Anda di halaman 1dari 7

2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi
Invaginasi adalah suatu proses dimana segmen usus masuk ke dalam segmen

bagian bawahnya yang dapat menyebabkan obstruksi pada intestinum.3


2.2.

Epidemiologi
Insidens penyakit ini tidak diketahui secara pasti, namun kelainan ini

umumnya ditemukan pada anak-anak dibawah 1 tahun dan frekuensinya menurun


dengan bertambahnya usia. Insiden bervariasi dari 1-4 per 1.000 kelahiran hidup
dengan perbandingan laki-laki berbanding perempuan adalah 4:1.1
Hasil laporan World Health Organization yang dikeluarkan pada tahun 2002
di 3 kota besar di Indonesia menunjukan angka invaginasi pada anak yang terjadi di
kota Medan sebanyak 29 kasus, dijumpai pada usia 2 bulan2 tahun dan paling
banyak di temukan pada anak usia di < 1 tahun (95 %) dengan perbandingan lakilaki
dan perempuan 2:1. Sedangkan di kota lain seperti Jakarta dan Yogyakarta angka
kejadian invaginasi yang terjadi masingmasing adalah sebanyak 103 (86%) kasus
dan 35 (61%) kasus anak dengan perbandingan lakilaki dan perempuan masing
masing sebanyak 2:1 dan 1:1.2
2.3.

Etiologi
Penyebab invaginasi belum diketahui. Pada umur puncak insidens masih

diduga bahwa terjadinya invaginasi akibat infeksi adenovirus, perubahan cuaca atau
perubahan pola makan. Sedangkan pada orang dewasa 5-10% penderita dapat
dikenali hal-hal pendorong untuk terjadinya invaginasi, seperti apendiks yang
terbalik, divertikulum Meckelli, polip usus, atau kistik fibrosis.3

2.4.

Manifestasi Klinis
Pada kasus-kasus yang khas, nyeri kolik hebat yang timbul mendadak, hilang

timbul, sering kumat dan disertai dengan rasa tersiksa yang menggelisahkan serta
menangis keras pada anak yang sebelumnya sehat. Pada awalnya, bayi mungkin dapat
dihibur tetapi jika invaginasi tidak cepat di reduksi bayi menjadi semakin lemah dan
lesu. Akhirnya terjadi keadaan seperti syok dengan kenaikan suhu tubuh sampai 41 C,
nadi menjadi lemah-kecil, pernafasan menjadi dangkal, dan nyeri dimanifestasikan
hanya dengan suara rintihan. Muntah terjadi pada kebanyakan kasus dan biasanya
pada bayi lebih sering pada fase awal. Pada fase lanjut, muntah disertai dengan
empedu, tinja dengan gambaran normal dapat dikeluarkan pada beberapa jam pertama
setelah timbul gejala kemudian pengeluaran tinja sedikit atau tidak ada, dan kentut
jarang atau tidak ada. Darah umumnya keluar pada 12 jam pertama, tetapi kadangkadang tidak keluar sampai 1-2 hari. Pada bayi 60% mengeluarkan tinja bercampur
darah berwarna merah serta mucus.4
2.5.

Patologi
Invaginasi yang paling sering adalah ileo-colica, diikuti ileo-ileocolica, colo-

colica, dan appendical-colica. Bagian atas usus yang disebut intususeptum mengalami
invaginasi ke bawah, intususipiens sambil menarik mesentriumnya bersama-sama
memasuki lumen yang pembungkusnya. Pada mulanya terdapat suatu konstriksi
mesentrium

sehingga

menghalangi

aliran

balik

vena,

selanjutnya

terjadi

pembengkakan invaginasi terjadi akibat edema dan perdarahan mukosa yang


menghasilkan tinja mengandung darah, kadangkadang mengandung mucus (lendir).
Puncak dari invaginasi dapat terbentang hingga kolon tranversum desendens dan
sigmoid bahkan ke anus pada kasus yang terlantar. Setelah suatu invaginasi idiopatis
dilepaskan, maka bagian usus yang membentuk puncaknya tampak edema dan
menebal, sering disertai suatu lekukan pada permukaan serosa yang menggambarkan
asal dari kerusakan tersebut. Kebanyakan invaginasi tidak menimbulkan strangulasi

usus dalam 24 jam pertama, tetapi selanjutnya mengakibatkan gangren usus dan
syok.1
2.6.

Diagnosis
Penegakan diagnosis invaginasi didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan

fisik, laboratorium, dan radiologi5 :


1. Anamnesis
Pada penderita yang mengalami invaginasi keluhan-keluhan yang dapat
didapatkan pada saat anamnesis adalah :
a. Sebelum sakit bayi atau anak ada riwayat pijat dan diberi makanan
padat padahal umur bayi dibawah 4 bulan
b. Bayi yang awalnya sehat mendapatkan serangan nyeri perut yang
terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung dalam beberapa menit.
c. Serangan nyeri perut yang diikuti dengan muntah berisi cairan dan
makanan
d.

Lelah dan lesu

e.

Feses bercampur darah segar dan lendir.


2. Pemeriksaan fisik
a. Pada inspeksi o.s. terlihat lemah dan lesu. Pada inspeksi sukar sekali
membedakan prolapsus rektum dari invaginasi. Invaginasi didapatkan
invaginatum

bebas

dari

dinding

anus,

sedangkan

prolapsus

berhubungan secara sirkuler dengan dinding anus.


b. Pada palpasi teraba sausage shape, suatu massa yang posisinya
mengikuti garis usus colon ascendens sampai ke sigmoid dan rektum.
Massa tumor sukar diraba bila berada di belakang hepar atau pada
dinding yang tegang.

c. Pada perkusi pada tempat invaginasi terkesan suatu rongga kosong.


d. Pada auskultasi bising usus terdengar meninggi selama serangan kolik
menjadi normal kembali di luar serangan.
Bila invaginasi panjang hingga ke daerah rektum pada pemeriksaan colok
dubur mungkin teraba ujung invaginasi seperti porsio uterus disebut
pseudoporsio. Pada sarung tangan terdapat lendir dan darah. Harus dibedakan
dengan prolapsus rektum.5
3. Pemeriksaan Rontgen
Foto polos abdomen dapat menunjukkan padatan di daerah invaginasi. Dibuat
dalam 2 arah, posisi supine dan lateral dekubitus kiri. Posisi lateral dekubitus
kiri ialah posisi penderita yang dibaringkan dengan bagian kiri di atas meja
dan sinar dari arah mendatar. Dengan posisi ini, selain untuk mengetahui
invaginasi juga dapat mendeteksi adanya perforasi. Gambaran X-ray pada
invaginasi ileo-coecal memperlihatkan daerah bebas udara yang fossa iliaca
kanan karena terisi massa. Pada invaginasi tingkat lanjut kelihatan air fluid
levels.1,5,6

4. Reposisi barium enema:


Reposisi hidrostatik dengan cara memasukkan barium melalui anus
menggunakan kateter dengan tekanan hidrostatik tidak boleh melewati satu
meter air dan tidak boleh dilakukan pengurutan atau penekanan manual di
perut sewaktu dilakukan reposisi hidrostatik, dapat dikerjakan sekaligus
sewaktu diagnosis Rontgen ditegakkan, syaratnya adalah keadaan umum
mengizinkan, tidak ada gejala dan tanda rangsangan peritoneum, anak tidak
toksik, dan tidak terdapat obstruksi tinggi. Pengelolaan berhasil jika barium
kelihatan masuk ileum.6

2.7.

Penatalaksaan
Penatalaksaan dapat dilakukan dengan reposisi barium enema dan reposisi

operatif1,7:
1. Pertama kali dibawa ke rumah sakit, bayi kemungkinan mengalami
dehidrasi

dan

memerlukan

terapi

cairan

intravena

secepatnya.

Nasofaringeal Tube bisa digunakan pada bayi dengan perut yang kosong.
2. Reduksi invaginasi dilakukan dengan barium enema yang menggunakan
prinsip hidrostatik. Reduksi dengan barium enema hanya dilakukan bila
tidak ada distensi yang hebat, tanda peritonitis, dan demam tinggi. Akan
tampak gambaran cupping dan coiled spring yang menghilang bersamaan
dengan terisinya ileum oleh barium. Reduksi dengan barium enema
dikatakan berhasil bila sudah mencapai ileus terminal.
3.

Selain barium enema, terdapat reduksi manual pada operasi. Reduksi ini
dilakukan bila terjadi perforasi, peritonotis dan tanda- tanda obstruksi dan
biasanya pada invaginasi yang sudah berlangsung 48 jam.

4. Kebanyakan anak yang dirawat sebelum dari 24 jam sembuh dari


invaginasi tanpa komplikasi. Dalam 48 jam setelah operasi anak akan
dimonitor, anak akan menggunakan mesin untuk memonitor temperatur,
denyut jantung dan respirasi. Setidaknya selama 48 jam pertama, anak
tidak bisa makan atau minum agar ususnya istirahat. Anak akan
mendapatkan terapi cairan untuk mencegah dehidrasi. Anak juga akan
mendapat Nasofaringeal Tube untuk mengambil cairan di dalam perut.
Saat cairan dari Nasofaringeal Tube bersih dan jumlah cairan berkurang,
anak bisa mulai makan sesuatu.

BAB 3
KESIMPULAN
Invaginasi adalah suatu proses dimana segmen intestine masuk kedalam
bagian lumen usus yang dapat menyebabkan obstruksi pada saluran cerna. Invaginasi
merupakan salah satu penyebab terbanyak obstruksi usus pada bayi dan anak kecil.
Penyebab invaginasi sebagian besar tidak diketahui (idiopatik).
Invaginasi paling sering mengenai daerah ileosekal. Invaginasi dapat
menimbulkan obstruksi usus sehingga jika tidak ditangani dengan segera dan tepat
akan menimbulkan komplikasi lanjut berupa perforasi sehingga terjadi peritonitis.
Penatalaksanaan dapat berupa perbaikan kondisi umum berupa resusitasi
cairan dan elektrolit serta dekompresi, kemudian dilakukan reposisi. Angka mortalitas
semakin meningkat jika penanganannya semakin lambat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pickering, L.K., Snyder, J.D., 2000. Ileus, Adhesi, Intususepsi, dan Obstruksi
Lingkar-Tertutup. In: Behrman, R.E., Kliegman, R.M., Arvin, Ann.M., Ilmu
Kesehatan Anak Nelson ed 15, jilid 2. Jakarta: EGC,1319-1321.
2. World Health Organization, 2002. Acute intussusception in infants and children .
Available

from

http://whqlibdoc.who.int/hq/2002/WHO_V&B_02.19.pdf.

[Diakses Februari 2016]


3. Felix C.Blancho. Intussusception. 2015. Medscape Reference. Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/930708-overview
4. (Nelson essential of pediatrics, seventh edition. Edited by : Karen J. Marcdante.
Robert M. Kliegman. United states of America. Elsevier. 2015)
5. Irish MS. Pediatric intussusceptions surgery. 2011. Medscape Reference.
Available from : http://emedicine.medscape.com/article/937730-overview
6. Latief, A., dkk., 2005. Invaginasi. Hassan, R., Alatas, H. Jilid 1. Jakarta : Bagian
7.

Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 204-205.


Jong, W.D., Sjamsuhidayat, R., 2004. Usus halus, Apendiks, Kolon, dan
Anorektum. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah.. Edisi 2. Jakarta: EGC 627-629.