Anda di halaman 1dari 39

1

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengguguran Kandungan (Aborsi/Abortus)
2.1.1

Pengertian Pengguguran Kandungan


Pengertian pengguguran kandungan menurut hukum adalah tindakan
menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran,
tanpa melihat usia kandungannya; juga tidak dipersoalkan, apakah dengan
pengguguran kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau mati (Yurisprudensi
Hoge Raad HR 12 April 1898). Dalam bahasa kedokteran dikenal dengan
abortus.
Di kalangan ahli kedokteran dikenal dua macam abortus (keguguran
kandungan) yakni abortus spontan dan abortus buatan. Abortus spontan adalah
merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses
kehamilan sebelum berumur 28 minggu. Dalam pengertian kedokteran, aborsi
berarti terhentinya kehamilan yang terjadi disaat tertanamnya sel telur yang
dibuahi (blastosit) dirahim sampai kehamilan berusia 28 minggu, dihitung
sejak haid terakhir itu diambil karena sebelum berusia 28 minggu janin belum
dapat hidup (viabel) di luar rahim.
Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita si ibu ataupun
sebab-sebab lain yang pada umumnya gerhubungan dengan kelainan pada
sistem reproduksi. Lain halnya dengan abortus buatan, abortus dengan jenis
ini merupakan suatu upaya yang disengaja untuk menghentikan proses
kehamilan sebelum berumur 28 minggu, dimana janin (hasil konsepsi) yang
dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia luar. Abortus buatan, jika
ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam dua golongan yakni:
1. Abortus buatan legal, Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan
menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.
Populer juga disebut dengan abortus provocatus therapcutius, karena

alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk


menyelamatkan nyawa/menyembuhkan si ibu.
2. Abortus buatan ilegal, Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya
selain dari pada untuk menyelamatkan/ menyembuhkan si ibu, dilakukan
oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan caracara yang dibenarkan oleh undang-undang. Abortus golongan ini sering
juga disebut dengan abortus provocatus criminalis, karena di dalamnya
mengandung unsur kriminal atau kejahatan.
2.1.2

Jenis-Jenis Pengguguran Kandungan


1. Abortus Provakatus (Induced Abortion)
Abortus Provakatus adalah abortus yang disengaja, baik dengan
memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus ini dibagi menjadi dua
yaitu:
a. Abortus Medisinalis
Abortus Medisinalis adalah abortus karena tindakan kita sendiri,
dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan jiwa
ibu

(berdasarkan

indikasi

medis).

Biasanya

perlu

mendapat

persetujuan 2-3 tim dokter ahli.


b. Abortus Kriminalis
Abortus Kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakantindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.
2. Abortus Spontan
Abortus Spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak
didahului faktor- faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata
disebabkan oleh faktor-faktor alamiah. Abortus spontan dapat dibagi atas:
a. Abortus Kompletus (Keguguran Lengkap )
Artinya seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus)
sehingga rongga rahim kosong.
b. Abortus Inkompletus (Keguguran Bersisa)
Artinya hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yan
tertinggal adalah desidua dan plasenta.
3. Abortus Insipiens (Keguguran Sedang Berlangsung)
Artinya abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah
terbuka dan ketuban yang teraba, kehamilan tidak dapat dipertahankan
lagi.

4. Abortus Iminens (keguguran membakat)


Artinya keguguran membakat dan akan terjadi, dalam hal ini
keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat-obat
hormonal dan antispasmodika serta istirahat.
5. Missed Abortion
Artinya keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada
dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Fetus yang
meninggal ini
a. Bisa keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan sesudah fetus mati;
b. Bisa diresorbsi kembali sehingga hilang
c. Bisa jadi mongering dan menipis yang disebut : fetus papyraceus
d. Bisa jadi mola karnosa, dimana fetus yang sudah mati satu minggu
akan mengalami degenerasi dan air ketubannya diresorbsi.
6. Abortus Habitualis ( keguguran berulang )
Artinya keadan dimana penderita mengalami keguguran berturutturut 3 kali atau lebih.
7. Abortus Infeksiosus dan abortus septik
Abortus Infeksiosus adalah keguguran yang disertai infeksi genital,
sedangkan abortus Septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan
penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau
peritoneum.
2.1.3

Penyebab Keguguran Kandungan


Secara umum, terdapat tiga faktor yang boleh menyebabkan abortus
spontan yaitu faktor fetus, faktor ibu sebagai penyebab abortus dan factor
paternal. Lebih dari 80 persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama
kehamilan, dan kira-kira setengah dari kasus abortus ini diakibatkan oleh
anomali kromosom. Setelah melewati trimester pertama, tingkat aborsi dan
peluang terjadinya anomali kromosom berkurang (Cunningham et al., 2005).
1. Faktor Fetus
Berdasarkan hasil studi sitogenetika yang dilakukan di seluruh
dunia, sekitar 50 hingga 60 persen dari abortus spontan yang terjadi pada
trimester pertama mempunyai kelainan kariotipe. Kelainan pada

kromosom ini adalah seperti autosomal trisomy, monosomy X dan


polyploidy (Lebedev et al., 2004).
Abnormalitas kromosom adalah hal yang utama pada embrio dan
janin yang mengalami abortus spontan, serta merupakan sebagian besar
dari kegagalan kehamilan dini. Kelainan dalam jumlah kromosom lebih
sering dijumpai daripada kelainan struktur kromosom. Abnormalitas
kromosom secara struktural dapat diturunkan oleh salah satu dari kedua
orang tuanya yang menjadi pembawa abnormalitas tersebut (Cunningham
et al., 2005).
2. Faktor Ibu Sebagai Penyebab Abortus
Ibu hamil yang mempunyai riwayat keguguran memiliki risiko
yang tinggi untuk terjadi keguguran pada kehamilan seterusnya terutama
pada ibu yang berusia lebih tua. Pada wanita hamil yang mempunyai
riwayat keguguran tiga kali berturut-turut, risiko untuk terjadinya abortus
pada kehamilan seterusnya adalah sebesar 50 persen (Kleinhaus et al.,
2006; Berek, 2007).
Berbagai penyakit infeksi, penyakit kronis, kelainan endokrin,
kekurangan nutrisi, alkohol, tembakau, deformitas uterus ataupun serviks,
kesamaan dan ketidaksamaan immunologik kedua orang tua dan trauma
emosional maupun fisik dapat menyebabkan abortus, meskipun bukti
korelasi tersebut tidak selalu meyakinkan. Isolasi Mycoplasma hominis
dan Ureaplasma urelyticum dari traktus genitalis beberapa wanita yang
mengalami

abortus,

mengarahkan

pada

hipotesis

bahwa

infeksi

mycoplasma yang mengenai traktus genitalis, merupakan abortifasient.


Pada kehamilan lanjut, persalinan prematur dapat ditimbulkan oleh
penyakit sistemik yang berat pada ibu. Hipertensi jarang menyebabkan
abortus, tetapi dapat mengakibatkan kematian janin dan persalinan
prematur. Abortus sering disebabkan, mungkin tanpa alasan yang adekuat,
kekurangan sekresi progesteron yang pertama oleh korpus luteum dan
kemudian oleh trofoblast. Karena progesteron mempertahankan desidua,

defisiensi relatif secara teoritis mengganggu nutrisi konseptus dan dengan


demikian mengakibatkan kematian. Pada saat ini, tampak bahwa hanya
malnutrisi umum yang berat merupakan predisposisi meningkatnya
kemungkinan abortus. Wanita yang merokok diketahui lebih sering
mengalami abortus spontan daripada wanita yang tidak merokok. Alkohol
dinyatakan meningkatkan resiko abortus spontan, meskipun hanya
digunakan dalam jumlah sedang (Cunningham et al., 2005).
Kira-kira 10 persen hingga 15 persen wanita hamil yang
mengalami keguguran berulang mempunyai kelainan pada rahim seperti
septum parsial atau lengkap. Anomali ini dapat menyebabkan keguguran
melalui implantasi yang tidak sempurna karena vaskularisasi abnormal,
distensi uterus, perkembangan plasenta yang abnormal dan peningkatan
kontraktilitas uterus (Kiwi, 2006).
3. Faktor Paternal
Translokasi kromosom dalam sperma dapat menyebabkan zygote
mempunyai terlalu sedikit atau terlalu banyak bahan kromosom, sehingga
mengakibatkan abortus (Cunningham et al., 2005).
2.1.4

Patogenesis Aborsi
Abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian
diikuti dengan perdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahanperubahan nekrotik pada daerah implantasi, infiltrasi sel-sel peradangan akut,
dan akhirnya perdarahan per vaginam. Buah kehamilan terlepas seluruhnya
atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam rongga rahim.
Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu terjadi
pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim (ekspulsi). Perlu ditekankan
bahwa pada abortus spontan, kematian embrio biasanya terjadi paling lama
dua minggu sebelum perdarahan. Oleh karena itu, pengobatan untuk
mempertahankan janin tidak layak dilakukan jika telah terjadi perdarahan
banyak karena abortus tidak dapat dihindari. Sebelum minggu ke-10, hasil
konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini disebabkan sebelum

minggu ke-10 vili korialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalam
desidua hingga telur mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke-10
hingga minggu ke-12 korion tumbuh dengan cepat dan hubungan vili korialis
dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut sering sisa-sisa korion
(plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus. Pengeluaran hasil konsepsi
didasarkan 4 cara:
1. Keluarnya

kantong

korion

pada

kehamilan

yang

sangat

dini,

meninggalkan sisa desidua.


2. Kantong amnion dan isinya (fetus) didorong keluar, meninggalkan korion
dan desidua.
3. Pecahnya amnion terjadi dengan putusnya tali pusat dan pendorongan
janin ke luar, tetapi mempertahankan sisa amnion dan korion (hanya janin
yang dikeluarkan).
4. Seluruh janin dan desidua yang melekat didorong keluar secara utuh.
Kuretasi diperlukan untuk membersihkan uterus dan mencegah perdarahan
atau infeksi lebih lanjut.
2.1.5

Gambaran Klinis Aborsi


Aspek klinis abortus spontan dibagi menjadi abortus iminens
(threatened abortion), abortus insipiens (inevitable abortion), abortus
inkompletus (incomplete abortion) atau abortus kompletus (complete
abortion), abortus tertunda (missed abortion), abortus habitualis (recurrent
abortion), dan abortus septik (septic abortion) (Cunningham et al., 2005;
Griebel et al., 2005).
1. Abortus Iminens
Vagina bercak atau perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi
selama kehamilan awal dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau
minggu serta dapat mempengaruhi satu dari empat atau lima wanita hamil.
Secara keseluruhan, sekitar setengah dari kehamilan ini akan berakhir
dengan abortus (Cunningham et al., 2005).
Abortus iminens didiagnosa bila seseorang wanita hamil kurang
daripada 20 minggu mengeluarkan darah sedikit pada vagina. Perdarahan

dapat berlanjut beberapa hari atau dapat berulang, dapat pula disertai
sedikit nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah seperti saat
menstruasi. Polip serviks, ulserasi vagina, karsinoma serviks, kehamilan
ektopik, dan kelainan trofoblast harus dibedakan dari abortus iminens
karena dapat memberikan perdarahan pada vagina. Pemeriksaan spekulum
dapat membedakan polip, ulserasi vagina atau karsinoma serviks,
sedangkan kelainan lain membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi
(Sastrawinata et al., 2005).
2. Abortus Insipien
Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil
ditemukan perdarahan banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah
yang disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan ditemukan adanya
dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat
teraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian bagi ibu
dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga
evakuasi harus segera dilakukan. Janin biasanya sudah mati dan
mempertahankan kehamilan pada keadaan ini merupakan kontraindikasi
(Sastrawinata et al., 2005).
3. Abortus Kompletus atau Inkompletus
Abortus inkompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil
konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal
(biasanya jaringan plasenta). Perdarahan biasanya terus berlangsung,
banyak, dan membahayakan ibu. Sering serviks tetap terbuka karena
masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing
(corpus alienum). Oleh karena itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya
dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak
sehebat pada abortus insipiens. Jika hasil konsepsi lahir dengan lengkap,
maka disebut abortus komplet. Pada keadaan ini kuretasi tidak perlu
dilakukan. Pada abortus kompletus, perdarahan segera berkurang setelah
isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan
berhenti sama sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan

epitelisasi telah selesai. Serviks juga dengan segera menutup kembali.


Kalau 10 hari setelah abortus masih ada perdarahan juga, abortus
inkompletus

atau

endometritis

pasca

abortus

harus

dipikirkan

(Sastrawinata et al., 2005).


4. Abortus Tertunda (Missed Abortion)
Abortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap
berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Pada
abortus tertunda akan dijimpai amenorea, yaitu perdarahan sedikit-sedikit
yang berulang pada permulaannya, serta selama observasi fundus tidak
bertambah tinggi, malahan tambah rendah. Pada pemeriksaan dalam,
serviks tertutup dan ada darah sedikit (Mochtar, 1998).
5. Abortus Habitualis (Recurrent abortion)
Anomali kromosom parental, gangguan trombofilik pada ibu hamil, dan
kelainan struktural uterus merupakan penyebab langsung pada abortus
habitualis. Etiologi abortus ini adalah kelainan dari ovum atau
spermatozoa, dimana sekiranya terjadi pembuahan, hasilnya adalah
patologis. Selain itu, disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum dan
kesalahan plasenta yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan
progesterone sesudah korpus luteum atrofis juga merupakan etiologi dari
abortus habitualis (Jauniaux et al., 2006).
2.1.6

Diagnosa Aborsi
Setiap wanita pada usia reproduktif yang mengalami dua daripada
tiga gejala seperti di bawah harus dipikirkan kemungkinan terjadinya
abortus:
1. Perdarahan pada vagina.
2. Nyeri pada abdomen bawah.
3. Riwayat amenorea.
Ultrasonografi penting dalam mengidentifikasi status kehamilan
dan memastikan bahwa suatu kehamilan adalah intrauterin. Apabila
ultrasonografi transvaginal menunjukkan sebuah rahim kosong dan tingkat
serum hCG kuantitatif lebih besar dari 1.800 mIU per mL (1.800 IU per

L),

kehamilan

ektopik

harus

dipikirkan.

Ketika

ultrasonografi

transabdominal dilakukan, sebuah rahim kosong harus menimbulkan


kecurigaan kehamilan ektopik jika kadar hCG kuantitatif lebih besar dari
3.500 mIU per mL (3.500 IU per L). Rahim yang ditemukan kosong pada
pemeriksaan USG dapat mengindikasikan suatu abortus kompletus, tetapi
diagnosis tidak definitif sehingga kehamilan ektopik disingkirkan (Griebel
et al., 2005; Puscheck, 2010).
Menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005), diagnosa abortus
menurut gambaran klinis adalah seperti berikut:
1. Abortus Iminens (Threatened abortion)
a. Perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau
ringan.
b. Pemeriksaan dalam fluksus ada (sedikit), ostium uteri tertutup,
dan besar uterus sesuai dengan umur kehamilan.
c. Pemeriksaan penunjang hasil USG.
2. Abortus Insipiens (Inevitable abortion)
a. Anamnesis perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri / kontraksi
rahim.
b. Pemeriksaan dalam ostium terbuka, buah kehamilan masih dalam
rahim, dan ketuban utuh (mungkin menonjol).
3. Abortus Inkompletus atau abortus kompletus
a. Anamnesis perdarahan dari jalan lahir (biasanya banyak),
nyeri / kontraksi rahim ada, dan bila perdarahan banyak dapat
b.

terjadi syok.
Pemeriksaan dalam ostium uteri terbuka, teraba sisa jaringan

buah kehamilan.
4. Abortus Tertunda (Missed abortion)
a. Anamnesis - perdarahan bisa ada atau tidak.
b. Pemeriksaan obstetri fundus uteri lebih kecil dari umur
kehamilan dan bunyi jantung janin tidak ada.
c. Pemeriksaan penunjang USG, laboratorium (Hb, trombosit,
fibrinogen, waktu perdarahan, waktu pembekuan dan waktu
protrombin).

10

Diagnosa abortus habitualis (recurrent abortion) dan abortus septik


(septic abortion) adalah seperti berikut:
1. Abortus Habitualis (Recurrent abortion)
a. Histerosalfingografi untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus
submukosa dan anomali kongenital.
b. BMR dan kadar yodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada
atau tidak gangguan glandula thyroidea.
2.1.7

Penatalaksanaan Aborsi
Pada abortus insipiens dan abortus inkompletus, bila ada tandatanda syok maka diatasi dulu dengan pemberian cairan dan transfuse
darah. Kemudian, jaringan dikeluarkan secepat mungkin dengan metode
digital dan kuretase. Setelah itu, beri obat-obat uterotonika dan antibiotika.
Pada keadaan abortus kompletus dimana seluruh hasil konsepsi
dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rongga rahim kosong, terapi
yang diberikan hanya uterotonika. Untuk abortus tertunda, obat diberi
dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat
dikeluarkan, kalau tidak berhasil, dilatasi dan kuretase dilakukan.
Histerotomia anterior juga dapat dilakukan dan pada penderita, diberikan
tonika dan antibiotika. Pengobatan pada kelainan endometrium pada
abortus habitualis lebih besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada
konsepsi daripada sesudahnya.
Merokok dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan.
Pada serviks inkompeten, terapinya adalah operatif yaitu operasi
Shirodkar atau McDonald (Mochtar, 1998).

2.1.8

Pengguguran Kandungan Secara Sengaja


Abortus provokatus yang dikenal di Indonesia dengan istilah
aborsi berasal dari bahasa latin yang berarti pengguguran kandungan
karena kesengajaan. Abortus provocatus merupakan salah satu dari
berbagai macam jenis abortus (Nainggolan, 2006). Pengertian aborsi atau

11

abortus provokatus adalah penghentian atau pengeluaran hasil kehamilan


dari rahim sebelum waktunya. Dengan kata lain pengeluaran itu
dimaksudkan bahwa keluarnya janin disengaja dengan campur tangan
manusia, baik melalui cara mekanik atau obat. Abortus elektif atau
sukarela adalah pengakhiran kehamilan sebelum janin mampu hidup atas
dasar permintaan wanita, dan tidak karena kesehatan ibu yang terganggu
atau penyakit pada janin (Pritchard et al., 1991).
Abortus terapeutik adalah pengakhiran kehamilan sebelum saatnya
janin mampu hidup dengan maksud melindungi kesehatan ibu. Antara
indikasi

untuk

melakukan

abortus

therapeutik

adalah

apabila

kelangsungan kehamilan dapat membahayakan nyawa wanita tersebut


seperti pada penyakit vaskular hipertensif tahap lanjut dan invasive
karsinoma pada serviks. Selain itu, abortus terapeutik juga boleh
dilakukan pada kehamilan akibat perkosaan atau akibat hubungan saudara
(incest) dan sebagai pencegahan untuk kelahiran fetus dengan deformitas
fisik yang berat atau retardasi mental (Cunningham et al., 2005).
Kontraindikasi untuk melakukan abortus terapeutik adalah seperti
kehamilan ektopik, insufiensi adrenal, anemia, gangguan pembekuan
darah dan penyakit kardiovaskular (Trupin, 2002). Abortus terapeutik
dapat dilakukan dengan cara:
1. Kimiawi pemberian secara ekstrauterin atau intrauterin obat abortus,
seperti prostaglandin, antiprogesteron, atau oksitosin.
2. Mekanis:
a. Pemasangan batang laminaria atau dilapan akan membuka serviks
secara perlahan dan tidak traumatis sebelum kemudian dilakukan
evakuasi dengan kuret tajam atau vakum.
b. Dilatasi serviks dilanjutkan dengan evakuasi, dipakai dilator Hegar
dilanjutkan dengan kuretasi.
c. Histerotomi / histerektomi
2.2 Pengguguran Kandungan Menurut Fatwa MUI dan KUHP

12

Definisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia pusat no 4 tahun 2005


tentang aborsi, aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis
pada dinding rahim ibu, aborsi dibolehkan karena adanya uzur yang bersifat
darurat ataupun hajat. Berpijak dari pengertian aborsi dapat dikatakan, aborsi
adalah suatu perbuatan untuk mengakhiri masa kehamilan dengan
mengeluarkan janin dari kandungan sebelum tiba masa kelahiran secara alami.
Statemen ini menunjukkan bahwa untuk terjadinya abortus, setidak-tidaknya
ada tiga unsur yang harus dipenuhi:
1. Adanya embrio (janin), yang merupakan hasil pembuahan antara sperma
dan ovum, dalam rahim.
2. Pengguguran itu adakalanya terjadi dengan sendirinya, tetapi lebih sering
disebabkan oleh perbuatan manusia.
3. Keguguran itu terjadi sebelum waktunya, artinya sebelum masa kelahiran
alami tiba.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 4 tahun 2005 tentang aborsi
memperhatikan bahwa akhir-akhir ini perbuatan aborsi (abortus) yang
dilakukan oleh masyarakat semakin meningkat dan perbuatan tersebut tanpa
memperhatikan tuntutan agama. Perbuatan aborsi tersebut dilakukan oleh
pihak yang tidak memiliki kompetensi sehingga menimbulkan bahaya bagi
ibu yang mengandungnya dan bagi masyarakat pada umumnya.
Kehamilan yang dibolehkan melakukan aborsi karena adanya uzur,
baik yang bersifat darurat, dimana perempuan hamil menderita sakit fisik
berat seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan caverna dan penyakitpenyakit fisik berat lainya yang harus ditetapkan oleh dokter.
Secara umum aborsi hukumnya haram. Kendati demikian, dalam
keadaan darurat masih bisa berlaku misalnya, kehamilan dikarenakan hajat
yang berkaitan dengan membolehkan aborsi yaitu, dimana seseorang yang
tidak melakukan aborsi maka ia akan mati dan wanita korban perkosaan,
wanita korban perkosaan itu nantinya harus dapat rekomendasi dari dokter,
mungkin dari kepolisian, juga dari psikiater bahwa wanita korban ini tidak

13

mau punya anak karena akan menjadi problem besar di masa mendatang.
Aborsi dilakukan oleh dokter ahli dan dilaksanakan dirumah sakit yang
ditunjuk secara resmi oleh pemerintah, karena memiliki peralatan kedokteran
yang memadai.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat menyebutkan bahwa
keadaan hajat terkait dengan kehamilan yang dapat dijadikan alasan
diperbolehkannya aborsi adalah apabila janin yang dikandung, dideteksi
menderita cacat genetik yang apabila lahir kelak sulit disembuhkan.
Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh tim yang berwenang yang
didalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama.
Kebolehan aborsi aborsi dilakukan sebelum janin berusia 40 hari.
Terkait dengan masalah aborsi janin cacat genetik maka perlu
ditegaskan kembali bahwa Majelis Ulama Indonesia membolehkan aborsi
tersebut dengan mendasarkan pada dua alasan, yaitu darurat dan hajat.
1. Darurat
Dua kondisi yang ditetapkan Majelis Ulama Indonesa sebagai kondisi
darurat yang karenanya aborsi boleh dilakukan adalah ketika ibu
mengalami sakit fisik yang berat, dan ketika seorang ibu hamil yang bila
janin dibiarkan tumbuh sampai waktu lahir tiba, dikhawatirkan akan
mendatangkan mudharat bagi ibunya, yang bisa jadi berakibat kematian.
Nyawa ibu jelas menempati hirarki yang paling tinggi dari pada
mempertahankan keturunan dalam maslahah hajjiyyah. Dengan demikian
wajar jika dalam kondisi darurat, ketika janin membahayakan nyawa ibu,
nyawa ibulah yang harus diutamakan.
2. Hajat
Elaborasi terhadap kondisi hajat yang diperbolehkan Majelis Ulama
Indonesia untuk dilakukan aborsi, akan dilakukan dengan engambil dua
kondisi pada janin, yakni janin yang menderita cacat genetik yang apabila
lahir akan susah sembuh, dan janin yang merupakan hasil perkosaan.
Pendapat

Majelis

Ulama

Indonesia

daerah

Yogyakarta

yang

memperbolehkan aborsi janin cacat genetik adalah bertujuan untuk

14

menjaga kedua orangtua dan anak, agar anak tersebut ketika lahir kelak
tidak merasa tersiksa baik secara lahiriyyah maupun batiniyah. Aborsi
janin cacat genetik yang mengalami cacat fisik atau mental, cacat bawaan
orang tua dan mengacu kepada pertimbangan dokter.
Dari pandangan Majelis Ulama Indonesia Daerah Yogyakarta pada
dasarnya menerapkan kosep kerugian atau kerusakan dan keuntungan, dimana
jika janin yang mengalami kecacatan fisik dan mental jika memang janin
tersebut dibiyarkan hidup akan menyengsarakan anak yang dikandungnya.
Pada dasarnya, menurut Fatwa MUI, aborsi janin yang dikandung
dideteksi menderita cacat genetik yang kalau lahir kelak sulit disembuhkan,
bisa dimasukkan dalam kategori abortus provocatus medicinalis aborsi yang
dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis, yaitu tindakan aborsi jika
tidak diambil akan membahayakan jiwa Ibu.
Mayoritas ulama Hanabilah membolehkan pengguguran kandungan
selama janin masih dalam bentuk segumpal darah (alaqah) karena belum
berbentuk manusia.27 Syafiiyah melarang aborsi dengan alasan kehidupan
dimulai sejak konsepsi, di antaranya dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam
Ihya Ulumuddin, tetapi sebagian lain dari mereka yaitu Abi Sad dan AlQurthubi membolehkan. Namun Al-Ghazali dalam Al-Wajiz pendapatnya
berbeda dengan tulisannya dalam Al-Ihya, beliau mengakui kebenaran
pendapat bahwa aborsi dalam bentuk segumpal darah (alaqah) atau segumpal
daging (mudghah) tidak apa-apa karena belum terjadi penyawaan. Kecuali
mayoritas ulama Malikiyah melarang aborsi.
Namun demikian pandanagn ahli fikh yang membolehkan aborsi
tersebut dalam realitas sosial tidak dapat dijadikan alternatif bagi perempuan
yang tidak menghendaki kehamilannya. Meskipun demikian, dalam konteks
Indonesia berdasarkan Keputusan Fatwa Musyawarah Nasional VI Majelis
Ulama Indonesia (MUI) Nomor: I/MUNAS VI/MUI/2000 tanggal 29 Juli
2000 ditetapkan:

15

a) Melakukan aborsi (pengguguran janin) sesudah nafkh al-ruh hukumnya


adalah haram, kecuali jika ada alasan medis, seperti untuk menyelamatkan
jiwa si ibu;
b) Melakukan aborsi sejak terjadinya pembuahan ovum, walaupun sebelum
nafkh al-ruh, hukumnya adalah haram, kecuali ada alasan medis atau
alasan lain yang dibenarkan oleh syariah Islam;
c) Mengharamkan semua pihak untuk melakukan,

membantu

atau

mengizinkan aborsi.

Meskipun Majelis Ulama Indonesia Daerah Yogyakarta berpandangan


bahwa aborsi janin cacat genetik adalah dibolehkan, namun kebolehan aborsi
tersebut sesunguhnya harus mendapat ijin dari tiga belah pihak yaitu:
a. Keluarga yang mengugurkannya atau yang memiliki janin.
b. Pertimbangan dokter sebagai Tim ahli yang berkompeten dalam
bidangnya.
c. Kesepakatan ulama untuk dilakukan aborsi.
Dari pandangan Majelis Ulama Daerah Yogyakarta terdapat Fatwa
MUI pusat nomor 4 tahun 2005 tentang aborsi , tampak bahwa aborsi tanpa
ada alasan darurat atau hajat adalah haram. Terlebih jika aborsi tersebut
muncul sebagai akibat dari kebebasan seksual, maka hal itu tidak lain
merupakan perbuatan yang meruntuhkan aturan dan perilaku yang telah
ditetapkan dalam agama Ilahi.
1.1.4

Dasar Hukum Yang Mengatur Undang-Undang


Aborsi dalam perundangan medis baru diatur kemudian di dalam UU
No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, dalam Pasal 15 beserta penjelasannya.
Dalam Pasal tersebut dijelaskan bahwa Tenaga kesehatan dapat melakukan
tindakan medis dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan ibu dan atau
janin atas pertimbangan tim ahli medis dan dengan persetujuan ibu hamil
atau keluarganya. Tindakan medis yang dilakukan oleh tenaga medis harus

16

berdasarkan indikasi medis dan atas persetujuan tim ahli. Indikasi medis
artinya suatu keadaan atau kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil
tindakan medis tertentu, sebab tanpa tindakan medis tertentu ibu hamil da atau
janinnya terancam bahaya kematian, sedangkan yang dimaksud dengan tenaga
kesehatan adalah tenaga yang memiliki keahlian dan kewenangan yang
melakukannya adalah dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan.
Peraturan perundang-undangan pidana tentang aborsi di Indonesia sangat
ketat, tetapi dalam perkembangannya tindakan aborsi yang bertentangan
dengan hukum terjadi di mana-mana, banyak faktor dan sistem nilai yang
menyebabkan meluasnya aborsi di Indonesia, misalnya kegagalan alat
kontrasepsi yang dilakukan ibu-ibu yang mempraktikkan keluarga berencana.
Faktor lain adalah menyangkut hubungan remaja yang semakin bebas
dengan lawan jenis meskipun mereka belum berstatus kawin. Perilaku seksual
yang semakin bebas tersebut sangat rentan dengan tingkat aborsi yang tinggi
di Indonesia. Perubahan sikap dan perilaku seksual ini dapat mengakibatkan
peningkatan masalah-masalah seksual seperti aborsi, penyakit kelamin dan
masalah

kehamilan

yang

tidak

dikehendaki,

walaupun

dalam

perkembangannya tindakan aborsi tetap dikenai tindak pidana bagi yang


melakukannya tetapi masih saja banyak yang melakukannya di Indonesia.
Sampai tahun 1998 di Indonesia diperkirakan sejuta aborsi tidak aman (unsafe
abortion) dilakukan tiap tahun. Hal ini diungkapkan dalam dikusi terbatas
mengenai aborsi tidak aman yang diselenggarakan Perkumpulan Keluarga
Berencana Indonesia (PKBI) tanggal 24 April 1998 di Jakarta. Aborsi pada
saat ini memang pro dan kontra di tengah masyrakat, ada yang pro aborsi
yaitu masyarakat yang ingin melegalkan aborsi dan ada yang kontra terhadap
aborsi yaitu golongan yang menentang tindakan aborsi.
Sering kali perdepatan itu terpusat pada dua kutub. Kutub pertama
berargumentasi bahwa aborsi merupakan hak, maka aborsi yang aman
menjadi hak pula. Kutub kedua mempertahankan aborsi sebagai pelanggaran
nilai sosial. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia tidak berada pada kedua-

17

duanya. Pelayanan aborsi tidak ada, tetapi aborsi dilakukan secara diam-diam
dan mempunyai ancaman ketidakamanan.
Berikut ini adalah pasal dalam undang-undang yang mengatur
pengguguran kandungan:
Pasal 75 UU No. 36 Tahun 2009
1. Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
2. Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:
a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan,
baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita
penyakit genetik, berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak
dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar
kandungan;
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan.
3. Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan
setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri
dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang
kompeten dan berwenang.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan
perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76 UU No. 36 Tahun 2009
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama
haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang
memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
Menteri.
Pasal 77 UU No. 36 Tahun 2009

18

Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak
bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan
dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 194 UU No. 36 Tahun 2009
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 80 Ayat 1 UU No.23 Tahun 1992
Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap
ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama
15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).
Pasal 15 UU No. 23 Tahun 1992
1. Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyclamatkan jiwa ibu
hamil dan atau janinnya, dapat ditakukan tindakan medis tertentu.
2. Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya
dapat dilakukan :
a. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan
tersebut; oleh tenaga keschatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab
profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli;
b. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau
keluarganya; pada sarana kesehatan tertentu.

2.1.5 Hukum Pidana Tentang Pengguguran Kandungan

19

Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau


pengguguran janin termasuk kejahatan, yang dikenal dengan istilah Abortus
Provocatus Criminalis
Yang menerima hukuman adalah:
1. Ibu yang melakukan aborsi
2. Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi
3. Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi
Beberapa pasal KUHP yang terkait adalah:
Pasal 229
1. Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau
menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan
harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda
paling banyak tiga ribu rupiah.
2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau
jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah
sepertiga.
3. Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani
pencarian maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.

Pasal 341
Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat
anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa

20

anaknya, diancam, karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara


paling lama tujuh tahun.
Pasal 342
Seorang ibu yang, untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut
akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau
tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam, karena melakukan
pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.
Pasal 343
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang
lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan
dengan rencana.
Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya
atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun.
Pasal 347
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.

21

Pasal 348
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun enam bulan.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 349
Jika seorang tabib, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan
salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka
pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga
dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan
dilakukan.

2.1.6 Pengguguran Kandungan Menurut Aspek Medikolegal


2.1.6.1 Upaya Mengurangi Abortus Buatan Ilegal Di Kalangan Tenaga
Kesehatan
Hendaklah selalu menjaga sumpah profesi dan kode etiknya dalam
melakukan pekerjaan. Jika hal ini secara konsekwen dilakukan pengurangan
kejadian abortus buatan ilegal akan secara signifikan dapat dikurangi. Dalam
deklarasi Oslo (1970) tentang pengguguran kandungan atas indikasi medik,
disebutkan bahwa moral dasar yang dijiwai seorang dokter adalah butir Lafal
Sumpah Dokter yang berbunyi: Saya akan menghormati hidup insani sejak
saat pembuahan oleh karena itu Abortus buatan dengan indikasi medik,
hanya dapat dilakukan dengan syarat-syarat berikut:
1. Pengguguran hanya dilakukan sebagai suatu tindakan terapeutik.

22

2. Suatu keputusan untuk menghentikan kehamilan, sedapat mungkin


disetujui secara tertulis oleh dua orang dokter yang dipilih berkat
kompetensi profesional mereka.
3. Prosedur itu hendaklah dilakukan seorang dokter yang kompeten di
instalasi yang diakui oleh suatu otoritas yang sah.
4. Jika dokter itu merasa bahwa hati nuraninya tidak memberanikan ia
melakukan pengguguran tersebut, maka ia hendak mengundurkan diri
dan menyerahkan pelaksanaan tindakan medik itu kepada sejawatnya
yang lain yang kompeten.
Selain memahami dan menghayati sumpah profesi dan kode etik, para
tenaga kesehatan perlu pula meningkatkan pemahaman agama yang
dianutnya. Melalui pemahaman agama yang benar, diharapkan para tenaga
kesehatan dalam menjalankan profesinya selalu mendasarkan tindakannya
kepada tuntunan agama.

2.1.6.2 Dampak Pengguguran Kandungan di Masyarakat


Selain berdampak pada angka kematian ibu yang tinggi, aborsi juga
berdampak pada masalah kesehatan masyarakat lainnya, diantaranya adalah:
1) Pada umumnya, wanita yang pernah melakukan aborsi, 37 persen pada
kehamilan berikutnya akan melahirkan bayi secara prematur.
Kelahiran prematur sebelum 37 minggu dikaitkan dengan berbagai
masalah kesehatan bagi bayi. Termasuk di dalamnya adalah penyakit
paru-paru, cerebral palsy, penyakit kuning, infeksi, anemia, dan
masalah mental di kemudian hari. Hal tersebut akan berpengaruh pada
beban anggaran negara yang semakin tinggi akibat menanggung biaya
kesehatan para bayi dan anak yang mengalami gangguan kesehatan
tersebut.
2) Tindakan aborsi semakin meningkat seiring dengan meningkatnya
pergaulan bebas dan seks bebas. Hal ini tentunya akan berdampak bagi
kesehatan masyarakat. Seiring dengan meningkatnya seks bebas dan
aborsi maka akan meningkatkan pula resiko berbagai macam penyakit

23

baik itu menular maupun tidak menular, terutama berkaitan dengan


kesehatan reproduksi. Banyak aborsi yang berujung pada kematian,
hal ini tentu sangat memprihatinkan.
Dalam peraturan perundang-undangan pidana di Indonesia memang
melarang

tindakan

aborsi

kecuali

tindakan

abortus

provocatus

medicinalis/therapeuticus, tetapi dalam kenyataannya di masyarakat masih


banyak terjadi kasus aborsi dan ada juga yang secara terang-terangan
melakukan praktik aborsi. Ada istilah yang dipakai dalam masyarakat saat ini
untuk melakukan aborsi yaitu determinasi kehamilan atau menstruation
regulation (Lukman, 2006).
Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) tertulis: Setiap
dokter senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk
insani. Namun dalam sumpah dokter, terdapat pernyataan: Saya akan
menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. Namun karena
masih terdapat pertentangan maksud pasal dan sumpah dokter yang berkaitan
dengan waktu dimulainya suatu awal kehidupan, maka dalam etika
kedokteran, pelaksanaan aborsi dalam kasus ini diserahkan kembali kepada
hati nurani masing-masing dokter.
Aborsi memang mengundang banyak kontroversi, misalnya mengenai
hak janin dan hak ibu hamil, atau mengenai konsep awal kehidupan, apakah
sejak terjadinya konsepsi atau beberapa minggu/bulan setelah itu. Perbedaaan
pandangan

inilah

yang

menyebabkan

timbulnya

dua

aliran

yang

memperdebatkan masalah aborsi. Menurut K. Bertens, gerakan Pro Life


menekankan hak janin untuk hidup. Bagi mereka mengaborsi janin sama
dengan pembunuhan (murder) gerakan Pro Choice mengedepankan pilihan si
perempuan mau melanjutkan kehamilannya atau mengakhirinya dengan
aborsi. Bagi mereka perempuan mempunyai hak untuk memilih antara dua
kemungkinan itu, orang lain dalam masalah ini tidak dapat ikut campur
(Lukman, 2006).

24

Forum Kesehatan Perempuan mengusulkan legalisasi aborsi seperti


yang dikutip oleh K. Bertens:
1) Aborsi hanya dipraktikkan dalam klinik atau fasilitas kesehatan yang
ditunjuk oleh pemerintah dan organisasi-organisasi profesi medis;
2) Aborsi hanya dilakukan oleh tenaga professional yang terdaftar dan
memperoleh izin untuk itu, yaitu dokter spesialis kebidanan dan
ginekologi atau dokter umum yang mempunyai kualifikasi untuk itu;
3) Aborsi hanya dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu
(untuk usia di atas 12 minggu bila terdapat indikasi medis);
4) Harus disediakankonseling bagi perempuan sebelum dan sesudah
aborsi;
5) Harus ditetapkan tarif baku yang terjangkau oleh segala lapisan
masyarakat (Bertens, 2002).
Pertentangan antara pandangan tersebut memang masih dirasakan
sampai sekarang, tetapi sampai sekarang belum ada pemecahan yang objektif
yang harus dipilih oleh masyarakat khususnya bagi mereka yang mengalami
kehamilan yang tidak dikehendaki. Sebenarnya, beberapa Negara yang telah
melegalkan aborsi memberi pilihan yang layak bagi ibu-ibu yang memiliki
anak di luar nikah. Selain tersedianya klinik aborsi di mana-mana, jika
perempuan memutuskan menyimpan janin yang dia kandung, biasanya
tersedia dua alternatif: sebagai Single mother, atau pengaturan adopsi untuk
bayi tersebut. Sebagai single mother dia beserta bayinya akan mendapatkan
dukungan material, seperti tunjangan makanan, kesehatan, biaya hidup bahkan
sekolah bagi anak dari pemerintah. Tetapi pemerintah Indonesia tidak akan
mampu melakukan hal tersebut melihat perekonomian Negara yang sedang
mengalami krisis, jangankan mengharapkan tunjangan, perlakuan manusiawi
pun sulit di dapat bagi perempuan yang bernasib seperti ini. Perdebatan antara
pandangan pro-life dan pro choice memang tidak akan pernah selesai dan
merupakan pilihan sulit bagi masyarakat yang mengalami kehamilan yang
tidak dikehendaki. Pokok dari permasalahan abortus provocatus ini adalah

25

karena adanya kehamilan yang tidak dikehendaki, dan untuk mencegah


kehamilan yang tidak dikehendaki tersebut harus ada upaya-upaya dari
pemerintah dan masyarakat dalam mencegah permasalahan ini. Salah satu
upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan perubahan yang lebih progresif
kearah perluasan akses penggunaan kontrasepsi kepada semua perempuan
yang potensial mengalami kehamilan, tidak hanya pada pasangan resmi.
Tanpa adanya keberanian untuk melakukan perubahan seperti itu, angka
kehamilan yang tidak dikehendaki akan tetap tinggi. Tetapi apabila perempuan
telah terlanjur mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki, hal yang perlu
dipertimbangkan perempuan tersebut adalah masa depan anak dan masa depan
perempuan yang melahirkan anak tersebut (Lukman, 2006).
2.7 Patient Safety
A. Standar Keselamatan Pasien
Tujuh Standar Keselamatan Pasien (mengacu pada Hospital Patient Safety
Standards yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of
Health Organizations, Illinois, USA, tahun 2002), yaitu:
1. Hak pasien
Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya
KTD (Kejadian Tidak Diharapkan). Kriterianya adalah:
a. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan
b. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana
pelayanan
c. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan
yang jelas dan benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan
hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk
kemungkinan terjadinya KTD
2. Mendidik pasien dan keluarga
Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban
dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Kriterianya adalah:
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn
keterlibatan pasien adalah partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di

26

rumah sakit harus ada system dan mekanisme mendidik pasien dan
keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan
pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat:
a. Memberikan info yg benar, jelas, lengkap dan jujur
b. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab
c. Mengajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti
d. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan
e. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS
f. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
g. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
a. Standar
RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi
antar tenaga dan antar unit pelayanan.
b. Kriteria
Koordinasi pelayanan secara menyeluruh
Koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan
kelayakan sumber daya
Koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi
Komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan
4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
a. Standar
RS harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yg ada,
memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,
menganalisis secara intensif KTD, dan melakukan perubahan untuk
meningkatkan kinerja serta KP.
b. Kriteria
Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design)
yang baik, sesuai dengan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan

Pasien Rumah Sakit.


Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja
Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif
Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan

informasi hasil analisis


5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
a. Standar

27

Pimpinan dorong dan jamin implementasi progr KP melalui

penerapan 7 Langkah Menuju KP RS.


Pimpinan menjamin berlangsungnya

identifikasi risiko KP dan program mengurangi KTD.


Pimpinan dorong dan tumbuhkan komunikasi dan koordinasi

program

proaktif

antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan

tentang KP
Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk
mengukur, mengkaji, dan meningkatkan kinerja RS serta

tingkatkan KP.
Pimpinan
mengukur

dan

mengkaji

efektifitas

kontribusinyadalam meningkatkan kinerja RS dan KP.


b. Kriterianya
Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program

keselamatan pasien.
Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan

dan program meminimalkan insiden,


Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua

komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi


Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden, termasuk
asuhan kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko
pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas

untuk keperluan analisis.


Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan

dengan insiden,
Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden
Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela

antar unit dan antar pengelola pelayanan


Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan
Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi
menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas

perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien


6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
a. Standar

28

RS memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk


setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan KP secara

jelas.
RS menyelenggarakan

pendidikan

dan

pelatihan

yang

berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi


staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan
pasien.
b. Kriteria
Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang

memuat topik keselamatan pasien


Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap
kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas

tentang pelaporan insiden.


Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok
(teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan

kolaboratif dalam rangka melayani pasien.


7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan
pasien.
a. Standar
RS merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi
KP untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.
Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.
b. Kriteria
Disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses
manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal

hal terkait dengan keselamatan pasien.


Tersedia mekanisme identifikasi masalah

dan

kendala

komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada


B. Tujuh langkah menuju keselamatan pasien RS (berdasarkan KKP-RS No.001VIII-2005) sebagai panduan bagi staf Rumah Sakit
1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan
kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil
a. Bagi Rumah sakit:

Pasien,

ciptakan

29

Kebijakan: tindakan staf segera setelah insiden, langkah kumpul

fakta, dukungan kepada staf, pasien, keluarga


Kebijakan: peran dan akuntabilitas individual pada insiden
Tumbuhkan budaya pelaporan dan belajar dari insiden
Lakukan asesmen dg menggunakan survei penilaian KP
b. Bagi Tim:
Anggota mampu berbicara, peduli dan berani lapor bila ada

insiden
Laporan

terbuka

dan

terjadi

proses

pembelajaran

serta

pelaksanaan tindakan/solusi yg tepat


2. Pimpin dan dukung staf anda, bangunlah komitmen danfocus yang kuat
dan jelas tentang KP di RS anda
a. Bagi Rumah Sakit:
Ada anggota Direksi yang bertanggung jawab atas KP
Di bagian 2 ada orang yang dapat menjadi Penggerak
(champion) KP
Prioritaskan KP dlm agenda rapat Direksi/Manajemen
Masukkan KP dlm semua program latihan staf
b. Bagi Tim:
Ada penggerak dlm tim utk memimpin Gerakan KP
Jelaskan relevansi dan pentingnya, serta manfaat gerakan KP
Tumbuhkan sikap ksatria yg menghargai pelaporan insiden
3. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko, kembangkan sistem dan proses
pengelolaan risiko, serta lakukan identifikasi dan asesmen hal yg potensial
brmasalah
a. Bagi Rumah Sakit:
Struktur dan proses menjaminn risiko klinis dan non klinis,

mencakup KP
Kembangkan indikator kinerja bagi sistem pengelolaan risiko
Gunakan informasi dari sistem pelaporan insiden dan asesmen

risiko dan tingkatkan kepedulian terhadap pasien


b. Bagi Tim:
Diskusi isu KP dlm forum2, utk umpan balik kpd mjmn terkait
Penilaian risiko pd individu pasien
Proses asesmen risiko teratur, tentukan akseptabilitas tiap risiko,
dan langkah memperkecil risiko tsb

30

4. Kembangkan sistem pelaporan, pastikan staf Anda agar dg mudah dpt


melaporkan kejadian/insiden serta RS mengatur pelaporan kpd KKP-RS
a. Bagi Rumah sakit:
Lengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden, ke dlm
maupun ke luar yg hrs dilaporkan ke KKPRS PERSI
b. Bagi Tim:
Dorong anggota utk melaporkan setiap insiden dan insiden yang telah
dicegah tetapi tetap terjadi juga, sebagai bahan pelajaran yang penting
5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien, kembangkan cara-cara
komunikasi yg terbuka dengan pasien
a. Bagi Rumah Sakit
Kebijakan : komunikasi terbuka tentang insiden dengan pasien

dan keluarga
Pasien dan keluarga mendpt informasi bila terjadi insiden
Dukungan, pelatihan dan dorongan semangat kepada staf agar
selalu terbuka kepada pasien dan kel. (dlm seluruh proses asuhan

pasien
b. Bagi Tim:
Hargai dan dukung keterlibatan pasien dan kel bila tlh terjadi

insiden
Prioritaskan pemberitahuan kpd pasien dan kel. bila terjadi

insiden
Segera stlh kejadian, tunjukkan empati kpd pasien dan kel.
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang Keselamatan pasien, dorong staf
anda utk melakukan analisis akar masalah utk belajar bagaimana dan
mengapa kejadian itu timbul
a. Bagi Rumah Sakit:
Staf terlatih mengkaji insiden scr tepat, mengidentifikasi sebab
Kebijakan: kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah (Root
Cause Analysis/RCA) atau Failure Modes dan Effects Analysis
(FMEA) atau metoda analisis lain, mencakup semua insiden dan
minimum 1 x per tahun utk proses risiko tinggi
b. Bagi Tim:
Diskusikan dlm tim pengalaman dari hasil analisis insiden
Identifikasi bgn lain yg mungkin terkena dampak dan bagi
pengalaman tersebut

31

7. Cegah cedera melalui implementasi system Keselamatan pasien,


Gunakan informasi yg ada ttg kejadian/masalah utk melakukan
perubahan pd sistem pelayanan
a. Bagi Rumah Sakit:
Tentukan solusi dg informasi dr sistem pelaporan, asesmen risiko,

kajian insiden, audit serta analisis


Solusi mencakup penjabaran ulang sistem, penyesuaian pelatihan

staf dan kegiatan klinis, penggunaan instrumen yg menjamin KP


Asesmen risiko utk setiap perubahan
Sosialisasikan solusi yg dikembangkan oleh KKPRS-PERSI
Umpan balik kpd staf ttg setiap tindakan yg diambil atas insiden
b. Bagi Tim:
Kembangkan asuhan pasien menjadi lebih baik dan lebih aman
Telaah perubahan yg dibuat tim dan pastikan pelaksanaannya
Umpan balik atas setiap tindak lanjut ttg insiden yg dilaporkan

C. Langkah Langkah Kegiatan Pelaksanaan Patient Safety Adalah:


1. Di Rumah Sakit
Rumah sakit agar membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit,
dengan susunan organisasi sebagai berikut: Ketua: dokter, Anggota:
dokter, dokter gigi, perawat, tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan

lainnya.
Rumah sakit agar mengembangkan sistem informasi pencatatan dan

pelaporan internal tentang insiden


Rumah sakit agar melakukan pelaporan insiden ke Komite

Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) secara rahasia


Rumah Sakit agar memenuhi standar keselamatan pasien rumah sakit
dan menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah
sakit.

32

Rumah sakit pendidikan mengembangkan standar pelayanan medis


berdasarkan hasil dari analisis akar masalah dan sebagai tempat

pelatihan standar-standar yang baru dikembangkan.


2. Di Provinsi/Kabupaten/Kota
Melakukan advokasi program keselamatan pasien ke rumah sakit

rumah sakit di wilayahnya


Melakukan advokasi ke pemerintah daerah agar tersedianya dukungan

anggaran terkait dengan program keselamatan pasien rumah sakit.


Melakukan pembinaan pelaksanaan program keselamatan pasien

rumah sakit
3. Di Pusat
Membentuk komite keselamatan pasien Rumah Sakit dibawah

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia


Menyusun panduan nasional tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit
Melakukan sosialisasi dan advokasi program keselamatan pasien ke
Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota, PERSI Daerah dan rumah

sakit pendidikan dengan jejaring pendidikan.


Mengembangkan laboratorium uji coba program keselamatan pasien.

Selain itu, menurut Hasting G, 2006, ada delapan langkah yang bisa
dilakukan untuk mengembangkan budaya Patient safety ini:
1. Put the focus back on safety
Setiap staf yang bekerja di RS pasti ingin memberikan yang terbaik dan
teraman untuk pasien. Tetapi supaya keselamatan pasien ini bisa
dikembangkan dan semua staf merasa mendapatkan dukungan, patient
safety ini harus menjadi prioritas strategis dari rumah sakit atau unit
pelayanan kesehatan lainnya. Empat CEO RS yang terlibat dalamsafer
patient initiatives di Inggris mengatakan bahwa tanggung jawab untuk
keselamatan pasien tidak bisa didelegasikan dan mereka memegang peran
kunci dalam membangun dan mempertahankan fokus patient safety di
dalam RS.
2. Think small and make the right thing easy to do

33

Memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien mungkin


membutuhkan langkah-langkah yang agak kompleks. Tetapi dengan
memecah kompleksitas ini dan membuat langkah-langkah yang lebih
mudah mungkin akan memberikan peningkatan yang lebih nyata.
3. Encourage open reporting
Belajar dari pengalaman, meskipun itu sesuatu yang salah adalah
pengalaman yang berharga. Koordinator patient safetydan manajer RS
harus membuat budaya yang mendorong pelaporan. Mencatat tindakantindakan yang membahayakan pasien sama pentingnya dengan mencatat
tindakan-tindakan yang menyelamatkan pasien. Diskusi terbuka mengenai
insiden-insiden yang terjadi bisa menjadi pembelajaran bagi semua staf.
4. Make data capture a priority
Dibutuhkan sistem pencatatan data yang lebih baik untuk mempelajari dan
mengikuti perkembangan kualitas dari waktu ke waktu. Misalnya saja data
mortalitas. Dengan perubahan data mortalitas dari tahun ke tahun, klinisi
dan manajer bisa melihat bagaimana manfaat dari penerapan patient safety.
5. Use systems-wide approaches
Keselamatan pasien tidak bisa menjadi tanggung jawab individual.
Pengembangan hanya bisa terjadi jika ada sistem pendukung yang adekuat.
Staf juga harus dilatih dan didorong untuk melakukan peningkatan kualitas
pelayanan dan keselamatan terhadap pasien. Tetapi jika pendekatan patient
safety tidak diintegrasikan secara utuh kedalam sistem yang berlaku di RS,
maka peningkatan yang terjadi hanya akan bersifat sementara.
6. Build implementation knowledge
Staf juga membutuhkan motivasi dan dukungan untuk mengembangkan
metodologi, sistem berfikir, dan implementasi program. Pemimpin sebagai
pengarah jalannya program disini memegang peranan kunci. Di Inggris,
pengembangan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien sudah
dimasukkan ke dalam kurikulum kedokteran dan keperawatan, sehingga
diharapkan sesudah lulus kedua hal ini sudah menjadi bagian dalam budaya
kerja.
7. Involve patients in safety efforts

34

Keterlibatan pasien dalam pengembangan patient safety terbukti dapat


memberikan pengaruh yang positif. Perannya saat ini mungkin masih kecil,
tetapi akan terus berkembang. Dimasukkannya perwakilan masyarakat
umum dalam komite keselamatan pasien adalah salah satu bentuk
kontribusi aktif dari masyarakat (pasien). Secara sederhana pasien bisa
diarahkan untuk menjawab ketiga pertanyaan berikut: apa masalahnya?
Apa yang bisa kubantu? Apa yang tidak boleh kukerjakan?
8. Develop top-class patient safety leaders
Prioritisasi keselamatan pasien, pembangunan sistem untuk pengumpulan
data-data berkualitas tinggi, mendorong budaya tidak saling menyalahkan,
memotivasi staf, dan melibatkan pasien dalam lingkungan kerja bukanlah
sesuatu hal yang bisa tercapai dalam semalam. Diperlukan kepemimpinan
yang kuat, tim yang kompak, serta dedikasi dan komitmen yang tinggi
untuk tercapainya tujuan pengembangan budaya patient safety. Seringkali
RS harus bekerja dengan konsultan leadership untuk mengembangkan
kerjasama tim dan keterampilan komunikasi staf. Dengan kepemimpinan
yang baik, masing-masing anggota tim dengan berbagai peran yang
berbeda bisa saling melengkapi dengan anggota tim lainnya melalui
kolaborasi yang erat.
D. ASPEK HUKUM TERHADAP PATIENT SAFETY
Aspek hukum terhadap patient safety atau keselamatan pasien adalah
sebagai berikut:
UU Tentang Kesehatan dan UU Tentang Rumah Sakit
1.

Keselamatan Pasien sebagai Isu Hukum


a.

Pasal 53 (3) UU No.36/2009


Pelaksanaan

Pelayanan

kesehatan

harus

mendahulukan keselamatan nyawa pasien.


b.

Pasal 32n UU No.44/2009


Pasien

berhak

memperoleh keamanan

dan

dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.


c.

Pasal 58 UU No.36/2009

keselamatan

35

1)

Setiap orang berhak menuntut G.R terhadap seseorang,

tenaga

kesehatan,

dan/atau

penyelenggara

kesehatan

yang

menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam


Pelkes yang diterimanya.
2) ..tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan
tindakan

penyelamatan

nyawa

atau

pencegahan

kecacatan

seseorang dalam keadaan darurat.

E. Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien


Pasal 43 UU No.44/2009
1)

RS wajib menerapkan standar keselamatan pasien

2) Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden,


menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka
menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan.
3) RS melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada komite yang
membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh menteri
4)

Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara anonym dan


ditujukan untuk mengoreksi system dalam rangka meningkatkan
keselamatan pasien.
Pemerintah bertanggung jawab mengeluarkan kebijakan tentang

keselamatan pasien. Keselamatan pasien yang dimaksud adalah suatu system


dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. System tersebut
meliputi:
a.

Assessment risiko

b.

Identifikasi dan pengelolaan yang terkait resiko pasien

c.

Pelaporan dan analisis insiden

d.

Kemampuan belajar dari insiden

36

e.

Tindak lanjut dan implementasi solusi meminimalkan resiko

F. MANAJEMEN PATIENT SAFETY


Pelaksanaan Patient Safety ini dilakukan dengan system Pencacatan
dan Pelaporan serta Monitoring Evaluasi
a) Di Rumah Sakit
1) Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait
dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak
Diharapkan dan Kejadian Sentinel) pada formulir yang sudah
disediakan oleh rumah sakit.
2) Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua kejadian terkait
dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak
Diharapkan dan Kejadian Sentinel) kepada Tim Keselamatan Pasien
Rumah Sakit pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
3) Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit menganalisis akar penyebab
masalah semua kejadian yang dilaporkan oleh unit kerja
4) Berdasarkan hasil analisis akar masalah maka Tim Keselamatan Pasien
Rumah Sakit merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan
hasil solusi pemecahan masalah kepada Pimpinan rumah sakit.
5) Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) setiap terjadinya
insiden dan setelah melakukan analisis akar masalah yang bersifat
rahasia.
b) Di Propinsi
Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah menerima produk-produk dari
Komite Keselamatan Rumah Sakit
c) Di Pusat
1) Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) merekapitulasi
laporan dari rumah sakit untuk menjaga kerahasiaannya
2) Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan
analisis yang telah dilakukan oleh rumah sakit
3) Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan
analisis laporan insiden bekerjasama dengan rumah sakit pendidikan

37

dan rumah sakit yang ditunjuk sebagai laboratorium uji coba


keselamatan pasien rumah sakit
4) Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan
sosialisasi hasil analisis dan solusi masalah ke Dinas Kesehatan
Propinsi dan PERSI Daerah, rumah sakit terkait dan rumah sakit
lainnya.

REFERENSI
1.

Komalawati, Veronica. (2010) CommunitydanPatient Safety Dalam Perspektif

Hukum Kesehatan.
2.

Lestari, Trisasi. Knteks Mikro dalam Implementasi Patient Safety: Delapan

Langkah Untuk Mengembangkan Budaya Patient Safety. Buletin IHQN Vol


II/Nomor.04/2006 Hal.1-3
3.

Pabuti, Aumas. (2011) Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien (KP)

Rumah Sakit. Proceedings of expert lecture of medical student of Block 21st of


Andalas University, Indonesia
4.

Panduang Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). 2005

5.

Tim keselamatan Pasien RS RSUD Panembahan Senopati. Patient Safety.

6.

Yahya, Adib A. (2006) Konsep dan Program Patient Safety. Proceedings of

National Convention VI of The Hospital Quality Hotel Permata Bidakara, Bandung


14-15 November 2006.
7.

Yahya, Adib A. (2007) Fraud dan Patient Safety. Proceedings of

PAMJAKI meeting Kecurangan (Fraud) dalam Jaminan/Asuransi Kesehatan Hotel


Bumi Karsa, Jakarta 13 December 2007.

38

BAB 3
KESIMPULAN
Pengguguran kandungan yang disengaja dengan melanggar berbagai
ketentuan hukum (abortus provocatus criminalis) yang terdapat dalam KUHP
menganut prinsip illegal tanpa kecuali dinilai sangat memberatkan paramedis
dalam melakukan tugasnya. Pasal tentang aborsi yang diatur dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana juga bertentangan dengan Pasal 15 UU No.23
Tentang Kesehatan, di mana dalam satu sisi melarang dilakukannya aborsi dalam
segala alasan dan di sisi lain memperbolehkan tetapi atas indikasi medis untuk
menyelamatkan ibu hamil dan atau janin. Menurut Kusumo yang dikutip dalam

39

buku Ekotama, menyatakan disini berlaku asas lex posteriori derogate legi
priori. Asas ini beranggapan bahwa jika diundangkan peraturan baru dengan
tidak mencabut peraturan lama yang mengatur materi yang sama dan keduanya
saling bertentangan satu sama lain, maka peraturan yang baru ini mengalahkan
atau melumpuhkan peraturan yang lama. Dengan demikian, Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan yang mengatur abortus provocatus
medicinalis tetap dapat berlaku di Indonesia meskipun sebenarnya aturan itu
bertentangan dengan rumusan abortus provocatus criminalis menurut KUHP.