Anda di halaman 1dari 13

Nama : Munadhiroh

NIM : 123711022

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK


KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS : NITRASI FENOL
A. TUJUAN
1. Memahami prinsip dasar kromatografi lapis tipis (KLT)
2. Memahami pengaruh sutituent terhadap subtitusi elektrofilik
pada senyawa aromatic
B. DASAR TEORI
1. Kromatografi
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan fisik dimana
komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan diantara
dua fasa, dimana salah satu fasa tesebut adalah suatu lapisan
stationer dengan permukaan yang luas, yang lainnya sebagai
fluida yang mengalir lembut disepanjang landasan stationer.1
Pemisahan dengan teknik kromatografi didasarkan pada
distribusi komponen zat yang dianalisa (analit) antara dua fasa
(fasa gerak dan diam), yang mana pemisahan komponen terjadi
secara difrensial yang dibawa fasa gerak melewati fasa diam.
Fasa gerak dapat berupa cairan (Kromatografi Cair) atau berupa
gas (Kromatografi Gas), sedangkan untuk fasa diam dapat berupa
padatan (adsorbs)atau cairan (partisi). Pembagian kromatografi
pada umumnya didasakan pada fasa gerak yaitu kromatografi
cair dan kromatografi gas sehingga ada empat jenis kromatografi
seperti berikut2:
1. Fasa gerak cair dan fasa diam cair
Contoh: kromatografi kertas, kromatografi cair kinerja tinggi
(HPLC)
2. Fasa gerak cair dan fasa diam padat
1 M. Keulemans.A.I, 959, Gas Chromatography, Edisi ke 2, Reinhold Publishing
Corp: New Yok. Hal.2
2 Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus,2013, Teknik Laboratorium Kimia Organik,
Yogyakarta:Graha Ilmu. Hal.19-20

Contoh: Komatogafi lapis tipis (KLT/TLC), Kromatografi kolom


3. Fasa gerak gas dan fasa diam cair
Contoh: Kromatografi gas cair (GLC/GC)
4. Fasa gerak gas dan fasa diam padat
Contoh: Kromatografi gas padat (GSC)
Perkembangan selanjutnya, teknik kromatografi dijalankan
dengan manipulasi perbedaan aktifitas sifat-sifat fisik dari zat-zat
yang menyusun suatu sampel (analit) yang akan dipisahkan
antara fasa gerak dan fasa diam yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sifat adsorbsi
Sifat pertukaran ion (ion exchange)
Kelarutan/kepolaran/titik didih
Ukuran partikel dengan cara gel permeabilitas dan gel filtrasi
Afinitas kimia (enzimatik)
Pertukaran ion dengan fasa diam esin (ion exchange
chromatography)3
Jika fase gerak digerakkan melalui fase diam untuk
menghasilkan

pemisahan

kromatografi,

proses

ini

dikenal

sebagai pengembangan. Setelah senyawa-senyawa dipisahkan


dengan pengembangan, hasilnya dideteksi atau divisualisasi
(ditampakkan). Jika senyawa-senyawa yang dipisahkan benarbenar dikeluarkan dari system, maka senyawa itu telah dielusi
atau elusi telah terjadi. Senyawa yang dipisahkan biasanya
disebut linarut, atau secara kelompok disebut cuplikan. Hasil dari
keseluruhan tersebut disebut dengan kromatogram.4
2. KLT
Pemilihan teknik kromatografi dalam pemisahan senyawa,
didasarkan

pada

sifat

kelarutan

dari

senyawa

yang

akan

dipisahkan. Kromatogafi Lapis Tipis (KLT) atau TLC (Tin Layer


Chomatogaphy) digunakan untuk preparative atau memisahkan
senyawa-senyawa dalam jumlah kecil. Teknik KLT menggunakan
adsorben yang disalutkan pada suatu lempeng kaca sebagai fase
3 Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus,2013, Teknik Laboratorium Kimia Organik,
Yogyakarta:Graha Ilmu, Hal.20
4 Roy J. gritter, James M. Bobbitt, Arthur E. Schwarting, 1991, pengantar
kromatograf, edisi kedua, Bandung : ITB. Hal.5

stationernnya dan pengembangan kromatogram terjadi ketika


fase mobil tetapis melewati adsorben itu.5
Absorben yang sangat umum digunakan adalah silikagel
dan alumina dan ditambah dengan kalsium sulfat untuk jadi
perekat pada plat kaca atau porselen dengan ukuran 20 x 20 cm.
Prosedurnya adalah sampel yang akan dipisahkan ditotolkan
dengan pipa kapiler pada KLT lalu dimasukkan dalam chamber
yang berisi eluen yang sebelumnya telah ditutup sebentar agar
uapnya jenuh.
3. Subtitusi Elektrofilik Aromatik
Reaksi yang paling utama dari senyawa aromatik adalah
reaksi substitusi aromatik elektrofilik digambarkan sebagai (E+)
yang akan bereaksi dengan cincin aromatik dengan mengantikan
1 atom hidrogen. Banyak subtituen yang dapat bereaksi dengan
senyawa aromatik melalui reaksi sutitusi elektrofilik. Senyawa
aromatic dapat bereaksi dengan halogen, nitrat, sulfonat, alkil,
dan

aril.

Reaksi

subtitusi

elektrofilik

aromatic

mampu

menghasilkan berbagai macam senyawa aromatic tersubtitusi.

Contoh reaksi substitusi yang khas pada benzena:

+ HNO3
Kebanyakan

NO2

H 2SO4

dari

reaksi

ini

OH2

(nitrasi)

dilaksanakan

pada

suhu

diantara 0 dan 50C, tetapi kondisinya dapat lebih lembut atau


lebih keras jika sudah ada substituen lain pada cincin benzena.
Demikian juga, kondisi biasanya disesuaikan apakah satu atau
lebih substituen yang ingin disubstitusikan.
Aromatisasi benzene menyajikan suatu kesetabilan yang
unik pada system pi, dam benzene tidak menjalani kebanyakan
reaksi yang khas bagi alkena. Meskipun demikian benzene

5 J. Basset, dkk. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia Analisis Kuantitatif Anoganik. ( alih
bahasa: A. Handyana P dan L Setiono). Jakata: EGC. Hal.228
6 Riswiyanto.2009. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga. Hal. 144

tidaklah sekali-kali lamban (inert). Pada kondisi yang tepat


benzene mudah bereaksi subtitusi elektrofilik aromatic.7
4. Ekstraksi Pelarut
Ekstraksi pelarut merupakan pemisahan satu komponen
dari campuran dengan melarutkannya dalam pelarut, tetapi
komponen lainnya tidak dapat dilarutkan dalam pelarut tersebut.
Proses ini biasanya dilakukan dalam fase cair, sehingga disebut
juga ekstraksi cair-cair. Dalam ekstraksi cair-cair, larutan yang
mengandung komponen yang diinginkan harus bersifat tak
campur dengan cairan lainnya. Senyawa organic yang terdapat
dalam larutan ataupun pada jaringan tumbuhan dan hewan dapat
ditarik dengan teknik ekstrasi dengan menggunakan pelarut
seperti n-heksana, ligroin, eter, kloroform, metilen klorida,
methanol dan lain lain. Pemilihannya tergantung dari sifat bahan
yang akan dipisahkan.8
Penggunaan corong pemisah adalah untuk mengekstraksi
senyawa organik yang terlarut dalam suatu pelarut dengan
pelarut lainnya dan antara pelarut tidak saling melarutkan.
Dengan demikian akan membentuk dua lapisan dan senyawa
organik yang diinginkan dapat diambil, tanpa terkotori oleh zat
lain. Teknik ekstraksi hanya dapat dilakukan bila senyawa yang
akan

diekstraksi

kelarutannya

lebih

besar

dalam

pelarut

pengekstraksi atau koofesien distribusinya (K D) lebih besar serta


antara kedua pelarut tidak campur.9
5. Fenol
Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal
tak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah
C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang
7 R.J.Fesenden dan J.S.Fesenden.1982.Kimia Organik. Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga. Hal.466
8 Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus,2013, Teknik Laboratorium Kimia Organik,
Yogyakarta:Graha Ilmu. Hal.10

9 Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus,2013, Teknik Laboratorium Kimia Organik. Hal.10

berikatan dengan cincin fenil. Kata fenol juga merujuk pada


beberapa zat yang memiliki cincin aromatik yang berikatan
dengan gugus hidroksil.
Fenol murni berbentuk Kristal yang tak berwarna, sangat
berbau dan mempunyai sifat antiseptic. Fenol agak larut dalam
air dan sebaliknya sedikit air dapat juga larut dalam fenol cair,
karena bobot molekul air itu rendah dan turun titik beku molal
dari fenol itu tinggi, yaitu 7,5 maka campuran fenol dengan 5-6%
air telah terbentuk cair pada temperature biasa. Larutan fenol
dalam air disebut air karbol atau asam karbol.
Sifat kimia dari fenol adalah fenol tidak dapat dioksidasi
menjadi aldehid atau keton yang jumlah atom C-nya sama,
karena gugus OH-nya terikat pada suatu atom C yang tidak
mengikat atom H lagi. Jadi fenol dapat dipersamakan dengan
alkanol tersier. Sedangkan, jika direaksikan dengan H 2SO4 pekat
tidak

membentuk

ester

melainkan

membentuk

asam

fenolsulfonat ( o atau p). Dengan HNO 3 pekat dihasilkan


nitrofenol

dan

pada

nitrasi

selanjutnya

terbentuk

2,4,6

trinitrofenol atau asam pikrat. Larutan fenol dalam air bersifat


sebagai asam lemah sehingga akan mengion, oleh karena itu
fenol dapat bereaksi dengan basa dan membentuk garam
fenolat.10
Ikatan sp2 lebih kuat jika dibandingkan dengan ikatan kabon
sp3, oleh karena itu ikatan C-O dari suatu fenol tidak mudah
untuk diputuskan. Fenol tidak mengalami reaksi SN1, SN2, ataupun
reaksi eliminasi seperti alcohol. Meskipun ikatan C-O pada fenol
sulit untuk diputuskan tapi ikatan OH mudah putus. Fenol dengan
pKa = 10, merupakan asam yang lebih kuat dari pada alcohol
maupun air.11
6. Analisa Bahan

10 Riswiyanto.2009. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga. Hal. 343-347


11R.J.Fesenden dan J.S.Fesenden.1982.Kimia Organik. Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga. Hal.485

a. HNO3 pekat: cairan, tidak berasa, baunya sangat tajam


(pedas), tidak berwarna sampai kuning cerah, tidak mudah
tebakar, cairan korosif, agen pengoksidasi, beracun, sangat
berbahaya jika kontak langsung dengan mata, kulit dan
tertelan. Seta sedikit berbahaya jika terhirup
b. Metilen klorida

: cairan, tidak berasa, tidak berbau, tidak

berwarna, kemungkinan mudah terbakarjika pada temperature


tinggi, tidak korosif , sangat berbahaya jika kontak langsung
dengan mata, terhirup dan tertelan, dan jika kontak dengan
kulit
c. Natrium sulfat

: rasanya pahit tidak berbau, warnanya

putih, tidak korosif, tidak mudah terbakar, berbahaya jika


kontak langsung dengan kulit, tertelan dan terhirup.
d. Iod

padatan,

berbau

tajam,

tidak

berasa,

sangat korosif, tidak mudah terbakar, berbahaya jika kontak


langsung dengan mata, kulit, tertelan dan terhirup
e. Fenol
berwarna

: berbau tajam, berasa panas (membakar), tidak


sampai

kemungkinan

dengan

terbakar

saat

warna

pink

temperature

terang,

korosif,

tinggi,

sangat

bevbahaya jika kontak langsung dengan mata, kulit, tertelan


dan terhirup.
f. Benzene

: cairan berbau tajam, tidak berasa, tidak

berwarna sampai kuning terang, tidak korosif, mudah terbakar,


sangat berbahaya jika kontak langsung dengan kulit.12
C. ALAT DAN BAHAN
Alat:
1. Thermometer
2. Erlenmeyer
3. Plat KLT
4. Pipa kapiler
5. Pengaduk
6. Labu spiritus, kasa, kaki tiga
12 Petunjuk Praktikum Kimia Organik . Semarang: Laboratorium Tadris Kimia Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo

7. Gelas beker
8. Corong pisah
9. Chamber KLT
10. Statif, klem
Bahan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Asam nitrat pekat


Asam sulfat pekat
Metilen klorida
Natrium sulfat
Iod
Fenol
Benzene
Aquades
Air es

D. CARA KERJA
1. Nitrasi Fenol
a.
3
+
0
d
L
m
7
,
i
A
L
5
n
m
g
a
L
m
i
s
L
n
a
a
k
m
q
H
a
u
n
a
d
e
s

b.

Les
mAh
rd
bj
3g
f2
a2
c.

u r

l
u
i
e
a
0

a
e
d

y
r

g
n

e
i

o
u

i
l

ldd a ii rmeta ua km amt s a sb bnu i l a k ( f hkba )s e o r g a n i k ,


+katd r ani a k 7n ke k m sre i nL g a k i ra n d e n g a n
cemin o2sa e ,rxt otr a i i nl ud e g mu n k s u l f a t , d i u a p k a n
pkp lie os l ara i hrd u a t
2. Analisis Poduk dengan KLT

kdtd o eii mtst r aoi i an l kp gsd akuka nakai nknf aa oc sn hd e aal e m m b p e e r n K g L T , d i i s i


tkyod i rarep og nni msa gg d n aa ti nkte o r pbgbd aerei adnn nmazt gue knkd aa t,n jd i ka a n d i t u t u p
tdlb ee iai mual na ra phk ph ae kim tn a u ge nc n htg d ci ap eaR mi nps f g,ba aei ngr j ae rn i su h a t a s
io d

E. HASIL PENGAMATAN
1. Nitrasi Fenol
N

Pertanyaan

o
1

Pencampuran

Pengamatan
asam

nitrat, Terjadi

panas

(reaksi

aquades dan asam sulfat pekat eksotermis), larutan berwarna


2
3

(larutan A)
Setelah didinginkan 5C

bening
Suhu
turun/dingin,

Pencampuran larutan A + fenol

bening
Larutan bening + kristal fenol
putih

larutan

hitam (ada

Setelah

dijaga

endapan). Panas, ada bau.


20-25C Suhu turun, warna tetap hitam

selama 15 menit
Setelah suhu dijaga

fenol larut dalam larutan A


30-35C Suhu naik, warna tetap hitam

suhu

selama 15 menit
Setelah penambahan air es

fenol larut dalam larutan A


Larutan menjadi dingin, warna

tetap hitam dan kental


Setelah ekstraksi dengan corong Terbentuk 2 lapisan,
pisah

lapisan

coklat (atas) dan hitam (bawah)

2. Analisis Produk dengan KLT


N

Pertanyaan

Pengamatan

o
1

Berapa noda yang tampak setelah Dua

diuapi iod?
Berapa harga Rf masing-masing?

noda

coklat)
Orange=

(orange

dan

0,15

dan

coklat=0,086
Rumus yang digunakan untuk menghitung Rf:
jarak yang ditempuh senyawa
Rf =
jarak yang ditempu pelarut
noda orange=
noda hijau=

0,75 cm
=0,15
5 cm

0,43 cm
=0,086
5 cm

F. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini kita melakukan 2 langkah umum yang
saling berkaitan 1 sama lain, yaitu nitrasi fenol dan pengujian
produk

dengan

kromatografi

lapis

tipis.

Pada

nitrasi

fenol,

dicampurkan asam nitrat pekat dengan aquades lalu ditambahkan


asam sulfat pekat dan dinginkan, hal ini dimaksudkan untuk
membuat larutan A yang akan dicampur dengan fenol. Asam sulfat
disini betindak sebagai katalis asam lewis yang akan mempecepat
tejadinya reaksi. Dalam reaksi ini yang betindak sebagai elektrofilik
adalah +NO2. Asam sulfat mampu merebut suatu gugus hidroksil dari
dalam asam nitrat sehingga dihasilkan

NO2, yang merupakan

elektrofil. Elektrofil ini dapat menyerang electron pi pada suatu

cincin benzene untuk menghasilkan karbokation yang terstabilkan


oleh resonansi. Asam nitat pekat dicampur dengan aquades agar
konsentrasinya tidak terlalu pekat. Dalam percobaan ini juga djaga
agar suhu hanya 50C hal ini bbetujuan untuk menjaga tingkat
keasaman dalam larutan, menjaga agar asamsulfat tetap hanya
bertindak sebagai katalis.
Setelah larutan dicampurdengan fenol, larutan yang awalnya
berwarna bening berubah menjadi berwarna hitam dan timbul bau
yang menyengat. Suhu didalam Erlenmeyer dijaga pada suhu
uangan yaitu berkisar 20-250C, hal ini agar fenol larut sempurna
dalam larutan A. Seperti kita tahu fenol memiliki kemungkinan
terbaka pda suhu tinggi, untuk itu sebelum suhu dinaikkan terlebih
dahulu diaduk dan didiamkan selama 15 menit aga fenolnya melarut
secara sempurna. Setelah itu, suhu dinaikkan hingga 30-350C, hal ini
bertujuan untuk mempercepat reaksi dan diamkan 15 menit agar
reaksi berlangsung sempurna. Selanjutnya, ditambahkan air es yang
betujuan untuk menurunkan suhu dalam larutan dan menghentikan
reaksi.
Larutan ini kemudian diekstraksi dengan metilen klorida di
dalam corong pisah hingga terbentuk 2 lapisan, lapisan atas
berwarna merah kecoklatan dan lapisan bawah berwarna hitam.
Kedua lapisan ini dapat terbentuk karena adanya perbedaan massa
jenis dari kedua senyawa. Tujuan penambahan metilen klorida saat
ekstraksi adalah untuk memisahkan larutan nitrofenol dengan air.
Lapisan atas larutan yang telah diekstraksi ditambahkan dengan
Na2SO4 yang bertujuan untuk mengikat air yang masih ada dalam
larutan. Kemudian diuapkan untuk memperoleh hasil nitrasi fenol.
Langkah

selanjutnya

adalah

pengujian

produk

dengan

kromatografi lapis tipis. Sebelumnya, chamber diiisi dengan benzene dan


selanjutnya ditutup agar jenuh dengan benzene. Setelah didapatkan fase organic dr
nitrasi fenol, produk nitrasi fenol tersebut ditotolkan pada lempeng tips silica gel dan
dimasukkan kedalam chamber, dielusi dengan eluen benzene dan dihentikan jika eluen

telah mencapai garis batas atas. Setelah kromatogram dikeringkan selanjutnya


diuapkan dengan iod, hal ini bertujuan untuk menegaskan warna yang terdapat dalam
kromatogram. Setelah didapatkan warna dihitung Rf nya dan didapatkan harga Rf =
0,15 (orange) dan Rf=0,086 (coklat).
Suatu elektrofil dapat menyerang electron pi suatu cincin benzene pada
percobaan ini didapat:
OH

NO2 +

OH

+
H NO2

OH

OH

+
H

NO2

NO
H 2

-OSO3H

OH

H2SO4

NO2

Hasil dari reaksi diatas adalah o-nitrofenol, hasil reaksi dapat berupa o-nitrofenol, pnitrofenol. Fenol merupakan pengarah orto para sedangkan NO 2 merupakan pengarah
meta. Tapi disini NO2 hanya bertindak sebagai elektrofil, sehingga produk yang
dibentuk akan lebih dominan o-nitrofenol dan p-nitrofenol.
OH

OH

O2N

O2N

m-nitrofenol

p-nitrofenol

Dengan adanya gugus pendorong maka akan menyebabkan keasaman fenol menjadi
berkurang, karena gugus pendorong akan mengumpulkan (mengonsentrasikan) muatan
negative, keadaan ini menyebabkan cincin jadi kurang stabil sehingga kekuatan
asamnya lemah. Sedangakan gugus penarik sebaliknya akan menyebabkan keasaman
fenol bertambah, karena gugus penarik akan mendispersikan(memancarkan) muatan
negative, keadaan ini menyebabkan cincin menjadi lebih stabil sehingga kekuatan
asamnya semakin kuat. Jadi pada percobaan ini o-nitrofenol dan p-nitrofenol yang

dihasilkan memiliki kekuatan asam yang lebih tinggi jika dibanding fenol, karena
adanya gugus penarik electron yaitu NO2.
G. KESIMPULAN
1. Prinsip dasar kromatografi lapis tipis adalah distribusi komponen sampel
antara dua fase berdasarkan perbedaan kecepatan perpindahan masing-masing
komponen, yakni fase diam dan fase gerak. Adsorben padat pada
percobaan ini adalah lempeng tipis silica gel dan bertindak sebagai fasa diam,
sedangkan eluen benzene bertindak sebagai fasa gerak.
2. Didapatkan hasil Rf adalah orange= 0,15 dan coklat=0,086.
3. Adanya subtituen NO2 yang merupakan gugus penarik electron menyebabkan
cincin lebih stabil sehingga kekuatan asamnya juga meningkat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

(2013).

Petunjuk

Praktikum

Kimia

Organik.

Semarang:

Laboratorium Pendidikan Kimia Jurusan Tadris Kimia FITK IAIN


Walisongo.
Basset, J dkk. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia Analisis Kuantitatif Anoganik. (
alih bahasa: A. Handyana P dan L Setiono). Jakata: EGC
Basset, J., R.C. Denney, G.H. Jeffery, J. Mendham, Alih bahasa: Hadyana
Pudjaatmaka dan L. Setiono. (1994). Buku Ajar Vogel Kimia Analisis
Kuantitatif Anorganik. Ed. 4. Jakarta: EGC.
Fesenden, R.J dan J.S.Fesenden.1982.Kimia Organik. Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga
Gritter, Roy J., James M. Bobbitt, Arthur E. Schwarting, 1991, Pengantar
Kromatograf, edisi kedua, Bandung : ITB

HAM, Mulyono. (2009). Kamus Kimia. Jakarta: Bumi Aksara.


Hart, Harold, dkk. (2003). Kimia Organik: suatu kuliah singka. Jakarta:
Erlangga.
Ibrahim, Sanusi dan Marham Sitorus. (2013). Teknik Laboratorium Kimia
Organik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
M. Keulemans.A.I, 959, Gas Chromatography, Edisi ke 2, Reinhold
Publishing Corp: New Yok.
Riswiyanto.2009. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga
Wonorahardjo, Surjani. (2013). Metode-metode Pemisahan Kimia. Jakarta:
Indeks.

Semarang, 30 Mei 2014


Mengetahui,
Dosen Pengampu

(R.Arizal Firmansyah, M.Si)


(Munadhiroh)

Praktikan