Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN SAMPAH YANG DIHASILKAN OLEH INDIVIDU

Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah
Sanitas Lingkungan
Dosen pengampu: Arum Siwiendrayanti S.KM, M.Kes
Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.

Ira Abawi
Igadhini Fitriana
Diah Indriani N
Sri Rahayu
Urlinda Rizki

(6411414087)
(6411414094)
(6411414095)
(6411414102)
(6411414105)

Rombel: 4

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan Sampah Yang Dihasilkan
Oleh Individu untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sanitasi Lingkungan.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun.
Hanya itu yang dapat kami sampaikan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca.

Semarang, 21 November 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

ii

Halaman
HALAMAN JUDUL..................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang.............................................................................. 1

1.2

Rumusan Masalah......................................................................... 2

1.3

Tujuan............................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Pengertian sampah ........................................................................ 3

2.2

Klasifikasi sampah ....................................................................... 5


2.2.1

Klasifikasi sampah berdasarkan sumbernya 5

2.2.2

Klasifikasi sampah berdasarkan bentuknya 6

2.23

Klasifikasi sampah berdasarkan sifatnya 6

2.3

Karakteristik sampah .

2.4

Teknik operasional penanganan sampah

2.5

Timbunan sampah .

2.6

2.5.1

faktor yang mempengaruhi timbunanan sampah 10

2.5.2

metode penghitungan timbunanan sampah. 10

Besar timbulan sampah ..

11

BAB III PELAKSANAAN OBSERVASI


3.1.

Lokasi Pengamatan....................................................................... 14

3.2.

Waktu Pengamatan. 14

3.3.

Hasil Pengamatan 14

3.4.

Analisis Hasil Pengamatan. 20

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan...

27

4.2 Saran.

27

DAFTAR PUSTAKA.. 28
DOKUMENTASI
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 36
iii

iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah
berakhirnya suatu proses. Sampah dapat bersumber dari alam, manusia,
konsumsi, nuklir, industri, dan pertambangan. Sampah di bumi akan terus
bertambah selama masih ada kegiatan yang dilakukan oleh baik alam maupun
manusia. Sampah yang dihasilkan di Indonesia mencapai 11.330 ton per hari.
Sampah dapat dibedakan berdasarkan sifat dan bentuknya.
Berdasarkan sifatnya, sampah bibagi menjadi dua, yaitu sampah organik
dan anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang dapat diuraikan atau
degradable. Contoh sampah organik adalah sampah yang mudah membusuk
seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini
dapat diolah menjadi kompos. Sedangkan sampah anorganik merupakan
sampah yang tidak mudah diuraikan atau undegradable . Contoh sampah
anorganik adalah sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik, kayu,
kaca, kaleng, dan sebagainya. Sampah anorganik didaur ulang oleh home
industry untuk mengurangi jumlah sampah serta dijadikan sebagai peluang
usaha.
Berdasarkan bentuknya, sampah dapat dibedakan menjadi sampah padat,
cair, alam, konsumsi, manusia dan radioaktif. Sampah padat adalah sampah
yang berwujud padat. Sampah padat dapat berupa sampah rumah tangga:
sampah dapur, kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Sampah organik dan
anorganik termasuk sampah padat. Sampah ini dapat dibedakan berdasarkan
kemampuan diurai oleh alam atau Biodegrability menjadi sampah padat
biodegradable (sampah yang dapat diuraikan oleh proses biologi) dan sampah
padat non-biodegradable (tidak dapat diuraikan oleh suatu proses biologi.

Sampah alam merupakan sampah yang diproduksi oleh alam dan diuraikan
melalui proses daur ulang alami. Contoh dari sampah alam adalah daun kering
di hutan yang terurai menjadi tanah. Sampah manusia adalah istilah yang
digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin.
Sampah manusia dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia
karena dapat dikatakan sebagai sarana perkembangan penyakit yang
disebabkan oleh virus dan bakteri. Sampah konsumsi merupakan sampah yang
dihasilkan oleh kegiatan konsumsi manusia dan dibuang ke tempat sampah.
Jumlah sampah konsumsi sampai sekarang tidak melebihi jumlah sampah
industri.
Setiap individu berpotensi menghasilkan sampah per harinya entah
sampah organic, anorganik, atau berbagai macam sampah lainnya. Bukan
hanya petugas kebersihan ataupun pemerintah saja yang harrus mengolah
sampah,

sebenarnya

setiap

individu

berkewajiban

untuk

mengolah

sampahyang dihasilkan. Untuk itu observasi ini dilakukan untuk melihat


sampah

yang

dihasilkan

tiap

individu

dan

cara

pengolahan

dan

penindaklanjutan sampah tersebut.


.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja sampah yang dihasilkan oleh individu?
2. Berapa volume sampah yang dihasilkan oleh individu?
3. Pada hari apa volume sampah paling banyak dihasilkan ?
4. Jenis sampah apa yang paling banyak dihasilkan ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa saja sampah yang dihasilkan yang dihasilkan oleh
individu.
2. Mengetahui volume sampah yang dihasilkan oleh individu
3. Mengetahui hari dengan volume sampah paling banyak dihasilkan
4. Mengetahui Jenis sampah apa yang paling banyak dihasilkan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sampah
Berdasarkan SNI 19-2454 tahun 2002, sampah adalah limbah yang bersifat
padat terdiri dari bahan organik dan bahan anorganik yang dianggap tidak
berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan
melindungi investasi pembangunan. Sampah perkotaan adalah sampah yang
timbul di kota.
Menurut Kodoatie (2005), sampah adalah limbah atau buangan yang
bersifat padat, setengah padat yang merupakan hasil sampingan dari kegiataan
perkotaan atau siklus kehidupan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.
Sumber limbah padat (sampah) perkotaan berasal dari permukiman, pasar,
kawasan perkotaan dan perdagangan, kawasan perkantoran dan sarana umum,
kawasan industri, peternakan hewan, dan fasilitas lainnya. Mendukung
pernyataan diatas menurut Slamet (2002) dalam Indra (2007), sampah adalah
segala sesuatu yang tidak lagi dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat.
Sampah merupakan suatu bahan yang terbuang atau di buang dari suatu
sumber hasilaktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak
mempunyai

nilai

ekonomi.

Dalam

Undang-Undang

No.18

tentang

Pengelolaan Sampah menyatakan definisi sampah sebagai sisa kegiatan


sehari-hari manusia dan atau dari proses alam yang berbentuk padat.
Permasalahan sampah merupakan permasalahan yang krusial bahkan sampah
dapat dikatakan sebagai masalah kultural karena berdampak pada sisi
kehidupan terutama dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung,
Makasar, Medan dan kota besar lainnya. Sampah akan terus ada dan tidak
akan berhenti diproduksi oleh kehidupan manusia, jumlahnya akan berbanding
lurus dengan jumlah penduduk, bisa dibayangkan banyaknya sampah-sampah
dikota besar yang berpenduduk padat. Permasalahan ini akan timbul ketika
sampah menumpuk dan tidak dapat dikelola dengan baik.

Menurut WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak


dipakai,

tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan

manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Chandra, 2007) . Banyak sampah
organik masih mungkin digunakan kembali/ pendaurulangan (reusing),
walaupun akhirnya akan tetap merupakan bahan/ material yang tidak dapat
digunakan kembali (Dainur, 1995).
Sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan sebenarnya hanya sebagian dari
benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak
disenangi, atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai
mengganggu kelangsungan hidup. Dari segi ini dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan sampah ialah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai,
disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari
kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi
yang bukan biologis (karena human waste tidak termasuk didalamnya) dan
umumnya bersifat padat (karena air bekas tidak termasuk didalamnya).
Sampah menjadi masalah penting untuk penting untuk kota yang padat
penduduknya hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
a. Volume sampah yang sangat besar sehingga melebihi kapasitas daya
tampung tempat pembuangan sampah akhir (TPA)
b. Lahan TPA semakin sempit karena tergeser penggunaan lain
c. Teknologi pengelolaan sampah tidak optimal sehingga sampah lambat
membusuknya, hal ini menyebabkan percepatan peningkatan volume
sampah lebih besar dari pembusukannya oleh karena itu selalu
diperlukan perluasan area TPA baru
d. Sampah yang sudah layak menjadi kompos tidak dikeluarkan dari TPA
karena beberapa pertimbangan
e. Managemen pengelolaan sampah tidak efektif sehingga seringkali
menjadi penyebab distorsi dengan masyarakat setempat
f. Pengelolaan sampah disarakan tidak memberikan dampak
terhadap lingkungan

positif

g. Kurangnya dukungan kebijakan dari pemerintah dalam memanfatkan


produk sampingan sehingga tertumpuknya produk tersebut di lahan
TPA
2.2 Klasifikasi Sampah
2.2.1. Klasifikasi Sampah Berdasarkan Sumbernya
1. Pemukiman : biasanya berupa rumah atau apartemen. Jenis sampah
yang ditimbulkan antara lain sisa makanan, kertas, kardus, plastik,
tekstil, kulit, sampah kebun, kayu, kaca, logam, barang bekas rumah
tangga, limbah berbahaya dan sebagainya.
2. Daerah komersial : yang meliputi pertokoan, rumah makan, pasar,
perkantoran, hotel, dan lain-lain. Jenis sampah yang ditimbulkan
antara lain kertas, kardus, plastik, kayu, sisa makanan, kaca, logam,
limbah berbahaya dan beracun, dan sebagainya.
3. Institusi: yaitu sekolah, rumah sakit, penjara, pusat pemerintahan, dan
sebagainya. Jenis sampah yang ditimbulkan sama dengan jenis sampah
pada daerah komersial.
4. Konstruksi dan pembongkaran bangunan: meliputi pembuatan
konstruksi baru, perbaikan jalan, dan lain-lain . Jenis sampah yang
ditimbulkan antara lain kayu, baja, beton, debu, dan sebagainya.
5. Fasilitas umum: seperti penyapuan jalan, taman, pantai, tempat
rekreasi, dan lain-lain. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain
rubbish, sampah taman, ranting, daun, dan sebagainya.
6. Pengolah limbah domestik seperti Instalasi pengolahan air minum,
Instalasi pengolahan air buangan, dan insinerator. Jenis sampah yang
ditimbulkan antara lain lumpur hasil pengolahan, debu, dan
sebagainya.
7. Kawasan Industri: jenis sampah yang ditimbulkan antara lain sisa
proses produksi, buangan non-industri, dan sebagainya.
8. Pertanian: jenis sampah yang dihasilkan antara lain sisa makanan
busuk, sisa pertanian, dan sebagainya.
5

2.2.2. Klasifikasi Sampah Berdasarkan Bentuknya


Berdasarkan bentuknya sampah dapat diklasifikasi atas 3 jenis, yaitu :
1. Sampah berbentuk padatan (solid), misalnya daun, kertas, karton,
kaleng dan plastik.
2. Sampah berbentuk cairan (termasuk bubur), misalnya bekas air
pencuci, bahan cairan yang tumpah. Limbah industri banyak juga yang
berbentuk cair atau bubur, misalnya tetes yaitu sampah dari pabrik gula
tebu.
3. Sampah berbentuk gas, misalnya karbon dioksida, ammonia dan gas
gas lainnya.
2.2.3. Klasifikasi Sampah Berdasarkan Sifatnya
Sampah berdasarkan sifatnya dibagi atas 2, yaitu :
1. Sampah organik, yaitu sampah yang mengandung senyawa-senyawa
organik yang tersusun dari unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen dan
lain-lain. Yang termasuk sampah organik adalah daun-daunan, kayu,
kertas, karton, sisa-sisa makanan, sayur-sayuran, buah-buahan,
potongan-potongan kayu, ranting, daun-daunan, rumput-rumputan
pada waktu pembersihan kebun atau halaman yang mudah diuraikan
mikroba.
2. Sampah anorganik, yaitu sampah yang terdiri dari kaleng, plastik, besi,
gelas atau logam lain yang tersusun oleh senyawa-senyawa anorganik.
Sampah ini tidak dapat diuraikan oleh mikroba.
2.3 Karakteristik Sampah
Karakteristik sampah yang biasa ditampilkan dalam pengelolaan sampah
adalah karakteristik fisika dan kimia. Karakteristik tersebut sangat bervariasi
dan bergantung pada komponenkomponen yang terdapat didalam sampah.
Keragaman jenis sampah dari berbagai tempat/daerah memungkinkan
perbedaan dari sifat sifat sampah itu sendiri. Sampah di negara yang sedang
berkembang berbeda unsur penyusunnya dibandingkan dengan sampah
perkotaan pada negaranegara maju.
6

Karakteristik sampah dikelompokkan menurut sifatnya terbagi atas 2,


yaitu :
1. Karakteristik fisika : meliputi densitas, kadar air, kadar volatil, kadar
abu, nilai kalor, distribusi ukuran.
2. Karakteristik kimia : menggambarkan susunan kimia sampah yang
terdiri atas unsur C, N, O, P, H, S. Densitas sampah akan bergantung
pada sarana pengumpul dan pengangkut, untuk kebutuhan desain oleh
Damanhuri (2010) dikelompokkan sebagai berikut :
a. Sampah di wadah sampah rumah : 0,01 0,20 ton/m3
b. Sampah di gerobak sampah : 0,20 0,25 ton/m3
c. Sampah di truk terbuka : 0,30 0,40 ton/m3
d. Sampah di TPA dengan pemadatan konvensional : 0,50 0,60 ton/m3
2.4 Teknik Operasional Penanganan Sampah
Sub-sistem teknis operasional pengelolaan sampah perkotaan meliputi
dasar-dasar perencanaan untuk kegiatan-kegiatan pewadahan sampah,
pengumpulan sampah, pengangkutan sampah, pengolahan sampah dan
pembuangan akhir sampah.
Teknis operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri dari
kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir sampah harus bersifat
terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya.

Teknis operasionalisasi penanganan sampah, dapat digambarkan dalam proses


berikut ini :

Diagram Teknik operasional Pengelolaan Persampahan (SNI 19-2454-2002)


Pengelolaan sampah ditujukan pada pengumpulan sampah mulai dari
sumber timbulan sampah sampai pada menuju tempat pembuangan sampah
akhir (TPA). Pengelolaan sampah pada sebuah kota adalah sebuah sistem
yang kompleks dan tidak dapat disejajarkan atau disederhanakan secara
mudah atau dibandingkan dengan dengan sampah daerah pedesaan.
Dibutuhkan waktu yang cukup lama dalam pengelolaan sampah karena
menyangkut juga kepada perubahan perilaku masyarakat kota tersebut serta
semua pihak yang terlibat didalamnya.
Menurut UU no.18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, ada 2 kelompok
utama pengelolaan sampah, yaitu:
a. Pengurangan sampah (waste minimization), yang terdiri dari
pembatasan terjadinya sampah, guna-ulang dan daur-ulang.
b. Penanganan sampah (waste handling), yang terdiri dari:
Pemilahan : pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan
jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah.

Pengumpulan : pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber


sampah

ke

tempat

penampungan

sementara

atau

tempat

pengolahan sampah terpadu.


Pengangkutan : membawa sampah dari sumber dan/atau dari
tempat

penampungan sampah sementara atau dari tempat

pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir.


Pengolahan : mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah
sampah
Pemrosesan akhir sampah : pengembalian sampah dan/atau residu
hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
Beberapa

permasalahan

yang

dihadapi dalam teknis

operasional

penanganan persampahan di antaranya:

Kapasitas peralatan yang belum memadai

Pemeliharaan alat yang kurang baik

Lemahnya tenaga pelaksana khususnya tenaga harian lepas

Terbatasnya metode operasional yang sesuai dengan kondisi daerah

Siklus operasi persampahan tidak lengkap / terputus karena


berbedanya penanggung jawab

Koordinasi sektoral antar birokrasi pemerintah seringkali lemah

Manajemen operasional lebih dititik beratkan pada aspek pelaksanaan,


sedangkan aspek pengendaliannya lemah

Perencanaan operasional seringkali hanya untuk jangka pendek.

2.5 Timbulan Sampah


Timbulan sampah menurut SNI 19-2454 tahun 2002 adalah banyaknya
sampah yang timbul dari masyarakat dalam satuan volume maupun berat per
kapita per hari, atau perluas bangunan atau perpanjang jalan.

2.5.1. Faktor Yang Mempengaruhi Timbulan Sampah


Faktorfaktor yang mempengaruhi timbulan sampah adalah :
1. Jumlah penduduk, artinya jumlah penduduk meningkat maka timbulan
sampah meningkat.
2. Keadaan sosial ekonomi, semakin tinggi keadaan sosial ekonomi
masyarakat maka semakin banyak timbulan sampah perkapita yang
dihasilkan.
3. Kemajuan teknologi, semakin maju teknologi akan menambah sampah
dari segi jumlah dan kualitas.
2.5.2. Metode Perhitungan Timbulan Sampah
Timbulan sampah yang dihasilkan dari sebuah kota dapat diperoleh
dengan survey pengukuran atau analisa langsung di lapangan, yaitu:
a. Mengukur langsung
Memperoleh satuan timbulan sampah dari sejumlah sampel ( rumah
tangga dan non-rumah tangga) yang ditentu kan secara acak di sumber
selama 8 hari berturut-turut (SNI 19-3964-1994).
b. Load-count analysis
Mengukur jumlah berat sampah yang masuk ke TPS, misalnya
diangkut dengan gerobak, selama 8 hari berturut-turut. Dengan melacak
jumlah dan jenis penghasil sampah yang dilayani oleh truk yang
mengumpulkan sampah tersebut, sehingga akan diperoleh satuan timbulan
sampah per-ekivalensi penduduk.
c. Weight-volume analysis
Dengan tersedia jembatan timbang, maka jumlah sampah yang masuk
ke fasilitas penerima sampah (TPA) akan dapat diketahui dengan mudah
dari waktu ke waktu. Jumlah sampah sampah harian kemudian digabung
dengan perkiraan area yang layanan, dimana data penduduk dan sarana
umum terlayani dapat dicari, maka akan diperoleh satuan timbulan sampah
per-e kuivalensi penduduk.

10

d. Material balance analysis


Merupakan analisa yang lebih mendasar, dengan menganalisa secara
cermat aliran bahan masuk, aliran bahan yang hilang dalam system, dan
aliran bahan yang menjadi sampah dari sebuah sistem yang ditentukan
batas-batasnya.
2.6. Besaran Timbulan Sampah
Secara praktis sumber sampah dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
a. Sampah dari pemukiman atau sampah rumah tangga
b. Sampah dari non-pemukiman yang sejenis sampah rumah tangga,
seperti pasar dan daerah komersial.
Kedua jenis sumber sampah diatas dikenal sebagai sampah domestik,
sedangkan sampah atau limbah yang bukan sejenis sampah rumah tangga
sebagai contoh limbah proses industri disebut sebagai sampah nondomestik.
Timbulan sampah berdasarkan sumbernya

11

Jumlah timbulan sampah ini akan berhubungan dengan elemen


pengelolaan sampah, antara lain :
Pemilihan peralatan, misalnya wadah, alat pengumpul, dan jenis
pengangkut
Perencanaan rute pengangkutan
Fasilitas dalam pendauran ulang
Luas dan jenis TPA.
Prakiraan timbulan sampah baik untuk saat sekarang maupun dimasa
mendatang merupakan dasar dari perencanaan, perancangan dan pengkajian
sistem pengelolaan persampahan. Prakiraan rata rata timbulan sampah
merupakan langkah awal yang dilakukan dalam pengelolaan sampah. Satuan
timbulan sampah biasanya dinyatakan dalam satuan skala kuantitas per orang
atau perunit bangunan dan lain sebagainya. Pada kota di negara berkembang,
dalam

memperhitungkan

besaran

12

timbulan

sampah,

baiknya

perlu

diperhitungkan adanya faktor pendauran ulang sampah mulai dari sumber


sampah hingga sampai di TPA.
Berdasarkan SNI 19-3983-1995, bila pengamatan lapangan belum
tersedia, maka untuk menghitung besaran timbulan sampah, dapat digunakan
angka timbulan sampah sebagai berikut :
Satuan timbulan sampah kota sedang = 2,75 3, 25 liter/orang/hari =
0,7 0,8 kg/orang/hari
Satuan timbulan sampah kota kecil = 2,5 2, 75liter/orang/hari =
0,625 0,7 kg/orang/hari.
Secara umum sampah dari sebuah kota sebagian besar berasal dari sampah
rumah tangga, maka untuk perhitungan secara cepat satuan timbulan sampah
tersebut sudah dapat dipergunakan untuk meliputi sampah lainnya seperti
pasar, hotel, toko dan kantor. Namun semakin besar sebuah kota maka sampah
rumah tangga akan semakin kecil porsinya dan sampah non rumah tangga
akan lebih besar porsinya sehingga diperlukan penyesuaian lanjut.

13

BAB III
HASIL OBSERVASI
3.1.

Lokasi Pengamatan
Lokasi pengamatan sampah per individu yang kami lakukan yaitu
bertempat di kos masing-masing pengamat.
Waktu Pengamatan
Pengamatan kami lakukan pada hari Rabu-Jumat ( 18-20 November

3.2.

2015)
Hasil Pengamatan
a. Pengamat 1

3.3.

TABEL SAMPAH YANG DIHASILKAN


Nama: Ira Abawi
Hari/Tangg
al

Rabu, 18
November
2015

Kamis, 19
November
2015

Jumat, 19
November
2015

Total
Volume

3,15 l

Jenis Sampah
Organik

Volume

Anorgani
k

Volume

Kulit
manga

0,5 l

Plastic

1l

Sisa nasi

0,1 l

Sisa lauk

0,05 l

Kertas dan
kapas

1,5 l

Sisa nasi

0,05

Plastic

2l

Plastic

1l

Kertas

0,5

Sisa lauk
7,06 l

1,6 l

0.01

Sampah
dedaunan

5l

Sisa nasi
dan lauk

0,1 l

Analisis :
Pengolahan sampah yang dilakukan individu adalah :
a.
Sampah organic
14

Pada sampah organic yang biasa dihasilkan seperti kulit buahbuahan, sisa nasi dan sisa makanan. Biasanya tidak diolah kembali, karena
keterbatasan tempat, alat dan biaya. Sampah organic yang dihasilkan di
kumpulkan di diwadahi pada tempat sampah yang di sediakan idividu,
biasanya dilakukan pengosongan tempat sampah maksimal 2 hari sekali
dan di buang di tempat penampungan sementara. Kemudian diangkut
keoleh truk-truk pengangkut sampah dan terakhir di buang ke TPA.
b.
Sampah anorgananik
Sampah anorganik yang biasa dihasilkan seperti kertas, plastic,
kapas, dan bekas botol air minum, biasanya sampah yang bias diolah
kembali seperti kertas dan botol-botol bekas, kaleng-kaleng bekas
biasanya dikumpulkan dan slanjutnya dijual ke pengepul barang- barang
rongsokan, tetapi jika sampahnya itu plasti yang tidak dapat di daur ulang
maka di kumpulkan di diwadahi pada tempat sampah yang di sediakan
idividu, biasanya dilakukan pengosongan tempat sampah maksimal 2 hari
sekali dan di buang di tempat penampungan sementara. Kemudian
diangkut keoleh truk-truk pengangkut sampah dan terakhir di buang ke
TPA.

b. Pengamat 2
TABEL SAMPAH
Nama: Igadhini Vitriana

Hari

Rabu

Sampah yang
dihasilkan
Kulit pisang

Jenis sampah
Organik

Volume
(liter)

Anorga
nik

Volume
(liter)

Kulit
pisang

0,24

kapas

0,6

15

Plastik

Kulit
ketela

plastik

Kapas

Pembal
ut

Pembalut
Kulit ketela

kamis

Jumat

Plastik

plastik

Pembalut

pembal
ut

Kapas

kapas

Kulit pisang

Kulit
pisang

Kulit ketela

Kulit
ketela

0,24

kapas

0,6

0,48

tissue

Kapas

plastik

Tissue
Plastik
jumlah

0,48

1,68

Analisis
Dari beberapa hari saat penghitungan volume sampah,sampah terbesar
terjadi saat ada sampah anorganik yaitu pembalut.Namun,setelah itu sampah yang
saya hasilkan lebih sedikit.Selama tiga hari, sampah yang saya hasilkan yaitu
sebesar 0,48 liter yang berupa sampah organic dan 1,68 liter sampah anorganik.
Pengolahan sampah yang dilakukan individu:
a. Sampah organic
Pada sampah organic seperti kulit ketela,kulit pisang dibuang ditempat
sampah yang disediakan oleh kos dan dibiarkan mongering.Setelah itu,
akan dibakar.
b. Sampah anorganik
16

Sampah anorganik seperti plastic,tissue,kapas dibuang di tempat sampah


yang

disediakan

oleh

kos.Biasanya

plastic-plastik

yang

masih

memungkinkan untuk didaur ulang akan diambil oleh pemulung.Setelah


itu, sisanya akan dibakar.
c. Pengamat 3
TABEL SAMPAH
NAMA
HAR
I
RAB
U

Kami
s

Jum
at

: DIAH INDRIYANI N.
SAMPAH YANG
DIHASILKAN
Sawi
Plastik

ORGA
NIK

Kertas
Tissue
Botol
Kertas
Plastik
Kulit mangga
Tissue
Plastik
Kertas

Kulit wortel
Tissue
JUMLAH

JENIS SAMPAH
VOLU
ANORGA
ME
NIK
(L)
0,3

VOLU
ME
(L)
0,6

0,2

0,2

0,6

0,7

10

2,2

Analisis:
1. Dari data tabel tersebut, individu menghasilkan 8,7 liter sampah
organik dalam 3 hari dan 2,2 liter sampah anorganik selama tiga
hari. Dari individu lebih banyak menghasilkan sampah anorganik
daripada sampah organik sehingga untuk pengolahannya haruslah
diperhatikan.
2. Untuk pengolahan sampah di daerah individu pun hanya sebatas
dibakar, baik sampah organik maupun anorganik. Sampah ini

17

dikumpulkan menjadi satu dibak sampah yang kemudian selama


dua hari sekali sampah ini dibakar dan hasil abu dari pembakaran
ini diambil oleh orang lain untuk diolah lebih lanjut.

d. Pengamat 4
TABEL SAMPAH PERHARI
Sri Rahayu
No
1

Hari
Rabu

Kamis

Jumat

Sampah yang
Dihasilkan
-Plastik sayur
-Kertas bungkus
gorengan
-Aqua Gelas
-Plastik bungkus
risoles
-Plastik bungkus tahu
-Botol Aqua
-Kertas Nasi
-Teh tubruk
-Plastik sayur
-Kertas bungkus
gorengan
-Plastik bungkus
risoles
-Kardus makanan
-Aqua gelas
-Daun bungkus arem
-Kertas bungkus ondeonde
-Plastik bungkus bakso
-Kulit mangga
-Plastik bungkus
kentang goreng
-Botol aqua
-Plastik Sayur
-Bahan sisa sayur
--Plastik sayur mentah
-Kulit anggur+tangkai
(1/4kg)
-Kulit mangga(1)
JUMLAH
18

Jenis Sampah
Organik Vol Anorganik
Vol

0,7L
1,5L

1,5L

1,5L

0,8L

1L

Analisis
1. Sampah yang dihasilkan pada hari pertama yaitu sejumlah 0,7L sampah
organik dan 1,5L sampah anorganik. Pada hari kedua sampah organik dan
anorganik yang dihasilkan masinh-masing 1,5L. Sedangkan pada hari
terakhir sampah organik yang dihasilkan sejumlah 0,8L dan sampah
anorganik yang dihasilkan sejumlah 1L. Rata-rata sampah yang dihasilkan
anggota kelompok tersebut sejumlah 1L sampah organik dan 1,3L sampah
anorganik untuk setiap harinya.
2. Dari hasil tersebut didapat kesimpulan bahwa produksi atau sampah yang
paling banyak dihasilkan pada hari kedua yaitu sejumlah 6L yang terdiri
dari sampah organik dan anorganik ,sedangkan sampah yang paling sedikit
dihasilkan pada hari ketiga yaitu ketika hari libur sejumlah 4,5L yang
terdiri dari sampah organik dan anorganik. Jumlah sampah yang dihasilkan
berbeda-beda setiap harinya. Hal tersebut dikarenakan pada hari pertama
dan hari kedua merupakan hari aktif kuliah sehingga mahasiswa tersebut
lebih sering jajan dan menghasilkan sampah, sedangkan pada hari libur
sampah yang dihasilkan relatif sedikit karena mahasiswa cenderung
mengurangi jajan diluar atau lebih memilih memasak di kos.
3. Untuk pengolahan sampah tersebut, pada sampah organik hanya dikubur
karena sampah tersebut dapat diuraikan oleh microorganisme dan bisa
dijadikan sebagai kompos. Sedangkan Untuk sampah anorganik
pengelolaannya dengan cara membuangnya ke TPA namun ketika petugas
sampah tidak mengambilnya, sampah anorganik dibakar untuk
menghindari penumpukan sampah.

e. Pengamat 5
TABEL SAMPAH
Urlinda Rizki

HARI
RABU

SAMPAH YANG
DIHASILKAN

ORGA
NIK

Plastik

19

JENIS SAMPAH
VOLU
ANORGA
ME
NIK
(L)

VOLU
ME
(L)
1,2

KAMIS

JUMAT

Kertas
Tissue
Botol Aqua
Botol
Kertas
Plastik
Tissue

Plastik
Kertas

JUMLAH

0,2

2,4

Analisis :
Pengolahan sampah yang dihasilkan adalah dengan cara dibakar kerena
semua sampah yang dihasilkan adalah sampah anorganik yang dapat langsung
dibakar. Tapi sebagian ada yang dijual ke pengepul barang-barang romngsokan.

3.4. Analisis Hasil Pengamatan


Dari pengamatan yang telah kami lakukan, dapat di ambil kesimpulan
sampah yang dihasilkan paling banyak terjadi pada hari kamis dengan
berat sampah 14,86 liter , dengan 8,76 liter sampah organic dan 6,1 liter
sampah anorganik. Sampah organic yang dihasilkan bermacam-macam
seperti kulit buah-buahan, kulit ketela, sampah dedaunan, sayur-sayuran
dan lain-lain. Sedangkan sampah anorganik yang dihasilkan

biasanya

berupa botol minuman bekas, kertas, plastic bungkus makanan tissue, dan
lain-lain.
Proses pengolahan sampah yang dilakukan oleh para pengamat adalah
berbeda-beda ada yang dikubur,di bakar, diangkut truk dan lain
sebagainya. Sampah yang dihasilkan pun bermacam-macam sesuai dengan
karakteristik kebutuhan individu. Kalau sampah yang dihasilkan berbentuk
sampah anorganik maka sebagian yang dapat didaur ulang maka akan di
jual ke pengepul barang bekas.
Namun pengolahan sampah oleh setiap individu belum sesuai SNI yng
di terapkan oleh pemerintah yaitu SNI 03-3243-2008 tentang Tata Cara
20

Pengelolaan Sampah Permukiman yaitu maka teknis operasional


penanganan sampah di sumber meliputi :
1) Menerapkan pemilahan sampah organik dan non organik
2) Menerapkan teknik 3R di sumber dan TPS
Peneliti sudah melakukan pemisahan sampah organic maupun anorganik,
tetapi belum melakukan 3R yaitu

Pengurangan sampah (waste

minimization), yang terdiri dari pembatasan terjadinya sampah R1),


guna-ulang (R2) dan daur-ulang (R3), Karena keterbatasan waktu
peralatan dan biaya.

No

Hari,Tanggal

1
2
3

RABU
KAMIS
JUMAT

Organik Anorganik
(L)
(L)
2,69
8,4
8.26
6,1
3,04
4,28

Volume Sampah Yang


Dihasilkan (L)
11,09
14,86
7,32

Pengolahan sampah di permukiman atau di sumber sampah dapat


mengurangi volume sampah yang dibuang menuju ke LPS atau ke LPA.
Pengolahan ini juga dapat merupakan bagian dari pengurangan sampah di
sumber sampah.
Dalam pengelolaan sampah dikenal adanya hierarki pengelolaan yang
menyatakan bahwa hierarki tertinggi akan dicapai bila suatu kota mampu
menerapkan pengurangan sampah sehingga jumlah sampah yang perlu
diangkut dan diproses akhir akan sedikit jumlahnya. Hal ini akan

21

menurunkan kebutuhan operasional selanjutnya

termasuk dampak

lingkungan yang mungkin timbul.


Pemisahan sampah di sumbernya merupakan cara yang paling
efektif guna mereduksi volume dan memanfaatkan kembali sampah.
Dalam hal ini sampah yang masih memiliki nilai ekonomis dipisahkan
berdasarkan jenisnya dari sampah organic yang mudah membusuk.
Sampah yang telah dipisahkan selanjutnya dapat digunakan kembali secara
langsung (reuse), diolah lebih lanjut, atau dijual kepada pihak pemanfaat.
Dalam hal pemilahan sampah telah dilakukan oleh masyarakat,
wadah komunal sebaiknya dibedakan berdasarkan jenis sampah yang
dipilah. belum ada ketentuan yang membakukan pemakaian warna.
Sementara ini orang sering menggunakan 3 warna umum untuk
membedakan ketiga jenis utama sampah yaitu Sampah yang berasal dari
pemukiman/tempat tinggal dan daerah komersial, selain terdiri atas
sampah organik dan anorganik, juga dapat berkategori B3.
Sampah organik bersifat biodegradable sehingga

mudah

terdekomposisi, sedangkan sampah anorganik bersifat non-biodegradable


sehingga sulit terdekomposisi. Bagian organik sebagian besar terdiri atas
sisa makanan, kertas, kardus, plastik, tekstil, karet, kulit, kayu, dan sampah
kebun. Bagian anorganik sebagian besar terdiri dari kaca, tembikar, logam,
dan debu. Sampah yang mudah terdekomposisi, terutama dalam cuaca
yang panas, biasanya dalam proses dekomposisinya akan menimbulkan
bau dan mendatangkan lalat.
.
Dengan demikian pengelolaannya menghendaki kecepatan, baik
dalam

pengumpulan,

pembuangan,

maupun

pengangkutannya.

Pembusukan sampah ini dapat menghasilkan bau tidak enak, seperti


ammoniak dan asam-asam volatil lainnya. Selain itu, dihasilkan pula gasgas hasil dekomposisi, seperti gas metan dan sejenisnya, yang dapat
membahaykan keselamatan bila tidak ditangani secara baik. Penumpukan
sampah yang cepat membusuk perlu dihindari. Sampah kelompok ini
kadang dikenal sebagai sampah basah, atau juga dikenal sebagai sampah
organik. Kelompok inilah yang berpotensi untuk diproses dengan bantuan
mikroorganisme, misalnya dalam pengomposan atau gasifikasi.
22

Sampah yang tidak membusuk atau refuse pada umumnya terdiri


atas bahan-bahan kertas, logam, plastik, gelas, kaca, dan lain-lain. Sampah
kering (refuse) sebaiknya didaur ulang, apabila tidak maka diperlukan
proses lain untuk memusnahkannya, seperti pembakaran. Namun
pembakaran refuse ini juga memerlukan penanganan lebih lanjut, dan
berpotensi sebagai sumber pencemaran udara yang bermasalah, khususnya
bila mengandung plastik PVC. Kelompok sampah ini dikenal pula sebagai
sampah kering, atau sering pula disebut sebagai sampah anorganik.
Konsep Pengurangan dalam Pengelolaan Sampah menurut UU18/2008 Menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, terdapat 2
kelompok utama pengelolaan sampah,
yaitu:
a. Pengurangan sampah (waste minimization), yang terdiri dari
pembatasan terjadinya sampah R1), guna-ulang (R2) dan daurulang (R3)
b. Penanganan sampah (waste handling), yang terdiri dari:
Pemilahan: dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan

sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah


Pengumpulan: dalam bentuk pengambilan dan pemindahan
sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan

sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu


Pengangkutan: dalam bentuk membawa sampah dari sumber
dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari
tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat

pemrosesan akhir
Pengolahan: dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi,

dan jumlah sampah


Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah
dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara
aman. UU-18/2008 ini menekankan bahwa prioritas utama yang harus
dilakukan oleh semua fihak adalah bagaimana agar mengurangi sampah
semaksimal mungkin. Bagian sampah atau residu dari kegiatan
pengurangan sampah yang masih tersisa selanjutnya dilakukan pengolahan

23

(treatment) maupun pengurugan (landfilling). Pengurangan sampah


melalui 3R menurut UU-18/2008 meliputi:
a. Pembatasan (reduce): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan
sesedikit mungkin
b. Guna-ulang (reuse): bila limbah akhirnya terbentuk, maka
upayakan memanfaatkan limbah tersebut secara langsung
c. Daur-ulang (recycle): residu atau limbah yang tersisa atau tidak
dapat dimanfaatkan secara langsung, kemudian diproses atau
diolah untuk dapat dimanfaatkan, baik sebagai bahan baku maupun
sebagai sumber enersi
Konsep pembatasan (reduce) jumlah sampah yang akan terbentuk
dapat dilakukan antara lain melalui:
Efisiensi penggunaan sumber daya alam
Rancangan produk yang mengarah pada penggunaan bahan atau
proses yang lebih sedikit menghasilkan sampah, dan sampahnya
mudah untuk diguna-ulang dan didaur-ulnag
Menggunakan bahan yang berasal dari hasil daur-ulang limbah
Mengurangi penggunaan bahan berbahaya
Menggunakan eco-labeling
Konsep guna-ulang (reuse) mengandung pengertian bukan saja
mengupayakan penggunaan residu atau sampah terbentuk secara langsung,
tetapi juga upaya yang sebetulnya biasa diterapkan sehari-hari di
Indonesia, yaitu memperbaiki barang ynag rusak agar dapat dimanfaatkan
kembali. Bagi prosdusen, memproduksi produk yang mempunyai masalayan panjang sangat diharapkan.
Konsep daur-ulang(recycle) mengandung pengertian pemanfaatan
semaksimal mungkin residu melalui proses, baik sebagai bahan baku
untuk produk sejenis seperti asalnya, atau sebagai bahan baku untuk
produk yang berbeda, atau memanfaatkan enersi yang dihasilkan dari
proses recycling tersebut.
Beberapa hal yang diatur dalam UU-18/2008 terkait dengan upaya
minimasi (pembatasan) timbulan sampah adalah :
a. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan:
o menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam
jangka waktu tertentu
o memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan
24

o memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan


o memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang
o memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang.
b. Pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan menggunakan bahan
produksi yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin, dapat
diguna ulang, dapat didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh
proses alam.
c. Masyarakat dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah
menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, didaur ulang,
dan/atau mudah diurai oleh proses alam
d. Pemerintah memberikan:
o insentif kepada setiap orang yang melakukan pengurangan
sampah
o disinsentif

kepada

setiap

orang yang

tidak

melakukan

pengurangan sampah
Ketentuan tersebut di atas masih perlu diatur lebih lanjut dalam
bentuk Peraturan Pemerintah agar dapat dilaksanakan secara baik dan tepat
sasaran. Sebagai pembanding, Jepang membagi stakeholders utama dalam
pengelolaan sampah yang berbasis 3R dalam 5 kelompok, yang masingmasing mempunyai peran utama dalam membatasi sampah yang
akan dihasilkan,

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Sampah yang dihasilkan oleh setiap individu berbeda-beda


tergantung pada kebutuhan masing-masing individu
25

Volume yang dihasilkan pun bervariasi tergantung sampah yang


dihasilkan tiap individu karena setiap sampah mempunyai karakteristik

yang berbeda-beda.
Jumlah sampah yang dihasilkan paling banyak pada hari kamis
Jenis sampah yang dihasilkan paling banyak adalah sampah

anorganik seperti plastic, kertas, tissue, dan botol bekas


Pengelolaan sampah tiap ondividu juga berbeda-beda tergantung

jenis sampahnya dan lokasi tempat tinggal


4.2 Saran
Sebaiknya pengelolaan sampah baik secara individu atau pemukiman
sesuai SNI yng di terapkan oleh pemerintah yaitu SNI 03-3243-2008 tentang
Tata Cara Pengelolaan Sampah Permukiman yaitu maka teknis operasional
penanganan sampah di sumber meliputi :
1) Menerapkan pemilahan sampah organik dan non organik
2) Menerapkan teknik 3R di sumber dan TPS
Dan melukan melakukan 3R yaitu Pengurangan sampah (waste
minimization), yang terdiri dari pembatasan terjadinya sampah R1), gunaulang (R2) dan daur-ulang (R3), Karena keterbatasan waktu peralatan dan
biaya. Agar sampah yang dihasilkan tidak terlalu banyak dan mencemari
lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Damanhuri, Enri . Tri Padmi. 2010. Diktat Kuliah Tl-3104 Pengelolaan
Sampah. Bandung: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB
SNI 3242:2008 oleh Badan Standarisasi Nasional

26