Anda di halaman 1dari 6

Kohesi Dan Adhesi

Kohesi dan Adhesi merupakan bentuk gaya tarik menarik antar partikel. Ikatan
antar partikel zat tidak hanya terjadi pada zat yang sama. Tetapi dapat juga
terjadi pada dua zat yang berbeda. Ikatan yang terjadi merupakan gaya tarikmenarik antar partikel. Gaya tarik antar partikel dibedakan menjadi dua,
yaitu gaya kohesi dan gaya adhesi.

Konsep kohesi dan adhesi


Pengertian Gaya Kohesi Dan Adhesi
Gaya Kohesi
Gaya kohesi adalah gaya tarikmenarik dua partikel atau lebih dari partikel yang
sejenis. Mengakibatkan sebuah zat tidak dapat menempel pada zat yang lain.
Contoh: Air tidak dapat menempel pada daun talas.

Contoh gaya kohesi, air tidak menempel pada daun talas


Setiap zat memiliki partikel-partikel yang senantiasa tarik-menarik. Akibat tarikmenarik itu terjadilah kohesi. Kohesi adalah gaya tarik-menarik antara partikelpartikel yang sejenis. Contohnya pada sebuah gelas terjadi tarik menarik antara
partikel-partikel gelas, pada air terjadi tarik menarik antara partikel-partikel air,
dan pada raksa terjadi tarik-menarik antara partikel-partikel raksa.
Gaya Adhesi
Gaya adhesi adalah gaya tarik-menarik dua partikel atau lebih dari partikel yang
tidak sejenis. Mengakibatkan sebuah zat dapat menempel pada zat yang lain
(tetapi bukan gaya magnet atau gaya tarik grafitasi bumi). Contoh: Cat dapat
menempel pada tembok, kapur dapat menempel pada papan tulis.

Contoh gaya adhesi, cat yang menempel pada kayu


Ketika air dimasukkan ke dalam gelas, terjadilah tarik menarik antara partikelpartikel air dengan partikel-partikel gelas, sehingga terjadi adhesi. Adhesi adalah
gaya tarikmenarik di antara partikel-partikel yang tidak sejenis. Contohnya pada
gelas yang diisi air, terjadi gaya tarikmenarik antara partikel-partikel gelas
dengan partikel-partikel raksa, pada gelas yang diisi raksa terjadi gaya
tarikmenarik antara partikel-partikel gelas dengan partikel-partikel air, pada
papan tulis dengan kapur terjadi gaya tarik menarik antara partikel-partikel
papan tulis dengan partikel kapur, dan pada kertas dengan pensil terjadi gaya
tarik-menarik antara partikel-partikel kertas dengan partikel-partikel pensil.
Percobaan Kohesi Dan Adhesi
Alat dan bahan percobaan kohesi dan adhesi
Dua buah tabung reaksi.
Minyak goreng.
Langkah kerja percobaan kohesi dan adhesi
Siapkan dua buah tabung reaksi A dan tabung reaksi B.
Tabung reaksi A olesilah dengan minyak goreng, Tabung reaksi B tidak diolesi
minyak goreng.
Tuanglah air pada kedua tabung reaksi tersebut.
Amati permukaan air pada tabung reaksi A dan tabung reaksi B. Samakah
kelengkungan permukaannya? Mengapa demikian?
Hasil percobaan kohesi dan adhesi

Hasil Percobaan Kohesi Dan Adhesi


Ternyata permukaan air pada kedua tabung reaksi tersebut tidak sama. Tabung
reaksi A yang diolesi minyak goreng ternyata kelengkungan permukaan airnya

berbentuk cembung (meniskus cembung). Sedangkan tabung reaksi B


kelengkungan permukaan airnya berbentuk cekung (meniskus cekung). Apa yang
dapat kita jelaskan dari peristiwa itu?
Pada tabung reaksi A terjadi peristiwa kohesi air lebih besar daripada adhesi air
dengan permukaan tabung reaksi yang diolesi minyak goreng. Pada tabung
reaksi B kohesi air lebih kecil dari pada adhesi air dengan permukaan tabung
reaksi. Permukaan zat cair yang bersentuhan dengan dinding tabung
membentuk sudut disebut sudut kontak. Sudut kontak meniskus cembung
mempunyai nilai lebih besar dari 900 , sedangkan meniskus cekung memiliki
sudut kontak lebih kecil dari 900.
Meniskus Cekung dan Meniskus Cembung
Gaya adhesi dan kohesi dapat menyebabkan beberapa bentuk permukaan zat
cair berbeda-beda. Ada yang berbentuk cembung dan ada yang berbentuk
cekung, yang disebut dengan miniskus. Miniskus cembung terjadi apabila zat cair
tidak membasahi dinding. Sedangkan miniskus cekung terjadi apabila zat cair
dapat membasahi dinding.

Bentuk permukaan air pada tabung reaksi terlihat cekung, peristiwa ini
dinamakan meniskus cekung. Meniskus cekung terjadi karena gaya tarikmenarik
antarpartikel air dan kaca (adhesi) lebih besar daripada gaya tarik-menarik
antarpartikel air (kohesi). Hal ini menyebabkan air membasahi dinding kaca.
Bentuk permukaan raksa pada tabung reaksi terlihat cembung, peristiwa ini
dinamakan meniskus cembung. Meniskus cembung terjadi karena gaya tarikmenarik antarpartikel air dan kaca (adhesi) lebih kecil daripada gaya tarikmenarik antarpartikel air (kohesi). Hal ini menyebabkan raksa tidak membasahi
dinding kaca. Pernahkah kita memerhatikan air pada daun talas? Air tidak dapat
membasahi daun talas karena tetesan air di daun talas selalu membentuk bolabola kecil. Atau dapat dikatakan gaya kohesi molekul-molekul air lebih besar
dari gaya adhesi molekul air dengan molekul daun talas.
Selain mengakibatkan bentuk permukaan zat (miniskus) cair berbeda-beda.
Adanya gejala kapilaritas dan tegangan permukaan merupakan akibat gaya
kohesi dan adhesi.

V.

VISKOSITAS DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1. Teori Dasar Viskositas merupakan suatu sifat fluida yang mendasari diberikannya
tahanan terhadap tegangan geser oleh fluida tersebut. Viskositas sering diartikan sebagai
kekentalan. Viskositas sebenarnya disebabkan oleh kohesi dan pertukaran momentum
molekuler di antara lapisan-lapisan fluida dan pada waktu berlangsungnya aliran, efek ini
terlihat sebagai tegangan tangensial atau tegangan geser di antara lapisan yang bergerak.
Akibat adanya gradien kecepatan, akan menyebabkan lapisan fluida yang lebih dekat pada
plat yang bergerak, dan akan diperoleh kecepatan yang lebih besar dari lapisan yang lebih
jauh. Cairan yang mempunyai viskositas lebih tinggi akan lebih lambat mengalir didalam
pipa dibandingkan cairan yang viskositasnya lebih rendah. Sebuah benda yang bergerak
dalam fluida yang punya viskositas lebih tinggi mengalami gaya gesek viskositas yang lebih
besar daripada jika benda tersebut bergerak didalam fluida yang viskositasnya lebih rendah.
Tujuan mempelajari viskositas ini adalah memahami bahwa benda yang bergerak di dalam
fluida akan mendapatkan gesekan yang disebabkan oleh kekentalan fluida tersebut. Selain itu,
dapat menentukan koefisien kekentalan dari fluida. Faktor-faktor yang mempengaruhi
viskositas antara lain adalah koefisien kekentalan zat cair itu sendiri, massa jenis dari fluida
tersebut, bentuk atau besar dari partikel fluida tersebut, karena cairan yang partikelnya besar
dan berbentuk tak teratur lebih tinggi dari pada yang partikelnya kecil dan bentuknya teratur.
Selain itu juga suhu, semakin tinggi suhu cairan semakin kecil viskositasnya, semakin rendah
suhunya maka semakin besar viskositasnya.

2. Aplikasi Teori Aplikasi dari viskositas adalah pelumas mesin. Pelumas mesin ini
biasanya kita kenal dengan nama oli. Oli merupakan bahan penting bagi kendaraan bermotor.
Oli yang dibutuhkan tiap-tiap tipe mesin kendaraan berbeda-beda karena setiap tipe mesin
kendaraan membutuhkan kekentalan yang berbeda-beda. Kekentalan ini adalah bagian yang
sangat penting sekali karena berkaitan dengan ketebalan oli atau seberapa besar resistensinya
untuk mengalir. Sehingga sebelum menggunakan oli merek tertentu harus diperhatikan
terlebih dahulu koefisien kekentalan oli sesuai atau tidak dengan tipe mesin. Memilih dan
menggunakan oli yang baik dan benar untuk kendaraan bermotor merupakan langkah tepat
untuk merawat mesin dan peralatan kendaraan agar tidak cepat rusak dan mencegah
pemborosan. Masyarakat umum beranggapan bahwa fungsi utama oli hanyalah sebagai
pelumas mesin. Padahal oli memiliki fungsi lain, yakni sebagai pendingin, pelindung karat,
pembersih dan penutup celah pada dinding mesin. Sebagai pelumas mesin oli akan membuat
gesekan antar komponen didalam mesin bergerak lebih halus dengan cara masuk kedalam
celah-celah mesin, sehingga memudahkan mesin untuk mencapai suhu kerja yang ideal.
Viskositas dari oli sangat diperhitungkan untuk meminimalisir gaya gesek yang ditimbulkan
oleh mesin yang bergerak dan terkontak satu terhadap yang lain sehingga mencegah

terjadinya keausan. Pada permesinan bagian yang paling sering bergesekan adalah piston, ada
banyak bagian lain namun gesekannya tak sebesar yang dialami piston. Disinilah kegunaan
oli. Oli memisahkan kedua permukaan yang berhubungan sehingga gesekan pada piston
diperkecil. Selain itu, oli juga bertindak sebagai fluida yang memindahkan panas ruang bakar
yang mencapai 1000-1600 derajat celcius ke bagian lain mesin yang lebih dingin, sehingga
mesin tidak over heat (sebagai pendingin). Pembersih mesin dari sisa pembakaran dan
deposit senyawa karbon yang masuk dalam ruang bakar supaya tidak muncul endapan
lumpur. Teknologi mesin yang terus berkembang menuntut kerja pelumas semakin lengkap,
seperti penambahan anti karat dan anti foam. Semakin kental oli, maka lapisan yang
ditimbulkan menjadi lebih kental. Lapisan halus pada oli kental memberi kemampuan ekstra
menyapu atau membersihkan permukaan logam yang terlumasi. Sebaliknya oli yang terlalu
tebal akan memberi resitensi berlebih mengalirkan oli pada temperatur rendah sehingga
mengganggu jalannya pelumasan ke komponen yang dibutuhkan. Untuk itu, oli harus
memiliki kekentalan lebih tepat pada temperatur tertinggi atau temperatur terendah ketika
mesin dioperasikan karena nilai viskositas masing-masing oli akan berkurang jika suhu cairan
dinaikkan. Suhu semakin tinggi diikuti makin rendahnya viskositas oli atau sebaliknya.
Beberapa kriteria yang penting yang harus dipenuhi oleh oli antara lain :
1.
Viskositas harus cukup kental untuk menahan agar bagian peralatan yang bergerak
relatif terpisah, tetapi juga harus mencegah kebocoran dari segel.
2.

Fluida harus cukup pada saat awal yaitu pada saat peralatan masih dingin.

3.

Dapat membentuk film yang cukup kuat untuk pelumasan perbatasan.

4.

Tahan terhadap oksidasi suhu tinggi.

5.
Mengandung deterjen dan dispersan cukup untuk menyerap endapan atau lumpur
yanga terbentuk.
6.

Tidak membentuk emulsi dengan air yang masuk dari segel yang bocor.

Dengan tingkat kekentalan yang disesuaikan dengan kapasitas volume maupun kebutuhan
mesin. Maka semakin kental oli, tingkat kebocoran akan semakin kecil, namun disisi lain
mengakibatkan bertambahnya beban kerja bagi pompa oli. Oleh sebab itu, peruntukkan bagi
mesin kendaraan Baru (dan/atau relatif baru berumur dibawah 3 tahun) direkomendasikan
untuk menggunakan oli dengan tingkat kekentalan minimum SAE10W. Sebab seluruh
komponen mesin baru (dengan teknologi terakhir) memiliki lubang atau celah dinding yang
sangat kecil, sehingga akan sulit dimasuki oleh oli yang memiliki kekentalan tinggi.
Selain itu kandungan aditif dalam oli, akan membuat lapisan film pada dinding silinder guna
melindungi mesin pada saat start. Sekaligus mencegah timbulnya karat, sekalipun kendaraan
tidak dipergunakan dalam waktu yang lama. Disamping itu pula kandungan aditif deterjen
dalam pelumas berfungsi sebagai pelarut kotoran hasil sisa pembakaran agar terbuang saat
pergantian oli. Oli jenis mesin diesel ini memerlukan tambahan aditif dispersant dan
detergent untuk menjaga oli tetap bersih karena menghasilkan kontaminasi jelaga sisa

pembakaran yang tinggi. Sedangkan bila oli yang digunakan sudah tipe sintetik maka tidak
perlu lagi diberikan bahan aditif lain karena justru akan mengurangi kireja mesin bahkan
merusaknya. Tingkat kekentalan oli disebut Viscosity Grade, yaitu ukuran kekentalan dan
kemampuan oli untuk mengalir pada temperatur tertentu menjadi prioritas terpenting dalam
memilih oli. Kode pengenal oli adalah berupa huruf SAE yang merupakan singkatan dari
Society of Automotive Engineers.
Selanjutnya angka yang mengikuti dibelakangnya, menunjukkan tingkat kekentalan oli
tersebut. Misalnya oli yang bertuliskan SAE 15W-50, berarti oli tersebut memiliki tingkat
kekentalan SAE 10 untuk kondisi suhu dingin dan SAE 50 pada kondisi suhu panas. Semakin
besar angka yang mengikuti kode oli menandakan semakin kentalnya oli tersebut. Sedangkan
huruf W yang terdapat dibelakang angka awal, merupakan singkatan dari Winter. Dengan
kondisi seperti ini, oli akan memberikan perlindungan optimal saat mesin start pada kondisi
ekstrim sekalipun. Sementara itu dalam kondisi panas normal, idealnya oli akan bekerja pada
kisaran angka kekentalan 40-50 menurut standar SAE.
Dalam penggunaan sehari-hari, viskositas dikenal sebagai ukuran ketahanan oli untuk
mengalir dalam mesin kendaraan. Zat cair dan gas memiliki viskositas, hanya saja zat cair
lebih kental (viscous) daripada gas. Viskositas oli didefinisikan dengan nomor SAES
(Society of Automotive Engineers). Contoh pada sebuah pelumas tertulis :
API SERVICE SJ
SAE 20W 50