Anda di halaman 1dari 9

Mewujudkan Permukiman Layak Huni dan

Berkelanjutan dengan 100-0-100


http://diskimrum.jabarprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=350:mewujudkan-permukiman-layak-huni-dan-berkelanjutan-dengan-100-0100&catid=10:perumahan&Itemid=11
diakses tgl 27 nop 2014
Jakarta, 18 Agustus 2014. Setelah hampir dipastikan mencapai target Millennium
Development Goals (MDGs) tahun 2015, tantangan berat Indonesia di bidang infrastruktur
permukiman adalah memberikan akses air minum 100%, mengurangi kawasan kumuh hingga
0%, dan menyediakan akses sanitasi layak 100% untuk masyarakat Indonesia pada 2019 atau
di akhir RPJMN ke-3 tahun 2015-2019. Target tersebut dikenal dengan Key Performance
Indicators 100-0-100 yang merupakan aktualisasi visi Direktorat Jenderal Cipta Karya
Kementerian Pekerjaan Umum dalam mewujudkan permukiman layak huni dan
berkelanjutan.

Capaian penyediaan akses air minum sampai dengan akhir tahun 2013 telah mencapai 67,7%
penduduk. Berdasarkan perkiraan maju hingga tahun 2015, Pemerintah optimistis target
Millennium Development Goals (MDGs) untuk sektor air minum sebesar 68,87% dapat
tercapai. Sedangkan capaian pelayanan sanitasi meningkat hingga 59,7% dari target MDGs
sebesar 62,4% penduduk yang diperkirakan dapat terwujud pada tahun 2015. Sementara
menurut data Susenas 2011, luasan kawasan kumuh tersisa sebesar 12,75% atau menurun
8,18% dari kondisi tahun 1993.

Ditjen Cipta Karya mengidentifikasi kebutuhan pendanaan untuk mencapai targat 100-0-100
tersebut. Di sektor air minum, Indonesia membutuhkan Rp274,8 triliun untuk mencapai akses
100% yang diharapkan dari APBN sebesar Rp90,7 triliun. Untuk menurunkan luasan

kawasan permukiman kumuh hingga 0%, Ditjen Cipta Karya memperkirakan kebutuhan
pendanaan sekitar Rp200 triliun yang diharapkan dari APBN sebesar Rp65 triliun. Sedangkan
di sektor sanitasi, target akses 100% baru bisa tercapai dengan pendanaan Rp295 triliun yang
diharapkan dari APBN sebesar Rp94 triliun.

Terkait kebijakan penghematan anggaran, pagu Ditjen Cipta Karya pada tahun Anggaran
2014 sebesar Rp17 triliun, dihemat sebesar Rp2,8 triliun menjadi Rp14,2 triliun setelah
terbitnya DIPA penghematan APBNP pada 17 Juli 2014. Pada Tahun Anggaran 2015, alokasi
pagu Ditjen Cipta Karya sebesar Rp14 triliun yang bersumber dari rupiah murni dan sumber
pendanaan lainnya.
Sesuai RPJMN Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum memberikan fasilitasi
pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman seperti air minum, sanitasi, jalan
lingkungan dan peningkatan kualitas permukiman serta penyediaan Rumah Susun Sederhana
Sewa (Rusunawa). Pelaksanaan pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman
tersebut juga dilaksanakan dengan model pemberdayaan yang melibatkan masyarakat sejak
perencanaan sampai pemeliharaan infrastruktur.
Khusus untuk penanganan kumuh, akan diprioritaskan pada kawasan-kawasan permukiman
kumuh di kawasan strategis kabupaten/kota dan kabupaten/kota KSN yang akan ditangani
secara terpadu sehingga dapat menjadi kawasan pemukiman yang layak huni dan
berkelanjutan. Sedangkan untuk air minum dan sanitasi akan dilaksanakan dengan
pendekatan entitas yang diprioritaskan pada kawasan regional dan daerah-daerah rawan air.
Tahun 2015 adalah tahun pertama dari periode pelaksanaan RPJMN ke-3 tahun 2015-2019.
Ditjen Cipta Karya bertekad bekerja tidak sekedar as usual, tidak bisa hanya bekerja berbasis
output tanpa penyempurnaan perangkat dan melakukan terobosan. Dalam pencapaian target
100-0-100, Ditjen Cipta Karya akan melibatkan semua pemangku kepentingan, baik
pemerintah daerah, dunia usaha, maupun masyarakat, mengingat target yang sangat tinggi
dan dana yang sangat besar. ***

Bangun Sanitasi Butuh Rp273 Triliun


Ichsan Amin
Rabu, 26 November 2014 21:08 WIB

Kondisi sanitasi di Indonesia memprihatinkan/Foto: Istimewa

JAKARTA - Pemerintah masih membutuhkan anggaran sedikitnya Rp273 triliun untuk


membangun penyelenggaraan sanitasi yang layak kepada masyarakat dalam hal
pengelolaan air limbah.
Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Muhammad Maliki Moersid mengatakan, saat ini
presentase capaian sanitasi layak di Indonesia baru mencapai 60%. Angka tersebut masih
berada di bawah rata-rata capaian akses sanitasi layak di negara-negara Asia Tenggara.
"Sedangkan target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 sampai dengan tahun 2015
pencapaian akses sanitasi yang layak dapat mencapai 62,41%. Kementerian Pekerjaan Umum
menetapkan target 100-0-100, yaitu 100% akses air minum yang aman, 0% kawasan
kumuh dan 100% akses sanitasi yang layak dalam lima tahun ke depan. Kami menghitung
bersama Bappenas kebutuhan anggaran untuk itu semua mencapai Rp273 triliun," ucap dia di
Jakarta, Rabu (26/11/2014).
Dia mengatakan, target tersebut akan diupayakan semaksimal mungkin. Apalagi, kata dia,
peningkatan akses sanitasi rata-rata per tahun mencapai 2% per tahun.

Mengenai anggaran akan diupayakan melalui APBN, bantuan luar negeri termasuk
memberdayakan tanggung jawab perusahaan melalui program Corporate Social
Responsibility (CSR) dan lembaga swadaya masyarakat yang konsen di sektor sanitasi
berbasis masyarakat.
"Kita akan upayakan anggarannya melalui APBN, Dana Alokasi Khusus (DAK), bantuan luar
negeri termasuk CSR perusahaan. Kita akan menggodok ini semua agar target-target tersebut
bisa dicapai," ucapnya.
Lembaga internasional The United Nations Children's Fund (UNICEF) baru-baru ini
menyatakan sebanyak 55 juta orang Indonesia masih melakukan Buang Air Besar
Sembarangan (BABS). Menurut data, hal itu membuat Indonesia berada di posisi kedua
tertinggi di dunia dalam hal BABS.
Saat ini pemenuhannya baru 60%, sementara target 40% itu cukup besar, sedangkan selama
ini peningkatan kita setahun sekitar 2 % jadi bisa dibayangkan ke depan ini minimal setahun
8% ini memang perlu upaya yang besar, tambah Maliki.
Namun, kata Maliki, yang lebih penting juga masalah kelembagaan dan juga kesadaran
masyarakat, kesiapan lahan dan juga lembaga yang mengelola. "Tapi yang lebih penting
masyarakat yang lebih peduli terhadap sanitasi biasanya kita bekerja sama dengan
Kementerian lain seperti Kementerian Kesehatan," pungkasnya.
Hingga tahun 2014, SANIMAS atau sanitasi berbasis masyarakat telah diimplementasikan di
lebih dari 1.000 lokasi di 33 provinsi di Indonesia. Karena keberhasilannya dalam mengejar
ketertinggalan sanitasi yang layak di Indonesia, program SANIMAS diadopsi untuk
dilaksanakan melalui DAK sejak tahun 2010 di hampir seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia.
Selain itu, program ini juga diadopsi dan dilaksanakan di lebih dari 900 lokasi pada 5
provinsi dengan pendanaan melalui pinjaman dari Asian Development Bank (ADB).
(gpr)

Pemerintah Targetkan Pelayanan Maksimal Bidang


Permukiman
Jumat, 25 Juli 2014 - 15:12:29 WIB
Diposting oleh : Frans Agung Setiawan | Kategori: News - Dibaca: 1260 kali
Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print More Sharing
Services 0

JAKARTA-MAPNEWS. Kinerja Pemerintah dalam membangun infrastruktur permukiman


(bidang Cipta Karya) dapat dilihat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) ke-1 tahun 2004-2009 dan RPJMN ke-2 tahun 2010-2014. Dalam RPJMN ke-2,
pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya diarahkan untuk mewujudkan peningkatan
akses penduduk terhadap lingkungan permukiman yang berkualitas. Pemerintah
mengidentifikasikan beberapa isu strategis untuk mewujudkan kawasan permukiman yang
layak huni dan berkelanjutan, diantaranya yaitu rendahnya layanan air minum aman,
rendahnya layanan sanitasi layak, meluasnya kawasan kumuh, dan penanggulangan
kemiskinan.
Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah memberikan fasilitasi pembangunan prasarana dan
sarana dasar permukiman seperti air minum, sanitasi, jalan lingkungan dan peningkatan
kualitas permukiman serta penyediaan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa).
Pelaksanaan pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman tersebut juga
dilaksanakan dengan model pemberdayaan yang melibatkan masyarakat sejak perencanaan
sampai pemeliharaan infrastruktur.
Capaian penyediaan akses air minum sampai dengan akhir tahun 2013 telah mencapai 67,7%
penduduk. Berdasarkan perkiraan maju hingga tahun 2015, Pemerintah optimistis target
Millennium Development Goals (MDGs) untuk sektor air minum sebesar 68,87% dapat
tercapai. Sedangkan capaian pelayanan sanitasi meningkat hingga 59,7% dari target MDGs
sebesar 62,4% penduduk yang diperkirakan dapat terwujud pada tahun 2015. Sementara
menurut data Susenas 2011, luasan kawasan kumuh tersisa sebesar 12,75% atau menurun
8,18% dari kondisi tahun 1993.
Setelah hampir dipastikan mencapai target MDGs tahun 2015, tantangan berat Indonesia di
bidang infrastruktur permukiman adalah memberikan akses air minum 100%, mengurangi
kawasan kumuh hingga 0%, dan menyediakan akses sanitasi layak 100% untuk masyarakat
Indonesia pada 2019 atau di akhir RPJMN ke-3 tahun 2015-2019.

Ditjen Cipta Karya mengidentifikasi kebutuhan pendanaan untuk mencapai targat 100-0-100
tersebut. Di sektor air minum, Indonesia membutuhkan Rp274,8 triliun untuk mencapai akses
100% dengan kemampuan APBN sebesar Rp90,7 triliun. Untuk menurunkan luasan kawasan
permukiman kumuh hingga 0%, Ditjen Cipta Karya memperkirakan kebutuhan pendanaan
sekitar Rp200 triliun. Sedangkan di sektor sanitasi, target akses 100% baru bisa tercapai
dengan pendanaan Rp295 triliun dengan kemampuan APBN sebesar Rp94 triliun.
Terhadap target berat pada 2019, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan
Umum menyebutnya dengan Key Performance Indicators 100-0-100. 'Bahasa' sederhana
tersebut merupakan aktualisasi visi Cipta Karya untuk mewujudkan permukiman yang layak
huni dan berkelanjutan pada lima tahun ke depan.
Terkait kebijakan penghematan anggaran, pagu Ditjen Cipta Karya pada tahun Anggaran
2014 sebesar Rp17 triliun, dihemat sebesar Rp2,8 triliun menjadi Rp14,2 triliun setelah
terbitnya DIPA penghematan APBNP pada 17 Juli 2014. Dengan pagu penghematan tersebut,
status penyerapan keuangan yang sudah dilakukan Ditjen Cipta Karya sebesar 25,94% atau
setara dengan Rp3,7 triliun, sedangkan progress fisiknya telah mencapai 30,54%. Pada Tahun
Anggaran 2015, alokasi pagu Ditjen Cipta Karya sebesar Rp14 triliun yang bersumber dari
rupiah murni dan sumber pendanaan lainnya.
Tahun 2015 adalah tahun pertama dari periode pelaksanaan RPJMN ke-3 tahun 2015-2019.
Ditjen Cipta Karya bertekad bekerja tidak sekedar as usual, tidak bisa hanya bekerja berbasis
output tanpa penyempurnaan perangkat dan melakukan terobosan.
Pembenahan yang sedang dijalankan Ditjen Cipta Karya diantaranya adalah meluruskan
pendekatan pembangunan yang bersifat entitas yang menjadi payung program keterpaduan
bidang Cipta Karya dalam menentukan delivery program. Dalam pendekatan entitas yang
terpadu -baik aras spasial permukiman regional, kota, kawasan, maupun lingkungan- Ditjen
Cipta Karya sudah mendesain program dan anggaran berdasarkan nilai strategis kawasan dan
kelengkapan peraturan yang dimiliki Pemda, yaitu Perda Rencana Tata Ruang Wilayah dan
Perda Bangunan Gedung.
Delivery program bidang Cipta Karya terbagi dalam lima klaster, yaitu Klaster A adalah
pioritas Kabupaten/Kota Strategis Nasional (KSN) yang termasuk dalam Pusat Kegiatan
Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN), Kawasan Strategis Nasional
(KSN), Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI),
dan Kawasan Perhatian Investasi (KPI). Kabupaten/kota tersebut juga memiliki Perda RTRW
dan Perda Bangunan Gedung. Ditjen Cipta Karya sudah mengantongi sekitar 142
kabupaten/kota dalam priotitas utama tersebut. Klaster B sebanyak 111 kabupaten/kota
dengan kriteria yang sama dengan Klaster A dengan hanya memiliki Perda RTRW. Klaster C
adalah kabupaten/kota yang tidak termasuk dalam kriteria kawasan di atas, namun memiliki
pedoman rencana dan program yang berkualitas untuk pemenuhan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) bidang Cipta Karya. Klaster D menyasar lokasi kegiatan pemberdayaan
masyarakat bidang Cipta Karya untuk menanggulangi kemiskinan di perkotaan dan
perdesaan. Sedangkan Klaster E adalah usulan program inovatif baru, program usulan daerah
yang selektif dan kompetitif, dan memfasilitasi daerah berprestasi.
Dalam pencapaian target 100-0-100, Ditjen Cipta Karya akan melibatkan semua pemangku
kepentingan, baik pemerintah daerah, dunia usaha, maupun masyarakat, mengingat target
yang sangat tinggi dan dana yang sangat besar.

Khusus untuk penanganan kumuh, akan diprioritaskan pada kawasan-kawasan permukiman


kumuh di kawasan strategis kabupaten/kota dan kabupaten/kota KSN yang akan ditangani
secara terpadu sehingga dapat menjadi kawasan pemukiman yang layak huni dan
berkelanjutan. Sedangkan untuk air minum dan sanitasi akan dilaksanakan dengan
pendekatan entitas yang diprioritaskan pada kawasan regional dan daerah-daerah rawan air.

PERMUKIMAN KUMUH: Ditargetkan Tinggal 8%


Tahun Depan
Ismail Fahmi
Share:

Bisnis.com, JAKARTA--Pemerintah menargetkan permukiman kumuh pada tahun depan


hanya tersisa 8% dengan cara meningkatkan akses ketersediaan infrastruktur dasar
pemukiman seperti air minum dan sanitasi guna meningkatkan daya saing.
"Kawasan permukiman kumuh di Indonesia akan tersisa 8 persen pada tahun 2015 atau
sekitar 30.407 hektare," kata Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum
Imam S Ernawi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (19/10/2014)
Menurutnya, untuk itu dibutuhkan pendanaan sekitar Rp35 triliun pada satu tahun anggaran.
Padahal kemampuan APBN 2015 di sektor ini hanya di kisaran Rp3,8 triliun.
Dengan demikian, ia mengemukakan bahwa dibutuhkan strategi khusus untuk
menghilangkan kesenjangan antara pendanaan yang tersedia dengan jumlah pendanaan yang
ideal tersebut.
"Kami memiliki indikator 100-0-100, yaitu 100% akses aman air minum, 0% proporsi rumah
tangga yang menempati kawasan permukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi. Ketiganya
dihadapkan pada gap pendanaan yang besar, maka perlu strategi yang tepat," ujar Imam.
Menurut catatan Bisnis, pada tahun ini pemerintah yakin dengan capaian 70% akses aman air
minum, 10% sisa kawasan kumuh, dan 62% akses sanitasi layak.
Pada 2015, ketiga indikator tersebut ditargetkan mencapai 76% akses aman air minum, 8%
kawasan kumuh, dan 70% akses sanitasi.
Pemerintah juga telah mencanangkan program penataan kampung merupakan bagian dari
penanganan kawasan permukiman kumuh di Indonesia untuk mencapai target pada tahun
2019.
"Penataan kampung menjadi bagian dari upaya penanganan kawasan permukiman kumuh di

Indonesia. Ditargetkan permukiman kumuh berkurang menjadi 0% bersamaan dengan target


meningkatnya cakupan layanan air minum menjadi 100% , dan akses sanitasi layak 100%
pada 2019," jelas Imam.
Sebagaimana diketahui, program Penataan Kampung Habitat di Jalan Intan RW 09,
Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara merupakan Kampung Habitat
Pertama di Indonesia.