Anda di halaman 1dari 107

PENANGANAN AWAL

KASUS RUJUKAN KEGAWATDARURATAN


MATERNAL NEONATAL

Dr. Detty Nurdiati, MPH, PhD, SpOG(K)


Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada
RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta

MORTALITAS DAN MORBIDITAS


Setiap tahun di dunia
> 500.000 perempuan meninggal saat kehamilan atau
persalinan
20 juta mengalami komplikasi saat hamil
> 4 juta bayi meninggal dalam 28 hari pertama
kehidupannya
20 juta lahir dengan berat rendah

SDKI 2007
AKI di Indonesia menempati urutan pertama di Negara
kawasan Asia Tenggara yaitu 307/100.000 kelahiran
hidup
Angka kematian bayi juga masih tinggi yaitu 35/1000
kelahiran hidup

PENYEBAB UTAMA
KEMATIAN MATERNAL

(WHO, 1994)

WAKTU

KEMATIAN MATERNAL

(WHO, 1994)

(Bhutta et al, 2005)

Tanda Bahaya Maternal Neonatal


WHO

(Adam et al, 2005)

PAKET DAN KOMPONEN INTERVENSI


MATERNAL DAN NEONATAL - WHO

(Adam et al, 2005)

PAKET DAN KOMPONEN INTERVENSI


MATERNAL DAN NEONATAL - WHO

(Adam et al, 2005)

MAKE PREGNANCY SAFER

Tujuan MPS
Menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan
bayi baru lahir
AKI 75% dari AKI tahun 1990 menjadi 102 per
100.000 kelahiran hidup di tahun 2015.
AKB 35 per 1000 kelahiran hidup menjadi 15 per
1000 kelahiran hidup di tahun 2015.
Keputusan Menkes RI 754/MENKES/SK/2000
ditetapkan Visi Pembangunan Kesehatan, yaitu
Indonesia Sehat 2010.

Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
2004-2009 (RPJMN) dengan sasaran yang harus
dicapai sebagai berikut :
Meningkatnya umur harapan hidup dari 66,2 tahun
menjadi 70,6 tahun.
Menurunkan angka kematian bayi dari 45 menjadi 26
per 1000 kelahiran hidup.
Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307
menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup.
Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari
25,8% menjadi 20%.

Penyediaan pelayanan kesehatan ibu dan bayi


baru lahir di sektor pemerintah :
Polindes POSKESDES
Puskesmas Pembantu
Puskesmas Puskesmas Perawatan Puskesmas
PONED
Rumah Sakit kabupaten/kota diharapkan mampu
PONEK

Kesenjangan dalam penyediaan kesehatan ibu dan


bayi baru lahir secara nasional
Kebijakan MPS thn2000 1 desa - 1 Polindes.
Kenyataannya belum semua desa mempunyai
Polindes dan POSKESDES. SK Menkes No. 564/2006,
semua desa di Indonesia menjadi Desa Siaga akhir tahun
2008 (satu desa satu Polindes/POSKESDES).
Kelengkapan peralatan, bahan, obat belum memenuhi
standar kebutuhan.
SDM terbatas, hampir semua tingkat pelayanan
terdapat kekurangan tenaga (ketimpangan pemerataan).
Kualitas dokter umum dan bidan di dalam pelayanan
kegawatdaruratan obstetri masih kurang memadai,
walaupun sudah mendapat pelatihan.
Penentu kebijakan di daerah sering tidak mendapat data
atau ada data tetapi kurang memberi informasi sebagai
dasar perencanaan dan manajemen program.

Rencana Strategis MPS di Indonesia


2001-2010
1. Kerjasama dengan Pusdiknakes dan Komisi Disiplin
Ilmu Kesehatan untuk merevisi dan mereview
kurikulum pendidikan keperawatan, kebidanan,
dan kedokteran disesuaikan pedoman klinis dasar
2. Kompetensi petugas kesehatan ibu dan bayi baru
lahir yang terampil yang mencakup :

Keterampilan esensial dan kemampuan menangani


penyebab utama kematian ibu dan bayi baru lahir.
Pelayanan persalinan normal.
Keterampilan sikap dan kognitif, berpikir kritis.
Menjamin pelaksanaan kurikulum pre-service
training keperawatan, kebidanan, dan kedokteran
yang baru direvisi.

Rencana Strategis MPS di Indonesia


2001-2010
Memberi pelatihan pada dokter umum tentang PONEK
di Rumah Sakit kabupaten dan pelatihan PONED untuk
daerah tertentu.
Menciptakan mekanisme untuk memelihara dan
memutakhirkan keterampilan dan pengetahuan esensial
untuk praktek sehari-hari di bidang kebidanan.
Memantau efektivitas program in-service training dan
pendidikan berkelanjutan.
Pelatihan intensif PPGDON untuk bidan di desa yang
terpencil untuk melayani Polindes.

Rencana Strategis MPS di Indonesia


2001-2010
Pelatihan PONED untuk Puskesmas Perawatan
yang terdiri 1 dokter umum, 1 bidan, dan 1
perawat atau 1 dokter umum dengan 2 bidan.
Diharapkan Puskesmas mampu menstabilkan dan
menangani kasus gawat darurat obstetri tertentu.
Menjamin bidan di desa selalu bekerjasama yang
baik dengan dukun bayi, kader, anggota PKK.
Mempromosikan supervisi fasilitatif untuk
PPGDON dan PONED.

Kasus
Rujukan di
Indonesia?

Pelayanan kontinum dan komprehensif

(MotherCare, 1997)

Bidan/Puskesmas Non-Poned harus


mampu melakukan pertolongan
pertama kegawatdaruratan obstetri
dan neonatal sesuai ketrampilannya,
antara lain:
1. Stabilisasi pasien gawat darurat
Obstetri dan Neonatal.

2. Melakukan Kompresi Bimanual pada


ibu dengan perdarahan
postpartum.
3. Melakukan Manual plasenta pada
kasus retensio placenta.

4. Melakukan digital kuretase pada


kasus sisa/rest plasenta.
5. Melakukan resusitasi sederhana
pada kasus asfiksia bayi baru lahir.
6. Melakukan Metode Kanguru pada
BBLR diatas 2000 gram.
7. Melakukan rujukan pasien maternal
dan neonatal.

LANGKAH-LANGKAH RUJUKAN DALAM


PELAYANAN KEBIDANAN
1. Menentukan kegawatdaruratan penderita
Pada tingkat kader/dukun bayi terlatih
ditemukan penderita yang tidak dapat
ditangani sendiri oleh keluarga atau
kader/dukun bayi, maka segera dirujuk ke
fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Pada tingkat bidan desa/puskesmas
pembantu/puskesmas, tenaga kesehatan
harus dapat menentukan tingkat
kegawatdaruratan kasus yang ditemui,
sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawabnya, mereka harus menentukan
kasus mana yang boleh ditangani sendiri
dan kasus mana yang harus dirujuk.

(Purnama et al, 2010)

2. Menentukan tempat rujukan


Fasilitas pelayanan yang mempunyai
kewenangan dan terdekat
Tidak mengabaikan kesediaan dan
kemampuan penderita.
3. Memberikan informasi pada pasien & keluarga
Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan
keluarga. Jika perlu dirujuk, siapkan dan
sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan,
perawatan dan hasil penilaian (termasuk
partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa
ke fasilitas rujukan.
Jika ibu tidak siap dengan rujukan, lakukan
konseling terhadap ibu dan keluarganya.
Bantu mereka membuat rencana rujukan pada
saat awal persalinan.

(Purnama et al, 2010)

4. Mengirimkan informasi ke tempat rujukan


Akan ada penderita yang dirujuk.
Meminta petunjuk apa yang perlu
dilakukan dalam rangka persiapan dan
selama dalam perjalanan ke tempat
rujukan.
Meminta petunjuk dan cara penangan
untuk menolong penderita bila penderita
tidak mungkin dikirim.
5. Persiapan penderita
6. Pengiriman Penderita
7. Tindak lanjut penderita :
Rawat jalan pasca penanganan
Kunjungan rumah bila diperlukan

(Purnama et al, 2010)

Evaluasi Kasus Rujukan


Kegawatdaruratan Obstetri di RSCM,
Jan-Des 2008
3362 kasus rujukan
Bidan perujuk utama terbanyak (73,1%)
Dx kegawatdaruratan obstetri utama
berasal dari SpOG (71,1%)
56.8% kasus kedaruratan utama (260)
88 hipertensi/preeklampsia/eklampsia
59 antepartumhemorrhage
48 obstructed labor
33 perdarahan postpartum
16 infeksi
22.5% ancaman persalinan preterm,
kurangnya fasilitas menjadi alasan merujuk
(74,7%).

(Purnama et al, 2010)

Evaluasi Kasus Rujukan


Kegawatdaruratan Obstetri di
RSCM, Jan-Des 2008
Sebagian besar kasus tidak disertai
pencatatan surat rujukan yang lengkap
91% kasus tidak mencantumkan waktu
merujuk
12,4% kasus tidak ada penilaian awal
Rerata waktu respons RSCM 8 menit.
AKI pada penelitian ini 253,2/100.000.
Kesimpulan:
Sistem rujukan RSCM belum efisien
Perlu perbaikan dan evaluasi sistem
rujuakn maupun kelengkapan fasilitas

Apa yang harus


kita lakukan?

Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan


Obstetric dan Neonatal (PPGDON)

Komponen Pelayanan
Maternal

Komponen Pelayanan
Neonatal

Komponen Pelayanan Maternal


Preeklampsia/eklampsia
Tindakan obstetri pada
pertolongan persalinan
Perdarahan postpartum
Infeksi nifas

Komponen Pelayanan Neonatal


Bayi berat lahir rendah

Hipotermi
Hipoglikemi
Ikterus/hiperbilirubinemia
Masalah pemberian nutrisi

Asfiksia pada bayi


Gangguan nafas
Kejang pada bayi baru lahir
Infeksi neonatal
Rujukan dan transportasi bayi baru lahir

PREEKLAMPSIA/
EKLAMPSIA

Hipertensi dalam kehamilan


Preeklampsia: TD 140/90 terdiagnosis setelah 20 minggu umur
kehamilan disertai proteinuria
Hipertensi kronik
TD 140/90 sebelum hamil terdiagnosis sebelum 20 minggu
umur kehamilan
Preeklampsia superimposed
Timbulnya proteinuria pada pasien hipertensi kronik
Hipertensi gestasional
Hipertensi muncul saat kehamilan
Tidak ada proteinuria, menghilang setelah 12 minggu pospartum
Eklampsia: Kejang grand mall, didahului oleh preeklampsia, tanpa
ditemukan penyebab lain

PREEKLAMPSIA
Kriteria minimal

TD 140/90 mmHg setelah umur kehamilan 20


minggu
Proteinuria 300 gram/24 jam atau +1 dipstick
EDEMA: sering menyertai preeklampsia tetapi
bukan syarat diagnosis

PREEKLAMPSIA BERAT
(Increased severity of preeclampsia)

TD 160/110 mmHg
Proteinuria 2gr/24 jam atau +2 dipstik
Kreatinin serum >1,2 mg/dL
AT <100.000/mmk
Peningkatan ALT atau AST
Hemolisis mikroangiopati (Peningkatan LDH)
Sakit kepala persisten, mata kabur
Nyeri epigastrik persisten
HELLP Syndrome?

Sindrom HELLP
Hemolisis: bilirubin meningkat, LDH
meningkat
Elevated Liver Enzym: SGOT, SGPT meningkat
Low Platelet: Angka trombosit kurang dari
150.000/mmk

MEKANISME TERJADINYA PREEKLAMPSIA

FAKTA
Preeklampsia cenderung terjadi pada
Terpapar Villi chorialis pertama kali:
primigravida
Ada hubungan genetik
Villi chorialis yang banyak: Gemelli, Mola
Menghilang setelah villi chorialis atau plasenta
dilahirkan
Kelainan vaskuler sebelumnya (hipertensi),
obesitas

GENETIK, FAKTOR
IMUNOLOGI, INFLAMASI

PENYAKIT VASKULER
IBU

TROFOBLAST
BERLEBIHAN

PLASENTASI TAK SEMPURNA


PENETRASI TROBFOBLAST DANGKAL
ARTERI SPIRALIS TAK SEMPURNA
PERFUSI UTEROPLASENTER
BERKURANG

Vasoactive agents:
Prostaglandin
Nitric Oxide
Endotheline

Noxius agents:
Cytokine
Lipid peroxidase

REAKSI AKTIVASI ENDOTEL MENYELURUH

VASOSPASME
HIPERTENSI
OLIGURI

KEJANG
ISKEMIA HEPAR

SOLUSIO PLASENTA

KEBOCORAN KAPILER

AKTIVASI
KOAGULASI

PROTEINURIA
EDEMA
HEMOKONSENTRASI

TROMBOSITOPENI

KOMPLIKASI IBU
HELLP (Hemolisis, Elevated liver enzymes,
Low platelet) Syndrome
Eklampsia
Gagal ginjal
Edema paru
Edema otak
Abruptio plasenta

KOMPLIKASI JANIN
Intra uterine Growth Retardation
Fetal distress
Kematian janin

EKLAMPSIA
Kejang grand mall pada pasien dengan
preeklampsia bukan disebabkan oleh sebab
lainnya seperti: epilepsi, infeksi, trauma.

EKLAMPSIA harus dicegah

Prognosis sulit diprediksi


Abruptio plasenta
Koma, perdarahan serebral
Gangguan penglihatan
Gagal ginjal
Edema paru, henti jantung
Kematian

PENCEGAHAN KEJANG
MgSO4 40%
Menaikkan Ambang Otot Perifer Terhadap
Kejang
Im 10 ml Bokong Kanan: 10 ml Bokong Kiri
Antidotum Calcium Glukonas
Efek Samping: Henti Nafas

TERAPI PREEKLAMPSIA

Terminasi Kehamilan
PER 37 Minggu
PEB 34 Minggu
< 34 Minggu
Tekanan darah tak terkontrol
HELLP Syndrom
Eklampsia
Gawat janin

Selalu mengukur tekanan darah

PREEKLAMPSIA RINGAN
Rawat jalan, Istirahat di rumah
Kurangi asupan garam
Kontrol 1 minggu atau bila ada keluhan
memberat segera kontrol
Terminasi kehamilan setelah aterm (37
minggu)

Preeklampsia ringan
Rawat jalan
Terminasi setelah usia kehamilan 37
minggu

PREEKLAMPSIA BERAT
Rawat inap
Tirah baring, infus, dauer kateter, pemeriksaan
janin, pemeriksaan laboratorium
Pemberian MgSO4
Bila usia kehamilan 34 minggu dilakukan diterminasi
Bila didapatkan komplikasi maka dilakukan
terminasi segera tanpa mempedulikan usia
kehamilan

Preeklampsia berat
Rawat inap
Terminasi bila usia kehamilan 34 minggu,
atau kondisi ibu memburuk, atau gawat
janin

EKLAMPSIA
Tetap tenang, jangan tinggalkan penderita,
minta bantuan petugas lain
Bebaskan jalan nafas
Kepala dimiringkan
Oksigenasi, infus, pemasangan kateter
Berikan MgSO4
Konseling keluarga
Terminasi segera

Eklampsia
Terminasi segera

Bila terlambat

PERDARAHAN
POSTPARTUM

Prinsip
Tegakkan diagnosis secara cepat
Kenali sumberdaya dan kemampuan untuk
kompensasi
Resusitasi aktif pada perdarahan masif
Identifikasi penyebab dasar
Mengatasi penyebab

Perdarahan Postpartum
Definisi:
Tradisional
Fungsional

Insidensi: sekitar 5% dari seluruh persalinan


Etiologi: 4T
Tonus
Tissue
Trauma
Thrombin

Faktor Risiko Perdarahan Post Partum


Antepartum
Intrapartum
Postpartum

Faktor Risiko Perdarahan Post Partum:


Antepartum
Riwayat HAP sebelumnya atau plasenta manual

Solusio plasenta, terutama jika tidak terdeteksi


Kematian fetus intrauterine
plasenta previa

Hipertensi dalam kehamilan dengan proteinuria


Regangan berlebihan pada uterus (mis. gemelli,
polihidramnion)

Kelainan perdarahan sebelum kehamilan (mis. ITP)

Faktor Risiko Perdarahan Post Partum:


Intrapartum
Persalinan operatif s.c atau pervaginam dengan
alat
Persalinan lama
Persalinan cepat
induksi atau augmentasi
Korioamnionitis
Distosia bahu
Versi podalik internal dan ekstraksi bayi kembar
yang kedua
Koagulopati yang didapat (mis. HELLP, DIC)

Faktor Risiko Perdarahan Post Partum:


Post-partum

Laserasi atau episiotomi


retensi plasenta/plasenta abnormal
Ruptura uteri
Inversi uteri
Koagulopati yang didapat (mis. DIC)

Pencegahan
Waspada
Manajemen aktif kala tiga
Oxytocin profilaksis
10 U IM
20 U/L N/S IV tetesan cepat
Penjepitan dan Pemotongan tali pusat dini
Penegangan tali pusat terkendali dengan
penekanan suprapubik arah berlawanan

Manajemen aktif vs ekspektatif


pada kala III

Cochrane Library
Issue 1, 2000

Diagnosis Apakah telah terjadi HPP?


Pertimbangkan faktor risiko
Observasi perdarahan pervaginam

Nilai perdarahan dari vagina diikuti C/S


INGAT
Perkiraan kehilangan darah
Manipulasi lanjutan dapat memperbesar
kehilangan darah
Kehilangan darah dapat ditoleransi pada saat
tertentu

Diagnosis Apakah penyebabnya?


Lakukan pemeriksaan fundus

Inspeksi traktus genital bawah


Eksplorasi uterus
sisa plasenta
ruptura uteri
inversi uteri
Lakukan pemeriksaan koagulasi

ABC Perdarahan Obstetri

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

A = airway
B = breathing
C = circulation
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

TATALAKSANA - ABC s
Bicara dan observasi pasien
Jalur IV besar (No 16 gauge)
Kristaloid- jumlah banyak!
Hitung Darah lengkap (DPL)

Golongan darah dan Cross-matched


Minta PERTOLONGAN!

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Nilai fundus


Simultan dengan ABC

Atonia merupakan penyebab utama


Perdarahan Post partum
Jika lembek masase bimanual

singkirkan inversio uteri


mungkin terdapat trauma traktus bagian bawah
evakuasi bekuan darah dari vagina dan servik
membutuhkan eksplorasi manual pada saat ini

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Uterus tidak berkontraksi


Bersihkan bekuan darah/selaput ketuban
Kompresi bimanual interna
Uterus kontraksi?

Ya

Tidak

Pertahankan KBI selama 1-2


Keluarkan tangan hati-hati
Awasi kala IV

Ajarkan keluarga utk KBE


Keluarkan tangan KBI secara hati-hati
Inj Metil ergometrin 0,2 mg I.m.
Pasang infus RL + 20 IU oksitosin, guyur
KBI lagi
Uterus kontraksi?

Ya

Awasi kala IV

Tidak

RUJUK
ABC Alarm
- Perdarahan
Lanjutkan infus + 20 IU oksitosin
minimal
500Obstetri
ml/jam s/d tempat rujukan

Kompresi bimanual interna

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Kompresi bimanual eksterna

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Kompresi bimanual eksterna

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Eksplorasi Manual


Jika dengan kompresi bimanual dan
oksitosin respon tidak ada lanjutkan
dengan eksplorasi
Eksplorasi manual akan:
Singkirkan adanya inversio uteri
Palpasi luka servik
Evakuasi sisa plasenta atau bekuan darah dari
uterus
Singkirkan adanya ruptura uteri atau dehisens

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Reposisi Uterus yang inversi

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Uterotonika Tambahan


Ergotamine hati-hati pada hipertensi

0.25 mg IM or 0.125 mg IV
Dosis maksimum 1.25 mg

Cytotec (misoprostol) hati-hati pada asma

400 mg pr oral
800-1000 mg per rektal

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Perdarahan dengan


kontraksi Uterus baik (keras)
Eksplorasi traktus genitalia bawah
Dibutuhkan:
analgesia yang sesuai

eksposur yang baik dan lampu

Perbaikan surgikal yang tepat


dapat di tampon sementara
dengan balon Foley atau kasa)
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - Perdarahan Uterus


Berlanjut
Kemungkinan kosgulopati - INR, PTT, waktu
pembekuan, fibrinogen
Bila koagulopati abnormal:
koreksi dengan faktor pembekuan, platelets

Bila koagulasi normal:


siapkan Kamar Operasi
singkirkan ruptura uteri, mungkin perlu reparasi
pertimbangkan ligasi uteri/ hipogastrik ,
histerektomi
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Obat-obatan Oksitosika
Oksitosin

Ergometrin/
Methyl ergometrin

15-methyl
prostaglandin F2

Dosis dan rute

IV: 20 units dlm 1 L IM atau IV: 0.2 mg


dgn laju 60
tetes/menit
IM: 10 units

IM: 0.25 mg

Dosis lanjutan

IV: 20 units dlm 1 L Ulangi 0.2 mg IM


dgn laju 40
setelah 15 menit.
tetes/menit
Jika perlu, beri 0.2
mg IM atau IV
setiap 4 jam

0.25 mg setiap 15
menit

Dosis maksimum

Tdk lebih dari 3 L


cairan IV

8 dosis

Hati-hati/
Kontraindikasi

Jangan berikan
sebagai bolus IV

5 dosis

Pre-eklampsia,
hipertensi, penyakit
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri
jantung

Jangan beri secara


IV, Asthma

Laserasi Jalan Lahir

Kecurigaan laserasi jalan lahir jika uterus


berkontraksi baik sedangkan perdarahan tetap
terjadi.
Dilakukan pemeriksaan inspekulo jalan lahir
untuk menentukan sumber perdarahan
Laserasi jalan lahir:
Perineum
Dinding Vagina
Trauma m levator ani
Trauma servik
Terapi: Dilakukan penjahitan sumber perdarahan

Postpartum
Hemorrhage

Management - Evolution
Panic
Panic
Hysterectomy
Pitocin
Prostaglandins
Happiness

Definisi Syok

Kegagalan sistem sirkulasi dalam


mempertahankan aliran yang adekuat pada
organ-organ vital sehingga timbul anoxia
Mengancam jiwa

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Kapan Dapat Memperkirakan Atau


Mengantisipasi Syok

Perdarahan:

Pada awal kehamilan (aborsi, kehamilan ektopik, kehamilan


mola)
Pada akhir kehamilan atau persalinan (plasenta previa, solusio
placenta, ruptura uteri)
Sesudah kelahiran bayi (ruptura uteri, atonia uteri)

Infeksi (aborsi yang tidak aman atau sepsis aborsi,


amnionitis, metritis)
Trauma (perlukaan pada uterus atau kandung kemih
selama aborsi, ruptura uteri)
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tanda Klinis Syok

Gangguan Perfusi Perifer


Raba telapak tangan

Hangat, Kering, Merah : Normal

Dingin, Basah, Pucat : syok


Tekan - lepas ujung kuku / telapak tangan

Merah kembali < 2 detik :


Normal / > 2 detik : syok
Bandingkan dengan tangan pemeriksa
Nadi meningkat : raba nadi radialis

Nadi < 100 : Normal

Nadi > 100 : Syok


Tekanan darah menurun

Sistolik > 100 : Normal /

< 100 : Syok


ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Penatalaksanaan Segera

Berteriak minta tolong - orang yang ada di sekitar


kita dimintai bantuan
Mulailah resusitasi
Infus

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tata Laksana
Mengatasi Perdarahan Hebat

Airway
Breathing
Circulation and hemorrhage control
Shock position
Replace blood loss
Stop / minimize the bleeding process

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

AIRWAY

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Posisi Syok
ANGKAT
KEDUA
TUNGKAI

300 - 500 cc
darah dari kaki
pindah ke
sirkulasi sentral
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Penatalaksanaan Khusus

Berikan oksigen dengan laju 6-8 L/menit


Uji darah : Cek Hemoglobin, dan uji silang
Penilaian status pembekuan darah dengan tes
pembekuan di tempat tidur.
Penatalaksanaan penyebab khusus
Pantau:

Tanda-tanda vital dan hilangnya darah tiap 15 menit


Cairan yang masuk dan urin yang keluar tiap jam
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Cairan Intravena

Mulailah infus intravena dengan menggunakan dua


jarum berlubang besar

Infus dengan tetesan cepat, 1L habis dalam 15-20 menit


Berikan sekurang-kurangnya 2L cairan pada jam pertama
Apabila syok disebabkan oleh perdarahan, diperlukan
tetesan infus yang lebih cepat
Apabila pada vena perifer tidak bisa dilakukan infus,
lakukan vena seksi

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Estimasi BB : ... 60 kg
Estimasi Blood Volume : ... 70 ml/kg x 60 = 4200 ml
Estimasi Blood Loss : .... % EBV = ..... ml
Tsyst
Nadi

120
80

100
100

< 90
> 120

< 60-70
> 140 - ttb

Perf

hangat

pucat

dingin

basah

NORMO
VOLEMIA

EBL = perdarahan

Infus RL

-- 15%

EBV

600

1200-2000

-- 30%

EBV

1200

2500-5000

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

-- 50%

EBV

2000

ml

4000-8000 ml

Pasien perdarahan datang


perkirakan volume yang hilang
|
Syok ? posisi syok
pasang infus jarum besar (2)
ambil sample darah u/ cari donor
|
infusi RL 1000
(+1000 lagi)

Perfusi HKM
nadi < 100
T-sist > 100
|
Lambatkan infusi

Perfusi, nadi, T-sist


belum baik, masih syok
|
tambah RL lagi
(2-4 x volume hilang)
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Kristaloid vs Koloid Sebagai Cairan


Pengganti: Kesimpulan

Kristaloid merupakan pilihan pertama


untuk digunakan, karena:
- Lebih aman
- Lebih murah
- Lebih mudah didapatkan

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Pencegahan Terhadap Syok Akibat


Perdarahan
Meminimalkan darah yang terbuang:
Gunakan teknik terbaik dalam anastesi dan
pembedahan untuk meminimalkan hilangnya
darah pada operasi
Autotransfusi selama prosedur jika dibenarkan
Penatalaksanaan aktif kala tiga pada persalinan
Penatalaksaan terhadap perdarahan
pascapersalinan
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Syok: Penatalaksanaan Lanjutan

Lanjutkan infus IV dengan kecepatan 1L habis dalam 6 jam dan


oksigen dengan laju 6-8 L/menit
Memantau dengan ketat
Lakukan uji laboratorium untuk hematokrit, golongan darah, jenis
Rhesus, dan uji silang
Apabila fasilitas tersedia, periksa elektrolit serum, kreatinin serum,
dan pH darah
Perhatikan adanya komplikasi yang tertunda selama beberapa hari
Pindahkan bila terjadi gagal organ

ACOG 1997.

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Wanita 20 th, 60 kg, Hb 14, Berdarah 1500 ml

EBV : 60 kg x 70 ml = 4200 ml
Hb total : 0.14 x 4200 = 588 gm
Hb hilang : 0.14 x 1500 = 210 gm
Setelah Infus RL 4000 ml = Normovolemia
Hb akhir : (588-210) / 4200 = 9 gm/dl
TIDAK PERLU TRANSFUSI

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Wanita 20 th, Hamil, 60 kg


Berdarah 1500 ml

EBV normal : 60 kg x 70 ml = 4200 ml


HAMIL + 30% - 50% (protective hypervolemia)
1400-2100 ml 5600 - 6300 ml
bila tidak hamil = 35% = syok
bila hamil aterm = 23-26% = belum syok
bila pasien ini syok = 35% x 5600 - 6300 ml =
2000 - 2200 ml sudah hilang
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Wanita 20 th, Hamil+ Eklampsia, 60 kg,


Berdarah 1500 ml

EBV normal : 60 kg x 70 ml = 4200 ml


Hamil+Eklampsia = tidak ada protective
hypervolemia tetap 4200 - 4500 ml
bila tidak hamil = 35% = syok
bila eklampsia = 35% = juga syok
syok diperburuk karena

miokard juga lebih jelek


hipovolemia intravaskuler, hipervolemia interstitial
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Normovolemia

Jantung dapat kompensasi meningkatkan


cardiac output
Oksigenasi jaringan terpelihara
Aliran darah di mikrosirkulasi lebih baik
Anemia merangsang bone marrow lebih aktif

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Tatalaksana - ABC s

PASTIKAN bahwa anda siap


untuk melakukan resusitasi!!!!
Pertimbangkan akan perlunya Foley catheter, CVP,
arterial line, dll
Pertimbangkan perlunya bantuan orang yang lebih
ahli
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Simpulan

waspada
praktek pencegahan
nilai kehilangan darah
nilai status maternal
resusitasi aktif
diagnosis penyebab
tatalaksana penyebab
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Management - Evolution
Panic
Panic
Hysterectomy
Pitocin
Prostaglandins
Happiness
ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Jauhkan jari anda yang berdarah


dari serviks!

ABC Alarm - Perdarahan Obstetri

Summary
Define your challenges
Technological as well as personal

Set realistic expectation


Mastery is not achieved overnight

Keep your eye on the goal


Mentorship programs

QUESTIONS?

Anda mungkin juga menyukai