Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah bagi manusia mempunyai arti yang sangat penting untuk kehidupannya,
baik sendiri maupun bersama- sama dengan masyarakatnya,bahkan sampai meninggal
dunia manusia membutuhkan tanah apabila dilakukan penguburan. Menurut Surojo
Wignjodipuro, ada dua hal yang menyebabkan tanah itu mempunyai kedudukan yang
sangat penting dalam hukum adat, yaitu: karena sifatnya dan karena fakta. Dalam pada
itu Imam Sudiyat mengatakan, Di Negara yang rakyatnya berhasrat melaksanakan
demokrasi yang berkeadilan sosial, pemanfaatan tanah untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat merupakan suatu coditio sine qua non. Dalam hukum adat dapat
dilihat konsepsi pokok bahwa tanah berada dalam kekuasaan persekutuan hukum
berlandaskan asas kebersamaan yang dikenal dengan hak ulayat. Hak ini oleh Van
Vollenhoven, disebut beschikingsrecht, sedangkan tanah yang merupakan wilayahnya
dinamakan beschikingkring. Istilah ini kedalam Bahasa Indonesia di terjemahkan
dengan hak ulayat ataupun hak pertuanan, sedang istilah beschikingkring diterjemahkan
menjadi lingkungan ulayat.
Tanah juga merupakan kebutuhan hidup manusia yang sangat mendasar, karena
masyarakat hidup dan berkembang di atas tanah.. Dalam arti hukum,tanah mempunyai
peranan yang sangat penting, karena merupakan sumber kehidupan dan penghidupan
manusia itu sendiri, semua kegiatan yang dilakukan manusia,selalu dan pasti memerlukan
tanah sebagai penopang kegiatan dalam hidupnya. Masyarakat memandang
sebagai sumber kehidupan manusia dari lahir sampai meninggal

tanah

dunia. Tanah

dipergunakan sebagai tempat tinggal dan sebagai sumber penghidupan manusia seperti
untuk menanam padi, jagung, sayur-sayuran.Tanah merupakan fondasi yang

sangat

penting bagi kelangsungan hidup manusia,di samping itu tanah juga merupakan sumber
kekayaan bagi mereka yang memiliki dan menguasainya karena semua yang terkandung
di dalamnya bisa merupakan sumber pendapatan ataupun sumber penghasilannya. Tanah
begitu penting bagi masyarakat, nilai ekonomi tanah sangat begitu tinggi yang daerahnya
1

merupakan daerah tujuan pariwisata. Bali merupakan daerah tujuan pariwisata yang
terkenal dengan lingkungan alam dan adat budayanya. Dengan masuknya pariwisata di
Bali, banyaknya tanah-tanah yang dijadikan sebagai sarana kebutuhan wisatawan seperti:
pertokoan, restaurant, spa, dan lain sebagainya yang masi berkaitan dengan pariwisata.
Manusia sangat tergantung dengan tanah, bahkan sampai mati pun manusia masih
memerlukan tanah untuk penguburannya. Oleh karena itu begitu pentingnya arti tanah
bagi kehidupan manusia,tanah juga memiliki peranan yang sangat penting bagi Bangsa
Indonesia untuk melaksanakan dan melanjutkan

pembangunan Nasional untuk

mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur,sesuai dengan apa yang terkandung
di dalam Pancasila dan juga UUD 1945. Bali sebagai pusat pariwisata dunia
menyebabkan setiap orang berlomba-lomba untuk bisa memiliki dan menguasai tanah di
Bali. Para investor tingkat dunia pun bersaing untuk menanamkan modal sebesarbesarnya untuk membangun hotel dan pusat-pusat hiburan demi meraup keuntungan yang
tidak sedikit. Lahan-lahan banyak yang beralih fungsi, kawasan yang semula asri,
berubah menjadi lahan beton. Pemukiman penduduk dibangun di mana-mana, hal ini
tentu saja membuat kebutuhan akan tanah semakin meningkat dan berimbas pula pada
nilai ekonomis tanah tersebut, harga tanah menjadi semakin melambung dan tidak
terkendali, yang menyebabkan pula naiknya nilai pajak akan obyek tanah tersebut, hal ini
tidak bisa dicegah, karena pengaruh dan dampak dari pembangunan di bidang pariwisata.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kedudukan dan fungsi tanah pekarangan desa (PKD) di Bali?
2. Bagaimanakah faktor penyebab terjadinya pengalihan fungsi tanah adat terhadap
pariwisata di bali ?
3. Apakah dampak pengaruh

pariwisata

terhadap

peralihan

fungsi tanah

pekarangan desa (PKD) di Bali ?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan tujuannya sebagai untuk mengetahui kedudukan dan fungsi Tanah


pekarangan desa (PKD) dan untuk mengetahui pengaruh pariwisata terhadap peralihan
fungsi tanah pekarangan desa (PKD) di Bali demi kepentingan pariwisata.

1.4 Manfaat Penulisan


Hasil penulisan paper ini diharapkan dapat memberikan kegunaan secara teoritis maupun
praktis, antara lain sebagai berikut :
1. Kegunaan secara teoritis :
a. Untuk memperkaya khasanah Ilmu Hukum Adat, khususnya tentang tanah-tanah
adat.
b. Menjadi bahan masukan atau bahan informasi untuk penelitian sejenis
selanjutnya.
2. Kegunaan secara praktis yaitu memberikan sumbangan atau masukan kepada pemerintah
untuk membuat peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tanah-tanah adat
yang dialih fungsikan menjadi obyek pariwisata.

BAB II
PEMBAHASAN
3

2.1 Kedudukan dan fungsi Tanah Pekarangan Desa (PKD) di Bali


Berbicara mengenai kedudukan tanah adat di Bali selain tidak dapat di pisahkan
dengan sejarah tanah adatnya juga tidak bisa dilepaskan dengan masyarakat hukum adat
selaku pemilik dari tanah adat. Kedudukan tanah adat tersebut mengarah pada
UUPA,yang sebagaimana kedudukannya dalam tanah adat di Bali bersifat secara umum.
Pengakuan kedudukan tanah adat dapat kita lihat dalam pasal II ayat (1) Ketentuanketentuan Konversi UUPA yang selengkapnya berbunyi: Hak hak atas tanah yang
memberi wewenang sebagaimana atau mirip dengan hak hak yang dimaksud dalam
pasal 20 ayat (1) seperti yang disebut dengan nama sebagai yang dibawah, yang ada pada
mulai berlaku undang undang ini, yaitu hak : hak agraris eigendom, milik yasan,
andarbeni, hak atas druwe, hak atas druwe desa, pesini, grand sultan, landerijenbezitrecht,
altijddurende erpacht, hak usaha atas bekas tanah partikelir dan hak hak lain dengan
nama apapun juga yang akan ditegaskan lebih lanjut oleh Menteri Agraria, sejak mulai
berlakunya undang undang ini menjadi hak milik tersebut dalam Pasal 20 ayat kecuali
yang mempunyai tidal memenuhi syarat sebagaimana tersebut dalam pasal 21. Dari
ketentuan pasal 11 ayat (1) ketentuan ketentuan Konversi UUPA, jelas menunjukkan
bahwa status tanah adat Bali sebagai tanah ulatyat desa telah diatur dalam UUPA dan
dapat dikonversi menjadi hak milik sepanjang pemegang haknya memenuhi syarat
sebagai subjek hukum yang dapat mempunyai hak milik atas tanah sebagaimana
ditentukan dalam Pasal 21 UUPA.
Mengenai masyarakat hukum adat diatur secara yuridis dalam peraturan
perundang-undangan, peraturan daerah dan awig-awig. Pasal 18B ayat (2) UUD Dasar
1945 yang menyatakan bahwa Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan
masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yg
diatur dalam undang-undang, Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Undang-Undang Pokok Agraria sebagai Pasal yang mengakui keberadaan hak ulayat
sepanjang kenyataan masih ada, Pasal 1 angka 4 Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 3
Tahun 2001 tentang Desa Pakraman sebagaimana telah diubah dengan Perda Provinsi
Bali No. 3 Tahun 2003 yang menunjukan bahwa desa di Bali termasuk jenis desa
4

kesatuan masyarakat hukun adat Bali. Hal ini menunjukan bahwa desa pakraman sebagai
masyarakat hukum adat di Bali adalah merupakan desa yang otonum karena mempunyai
hak untuk mengurus rumah tangganya sendiri.Desa pakraman yang memiliki otonomi
dalam kaitannya dengan fungsi tanah juga dapat mempunyai hak untuk mengatur
pengunaan tanah-tanah yang ada di wilayahnya. Sebagaimana terdapat di Desa Pakraman
di Bali yang dalam kepustakaannya disebut dengan hak ulayat. Dilihat dari ciri khas desa
pakraman ini jelaslah bahwa corak masyarakat Bali dalam wadah desa pakraman adalah
sosial religius dalam arti segala prilaku selalu dilandasi oleh ajaran Agama (Agama
Hindu). Sejalan dengan ciri khas (identitas), corak masyarakat Bali serta unsur yang
dimiliki, maka segala aktifitas akan selalu mencari bentuk (menyesuaikan diri) lewat
situasi serta kondisi yang demikian. Hal ini pun terlihat pada pemanfaatan tanah-tanah
adat yang dimiliki oleh Desa Pakraman Daerah Pariwisata di Bali, dimana tanah-tanah
adat memperlihatkan fungsi dalam tiga bentuk yaitu:
1. Tanah adat berfungsi ekonomis merupakan tanah-tanah adat khususnya yang
berupa tanah-tanah pertanian (sawah, tegalan) semenjak dahulu memang telah
dipakai sebagai sarana pokok dan penunjang dalam kehidupan kerumah tanggaan.
2. Tanah adat berfungsi sosial ini misalnya dapat dilihat pada penyediaan tanah milik
desa untuk dipakai sekolah, lapangan, pasar, dan sebagai oleh pemerintah.
3. Tanah adat berfungsi keagamaan merupkan tanah yang diperuntukan sebagai
tempat melakukan upacara secara rutin baik dilakukan oleh krama desa sebagai
kesatuan maupun perorangan sesuai dengan keperluan.

2.2 Faktor penyebab terjadinya pengalihan fungsi tanah adat terhadap pariwisata di
Bali
Berdasarkan faktor penyebab terjadinya perubahan fungsi tanah adat di Bali. terdapatada 2
(dua) factor penyebab utama yang dialih fungsikannya tanah adat menjadi obyek pariwisata
di Bali, yaitu:
5

Faktor Ekonomi
Seperti pada uraian di atas, berkat adanya perkembangan pariwisata yang sangat pesat
di Bali ini sangat berpengaruh terhadap harga-harga tanah yang ada di Bali. Sehingga harga
tanah yang pada mulanya tidak mempunyai nilai ekonomis menjadi bernilai tinggi, dengan
adanya pariwisata yang membutuhkan sarana sebagai tempat untuk membangun Hotel,
Restaurant, Cafe, Art Shop yang mendukung sebagai daerah tujuan pariwisata. Selanjutnya
menurut hemat penulis, dengan dialihfungsikan tanah adat tersebut dan dibangunnya Hotel,
Cafe dan Art Shop, akan menambah penghasilan bagi warga desa adat tersebut dengan cara
menjual cindera mata atau buah tangan. Dapat kita lihat pasar seni Sukawati, dimana disana
terdapat berbagai macam hasil kerajinan dan kesenian dari masyarakat setempat. Apalah
jadinya jika tanah tetap dibiarkan kosong dan menjadi semak belukar, tanah tersebut tidak
akan memberikarn nilai ekonomi. Dengan menjadi obyek wisata, para turis wajib membayar
tiket masuk, sangat memberi keuntungan ekonomi yang tinggi baik bagi warga masyarakat,
warga desa adat, maupun warga desa dinas. Sekali lagi, faktor penyebab dialih fungsikannya
tanah adat menjadi tempat pariwisata adalah karena faktor ekonomi tersebut. Ekonomi
meningkat, akan mensejahterakan warga masyarakat adat sehingga pura-pura atau tempattempat pemujaan/sembahyang yang rusak atau sudah termakan usia, dengan adanya uang
pemasukkan dari hasil obyek wisata tersebut, maka dapat diperbaiki. Dengan tempat
sembahyang yang baik dan terawat baik, maka untuk menjalankan ibadahpun akan tenang
dan khusuk.

Faktor Perubahan Pola Pikir.


Sebagaimana perubahan pola pikir manusia yang seiring perkembangan dan
pemenuhan kebutuhan yang menyebabkan perubahan terhadap pola pikir yang mengalihkan
suatu fungsi tanah adat yaitu tanah perkarangan desa (PKD) menjadi pemanfaatan suatu
tanah adat terhadap daerah pariwisata di Bali. Pemanfaatannya tersebut dialih fungsikannya
6

tanah adat menjadi tempat pariwisata dengan faktor ekonomi. Dengan faktor ekonomi
terhadap pengalihan fungsi tanah adat yaitu Tanah Perkaranga Desa (PKD) yang dimana
dapat meningkat, akan mensejahterakan warga masyarakat adat dan menambah adanya
perkembangan pariwisata yang sangat pesat di Bali yang berpengaruh dampak kedepannya
sehingga pura-pura atau tempat-tempat pemujaan/sembahyang yang rusak atau sudah
termakan usia, dengan adanya uang pemasukkan dari hasil obyek wisata tersebut, maka dapat
diperbaiki.

2.3 Dampak Pengaruh terhadap Peralihan fungsi Tanah Pekarangan Desa (PKD) Desa
Pakraman di Bali
Sebagaimana Dampak pengaruh Pariwisata terhadap peralihan tanah adat di Bali
Dimana dapat diketahui bahwa hampir sebagian masyarakat di Bali bekerja dan
mempertaruhkan

nasibnya

pada

bidang-bidang

yang

berkaitan

dengan

pariwisata,sehingga dampak dari pariwisata itu sendiri sebagai hasilnya dapatlah


membantu kesejahteraan masyarakat yang ada di Bali pada umumnya. Dimana
tersebarnya lapangan pekerjaan yang lebih banyak terkait pariwisata dapat memberikan
peluang pekerjaan lebih banyak terhadap masyarakat di Bali,terkait dengan masyarakat
adat,damapk positif yang dapat dipetik adalah dimana diberikannya peluang terhadap
masyarakat adat yang memiliki kesenian-kesenian yang khas di masing-masing daerah
untuk memperkenalkan dan sekaligus menjadikan sebagai suatu penghasilan bagi
masyarakat tersebut. Dalam perkembangan kemajuan ini pariwisata DesaPakraman di
Bali mengakibatkan tanah-tanah DesaPakraman di Bali mempunyai nilai ekonomis yang
sangat tinggi. Dengan adanya kondisi seperti ini maka banyak kramadesa yang
memanfaatkan tanah adatnya sebagai penunjang fasilitas pariwisata akan menghasilkan
pendapatan yang relative tinggi untuk kedepannya. Yang dimana Tanah adat yang
dimaksud adalah tanah pekarangan desa (PKD) dimana tanah tersebut merupakan tanah
yang dikuasai oleh desa yang diberikan kepada warga desanya (krama desa) untuk tempat
tinggal, dalam hal ini melekat kewajiban berupa beban baik tenaga atau materi yang
diberikan kepada desa adat/ desa pakraman.Yang sebagimana bagian depan rumah yang
merupakan area tempat persembayangan (pemerajan/sanggah) kramadesa sehari7

hari,dipergunakan sebagai tempat usaha seperti; pertokoan, restaurant, spadan lain


sebagainya. Hal ini menyebabkan tempat persembayangan tersebut dipersempit bahkan
bergeser kebelakang untuk mendapatkan hasil (dollar) baik digunankan sendiri maupun
dikontraka

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Bahwa
pengaruh pariwisata terhadap peralihan tanah perkarangan desa di bali yang sebagaimana
dalam kedudukannya dan menurut fungsinya , kedudukan tanah adat di Bali selain tidak
dapat di pisahkan dengan sejarah tanah adatnya juga tidak bisa dilepaskan dengan
masyarakat hukum adat selaku pemilik dari tanah adat. Mengenai masyarakat hukum
adat diatur secara yuridis dalam peraturan perundang-undangan, peraturan daerah dan
awig-awig. Pasal 18B ayat (2) UUD Dasar 1945 yang menyatakan bahwa Negara
mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yg diatur dalam undang-undang, Pasal 3
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Undang-Undang Pokok Agraria sebagai
Pasal yang mengakui keberadaan hak ulayat sepanjang kenyataan masih ada, Pasal 1
angka 4 Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman
sebagaimana telah diubah dengan Perda Provinsi Bali No. 3 Tahun 2003 yang
menunjukan bahwa desa di Bali termasuk jenis desa kesatuan masyarakat hukun adat
Bali. Hal ini menunjukan bahwa desa pakraman sebagai masyarakat hukum adat di Bali
adalah merupakan desa yang otonum karena mempunyai hak untuk mengurus rumah
tangganya sendiri.Desa pakraman yang memiliki otonomi dalam kaitannya dengan fungsi
tanah juga dapat mempunyai hak untuk mengatur pengunaan tanah-tanah yang ada di
wilayahnya. Sebagaimana terdapat di Desa Pakraman di Bali yang dalam kepustakaannya
disebut dengan hak ulayat. Dilihat dari ciri khas desa pakraman ini jelaslah bahwa corak
masyarakat Bali dalam wadah desa pakraman adalah sosial religius dalam arti segala
prilaku selalu dilandasi oleh ajaran Agama (Agama Hindu). Sejalan dengan ciri khas
(identitas), corak masyarakat Bali serta unsur yang dimiliki, maka segala aktifitas akan
selalu mencari bentuk (menyesuaikan diri) lewat situasi serta kondisi yang demikian. Hal
ini pun terlihat pada pemanfaatan tanah-tanah adat yang dimiliki oleh Desa Pakraman
Daerah Pariwisata di Bali, dimana tanah-tanah adat memperlihatkan fungsi dalam tiga
bentuk yaitu:

1. Tanah adat berfungsi ekonomis merupakan tanah-tanah adat khususnya yang


berupa tanah-tanah pertanian (sawah, tegalan) semenjak dahulu memang telah
dipakai sebagai sarana pokok dan penunjang dalam kehidupan kerumah tanggaan.
2. Tanah adat berfungsi sosial ini misalnya dapat dilihat pada penyediaan tanah milik
desa untuk dipakai sekolah, lapangan, pasar, dan sebagai oleh pemerintah.
3. Tanah adat berfungsi keagamaan merupkan tanah yang diperuntukan sebagai
tempat melakukan upacara secara rutin baik dilakukan oleh krama desa sebagai
kesatuan maupun perorangan sesuai dengan keperluan.
Berdasarkan faktor penyebab terjadinya perubahan fungsi tanah adat di Bali. Terdapat
ada 2 (dua) factor penyebab utama yang dialih fungsikannya tanah adat menjadi obyek
pariwisata di Bali, yaitu: Faktor Ekonomi adalah Seperti pada uraian di atas, berkat adanya
perkembangan pariwisata yang sangat pesat di Bali ini sangat berpengaruh terhadap harga-harga
tanah yang ada di Bali. Sehingga harga tanah yang pada mulanya tidak mempunyai nilai
ekonomis menjadi bernilai tinggi, dengan adanya pariwisata yang membutuhkan sarana sebagai
tempat untuk membangun Hotel, Restaurant, Cafe, Art Shop yang mendukung sebagai daerah
tujuan pariwisata. Selanjutnya menurut hemat penulis, dengan dialihfungsikan tanah adat
tersebut dan dibangunnya Hotel, Cafe dan Art Shop, akan menambah penghasilan bagi warga
desa adat tersebut dengan cara menjual cindera mata atau buah tangan. Dapat kita lihat pasar seni
Sukawati, dimana disana terdapat berbagai macam hasil kerajinan dan kesenian dari masyarakat
setempat. Apalah jadinya jika tanah tetap dibiarkan kosong dan menjadi semak belukar, tanah
tersebut tidak akan memberikarn nilai ekonomi. Dengan menjadi obyek wisata, para turis wajib
membayar tiket masuk, sangat memberi keuntungan ekonomi yang tinggi baik bagi warga
masyarakat, warga desa adat, maupun warga desa dinas. Sekali lagi, faktor penyebab dialih
fungsikannya tanah adat menjadi tempat pariwisata adalah karena faktor ekonomi tersebut.
Ekonomi meningkat, akan mensejahterakan warga masyarakat adat sehingga pura-pura atau
tempat-tempat pemujaan/sembahyang yang rusak atau sudah termakan usia, dengan adanya uang
pemasukkan dari hasil obyek wisata tersebut, maka dapat diperbaiki. Dengan tempat
sembahyang yang baik dan terawat baik, maka untuk menjalankan ibadahpun akan tenang dan
khusuk. Faktor Perubahan Pola Pikir adalah Sebagaimana perubahan pola pikir manusia yang
seiring perkembangan dan pemenuhan kebutuhan yang menyebabkan perubahan terhadap pola
pikir yang mengalihkan suatu fungsi tanah adat yaitu tanah perkarangan desa (PKD) menjadi
10

pemanfaatan suatu tanah adat terhadap daerah pariwisata di Bali. Pemanfaatannya tersebut dialih
fungsikannya tanah adat menjadi tempat pariwisata dengan faktor ekonomi. Dengan faktor
ekonomi terhadap pengalihan fungsi tanah adat yaitu Tanah Perkaranga Desa (PKD) yang
dimana dapat meningkat, akan mensejahterakan warga masyarakat adat dan menambah adanya
perkembangan pariwisata yang sangat pesat di Bali yang berpengaruh dampak kedepannya
sehingga pura-pura atau tempat-tempat pemujaan/sembahyang yang rusak atau sudah termakan
usia, dengan adanya uang pemasukkan dari hasil obyek wisata tersebut, maka dapat diperbaiki.
Yang Sebagaimana Dampak pengaruh Pariwisata terhadap peralihan tanah adat di Bali
adalah Dapat diketahui bahwa hampir sebagian masyarakat di Bali bekerja dan mempertaruhkan
nasibnya pada bidang-bidang yang berkaitan dengan pariwisata,sehingga dampak dari pariwisata
itu sendiri sebagai hasilnya dapatlah membantu kesejahteraan masyarakat yang ada di Bali pada
umumnya. Dimana tersebarnya lapangan pekerjaan yang lebih banyak terkait pariwisata dapat
memberikan peluang pekerjaan lebih banyak terhadap masyarakat di Bali,terkait dengan
masyarakat adat,damapk positif yang dapat dipetik adalah dimana diberikannya peluang terhadap
masyarakat adat yang memiliki kesenian-kesenian yang khas di masing-masing daerah untuk
memperkenalkan dan sekaligus menjadikan sebagai suatu penghasilan bagi masyarakat tersebut.
Dalam perkembangan kemajuan ini pariwisata DesaPakraman di Bali mengakibatkan tanahtanah DesaPakraman di Bali mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Dengan adanya
kondisi seperti ini maka banyak kramadesa yang memanfaatkan tanah adatnya sebagai
penunjang fasilitas pariwisata akan menghasilkan pendapatan yang relative tinggi untuk
kedepannya. Yang dimana Tanah adat yang dimaksud adalah tanah pekarangan desa (PKD)
dimana tanah tersebut merupakan tanah yang dikuasai oleh desa yang diberikan kepada warga
desanya (krama desa) untuk tempat tinggal, dalam hal ini melekat kewajiban berupa beban baik
tenaga atau materi yang diberikan kepada desa adat/ desa pakraman.Yang sebagimana bagian
depan rumah yang merupakan area tempat persembayangan (pemerajan/sanggah) kramadesa
sehari-hari,dipergunakan sebagai tempat usaha seperti; pertokoan, restaurant, spadan lain
sebagainya. Hal ini menyebabkan tempat persembayangan tersebut dipersempit bahkan bergeser
kebelakang untuk mendapatkan hasil (dollar) baik digunankan sendiri maupun dikontrakan
Dimana bagian depan rumah yang biasanya merupakan area tempat persembayangan
(pemerajan/sanggah) kramadesa sehari-hari, sekarang dipergunakan sebagai tempat usaha
seperti; pertokoan, restaurant, spadan lain sebagainya. Penggunaan tanah PKD (pekarangan desa)
11

di bali juga telah berubah dari tahun ke tahun yang dimana tidak sesuai dengan urutan fungsi
utama tanah adat yang di bali, yaitu yang pertama adalah fungsi keagamaan, kedua adalah social,
dan jika kedua fungsi diatas sudah terpenuhi, maka barulah terakhir adalah fungsi ekonomi,
tetapi sekarang tanah (PKD) mengalami perubahan yaitu, pada awalnya tanah pekarangan desa
(PKD) di DesaPakraman berfungsi sosial religius, tetapi kini telah beralih fungsi menjadi fungsi
ekonomis saja, kedua fungsi lainnya, fungsi keagamaan dan fungsi social di kesampingkan.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


12

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Undang-undang Pokok Agraria.


Darmayuda, M. Suasthawa, 1987, Status Dan Fungsi Tanah Adat Bali Setelah
Berlakunya UUPA
Surojo Wignjodipuro, 1973, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, Alumni, Edisi
IIBandung.
Djaren Saragih, 1984, Pengantar Hukum Adat, Tarsito, Edisi II, Bandung.
Sumardjono, Maria S.W., Hukum Agraria di Indonesia, Jakarta, 1982
Peraturan Daerah (PERDA) Provinsi Bali,Nomor 3 Tahun 2001 tentang
DesaPakraman, sebagaimana diubah dengan
PERDA Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003 tentang DesaPakraman. Awig-Awig
DesaPakraman

13