Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI ANALITIK

PENETAPAN KADAR AIR, KADAR SARI, KADAR ABU, DAN


KADAR MINYAK ATSIRI SERTA PEMBUATAN AMYLUM
Disusun oleh :
Ariadne Prawita

10713036

Nur Hidayat F

10713056

Silmi Fazriya Hayati

10713059

Kartika Khoirunnisa

10713072

Jati Yuniasih

10713086

Asisten :
Khoirunnisa Ayu P. 10712055

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI ANALITIK


PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI
SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

PENETAPAN KADAR AIR, KADAR SARI, KADAR ABU, DAN


KADAR MINYAK ATSIRI SERTA PEMBUATAN AMYLUM

I.

TUJUAN PERCOBAAN
a. Menentukan kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, dan
kadar abu larut air dari simplisa daun salam (Polyanthi folium).
b. Menentukan kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol dari
simplisia daun salam (Polyanthi folium).
c. Menentukan kadar air simplisia daun salam (Polyanthi folium)
dengan distilasi azeotrop.
d. Menentukan kadar minyak atsiri simplisia Alpiniae galangae
rhizome dengan alat destilasi stahl.
e. Menentukan rendemen amylum

yang

didapatkan

dari

pembuatan amylum bengkuang.


II.

PRINSIP PERCOBAAN

Penetapan kadar air dan kadar sari


Kadar air merupakan salah satu parameter standardisasi simplisia.
Adanya air dalam simplisia dalam simplisia tumbuhan memungkinkan
pertumbuhan mikroba dan biosintesis dalam tumbuhan mungkin masih
berlangsung. Selain kadar air, kadar sari simplisia juga dapat digunakan
untuk standardisasi dan identifikasi simplisia. Sari adalah esensi/inti dari
suatu bagian tanaman. Kadar sari setiap jenis simplisia berbeda-beda
sehingga termasuk standardisasi spesifik. Kadar sari suatu simplisia terdiri
dari kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol.
Penetapan kadar minyak atsiri
Minyak atsiri merupakan konstituen dari tanaman yang komponennya secara
umum mudah menguap. Minyak atsiri memiliki sifat khas sebagai pemberi aroma
atau bau pada tanaman. Selain itu, biasanya minyak atsiri juga mengandung

substansi aktif yang banyak digunakan untuk memberikan efek terapeutik serta
memiliki sifat antiseptik.

Minyak atsiri umumnya merupakan campuran hidrokarbon dan


senyawa beroksigen berasal dari hidrokarbonnya.. Penyarian minyak atsiri
dapat dilakukan dengan beberapa metode tergantung dari jenis dan sifat dari
bahan baku. Beberapa metode umum yang biasa digunakan, yaitu destilasi,
pengepresan, ekstraksi, enfleurasi, dan hidrolisis glikosida tertentu.
Umumnya metode yang digunakan untuk penyarian minyak atsiri
adalah distilasi.
Penetapan kadar abu
Suatu simplisia harus memenuhi syarat-syarat mutu di antaranya
adalah penetapan kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, dan kadar abu
tidak larut air. Penetapan kadar abu ini merupakan parameter non spesifik
dari penentuan mutu simplisia. Abu adalah residu dari pembakaran sempurna
yang berupa oksida logam. Abu terbagi menjadi abu fisiologis dan abu non
fisiologis. Abu fisiologis adalah abu yang berasal dari tanaman itu sendiri
contohnya adalah kalsium oksalat dan natrium oksida. Abu non fisiologis
adalah abu yang berasal dari selain tanaman tersebut contohnya adalah
silikat dan pasir.
Penetapan rendemen amylum
Amilum merupakan polisakarida yang terdiri atas amilosa dan
amilopektin. Perbedaan diantara keduanya adalah amilosa secara structural
memiliki sejumlah besar

ikatan

D 1,4 dan sebagian kecil ikatan D 1,6

sebaliknya dengan amilopektin. Sifat lain diantara keduanya adalah amilosa


lebih larut didalam air sedangkan amilopektin sedikit larut didalam air. Pada
prinsipnya pembuatan amilum dapat dibuat dari bahan-bahan yang
mengandung amilum seperti beras, jagung,bengkuan dan bahan-bahan
lainya dimana bahan tersebut dihaluskan bersama dengan air lalu didiamkan

(sedimentasi) selama 24 jam dan dipisahkan antara cairan dan endapanya.


Endapan yang terbentuk merupakan amilum dari bahan yang di haluskan
sebelumnya.

III.

BAHAN DAN ALAT


Alat

Seperangkat alat destilasi Stahl


Kompor listrik dan penangas
Sirkulasi air kondensor
Pipet

Blender
Kain Batis
Pisau
Spatula
Cawan uap / cawan dangkal

IV.

berdasar rata
Gelas kimia
Matkan
Mortar
Corong
Labu erlenmeyer
Batang pengaduk
Plastik wrap
Timbangan
Seperangkat alat destilasi
Oven
Penangas
Pipet
Tanur
Krus kaca masir
Krus silikat
erlenmeyer

METODE PERCOBAAN

Bahan

Alpiniae ganglae rhizoma


Air
Xilen
Etanol
Kertas saring
Polyanthi folium
Toluen
Kloroform
Asam klorida
Kertas saring bebas abu
200 gr bengkuang

Kadar sari larut etanol


Serbuk simplisia yang telah dikeringkan di udara, ditimbang 2 gram
kemudian dimaserasi selama 24 jam dengan 40 ml etanol dalam labu
erlenmeyer, campuran dikocok selama enam jam, setelah 24 jam campuran
disaring cepat dan diambil 8 ml filtratnya, filtrat diuapkan hingga kering pada
cawan dangkal rata, sisa penguapan dipanaskan pada suhu 105 oC hingga
bobot tetap. Kadar sari dihitung dengan membandingkan bobot tetap
terhadap bobot simplisia.
Kadar sari larut air
Serbuk simplisia yang telah dikeringkan di udara, ditimbang 2 gram
kemudian dimaserasi selama 24 jam dengan 40 ml air ditambah 2-3 tetes
kloroform dalam labu erlenmeyer, campuran dikocok selama enam jam,
setelah 24 jam campuran disaring cepat dan diambil 8 ml filtratnya, filtrat
diuapkan hingga kering pada cawan dangkal rata, sisa penguapan
dipanaskan pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Kadar sari dihitung dengan
membandingkan bobot tetap terhadap bobot simplisia.
kadar air simplisia
Alat destilasi dibersihkan dan disiapkan, 200 ml toluen ditambah 2 ml
serta batu didih dididihkan untuk penjenuhan toluen, destilasi dilakukan
selama kurang lebih 2 jam atau hingga air tidak naik lagi dari batas
pengukuran,

setelah

penjenuhan,

simplisia

ditimbang

gram

dan

dimasukkan ke dalam labu destilasi, sebelumnya pastikan seluruh air pada


tabung pengukuran berada dibawah toluen dan menempati batas minimum
pengukuran. Setelah itu destilasi dilakukan sampai air pada tambung
pengukuran tidak bertambah lagi. Selisih batas air pada pengukuran pertama
dan kedua dibandingkan dengan bobot simplisia % v/b.
Kadar minyak atsiri

Alpiniae ganglae rhizoma diiris-iris tipis, lalu ditimbang sebanyak 5 gram. Ke


dalam labu destilasi dimasukkan aquades sebanyak 200 ml. Ditambahkan batu didih
dan simplisia ke dalam labu destilasi. Labu destilasi disambungkan pada alat
destilasi. Xilen ditambahkan sebanyak 4 tetes ke dalam tabung pengumpul pada alat
destilasi. Lalu diukur volume xilen yang ada dalam tabung tersebut Pastikan alat
terpasang dengan baik, lalu labu destilasi dipanaskan dengan penangas.
Pemanasan dibiarkan selama 2 jam. Diukur xilen yang ada dalam tabung setelah 2
jam, lalu ukur kadar minyak atsiri.

Kadar Abu Total


Krus silikat dimasukkan ke dalam tanur selama 5-10 menit lalu dimasukkan
ke dalam desikator selama 5 menit setelah suhunya menurun. 2 gram
simplisia daun salam yang telah diserbuk ditimbang lalu dimasukkan ke
kedalam krus silikat tersebut lalu diratakan Dipijarkan perlahan-lahan hingga
arang habis lalu dimasukkan ke dalam tanur. Kemudian dilakukan
penimbangan hingga mencapai bobot tetap. Kadar abu terhadap bahan yang
telah dikeringkan di udara dihitung
kadar abu yang tidak larut dalam asam
Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total didihkan dengan
25 ml air selama 5 menit. Bagian yang tidak larut dikumpulkan, disaring
dengan kertas saring bebas abu, dicuci dengan air panas, lalu dipijarkan.
Krus dimasukkan ke dalam tanur. Dilakukan penimbangan hinnga mencapai
bobot tetap. Kadar abu yang larut dalam air terhadap bahan yang dikeringkan
di udara dihitung.
Penetapan bobot amylum bengkuang
Bengkuang disiapkan sebanyak 200 gram dan dipotong kecil-kecil untuk
selanjutnya

dihaluskan

menggunakan

blender

hingga

halus

dengan

perbandingan bengkuang dan air adalah 1:3. . Setelah dihaluskan, residu


dan filtrat dipisahkan dengan disaring menggunakan kain batis dengan

bantuan mortar. Residu dibuang dan filtrat di tampung dalam gelas kimia.
Gelas kimia ditutup dan dimasukan kedalam lemari pendingin selama 24 jam.
Setelah didiamkan

selama 24 jam, pisahkan antara cairan dan endapan

yang terbentuk. Endapan yang terbentuk didiamkan dalam suhu ruang atau
dikeringkan menggunakan hairdryer hingga cairanya hilang dan yang tersisa
hanya berupa serbk amilum. Sisa dari filtrat yang dipisahkan didiamkan
kembali selama 24 jam untuk memastikan bahwa seluruhnya amilum telah
terendapkan. Apabila masih dihasilkan endapan maka pisahkan kembali
antara cairan dan endapanya dan dikeringkan kembali hingga terbentuk
serbuk amilum. Serbuk amilum yang telah terbentuk ditimbang dan ukuran
amilum tersebut diukur dibawah mikroskop yang telah dikalibrasi.
V.

DATA DAN PENGOLAHAN

1.Penetapan Kadar Air


Volume air hasil penjenuhan (V1)
Volume air hasil akhir destilasi (V2)
V 2 V 1
Kadar air = 2 gram 100

= 9.6 mL
= 9.4 mL

9.69.4 mL
100
2 gram

= 10 %

( vb )

2. Penetapan Kadar Sari


a. Penetapan Kadar Sari Larut Air ( literatur 7.4%)
Bobot cawan kosong (A)
= 52.9379 gram
Bobot konstan (B)
= 52.9522 gram
40 ml ( B A ) gram
Kadar sarilarut air=

100
8 ml
2 gram

40 52.952252.9379

100
8
2

3.575 %

b. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol ( literatur 7.8%)


Bobot cawan kosong (A)
= 33.7506 gram
Bobot konstan (B)
= 33.7819 gram
40 ml ( B A ) gram
Kadar sarilarut etanol=

100
8 ml
2 gram

40 33.781933.7506

100
8
2

7.825 %
3. Kadar Minyak atsiri
Massa simplisia yang disari (m) = 5 gram
Volume xilen awal (x0) = 0,11 ml
Volume xilen akhir (xt) = 0,14 ml
Kadar minyak atsiri (% v/b) =
=

( x tx 0 )
100
m
(0,140,11)
100
5

= 0,6 %

4. Kadar Abu
Bobot krus 1 (air)
Bobot krus 2 (asam)

: 22,9256 gram, dengan sampel: 24,9256 gram


: 19,9015 gram, dengan sampel: 21,9015 gram

a. Kadar abu total


Krus 1 : 23,0336 gram 22,9256 gram = 0,108 gram
Kadar -> 0,108 gram : 2 gram x 100 = 5,4%
Krus 2: 20,0063 gram 19,9015 gram = 0,1048 gram
Kadar -> 0,1048 gram : 2 gram x 100 = 5,24%
b. Kadar abu tidak larut asam
Hasil penimbangan: 19,9163 gram
Bobot: 19,9163 gram 19,9015 gram = 0,0148 gram
0,0148
x 100= 0,74%
%kadar =
2

c. Kadar abu larut air


Hasil penimbangan: 23,001 gram
Bobot: 23,001 gram 22,9256 gram = 0,0754 gram
0,1080,0754
x 100 = 1,63%
%kadar =
2

5. Penetapan bobot rendemen amylum


a. Rendemen amilum :
Berat awal : 200g
Berat amilum : 6,22 g
Hasil rendemen : 6,22g / 200g x 100% = 0,0311 %
b. Ukuran Amilum
Quadran I
- 4 skala
- 3 skala
- 3 skala
- 3 skala
- 2 skala
Rata2 = 3 skala

Quadran II
- 3 skala
- 2 skala
- 3 skala
- 2 skala
- 2 skala
2.4 skala

Quadran III
- 4 skala
- 2 skala
- 3 skala
- 3 skala
- 1 skala
2.6 skala

Rata-rata total : 2,6 skala


Kalibrasi mikroskop :
0,01 = 3 skala
2,6 skala = 0,0087 mm
Ukuran amilum = 0,0087 mm

VI.

PEMBAHASAN
a. Penetapan Kadar air

Quadran IV
- 3 skala
- 2 skala
- 2 skala
- 3 skala
- 2 skala
2.4 skala

Pada percobaan, penetapan kadar air menggunakan metode distilasi


azeotrop. Hal tersebut karena reaksi Karl Fischer menggunakan air untuk
reaksi oksidasinya. Azeotrop adalah sifat titik didih campuran 2 pelarut yang
lebih rendah dibandingkan masing-masing titik didih pelarutnya. Prinsip
distilasi yaitu pemisahan berdasarkan tiitk diidh. Toluen memiliki kemampuan
sedikit menarik air, sehingga untuk mencegah toluen menarik kadar air dari
simplisia, toluen dilakukan penjenuhan dengan air sebelumnya. Toluen harus
dijenuhkan juga karena jika toluen tidak jenuh maka daya toluen melarutkan
air di simplisia masih ada. Air dan toluen dalam proses distilasi tidak terpisah
sehingga menyulitkan dalam pengukuran. Penjenuhan toluen dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu ekstraksi dan destilasi.
Penjenuhan toluen dengan ekstraksi memiliki proses yang mudah,
namun hasil toluen kurang terjenuhkan dan jumlah bahan yang digunakan
lebih banyak. Oleh karena itu, penjenuhan toluen pada percobaan
menggunakan metode distilasi. Selain menggunakan toluen, penetapan
kadar air dapat menggunakan pelarut

organik

lain seperti xilen. Pelarut

organik harus memenuhi syarat berupa :


-

Tidak saling bercampur


Massa jenis pelarut organik lebih ekcil dibandingkan massa jenis air
Tidak toksik
Titik didih pelarut organik lebih tinggi dibandingkan titik didih air.

Pada praktikum ini dilakukan penetapan kadar air pada simplisia daun
salam dengan nama latin Polyanthi folium dengan metode destilasi azeotrop.
Zat pembawa yang dipakai yakni toluen yang dicampurkan sedikit air dalam
labu bundar untuk dilakukan penjenuhan toluen. Dalam labu bundar
dimasukan batu didih agar tidak terjadi bumping. Penjenuhan toluen ini
ditujukan agar air dalam simplisia tidak tertarik oleh toluen, sehingga tidak
mempengaruhi perhitungan pengukuran kadar air dari simplisia. Air akan
berada pada bagian bawah dan toluen pada bagian atas tabung skala untuk
pengukuran volume air. Volume air yang terbaca akan bertambah hingga

kondisi konstan yakni saat toluen sudah jenuh. Volume yang terukur dicatat
sebagai volume awal. Dikarenakan pada alat yang digunakan skala tidak
dimulai dari bawah tabung, maka saat pembacaan apabila belum terbaca
dapat ditambahkan air dan toluena dikocok agar tidak ada gelembung.
Setelah dilakukan penjenuhan toluene, simplisia dimasukan, dan alat
destilasi dipasang kembali. Air dalam simplisia akan menguap dan akan
terkondensasi hingga turun ke dalam tabung skala dan memberikan
penambahan volume dari air yang terukur hingga konstan. Pada saat
penjenuhan volume air, skala tabung menunjukan angka 9.6 mL dan setelah
distilasi dengan adanya simplisia skala tabung menunjukan angka 9.4 mL.
Kadar air simplia Polyanthi folium sebanyak 2 gram adalah 10%. Hal ini
sesuai dengan persyaratan pada Materia Medika yang menetapkan bahwa
kadar air suatu simplisia tidak lebih dari 10%.
b. Penetapan Kadar Sari
Kadar sari suatu simplisia perlu ditetapkan salah satu standardisasi untuk
menentukan mutu suatu simplisia. Kadar sari ditentukan dengan pelarut
etanol dan air. Etanol dan air dipilih sebaga pelarut dalam penentuan kadar
sari karena paling umum digunakan untuk ekstraksi sehingga pelarut yang
lebih efisien untuk mengekstraksi simplisia tersebut dapat ditentukan. Air
merupakan pelarut yang dapat melarutkan senyawa senyawa yang polar
saja. Sedangkan etanol dapat melarutkan sedikit senyawa non polar dan
semi polar serta melarutkan semua senyawa polar. Oleh karena itu etanol
disebut sebagai pelarut universal.
Kadar sari larut air menandakan kelarutan sari dalam pelarut polar berupa
air dan kadar sari larut etanol menandakan kelarutan sari dalam pelarut
organik. Beberapa contoh sari yang terkandung dalam simplisia adalah
flavonoid yang terdiri dari aglikon dan glikosida, tanin. Aglikon cenderung
larut etanol dan glikosida cenderung larut air. Kelarutan tanin lebih besar

dalam air. Penetapan kadar sari larut air dapat dilakukan dengan cara panas,
cara dingin (maserasi), dan cara cepat (ultrasonik).
Pada proses penentuan kadar sari, enam jam awal dilakukan pengocokan
untuk membuat lapisan difusi sekitar sel. Daerah sekitar sel yang telah jenuh
akan dilakukan pengocokan agar daerah sekitar sel menjadi tidak jenuh
kembali dan sari yang dikeluarkan dari sel lebih banyak dan efektif. Pada
penguapan pelarut, sari yang berada dalam cawan harus diperhatikan
dengan seksama agar tidak gosong.
Pada praktikum ini dilakukan penetapan kadar sari simplisia dari
Polyanthi folium atau daun salam. Berdasarkan percobaan didapatkan kadar
sari larut etanol simplisia Polyanthi folium sebesar 7.825%. Berdasarkan
literatur Materia Medika Indonesia Jilid I syarat kadar sari larut etanol adalah
tidak kurang dari 7.8%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar
sari larut etanol simplisia Polyanthi folium sudah sesuai dengan persyaratan.
Berdasarkan literatur Materia Medika Indonesia Jilid I syarat kadar sari
larut air adalah tidak kurang dari 7.4%. Berdasarkan percobaan didapatkan
kadar sari larut air simplisia Polyanthi folium sebesar 3.575%. Hasil
percobaan ini lebih kecil dari persyaratan kadar sari larut air dari literatur. Dari
hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar sari larut air simplisia Polyanthi
folium tidak sesuai persyaratan.
Ketidaksesuaian kadar sari larut air pada percobaan terhadap literatur
dapat dikarenakan prosedur maserasi yang tidak sesuai dengan standar
prosedur pada literatur. Pada saat percobaan maserasi hanya dilakukan
dengan cara mengocok erlenmeyer secara manual setiap 1 jam selama
kurang lebih 3 jam. Setiap 1 jam pengocokan hanya dilakukan 1 menit. Pada
Materia Medika Indonesia Jilid I dicantumkan prosedur maserasinya adalah
dengan pengocokan berkali-kali selama 6 jam. Idealnya, pengocokan
dilakukan selama 6 jam menggunakan alat shaker, untuk memastikan semua

sari dapat larut dalam air. Prosedur pada percobaan ini yang tidak sesuai
dengan prosedur pada literatur mengakibatkan hasil percobaan kurang dari
nilai yang sebenatrnya. Jika maserasi dilakukan dengan menggunakan
shaker selama 24 jam,nilai kadar sari yang terbaca dapat lebih dari 7.4%
untuk kadar sari larut air dan lebih dari 7.8% untuk kadar sari larut etanol.
c. Penetapan kadar abu
Pada penetapan kadar abu, pertama-tama krus harus dipijar terlebih
dahulu dalam tanur untuk memastikan bahwa krus benar-benar kering.
Dalam prosedur penentuan kadar abu, sebelum penimbangan perlu
memasukkan krus ke dalam desikator. Hal ini bertujuan untuk memastikan
tidak adanya bobot tambahan dari air yang berasal dari kelembaban udara
yang akan menambah perhitungan bobot kadar abu. Ketika simplisia
dimasukkan ke dalam krus, simplisia harus diratakan untuk memastikan
proses pemijaran berlangsung secara merata. Ketika proses pemijaran,
arang dari simplisia harus dihilangkan. Beda dari arang dan abu adalah arang
masih mengandung karbon. Setelah pemijaran, untuk memastikan bahwa
seluruh zat organic dari simplisia telah tidak ada, krus berisi simplisia
dimasukkan ke dalam tanur. Tanur bersuhu sekitar 450 oC untuk memastikan
bahwa sudah tidak ada lagi kandungan organik di dalam abu tersebut.
Kemudian, dilakukan penimbangan hingga mencapai bobot tetap yaitu
dengan selisih antara penimbangan sebesar 1 mg.
Berdasarkan hasil pengolahan data, didapatkan hasil bahwa kadar abu
total dari simplisia daun salam adalah 5,4 % dan 5,24% sedangkan
berdasarkan kadar yang diperbolehkan oleh Materia Medika Indonesia Jilid
IV, kadar abu dari simplisia daun salam harus kurang dari 5%. Hal ini dapat
terjadi karena saat proses pemijaran belum semua arang dari simplisia
benar-benar hilang sehingga bobot dari arang ini menambah perhitungan
bobot abu simplisia. Selain itu, seharusnya di setiap penimbangan dilakukan
pengecekan terhadap timbangan yang digunakan apakah sudah terkalibrasi

dengan baik atau belum. Penimbangan juga seharusnya benar-benar


dilakukan langsung setelah krus dikeluarkan dari desikator. Berdasarkan hasil
perhitungan, kadar abu tidak larut asam adalah 0,763% sedangkan kadar
yang diperbolehkan oleh Materia Medika Indonesia Jilid IV adalah kurang dari
0,86%. Hal ini menunjukkan bahwa kadar abu tidak larut asam memenuhi
syarat. Berdasarkan hasil pengolahan data, kadar abu tidak larut air adalah
1,63%, sedangkan kadar yang diperbolehkan oleh Materia Medika Indonesia
Jilid IV adalah kurang dari 2%. Hal ini menunjukkan bahwa kadar abu tidak
larut asam memenuhi syarat..
d. Penetapan kadar minyak atsiri
Kadar minyak atsiri yang diperoleh berdasarkan data dan pengolahan,
yaitu 0,6 %. Hasil tersebut memenuhi persyaratan pada Farmakope Herbal
Indonesia. Pada pustaka disebutkan bahwa kadar minyak atsiri pada
lengkuas tidak boleh kurang dari 0,5%. Kadar minyak atsiri yang rendah
dapat disebabkan oleh penguapan selama pengirisan simplisia dan waktu
antara pengirisan

dengan penyulingan. Destilasi yang tidak dilakukan

dengan segera juga dapat mempengaruhi komposisi minyak atsiri yang bisa
saja berubah. Oleh karena itu, sebaiknya destilasi harus segera dilakukan
setelah penyiapan simplisia. Selain itu, penyiapan simplisia yang kurang baik
mempengaruhi. Sebaiknya, simplisia digiling atau dihaluskan tidak hanya
diiris karena dengan penggilingan dapat merusah jaringan simplisia sehingga
minyak atsiri yang terjerat dalam jaringan dapat keluar dengan baik.
Rendemen minyak dipengaruhi oleh faktor ketika pra panen dan pasca
panen. Faktor pra panen meliputi varietas tanaman, cara budidaya, waktu
dan cara panen. Sedangkan faktor pasca panen meliputi cara penanganan
bahan, cara penyulingan dan cara pengemasan.

e. Penetapan bobot amylum

Amilum merupakan

polisakarida yang terdiri atas amilosa dan

amilopektin. Perbedaan diantara keduanya adalah amilosa secara struktural


memiliki sejumlah besar

ikatan

D 1,4 dan sebagian kecil ikatan D 1,6

sebaliknya dengan amilopektin. Sifat lain diantara keduanya adalah amilosa


lebih larut didalam air sedangkan amilopektin sedikit larut didalam air.
Dalam pembuatan amilum secara sederhana dapat dilakukan dengan
menghaluskan bahan dengan air sampai halus dan dipisahkan antara residu
dan filtratnya dengan menggunakan kain batis. Tujuan dari pemisahan ini
adalah agar nantiya endapan yang dihasilkan merupakan benar-benar
amilum dan bukan merupakan ampas dari serat-serat bengkuang. Setelah
dipisahkan, didiamkan selama 24 jam agar amilum dapat mengendap
didalam dasar gelas kimia. Kain batis digunakan untuk penyaringan karena
ukuran pori dari kain batis ini relatif kecil yang memunginkan untuk amilum
lewat dan partikel lain tertahan. Pada penyaringan dibantu dengan bantuan
mortar hal ini bertujuan untuk mengurangi kontaminasi karena jika terlalu
banyak kontaminasi akan menyebabkan pertumbuhan jamur pada amilum.
Amilum dapat mengendap karena larutan amilum tersebut dalam keadaan
jenuh sehingga dapat dipisahkan antara endapa amilum dan cairan
supernatanya. Endapan yang terbentuk didiamkan dalam suhu ruang atau
dikeringkan menggunakan hairdryer hingga cairanya hilang dan yang tersisa
hanya berupa serbuk amilum. Sisa dari filtrat yang dipisahkan didiamkan
kembali selama 24 jam untuk memastikan bahwa seluruhnya amilum telah
terendapkan. Apabila masih dihasilkan endapan maka pisahkan kembali
antara cairan dan endapanya dan dikeringkan kembali hingga terbentuk
serbuk amilum. Serbuk amilum yang telah terbentuk ditimbang dan ukuran
amilum tersebut diukur dibawah mikroskop yang telah dikalibrasi.
Pada percobaan, rendemen hasil yang didapatkan hanya 0,0311%
yaitu hanya 6,22gram dari 200gram bengkuang segar. Jumlah yang sangat
sedikit ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah saat

pemisahan endapan dan cairan supernatan yang terbentuk tidak sempurna


sehingga ada sebagian amilum yang ikut terbuang, selain itu saat
pemindahan dari satu wadah kewadah lain memungkinkan pati tertinggal,
dan saat pengaringan untuk pemisahan residu dan filtrat pun tidak sempurna
sehingga masih ada sisa pati yang tertinggal pada residu.
Dalam analisis secara mikroskopik amilum bengkuang memiliki ukuran
0,0087 mm dengan ciri-ciri mikroskopik bulat,hilus tidak terlihat dan lamela
tidak terlalu jelas.
VII. KESIMPULAN
1. Kadar air simplisia Polyanthi folium adalah 10%.
2. Kadar sari larut air simplisia Polyanthi folium adalah 3.575%
dan kadar sari larut etanol simplisia Sericocalycis folium adalah 7.825%.
3. Kadar abu total Polyanthi folium 5.4% dan 5.24%, kadar abu tidak larut
asam o.76, dan kadar abu larut air 1.63% simplisia Polyanthi.
4. Kadar minyak atsiri Cymbopognis folium adalah 0.6% (b/v).
5. Rendemen dalam pembuatan amilum dari tanaman bengkuang 6,22
0.0311%
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Farmakope Herbal
Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Halaman 87.
Ditjen POM. (1980). Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI. Halaman 47-52.
Evans, W.C. and Evans, D., 2002, Trease and Evans Pharmacognosy, 15 th
edition, W.B Saunders, Edinburg, London (Hal 253-256).
Ernest, Guenther. 1948. The essential oils, Volume 1. New York : Van
Nostrand Company, Inc.
Gunawan, Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I, Jakarta:
Penerbit Penebar Swadaya.