Anda di halaman 1dari 22

RESUME BUKU PENGANTAR PENDIDIKAN (Prof. Dr.

Umar
Tirtaraharjda & Drs. S. L. La Sulo)

RESUME
BUKU PENGANTAR PENDIDIKAN
(Prof. Dr. Umar Tirtaraharjda & Drs. S. L. La Sulo)
Oleh: Eka Pratiwi (1413034015)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI

JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

BAB 1 HAKIKAT MANUSIA DAN PENGEMBANGANNYA


A. Sifat Hakikat Manusia
Sifat hakikat manusia menjadi bidang kajian filsafat, khususnyafilsafat antropologi. Hal ini
menjadi keharusan karena pendidikan bukan hanya sekadar soal praktek melainkan praktek
yang berlandasan dan bertujuan. Sedangkan landaasan dan tujuan pendidikan itu bersifat
filosofis normatif.
1. Pengertian Sifat Hakikat Manusia
Sifat hakikat manusia diartikan sebagai cirri-ciri karakteristik, yang secara prinsipil ( jadi
bukan hanya gradual ) membedakan manusia dari hewan. Meskipun antara manusia dan
hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya. Bahkan beberapa filosof
seperti Socrates menamakan manusia itu zoon politicon ( hewan yang bermasyarakat ), Max
Scheller menggambarkan manusia sebagai Das Kranke tier ( Hewan yang sakit ) yang selalu
gelisah

dan

bermasalah.

Kenyataan dan pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan yang keliru, mengira bahwa
hewan dan manusia itu hanya berbeda secara gradual yaitu suatu perbedaan yang dengan
melalui proses rekayasa dapat dibuat sama keadaannya, misalnya air yang karena perubahan
temperature lalu menjadi es. Seolah-olah dengan kemahiran rekayasa pendidikan, orang
hutan dapat dirubah menjadi manusia.
2. Wujud Sifat Hakikat Manusia
Wujud sifat hakikat manusia yang dikemukakan oleh eksistensialisme, dengan maksud
menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan, yaitu:

a. Kemampuan menyadari diri


Kaum Rasionalisme menunjuk kunci perbedaan manusia dengan hewan pada adanya
kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia. Berkat adanya kemampuan
menyadari diri yang dimiliki manusia, maka manusia menyadari bahwa dirinya (akunya)
memiliki ciri yang khas atau karakteristik diri. Hal ini yang menyebabkan manusia dapat
membedakan dirinya dengan aku-aku yang lain.

b. Kemampuan berinteraksi
Manusia merupakan makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menerobos dan mengatasi
batas-batas yang membelenggu dirinya. Kemempuan menempatkan diri dan menerobos inilah
yang disebut dengan kemempuan bereksistensi. Adanya kemampuan bereksistensi inilah pula
yang membedakan manusia sebagai makhluk human dari hewan selaku mekhluk infra
human, di mana hewan menjadi onderdil dari lingkungan, sedangkan manusia menjadi
manajer terhadap lingkungan. Kemampuan bereksistensi perlu dibina melalui pendidikan.
Peserta didik diajar agar belajar dari pengalamannya, belajar mengantisipasi suatu keadaan
dan peristiwa, belajar melihat prospek masa depan serta mengembangkan daya imajinasi
kreatif sejak dari masa kanak-kanak.
c.

Kata hati
Kata hati merupakan kemampuan membuat keputusan tentang yang baik/benar dan yang
buruk/salah bagi manusia sebagai manusia. Dalam kaitannya dengan moral, kata hati
merupakan petunjuk bagi moral/ perbuatan. Usaha untuk mengubah kata hati yang tumpul
menjadi kata hati yang tajam adalah pendidikan kata hati ( gewetan forming). Realisasinya
dapat ditempuh dengan melatih akal kecerdasan dan kepekaan emosi. Tujuannya agar orang
memiliki keberanian moral yang didasari oleh kata hati yang tajam.

d. Moral
Moral yang sinkron dengan kata hati yang tajam yaitu yang benar-benar baik bagi manusia
sebagai manusia merupakan moral yang baik atau moral yang tinggi atau luhur. Sebaliknya
perbuatan yang tidak sinkron dengan kata hati yang tajam ataupun merupakan realisasi dari
kata hati yang tumpul disebut moral yang buruk, lazimnya disebut tidak bermoral.
e.

Tanggung jawab

Tanggung jawab dapat diartikan sebagai keberanian untuk menentukan bahwa sesuatu
perbuatan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia, dan bahwa hanya karena itu perbuatan
tersebut dilakukan, sehingga sanksi apapun yang dituntutkan (oleh kata hati, oleh masyarakat,
oleh agama-agama), diterima dengan penuh kesadaran dan kerelaan. Dan uraian ini menjadi
jelas betapa pentingnya pendidikan moral bagi peserta didik baik sebagai pribadi maupun
sebagai anggota masyarakat.
f.

Rasa kebebasan (kemerdekaan)


Merdeka adalah rasa bebas (tidak merasa terikat oleh sesuatu), tetapi sesuai dengan tuntutan
kodrat manusia. Kemerdekaan dalam arti yang sebenarnya memang berlangsung dalam
keterikatan. Kemerdekaan berkaitan erat dengan kata hati dan moral.

g. Kesediaan melaksanakan kewajiban dan hak


Kewajiban dan hak adalah dua macam gejala yang timbul sebagai manifestasi dari manusia
sebagai makhluk social. Yang satu ada hanya oleh karena adanya yang lain. Tak ada hak
tanpa kewajiban. Jika seseorang mempunyai hak untuk menuntut sesuatu maka tentu ada
pihak lain yang berkewajiban untuk memenuhi hak tersebut (yang pada saat itu belum
dipenuhi), begitu sebaliknya.
h. Kemampuan menghayati kebahagiaan
Adalah suatu istilah yang lahir dari kehidupan manusia. Penghayatan hidup yang disebut
kebahagiaan ini meskipun tidak mudah untuk dijabarkan tetapi tidak sulit untuk dirasakan.
Kebahagiaan tidak cukup digambarkan hanya sebagai himpunan dari pengalamanpengalaman yang menyenangkan saja, tetapi lebih dari itu, yaitu merupakan integrasi dari
segenap kesenangan, kegembiraan, kepuasan, dan sejenisnya dengan pengalamanpengalaman pahit dan penderitaan. Proses integrasi dari kesemuanya itu (yang
menyenangkan maupun yang pahit) menghasilkan suatu bentuk penghayatan hidup yang
disebut bahagia.
B. Dimensi-dimensi Hakikat Manusia serta Potensi, Keunikan, dan Dinamikanya
1. Dimensi Keindividualan
Lysen mengartikan individu sebagai orang-seorang, sesuatu yang merupakan suatu
keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in devide). Tidak ada individu yang identik di muka
bumi. Dikatakan bahwa individu bersifat unik (tidak ada tara dan bandingannya). Karena

adanya individualitas itu setiap orang memiliki kehendak, perasaan, cita-cita, kecenderungan,
semangat, dan daya tahan yang berbeda. Kesanggupan untuk memikul tanggung jawab
sendiri merupakan cirri yang sangat esensial dari adanya individualitas pada diri manusia.
2. Dimensi Kesosialan
Setiap orang dapat saling berkomunikasi yang pada hakikatnya didalamnya terkandung
unsure memberi dan menerima. Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih
jelas pada dorongan untuk bergaul.
3. Dimensi kesusilaan
Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Kesusilaan
diartikan mencangkup etika dan etiket. Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan
nilai-nilai.
4. Dimensi Keberagamaan
Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah
sehingga memerlukan tempat bertopang.
C. Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia
1. Pengembangan yang Utuh
Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua factor, yaitu
kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidikan yang
disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya. Pengembangan yang utuh
dapat dilihat dari segi wujud dimensi dan arah pengembangannya.
2. Pengembangan yang Tidak Utuh
Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi di dalam
proses pengembangan jika ada unsur yang terabaikan. Pengembangan yang tidak utuh
mengakibatkan terbentuknya kepribadian yang pincang dan tidak mantap.

D. Sosok Manusia Indonesia yang Seutuhnya


Sosok manusia seutuhnya telah dirumuskan di dalam GBHN mengenai arah
pembangunan janga panjang. Dinyatakan bahwa pembangunan nasional dilaksanakan di
dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh
masyarakat Indonesia. Berarti bahwa pembangunan itu tidak hanya mengejar kemajuan
lahiriah ataupun kepuasan batiniah.

BAB II PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN


A. Pengertian Pendidikan
1. Batasan tentang Pendidikan
a. Pendidikan sebagai Proses Transformasi Budaya
Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya
dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses
transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai
yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lainlain.
b. Pendidikan sebaga Proses Pembentukan Pribadi
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang
sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses

pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum
dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha
sendiri.
c.

Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warga Negara


Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana
untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.

d. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Tenaga Kerja


Pendidikan sebagai penyimpana tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta
didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan
sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari
pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.
e.

Definisi Pendidikan Menurut GBHN


GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional
sebagai berikut: pendidikan nasiaonal yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan
berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan
kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab
atas

pembangunan

bangsa.

2. Tujuan dan Proses Pendidikan


a. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-niai yang baik, luhur, pantas, benar dan
indah untuk kehidupan. Tujuan pendidikan berfungsi untuk memberikan arah kepada segenap
kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan
pendidikan.
b. Proses Pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh
pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan
menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya ,
pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan
utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar
yang optimal.
3. Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)
PSH bertumpu pada keyakinan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan, PSH
merupakan sesuatu proses berkesinambungan yang berlangsung sepanjang hidup. Ide tentang

PSH yang hampir tenggelam, yang dicetuskan 14 abad yang lalu, kemudian dibangkitkan
kembali oleh comenius 3 abad yang lalu (di abad 16). Selanjutnya PSH didefenisikan sebagai
tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan.
Pengorganisasian dan penstruktursn ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia
yang paling muda sampai paling tua. (Cropley:67)
Berikut ini merupakan alasan-alasan mengapa PSH diperlukan:
Rasional
Alasan keadilan
Alasan ekonomi
Alasan faktor sosial yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja, dan
emansipasi wanita dalam kaitannya dengan perkembangan iptek
Alasan perkembangan iptek
Alasan sifat pekerjaan.
4. Kemandirian dalam Belajar
a. Arti dan Prinsip yang Melandasi
Kemandirian belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong
oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dantanggung jawab sendiri dari pembelajar. Bertumpu
pada prinsip bahwa individu yang belajar hanya akan sampai kepada perolehan hasil belajar,
mulai keterampilan, pengembangan penalaran, pembentukan sikap sampai pada penemuan
diri sendiri, apabila ia mengalami sendiri dalam proses perolehan hasil belajar.

b. Alasan yang menopang


Perkembangan iptek berlangsung semakin pesat
2. Penemuan iptek tidak mutlak benar 100%, bersifat relatif
3. Persamaan pendapat para ahli psikologi, bahwa peserta didik mampu memahami konsepkonsep yang rumit dan abstrak jika disertai contoh
4. Dalam proses pendidikan dan pembelajaran pengembangan konsep seharusnya tidak
dilepaskan dari pengembangan sikap dan penanaman nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.
B. Unsur-unsur Pendidikan
Proses pendidikan melibatkan banyak hal, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Peserta didik
Pendidik
Interaksi edukatif
Tujuan pendidikan
Materi pendidikan

6. Alat dan metode


7. Lingkungan pendidikan
BAB III - LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN SERTA PENERAPANNYA
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak darisejumlah
landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat
penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan
masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis,
sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan
pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk
mnjemput masa depan.
Bab III ini akan memusatkan paparan dalam berbagai landasan dan asas pendidikan, serta
beberapa hal yang berkaitan dengan penerapannya. Landasan-landasan pendidikan tersebut
adalah filosofis, kultural, psikologis, serta ilmiah dan teknologi. Sedangkan asas yang dikalia
adalah asas Tut Wuri Handayani, belajar sepanjang hayat, kemandirian dalam belajar.
A.

Landasan Pendidikan
1.

Landasan Filososfis

a. Pengertian Landasan Filosofis


Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan,
meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat
pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita
kenal sampai saat ini adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme
dan Progresivisme dan Ekstensialisme
1.

Esensialisme

Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts)
atau bahan ajar esensial.
2.

Perenialisme

Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial)
yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.
3.

Pragmatisme dan Progresifme

Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan
praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang
pendidikan tradisional.
4.

Rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga


pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.
b. Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional
Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan
pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4
menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa
Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia.
2.

Landasan Sosiolagis

a. Pengertian Landasan Sosiologis


Dasar

sosiolagis

berkenaan

dengan

perkembangan,

kebutuhan

dan

karakteristik

masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan polapola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh
sosiolagi pendidikan meliputi empat bidang:
1.

Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.

2.

hubunan kemanusiaan.

3.

Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.

4.

Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan

kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.


b. Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem
pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan
semakin meningkat dan komplek.
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan
perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal
Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah
Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4,
pemasyarakatan P4 nonpenataran).
3. Landasan Kultural
a. Pengertian Landasan Kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat
dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi
penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.

Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga


perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma
baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut
transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan
transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.
b. Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional
Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya
pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal
ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan
negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan.
4.

Landasan Psikologis

a. Pengertian Landasan Filosofis


Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak.
Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan
merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan
penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.
Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta
didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam
menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran
serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan.
b. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami
peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu
proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.
5.

Landasan Ilmiah dan Teknologis

a. Pengertian Landasan IPTEK


Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk
mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke dalam penyelenggaraan
pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah
mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan
bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang

sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan
fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.
b. Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih
baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya
pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan
iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan
hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi
masyarakat
B.

Asas-asas Pokok Pendidikan

Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir,
baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat
beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan
pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar
Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.
1.

Asas Tut Wuri Handayani

Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas
yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P.
Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo
dan Ing Madyo Mangun Karso.
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:
Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)
Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)
Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)
2.

Asas Belajar Sepanjang Hayat

Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain
terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan
diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.
Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan
kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan
kehidupan peserta didik di masa depan.
Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara
pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
3.

Asas Kemandirian dalam Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar
itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila
diperlukan.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama
sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam
melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).
BAB IV PERKIRAAN DAN ANTISIPASI
TERHADAP MASYARAKAT MASA DEPAN
Melalui pendidikan setiap masyarakat akan melestarikan nilai-nilai luhur social
kebudayaannya yang telah terukir dengan indahnya dalam sejarah bangsa tersebut. Melalui
pendidikan juga diharapkan dapat ditumbuhkan kemampuan untuk menghadapi tuntutan
objektif masa kini, baik tuntutan dari dalam maupun tuntutan karena pengaruh dari luar
masyarakat yang bersangkutan. Dan melalui pendidikan pula akan ditetapkan langkahlangkah yang dipilih masa kini sebagai upaya mewujudkan aspirasi dan harapan di masa
depan.
Dalam UU-RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan nasional Pasal 1 telah
ditetapkan antara lain bahwa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
melalui kegiatan bimbingan pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan
datang. Setelah mempelajari bab ini diharapkan dapat:
1.

Memahami beberapa kemungkinan keadaan masyarakat di masa depan, serta peranan

factor-faktor globalisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), arus


komunikasi yang semakin padat dan cepat, serta kebutuhan yang meningkat dalam layanan
professional terhadap masyarakat di masa depan tersebut.
2.

Memahami berbagai upaya pendidikan untuk mengantisipasi masa depan, baik yang

berkenaan dengan penyiapan manusia maupun yang berkenaan dengan perubahan


sosiokultural, serta pembangunan sarana pendidikan untuk mendukung upaya-upaya yang
sedang atau akan dilaksanakan.
Bagi mahasiswa calon tenaga kependidikan, utamanya guru, kajian tentang masyarakat masa
depan tersebut berdampak ganda, yakni untuk dirinya sendiri serta pada gilirannya kelak
untuk siswa-siswanya.

A.

Perkiraan Masyarakat Masa Depan


Di dalam penjelasan UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional

dinyatakan bahwa Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang
amat sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa
yang bersangkutan. Demi pemahaman dank arena adanya saling pengaruh antara pendidikan
dan latar sosiokultural, maka perlu dikemukakan terlebih dahulu pengertian kebudayaan.
Kebudayaan itu dapat:
1) Berwujud ideal yakni ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya.
2) Berwujud kelakuan yakni kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3) Berwujud fisik yakni benda-benda hasil karya manusia.
Pengertian kebudayaan yang begitu luas tersebut seringkali dipecah lagi dalam unsurunsurnya, dan sering dipandang sebagai unsur-unsur universal dari kebudayaan, yakni:
Sistem religi dan upacara keagamaan
Sistem dan organisasi kemasyarakatan
Sistem pengetahuan
Bahasa
Kesenian
Sistem mata pencarian
Sistem teknologi dan peralatan.
Perubahan yang cepat tersebut mempunyai beberapa karakteristik umum yang dapat
dijadikan petunjuk sebagai ciri masyarakat di masa depan.
1.

Kecenderungan Globalisasi
Istilah globalisasi (asal kata: global yang berarti sevara umumnya, utuhnya,

kebulatannya) bermakna bumi sebagai satu keutuhan seakan-akan tanpa tapal batas
administrasi Negara, dunia menjadi amat transparan, serta saling ketergantungan antarbangsa
di dunia semakin besar, dengan kata lain menjadikan dunia sebagai satu keutuhan, satu
kesatuan. Empat bidang kekuatan gelombang globalisasi yang paling kuat dan menonjol daya
dobraknya, yakni bidang-bidang iptek, ekonomi, lingkungan hidup, dan pendidikan.
Disamping keempat bidang tersebut, kecenderungan globalisasi juga tampak dalam
bidang

politik,

hokum

dan

hak-hak

asasi

manusia,

paham

demokrasi,

dan

sebagainya.Kecenderungan globalisasi tersebut merupakan suatu gejala yang tidak dapat


dihindari.Oleh karena itu, banyak gagasan dalam menghadapi globalisasi itu yang perlu
menekankan berpikir dan berwawasan global namun harus tetap menyesuaikan keputusan
dan tindakan dengan keadaan nyata disekitarnya.

2.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek)


Perkembangan iptek yang makin cepat dalam era globalisasi merupakan salah satu

ciri utama dari masyarakat masa depan. Percepatan perkembangan iptek tersebut terkait
dengan landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Terdapat serangkaian kegiatan
pengembangan dan pemanfaatan iptek, yakni:
Penelitian dasar (basic research)
Penelitian terapan (applied research)
Pengembangan teknologi (technological development)
Penerapan teknologi.
Biasanya langkah-langkah tersebut diikuti oleh langkah evaluasi, apakah hasil iptek tersebut
diterima oleh masyarakat, seumpama dari segi etis, politis, religius, dan sebagainya.
Ada dua pola kebudayaan dalam masyarakat, yakni masyarakat ilmuwan dan
masyarakat terdidik/nonilmuwan (scientific and literary communities), yang akan
menghambat kemajuan baik iptek maupun masyarakat itu sendiri. Untuk mengantisipasi
keadaan tersebut, dalam masyarakat masa depan maka perlu diupayakan agar setiap anggota
masyarakat memiliki wawasan yang tepat serta mengetahui terminologi beserta maksudnya
yang lazim digunakan tanpa harus menjadi pakar iptek tersebut.
3.

Perkembangan Arus Komunikasi yang Semakin Padat dan Cepat


Salah satu perkembangan iptek yang luar biasa adalah yang berkaitan dengan

informasi dan komunikasi, utamanya satelit komunikasi, komputer, dan sebagainya.Pada


umumnya bentuk komunikasi langsung (verbal ataupun nonverbal) dikenal sebagai
komunikasi antarpribadi (interpersonal communication), baik komunikasi antar dua orang
maupun komunikasi kelompok kecil dengan ciri pokok adanya dialog di antara pihak-pihak
yang berkomunikasi.Sedangkan bentuk komunikasi yang bercirikan monolog adalah
komunikasi publik, yang dibedakan atas komunikasi pembicara-pendengar dan komunikasi
massa. Proses komunikasi meliputi beberapa unsur dasar, yakni:
Sumber pesan seperti harapan, gagasan, perasaan atau perilaku yang diinginkan oleh
pengirim pesan.
Penyandian (encoding), yakni pengubahan/penerjemahan isi pesan kedalam bentuk yang
serasi dengan alat pengiriman pesan.
Transmisi (pengiriman) pesan.
Saluran.
Pembukasandian (decoding), yakni penerjemahan kembali apa yang diterima kedalam isi
pesan oleh penerima.
Reaksi internal penerima sesuai pemahaman pesan yang diterimanya.
Gangguan/hambatan (noise) yang dapat terjadi pada semua unsur dasar lainnya.

Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam upaya-upaya untuk merebut
teknologi, seperti:
Pengembangan teknologi satelit yang mutakhir.
Penggunaan teknologi digital yang mampu menyalurkan sinyal beragam menuju bentuk
ISDN (integrated service digital network).
Dibidang media cetak.
Dibidang media elektronik.
4.

Peningkatan Layanan Profesional


Salah satu ciri penting masyarakat masa depan adalah meningkatnya kebutuhan

layanan profesional dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Profesi adalah suatu
lapangan pekerjaan dengan persyaratan tertentu, suatu vokasi khusus yang mempunyai ciriciri: Expertise (keahlian), responbility (tanggung jawab), corporateness (kesejawatan).
Profesionalisasi merupakan proses pemantapan profesi sehingga memperoleh status yang
melembaga sebagai professional. Didalamnya akan terkait dengan permasalahan akreditasi,
sertifikasi, dan izin praktek. Mc Cully (1969, dari T. Raka Joni, 1981: 5-8) mengemukakan
enam tahap dalam proses profesionalisasi yakni:
a) Penetapan dan pemantapan layanan unik yang diberikan oleh suatu profesi sehingga
memperoleh pengakuan masyarakat dan pemerintah.
b) Penyepakatan antara kelompok profesi dan lembaga pendidikan prajabatan tentang standar
kompetensi minimal yang harus dimiliki oleh setiap calon profesi tersebut.
c) Akreditas
d) Mekanisme sertifikasi dan pemberian izin praktek.
e) Secara perseorangan maupun secara berkelompok, pemangku profesi bertanggung jawab
penuh terhadap segala aspek pelaksanaan tugasnya.
f) Kelompok professional memiliki kode etik, yang berfungsi ganda, yakni:
Perlindungan terhadap masyarakat agar memperoleh layanan yang bermutu.
Perlindungan dan pedoman peningkatan kualitas anggota.
B. Upaya Pendidikan dalam Mengantisipasi Masa Depan
Edgar Faure dalam surat (18 Mei 1972) yang mengantar laporan komisi Internasional
Pengembangan Pendidikan yang diketuainya, yang dikirim kepada Direktur Jendral
UNESCO, mengemukakan bahwa rumusan-rumusan tradisional dan perbaikan-perbaikan
sebagian, tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan yang belum pernah ada, yang
timbul dari tugas dan fungsi baru yang harus dipenuhi. Pengembangan pendidikan dalam
masyarakat yang sedang berubah dengan cepat haruslah dilakukan secara keseluruhan dengan

pendekatan sistematis-sistematik.Pendekatan sistematis adalah pengembangan pendidikan


dilakukan secara teratur melalui perencanaan yang bertahap. Sedang sistematik menunjuk
pada pendekatan sistem dalam proses berpikir yang mengaitkan secara fungsional semua
aspek dalam pembaruan pendidikan tersebut.
1. Tuntutan bagi Manusia Masa Depan (Manusia Modern)
Secara tersirat telah pula dibicarakan tentang tantangan-tantangan yang akan
dihadapi manusia masa depan, seperti: kemampuan menyesuaikan diri dan memanfaatkan
peluang globalisasi dalam berbagai bidang, wawasan dan pengetahuan yang memadai tentang
iptek, paling tidak bisa menggunakan teknologi yang ada tanpa harus menjadi pakar iptek,
kemampuan menyaring dan memanfaatkan arus informasi yang semakin padat dan cepat, dan
kemampuan bekerja efisien sebagai cikal bakal kemampuan profesional.
Tujuan-tujuan pendidikan dasar:
a.)

Pengembangan kehidupan siswa sebagai pribadi sekurang-kurangnya mencakup upaya

untuk:

b.)

Memperkuat dasar keimanan dan ketakwaan,


Membiasakan untuk berperilaku yang baik,
Memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar,
Memelihara kesehatan jasmani dan rohani,
Memberikan kemampuan untuk belajar, dan
Membentuk kemampuan untuk belajar.
Pengembangan kehidupan peserta didik sebagai anggota masyarakat sekurang-

kurangnya mencakup upaya untuk:


Memperkuat kesadaran hidup beragama dalam masyarakat,
Menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam masyarakat, dan
Memberikan pengetahuan serta keterampilan dasar yang diperlukan.
c.)

Pengembangan kehidupan peserta didik sebagai warga Negara sekurang-kurangnya

mencakup upaya untuk:


Mengembangkan perhatian dan pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai warga
negara Republik Indonesia,
Menanamkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa dan negara, dan
Memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk berperan serta
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
d.) Pengembangan kehidupan peserta didik sebagai anggota umat manusia mencakup upaya
untuk:

Meningkatkan harga diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat,


Meningkatkan kesadaran tentang hak asasi manusia,
Memberikan pengertian tentang ketertiban dunia,
Meningkatkan kesadaran pentingnya persahabatan antarbangsa.

e.)

Mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah dalam menguasai

kurikulum yang disyaratkan.


Tuntutan manusia Indonesia di masa depan, setelah memiliki kemampuan dasar
terutama diarahkan kepada pembekalan kemampuan yang sangat diperlukan untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan di masa depan tersebut. Beberapa diantaranya:
(1)

Ketanggapan terhadap berbagai masalah social, politik, budaya (kultural), dan

lingkungan.
(2) Kreativitas di dalam menemukan alternatif pemecahannya.
(3) Efisiensi dan etos kerja yang tinggi.
Pentingnya mengembangkan empat hal pada peserta didik, yaitu:
(1)
(2)
(3)
(4)

Kemampuan mengantisipasi perkembangan berdasarkan ilmu pengetahuan.


Kemampuan dan sikap untuk mengerti dan mengatasi situasi.
Kemampuan mengakomodasi.
Kemampuan mereorientasi.
Akhirnya dikemukakan pendapat Mayjen Sajidiman pada 10 November 1972 yang

menekankan kemampuan yang diperlukan manusia Indonesia berdasarkan fungsinya adalah:


(1) Pekerja yang terampil yang menjadi bagian utama dari mekanisme produksi (dalam arti
luas) yang harus lebih efektif dan efisien.
(2) Pemimpin dan manajer yang efektif, memiliki kemampuan berpikir, mengambil
keputusan, mengendalikan pelaksanaan dengan cakap dan berwibawa.
(3) Pemikir yang mampu menentukan/memelihara arah perjalanan dan melihat segala
kemungkinan di hari depan.
2.

Upaya Mengantisipasi Masa Depan


Kajian tentang upaya mengantisipasi masa depan melalui pendidikan akan diarahkan

pada:
Aspek yang paling berperan dalam individu untuk memberi arah antisipasi tersebut yakni
nilai dan sikap.
Pengembangan budaya dan sarana kehidupan
Tentang pendidikan itu sendiri, utamanya pengembangan sarana pendidikan. Ketiga hal
tersebut merupakan titik strategi dalam mengantisipasi masa depan.

a.) Perubahan Nilai dan Sikap


Nilai merupakan norma, acuan yang seharusnya, dan kaidah yang akan menjadi
rujukan perilaku. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari berbagai hal, seperti agama,
hukum, adat istiadat, dan moral, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Salah satu
pengaruh nilai-nilai tersebut akan tampak dalam sikap (attitude) seseorang.Kalau nilai masih
bersifat umum, maka sikap selalu terkait dengan objek tertentu dan disertai dengan
kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek tersebut (positif atau
negatif). Sebagai kemampuan internal, sikap akan sangat berperan menentukan apabila
terbuka, kemungkinan berbagai alternatif untuk bertindak. Ada tiga aspek, yaitu;
1.
Aspek kognitif
2.
Aspek afektif
3.
Aspek konatif
Pembentukan/pengubahan nilai dan sikap dalam diri seseorang dapat dilakukan
dengan berbagai cara, seperti pembiasaan, internalisasi nilai melalui ganjaran-hukuman,
keteladanan (modeling), teknik klarifikasi nilai, dan sebagainya.
b.) Pengembangan Kebudayaan
Kebudayaan mencakup unsur-unsur mulai dari sistem religi, kemasyarakatan,
pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencarian, sampai dengan sistem teknologi dan
peralatan.Pelestarian nilai-nilai luhur Pancasila sebagai inti ketahanan budaya tersebut
menjadi acuan pokok dalam memilih dan memilah segala pengaruh yang datang agar tidak
terjadi krisis identitas bangsa Indonesia.Peranan pendidikan merupakan factor menentukan
dalam membangun dan memperkuat ketahanan budaya tersebut.
c.)

Pengembangan Sarana Pendidikan


Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam mengantisipasi masa depan, karena

pendidikan selalu diorientasikan pada penyiapan peserta didik untuk berperan di masa yang
akan datang. Oleh karena itu, pengembangan sarana pendidikan sebagai salah satu prasyarat
utama untuk menjemput masa depan dengan segala kesempatan dan tantangannya.
Peningkatan mutu pendidikan dasar itu yang wajib diikuti oleh semua warga Negara akan
menjadi cikal bakal ke arah:

Peningkatan mutu pendidikan menengah dan tinggi

Terbentuknya masyarakat terdidik yang mampu terus belajar mandiri

Khusus untuk menyongsong era globalisasi yang makin tidak terbendung, terdapat beberapa
hal yang secara khusus memerlukan perhatian dalam bidang pendidikan. Santoso S.
Hamijoyo mengemukakan lima strategi dasar dalam era globalisasi tersebut yakni:
1.

Pendidikan untuk pengembangan iptek,

2.

Pendidikan untuk pengembangan keterampilan manajemen,

3.

Pendidikan untuk pengelolaan kependudukan, lingkungan, keluarga berencana, dan

kesehatan,
4.

Pendidikan untuk pengembangan sistem nilai,

5.

Pendidikan untuk mempertinggi mutu tenaga kependidikan dan kepelatihan.


Khusus untuk pendidikan tinggi, terdapat kecenderungan berkembangnya pola

pemecahan masalah secara multidisiplin. Oleh karena itu, diperlukan suatu program
pendidikan yang kuat dalam dasar keahlian yang akan memperluas wawasan keilmuan dan
membuka peluang kerja sama dengan bidang keahlian lainnya.

Bab V PENGERTIAN, FUNGSI, DAN JENIS LINGKUNGAN PEDIDIKAN


Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan
masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan. Bab ini
akan membahas tentang pengertian dan fungsi lingkungan pendidikan, tripusat pendidikan
dan pengaruh timbal balik antara tripusat pendidikan dan perkembangan peserta didik.
A.

Pengertian dan Fungsi Pendidikan


Menurut Sartain (ahli psikologi Amerika), yang dimaksud lingkungan meliputi kondisi dan
alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan,
perkembangan atau life processes.
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun
merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat besar terhadap
anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal adlam satu lingkungan yang disadari atau tidak

pasti akan mempengaruhi anak. Pada dasarny lingkungan mencakuplingkungan fidik,


lingkungan budaya, dan lingkungan sosial.
Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan
(pakaian, keadaan rumah, alat permainan, buku-buku, alat peraga, dll) dinamakan
lingkungan pendidikan.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam
interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya
pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
B.

Tripusat Pendidikan
Dilihat dari segi anak didik, tampak bahwa anak didik secara tetap hidup di dalam lingkungan
masyarakat tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara
lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah an lingkungan
masyarakat, yang disebut tripusat pendidikan.

1.

Keluarga
Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama
dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung
jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh adn berkembang
dengan baik.
Pendidikan keluarga berfungsi:
Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
Menjamin kehidupan emosional anak
Menanamkan dasar pendidikan moral
Memberikan dasar pendidikan sosial.

Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.


2.

Sekolah
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama
dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan
anak ke sekolah.
Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya.
Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya
sebagai berikut;
Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta
menanamkan budi pekerti yang baik.

Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau
tidak dapat diberikan di rumah.
Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis,
berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan
pengetahuan.
Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah,
dan sebagainya.

3.

Masyarakat
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan lingkungan keluarga dan
sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk
beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan
sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.
Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini
meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertiapengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.

C. Pengaruh Timbal Balik antara Tripusat Pendidikan Terhadap Perkembangan Peserta


Didik
Perkembangan peserta didik, seperti juga tumbuh kembang anak pada umumnya dipengaruhi
oleh berbagai factor yakni hereditas, lingkungan, prosesperkembangan, dan anugerah.
Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga
kegiatan pendidikan, yakni:
1.

pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya

2.

pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan

3.

pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.

Anda mungkin juga menyukai