Anda di halaman 1dari 16

Gigi Tiruan Lengkap

Sebelumnya dilakukan diagnossa yang meliputi mencatat data pasien,


anamnesis, pemeriksaan ekstra oral, pemeriksaan intra oral, pemeriksaan
penunjang, menentukan diagnosis dan rencana perawatan
Prosedur Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap
Membuat Cetakan Anatomis Rahang Atas dan Rahang Bawah
Fungsinya untuk menganalisis dan mempelajari masalah yang mungkin
timbul selama pembuatan geligi tiruan dan digunakan sebagai penunjang
diagnostic serta mendiagnosa rencana perawatan yang akan diberikan pada
pasien. Mencetak dengan menggunakan bahan hidrokoloid irreversible
(alginate) yang tidak menimbulkan perubahan pada jaringan dan sendok cetak
stock tray. Hasil cetakan diisi dengan plaster of paris tipe II (gips putih) yang
nantinya akan didapat sebagai model anatomis/model studi. Fungsinya untuk
menganalisis dan mempelajari masalah yang mungkin timbul selama
pembuatan geligi tiruan dan digunakan sebagai penunjang diagnostic serta
mendiagnosa rencana perawatan yang akan diberikan pada pasien.
Membuat Outline Gigi Tiruan
Fungsinya sebagai batas untuk pembuatan galengan gigit menggunakan
malam merah. Model studi yang telah jadi dibuatkan basis kemudian di beri
garis batas fungsional (mukosa bergerak dan tidak bergerak) pada model
dengan menggunakan pensil tinta.
Membuat Spacer Malam
Fungsinya untuk menciptakan ruang pada sendok cetak perseorangan yang
nantinya akan diisi oleh elastomer. Malam merah (base wax) yang telah
dilunakkan kemudian ditekan pada model sedemikian rupa lalu dipotong sesuai
outline yang telah dibuat sebelumnya. Spacer malam diberi oklusal stopper
dengan ukuran 7 mm x 5mm pada region caninus dan regio molar. Untuk
rahang atas, oklusal stopper melebar ke bukal dan untuk rahang bawah oklusal
stopper melebar ke lingual. Fungsi oklusal stopper sebagai panduan

penempatan sendok cetak pada model / rongga mulut pasien, sebagai control
tekanan saat pencetakan dan control ketebalan bahan cetak.

Spacer malam pada rahang atas

Spacer malam pada rahang bawah

Membuat Sendok Cetak Perseorangan/ Individual Tray


Fungsi sendok cetak perseorangan untuk mendapatkan hasil cetakan yang
lebih akurat. Bahan yang digunakan adalah resin akrililk tipe self cured.

Membuat Cetakan Fungsional Rahang Atas dan Rahang Bawah


Melakukan border molding
Fungsinya untuk menghias atau mendapatkan batas tepi dari basis gigi
tiruan. Tekniknya dengan muscle trimming. Seluruh otot otot fungsional di
rongga mulut pasien diaktifkan (otot bibir, otot lidah dan otot pipi). Cobakan
terlebih dahulu sendok cetak perseorangan pada pasien. Buat under
extended seluruh tepi sendok cetak dengan mengurangi bagian malam
merah sebanyak 2-3 mm. Border molding menggunakan bahan cetak
compound (green stick) yang diletakkan pada tepi sendok cetak. Sifat bahan
ini reversible yaitu bisa digunakan berulang ulang.
Pada rahang atas pasien diinstruksikan membuka mulut dan
menggerakkan rahang bawah ke kanan dan kiri serta ke depan untuk
membentuk hanular notch dan sayap bukalis. Untuk daerah frenulum
2

bukalis, pipi dan bibir pasien ditarik ke luar, ke belakang, ke depan dan ke
bawah serta penarikan bibir atas ke depan untuk daerah frenulum labialis.
Untuk membentuk daerah posterior palatum durum yang merupakan batas
antara

palatum

molle

dan

palatum

durum

pasien

diinstruksikan

mengucapkan ah
Pada rahang bawah untuk membentuk tepi sayap distolingual dan
daerah buccal shelf, maka setelah green stick dilunakkkan, dan sendok cetak
telah difiksasi, pasien diminta untuk membuka mulut kemudian menutup
mulut untuk mengaktifkan otot maseter. Kemudian untuk membentuk
daerah distolingual dan postmylohioid maka pasien diinstruksikan untuk
menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan serta ke posterior palatum durum.
Frenulum lingual dibentuk dengan menginstruksikan kepada pasien untuk
meletakkan ujung lidahnya ke bagian anterior palatum dan ke bibir atas.
Selanjutnya daerah sayap labial dibentuk dengan memberikan instruksi yang
sama dengan instruksi border molding rahang atas.

Hasil border molding pada rahang atas

Cetak percobaan (trial impression)


Menggunakan bahan hidrokoloid reversible (alginate). Fungsinya untuk
mengoreksi apakah hasil border molding yang telah dilakukan benar atau
tidak. Koreksi dengan melihat hasil cetakan, misal bahan cetak melebihi
bordel molding, artinya border molding kurang panjang.
Cetak akhir (final impression)
Menggunakan bahan jenis elastomer. Teknik mencetak sama pada saat
melakukan border molding yaitu menggunakan gerakan muscle trimming.

Hasil cetakan menggunakan elastomer pada rahang atas


Membuat Model Kerja
Model kerja merupakan replika dari struktur rongga mulut yang digunakan
sebagai media pembuatan gigitiruan
Hasil cetakan elastomer di isi dengan plaster of paris tipe III ( gips biru )
dan dibuatkan basis
Lakukan pengurangan selebar 0,5 cm pada bagian tepi untuk tetap
mempertahankan bentuk peripheral
Buat tiga cekungan pada dasar model, buat outline form, garis puncak ridge
dan garis median.
Pembuatan Galengan Gigit
Fungsinya menggantikan prosessus alveolaris yang mengalami resorpsi
akibat hilangnya gigi. Bahan yang digunakan adalah base wax (malam merah).
Pertama lunakkan selembar malam di atas lampu spiritus pada sebelah sisi,
kemudian sisi ini digulung (dalam gulungan ada malam cair, untuk penyatu).
Lembaran malam dipanasi lagi, lalu digulung lagi sampai membentuk sebuah
silinder. Harus diperhatikan bahwa setiap digulung malam tersebut harus
melekat satu dengan yang lainnya. Gulungan malam yang berbentuk silinder
dibentuk bentuk tapal kuda dengan tebal atau ketinggian untuk rahang atas 22
mm dan rahang bawah 18-22 mm. Pada rahang atas galengan gigit dibuat
hanya sampai region molar pertama.
Melakukan Penetapan Gigit
Fungsinya untuk memperoleh kondisi ideal rahang bawah tehadap rahang
atas dari dalam rongga mulut yang kemudian diproyeksikan di luar rongga
mulut dengan bantuan sarana galengan gigit.
4

Penyesuaian galengan gigit rahang atas


Pasang galengan gigit rahang atas, periksa stabilitas , retensi , ekstensi dan
kenyamanan.

Koreksi

bentuk

kesejajaran

bidang

oklusal

dengan

menggunakan bite plate, dilihat tampak depan sejajar dengan garis


interpupil (garis untuk melihat bidang insisal gigi) dan dari samping sejajar
dengan garis champer ( garis yang ditarik dari ala nasi sampai tragus)

Koreksi bentuk permukaan labial, bukal dan palatal galengan gigit. Bagian
labial, disesuaikan dengan bibir penderita normalnya 1-2 mm dibawah bibir.
Lihat dari samping lengkung depan kontur labial harus membentuk lip
support yang baik untuk menunjang retensi.

Galengan gigit rahang bawah dimasukkan dalam mulut pasien, kemudian


perhatikan kontak antara galengan gigit rahang atas dan bawah. Kontak
harus merata dan seimbang serta tidak terjadi kontak semu.
5

Penetapan dimensi vertical


Lepaskan galengan gigit terlebih dahulu dari dalam rongga mulut. Buat dua
titik pada tulang yang diproyeksikan pada jaringan lunak yaitu pada basis
cranii (nation) dan pada mandibular (gnation). Pasien diminta rileks dan
melakukan gerakan menelan berkali kali. Ukur jarak antar kedua titik tadi,
ambil rata ratanya. Masukkan kembali galengan gigit rahang atas dan
rahang bawah, dioklusikan. Ukur jarak antar kedua titik. Selisih pengukuran

pertama dan kedua harus menunjukkan rentang 2-4 mm (free way space)
Menentukan relasi horizontal / relasi sentrik
Pasien diinstuksikan menelan berulang kali, lakukan gerakan mandibular
maju mundur, operator membantu mendorong mandibular untuk dalam
keadaan paling posterior. Kemudian pasien diinstruksikan untuk menutup

perlahan
Pencatatan akhir
Goreskan dua garis vertikal menyilangi garis kontak antara galangan gigit
atas dan bawah pada daerah premolar di kedua sisi. Pada kedua sisi
galangan gigit atas dibuat cekungan berbentuk V di antara garis yang
digoreskan ini. Pada keratin diberi malam lunak, kemudian ditempelkan
steples. Pastikan kontak kedua galangan gigit baik dan garis yang dibuat
saling bertepatan. Kemudian kedua galangan gigit dapat dilepas secara
bersamaan.

Pemasangan Model Kerja pada Articulator


Fungsinya untuk memperoleh oklusi dan artikulasi yang seimbang dan
sebagai simulator untuk menggerakkan rahang sehingga gigi tiruan yang
dihasilkan dapat berfungsi seperti aslinya. Perhatikan garis median model
sejajar dengan garis median articulator, bidang oklusal dari galengan gigit
harus sejajar dengan garis oklusal articulator dengan bantuan karet gelang serta
pin horizontal menyentuh titik potong antara garis median dan insisal insisif
rahang bawah.
Penyusunan Gigi
Pemilihan gigi

Warna gigi, normalnya warna gigi cenderung akan semakin gelap seiring
dengan bertambahnya usia. Maka dari itu, untuk warna gigi sesuaikan
dengan umur pasien. Bentuk gigi hendaknya sesuai dengan bentuk lengkung
rahang, bentuk

kepala, bentuk muka, dan jenis kelamin. Besar gigi sesuai

dengan besar kecilnya lengkung rahang.


Penyusunan gigi anterior atas
Gigi insisiv sentral atas
Posisinya sesuai dengan garis median yang telah dibuat diletakkan
dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal.
Gigi Insisiv lateral atas
Diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesiodistal, long axisnya membuat sudut 80 derajat dengan bidang oklusal dan
tepi oklusalnya 1 mm diatas bidang oklusal.
Gigi kaninus atas
Diletakkan dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long
axisnya hampir sama dengan gigi I-1 atas atau paling condong garis luar
distal tegak lurus bidang oklusi atau meja artikulator dan inklinasi antero
posterior : bagian servikal tampak lebih menonjol dan ujung cusp lebih
kepalatal dan menyentuh bidang orientasi dilihat dari bidang oklusal.
Penyusunan gigi anterior bawah
Disesuaikan dengan gigi anterior atas. Harus diberi jarak vertikal/
overbite dan jarak horizontal/overjet secukupnya menyesuaikan dengan
tinggi bonjol/cusp gigi posterior.
Gigi Insisiv sentral bawah
Diletakkan dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal long
axisnya membuat sudut 85 derajat dengan bidang oklusal dan tepi insisal
1-2 mm diatas bidang oklusal, inklinasi antero-posterior.
Gigi Insisiv lateral bawah
Diletakkan dengan memperhatikan inklinasi mesio distal, long
axisnya membuat sudut 80 derajat dengan bidang oklusal inklinasi antero
posterior,long axisnya tegak lurus bidang oklusal, bagian tepi insisal dan
bagian servikal sama jaraknya, tepi insisal 1-2 mm diatas bidang oklusal.
Gigi C/kaninus bawah
Diletakkan dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long
axisnya miring/ paling condong garis luar distalnya tegak lurus bidang
oklusal, inklinasi antero-posterior. Gigi condong kelingual/bagian servikal
7

menonjol serta dilihat dari bidang oklusal ujung cusp terletak diatas lingir
rahang, bagian kontak distal berhimpit dengan garis lingir posterior.
Penyusunan gigi posterior atas
Gigi P-1 atas
Cusp bukal pada bidang oklusi dan cusp palatal kira-kira 1mm
diatas bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusi serta dilihat dari
bidang oklusal groove developmental sentral terletak diatas lingir rahang.
Gigi P-2 atas
Cusp bukal dan cusp palatal terletak pada bidang oklusal serta
dilihat dari bidang oklusal development groove sentralnya terletak diatas
lingir rahang.
Gigi M-1 atas
Cusp mesio-palatal terletak pada bidang oklusi, cusp mesio-bukal
dan disto-palatal sama tinggi kira-kira 1mm diatas bidang oklusi dan cusp
disto-bukal kira-kira 2 mm daiatas bidang oklusi serta dilihat dari bidang
oklusal cusp-cuspnya terletak pada kurva lateral.
Gigi M-2 atas
Cusp-cuspnya terletak pada bidang oblique dari kurva anteroposterior, serta dilihat dari bidang oklusal permukaan bukal gigi M-2 atas
terletak pada kurva lateral.
Penyusunan gigi posterior bawah
Gigi M-1 bawah
Cusp mesio-bukal gigi M-1 atas berada digroove mesio-bukal gigi
M-1 bawah. Inklinasi antero-posterior ; cusp bukal gigi M-1 (holding
cusp) bawah berada difosa sentral gigi geraham atas dan terlihat adanya
overbite dan overjet serta dilihat dari bidang oklusal cusp bukal gigi
geraham bawah berada diatas lingir rahang.
Gigi P-2 bawah
Cusp bukalnya berada pada di fosa sentral gigi P-1 dan P-2 atas
terlihat adanya overjet dan overbite serta dilihat dari bidang oklusal: cusp
bukalnya berada diatas lingir rahang.
Gigi M-2 bawah
Cusp bukalnya berada diatas lingir rahang.
Gigi P-1 bawah
Cusp bukalnya berada pada di fosa sentral gigi P-1 dan C atas serta
dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang.

Pasang Percobaan Gigi Tiruan


Trial denture adalah geligi tiruan malam yang dicoba di dalam mulut
penderita untuk melihat estetik, fonetik dan fungsinya oleh karena itu trial
denture harus sudah seperti gigi tiruan jadi, demikian juga mengenai tebal,
batas-batas perifer dan anatomisnya.
Kontur Gingiva
Fungsinya untuk membentuk rugae dan raphae palatina pada palatal, buat
root prominence (gambaran seperti tonjolan akar gigi), buat mc. Call feston
(daerah servikal gigi), buat stippling seperti keadaan jaringan yang sehat
dengan menggunakan sikat yang berbulu kaku dan gingival recession (sengaja
menampakkan permukaan mahkota gigi)
Flasking (Penanaman dalam Kuvet)
Model kerja dan geligi tiruan malam dilepaskan dari articulator.
Pilih kuvet yang sesuai dengan lebar model kerja. Harus ada jarak model
dengan dinding kuvet paling sedikit 1/8 inci dan dapat diliat pula tingginya
gigi-gigi dalam flask, jarak gigi- tutup flask paling sedikit inci.
Setelah ditanam pada kuvet, kuvet ditaruh di bawah press begel
Pembuangan Malam
Setelah gips mengeras, rendamlah kuvet dan press dalam air berdidih
selama 5 menit, yang akan melunakkan malam dari geligi tiruan sehingga
malam mudah diangkat dari mold waktu kuvet dibuka. Setelah 5 menit,
keluarkan kuvet dari air mendidih dan buka perlahan-lahan dengan
memasukkan suatu alat pada slot antara bagian atas dan bagian bawah
kuvet, kemudian putar perlahan-lahan sehingga terpisah.
Buang semua malam dari geligi tiruan , semua gigi-gigi tinggal di mold
bagian kuvet atas, kemudian siram dengan air mendidih sampai tak ada
lagi sisa sisa malam , demikian pula pada kuvet bagian bawah
Pembuatan Post Dam

Dibuat dengan mengikir model kerja rahang atas yang telah ditanam pada
kuvet dan telah dilakukan pembuangan malam. Fungsinya untuk menambah
retensi terutama oleh gaya gravitasi yang timbul pada geligi tiruan rahang atas.

Pembuatan relief of chamber


Fungsinya untuk membebaskan torus palatinus dari tekanan
dengan cara menempatkan selapis kertas timah (alumunium foil)
di atas daerah torus pada model pada saat gigi tiruan diproses.
Luasnya ruang pembebasan sesuai dengan luas penonjolan torus
di palatum keras. Relief of chamber di buat pada daerah
midpalatal, torus palatinus, papilla insisiva untuk mengurangi
rasa sakit. Dibuat dengan cara menaruh thin foil di daerah
palatal sebelum dilakukan packing acrylic.
Packing
Packing adalah proses mencampur monomer dan polimer resin akrilik
pada model kerja rahang atas dan rahang bawah
Curing
Proses curing adalah polimerisasi antara monomer yang bereaksi dengan
polimernya bila dipanaskan atau ditambah zat kimia lainnya. Curing dilakukan
dengan memasak kuvet dan presbegel dalam panci berisi air panas selama
kurang lebih 20 menit.
Deflasking (Pelepasan Model dan Geligi Tiruan Akrilik dari Kuvet)
Melepaskan geligi tiruan resin akrilik dari kuvet dan bahan tananmnya
tapi tidak boleh lepas dari model rahangnya supaya geligi tiruan dapat
10

diremounting di articulator kembali persis seperti sebelum proses flasking,


packing, dan curing.

Remounting 1
Pemasangan

kembali

geligi

dalam

artikulator

bertujuan

untuk

mengkoreksi hubungan oklusi yang tidak harmonis dari geligi tiruan yang baru
selesai diproses. Setiap perubahan dalam kontak oklusal dari geligi tiruan
setelah selesai diproses, harus diperbaiki dengan mengembalikan geligi tiruan
akrilik beserta model kerjanya pada artikulator sebelum geligi tiruan akrilik
dilepaskan dari model kerjanya. Penempatan model kerja dipandu dengan tiga
cekungan pada dasar model kerja kemudian direkatkan dengan malam perekat.

Selective Grinding 1
Fungsinya untuk mengkoreksi hubungan oklusi yang tidak harmonis dari
geligi tiruan yang baru selesai diproses serta untuk mendapatkan kembali
oklusi sentris dari geligi tiruan rahang atas dan rahang bawah apabila rahang
menutup pada posisi relasi sentris. Pengerjaannya dengan menggunakan
articulating paper yang diletakkan diatara permukaan oklusal rahang atas dan
11

rahang bawah, kemudian articulator di gerakkan buka tutup sehingga


didapatkan spot dari pemukaan oklusal.

Perhatikan apabila terdapat kondisi :


Gigi rahang atas dan rahang bawah berhadapan terlalu tinggi, pengasahan

dengan mengurangi/memperdalam fossa


Gigi rahang atas dan rahang bawah berhadapan cusp to cusp, pengasahan
pada dataran miring cusp bukal dan palatinal rahang atas serta cusp bukal

dan lingual rahang bawah.


Gigi rahang atas terlalu ke bukal dari rahang bawah, pengasahan dengan
memperluas sentral fossa rahang atas, memperkecil hubungan cusp to
fissuere. Tinggi cusp tidak dikurangi.
Pengasahan selektif dilakukan sampai pin horizontal menyentuh meja

insisal articulator. Hal ini menunjukkan dimensi vertikal oklusal telah


diperoleh kembali. Pada saat ini spot yang dari articulating paper dapat terlihat
disemua permukaan oklusal, menunjukkan bahwa gigi-gigi dalam oklusi
eksentris.
Remount Jig
Panduan/teraan dari kunci gigit untuk gigi tiruan rahang atas yang dibuat
dari gips lunak. Gigi tiruan lengkap rahang bawah dan model kerja dilepas dari
articulator, diganti dengan adonan gips lunak, kemudian tutup articulator
sehingga permukaan oklusal dari rahang atas masuk ke dalam adonan gips
lunak.

12

Pemolesan Pertama
Melepas gigi tiruan rahang atas dan rahang bawah dari model kerjanya.
Geligi tiruan dibentuk kembali sesuai desaian yang telah dibuat terutama
dibagian tepi tepinya. Lakukan pemulasan sampai bagian tepi gigi tiruan tidak
tajam.
Intermaxillary record
Mencatat hubungan rahang setelah basis gigi tiruan telah dipoles.
Pencatatan dengan cara dicobakan pada pasien, dicatat relasi rahang
mandibular dalam posisi retrusi. Prosedur ini untuk memastikan penutupan
rahang dan hubungan geligi tiruan dengan jaringan dalam keadaan normal.
Pencatatan menggunakan malam merah yang dilipat dua dan di dalamnya
dilapisi kasa.

Pencatatan relasi rahang atas dan rahang bawah


Remounting II
13

Geligi tiruan rahang atas dan rahang bawah ditanam kembali pada
articulator. Tanam gigi tiruan rahang atas terlebih dahulu dengan bantuan
teraan dari remounting jig, selanjutnya rahang bawah. Pin horizontal dinaikkan
kurang lebih 2 mm dari table articulator. Fungsi dari prosedur ini untuk
mengoreksi terhadap kurang tepatnya oklusi sentris, serta mengoreksi
kesalahan relasi gigi tiruan rahang atas dan rahang bawah.
Pengasahan Selektif II
Fungsinya untuk mendapatkan oklusi yang seimbang baik pada oklusi
sentrik dan oklusi eksentrik
Pada oklusi sentrik
1. Jika tonjolnya ketinggian dalam oklusi sentrik dan eksentrik, kurangi
ketinggial tonjolnya
2. Jika tonjolnya ketinggian dalam oklusi sentrik tetapi tidak dalam oklusi
eksentrik, perdalam fossanya.
Tiga hukum tambahan yang harus diperhatikan pada saat pengasahan,
karena apabila salah satu hukum dilanggar akan merusak dimensi vertikal
yang telah diperoleh dan perbaikan oklusi seimbang menjadi sulit.
Jangan mengurangi tonjol lingual geligi rahang atas
Jangan mengurangi tonjol bukal geligi rahang bawah
Jangan memperdalam fossa geligi manapun
Pengasahan selektif pada oklusi eksentrik
1. Pada sisi kerja, dikenal dengan hukum BULL (buccal upper, lingual
lower)
Kurangi lereng bagian dalam tonjol bukal gigi rahang atas
Kurangi lereng bagian dalam tonjol lingual gigi rahang bawah
2. Pada sisi keseimbangan, kurangi lereng bagian dalam tonjol lingual
geligi rahang atas atau tonjol bukal geligi rahang bawah

14

a. Hubungan antar cusp pada kondisi dimensi vertikal dan oklusal gigi

yang seimbang
b. Kontak prematur antar cusp bukal pada sisi kerja saat oklusi lateral

yang dikoreksi dengan mengasah titik puncak cusp bukal


c. Kontak prematur antar cusp lingual pada sisi kerja saat oklusi lateral

yang dikoreksi dengan mengasah titip puncak cusp lingual


d. Kontak prematur pada saat kondisi oklusi keseimbangan yang
dikoreksi dengan mengasah kontak yang mengganggu pada satu atau
sisi lain dari cusp yang menyangga.
Pemulasan II
Fungsinya untuk melanjutkan pemulasan pertama dengan menghaluskan
dan mengkilapkan gigi tiruan tanpa mengubah konturnya. Gunakan wheel
(putih) dan pumice halus untuk memoles tepi permukaan lingual dan palatal
geligi tiruan. Karena wheel dapat merusak kontur asli dan stain pada
permukaan fasial,maka tidak boleh menyentuh permukaan fasial geligi tiruan
Hilangkan semua kekasaran dari permukaan fasial ynag distain dengan brush
wheel putih dan bubuk pumice halus yang basah. Pada permukaan fasial
digunakan tekanan seringan mungkin dan putaran roda serendah mungkin
Insersi
Masukkan gigi tiruan satu persatu pada rongga mulut pasien dan perhatikan :
Retensi

15

Pemeriksaan retensi dengan cara menggerak gerakkan pipi dan bibir,


protesa lepas atau tidak
Oklusi
Dengan menggunakan articulating paper, bagian yang kontak premature
harus diasah giginya
Stabilitas
Diperiksa saat mulut berfungsi, tidak boleh mengganggu mastikasi,
penelanan, bicara, ekspresi wajah dsb.
Selain itu diperiksa juga adaptasi basis dan tepi gigi tiruan, posisi
distal, dimensi vertical, fonetik, estetik dan keadaan jaringan pendukung gigi
tiruan. Pastikan tidak ada gusi yang berwarna pucat yang diakibatkan oleh
tekanan gigi tiruan.
Selanjutnya pasien diajarkan cara memasang dan melepas gigi
tiruannya. Pasien juga diberikan instruksi penggunaan dan pemeliharaan
protesa, seperti :
Bersihkan gigi tiruan dengan sikat dan sabun sehabis makan
Protesa direndam dalam air bersih sewaktu dilepas
Pada malam hari, sebelum tidur lepas gigi tiruan agar jaringan otot
otot dibawahnya dapat beristirahat
Sebagai latihan, pertama tama sebaiknya makan makanan yang lunak
atau makanan yang mudah dimakan. Apabila tidak ada keluhan, maka
boleh makan makanan biasa.
Biasakan mengunyah makanan pada kedua sisi rahang secara
bersamaan
Hindari makanan yang keras, lengket atau terlalu panas
Apabila ada rasa tidak nyaman atau sakit, gangguan bicara, gigi tiruan
tidak stabil ataupun terjadi kerusakan pada gigi tiruan dianjurkan
menghubungi operator.
Kontrol
Fungsinya untuk mengevaluasi hasil pemakaian dari gigi tiruan pada
rongga mulut pasien. Kontrol Pertama, dilakukan setelah 24 jam pemakaian
pertama (tidak boleh untuk makan). Dilakukan pemeriksaan keadaan jaringan
pendukung, fungsi mastikasi, fonetik, retensi, stabilisasi dan oklusi. Kontrol
kedua dilakukan tiga hari setelah kontrol pertama

16