Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

DERMATITIS INSECT BITE

Oleh :
Oky Fredy Ana Mahdi
09700093
Pembimbing :

dr.Buih A, Sp.KK
SMF ILMU KULIT KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA
KUSUMA SURABAYA
2015
KATA PENGANTAR
1

Segala puji bagi Allah Sang Maha Pencinta dan Pengatur Alam Semesta,
berkat Ridho-NYA, penulis akhirnya mampu menyelesaikan Lapsus yang berjudul
Insect Bite.
Refarat ini disusun untuk mengikuti Kepanitraan Klinik di SMF Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin di RSUD Bangil
Tentunya lapsus ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak.
Untuk itu tak luput kami ucapkan terima kasih kepada pembimbing kami dr. Buih
A, Sp. KK dan tentunnya masih banyak pihak lain yang membantu, kami ucapkan
terimakasih.
Sebagai manusia, penulis menyadari bahwa lapsus ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat
penulis harapkan dan semoga dapat menjadi suatu hal yang bermanfaat bagi kita
semua. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.
Bangil, Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................
KATA PENGANTAR ..............................................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................................
BAB. I . PENDAHULUAN......................................................................................
BAB. II. LAPORAN KASUS..................................................................................
BAB. III. TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................
Definisi

Epidemiologi

Etiologi

Patogenesis
Patofisiologi
Diagnosis

Diagnosis banding
Penatalaksanaan

Prognosis
BAB. IV. PEMBAHASAN KASUS.........................................................................
BAB.V. PENUTUP...................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang
Insect bite reaction (reaksi gigitan serangga) adalah reaksi yang disebabkan
oleh gigitan yang biasanya berasal dari bagian mulut serangga dan terjadi saat
serangga berusaha untuk mempertahankan diri atau saat serangga tersebut mencari
makanannya. Gigitan serangga juga mengakibatkan kemerahan dan bengkak di
lokasi yang tersengat. Kebanyakan gigitan dan sengatan dilakukan untuk
pertahanan. Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan bisa (racun) yang
tersusun dari protein dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi
kepada penderita. Namun pengetahuan ilmiah mengenai alergi terhadap gigitan
serangga masih terbatas. Reaksi paling sering dilaporkan terjadi setelah digigit
nyamuk dan sejenisnya, serta dari golongan serangga Triatoma. Sayangnya,
strategi manajemen untuk mengurangi risiko insect bite reaction ke depannya
masih kurang dikembangkan dan kurang efektif bila dibandingkan dengan alergi
terhadap sengatan serangga.1
Insect bite reaction disebabkan oleh artropoda kelas insekta. Insekta
memiliki tahap dewasa dengan karakter eksoskeleton yang keras, 3 pasang kaki,
dan tubuh bersegmen dimana kepala, toraks, dan abdomennya menyatu. Reaksi
paling sering dilaporkan terjadi setelah digigit nyamuk dan sejenisnya. Gigitan
dan sengatan serangga mempunyai prevalensi yang sama diseluruh dunia. Dapat
4

terjadi pada iklim tertentu dan hal ini juga merupakan fenomena musiman,
meskipun tidak menutup kemungkinan kejadian ini dapat terjadi di sekitar kita.
Prevalensi antara pria dan wanita sama.2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang diatas, masalah yang akan dibahas yaitu:

Apa yang dimaksud dermatitis insect bite?

Apa saja konsep kegawat daruratan dermatitis insectbite?

Bagaimana penatalaksanaan dermatitis insect bite yange benar?


Apasajakah defferential diagnosa insect bite?

I.3. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penyusunan makalah
ini adalah

untuk mengetahui apa itu dermatitis insect bite

untuk mengetahui konsep kegawat daruratan dermatitis insectbite

untuk mengetahui penatalaksanaan dermatitis insect bite yange benar


untuk mengetahui defferential diagnosa insect bite

BAB II
LAPORAN KASUS
IDENTITAS

Nama

: Tn. Y

Jenis kelamin

: laki-laki

Usia

: 21th

Alamat

: jl.Erlangga Purworejo-pasuruan

Pendidikan

: SLTA

Agama

: Islam

Suku

: jawa

Pekerjaan

: Swasta

TGL pemeriksaan

: 24 juni 2015

Subyektif

Keluhan utama: Gatal di kelamin

Riwayat penyakit sekarang


Gatal dan bengkak di kelamin kurang lebih 1 hari yang lalau (23 juni
2015) .pasien mengaku tidak tahu bengkaknya karena apa. Gatal dan
bengkak dirasa mendadadk waktu pagi hari bangun tidur. Gatal dirasa
sepanjang hari kulit terasa panas dan agak menebal
pasien mengatakan tidak sedang minum obat, riwayat tidur dilantai
sebelumnya +, riwayat makan normal seperti biasa, mandi teratur pagi dan
sore, ganti baju dan celana dalam setiap hari

Riwayat penyakit dahulu


Pasien belum pernah sakit seperti ini sebelumnya

Riwayat pengobatan :
Diprosta cream dipakai saat di sela selangkangan paha gatal

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada keluarga yang sakit seperti ini

Riwayat sosial
Pasien tidak pernah di pondok sebelumnya, pasien tinggal dirumah orang
tuanya sebelah sawah, pasien bekerja karyawan pabrik di kejapanan

Obyektif
Tampak makula eritematus di daerah selangkangan, di penis dan
skrotum,tampak makula hiperpigmentasi dan papul di bagian tepi selangkangan.
Oedem penis ditengah tampak bintik hitam seperti krusta, oedem di skrotum kulit
terasa menebal
Assesment
Dermatitis insect bite + Tinea Kruris
Penatalaksanaan
Metil prednisolone 16 mg 2x1
Pehaclhor 1x1
Kompres pz stiril

Follow up :
Tanggal 25 Juni 2015
S:sudah 2 hari sejak kejadian, pasien mengaku bengkak di kelaminya sedikit
berkurang, masih terasa gatal, kulit masih terasa agak menebal
O: Tampak makula eritematus di daerah selangkangan, di penis dan
skrotum,tampak makula hiperpigmentasi dan papul di bagian tepi. Oedem penis

A. Dermatitis insect bite


P: metilprednisolone 16mg 2x1
Loratadine 1x1
Betasone cream 3x/hari
Evaluasi kontrol 3 hari
Tanggal 27 juni 2015
S; bengkak di kelamin sudah membaik hampir mendekati normal, gatal di
selangkangan dan skrotum sudah terasa menghilang, kulit sedikit terasa tebal
O: makula hiperpigmentasi tepi jelas di daerah selangkangan
A. Dermatitis insect bite
P. Metilprednisolone 16mg 1x1
Loratadin 1x1
Betasone cream 3x/hari

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Insect bite ( gigitan serangga) adalah kelainan akibat gigitan atau tusukan
serangga yang disebabkan reaksi terhadap toksin atau allergen yang
dikeluarkan artropoda penyerang.2
Insect bite reaction (reaksi gigitan serangga) adalah reaksi yang disebabkan
oleh gigitan yang biasanya berasal dari bagian mulut serangga dan terjadi saat
serangga berusaha untuk mempertahankan diri atau saat serangga tersebut
mencari makanannya.1
3.2 Epimediologi
Gigitan dan sengatan serangga mempunyai prevalensi yang sama diseluruh
dunia. Dapat terjadi pada iklim tertentu dan hal ini juga merupakan fenomena
musiman, meskipun tidak menutup kemungkinan kejadian ini dapat terjadi di
sekitar kita. Prevalensi antara pria dan wanita sama. Bayi dan anak-anak lebih
rentan terkena gigitan serangga dibandingkan orang dewasa. Salah satu faktor
yang mempengaruhi timbulnya penyakit ini adalah lingkungan sekitar seperti
tempat mencari mata pencaharian yaitu perkebunan, persawahan dan lain-lain.1
3.3 Etiologi
Insect bite reaction disebabkan oleh artropoda kelas insekta. Insekta
memiliki tahap dewasa dengan karakter eksoskeleton yang keras, 3 pasang
kaki, dan tubuh bersegmen dimana kepala, toraks, dan abdomennya menyatu.
Insekta merupakan golongan hewan yang memiliki jenis paling banyak dan
paling beragam. Oleh karena itu, kontak antara manusia dan serangga sulit
dihindari. Paparan terhadap gigitan atau sengatan serangga dan sejenisnya
dapat berakibat ringan atau hampir tidak disadari ataupun dapat mengancam
nyawa.2
Secara sederhana gigitan dan sengatan serangga dibagi menjadi 2 grup
yaitu Venomous (beracun) dan non-venomous (tidak beracun). Serangga yang

beracun biasanya menyerang dengan cara menyengat, misalnya tawon atau


lebah. Ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri yakni dengan cara
menyuntikkan racun atau bisa melalui alat penyengatnya. Sedangkan
serangga yang tidak beracun menggigit atau menembus kulit dan masuk
menghisap darah, ini biasanya yang menimbulkan rasa gatal.1
Ada 30 lebih jenis serangga tetapi hanya beberapa saja yang bisa
menimbulkan kelainan kulit yang signifikan. Kelasa arthopoda yang
melakukan gigitan dan sengatan pada manusia terbagi atas :
1. Kelas Arachnida
a. Acarina
b. Araniae (Laba-laba)
c. Scorpionidae (Kalajengking)
2. Kelas Chilopoda (Lipan) dan Diplopoda (Luing)
3. Kelas Insekta
a. Anoplura (Pthyreus pubis, Pediculus humanus, Capitis et corporis)
b. Coleoptera (Kumbang)
c. Dipthera (Nyamuk dan Lalat)
d. Hemiptera (Kutu busuk)
e. Hymenoptera (Semut, Lebah dan Tawon)
f. Lepidoptera (Kupu-kupu)
3.4 Patogenesis
Gigitan atau serangan serangga akan menyebabkan kerusakan kecil pada
kulit, lewat gigian atau sengatan antigen yang akan masuk langsung direspon
oleh sistem imun tubuh. Racun dari serangga mengandung zat-zat yang
kompleks. Reaksi terhadap antigen tersebut biasanya akan melepaskan
histamin, serotonin, asam formic atau kinin. Lesi yang timbul disebabkan
oleh respon imun tubuh terhadap antigen yang dihasilkan melalui gigitan atau
sengatan serangga. Reaksi yang timbul melibatkan mekanisme imun. Reaksi
yang timbul dapat dibagi dalam dua kelompok : reaksi imediate dan reaksi
delayed.1,2

10

Reaksi imediate merupakan reaksi yang sering terjadi dan ditandai dengan
reaksi lokal atau reaksi sistemik. Lesi juga timbul karena adanya toksin yang
dihasilkan oleh gigitan atau sengatan serangga. Nekrosis jaringan yang lebih
luas dapat disebabkan karena trauma endotel yang dimediasi oleh pelepasan
neutrofil. Spingomyelinase D adalah toksin yang berperan dalam timbulnya
reaksi neutrofilk. Enzim hyluronidase yang juga ada pada racun serangga
akan merusak lapisan dermis sehingga dapat mempercepat penyebaran racun
tersebut.3

11

3.5 Patofisiologi
Gigitan serangga

Antigen (allergen)
Antibodi (IgE)
Histamin, Kinin, lekotrine dan prostaglandin

Permaebilitas kapiler

Ekstravasasi cairan
intravaskular

Vasodilatasi
Kontraksi
periferotot polos (spasme bronkus, laring, kram s

Tahanan Pembuluh daraf perifer

Hipovolemi relatif
Edema

Gangguan metabolisme seluler

12

3.6 Diagnosis
a. Anamnesis
Kebanyakan pasien sadar dengan adanya gigitan serangga ketika terjadi
reaksi atau tepat setelah gigitan, namun paparannya sering tidak diketahui
kecuali terjadi reaksi yang berat atau berakibat sistemik. Pasien yang
memiliki sejarah tidak memiliki rumah atau pernah tinggal di tempat
penampungan mungkin mengalami paparan terhadap organisme, seperti
serangga kasur. Pasien dengan penyakit mental juga memungkinkan
adanya riwayat paparan dengan parasit serangga. Paparan dengan binatang
liar maupun binatang peliharaan juga dapat menyebabkan paparan
terhadap gigitan serangga.3
b. Gejala Klinis
Pada reaksi lokal, pasien mungkin akan mengeluh tidak nyaman, gatal,
nyeri sedang maupun berat, eritema, panas, dan edema pada jaringan
sekitar gigitan. Pada reaksi lokal berat, keluhan terdiri dari eritema yang
luas, urtikaria, dan edema pruritis. Reaksi lokal yang berat dapat
meningkatkan kemungkinan terjadinya reaksi sistemik serius pada paparan
berikutnya.1

13

Gambar : Papular urtikaria: Bekas gigitan kutu, sangat gatal, urtikaria seperti
papula di lokasi gigitan kutu pada lutut dan kaki seorang anak, papula biasanya
berdiameter <1 cm serta memiliki vesikel di atasnya, Bila tergoreskan
mengakibatkan erosi maupun krusta.

Gambar : pada bagian tengah lesi tampak ekskoriasi dikelilingi daerah yang
edem dan eritem.
Pada reaksi sistemik atau anafilaktik, pasien bisa mengeluhkan adanya
gejala lokal sebagaimana gejala yang tidak terkait dengan lokasi gigitan.
Gejala dapat bervariasi dari ringan sampai fatal. Keluhan awal biasanya
termasuk ruam yang luas, urtikaria, pruritus, dan angioedema. Gejala ini
dapat berkembang dan pasien dapat mengalami ansietas, disorientasi,
kelemahan,

gangguan

gastrointestinal,

kram

perut

pada

wanita,

inkontinensia urin atau alvi, pusing, pingsan, hipotensi, stridor, sesak, atau
batuk. Seiring berkembangnya reaksi, pasien dapat mengalami kegagalan
napas dan kolaps kardiovaskuler.1
c. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium jarang dibutuhkan. Pemeriksaan laboratorium
yang sesuai harus dilakukan apabila pasien mengalami reaksi yang berat
dan membutuhkan penanganan di rumah sakit atau dicurigai mengalami
kegagalan organ akhir atau membutuhkan evaluasi akibat infeksi sekunder,
seperti sellulitis.

14

Pemeriksaan mikroskopis dari apusan kulit dapat bermanfaat pada


diagnosis scabies atau kutu, namun tidak berguna pada kebanyakan gigitan
serangga.
Pemeriksaan serologis mungkin berguna dalam menentukan infeksi
yang diakibatkan oleh vektor serangga, namun jarang tersedia dan
membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasilnya.3
3.7 Diagnosis Banding
Diagnosis banding insect bite reaction didasarkan oleh reaksi pada tempat
gigitan (papula eritema, vesikel), organisme yang menggigit serta nekrosis
kutaneus yang menyebabkan timbulnya lesi yang berbeda:
a. Scabies
Scabies adalah infeksi parasit yang umumnya terjadi di dunia.
Arthropoda Sarcoptes scabiei var hominis menyebabkan pruritus berat
dan merupakan penyakit kulit yang sangat menular, dapat menyerang
pria dan wanita dari semua tingkat status social ekonomi dan etnik.
Gejala dan tanda biasanya berkembang perlahan sekitar 2-3 minggu
sebelum pasien mencari penanganan medis untuk mengatasinya.
Scabies muncul dalam bentuk cluster, pada individu terlihat sebagai
ruam yang gatal dan papul. Diagnose scabies dapat dipertimbangkan
apabila ada riwayat banyak anggota keluarga yang mengalaminya.
Pruritus nocturnal merupakan keluhan utama yang khas pada scabies.
Lesi primer scabies berbentuk liang, papul, nodul, biasanya pustul dan
plak urtikaria yang bertempat di sela-sela jari, area fleksor
pergelangan tangan, axilla, area antecubiti, umbilicus, area genital dan
gluteal, serta kaki. Lesi sekunder berbentuk urtikaria, impetigo, dan
plak eksematous.4,5

15

Gambar: Predileksi scabies


b. Orchitis
Adalah infeksi pada salah satu atau kedua testis (buah zakar)
sehingga mengalami peradangan. Pada pemeriksaan nampak testis
yang membesar, lunak (kadang meengeras), merah, epididimis

16

membesar (membentuk benjolan melengkung di atas testis), kulit


skrotum meregang.
PENYEBAB ORCHITIS, ANTARA LAIN:
Sebagian orchitis berhubungan dengan penyakit Gondongan
( Mumps, Parotitis ). Disebutkan bahwa 30 % penderita Gondongan
dapat mengalami Orchitis pada hari ke 4 hingga hari ke 7. Ini terjadi
karena penjalaran infeksi melalui aliran getah bening.
Virus-virus lain yang berbungan dengan Orchitis diantaranya
coxsackievirus, varicella, dan echovirus.
Bakteri. Orchitis oleh bakteri pada umumnya merupakan
penyebaran epididymitis, yakni infeksi epididimis ( saluran sperma
yang menempel di bagian atas testis ). Infeksi oleh bakteri dapat juga
terjadi tanpa adanya infeksi epididimis. Kuman penyebab Orchitis
diantaranya

Neisseria

gonorrhoeae,

Chlamydia

trachomatis,

Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa,


Staphylococcus dan Streptococcus
Orchitis paling sering disebabkan/bersamaan dengan virus yang
menyebabkan gondongan (mumps). Setidak-tidaknya 1/3 laki-laki
yang terkena mumps setelah akil baliq akan terkena orchitis. Penyebab
lainnya adalah infeksi bakteri, termasuk didalamnya penyakit menular
seksual (PMS = STD), seperti gonorrhea atau chlamydia.
Mark B Mycyk, MD menyebutkan bahwa sekitar 20 % insidens
Orchitis

berhubungan

dengan

Penyakit

Gondongan

(Mumps,

Parotitis), terutama pada usia prepubertas. Sedangkan Orchitis yang


disebabkan kuman pada umumnya berhubungan dengan Epidedymitis.

17

Gambar. Anatomi Testis


GEJALA ORCHITIS
Gejala

orchitis

biasanya

timbul

mendadak,

bisa

berupa:

pembengkakan testis, nyeri serta gejala infeksi secara umum seperti


demam, mual-muntah, nyeri sendi serta gejala lokal lainnya seperti
adanya duh tubuh (cairan dari penis) dan adanya darah dalam ejakulat.
Komplikasi orchitis bisa berupa: testis yang mengecil (atropi),
abses (nanah) pada kantong testis, dan infertilitas (susah punya anak),
terutama jika terkena kedua testis.
3.8 Penatalaksanaan
a. Perawatan Pra Rumah Sakit
Kebanyakan gigitan serangga dapat dirawat pada saat akut dengan
memberikan kompres setelah perawatan luka rutin dengan sabun dan air
untuk meminimalisasi kemungkinan infeksi. Untuk reaksi lokal yang luas,
kompres es dapat meminimalisasi pembengkakan. Pemberian kompres es
tidak boleh dilakukan lebih dari 15 menit dan harus diberikan dengan
pembatas baju antara es dan kulit untuk mencegah luka langsung akibat
suhu dingin pada kulit. Epinefrin merupakan kunci utama untuk penanganan
pra rumah sakit pada reaksi sistemik. Antihistamin sistemik dan
kortikosteroid, bila tersedia, dapat membantu mengatasi reaksi sistemik.1

18

b. Medikamentosa
- Topikal : Jika reaksi lokal ringan, dikompres dengan larutan asam borat
3%, atau kortikosteroid topikal seperti krim hidrokortison 12%. Jika reaksi berat dengan gejala sistemik, lakukan
pemasangan torniket proksimal dari tempat gigitan dan diberi
obat sistemik.
- Sistemik : Injeksi antihistamin seperti klorfeniramin 10 mg atau
difenhidramin 50mg. Adrenalin 1% 0,3-0,5 ml subkutan.
Kortikosteroid sistemik diberikan pada penderita yang tak
tertolong dengan antihistamin atau adrenalin.
c. Perawatan Unit Gawat Darurat (keadaan berat)
Intubasi endotrakeal dan ventilator mungkin diperlukan untuk menangani
anafilaksis berat atau angioedema yang melibatkan jalan napas. Penanganan
anafilaksis emergensi pada individu yang atopik dapat diberikan dengan
injeksi awal intramuskular 0,3-0,5 ml epinefrin dengan perbandingan
1:1000. Dapat diulang setiap 10 menit apabila dibutuhkan. Bolus intravena
epinefrin (1:10.000) juga dapat dipertimbangkan pada kasus berat. Begitu
didapatkan respon positif, bolus tadi dapat dilanjutkan dengan infus
dicampur epinefrin yang kontinu dan termonitor. Eritema yang tidak
diketahui penyebabnya dan pembengkakan mungkin sulit dibedakan dengan
sellulitis. Sebagai aturan umum, infeksi jarang terjadi dan antibiotik
profilaksis tidak direkomendasikan untuk digunakan.1
3.9 Prognosis
Prognosis dari insect bite reaction bergantung pada jenis insekta yang
terlibat dan seberapa besar reaksi yang terjadi. Pemberian topikal berbagai
jenis analgetik, antibiotik, dan pemberian oral antihistamin cukup membantu,
begitupun dengan kortikosteroid oral maupun topikal. Pemberian insektisida,
mencegah pajanan ulang, dan menjaga higienitas lingkungan juga perlu
diperhatikan. Sedangkan untuk reaksi sistemik berat, penanganan medis
darurat yang tepat memberikan prognosis baik.3

19

BAB IV
PEMBAHASAN
Tabel perbandingan pada kasus yang ditemukan dengan tinjauan pustaka
pada Dermatitis Insect Bite
Dermatitis Insect Bite
Kasus
S

Teori

Gatal dan bengkak di kelamin


kurang lebih 1 hari yang lalu
tapi pasien mengaku tidak
tahu bengkaknya karena apa.
Gatal dan bengkak dirasa
mendadak waktu pagi hari
bangun tidur
Gatal dirasa sepanjang hari
kulit terasa panas dan agak
menebal
riwayat tidur dilantai
sebelumnya +, pasien tinggal
dirumah orang tuanya sebelah
sawah
Tampak makula eritematus di
penis dan skrotum,tampak
makula hiperpigmentasi dan
papul di bagian tepi
selangkangan.
Oedem penis ditengah
tampak bintik hitam seperti
krusta, oedem di skrotum
kulit terasa menebal

Dermatitis Insect Bite

Metilprednisolone 16mg 2x1


Loratadine 1x1
Betasone cream 3x/hari

Pasien sadar dengan adanya


gigitan serangga ketika terjadi
Bengkak dan rekasinya lokal
dikeluhkan cepat setelah kejadian
Riwayat bepergian keluar rumah
sebelumnya
Rumah di daerah perkebunan atau
hutan
Ada wabah serangga di
lingkungan tempat tinggal pasien

eritema, panas, dan edema pada


jaringan sekitar gigitan
Pada reaksi lokal berat, keluhan
terdiri dari eritema yang luas,
urtikaria, dan edema pruritis
Papular urtikaria: Bekas gigitan
kutu, berdiameter <1 cm serta
memiliki vesikel di atasnya
Reaksi berat dapat disertai gejala
sistemik
Dermatitis Insect Bite
Ringan :
kortikosteroid topikal seperti krim
hidrokortison 1-2%.
Antihistamin oral
Berat:
Injeksi antihistamin seperti
difenhidramin 50mg.

20

Adrenalin 1% 0,3-0,5 ml
subkutan. Kortikosteroid sistemik

Dermatitis Insect Bite


Pasien sadar dengan adanya gigitan
serangga ketika terjadi
Bengkak dan rekasinya lokal
dikeluhkan cepat setelah kejadian
Riwayat bepergian keluar rumah
sebelumnya
Rumah di daerah perkebunan atau
hutan
Ada wabah serangga di lingkungan
tempat tinggal pasien
eritema, panas, dan edema pada
jaringan sekitar gigitan
Pada reaksi lokal berat, keluhan terdiri
dari eritema yang luas, urtikaria, dan
edema pruritis
Papular urtikaria: Bekas gigitan kutu,
berdiameter <1 cm serta memiliki
vesikel di atasnya
Reaksi berat dapat disertai gejala
sistemik
Dermatitis Insect Bite
Ringan :
kortikosteroid topikal seperti krim
hidrokortison 1-2%.Antihistamin oral
Berat:
Injeksi antihistamin seperti
difenhidramin 50mg.
Adrenalin 1% 0,3-0,5 ml subkutan.
Kortikosteroid sistemik

21

Defferential Diagnosa Tn.Y 21th


Skabies
Biasanya penderita datang dengan
keluhan gatal dan ada lesi pada kulit.
gatal terutama malam hari dan timbul
luka berbentuk seperti jerawat pada
sela-sela jari tangan, telapak tangan,
bokong, atau perut bagian bawah.
paling sering di lingkungan yang
kebersihannya kurang dan padat
penduduknya seperti asrama dan
penjara.

Terowongan berupa garis hitam, lurus,


berkelok, atau terputus-putus, berbentuk
benang.
Papula, urtikaria, ekskoriasi , krusta, pustul
Predileksi : sela jari, telapak jari pergelangan
tangan , siku, ketiak mamae, kelamin&
bokong, pusar & perut bawah
Lebih dari 1 pasien dirumah

Skabies
Belerang endap (sulfur
presipitatum), dengan kadar 420% dalam bentuk salep atau krim.
Emulsi benzil-benzoat (20-25%)
Permetrin dengan kadar 5%

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Insect Bite atau gigitan serangga adalah kelainan akibat gigitan atau
tusukan serangga yang disebabkan reaksi terhadap toksin atau alergen yang
dikeluarkan artropoda penyerang. Prevalensinya sama antara pria dan wanita.
Bayi dan anak-anak labih rentan terkena gigitan serangga dibanding orang
dewasa. Salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit ini yaitu terjadi
pada tempat-tempat yang banyak serangga, seperti di perkebunan, persawahan,
dan lain-lain. Secara sederhana gigitan dan sengatan lebah dibagi menjadi 2 grup
yaitu

Venomous

(beracun)

dan

Non

Venomous

(tidak

beracun).

Reaksi yang timbul melibatkan mekanisme imun.. Reaksi lokal yang


biasanya muncul dapat berupa papular urtikaria. Papular urtikaria dapat langsung
hilang atau juga akan menetap, biasa disertai dengan rasa gatal, dan lesi nampak
seperti berkelompok maupun menyebar pada kulit. Papular urtikaria dapat muncul
pada semua bagian tubuh atau hanya muncul terbatas disekitar area gigitan. Pada
awalnya, muncul perasaan yang sangat gatal disekitar area gigitan dan kemudian
muncul papul-papul. Papul yang mengalami ekskoriasi dapat muncul dan akan
menjadi prurigo nodularis. Vesikel dan bulla dapat muncul yang dapat menyerupai
pemphigoid bullosa, sebab manifestasi klinis yang terjadi juga tergantung dari
respon

sistem

imun

penderita

masing-masing.

Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik serta


pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis dapat ditemukan adanya riwayat aktivitas
diluar rumah yang mempunyai resiko mendapat serangan serangga. Gatal
biasanya merupakan keluhan utama, campuran topikal sederhana seperti menthol,
fenol, atau camphor bentuk lotion atau gel dapat membantu untuk mengurangi
gatal, dan juga dapat diberikan antihistamin oral. Steroid topikal dapat digunakan
untuk mengatasi reaksi hipersensitifitas dari sengatan atau gigitan. Infeksi
sekunder dapat diatasi dengan pemberian antibiotik topikal maupun oral. Jika
terjadi reaksi berat dengan gejala sistemik dapat diberikan Epinefrin.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Moffitt, John E. MD. Allergic Reactions to Insect Bites and Stings on Southern
Medical Journal, 2003.
2. Insect Bites and Infestations. In : Freedberg IM at al, eds, Fitzpatricks
Dermatology in General Medicine 5th. 2007. USA: McGrawHill.
3. Amiruddin MD. Skabies. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.1.
Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ; 2003.
4. McCroskey, Amy L. MD. Scabies.] Taken from :
http://emedicine.medscape.com/article/785873-overview#showall
5. Chosidow O. Scabies. New England J Med. 2006. P. 1718-27

23

Daftar Pertanyaan dan Jswaban presentasi Dermatitis insect bite


1. Distama Hidayat
Pertanyaan :
Bila dirumah digigit serangga beracun, penanganan pertama dirumah
sebelum dibawa ke RS?
Jawaban :
Kebanyakan gigitan serangga dapat dirawat pada saat akut dengan
memberikan kompres setelah perawatan luka rutin dengan sabun dan air
untuk meminimalisasi kemungkinan infeksi. Untuk reaksi lokal yang luas,
kompres es dapat meminimalisasi pembengkakan. Pemberian kompres es
tidak boleh dilakukan lebih dari 15 menit dan harus diberikan dengan
pembatas baju antara es dan kulit untuk mencegah luka langsung akibat
suhu dingin pada kulit.
2. Nurnakiah
Pertanyaan :
Bagaimanakah cara membedakan antara dermatitis insect bite dengan
dermatitis kontak iritan, bila lesinya sudah dimanipulasi misal sudah
diberikan salep dll?
Jawaban :
Anamnesis
Kebanyakan pasien sadar dengan adanya gigitan serangga ketika terjadi
reaksi atau tepat setelah gigitan. Pasien yang memiliki sejarah tidak
memiliki rumah atau pernah tinggal di tempat penampungan mungkin
mengalami paparan terhadap organisme, seperti serangga kasur. Kalau
DKI biasanya riwayat terpapar bahan bahan kimia asam dan basa kuat
maupun lemah, dan biasanya berulang
Obyektif
Pada reaksi lokal, pasien mungkin akan mengeluh tidak nyaman,
gatal, nyeri sedang maupun berat, eritema, panas, dan edema pada jaringan
sekitar gigitan. Sedangkan dari DKI akan tampak gejala tersebut diatas
disertai bula hingga lesi kemudian berlanjut menjadi krusta apabila
semakin berat
3. Roudhotul J
Pertanyaan :
Ciri khas pada insect bite jika dilihat dari anamnesa dan obyektif?
Jawaban:
Subyektif
Pasien sadar dengan adanya gigitan serangga ketika terjadi
Bengkak dan rekasinya lokal dikeluhkan cepat setelah kejadian
Riwayat bepergian keluar rumah sebelumnya

24

Rumah di daerah perkebunan atau hutan


Ada wabah serangga di lingkungan tempat tinggal pasien
Obyektif:
eritema, panas, dan edema pada jaringan sekitar gigitan
Pada reaksi lokal berat, keluhan terdiri dari eritema yang luas,
urtikaria, dan edema pruritis
Papular urtikaria: Bekas gigitan kutu, berdiameter <1 cm serta
memiliki vesikel di atasny
Reaksi berat dapat disertai gejala sistemik

4. Amalia
Pertanyaan:
Bagaimana Differential Diagnosis dari penyakit tsb? Cara menyingkirkan
masing masing bagaimana?
Jawaban?
-Sudah tercantum di Bab Pembahasan5. Aszharil R
Pertanyaan :
Jika terkena Gigitan serangga yang beracun, apakah boleh racun
dikeluarkan dan dihisap untuk pertolongan pertama?
Jawaban :
Biasanya gigitan serangga sangat kecil dan sebagian besar tidak tampak
jadi tidak dimungkinkan untuk melakukan hal tersebut,
Selain itu dari berbagai referensi dan jurnal tentang dermatitis Insect Bite
tidak ditemukan pertolongsn pertama dengan cara menghisap racun
tersebut

25