Anda di halaman 1dari 10

ACARA I

PENGAMATAN POLEN DAN KANTUNG EMBRIO


A. Hasil Pengamatan
1. Viabilitas Polen
a. Polen Bunga Jagung (Zea mays)

TV
TV

Keterangan: Viabel (V) / Tidak Viabel (TV)


Presentase 38%
b. Polen Bunga Cabai (Capsicum annuum)

TV
V

Keterangan: Viabel (V) / Tidak Viabel (TV)


Presentase = 57%
c. Polen Bunga Kacang Panjang (Vigna cylindrica L.)
V

T
V

Keterangan: Viabel (V) / Tidak Viabel (TV)


Presentase = 37,5%
d. Polen Bunga Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)

T
V

Keterangan: Viabel (V) / Tidak Viabel (TV)


Presentase = 65%

2. Perkecambahan Polen
a. Perkecambahan Polen Cabai (Capsicum annuum)

Keterangan : Berkecambah (B)


b. Perkecambahan Polen Jagung (Zea mays)
B

Keterangan : Berkecambah (B)


c. Perkecambahan Polen Kacang Panjang (Vigna cylindrica L.)

Keterangan : Berkecambah (B)


d. Perkecambahan Polen Bunga Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)

Keterangan : Berkecambah (B)

3.

Hasil Pengamatan Kantung Embrio Torenia spp.

Keterangan:
1. Ovule
2. Embryo sac

B. Pembahasan
Arizona (2000) mengatakan bahwa serbuk sari atau polen adalah alat reproduksi jantan yang
terdapat pada tumbuhan dan mempunyai fungsi yang sama dengan sperma sebagai alat
reproduksi jantan pada hewan. Serbuk sari berada dalam kepala sari (antera) tepatnya dalam
kantung yang disebut ruang serbuk sari (theca). Tiap antera rata-rata memiliki dua ruang serbuk
sari yang berukuran relatif besar. Butir polen adalah mikrospora tumbuhan berbiji yang
mengandung mikrogametofit masak atau belum masak (Abercrombie et al., 1993).
Polen bisa dikatakan viabel dan tidak viabel. Polen yang viabel adalah polen yang mampu
untuk hidup, berkembang, dan berkecambah jika berada dalam kondisi yang menguntungkan dan
polen tidak viabel mempunyai pengertian sebaliknya. Viabilitas polen dapat diamati dengan cara
pewarnaan, dalam praktikum ini praktikan menggunakan larutan acetocarmin. Polen yang viabel
akan menunjukkan ciri-ciri menyerap warna acetocarmin, sedangkan yang tidak viabel tidak
menyerap warna dari acetocarmin.
Tanaman yang diambil polennya dan digunakan pada saat pengamatan polen adalah
tanaman jagung (Zea mays), cabai (Capsicum annuum), kacang panjang (Vigna unguiculata
sesquipedalis (L.)), dan bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis). Kapp (1969) mengemukakan
perbedaan bentuk polen didasarkan oleh perbandingan panjang aksis polar (P) dan panjang
diameter ekuator (E). Bentuk polen berdasarkan perbandingan panjang aksis polar dengan
diameter ekuator (indeks P/E (mikrometer) menurut Erdtman (1943) dalam Kremp (1965)
adalah: >2,00 = perprolate, 1,33-2,00 = prolate, 1,14-1,33 = subprolate, 1,00-1,14 = prolate
spheroidal, 0,88-1,00 = oblate spheroidal, 0,75-0,88 = suboblate, 0,50-0,75 = oblate, dan <0,50
= peroblate. Setiap polen mempunyai bentuk ekinat yang berbeda-beda. Ekinat adalah bentuk
dari dinding luar polen. Ekinat bisa berbentuk duri, polos, dan lain-lain. Dari keempat jenis polen
sampel ini, semuanya memiliki bentuk yang berbeda-beda. Dari hasil pengamatan diperkirakan
polen jagung berbentuk lonjong (oblate), cabai berbentuk bulat menyerupai segitiga (prolatespheroidal sampai subprolate dengan ornamentasi eksin skabrat (Husnudin et al., tanpa tahun)),
polen kacang panjang berbentuk bulat menyerupai segitiga dan polen bunga sepatu berbentuk
bola berduri (prolate-spheiroidal dengan ornamentasi eksinnya adalah ekinat (Aprianty dan
Kriswiyanti, 2008)).
Dari hasil pengamatan dan perhitungan viabilitas polen, polen yang mempunyai viabilitas
tertinggi ke terendah adalah polen dari tanaman bunga sepatu (65%), tanaman cabai (57%),
tanaman jagung (38%), dan tanaman kacang panjang (37,5%). Patokan dari perhitungan polen
yang viabel adalah bentuknya yang sempurna (bulat), dapat menyerap acetocarmin, berwarna
kuning, dan polen tidak pecah. Polen dapat kehilangan viabilitasnya, hal ini dikarenakan oleh
kondisi lingkungan, suhu, dan kelembaban relatif.

Viabilitas polen juga ditentukan oleh dapat atau tidak dapatnya polen perkecambahan. Polen
yang berkecambah ditandai dengan keluarnya tabung polen (pollen tube). Polen dikatakan
berkecambah apabila tabung polen melebihi diameter dari polen itu sendiri (Wang et al., 2004).
Gametofit jantan (butir polen) berkembang di dalam kotak sari, tepatnya techa. Pada
pembentukan gamet jantan, terjadi pembelahan meiosis dari mikrosporofit yang diploid atau 2n
menjadi 4 buah mikrospora yang haploid (n). Masing-masing mikrospora yang haploid
membelah secara mitosis menjadi satu sel generatif dan satu sel buluh/sel tabung. Sel buluh yang
mengandung sel generatif berkembang menjadi tabung polen. Pada praktikum ini, polen
dikecambahkan secara in vitro. Perkecambahan secara in vitro berarti polen yang sudah dipanen
dimasukkan ke dalam media khusus. Pada pengamatan perkecambahan polen, semua polen
ditemukan berkecambah yaitu polen dari tanaman bunga sepatu, cabai, kacang panjang, dan
jagung. Praktikan hanya menemukan sedikit polen yang berkecambah dari keempat jenis
tanaman sampel. Tidak berkecambahnya polen dapat disebabkan oleh polen pecah dan polen
belum mengalami kematangan.
Embryo sac atau kantung embrio adalah gametofit betina pada tumbuhan angiospermae,
yang terbentuk dari pertumbuhan dan pembelahan megaspora menjadi struktur multiseluler
dengan delapan nukleus haploid (Campbell et al., 2004). Proses perkembangan embryo sac dapat
dibagi menjadi dua yaitu megasporogenesis dan megagametogenesis. Secara umum selama
proses megasporogenesis, megasporosit mengalami meiosis dan membentuk empat megaspora.
Keragaman pengembangan bentuk embryo sac ditemukan diantara spesies tanaman (Reiser and
Fischer, 1993).
Megasporogenesis saat perkembangan kantung embrio adalah proses gametogenesis pada
bagian betina bunga (ovarium) yang menghasilkan sel-sel reproduktif. Sebuah sel induk
megaspora (megasporosit) yang diploid dalam ovarium membelah melalui meiosis dan
membentuk sepasang sel haploid pada pembelahan pertama. Pembelahan kedua menghasilkan
empat megaspora haploid yang mengelompok secara linier. Setelah meiosis, tiga megaspora
berdegenerasi. Megaspora yang tersisa mengalami tiga pembelahan mitosis kromosom tanpa
diselingi sitokinesis, menghasilkan sebuah sel besar dengan delapan nukleus haploid (Elrod dan
Stansfield, 2002).
Kantung embrio dikelilingi oleh jaringan maternal ovarium yang disebut integumen dan
oleh megasporangium (nuselus). Pada salah satu ujung kantung, ada bukaan pada integumen
(mikropil) yang akan dilalui oleh tabung polen yang melakukan penetrasi. Ketiga nukleus pada
kantung mengorientasikan diri di dekat ujung tempat mikropil berada, dan dua dari tiga nukleus
itu (sinergid) mensekresikan produk-produk yang menarik tabung polen. Nukleus ketiga
berkembang menjadi nukleus sel telur. Tiga nukleus lainnya bergerak menuju sisi ujung kantung

lainnyadan berdegenerasi menjadi antipodal. Dua nukleus sisa bergerak menyatu menuju pusat
kantung membentuk nukleus fusi atau inti sekunder (Elrod dan Stansfield, 2002).
Kantung embrio tanaman yang dipakai dalam percobaan ini adalah dari tanaman Torenia
spp. Dalam kantung embrio tanaman tersebut terdapat bagian-bagian yang disebut antipoda, inti
sekunder, sinergid, dan sel telur.
Dalam praktikum ini tentu ada manfaat yang dapat diperoleh untuk pemulia tanaman,
terutama untuk menentukan polen yang viabel dari bentuk polen dan polen yang berkecambah
agar para pemulia tidak salah dalam memilih polen yang akan mengakibatkan tanaman tidak
dapat berkembang dengan baik, mengetahui berbagai jenis bentuk polen dari berbagai tanaman,
dan melihat bagaimana bentuk dari kantung embrio.

Kesimpulan
1. Tanaman cabai mempunyai bentuk polen prolate-spheroidal sampai dengan subprolate
dengan eksin skabrat, jagung berbentuk oblate, kacang panjang berbentuk bulat
menyerupai segitiga, dan bunga sepatu berbentuk prolate-spheroidal dengan eksin
ekinat.
2. Polen yang viabel adalah polen yang dapat menyerap pewarna acetocarmin dengan baik,
bentuknya sempurna, dan tidak pecah.
3. Persentase viabilitas polen bunga sepatu 65%; cabai 57%; jagung 38%; dan kacang
panjang 37,5%.
4. Didalam kantung embrio dapat ditemukan satu sel gamet (sel telur), dua sinergid, dua
inti sekunder, dan tiga antipoda. Semua berkembang dari empat inti nukleus di dalam
kantung embrio melalui proses megaspor`ogenesis.

Daftar Pustaka
Abercrombie, M., Hickman. M., Johnson. M. L., dan Thain M. 1993. Kamus Lengkap
Biologi. Erlangga, Jakarta.
Aprianty, N. M. D. dan Kriswiyanti, E. 2008. Studi variasi ukuran serbuk sari kembang
sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) dengan warna bunga berbeda. Jurnal Biologi XII
(1): 14-18.
Arizona, J. 2000. Coping with Pollen Allergies. Scalau Country. Director Agen. Agriculture
and Natural Resources Cooperative Extention. Yapavai Country.
Campbell, Neil, A., Jane B. Reece, and Lawrence G. Mitchell. 2004. Biology. Erlangga,
Jakarta.
Elrod, S.L., dan W.D. Stansfield. 2002. Teori dan Soal-soal Genetika, Edisi Keempat.
Erlangga, Jakarta.
Husnudin, U. Baroroh, Eko Sri Sulasmi, dan Murni Saptasari. Tanpa Tahun. Karakterisasi
morfologi polen tumbuhan Solanaceae di Malang Raya.
Kapp, R. O. 2000. How to Know Pollen and Spores. M. C. Brown Company. Dubuque,
Iowa.
Kremp, G. O. W. 1965. Encyclopedia of Pollen Morphology. Univ. Arizona Press, Tuscon,
USA.
Reiser, L. and R. L. Fischer. 1993.The ovule and the embryo sac.The Plant Cell 5: 1291
1301.
Wang, Z.Y.,Y. Ge. M. Scott, and G. Spangenberg.Viability and longevity of pollen from
transgenic and nontransgenic tall fescue (Festuca Arundinacea) (Poaceae) plants.
American Journal of Botany 91: 523530.

Lampiran
19 5
+
32 27 0,59+0,18
Persentase Viabel Polen Bunga Jagung =
=
=0,38 x 100 =38
2
2

( )

Persentase Viabel Polen Bunga Cabai =

15 2 3
+ +
23 6 4 0,65+ 0,3+0,75
=
=0,57 x 100 =57
3
3

2 43
+
Persentase Viabel Polen Bunga Kacang Panjang = 5 121 = 0,40+ 0,35 =0,375 x 100 =37,5
2
2

Persentase Viabel Polen Bunga Sepatu =

23
=0,65 x 100 =65
35