Anda di halaman 1dari 107

PENANGANAN AWAL KASUS RUJUKAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL NEONATAL

Dr. Detty Nurdiati, MPH, PhD, SpOG(K) Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada

RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta

MORTALITAS DAN MORBIDITAS

Setiap tahun di dunia

> 500.000 perempuan meninggal saat kehamilan atau persalinan

20 juta mengalami komplikasi saat hamil

> 4 juta bayi meninggal dalam 28 hari pertama kehidupannya

20 juta lahir dengan berat rendah

SDKI 2007

AKI di Indonesia menempati urutan pertama di Negara kawasan Asia Tenggara yaitu 307/100.000 kelahiran hidup

Angka kematian bayi juga masih tinggi yaitu 35/1000 kelahiran hidup

P ENYEBAB U TAMA K EMATIAN M ATERNAL (WHO, 1994)

PENYEBAB UTAMA KEMATIAN MATERNAL

P ENYEBAB U TAMA K EMATIAN M ATERNAL (WHO, 1994)

(WHO, 1994)

W AKTU K EMATIAN M ATERNAL (WHO, 1994)

WAKTU KEMATIAN MATERNAL

(WHO, 1994)

(Bhutta et al, 2005)

(Bhutta et al, 2005)

Tanda Bahaya Maternal Neonatal WHO

Tanda Bahaya Maternal Neonatal WHO

(Adam et al, 2005)

PAKET DAN KOMPONEN INTERVENSI MATERNAL DAN NEONATAL - WHO

(Adam et al, 2005) P AKET DAN K OMPONEN I NTERVENSI M ATERNAL DAN N EONATAL

(Adam et al, 2005)

PAKET DAN KOMPONEN INTERVENSI MATERNAL DAN NEONATAL - WHO

(Adam et al, 2005) P AKET DAN K OMPONEN I NTERVENSI M ATERNAL DAN N EONATAL
(Adam et al, 2005)

(Adam et al, 2005)

M AKE P REGNANCY S AFER

MAKE PREGNANCY SAFER

Tujuan MPS

Menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan

bayi baru lahir

AKI 75% dari AKI tahun 1990 menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2015.

AKB 35 per 1000 kelahiran hidup menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup di tahun 2015.

Keputusan Menkes RI 754/MENKES/SK/2000 ditetapkan Visi Pembangunan Kesehatan, yaitu “Indonesia Sehat 2010”.

Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

2004-2009 (RPJMN) dengan sasaran yang harus

dicapai sebagai berikut :

Meningkatnya umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun.

Menurunkan angka kematian bayi dari 45 menjadi 26

per 1000 kelahiran hidup. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup.

Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari

25,8% menjadi 20%.

Penyediaan pelayanan kesehatan ibu dan bayi

baru lahir di sektor pemerintah :

Polindes POSKESDES

Puskesmas Pembantu

Puskesmas Puskesmas Perawatan Puskesmas

PONED

Rumah Sakit kabupaten/kota diharapkan mampu

PONEK

Kesenjangan dalam penyediaan kesehatan ibu dan

bayi baru lahir secara nasional

Kebijakan MPS thn2000 1 desa - 1 Polindes. Kenyataannya belum semua desa mempunyai

Polindes dan POSKESDES. SK Menkes No. 564/2006,

semua desa di Indonesia menjadi Desa Siaga akhir tahun 2008 (satu desa satu Polindes/POSKESDES).

Kelengkapan peralatan, bahan, obat belum memenuhi standar kebutuhan.

SDM terbatas, hampir semua tingkat pelayanan

terdapat kekurangan tenaga (ketimpangan pemerataan).

Kualitas dokter umum dan bidan di dalam pelayanan kegawatdaruratan obstetri masih kurang memadai,

walaupun sudah mendapat pelatihan.

Penentu kebijakan di daerah sering tidak mendapat data atau ada data tetapi kurang memberi informasi sebagai dasar perencanaan dan manajemen program.

Rencana Strategis MPS di Indonesia

2001-2010

1. Kerjasama dengan Pusdiknakes dan Komisi Disiplin Ilmu Kesehatan untuk merevisi dan mereview

kurikulum pendidikan keperawatan, kebidanan,

dan kedokteran disesuaikan pedoman klinis dasar

2. Kompetensi petugas kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang terampil yang mencakup :

Keterampilan esensial dan kemampuan menangani

penyebab utama kematian ibu dan bayi baru lahir.

Pelayanan persalinan normal.

Keterampilan sikap dan kognitif, berpikir kritis.

Menjamin pelaksanaan kurikulum pre-service

training keperawatan, kebidanan, dan kedokteran yang baru direvisi.

Rencana Strategis MPS di Indonesia

2001-2010

Memberi pelatihan pada dokter umum tentang PONEK di Rumah Sakit kabupaten dan pelatihan PONED untuk

daerah tertentu.

Menciptakan mekanisme untuk memelihara dan memutakhirkan keterampilan dan pengetahuan esensial untuk praktek sehari-hari di bidang kebidanan.

Memantau efektivitas program in-service training dan pendidikan berkelanjutan.

Pelatihan intensif PPGDON untuk bidan di desa yang

terpencil untuk melayani Polindes.

Rencana Strategis MPS di Indonesia

2001-2010

Pelatihan PONED untuk Puskesmas Perawatan yang terdiri 1 dokter umum, 1 bidan, dan 1 perawat atau 1 dokter umum dengan 2 bidan. Diharapkan Puskesmas mampu menstabilkan dan menangani kasus gawat darurat obstetri tertentu.

Menjamin bidan di desa selalu bekerjasama yang

baik dengan dukun bayi, kader, anggota PKK.

Mempromosikan supervisi fasilitatif untuk PPGDON dan PONED.

Kasus Rujukan di Indonesia?

Kasus

Rujukan di

Indonesia?

Pelayanan kontinum dan komprehensif

Pelayanan kontinum dan komprehensif

(MotherCare, 1997)

(MotherCare, 1997)
Bidan/Puskesmas Non-Poned harus mampu melakukan pertolongan pertama kegawatdaruratan obstetri dan neonatal sesuai
Bidan/Puskesmas Non-Poned harus mampu melakukan pertolongan pertama kegawatdaruratan obstetri dan neonatal sesuai

Bidan/Puskesmas Non-Poned harus mampu melakukan pertolongan

pertama kegawatdaruratan obstetri

dan neonatal sesuai ketrampilannya, antara lain:

1. Stabilisasi pasien gawat darurat

Obstetri dan Neonatal.

2. Melakukan Kompresi Bimanual pada

ibu dengan perdarahan postpartum.

3. Melakukan Manual plasenta pada

kasus retensio placenta.

4. Melakukan digital kuretase pada kasus sisa/rest plasenta. 5. Melakukan resusitasi sederhana pada kasus asfiksia
4. Melakukan digital kuretase pada kasus sisa/rest plasenta. 5. Melakukan resusitasi sederhana pada kasus asfiksia

4. Melakukan digital kuretase pada

kasus sisa/rest plasenta.

5. Melakukan resusitasi sederhana

pada kasus asfiksia bayi baru lahir.

6. Melakukan Metode Kanguru pada

BBLR diatas 2000 gram.

7. Melakukan rujukan pasien maternal

dan neonatal.

LANGKAH-LANGKAH RUJUKAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN 1. Menentukan kegawatdaruratan penderita • Pada tingkat kader/dukun
LANGKAH-LANGKAH RUJUKAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN 1. Menentukan kegawatdaruratan penderita • Pada tingkat kader/dukun

LANGKAH-LANGKAH RUJUKAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN

1. Menentukan kegawatdaruratan penderita

Pada tingkat kader/dukun bayi terlatih ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri oleh keluarga atau kader/dukun bayi, maka segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Pada tingkat bidan desa/puskesmas pembantu/puskesmas, tenaga kesehatan harus dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk.

(Purnama et al, 2010)

2.

Menentukan tempat rujukan

Fasilitas pelayanan yang mempunyai kewenangan dan terdekat

Tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan penderita.

3.

Memberikan informasi pada pasien & keluarga

Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarga. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan, perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

Jika ibu tidak siap dengan rujukan, lakukan konseling terhadap ibu dan keluarganya.

Bantu mereka membuat rencana rujukan pada saat awal persalinan.

(Purnama et al, 2010)

(Purnama et al, 2010) 4. Mengirimkan informasi ke tempat rujukan • Akan ada penderita yang dirujuk.

4.

Mengirimkan informasi ke tempat rujukan

Akan ada penderita yang dirujuk.

Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan selama dalam perjalanan ke tempat rujukan.

Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong penderita bila penderita tidak mungkin dikirim.

5.

Persiapan penderita

6.

Pengiriman Penderita

7.

Tindak lanjut penderita :

Rawat jalan pasca penanganan

Kunjungan rumah bila diperlukan

(Purnama et al, 2010)

Evaluasi Kasus Rujukan Kegawatdaruratan Obstetri di RSCM,

Jan-Des 2008

3362 kasus rujukan

Bidan perujuk utama terbanyak (73,1%)

Dx kegawatdaruratan obstetri utama

terbanyak (73,1%) • Dx kegawatdaruratan obstetri utama berasal dari SpOG (71,1%) • 56.8% kasus kedaruratan utama

berasal dari SpOG (71,1%)

56.8% kasus kedaruratan utama (260)

88 hipertensi/preeklampsia/eklampsia

59 antepartumhemorrhage

48 obstructed labor

33 perdarahan postpartum

16 infeksi

22.5% ancaman persalinan preterm,

kurangnya fasilitas menjadi alasan merujuk

(74,7%).

(Purnama et al, 2010)

Evaluasi Kasus Rujukan Kegawatdaruratan Obstetri di

RSCM, Jan-Des 2008

Sebagian besar kasus tidak disertai pencatatan surat rujukan yang lengkap

91% kasus tidak mencantumkan waktu

rujukan yang lengkap • 91% kasus tidak mencantumkan waktu merujuk • 12,4% kasus tidak ada penilaian

merujuk

12,4% kasus tidak ada penilaian awal

Rerata waktu respons RSCM 8 menit.

AKI pada penelitian ini 253,2/100.000.

Kesimpulan:

Sistem rujukan RSCM belum efisien

Perlu perbaikan dan evaluasi sistem

rujuakn maupun kelengkapan fasilitas

Apa yang harus kita lakukan?

Apa yang harus

kita lakukan?

Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan

Obstetric dan Neonatal (PPGDON)

• Komponen Pelayanan 1 Maternal
• Komponen Pelayanan
1
Maternal
2 • Komponen Pelayanan Neonatal
2
• Komponen Pelayanan
Neonatal

Komponen Pelayanan Maternal

Preeklampsia/eklampsia

Tindakan obstetri pada pertolongan persalinan

Perdarahan postpartum

Infeksi nifas

Komponen Pelayanan Neonatal

Bayi berat lahir rendah

Hipotermi

Hipoglikemi

Ikterus/hiperbilirubinemia

Masalah pemberian nutrisi

Asfiksia pada bayi

Gangguan nafas

Kejang pada bayi baru lahir

Infeksi neonatal

Rujukan dan transportasi bayi baru lahir

P REEKLAMPSIA / E KLAMPSIA

PREEKLAMPSIA/

EKLAMPSIA

Hipertensi dalam kehamilan

Preeklampsia: TD ≥ 140/90 terdiagnosis setelah 20 minggu umur kehamilan disertai proteinuria

Hipertensi kronik

TD ≥ 140/90 sebelum hamil terdiagnosis sebelum 20 minggu

umur kehamilan

Preeklampsia superimposed Timbulnya proteinuria pada pasien hipertensi kronik

Hipertensi gestasional

Hipertensi muncul saat kehamilan

Tidak ada proteinuria, menghilang setelah 12 minggu pospartum

Eklampsia: Kejang grand mall, didahului oleh preeklampsia, tanpa ditemukan penyebab lain

PREEKLAMPSIA

Kriteria minimal

TD ≥ 140/90 mmHg setelah umur kehamilan 20

minggu

Proteinuria ≥ 300 gram/24 jam atau ≥+1 dipstick

EDEMA: sering menyertai preeklampsia tetapi bukan syarat diagnosis

PREEKLAMPSIA BERAT

(Increased severity of preeclampsia)

TD ≥160/110 mmHg

Proteinuria 2gr/24 jam atau ≥+2 dipstik

Kreatinin serum >1,2 mg/dL

AT <100.000/mmk

Peningkatan ALT atau AST

Hemolisis mikroangiopati (Peningkatan LDH)

Sakit kepala persisten, mata kabur

Nyeri epigastrik persisten

HELLP Syndrome?

Sindrom HELLP

Hemolisis: bilirubin meningkat, LDH

meningkat

Elevated Liver Enzym: SGOT, SGPT meningkat

Low Platelet: Angka trombosit kurang dari

150.000/mmk

M EKANISME TERJADINYA P REEKLAMPSIA

MEKANISME TERJADINYA PREEKLAMPSIA

FAKTA

Preeklampsia cenderung terjadi pada

Terpapar Villi chorialis pertama kali:

primigravida

Ada hubungan genetik

Villi chorialis yang banyak: Gemelli, Mola

Menghilang setelah villi chorialis atau plasenta dilahirkan

Kelainan vaskuler sebelumnya (hipertensi),

obesitas

GENETIK, FAKTOR IMUNOLOGI, INFLAMASI

GENETIK, FAKTOR IMUNOLOGI, INFLAMASI PLASENTASI TAK SEMPURNA PENETRASI TROBFOBLAST DANGKAL ARTERI SPIRALIS TAK SEMPURNA

PLASENTASI TAK SEMPURNA PENETRASI TROBFOBLAST DANGKAL ARTERI SPIRALIS TAK SEMPURNA

PENETRASI TROBFOBLAST DANGKAL ARTERI SPIRALIS TAK SEMPURNA PERFUSI UTEROPLASENTER BERKURANG PENYAKIT VASKULER IBU

PERFUSI UTEROPLASENTER BERKURANG

SPIRALIS TAK SEMPURNA PERFUSI UTEROPLASENTER BERKURANG PENYAKIT VASKULER IBU TROFOBLAST BERLEBIHAN Noxius agents:

PENYAKIT VASKULER IBU

TROFOBLAST

BERLEBIHAN

BERKURANG PENYAKIT VASKULER IBU TROFOBLAST BERLEBIHAN Noxius agents: Cytokine Lipid peroxidase Vasoactive
BERKURANG PENYAKIT VASKULER IBU TROFOBLAST BERLEBIHAN Noxius agents: Cytokine Lipid peroxidase Vasoactive

Noxius agents:

Cytokine Lipid peroxidase

Vasoactive agents:

Prostaglandin

Nitric Oxide

Endotheline

agents: Prostaglandin Nitric Oxide Endotheline REAKSI AKTIVASI ENDOTEL MENYELURUH KEBOCORAN KAPILER
agents: Prostaglandin Nitric Oxide Endotheline REAKSI AKTIVASI ENDOTEL MENYELURUH KEBOCORAN KAPILER

REAKSI AKTIVASI ENDOTEL MENYELURUH

Oxide Endotheline REAKSI AKTIVASI ENDOTEL MENYELURUH KEBOCORAN KAPILER VASOSPASME HIPERTENSI AKTIVASI KOAGULASI
Oxide Endotheline REAKSI AKTIVASI ENDOTEL MENYELURUH KEBOCORAN KAPILER VASOSPASME HIPERTENSI AKTIVASI KOAGULASI
Oxide Endotheline REAKSI AKTIVASI ENDOTEL MENYELURUH KEBOCORAN KAPILER VASOSPASME HIPERTENSI AKTIVASI KOAGULASI

KEBOCORAN KAPILER

VASOSPASME

HIPERTENSI

AKTIVASI

KOAGULASI

PROTEINURIA

OLIGURI

KEJANG

ISKEMIA HEPAR

EDEMA

TROMBOSITOPENI

HEMOKONSENTRASI

SOLUSIO PLASENTA

KOMPLIKASI IBU

HELLP (Hemolisis, Elevated liver enzymes, Low platelet) Syndrome

Eklampsia

Gagal ginjal

Edema paru

Edema otak

Abruptio plasenta

KOMPLIKASI JANIN

Intra uterine Growth Retardation

Fetal distress

Kematian janin

EKLAMPSIA

Kejang grand mall pada pasien dengan preeklampsia bukan disebabkan oleh sebab

lainnya seperti: epilepsi, infeksi, trauma.

EKLAMPSIA harus dicegah

Prognosis sulit diprediksi

Abruptio plasenta

Koma, perdarahan serebral

Gangguan penglihatan

Gagal ginjal

Edema paru, henti jantung

Kematian

PENCEGAHAN KEJANG

MgSO4 40%

Menaikkan Ambang Otot Perifer Terhadap

Kejang

Im 10 ml Bokong Kanan: 10 ml Bokong Kiri

Antidotum Calcium Glukonas

Efek Samping: Henti Nafas

TERAPI PREEKLAMPSIA

Terminasi Kehamilan

PER ≥37 Minggu

PEB ≥34 Minggu

< 34 Minggu Tekanan darah tak terkontrol

HELLP Syndrom Eklampsia

Gawat janin

Selalu mengukur tekanan darah

Selalu mengukur tekanan darah

PREEKLAMPSIA RINGAN

Rawat jalan, Istirahat di rumah

Kurangi asupan garam

Kontrol 1 minggu atau bila ada keluhan memberat segera kontrol

Terminasi kehamilan setelah aterm (37

minggu)

Preeklampsia ringan

Rawat jalan

Terminasi setelah usia kehamilan 37 minggu

Preeklampsia ringan • Rawat jalan • Terminasi setelah usia kehamilan 37 minggu

PREEKLAMPSIA BERAT

Rawat inap

Tirah baring, infus, dauer kateter, pemeriksaan

janin, pemeriksaan laboratorium

Pemberian MgSO4

Bila usia kehamilan 34 minggu dilakukan diterminasi

Bila didapatkan komplikasi maka dilakukan terminasi segera tanpa mempedulikan usia kehamilan

Preeklampsia berat

Rawat inap

Terminasi bila usia kehamilan 34 minggu,

atau kondisi ibu memburuk, atau gawat janin

berat • Rawat inap • Terminasi bila usia kehamilan 34 minggu , atau kondisi ibu memburuk,
berat • Rawat inap • Terminasi bila usia kehamilan 34 minggu , atau kondisi ibu memburuk,

EKLAMPSIA

Tetap tenang, jangan tinggalkan penderita, minta bantuan petugas lain

Bebaskan jalan nafas

Kepala dimiringkan

Oksigenasi, infus, pemasangan kateter

Berikan MgSO4

Konseling keluarga

Terminasi segera

Eklampsia

Terminasi segera

Eklampsia • Terminasi segera
Eklampsia • Terminasi segera
Eklampsia • Terminasi segera

Bila terlambat

Bila terlambat
P ERDARAHAN P OSTPARTUM

PERDARAHAN

POSTPARTUM

Prinsip

Tegakkan diagnosis secara cepat

Kenali sumberdaya dan kemampuan untuk

kompensasi

Resusitasi aktif pada perdarahan masif

Identifikasi penyebab dasar

Mengatasi penyebab

Perdarahan Postpartum

Definisi:

Tradisional

Fungsional

Insidensi: sekitar 5% dari seluruh persalinan

Etiologi: 4T

Tonus

Tissue

Trauma

Thrombin

Faktor Risiko Perdarahan Post Partum

Antepartum

Intrapartum

Postpartum

Faktor Risiko Perdarahan Post Partum:

Antepartum

Riwayat HAP sebelumnya atau plasenta manual

Solusio plasenta, terutama jika tidak terdeteksi

Kematian fetus intrauterine

plasenta previa

Hipertensi dalam kehamilan dengan proteinuria

Regangan berlebihan pada uterus (mis. gemelli, polihidramnion)

Kelainan perdarahan sebelum kehamilan (mis. ITP)

Faktor Risiko Perdarahan Post Partum:

Intrapartum

Persalinan operatif s.c atau pervaginam dengan

alat

Persalinan lama

Persalinan cepat

induksi atau augmentasi

Korioamnionitis

Distosia bahu

Versi podalik internal dan ekstraksi bayi kembar yang kedua

Koagulopati yang didapat (mis. HELLP, DIC)

Faktor Risiko Perdarahan Post Partum:

Post-partum

Laserasi atau episiotomi

retensi plasenta/plasenta abnormal

Ruptura uteri

Inversi uteri

Koagulopati yang didapat (mis. DIC)

Pencegahan

Waspada

Manajemen aktif kala tiga

Oxytocin profilaksis

10 U IM

20 U/L N/S IV tetesan cepat

Penjepitan dan Pemotongan tali pusat dini

Penegangan tali pusat terkendali dengan

penekanan suprapubik arah berlawanan

Manajemen aktif vs ekspektatif

pada kala III

Manajemen aktif vs ekspektatif pada kala III Cochrane Library Issue 1, 2000
Manajemen aktif vs ekspektatif pada kala III Cochrane Library Issue 1, 2000

Cochrane Library Issue 1, 2000

Diagnosis Apakah telah terjadi HPP?

Pertimbangkan faktor risiko

Observasi perdarahan pervaginam

Nilai perdarahan dari vagina diikuti C/S

INGAT

Perkiraan kehilangan darah

Manipulasi lanjutan dapat memperbesar

kehilangan darah

Kehilangan darah dapat ditoleransi pada saat tertentu

Diagnosis Apakah penyebabnya?

Lakukan pemeriksaan fundus

Inspeksi traktus genital bawah

Eksplorasi uterus

sisa plasenta

ruptura uteri

inversi uteri

Lakukan pemeriksaan koagulasi

ABC Perdarahan Obstetri

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

• A= airway • B = breathing • C = circulation ABC Alarm - Perdarahan

A= airway

B = breathing C = circulation

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

TATALAKSANA - ABC ’s

Bicara dan observasi pasien

Jalur IV besar (No

Kristaloid- jumlah banyak!

Hitung Darah lengkap (DPL)

Golongan darah dan Cross-matched

Minta PERTOLONGAN!

lengkap (DPL) – Golongan darah dan Cross-matched – Minta PERTOLONGAN! 16 gauge) ABC Alarm - Perdarahan

16 gauge)

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Nilai fundus

Simultan dengan ABC

Atonia merupakan penyebab utama

Perdarahan Post partum

Jika lembek masase bimanual

singkirkan inversio uteri

mungkin terdapat trauma traktus bagian bawah

evakuasi bekuan darah dari vagina dan servik

membutuhkan eksplorasi manual pada saat ini

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Uterus tidak berkontraksi
Uterus tidak berkontraksi

Bersihkan bekuan darah/selaput ketuban Kompresi bimanual interna

bekuan darah/selaput ketuban • Kompresi bimanual interna Ya Uterus kontraksi? Tidak • Pertahankan KBI selama 1-
Ya Uterus kontraksi? Tidak
Ya
Uterus kontraksi?
Tidak

Pertahankan KBI selama 1-2 ‘ Keluarkan tangan hati-hati

Awasi kala IV

Ajarkan keluarga utk KBE Keluarkan tangan KBI secara hati-hati Inj Metil ergometrin 0,2 mg I.m. Pasang infus RL + 20 IU oksitosin, guyur KBI lagi

• Pasang infus RL + 20 IU oksitosin, guyur • KBI lagi Uterus kontraksi? Tidak Ya
Uterus kontraksi? Tidak
Uterus kontraksi?
Tidak

Ya

Awasi kala IV

Kompresi bimanual interna

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Kompresi bimanual eksterna

Kompresi bimanual eksterna ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Kompresi bimanual eksterna

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Eksplorasi Manual

Jika dengan kompresi bimanual dan oksitosin respon tidak ada lanjutkan

dengan eksplorasi

Eksplorasi manual akan:

Singkirkan adanya inversio uteri

Palpasi luka servik

Evakuasi sisa plasenta atau bekuan darah dari uterus

Singkirkan adanya ruptura uteri atau dehisens

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Reposisi Uterus yang inversi

Reposisi Uterus yang inversi ABC Alarm - Perdarahan Obstetri
Reposisi Uterus yang inversi ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Uterotonika Tambahan

Ergotamine hati-hati pada hipertensi

0.25 mg IM or 0.125 mg IV

Dosis maksimum 1.25 mg

Cytotec (misoprostol) hati-hati pada asma

400 mg pr oral

800-1000 mg per rektal

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Perdarahan dengan

kontraksi Uterus baik (keras)

Eksplorasi traktus genitalia bawah

Dibutuhkan:

analgesia yang sesuai

eksposur yang baik dan lampu

Perbaikan surgikal yang tepat

dapat di tampon sementara

dengan balon Foley atau kasa)

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Perdarahan Uterus

Berlanjut

Kemungkinan kosgulopati - INR, PTT, waktu pembekuan, fibrinogen

Bila koagulopati abnormal:

koreksi dengan faktor pembekuan, platelets

Bila koagulasi normal:

siapkan Kamar Operasi

singkirkan ruptura uteri, mungkin perlu reparasi

pertimbangkan ligasi uteri/ hipogastrik ,

histerektomi

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Obat-obatan Oksitosika

 

Oksitosin

Ergometrin/ Methyl ergometrin

15-methyl

 

prostaglandin F 2

Dosis dan rute

IV:

20 units dlm 1 L

IM atau IV: 0.2 mg

IM: 0.25 mg

dgn laju 60 tetes/menit

 

IM: 10 units

Dosis lanjutan

IV:

20 units dlm 1 L

Ulangi 0.2 mg IM setelah 15 menit. Jika perlu, beri 0.2

0.25 mg setiap 15 menit

dgn laju 40 tetes/menit

 

mg IM atau IV

setiap 4 jam

Dosis maksimum

Tdk lebih dari 3 L cairan IV

5 dosis

8 dosis

Hati-hati/

Jangan berikan sebagai bolus IV

Pre-eklampsia,

Jangan beri secara IV, Asthma

Kontraindikasi

 

hipertensi, penyakit jantung

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

 

Laserasi Jalan Lahir

Kecurigaan laserasi jalan lahir jika uterus berkontraksi baik sedangkan perdarahan tetap

terjadi.

Dilakukan pemeriksaan inspekulo jalan lahir untuk menentukan sumber perdarahan

Laserasi jalan lahir:

Perineum

Dinding Vagina

Trauma m levator ani

Trauma servik

Terapi: Dilakukan penjahitan sumber perdarahan

Postpartum

Hemorrhage

Management - Evolution

Panic

Panic

Hysterectomy

Postpartum Hemorrhage Management - Evolution Panic Panic Hysterectomy Pitocin Prostaglandins Happiness

Pitocin

Prostaglandins

Happiness

Definisi Syok

Kegagalan sistem sirkulasi dalam

mempertahankan aliran yang adekuat pada

organ-organ vital sehingga timbul anoxia

Mengancam jiwa

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Kapan Dapat Memperkirakan Atau

Mengantisipasi Syok

Perdarahan:

Pada awal kehamilan (aborsi, kehamilan ektopik, kehamilan mola)

Pada akhir kehamilan atau persalinan (plasenta previa, solusio

placenta, ruptura uteri)

Sesudah kelahiran bayi (ruptura uteri, atonia uteri)

Infeksi (aborsi yang tidak aman atau sepsis aborsi, amnionitis, metritis)

Trauma (perlukaan pada uterus atau kandung kemih

selama aborsi, ruptura uteri)

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tanda Klinis Syok

Gangguan Perfusi Perifer

Raba telapak tangan

Hangat, Kering, Merah : Normal

Dingin, Basah, Pucat : syok

Tekan - lepas ujung kuku / telapak tangan

Merah kembali < 2 detik :

Normal / > 2 detik : syok Bandingkan dengan tangan pemeriksa

Nadi meningkat : raba nadi radialis

Nadi < 100 : Normal

Nadi > 100 : Syok

Tekanan darah menurun

Sistolik > 100 : Normal /

< 100 : Syok

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Penatalaksanaan Segera

Berteriak minta tolong - orang yang ada di sekitar kita dimintai bantuan

Mulailah resusitasi

Infus

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tata Laksana

Mengatasi Perdarahan Hebat

Airway

Breathing

Circulation

and hemorrhage control

Shock position

Replace blood loss

Stop / minimize the bleeding process

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

position  Replace blood loss  Stop / minimize the bleeding process ABC Alarm - Perdarahan
AIRWAY ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

AIRWAY

AIRWAY ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Posisi Syok

Posisi Syok ANGKAT KEDUA TUNGKAI 300 - 500 cc darah dari kaki pindah ke sirkulasi sentral

ANGKAT

KEDUA

TUNGKAI

Posisi Syok ANGKAT KEDUA TUNGKAI 300 - 500 cc darah dari kaki pindah ke sirkulasi sentral
Posisi Syok ANGKAT KEDUA TUNGKAI 300 - 500 cc darah dari kaki pindah ke sirkulasi sentral
Posisi Syok ANGKAT KEDUA TUNGKAI 300 - 500 cc darah dari kaki pindah ke sirkulasi sentral
Posisi Syok ANGKAT KEDUA TUNGKAI 300 - 500 cc darah dari kaki pindah ke sirkulasi sentral

300 - 500 cc darah dari kaki

pindah ke

sirkulasi sentral

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Penatalaksanaan Khusus

Berikan oksigen dengan laju 6-8 L/menit

Uji darah : Cek Hemoglobin, dan uji silang

Penilaian status pembekuan darah dengan tes

pembekuan di tempat tidur.

Penatalaksanaan penyebab khusus

Pantau:

Tanda-tanda vital dan hilangnya darah tiap 15 menit

Cairan yang masuk dan urin yang keluar tiap jam

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Cairan Intravena

Mulailah infus intravena dengan menggunakan dua jarum berlubang besar

Infus dengan tetesan cepat, 1L habis dalam 15-20 menit

Berikan sekurang-kurangnya 2L cairan pada jam pertama

Apabila syok disebabkan oleh perdarahan, diperlukan

tetesan infus yang lebih cepat

Apabila pada vena perifer tidak bisa dilakukan infus, lakukan vena seksi

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Estimasi BB :

Estimasi Blood Volume :

Estimasi Blood Loss :

60 kg

70 ml/kg x 60 = 4200 ml

% EBV =

ml

Tsyst

120

100

<

90

< 60-70 > 140 - ttb

Nadi

80

100

> 120

Perf

hangat

pucat

dingin

basah

EBL =

NORMO

VOLEMIA

perdarahan

Infus RL

-- 15% EBV

600

1200-2000

-- 30% EBV

-- 30% E B V

1200

2500-5000

-- 50% EBV

-- 50% E B V

2000

ml

4000-8000 ml

Pasien perdarahan datang perkirakan volume yang hilang | Syok ?  posisi syok pasang infus
Pasien perdarahan datang
perkirakan volume yang hilang
|
Syok ?  posisi syok
pasang infus jarum besar (2)
ambil sample darah u/ cari donor
|
infusi RL 1000
(+1000 lagi)
Perfusi HKM
Perfusi, nadi, T-sist
nadi
< 100
belum baik, masih syok
T-sist > 100
|
|
Lambatkan infusi
tambah RL lagi
(2-4 x volume hilang)
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Kristaloid vs Koloid Sebagai Cairan

Pengganti: Kesimpulan

Kristaloid merupakan pilihan pertama

untuk digunakan, karena:

- Lebih aman

- Lebih murah

- Lebih mudah didapatkan

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Pencegahan Terhadap Syok Akibat

Perdarahan

Meminimalkan darah yang terbuang:

Gunakan teknik terbaik dalam anastesi dan

pembedahan untuk meminimalkan hilangnya darah pada operasi

Autotransfusi selama prosedur jika dibenarkan

Penatalaksanaan aktif kala tiga pada persalinan

Penatalaksaan terhadap perdarahan pascapersalinan

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Syok: Penatalaksanaan Lanjutan

Lanjutkan infus IV dengan kecepatan 1L habis dalam 6 jam dan oksigen dengan laju 6-8 L/menit

Memantau dengan ketat

Lakukan uji laboratorium untuk hematokrit, golongan darah, jenis

Rhesus, dan uji silang

Apabila fasilitas tersedia, periksa elektrolit serum, kreatinin serum, dan pH darah

Perhatikan adanya komplikasi yang tertunda selama beberapa hari

Pindahkan bila terjadi gagal organ

ACOG 1997.

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Wanita 20 th, 60 kg, Hb 14, Berdarah 1500 ml

EBV : 60 kg x 70 ml = 4200 ml

Hb total

Hb hilang : 0.14 x 1500 = 210 gm

: 0.14 x 4200 = 588 gm

Setelah Infus RL 4000 ml = Normovolemia

Hb akhir : (588-210) / 4200 = 9 gm/dl

TIDAK PERLU TRANSFUSI

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Wanita 20 th, Hamil, 60 kg

Berdarah 1500 ml

EBV normal : 60 kg x 70 ml = 4200 ml

HAMIL + 30% - 50% (protective hypervolemia)

1400-2100 ml 5600 - 6300 ml

bila tidak hamil = 35% = syok

bila hamil aterm = 23-26% = belum syok

bila pasien ini syok = 35% x 5600 - 6300 ml =

2000 - 2200 ml sudah hilang

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Wanita 20 th, Hamil+ Eklampsia, 60 kg,

Berdarah 1500 ml

EBV normal : 60 kg x 70 ml = 4200 ml

Hamil+Eklampsia = tidak ada protective

hypervolemia tetap 4200 - 4500 ml

bila tidak hamil = 35% = syok

bila eklampsia

syok diperburuk karena

= 35% = juga syok

miokard juga lebih jelek

hipovolemia intravaskuler, hipervolemia interstitial

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Normovolemia

Jantung dapat kompensasi meningkatkan

cardiac output

Oksigenasi jaringan terpelihara

Aliran darah di mikrosirkulasi lebih baik

Anemia merangsang bone marrow lebih aktif

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - ABC ’s

PASTIKAN bahwa anda siap untuk melakukan resusitasi!!!!

Pertimbangkan akan perlunya Foley catheter, CVP,

arterial line, dll

Pertimbangkan perlunya bantuan orang yang lebih

ahli

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Simpulan

waspada

praktek pencegahan

nilai kehilangan darah

nilai status maternal

resusitasi aktif

diagnosis penyebab

tatalaksana penyebab

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Management - Evolution

Panic

Panic

Hysterectomy

Management - Evolution Panic Panic Hysterectomy ABC Alarm - Perdarahan Obstetri Pitocin Prostaglandins Happiness

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Pitocin

Prostaglandins

Happiness

Jauhkan jari anda yang berdarah

dari serviks!

Jauhkan jari anda yang berdarah dari serviks! ABC Alarm - Perdarahan Obstetri
Jauhkan jari anda yang berdarah dari serviks! ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Summary

Define your challenges

Technological as well as personal

Set realistic expectation

Mastery is not achieved overnight

Keep your eye on the goal

Mentorship programs

Q UESTIONS ?

QUESTIONS?