Anda di halaman 1dari 27

IDENTITAS PENDERITA

Nama
: Tn. S
Umur

: 34 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

Pekerjaan

: Kuli Pasir

Diperiksa

No. CM

DATA DASAR
Anamnesis
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2015
Keluhan Utama
: Benjolan di selangkangan kiri
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh terdapat benjolan
di selangkangan kiri. Benjolan sebesar bola tenis. Benjolan tidak bisa
dimasukkan ke dalam perut, benjolan tidak terasa nyeri, mual (+), muntah (+),
kembung (+), kentut (+), Pasien tidak dapat BAB sejak 3 hari yang lalu dan
BAK tidak ada keluhan. Pasien sudah meminum obat tetapi pasien tidak tahu
obat apa yang diminum.
Riwayat sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh terdapat
benjolan di selangkangan kiri, hilang timbul dan nyeri. Benjolan muncul setelah
bekerja melakukan aktivitas berat (menambang pasir) dan menghilang setelah
istirahat. Keluhan mual (-), muntah (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Karena keluhan dirasakan bertambah berat, maka pasien dibawa berobat ke
UGD RSUD Muntilan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit Hipertensi (-)
Riwayat maag (-)
Riwayat penyakit Diabetes Mellitus (-)
Riwayat batuk lama (-)
Riwayat alergi atau asma (-)
Riwayat operasi sebelumnya (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
- Anggota keluarga tidak ada yang sakit seperti ini
1

Riwayat penyakit diabetes mellitus (-)


Riwayat penyakit hipertensi (-)
Riwayat alergi atau asma (-)

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien bekerja sebagai penambang pasir. Pasien mempunyai 1 orang istri
dan mempunyai 2 orang anak. Biaya pengobatan ditanggung oleh
Jamkesmas.
Kesan sosial ekonomi : kurang
Pemeriksaan Fisik
Tanggal 29 Oktober 2015
Status Generalis
Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: Kompos mentis
GCS : E5 M6 V5 = 15

Tanda vital

: TD

: 120/70 mmHg

RR

: 20 kali/menit

: 88 kali/ menit reguler, isi dan tegangan cukup

: 37,1 oC (aksiler)

Kulit

: warna sawo matang, ikterus (-), turgor cukup

Mata

: konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik(-/-)

Hidung

: napas cuping hidung (-), discharge (), epistaksis ()

Telinga

: discharge(-), nyeri mastoid(-), nyeri tekan tragus (-/-)

Mulut

: bibir sianosis (-), faring hiperemis (-), mukosa kering ()

Leher

: JVP meningkat (-), trakea di tengah, pembesaran KGB ()

Thorax

: bentuk normal, sela iga tidak melebar, retraksi dinding

dada (), otot bantu napas (), SIC membesar (), costa mendatar (), spider
naevi (), napas normal
Jantung
Inspeksi

: Iktus cordis tak tampak

Palpasi

: Iktus cordis teraba di SIC V 2 cm medial linea mid


clavicularis sinistra, tidak melebar, kuat angkat (-)

Perkusi

: konfigurasi jantung dalam batas normal

Auskultasi

: bunyi jantung I-II (+) normal, bising (-), gallop (-)

Thoraks anterior :
Inspeksi

: simetris saat statis dan dinamis

Palpasi

: stem fremitus kanan = stem fremitus kiri

Perkusi

: sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi

: suara dasar
suara tambahan

: vesikuler
: -/-

Thoraks posterior :
Inspeksi

: simetris saat statis dan dinamis

Palpasi

: stem fremitus kanan = stem fremitus kiri

Perkusi

: Sonor seluruh lapangan paru

Auskultasi

: suara dasar
suara tambahan

: vesikuler
: -/-

Abdomen :
Inspeksi

: datar, venektasi (-)

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Perkusi

: timpani, pekak sisi (+) normal, pekak alih (-)

Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba,


lien tidak teraba, defans muskular (-).

Extremitas

Superior

Inferior

Edema

-/-

-/-

Sianosis

-/-

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

<2/<2

<2/ <2

+/+

+/+

Gerak

+/+

+/+

Kekuatan

5/5

5/5

Capillary refill
Sensibilitas
Motorik

Trofi

eutrofi/eutrofi

eutrofi/eutrofi
Rectal Toucher
Tonus sfingter ani baik, mukosa licin, massa (-)
Prostat : diameter mediolateral 1,5 cm / 1,5 cm, permukaan rata, konsistensi
kenyal, sulcus medianus teraba, polus anterior tidak teraba.
Handscoon : feses (+), lendir (-), darah (-)
Status Lokalis
Regio Inguinalis Scrotalis Sinistra
Inspeksi : tampak benjolan berbentuk lonjong, kurang lebih berukuran 6 cm x 3
cm x 2 cm, warna sama seperti kulit sekitar, terdapat gambaran gerakan usus.

Palpasi : nyeri tekan (-), perabaan suhu seperti kulit sekitar, konsistensi kenyal,
benjolan tidak dapat didorong masuk ke rongga abdomen, tidak ada fluktuasi,
testis teraba terpisah dari benjolan.
Auskultasi : bising usus (+)

Pemeriksaan Laboratorium
Darah Lengkap
Nama test
Jumlah Sel Darah
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
MPV
Index
RDW
MCV
MCH
MCHC
Differential
Netrofil
Limfosit
Monosit
Eosinophil
Basophil

Hasil

Nilai
Rujukan

Satuan

5.18
5.02
13.6
35
275
7.59

4.2 9.3
4.5 5.5
13.0 16.0
37 48
150 450
7.2 11.1

Ribu/mm3
Juta/L
g/dL
%
Ribu/L
fL

13.8
84
31
33.5

11.5 14.5
80 100
26 34
32 36

%
fL
pg
%

58.4
23.0
7.2
3.0
1.4

50 70
25 40
28
24
01

%
%
%
%
%

Kimia Klinik
GDS

: 115 mg/dl

DIAGNOSIS KLINIS
Hernia Inguinalis Lateralis Sinistra Inkarserata
INITIAL PLANS
IPDx : S : O : darah rutin, elektrolit

IPRx

: - infus RL 20 tpm
- Pasang NGT
- Pasang kateter Foley no. 16
- Posisi Trendelenburg

IPMx :
IPEx

KU, Tanda Vital, balance cairan

:
- Menjelaskan kepada penderita dan keluarga penderita bahwa
terdapat bagian isi perut penderita yang turun dan masuk ke
dalam kantong pelir dan usus sudah terjepit oleh cincin hernia.
- Menjelaskan kepada penderita dan keluarga penderita tentang
penatalaksanaan yang akan dilakukan bahwa perlu dilakukan
tindakan operasi 2 tahap ,yaitu yang pertama untuk melebarkan
cincin hernia dan yang kedua memasukkan kembali isi perut
tersebut. Jika tidak dilakukan tindakan operasi bagian isi perut
tersebut akan rusak dan timbul infeksi yang akan menjalar ke
perut. Jika bagian usus yang terjepit sudah tidak dapat hidup
maka bagian tersebut akan dipotong.
- Menjelaskan mengenai risiko operasi yang mungkin terjadi seperti
perdarahan, infeksi, trauma pada usus, atau organ sekitarnya.

Daftar Pustaka :

Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis hernia
2. Etiologi dan faktor risiko hernia
3. Penatalaksanaan hernia
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio
1. Subjektif
- Keluhan utama : benjolan di selangkangan kiri
- Onset : tiga bulan dan memberat 3 hari SMRS
- Keluhan penyerta mual, muntah, lemas, perut terasa kembung.
- Riwayat perdarahan, penyakit kronis, kelainan darah disangkal.

2. Objektif
- Keadaan umum
- Kesadaran
- Vital sign

: Tampak sakit sedang


: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 120/70 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

Respiration Rate

: 20 x/menit

Suhu

: 37,1 0C

Status generalis
Pemeriksaan fisik : dalam batas normal
Status Lokalis
Regio Inguinalis Scrotalis Sinistra
Inspeksi : tampak benjolan berbentuk lonjong, kurang lebih berukuran 6
cm x 3 cm x 2 cm, warna sama seperti kulit sekitar, terdapat gambaran
gerakan usus.
Palpasi : nyeri tekan (-), perabaan suhu seperti kulit sekitar, konsistensi
kenyal, benjolan tidak dapat didorong masuk ke rongga abdomen, tidak
ada fluktuasi, testis teraba terpisah dari benjolan.
Auskultasi : bising usus (+)

3. Pemeriksaan Penunjang
Hemoglobin

13,6 g/dl

Leukosit

5,18 jt/mm3

Trombosit

275 ribu/L

4. Assessment
Laki laki 34 tahun dengan hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata
5. Plan
- infus RL 20 tpm
- Pasang NGT
- Pasang kateter Foley no. 16
- Posisi Trendelenburg

BAB I
PENDAHULUAN
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian yang lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Sebagian besar
hernia timbul dalam regio inguinalis, sekitar 50% merupakan hernia inguinalis
lateral (indirek) dan 25% sebagai hernia inguinalis medialis (direk).1

Setelah appendisitis, hernia inguinalis merupakan kasus bedah terbanyak.1


Lebih dari 1 juta hernia abdominalis di Amerika Serikat menjalani perbaikan,
diantaranya terhadap hernia inguinalis sebanyak 770.000 kasus. Sebanyak 25 %
laki-laki dan 2% wanita mengalami hernia inguinalis, sekitar 75 % dari hernia
inguinal merupakan hernia inguinal lateralis dan 25% merupakan hernia
inguinalis medialis. Pada anak-anak insiden hernia inguinalis berkisar 4,4%.
Insiden hernia inkarserata pada pasien pediatrik 10-20 %, 50% terjadi pada bayi
kurang dari 6 bulan.2
Hernia inguinalis hingga saat ini masih merupakan tantangan dalam
peningkatan status kesehatan masyarakat akibat besarnya biaya yang diperlukan
dalam penanganan serta hilangnya tenaga kerja akibat lambatnya pemulihan dan
angka rekurensi. Sejak tahun 1500 sebelum Masehi hernia inguinalis sudah dicatat
sebagai penyakit pada manusia dan mengalami banyak sekali perkembangan
seiring bertambahnya pengetahuan struktur anatomi pada regio inguinal.3
Tingginya angka kejadian hernia serta penanganan yang memakan waktu
yang cukup lama, seorang dokter harus memiliki pengetahuan mengenai hernia
mencakup faktor resiko, manifestasi klinis, gambaran fisik dan penatalaksaan
hernia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Anatomi 4
Struktur Dinding Abdomen
Lapisan-lapisan dinding abdomen terdiri dari (luar ke dalam):
1. Kulit

2. Fascia superficialis, terdiri dari fascia camperi dan fascia scarpae


3. Otot dinding anterior abdomen, antara lain: muskulus obliquus
externus abdominis, muskulus obliquus internus abdominis, muskulus
transversus abdominis
4. Fascia transversalis
5. Lemak extraperitoneal
6. Peritoneum parietale

Gambar 1. Lapisan-Lapisan Dinding Abdomen

1. Kulit
Garis-garis lipatan kulit alami berjalan konstan dan hampir horizontal di
sekitar tubuh. Secara klinis hal ini penting karena insisi sepanjang garis lipatan ini
akan sembuh dengan sedikit jaringan parut sedangkan insisi yang menyilang
garis-garis ini akan sembuh dengan jaringan parut yang menonjol.
2. Fascia superficialis:

10

a. Lapisan luar, Panniculus adiposus (fascia camperi): berhubungan dengan


lemak superficial yang meliputi bagian tubuh lain dan mungkin sangat
tebal (3 inci [8cm] atau lebih pada pasien obesitas).
b. Lapisan dalam, Stratum membranosum (fascia scarpae): stratum
membranosum tipis dan menghilang di sisi lateral dan atas. Di bagian
inferior, stratum membranosum berjalan di depan paha dan di sini bersatu
dengan fascia profunda pada satu jari di bawah ligamentum inguinal.
3. Otot dinding anterior abdomen:
a. Musculus obliquus externus abdominis
Merupakan lembaran otot yang lebar dan tipis, dibentuk oleh dua lapisan:
superfisial dan profunda menjadi aponeurosis obliquus externus. Bersama
dengan aponeurosis otot obliqus internus dan transversus abdominis,
mereka membentuk sarung rektus dan akhirnya linea alba. Aponeurosis
obliqus eksternus menjadi batas superfisial dari kanalis inguinalis.
Ligamentum inguinal terletak dari spina iliaca anterior superior ke
tuberculum pubicum. Ligamentum inguinale (Poupart) merupakan
penebalan bagian bawah aponeurosis muskulus obliqus eksternus. Terletak
mulai dari SIAS sampai ke ramus superior tulang pubis. Lakunare
(Gimbernati) merupakan paling bawah dari ligamentum inguinale dan
dibentuk dari serabut tendon obliqus eksternus yang berasal dari daerah
Sias.
b. Muskulus obliquus internus abdominis
Merupakan lembaran otot yang lebar dan tipis yang terletak di profunda
muskulus obliquus externus abdominis. Serabut tendon yang terbawah
bergabung dengan serabut-serabut yang sama dari muskulus transversus
abdominis membentuk conjoined tendon.

c. Muskulus transversus abdominis


Merupakan lembaran otot yang tipis dan terletak di profunda muskulus
obliquus internus abdominis dan serabut-serabutnya berjalan horizontal ke
depan. Serabut tendo yang terbawah bersatu dengan serabut tendo yang

11

sama dari muskulus obliquus internus abdominis membentuk conjoined


tendon.
4. Fascia transversalis
Merupakan lapisan fascia tipis yang membatasi muskulus transversus
abdominis. Fascia transversalis dapat dibagi menjadi dua bagian, satu terletak
sedikit sebelum yang lainnya, bagian dalam lebih tipis dari bagian luar; ia keluar
dari tendon otot transversalis pada bagian dalam dari spermatic cord dan berikatan
ke linea semulunaris. Ligamentum Cooper terletak pada bagian belakang ramus
pubis dan dibentuk oleh ramus pubis dan fascia.
5. Lemak extraperitoneal
Merupakan selapis tipis jaringan ikat yang mengandung lemak dalam
jumlah yang bervariasi dan terletak diantara fascia transversalis dan peritoneum
parietal.
6. Peritoneum parietal
Merupakan membrana serosa tipis (pelapis dinding abdomen) dan
melanjutkan diri ke bawah dengan peritoneum parietal yang melapisi rongga
pelvis.
Arteri dinding anterior abdomen:

Arteri epigastrika superior: merupakan salah satu cabang terminal arteri


thoracica interna. Mendarahi bagian tengah atas dinding anterior abdomen
dan beranastomosis dengan arteria epigastrika inferior.

Arteri epigastrika inferior: merupakan cabang arteria iliaca externa tepat


diatas ligamentum inguinale. Mendarahi bagian tengah bawah dinding
abdomen anterior dan beranastomosis dengan arteria epigastika superior.

Arteri circumflexa profunda: merupakan cabang arteria iliaca externa tepat


di atas ligamentum inguinal. Mendarahi bagian lateral bawah dinding
abdomen.

Dua arteri intercostalis posterior bagian bawah merupakan cabang aorta


descendens dan empat arteri lumbalis yang berasal dari aorta abdominalis.
Mendarahi bagian lateral dinding abdomen.

12

Vena dinding anterior abdomen:

Vena epigastrika superior

Vena epigastrika inferior

Vena circumflexa ilium profunda

Vena intercostalis posterior mengalirkan darah ke vena azygos

Vena lumbalis mengalirkan darah ke vena cava inferior

Mengalirkan darah ke vena


thoracica interna dan vena
iliaca externa

Canalis Inguinalis
Canalis inguinalis merupakan saluran oblik yang menembus bagian bawah
dinding anterior abdomen dan terdapat pada kedua jenis kelamin. Pada laki-laki,
saluran ini merupakan tempat lewatnya struktur-struktur yang berjalan dari testis
ke abdomen dan sebaliknya. Pada perempuan, saluran ini dilalui oleh ligamentum
teres uteri (rotundum) yang berjalan dari uterus ke labium majus pudendi. Selain
itu, saluran ini dilewati oleh nevus ilioinguinalis baik laki-laki maupun
perempuan.
Canalis inguinalis panjangnya sekitar 1.5 inci (4 cm) pada orang dewasa
dan terbentang dari anulus inguinalis profundus (lubang berbentuk oval terletak
sekitar 1.3 cm di atas ligamentum inguinal pada pertengahan antara sias dan
symphisis pubis) pada fascia transversalis, berjalan ke bawah dan medial sampai
anulus inguinalis superficialis (lubang berbentuk segitiga) pada aponeurosis
obliquus externus abdominis. Canalis inguinalis terletak sejajar dan tepat di atas
ligamentum inguinal.

13

Gambar 2. Canalis Inguinalis


Dinding canalis inguinalis terdiri dari dinding anterior, dinding posterior,
dinding inferior/dasar, dan dinding superior/atap. Dinding anterior canalis
inguinalis dibentuk oleh aponeurosis muskulus obliquus externus abdominis.
Dinding posterior canalis inguinalis dibentuk oleh fascia transversalis. Dinding
inferior canalis inguinalis dibentuk oleh lipatan pinggir bawah aponeurosis
muskulus obliquus externus abdominis yang disebut ligamentum inguinale dan
ujung medialnya disebut ligamentum lacunare. Dinding superior canalis inguinalis
dibentuk oleh serabut-serabut terbawah muskulus obliquus internus abdominis
dan muskulus transversus abdominis yang melengkung.
Fungsi canalis inguinalis, pada laki-laki, memungkinkan struktur-struktur
yang terdapat di dalam funiculus spermaticus berjalan dari atau ke testis menuju
abdomen dan sebaliknya. Pada perempuan, canalis inguinalis yang lebih kecil
memungkinkan ligamentum teres uteri berjalan dari uterus menuju ke labium
majus.

14

Adanya canalis inguinalis pada bagian bawah dinding anterior abdomen


pada laki-laki dan perempuan merupakan suatu tempat lemah. Tataletak canalis
inguinalis untuk mengatasi kelemahan ini:
1. Dinding anterior canalis inguinalis diperkuat oleh serabut-serabut muskulus
obliquus internus abdominis tepat di depan anulus inguinalis profundus
2. Dinding posterior canalis inguinalis diperkuat oleh conjoined tendon tepat di
belakang anulus inguinalis superficialis
3. Pada waktu batuk dan mengedan (miksi, defekasi, dan partus), serabut-serabut
paling bawah muskulus obliquus internus abdominis dan muskulus transversus
abdominis yang melengkung berkontraksi sehingga atap yang melengkung
menjadi datar dan turun mendekati lantai. Atap mungkin menekan isi canalis
inguinalis ke arah dasar sehingga sebenarnya canalis inguinalis menutup.
4. Bila diperlukan mengedan dengan kuat, seperti pada defekasi dan partus,
secara alamiah orang cenderung dalam posisi jongkok, articulatio coxae fleksi,
dan permukaan anterior tungkai atas mendekati permukaan anterior dinding
abdomen. Dengan cara ini, bagian bawah dinding anterior abdomen dilindungi
oleh tungkai atas.
Funikulus Spermatikus
Funikulus spermatikus berawal pada anulus inguinalis profundus yang
terletak lateral terhadap arteri epigastrica inferior dan berakhir di testis. Strukturstruktur pada funikulus spermatikus adalah sebagai berikut: 1. Vas deferens, 2.
Arteria testikularis, 3. Vena testikularis, 4. Pembuluh limfatik testis, 5. Saraf-saraf
otonom, 6. Prosessus vaginalis (sisa), 7. Arteri cremaster, 8. Arteri ductus
deferentis, dan 9. Ramus genitalis nervus genitofemoralis yang mensarafi
muskulus cremaster.

15

Gambar 3. Funikulus Spermatikus


Trigonum Hesselbach
Trigonum Hesselbach merupakan daerah dengan batas:

Inferior: Ligamentum Inguinal.

Lateral: Vasa epigastrika inferior.

Medial: Tepi m. rectus abdominis.

Dasarnya

dibentuk

oleh

fascia

transversalis

yang

diperkuat

serat

aponeurosis m.transversus abdominis. Hernia yang melewati trigonum Hesselbach


disebut sebagai hernia direk, sedangkan hernia yang muncul lateral dari trigonum
ini adalah hernia indirek.

16

Gambar 4. Trigonum Hesselbach


2.2.

Hernia Inguinalis

2.2.1

Definisi 5
Hernia berasal dari kata latin yang berarti ruptur. Hernia merupakan

protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari
dinding rongga bersangkutan. Meskipun hernia dapat terjadi di berbagai tempat
dari tubuh kebanyakan defek melibatkan dinding abdomen dan pada umumnya
daerah inguinal.
Hernia ingunalis dibagi menjadi dua yaitu Hernia Inguinalis Lateralis (HIL)
dan Hernia Inguinalis Medialis. Hernia inguinalis lateralis mempunyai nama lain
yaitu hernia indirecta yang artinya keluarnya tidak langsung menembus dinding
abdomen. Selain hernia indirek nama yang lain adalah hernia oblique yang artinya
kanal yang berjalan miring dari lateral atas ke medial bawah. Hernia ingunalis
lateralis sendiri mempunyai arti pintu keluarnya terletak disebelah lateral vasa
epigastrica inferior. Hernia inguinalis lateralis (HIL) sebagiannya merupakan
kelainan kongenital, meskipun ada yang didapat. Hernia inguinalis medialis
(HIM) atau hernia direk hampir selalu disebabkan oleh peninggian tekanan
intraabdomen kronik dan kelemahan otot dinding di trigonum Hesselbach.

17

2.2.2

Epidemiologi
Tujuh puluh lima persen dari semua kasus hernia di dinding abdomen

muncul didaerah sekitar lipat paha.


Insidensi hernia inguinalis belum diketahui secara pasti. Menurut
Abrahamson (1997), pada usia anak- anak, ditemukan antara 10 - 20 per 1000
kelahiran hidup. Di belahan dunia bagian barat insiden hernia inguinalis pada
usia dewasa bervariasi antara 10 % dan 15 %. Sedangkan Zimmerson dan Anson
cit Schwartz (1994), melaporkan kejadian hernia adalah 5 % dari populasi lakilaki dewasa. Hernia inguinalis terjadi lebih banyak pada laki- laki daripada
wanita dengan perbandingan 7 : 1. Pada laki- laki umur 25 - 40 tahun
insidensinya bervariasi antara 5 - 8 %, sedangkan pada umur lebih dari 75 tahun
mencapai 45 %.1
Hernia indirect lebih banyak daripada hernia direct yaitu 2:1. Hernia sisi
kanan lebih sering terjadi daripada di sisi kiri. Sedangkan untuk Hhrnia femoralis
kejadiannya kurang dari 10 % dari semua hernia.
Hernia terdapat 6 kali lebih banyak pada pria dibandingkan wanita. Pada
pria, 97% dari hernia terjadi di daerah inguinalis, 2% sebagai hernia femoralis dan
1% sebagai hernia umbilicalis. Pada wanita variasinya berbeda, yaitu 50% terjadi
pada daerah inguinalis, 34% pada canalis femoralis dan 16% pada umbilicus.6
Tabel 1. Frekuensi Relatif Hernia Abdominal Eksternal
Frekuensi Relatif Hernia Abdominal Eksternal
Tipe Hernia

Insidens (%)

Epigastric

Umbilical

Insisional

10

Inguinal

78

Femoral

Lain-lain (jarang)

18

2.2.3

Faktor Resiko
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau didapat.

Hernia dapat dijumpai pada segala usia, dan lebih banyak pada laki-laki daripada
perempuan. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk
hernia di anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong
dan isi hernia. Selain itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia
melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar itu.
Faktor yang dipandang berperan dalam terjadinya hernia ingunalis antara lain:
1. Prosessus vaginalis persisten
Hernia mungkin sudah tampak sejak bayi tetapi lebih banyak yang
baru terdiagnosis sebelum pasien mencapai usia 50 tahun. Analisis dari
data statistik otopsi dan pembedahan menunjukkan bahwa 20 % laki-laki
yang masih mempunyai prosesus vaginalis hingga saat dewasanya
merupakan predisposisi hernia inguinalis7.
Sebelum lahir, prosesus vaginalis normalnya akan mengalami
obliterasi sehingga menutup pintu masuk kanalis inguinalis dari kavum
abdomen. Penyebab obliterasi tersebut tidak diketahui dengan pasti, tetapi
beberapa penelitian menyatakan bahwa calcitonin gene related peptide
(CGRP) yang dikeluarkan oleh nervus genitofemoralis, berperan dalam
proses tersebut10.
2. Naiknya tekanan intraabdominal secara berulang
Naiknya tekanan intra abdominal biasa disebabkan karena batuk
atau tertawa terbahak-bahak, partus, prostate hipertrofi, vesikulolithiasis,
karsinoma kolon, sirosis dengan asites, splenomegali masif merupakan
faktor resiko terjadinya hernia inguinalis. Merokok lama bisa menjadi
sebab direk hernia inguinalis dengan mekanisme, terjadinya pelepasan
serum elasytyolitik yang menyebabkan terjadinya penipisan fascia
transversalis. Pada asites, keganasan hepar, kegagalan fungsi jantung,
penderita yang menjalani peritoneal dialisa menyebabkan peningkatan

19

tekanan intra abdominal sehingga membuka kembali prosesus vaginalis


sehingga terjadi indirek hernia7.
3. Lemahnya otot-otot dinding abdomen
Akhir-akhir ini beberapa peneliti sepakat bahwa lemahnya otot-otot
dan fascia dinding perut pada usia lanjut, kurangnya olahraga, adanya
timbunan lemak, serta penurunan berat badan dan fitness memungkinkan
adanya angka kesakitan hernia. Abnormalitas struktur jaringan kolagen
dan berkurangnya konsentrasi hidroksi prolin berperan penting terhadap
berkurangnya daya ikat serabut kolagen dan ini ada hubungannya dengan
mekanisme rekurensi hernia ataupun adanya kecenderungan sifat-sifat
familier dari hernia. Hernia rekuren terjadi kurang dari 6 bulan hal tersebut
disebabkan oleh karena kesalahan teknik, tetapi bila terjadi setelah 6 bulan
pasca operasi maka hal tersebut disebabkan oleh penipisan dari fascia.7

2.2.4

Klasifikasi

1. Menurut waktu
a. Hernia kongenital
b. Hernia akuisita/didapat
2. Menurut lokasi/letaknya
a. Hernia inguinalis
b. Hernia femoralis
c. Hernia umbilikalis
3. Secara klinis
a. Hernia reponibilis: bila isi hernia dapat keluar masuk. Keluar saat
berdiri atau mengedan, masuk ketika berbaring atau bila didorong
masuk perut
b. Hernia ireponibilis: bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali
ke dalam rongga perut. Ini biasanya disebabkan oleh pelekatan isi
kantong kepada peritoneum kantong hernia.
c. Hernia strangulasi: hernia ireponibel yang disertai gangguan
vaskularisasi
20

d. Hernia inkarserata: hernia ireponibel yang disertai gangguan


pasasse
Hernia Inguinalis dibagi menjadi:
1. Hernia ingunalis lateralis (HIL)
Hernia inguinalis lateralis disebut juga hernia inguinalis indirek, keluar
dari rongga peritoneum melalui anulus inguinalis internus yang teletak
lateral dari pembuluh epigastrika inferior. Hernia kemudian masuk ke
dalam kanalis inguinalis (kanalis inguinalis berisi funikulus spermatikus
pada laki-laki dan ligamentum rotundum pada perempuan) dan jika cukup
panjang, menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus. Apabila hernia
ini berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum sehingga disebut hernia
skrotalis. HIL dikenal sebagai hernia indirek karena keluar melalui dua
pintu dan saluran, yaitu annulus dan kanalis inguinalis. Pada pemeriksaan
hernia lateralis akan tampak tonjolan berbentuk lonjong. Dapat terjadi
secara kongenital atau akuisita.
a. Hernia inguinalis indirek congenital
Terjadi bila processus vaginalis peritonei pada waktu bayi dilahirkan
sama sekali tidak menutup. Sehingga kavum peritonei tetap
berhubungan dengan rongga tunika vaginalis propria testis. Dengan
demikian isi perut dengan mudah masuk ke dalam kantong peritoneum
tersebut.
b. Hernia inguinalis indirek akuisita
Terjadi bila penutupan processus vaginalis peritonei hanya pada suatu
bagian saja. Sehingga masih ada kantong peritoneum yang berasal dari
processus vaginalis yang tidak menutup pada waktu bayi dilahirkan.
Sewaktu-waktu kantung peritonei ini dapat terisi dalaman perut
(misalkan pada saat tekanan intra abdomen meningkat).

21

Gambar 5. Hernia Inguinalis Lateralis


2. Hernia inguinalis medialis
Hernia inguinalis direk disebut juga hernia inguinalis medialis, menonjol
langsung ke depan melalui segitiga Hasselbach, daerah yang dibatasi ligamentum
inguinal di bagian inferior, pembuluh epigastrika inferior di bagian lateral dan tepi
otot rektus di bagian medial. Dasar segitiga Hasselbach dibentuk oleh fasia
transversal yang diperkuat oleh serat aponeurosis muskulus transversus abdominis
yang kadang-kadang tidak sempurna sehingga daerah ini potensial untuk menjadi
lemah. Hernia medialis, karena tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak
ke skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin hernia longgar.

22

Gambar 6. Hernia Inguinalis Medialis


Hernia terdiri atas tiga bagian:
a. Kantong hernia, merupakan kantong (divertikulum) peritonei dan
mempunyai leher dan badan (corpus). Pada hernia abdominalis, kantong
hernia ini berupa peritoneum parietalis.
b. Isi hernia dapat terdiri atas setiap struktur yang ditemukan di dalam cavitas
abdominalis dan dapat bervariasi dari sebagian kecil omentum sampai
organ besar seperti usus.
c. Pelapis hernia dibentuk dari lapisan-lapisan dinding abdomen yang dilalui
oleh kantong hernia.

Gambar 7. Bagian-Bagian dari Hernia

23

2.2.5 Patofisiologi
Proses penurunan testis merupakan proses yang khas oleh karena
penurunan testis diikuti oleh peritoneum, dinding depan abdomen, dan
pembuluh darah, saraf, limphe dari kavum abdomen. Hingga mendekati
masa akhir kehidupan janin, testis tetap berada di rongga abdomen. Pada
awalnya testis terletak di dinding belakang abdomen setinggi vertebra
lumbalis I-II.8
Dari pole bawah testis terdapat suatu lipatan jaringan yang disebut
gubernaculum testis, lipatan jaringan ini akan berlanjut kedaerah inguinal.
Testis dan gubernaculum terletak dibelakang peritoneum primitive,
peritoneum akan terdorong kedepan oleh testis dan gubernaculum.
Kemudian gubernaculum membentuk suatu lipatan pelapis dengan
peritoneum yang akan melapisi testis hampir secara sempurna. Pada saat
itu testis melekat di dinding posterior abdomen pada suatu cekungan yang
disebut mesorchium. Pada bulan ketiga kehidupan janin, testis terletak
pada fossa iliaca dan pada bulan ketujuh testis sudah berada didekat
annulus inguinalis interna.8
Penurunan testis dimulai pada sekitar minggu ke-10. Walaupun
mekanismenya belum diketahui secara pasti, namun para ahli sepakat
bahwa terdapat beberapa faktor yang berperan penting, yakni: faktor
endokrin, mekanik (anatomik), dan neural. Terjadi dalam dua fase yang
dimulai sekitar minggu ke-10 kehamilan segera setelah terjadi diferensiasi
seksual. Fase transabdominal dan fase inguinoskrotal. Keduanya terjadi
dibawah kontrol hormonal yang berbeda.9
Fase transabdominal terjadi antara minggu ke-10 dan 15
kehamilan, dimana testis mengalami penurunan dari urogenital ridge ke
regio inguinal. Hal ini terjadi akibat adanya regresi ligamentum
suspensorium kranialis dibawah pengaruh androgen (testosteron), disertai
pemendekan gubernaculum (ligament yang melekatkan bagian inferior
24

testis ke segmen bawah skrotum) dibawah pengaruh MIF (Mllerian


Inhibiting Factor). Dengan perkembangan yang cepat dari regio
abdominopelvic maka testis akan terbawa turun ke daerah inguinal
anterior. Pada bulan ke-3 kehamilan untuk psosesus vaginalis yang secara
bertahap berkembang kearah skrotum. Selanjutnya fase ini akan menjadi
tidak aktif sampai bulan ke-7 kehamilan.7
Teststeron diproduksi oleh sel leydig testis, merangsang duktus
wolfi menjadi epididimis, vas deferens, dan vesikula seminalis. Struktur
wolfii terletak paling dekat dengan sumber testosterone. MIS diproduksi
oleh sel sertroli testis, penting untuk perkembangan duktus internal lakilaki normal, merupakan suatu protein dengan berat molekul 15.000, yang
disekresi mulai minggu ke delapan. Peran utamanya adalah represi
perkembangan pasif duktus mulleri (tuba fallopi, uterus, vagina atas).10
Fase inguinoskrotal terjadi mulai bulan ke-7 atau minggu ke-28
sampai minggu ke-35 kehamilan. Testis mengalami penurunan dari regio
inguinal kedalam skrotum dibawah pengaruh hormone androgen.
Mekanismenya belum diketahui secara pasti, namun diduga melalui
mediasi pengaluaran calcitonin gene related peptide (CGRP). Androgen
akan merangsang nervus genitofemoral untuk mengeluarkan CGRP yang
menyebabkan kontraksi ritmis dari gubernaculum. Faktor mekanik yang
turut berperan pada fase ini adalah tekanan abdominal yang meningkat
yang menyebabkan keluarnya testis dari kavum abdomen, disamping itu
tekanan abdomen akan menyebabkan terbentuknya ujung dari prosesus
vaginalis melalui kanalis inguinalis menuju skrotum. Proses penurunan

25

KESIMPULAN
1.

Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian yang lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Sebagian
besar hernia timbul dalam regio inguinalis, sekitar 50% merupakan hernia
inguinalis lateral (indirek) dan 25% sebagai hernia inguinalis medialis

2.

(direk).
Penyebab hernia antara lain : processus vaginalis persisten, naik nya tekanan

3.

intra abdominal dan lemahnya otot otot dinding abdomen.


Tatalaksana hernia tergantung derajat keparahan antara lain dapat dilakukan
tindakan konservatif dan tindakan operatif.

26

DAFTAR PUSTAKA
.

27