Anda di halaman 1dari 2

Ingatan saya melompat ke masa silam.

Di ITB, saat itu tak ada yang tak kenal KH Abdul Latief
Aziz. Beliau adalah guru agama pertama di ITB, bahkan sebelum Masjid Salman ITB berdiri. Ya,
KH Abdul Latief Aziz adalah salah satu perintis Masjid Salman dan sudah mengajar di sana.
Ada yang unik saat beliau mengajar agama. Setiap hari pertama bertemu mahasiswa dalam mata
kuliah agama, beliau selalu meminta mahasiswanya menuliskan Al Fatihah.
Latin ustadz? kata salah satu mahasiswa.
Iya kata KH Abdul Latief
Maka, mahasiswa pun menulis Al Fatihan dengan tulisan latin. Itu pun belum tentu benar semua,
karena ada panjang pendek dan lain sebagainya. Sudah selesai menulis latin, kini sang Kiai
meminta mahasiswanya menulis dengan bahasa Arab. Coba tuliskan Al Fatihah dengan bahasa
Arab, kata KH Latief Aziz. Maka, sulitnya bukan kepayang.
Pembaca, jika permintaan ini dilontarkan ke kita, apakah kita bisa menuliskannya dengan benar?
Inilah kita, kita mengaku seorang muslim, namun perhatian kita ke Al-Quran sampai di mana?
Begitulah sepenggal kisah allahuyarham Abdul Latief Aziz mengingatkan akan pentingnya
kedekatan dengan Al Quran.
Makin baik pengetahuan Quran kita, makin baik pula agama kita. Semakin mendalami Quran,
semakin pula kita takjub. Beberapa halnya sangat unik, seperti jumlah kata yang berpadanan,
antonym dan lainnya.
Jumlah kata iblis sama dengan malaikat, 88 kali muncul. Jumlah kata syahr (bulan) 12 kali muncul.
Kata yaum (hari) 365 kali muncul. Makin kurang pengetahuan kita tentang Quran, makin kurang
baik pula agama kita. Di mana kita?
Ketika kita punya target-target pencapaian dunia dalam diri kita, its ok, itu bagus. Tahun sekian
berapa miliar, tahun sekian berapa miliar. Tahun ini menjadi manager, tahun depan menjadi apa, 10
tahun lagi menjadi GM, dan semua itu kita targetkan, dan itu bagus. Tapi, di mana Quran? Di mana
Kita dan di mana Al Quran?
Apakah kita punya target terhadap Al Quran? Atau kita selama ini tidak punya target Al Quran kita?
Berapa sekarang ayat Al Quran? Coba apakah kita tahu berapa? Apa benar 6.666 ayat? Atau berapa?
Bahkan ayat pun kita tidak tahu berapa.
Sekarang coba buka excel, masukkan 114 surat. Masukkan Al Fatihah 7 surat, Al baqarah 286, Ali
Imran 200, dan seterusnya. Berapa dijumlahkan semuanya? Ya, ada 6.236 ayat, walau masih ada
perbedaan di kalangan ulama karena ada beberapa ayat yang diperselisihkan.
Lalu, dari 6.236 ayat Quran berapa hafalan kita? Sampai 3.000? 1.000? 5.00? 100 ? Berapa?
Adakah target kita terhadap Quran? Padahal, pengetahuan kita terhadap Quran membuat
pemahaman kita terhadap agama ini semakin baik, karena Quran adalah sumber agama kita.
Kadang, maaf, kita sudah merasa beragama dengan sangat baik, namun Quran kita cuekin. Nggak
ada target, dan kita kedodoran dengan Quran ini. Apa makna Al Fatihah yang selalu kita baca saat
shalat? Apakah kita meresapinya?
Apa itu Ar Rahman? Apa itu Ar Rahim? Dengan memahami Al Quran, bahkan shalat kita bisa

menjadi nikmat. Pemahaman terhadap Al Quran adalah salah satu ukuran dalam beragama. Dan
semoga, kita mulai merenung kembali, di mana Quran di tengah kehidupan kita?
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi
khabar gembira kepada orang-orang Mumin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada
pahala yang besar (QS. Al Isra: 9)