Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum

Hari/tanggal : Rabu/ 6 Maret 2013

Biokimia Umum

Waktu

: 08.00 s.d. 11.00

PJP

: dr. Husnawati

Asisten

: Andi Arya CA.


Dessy E.
Hilda Nur R.

PROTEIN
Uji Asam Amino
Kelompok 15

Jannatul Ajilah

B04120124

Kanti Rahmi Fauziyah

B04120125

Devy Nur Priscaningtyas

B04120128

Indira Septianawati

B04120147

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DA N ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
Pendahuluan
Protein merupakan molekul raksasa yang terdiri dari satuan-satuan kecil
penyusunnya yang disebut asam amino yang tersusun dalam urutan tertentu,
dengan jumlah dan struktur tertentu. Molekul-molekul ini merupakan pembangun
sel hidup. Protein yang paling sederhana terdiri dari lima puluh asam amino,
teteapi ada beberapa protein yang terdiri dari ribuan asam amino (Poedjiadi 1994).
Peranan protein diantaranya sebagai katalisator, membangun sel baru, memelihara

dan mengganti sel-sel yang ada, pendukung, cadangan, sistem imun, alat gerak,
sistem transpor, dan respon kimiawi (Campbell et al. 2008).
Protein yang tersusun dari rantai asam amino akan memiliki berbagai
macam struktur yang khas pada masing-masing protein. Karena protein disusun
oleh asam amino yang berbeda secara kimiawinya, maka suatu protein akan
terangkai melalui ikatan peptida dan bahkan terkadang dihubungkan oleh ikatan
sulfida. Selanjutnya protein bisa mengalami pelipatan-pelipatan membentuk
struktur yang bermacam-macam. Adapun struktur protein meliputi struktur primer,
struktur sekunder, struktur tersier, dan struktur kuartener (Campbell et al. 2008).
Asam amino merupakan penyusun suatu protein. Melalui reaksi hidrolisis
protein telah didapatkan 20 macam asam amino yang dibagi berdasarkan gugus Rnya, berikut dijabarkan penggolongan tersebut : asam amino non-polar dengan
gugus R yang hidrofobik, antara lain Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin, Prolin,
Fenilalanin, Triptofan dan Metionin. Golongan kedua yaitu asam amino polar
tanpa muatan pada gugus R yang beranggotakan Lisin, Serin, Treonin, Sistein,
Tirosin, Asparagin dan Glutamin (Campbell et al. 2008). Beberapa reaksi uji
protein adalah percobaan kadar-N, reaksi Xantoprotein, reaksi Millon, dan reaksi
Biuret. Reaksi Ninhidrin R. CH(NH2)COOH
Reaksi Biuret larutan protein + CuSO4 + NaOH

R. CHO + NH3 + CO2.


lembahyung (Page

1989).

Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui sifat dan struktur asam amino
dan protein melalui uji-uji kualitatif dan mempelajari beberapa reaksi uji terhadap
asam amino dan protein.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada percobaan yaitu tabung reaksi, gelas piala, pipet
mohr, pipet tetes, bulp hitam, tissue, lemari asap, penangas air. Bahan yang
digunakan yaitu pereaksi Millon, pereaksi Hopkins-Cole, larutan albumin 2%,
larutan kasein 2%, larutan gelatin 2%, larutan pepton 2%, larutan fenol 2%,
larutan H2SO4 pekat, larutan ninhidrin, larutan NaOH 10%, larutan Pb-asetat,
larutan HNO3 pekat, larutan NaOH pekat, larutan CuSO4 0,1%.

Prosedur Kerja
Uji Millon. Lima tetes pereaksi Millon ditambahkan ke dalam 3 ml larutan
protein, kemudian dipanaskan. Jika pereaksi yang digunakan terlalu banyak maka
warna akan hilang pada pemanasan. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%,
larutan kasein 2%, larutan gelatin 2%, larutan pepton 2%, larutan fenol 2%.
Uji Hopkins-Cole. Dua ml bahan uji dan 2 ml pereksi Hopkins-Cole
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Melalui dinding tabung yang dimiringkan
dengan hati hati dimasukkan asam pekat (H2SO4) sehingga terbentuk lapisan dari
cairan. Setelah beberapa detik akan terbentuk cincin violet pada perbatasan kedua
lapisan cairan. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, larutan kasein 2%,
larutan gelatin 2%, dan larutan pepton 2%.
Uji Ninhidrin. Larutan ninhidrin 0,1% sebanyak 0,5ml dimasukkan ke
dalam 3 ml larutan protein. Selama 10 menit campuran tersebut dipanaskan dalam
penagas air. Perunahan warna yang terjadi diamati. Uji ini dilakukan pada larutan
albumin 2%, larutan kasein 2%, larutan gelatin 2%, dan larutan pepton 2%.
Uji Belerang. Lima ml NaOH 10% ditambahkan ke tabung reaksi 2 ml
larutan protein kemudian dididihkan beberapa menit. Larutan Pb-asetet sebanyak
2 tetes dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dididihkan kembali. Perubahan
yang terjadi diamati. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, larutan kasein
2%, larutan gelatin 2%, dan larutan pepton 2%.

Uji Xantoproteat. Larutan protein sebanyak 2ml ditambah ke dalam 1 ml


HNO3 pekat, kemudian dicampurkan hati-hati dan dipanaskan. Warna kuning tua
yang timbul dari perlakuan tersebut diamati. Tabung didinginkan, kemudian
larutan NaOH pekat ditambahkan secara perlahan sampai larutan menjadi basa.
Perunahan yang terjadi diamati. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%,
larutan kasein 2%, larutan gelatin 2%, larutan pepton 2%, dan fenol 2%.
Uji Biuret. NaOH 10% sebanyak 1 ml ditambahkan ke dalam 3 ml larutan
protein, kemudian dikocok. Larutan Cu2SO4 0,1% sebanyak satu tetes
ditambahkan dalam reaksi tersebut, kemusian dikocok apabila tidak timbul warna
maka ditambah lagi larutan Cu2SO4 sebanyak satu 1 atau 2 tetes.

Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan uji Millon
Larutan
Albumin 2%

Hasil pengamatan
+

Gelatin 2%

Kasein 2%

Pepton 2%

Warna

Cincin merah

Gambar

Fenol 2%

Cairan merah
endapan putih

Tabel 2. Hasil Pengamatan uji Hopkins-Cole


Larutan
Albumin 2%

Hasil pengamatan
+

Gelatin 2%

Kasein 2%

Pepton 2%

Warna

Gambar

Tabel 3. Hasil Pengamatan uji Ninhidrin


Larutan
Albumin 2%

Hasil pengamatan
+

Warna
Biru ungu

Gelatin 2%

Bening

Kasein 2%

Ungu

Biru ungu kehitaman

Pepton 2%

Gambar

Tabel 4. Hasil Pengamatan uji belerang


Larutan
Albumin 2%

Hasil pengamatan
+

Warna
Abu kehitaman

Gelatin 2%

Bening

Gambar

Kasein 2%

Putih

Pepton 2%

Kuning

Tabel 5. Hasil Pengamatan uji xantoproteat


Larutan

Hasil

Albumin 2%

pengamatan
+

Gelatin 2%

Warna
Pemanasan
+NaOH pekat
Kuning

Jingga

Bening

Bening

Kasein 2%

Kuning

Jingga

Pepton 2%

Bening

Jingga

Gambar

Fenol 2%

Kuning

jingga

Tabel 6. Hasil Pengamatan uji biuret


Larutan
Albumin 2%

Hasil pengamatan
+

Warna
Ungu

Gelatin 2%

Ungu-kuning

Kasein 2%

Ungu

Pepton 2%

Ungu-kuning

Fenol 2%

Biru

Gambar

Pembahasan
Pereaksi millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam
nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan
endapan yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Protein yang
mengandung tirosin akan menghasilkan hasil positif. Hal ini dikarenakan struktur
tirosin mengandung gugus hidroksil fenil (Lehninger 1982). Percobaan uji Millon
mendapatkan hasil positif untuk albumin 2%, kasein 2%, pepton 2%, fenol 2%,
namun pada gelatin 2% mendapatkan hasil negatif.
Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik pada gugus Rnya, sehingga dari reaksi tersebut dapat diketahui komponen asam amino suatu
protein.

Larutan-larutan

yang

menunjukkan

hasil

positif

mengandung

fenilhidroksil dan tirosin. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai


molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan
pereaksi millon (Page 1989).
Pereaksi Hopkins-Cole menunjukkan reaksi positif dengan adanya cincin
ungu yang terbentuk diantara dua larutan. Pereaksi terdiri dari asam glioksilat
(CHO.COOH) dalam H2SO4. Triptofan akan berkondensasi dengan aldehid dan
membentuk komplek berwarna dari jenis asam 2,3,4,5-tetrahidro--karbolin-4karboksilat. Reaksi tersebut hanya akan berhasil jika ada oksidator kuat, dalam
praktikum ini digunakan H2SO4. Sehingga dapat dikatakan bahwa fungsi H2SO4
dalam percobaan ini adalah sebagai oksidator agar terbentuk cincin ungu pada
larutan bahan dalam percobaan ini adalah sebagai oksidator agar terbentuk cincin
ungu pada larutan bahan yang mengandung triptofan (Page 1989).
Hasil percobaan uji Hopkins-Cole mendapatkan reaksi positif terhadap
albumin 2% dan pepton 2%, sedangkan pada kasein 2% dan gelatin 2%
mendapatkan hasil negatif. Pengujian tersebut sesuai dengan teori karena pada

albumin dan pepton mengandung triptofan. Triptofan merupakan jenis asam


amino pembatas dalam bahan makanan sumber protein nabati (Page 1989).
Reaksi ninhidrin dapat dipakai untuk penentuan kuantitatif asam amino,
dengan memanaskan campuran asam amino dan ninhidrin, terjadilah larutan
berwarna ungu yang identitasnya dapat ditentukan dengan cara spektrofotometri.
Semua asam amino dan peptida yang mengandung gugus amino bebas
memberikan reaksi ninhidrin yang positif. Prolin dan hidroksiprolin yang gugus
aminonya tersubstitusi, memberikan hasil reaksi lain yang berwarna kuning (Page
1989). Larutan albumin 2%, pepton 2%, dan kasein 2% merupakan protein yang
mengandung asam amino karena positif terhadap uji ini. Sedangkan gelatin 2%
mendapatkan hasil negatif. Gelatin menunjukkan reaksi negatif karena gelatin
merupakan suatu jenis karbohidrat.
Sistein dan metionin merupakan asam amino yang mengandung atom S
pada molekulnya.. Reaksi Pb-asetat dengan asam-asam amino tersebut akan
membentuk endapan berwarna kelabu, yaitu garam PbS. Penambahan NaOH
dalam hal ini adalah untuk mendenaturasikan protein sehingga ikatan yang
menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat membentuk PbS (Poedjiadi
1994). Percobaan uji Belerang menunjukan hasil positif hanya terhadap albumin
2% karena membentuk endapan PbS, yang berarti larutan tersebut mengandung
sistein ataupun metionin.
Uji Xantoproteat mengindikasi adanya inti benzena. Nitrasi
inti benzena oleh asam nitrat pekat menghasilkan larutan
berwarna.

Reaksi

yang

terjadi

pada

uji

Xantoproteat

menghasilkan turunan nitro benzena berwarna kuning tua. Fungsi


dari uji ini adalah untuk mendeteksi keberadaan asam amino
yang mengandung inti benzena pada gugus sampingnya, seperti:
tirosin, triptofan, dan fenilalanin (Winarno 1991). Berdasarkan
hasil pengamatan didapatkan seluruh sampel mengandung asam
amino yang memiliki inti benzena kecuali gelatin 2%. Hal ini
ditunjukkan oleh warna jingga

pada larutan sampel setelah

penambahan NaOH pekat. Fungsi dari HNO3 adalah sebagai


penyebab terjadinya reaksi nitrasi karena inti benzena dari asam
amino akan bereaksi dengan HNO3 dan menghasilkan campuran
berwarna kuning (Lehninger 1982).
Uji Biuret menggunakan prinsip reaksi antara reagen dengan senyawa
CuSO4 pada suasana basa sehingga menghasilkan larutan berwarna violet .
Komposisi dari reagen ini adalah senyawa kompleks yang mengandung unsur
karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), dan nitrogen (N) dan merupakan hasil
reaksi antara dua senyawa urea (CO(NH 2)2) pada suhu tinggi (Page 1981). Fungsi
dari penambahan CuSO4 ke dalam reagen ini adalah untuk mendeteksi keberadaan
asam amino dalam suatu sampel uji dengan mengubah warna larutan menjadi
ungu apabila positif, kecuali asam amino histidin, serin, dan treonin tidak
memberikan reaksi positif (Ophart 2003). Berdasarkan hasil percobaan semua
menunjukkan hasil positif kecuali fenol 2% karena fenol termasuk dalam asam
amino histidin, serin, atau treonin. Larutan gelatin 2% seharusnya menunjukkan
reaksi negatif karena struktur gelatin merupakan salah satu struktur karbohidrat.
Kesalahan pada pengujian ini kemungkinan karena kesalahan praktikan yang
kurang bersih dalam mencuci alat uji.
Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi sehingga
kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan
mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami
protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan peptida.
Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit (Ophart 2003).
Setiap protein yang mengandung asam amino memiliki tingkat
kandungan asam amino yang berbeda. Asam glutamat dan leusin merupakan asam
amino yang memiliki kandungan tertinggi pada setiap bahan pangan (Beti dan
Ispandi 1990). Berdasarkan pengujian uji asam amino pada albumin mengandung
tirosin, triptofan, inti benzena, metionin, sistein, dan asam amino bebas. Kasein
mengandung tirosin, asam amino bebas dan inti benzena. Pepton mengandung

tirosin, triptofan, dan inti benzena. Gelatin tidak mengandung asam amino karena
gelatin termasuk dalam karbohidrat. Fenol mengandung tirosin dan inti benzena.

Simpulan
Protein dan asam amino memberikan reaksi yang bersifat khas. Protein
dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi lain seperti juga asam amino yang
menjadi penyusunnya. Uji Millon dapat mengindikasikan bahwa suatu protein
mengandung asam amino tirosin. Uji Hopkins-Cole mengindikasi adanya asam
amino triptofan. Uji Ninhidrin merupakan uji umum untuk mengetahui adanya
kandungan asam amino. Uji Belerang untuk menunjukkan adanya kandungan
sulfur dalam asam amino, seperti: sistein dan metionin. Uji Xantoproteat
digunakan untuk menguji asam amino yang memiliki inti benzena, seperti: tirosin,
triptofan, dan fenilalanin. Uji Biuret dilakukan untuk mengetahui adanya asam
amino, namun uji ini tidak dapat mengindeteksi trionin, histidin, dan serin.
Daftar Pustaka
Beti YA et al. 1990. Sorgum. Monografi No. 5 hlm. 25. Malang: Balai Penelitian
Tanaman Pangan.
Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG, and Taylor MR. 2008. Biologi. San
Fransisco: Addison Wesley World Student Series.
Lehninger, 1982. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Erlangga.
Ophart CE. 2003. Virtual Chembook. Elmhurst College.
Page DS. 1998. Prinsip-prinsip Biokimia. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Poedjiadi Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.
Winarno FG. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.