Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fisioterapi merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang
ditujukan kepada individu atau kelompok individu untuk memperbaiki,
mengembangkan dan memelihara gerak dan kemampuan fungsi yang
maksimal selama perjalanan kehidupan individu atau kelompok,
dilaksanakan dengan terarah dan berorientasi pada masalah dan
menggunakan pendekatan ilmiah serta dilandasi dengan etika profesi
(Muslihuddin, 1995).
Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana
terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan.
Kelainan skoliosis ini sepintas terlihat sangat sederhana. Namun apabila
diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi perubahan yang luar biasa pada
tulang belakang akibat perubahan bentuk tulang belakang secara tiga
dimensi, yaitu perubahan struktur penyokong tulang belakang seperti
jaringan lunak sekitarnya dan struktur lainnya (Rahayussalim, 2007).
Skoliosis adalah deformitas tulang belakang berupa deviasi vertebra
ke arah samping atau lateral (Soetjaningsih, 2004).
Terapi Latihan untuk kasus skoliosis bertujuan untuk memperbaiki
atau mengembalikan kearah sikap tubuh yang normal (corect posture),
mengulur atau meregangkan otot otot yang tegang, untuk relaksasi otot.
Infra Red (IR) pada skoliosis bertujuan untuk mengurangi atau
menghilangkan nyeri, rileksasi otot, meningkatkan suplai darah,
menghilangkan sisa-sisa hasil metabolisme (Sujatno, dkk. 2002).
Dalam penulisan laporan klinik ini penulis akan membahas tentang,
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Gangguan Postur Tubuh Akibat
Scoliosis. Hal ini meliputi penanganan pada gangguan postur serta
mencegah kecacatan lebih lanjut.

BAB II
ANATOMI TERAPAN

A. ANATOMI VERTEBRA

Gambar 2. 13 dan 2. 14

Gambar 2.

15

Gambar 2. 13 dan 2. 14 Columna Vertebralis :


Dilihat dari ventral ( Gambar 2. 13) dan dorsal ( Gambar 2. 14)
Columna Vertebralis membentuk sekitar 40% tinggi manusia, yang
seperempat diantaranya disebabkan oleh Disci Intervertebrales. Columna
Vertebralis terdiri dari 24 vertebra prasakral (7 Vertebrae cervicales, 12
Vertebrae thoracica, 5 Vertebrae lumbales) serta dua bagian sinostotik, Os
sacrum dan Os coccygis. Vertebrae thoracica berhubungan dengan 12
pasang Costae, sacrum bersendi dengan Ossa coxae. Pada posisi tegak gaya
fisik meningkat dari cranial ke caudal sepanjang Columna vertebralis.

*Catatan Klinis:
Sakralisasi merujuk kepada fusi : Vertebrae lumbalis V dengan Os sacrum
(hanya 23 vertebrae prasakral yang tersisa). Jika vertebra sacral teratas
tetap terpisah dari Os sacrum lainnya (25 vertebra prasakral), maka
keadaannya disebut lumbalisasi. Pemeriksaan radiograf memperlihatkan 6
vertebra lumbal dan 4 vertebra sacral. Jika sacrum tetap memiliki 5
vertebra, maka terdapat sakralisasi tambahan vertebra coccygis pertama.
Penyatuan vertebra servical pertama (Atlas) dengan tengkorak disebut
asimilasi atlas.

Gambar 2. 15 Columna Vertebralis :


Dilihat dari sisi kiri. Jika dilihat dalam bidang sagital, Columna vertebralis
memiliki lengkung khas :

Lordosis cervical (lengkung konveks ventral)


Kifosis thoraks (lengkung konveks dorsal)
Lordosis lumbal (lengkung konveks ventral)
Kifosis sacral (lengkung konveks dorsal)

Lordosis dan kifosis masing-masing adalah istilah medis untuk lengkunglengkung konveks Columna vertebralis ke arah ventral dan dorsal. Dalam
beberapa bulan pertama kehidupan setelah lahir, semua bagian Columna
vertebralis memperlihatkan lengkung konveks dorsal. Lordosis cervical
berkembang seiring dengan kemampuan untuk duduk tegak dan lordosis
lumbal terbentuk ketika belajar berjalan.
Lengkung-lengkung vertebra hanya terbentuk setelah pelvis condong ke
depan akibat kemampuan berjalan dengan dua kaki yang dipelajari pada
usia 1-2 tahun. Sebelum adanya kemampuan berjalan tegak ini, semua
bagian Columna vertebralis memperlihatkan lengkung konveks dorsal.

*Catatan Klinis:
Lengkungan tulang belakang yang berlebihan dalam bidang frontal
(skoliosis) selalu patologik. Deformitas pertumbuhan tulang belakang ini
menyebabkan lengkungan lateral yang menetap, torsi, dan rotasi Columna
vertebralis yang tidak dapat diluruskan secara fisiologik oleh pemakaian
otot-otot. Skoliosis adalah salah satu penyakit ortopedik paling tua yang

diketahui. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya ilmiah dan klinis,


namun sampai saat ini, masalah yang berkaitan dengan skoliosis belum
teratasi secara memuaskan. Karena panjang tungkai yang tidak sama, maka
sebagian populasi mengalami skoliosis ringan.

BAB III
PATOLOGI TERAPAN

A. Pengertian
Skoliosis merupakan kelainan-kelainan pada rangka tubuh berupa
melengkungnya tulang belakang, dimana terjadi pembengkokan tulang
belakang kearah samping kiri atau kanan atau kelainan tulang belakang
pada bentuk C atau S. Kelainan skoliosis ini sepintas terlihat sangat
sederhana. Namun apabila diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi
perubahan yang luar biasa pada tulang belakang akibat perubahan bentuk
tulang belakang secara tiga dimensi, yaitu perubahan struktur penyokong
tulang belakang seperti jaringan lunak sekitarnya dan struktur lainnya
(Rahayussalim, 2007).
Skoliosis adalah deformitas tulang belakang berupa deviasi vertebra ke
arah samping atau lateral (Soetjaningsih, 2004).
Koreksi postur bertujuan untuk memposisikan tubuh tetap dalam
keadaan yang benar (Anatomis) karena pada penderita skoliosis postur
tubuh berubah sesuai dengan kebengkokan dan derajat kelengkungan yang
abnormal. Sehingga pada penderita skoliosis dengan melakukan koreksi
postur berarti tubuh memposisikan pada posisi anatomis.
Prinsip terapi latihan pada skoliosis adalah mengembalikan mobilitas
sendi-sendi yang telah hilang, meregangkan otot, meningkatkan kekuatan
otot, memutar balik dari rotasi deformitas vertebra, mengembangkan
musculatur seluruh badan supaya mampu memelihara curve yang telah di
koreksi, memelihara keseimbangan dan keindahan sikap yang telah di
koreksi semaksimal mungkin, dan membuat kompensasi apabila koreksi
tidak mungkin.
Banyak tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki derajat
skoliosis berupa gips, bracing (bingkai penguat tulang punggung), traksi
(penarikan), latihan, atau operasi untuk skoliosis yang derajat
pembengkokannya besar lebih dari 40 derajat. Latihan yang di berikan pada
kasus skoliosis adalah swiss ball exercise dan klapp exercise. Tujuan utama
dari latihan adalah menghentikan peningkatan kurva dan memperkecil
derajat skoliosis.
Swiss ball exercise merupakan metode latihan menggunakan bola
karena dengan bola akan menciptakan kestabilan antar tulang belakang dan

membuat otot punggung dan bahu menjadi lebih fleksibel. Selain itu latihan
ini juga meningkatkan kekuatan yang mana lebih efektif untuk melatih
system muskuloskeletal. Latihan kekuatan dengan bola sebagai penyangga
dipercaya pada permukaan yang labil akan membuat tulang belakang
mempunyai tantangan yang besar untuk menstabilkan otot antar vertebra
dan meningkatkan keseimbangan dinamis dan melatih stabilitas tulang
belakang untuk mencegah stabilitas berulang. Sehingga pada penderita
skoliosis idiopatik dapat mempengaruhi derajat kurvanya menjadi lebih kecil.
Klapp exercise merupakan latihan dengan posisi merangkak yang mana
juga dapat memperbaiki skoliosis. Pada klapp exercise lebih ditekankan pada
penguluran dan penguatan otot antar vertebra yang mana pada penderita
skoliosis idiopatik terjadi ketegangan otot sehingga pada latihan ini otot
menjadi rileks dan memperkecil derajat skoliosis.
Pemeriksaan yang paling sederhana adalah Adam Forward Bending Test
dan memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang baik untuk skrining skoliosis.
Cara melakukannya cukup dengan menyuruh pasien untuk menyentuh ujung
jari kaki dari posisi berdiri. Tetapi dengan tes ini tidak dapat melihat
seberapa besar derajat skoliosis yang terjadi. Untuk mengukur derajat
skoliosis yaitu dengan menggunakan inclinometer sehingga dapat diketahui
besar derajat skoliosis tersebut. Ini disebabkan karena adanya rotasi pada
daerah thorakal.
B. Etiologi
Scoliosis terbagi menjadi dua yaitu :
1. Non struktural / fungsional scoliosis adalah adanya curve ke
lateral dari spine dan rotasi
dari tulang belakang dimana terjadi karena kebiasaan, tanpa adanya
kerusakan struktural.
Scoliosis non struktural dapat disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah :
Perbedaan panjang tungkai,
Spasme otot belakang (splint back muscle) dapat terjadi oleh
adanya injury pada jaringan lunak belakang,
Kebiasaan postur yang asimetris, seperti : duduk dengan menumpu
berat badan pada satu tungkai atau saat berdiri dengan bertumpu
pada satu kaki, mengakibatkan fleksibilitas yang asimetris.
2. Struktural scoliosis adalah adanya kurve ke lateral dari spine dan
rotasi dan perubahan anatomi dari tulang belakang (Santoso, 1994).
Berdasarkan penyebabnya skoliosis dibagi atas :

1. Skoliosis Idiopatik
Adalah tipe skoliosis yang paling umum terjadi. Etiologi atau penyebab
dari tipe skoliosis ini tidak diketahui secara pasti. Menurut penelitian,
sekitar sepertiga penderita skoliosis idiopatik terkait faktor genetika.
Tipe skoliosis ini lebih sering terjadi pada remaja.
2. Skoliosis Degeneratif
Skoliosis degeneratif terjadi akibat kerusakan bagian tulang belakang
secara perlahan-lahan. Kondisi seperti ini kebanyakan terjadi pada
orang dewasa, karena seiring bertambahnya usia beberapa bagian
tulang belakang menjadi lemah dan menyempit.
Selain itu ini juga dapat diakibatkan dari kondisi trauma, penyakit
Parkinson, motor neuron disease, sklerosis multiple, proses operasi
tulang belakang, osteoporosis atau kondisi keausan dari tulang.
Skoliosis juga dapat berkembang dikemudian hari dan menyatu
sebagai persendian tulang belakang yang mengalami kemerosotan
tulang dan membentuk lengkungan di belakang. Studi menunjukkan
bahwa rotasi dari tulang belakang dapat terhjadi pada kasus seperti
ini.
3. Skoliosis Kongenital
Skoliosis kongenital atau bawaan disebabkan oleh tulang belakang
yang tidak tumbuh dengan normal saat bayi dalam kandungan, tulang
rusuk asimetris, atau terjadinya penggabungan tulang rusuk pada
masa terbentuknya bayi dalam perut ibu.
4. Neuromuskuler, Jaringan Penghubung dan Skoliosis Kelainan
Kromosom
Ini muncul pada pasien dengan spina bifida, cerebral palsy, down
syndrome, marfan syndrome, paralysis atau orang-orang dengan
berbagai jenis kondisi paralitik. Hal ini terjadi saat tulang belakang
melengkung menyamping karena melemahnya otot tulang belakang
atau masalah neuromuskuler. Skoliosis seperti ini umum terjadi untuk
individu yang tidak dapat berjalan karena kondisi neuromuskuler
(seperti muscular dystrophy atau CP). Ini dapat juga disebut sebagai
skoliosis myopathic.
C. Patofisiologi
Rangka atau tulang dapat mengalami kelainan. Kelainan ini dapat
mengakibatkan perubahan bentuk tulang. Kelainan pada tulang belakang
disebabkan oleh kebiasaan duduk dengan posisi yang salah. Akibat
kesalahan postur dan sikap antara lain menyebabkan trauma pada tulang
belakang, seperti terjadinya deformitas misalnya skoliosis, kifosis maupun
lordosis. Kebiasaan duduk dapat menimbulkan nyeri pinggang apabila

duduk terlalu lama dengan posisi yang salah, hal ini akan menyebabkan
otot punggung menjadi tegang dan dapat merusak jaringan disekitarnya
terutama bila duduk dengan posisi terus membungkuk atau
menyandarkan tubuh pada salah satu sisi tubuh. Posisi itu menimbulkan
tekanan kuat pada saraf tulang, setelah duduk selama 15 sampai 20
menit otot punggung biasanya mulai letih maka mulai dirasakan nyeri
punggung bawah namun orang yang duduk tegak lebih cepat letih,
karena otot-otot punggungnya lebih tegang sementara orang yang duduk
membungkuk kerja otot lebih ringan namun tekanan pada bantalan saraf
lebih besar.
Orang yang duduk pada posisi miring atau menyandarkan tubuh atau
salah satu sisi tubuh akan menyebabkan ketidak-seimbangan tonus otot
yang menyebabkan skoliosis.
Duduk dengan sikap miring ke samping akan mengkibatkan suatu
mekanisme proteksi dari otot-otot tulang belakang untuk menjaga
keseimbangan, manifestasi yang terjadi justru overuse pada salah satu sisi
otot yang dalam waktu terus menerus dan hal yang sama yang terjadi
adalah ketidakseimbangan postur tubuh ke salah satu sisi. Jika hal ini
berlangsung terus menerus pada sistem muskulosketal tulang belakang
akan mengalami bermacam-macam keluhan antara lain: nyeri otot,
keterbatasan gerak (range of motion) dari tulang belakang atau back pain,
kontraktur otot, dan penumpukan problematik akan berakibat pada
terganggunya aktivitas kehidupan sehari-hari bagi penderita, seperti
halnya gangguan pada sistem pernapasan, sistem pencernaan, system
saraf dan sistem kardiovaskuler.
Pertumbuhan merupakan faktor risiko terbesar terhadap memburuknya
pembengkokan tulang belakang. Lengkungan skoliosis idiopatik
kemungkinan akan berkembang seiring pertumbuhan. Biasanya, semakin
muda waktu kejadian pada anak yang struktur lengkungannya sedang
berkembang maka semakin serius porgnosisnya. Pada umumnya struktur
lengkungan mempunyai kecenderungan yang kuat untuk berkembang
secara pesat pada saat pertumbuhan dewasa, dimana lengkungan kecil
non struktur masih fleksibel untuk jangka waktu yang lama dan tidak
menjadi semakin parah, tetapi skoliosis tidak akan memburuk dalam
waktu yang singkat. Skoliosis dapat menyebabkan berkurangnya tinggi
badan jika tidak diobati.
D. Tanda dan Gejala
Pada kebanyakan kasus, pada mulanya penderita tidak merasakan
adanya gangguan, kemudian pada kondisi yang lebih parah baru
dirasakan adanya ketidak seimbangan posisi thorax, scapula yang
menonjol pada satu sisi, posisi bahu yang tidak horizontal, panggul yang
tidak simetris, dan kadang-kadang penderita merasakan pegal-pegal pada
daerah punggung (Liklukaningsih, 2009).

Tanda umum skoliosis antara lain:


Bahu asimetris,
Tulang belikat yang menonjol,
lengkungan tulang belakang yang nyata,
panggul yang miring,
perbedaan antara ruang lengan dan tubuh,
Scapula menonjol.

BAB IV
STATUS KLINIK
A Data Medis Rumah Sakit
1 Diagnosa medis : Skoliosis
2 Catatan klinis

Tekanan darah :

120/80 mmHg

Tinggi badan

169 cm

Berat badan

55 Kg

Temperatur

360 C

B Pemeriksaan Fisioterapi
1.

Anamnesis

Anamnesis Umum
Nama

Jenis kelamin

Satria
:

Laki-laki

Umur

21 Tahun

Agama

Islam

Alamat

Aswip 2, Pampang.

Pekerjaan

Mahasiswa

Anamnesis Khusus
Keluhan Utama : Postur tulang vertebra agak miring ke sisi
kanan tubuh
Lokasi Keluhan : Tulang belakang
Kapan terjadinya : 3 bulan yang lalu
RPP

: 3 bulan yang lalu saat pemeriksaan untuk


tes

tentara

pasien

dinyatakan

mengalami

skoliosis. Sebelumnya pasien tidak mengalami


keluhan apapun.

Anamnesis Sistem
Muskuloskeletal

: Ada spasme M. Rhomboideus, M.

Erector spine dan


M. Subscapularis.
2. Inspeksi

Statis

:-

Anterior
Ada bahu asimetris, dimana bahu kanan lebih
tinggi dari bahu kiri.
-

Posterior
Tampak scapula kanan lebih tinggi dari

scapula kiri
-

Lateral
Tampak ada wing scapula sebelah kanan.

Dinamis :

Saat berjalan postur tubuh pasien

nampak tegak (normal)


3. Palpasi
Ada nyeri tekan dan spasme otot rhomboideus diseblah kanan dan kiri
4. Pemeriksaan Gerak Dasar
1. Aktif
-

Fleksi

:-

Ekstensi

:-

Rotasi kanan

:-

Rotasi kiri

:-

2. Pasif
- Fleksi
- Ekstensi

::-

- Rotasi kanan
- Rotasi kiri

:+
:-

5. Aktifitas Fungsional
Pasien dapat melakukan aktifitas kegiatan sehari-harinya dengan baik
5. Quick test

Adam Forward Bending Test.


Teknik : Instruksikan pasien untuk menyentuh ujung jari kaki dari
posisi berdiri. Tetapi dengan tes ini tidak dapat melihat seberapa
besar derajat skoliosis yang terjadi. Untuk mengukur derajat
skoliosis yaitu dengan menggunakan inclinometer sehingga

dapat diketahui besar derajat skoliosis.


Hasil : vertebra nampak miring ke sisi kanan. Pinggang atas sisi
kanan nampak lebih tinggi, scapula kanan nampak lebih
menonjol.

6. Pemeriksaan Spesifik
Foto X-ray vertebra

: skoliosis (kearah dextra tubuh)

Palpasi
: ada spasme
Erector spine, dan
M.Subscapularis.

M.

7. Diagnosa Fisioterapi
Gangguan postur tulang belakang akibat skoliosis.
8. Problematik Fisioterapi
Tulang belakang tidak sejajar
Spasme otot
9. Perencanaan Fisioterapi

Rhomboideus,

M.

Tujuan Jangka Panjang


tubuh
Tujuan Jangka Pendek

Mengembalikan postur normal

: Mengurangi spasme

10.
Penatalaksanaan Fisioterapi
Electro Therapy
IRR
Tujuan
: Sebagai pre-eliminary exercise dan melancarkan
sirkulasi darah
Dosis
: 1x/minggu
Time
: 10 menit
Area
: vertebra
Exercise Therapy
Massage
Tujuan
: Merileksasikan otot, mengurangi spasme.
Dosis
: 1x/minggu
Area
: Back Muscle (otot-otot belakang tubuh)

Strengthening
Tujuan
: Diberikan pada sisi yang konveks untuk
mengembalikan kekuatan otot
yang lemah
Dosis
: 1x/minggu
F
: 8 hitungan, 5 x repetisi

Koreksi Postur

11.
Qua
Qua
Qua
Qua

Prognosis
ad vitam
ad sanam
fungsionam :
Cosmeticam :

:
Baik
:
Baik
Baik
Baik

12.
Evaluasi
Evaluasi Sesaat
: Sesaat setelah diterapi pasien nampak lelah.
Evaluasi berkala
: Setelah diterapi beberapa kali masih belum
ada perubahan pada
postur tulang belakang. Tetapi spasme otot
berkurang.
13.

Home Program
Pasien dianjurkan untuk melakukan koreksi postur seperti, duduk
tegak selama beberapa menit setiap harinya.
Pasien dianjurkan untuk mengulangi latihan yang diajarkan oleh
therapis dirumah.

14.

Pada saat duduk tasyahud akhir pasien diminta untuk tidak


membengkokkan badan.
Setiap habis shalat pasien diminta untuk melakukan gerakan
seperti tasyahud akhir dengan berlawanan arah.
Setiap ingin/bangun tidur pasien diminta berbaring dengan
keadaan badan dimiringkan kesisi berlawanan arah dengan
skoliosis yang dideritanya (kiri) dan melakukan peregangan
sambil gerakan ditahan selama beberapa menit.
Pasien diminta tidur miring dengan posisi sisi tubuh bagian kiri
diatas dan tangan diluruskan kedepan, kemudian pertahankan
gerakan ini selama beberapa menit.
Edukasi
Pasien dilarang memakai tas yang membebankan berat pada
satu sisi tubuh.
Pasien dilarang duduk dalam posisi miring/bungkuk.

FOLLOW UP
N
o.
1.

Hari/Tangga
l
Jumat, 18
Desember
2015

Intervensi

2.

Selasa, 22
Desember
2015

3.

Selasa, 29
Desember
2015

IR
Massage
Strengthenin
g
Koreksi
postur
IR
Massage
Strengthenin
g
Koreksi
postur
IR
Massage
Strengthenin
g
Koreksi
postur

Evaluasi

Sesaat
:
Setelah diterapi
beberapa saat
pasien nampak lelah.
Berkala : Setelah diterapi beberapa
kali masih belum ada perubahan
pada postur
tulang
belakang.
Spasme
berkurang.
Sesaat
:
Setelah diterapi
beberapa saat
pasien nampak lelah.
Berkala : Setelah diterapi beberapa
kali masih belum ada perubahan
pada postur
tulang belakang. Spasme
berkurang.
Sesaat
:
Setelah diterapi
beberapa saat
pasien nampak lelah.
Berkala : Setelah diterapi beberapa
kali masih belum ada perubahan
pada postur
tulang
belakang.
Spasme

berkurang.

LAMPIRAN : HASIL FOTO VERTEBRA

LAPORAN PRAKTEK KLINIK


RUMKIT TK.II PELAMONIA

Penatalaksanaan Fisioterapi pada Gangguan


Postur Tubuh Akibat Scoliosis

Oleh:
SERNI AGUSTINA
NIM. PO 71.3.241.13.1.044

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
PRODI DIII FISIOTERAPI
TAHUN 2015
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan

klinik

dengan

judul

Penatalaksanaan

Fisioterapi

pada

Gangguan Postur Tubuh Akibat Scoliosis. Di susun oleh: SERNI


AGUSTINA,
NIM : PO.71.3.241.13.1.044. Telah di setujui untuk diajukan sebagai salah
satu persyaratan dalam menyelesaikan praktek klinik di Rumkit Tk. II
Pelamonia. Yang dimulai pada tanggal 04-28 Desember 2015.

Makassar, 7 Desember 2015

Mengetahui,
Pembimbing Klinik
Akademik

Pembimbing

Andi Adrianah, S,Ft.Physio

Fahrul Islam, S.Ft.

Physio. M.Kes
NIP: 19760620 20071220 01

19910310 03

NIP. 19640107

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan
laporan klinik ini dengan judul Penatalaksanaan Fisioterapi pada
Gangguan Postur Tubuh Akibat Scoliosis.
Laporan ini saya susun berdasarkan praktek klinik di Rumkit Tk. II
Pelamonia.
Tidak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada pembimbing
klinik, pembimbing akademik serta teman-teman seperjuangan yang
telah memberikan arahan selama penyusunan laporan ini.
Laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun sangat dibutuhkan, sehingga dapat
dijadikan bahan pembelajaran dalam penyusunan laporan selanjutnya.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi saya pribadi dan
mahasiswa fisioterapi khususnya dan seluruh mahasiswa pada
umumnya.

Makassar, Desember 2015