KH. Ahmad Dahlan. Yogjakarta : Garasi.
Pasha, Musthafa Kamal.2003. Muhmammadiyah sebagai Gerakan Islam. Yogjakarta:LPPI.
Perdana, Muhamad Rizki. Sejarah Berdirinya Muhamadiyah diunggah pada media on
line 20 November 2012
Ramayulis dan Samsul Nizar, 2009, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia
Soedja, Muhammad, 1993. Cerita tentang kyiai haji Ahmad Dahlan, Jakarta: Rhineka
Cipta
Thaba, Abdul Aziz. 1996. Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru. Jakarta:Gema
Insani Press.
http://asbarsalim009.blogspot.com/2014/02/latar-belakang-berdirinyamuhammadiyah.html
http://digilib.uin-suka.ac.id/5496/2/BAB%20II,III.pdf

23