Anda di halaman 1dari 7

I.

LATAR BELAKANG

Bumi ini terdiri dari 1/3 daratan dan 2/3 lagi yaitu lautan. Daratan ini banyak digunakan
oleh makhluk hidup untuk menjalani kehidupan, baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan.
Dalam hal ini, manusia terus mencari berbagai pengetahuan ilmu untuk menjalani kehidupan,
salah satunya ilmu ukur tanah. Ilmu Ukur Tanah mempelajari sebagian kecil dari permukaan
bumi dengan cara melakukan pengukuran pengukuran yang bertujuan mengambil data dan
membuat peta. Pengukuran yang dilakukan terhadap titik titik detail alam maupun buatan
manusia meliputi posisi horizontal (x,y) maupun posisi vertikal nya (z) yang direfrensikan
terhadap permukaan air laut rata rata. Salah satu alat pengukuran tersebut adalah teodolit.
Teodolite adalah instrument / alat yang dirancang untuk pengukuran sudut yaitu sudut
mendatar yang dinamakan dengan sudut horizontal dan sudut tegak yang dinamakan dengan
sudut vertikal. Dimana sudut sudut tersebut berperan dalam penentuan jarak mendatar dan
jarak tegak diantara dua buah titik lapangan. Saat ini theodolit telah berkembang sedemikian
rupa, sehingga banyak sekali tipe dari alat ini,dari yang lama sampai yang baru. Untuk tipe lama,
salah satunya adalah theodolit Fennel Kassel (FK). FK masih dibagi 2, yaitu FK besar dan FK
kecil. Sebelum menggunakan teodolit, perlu diketahui cara menyeimbangkannya sehingga hasil
pengukuran yang dilakukan tersebut akurat. Bila menyeimbangkanya saja sudah tidak bisa, maka
dapat dipastikan hasil pengukuran menggunakan teodolit itu tidak akan akurat. Maka dari itu,
perlu diketahui cara cara untuk menyeimbangkan sehingga hasil pengukuran seperti sudut tidak
salah.
II.
III.

TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa/i dapat mendirikan serta memasang statif, unting unting dan teodolit
dengan baik dan benar sesuai prosedur
Dapat menyeimbangkan teodolit sehingga nivo kotak dan tabung berada di tengah
Bisa membaca sudut yang terdapat pada teodolit
WAKTU DAN TEMPAT PRAKTIKUM

Waktu

: 15, 17 dan 21 September 2015

Tempat

: - Laboratorium Ilmu Ukur Tanah


- Hutan Fakultas Teknik Geodesi dan Geomatika

IV. ALAT DAN BAHAN


Teodolit
Statif Kayu
Unting - unting
V. LANGKAH KERJA
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Tentukan titik tengah sebelum melakukan pengamatan
3. Dirikan statif kayu di titik tengah tersebut pada tanah datar sehingga bisa berdiri tegak

Pengaturan Teodolit

Page 1

4. Pasang unting unting pada statif kayu tepat di titik tengah tersebut
5. Pasang teodolit pada statif kayu dan kencangkan menggunakan baut instrumen
6. Lakukan centering dengan memutar sekrup ABC sedemikian hingga nivo kotak dan
tabung berada di tengah
7. Cek hasil dengan cara memutar teodolit sebesar 180o lalu putar lagi sebesar 90o
8. Bila nivo kotak dan tabung berada di tengah, putar lagi secara sembarang dan bila nivo
masih berada ditengah maka centering sudah berhasil, bila tidak berhasil ulang lagi dari
memutar sekrup ABC
9. Tentukan titik pengamatan, contoh: arahkan teropong pada ujung penangkal petir
10. Amati sudut pada piringan vertikal dan horizontal lalu tuliskan hasilnya
VI.

HASIL KEGIATAN

(terlampir)
VII.
PEMBAHASAN
A. Pengaturan Sumbu 1 Vertikal dan Sentering
Sebelum melakukan pengukuran, perlu diketahui cara pemusatan optis yang diarahkan tepat
pada titik yang telah ditentukan. Biasanya agar teodolit tepat pada titik tersebut dipasangkan
unting unting pada statif untuk mendekati kedudukan pemasangan yang diperlukan. Setelah
proses pemasangan statif dan unting unting, proses selanjutnya pemasangan teodolit memakai
instrument dengan pemusat optis, pasangan kerangka bawah dengan nivo kotak dan kaki tiga
yang dapat diatur panjangnya adalah paling mudah dilaksanakan dalam langkah langkah
seperti berikut :
a) Aturlah kedudukan kaki tiga dengan mengangkat dan menggerakkan instrument
secara keseluruhan sehingga titiknya sejajar dengan garis bidik pemusat optis
b) Tanamkan ujung kaki dan imbangkan gelembung nivo kotak dengan mengatur
panjangnya kaki tiga (titiknya masih akan tetap di sejajar garis bidik pemusat
optis)
c) Datarkan instrument memakai nivo piringan dan sekrup penyetel
d) Kendorkan sekrup kerangka bawah geserkan instrument (jangan memutarnya)
hingga tepat terpasang titiknya pada benang silang pemusat optis.
Ulangi langkah (c) dan (d) sehingga diperoleh pemusatan dan keseimbangan nivo yang
sempurna. Sebelum mulai, instrument harus dipusatkan di bidang atas kaki tiga agar pergesaran
dapat maksimum langkah (d) putar ke ke segala arah. Bila setelah diputar nivo kotak dan nivo
tabung tetap berada ditengah maka pemusatan sudah benar.
Sudah dikemukakan bahwa teodolit mempunyai sebuah bidang tiga sekrup penyetel yang
biasa disebut sekrup penyetel ABC dan sebuah gelembung nivo piringan tunggal. Untuk
mendatarkan instrument, nivo piringan ditempatkan sejajar garis melalui sembarang dua sekrup
penyetel dan nivo diseimbangkan dengan sekrup ini, kemudian diputar 90 o diseimbangkan hanya
Pengaturan Teodolit

Page 2

dengan sekrup ketiga saja. Proses ini diulang dan dengan cermat dicek untuk meyakinkan bahwa
gelembung tetap seimbang. (Sebagaimana halnya dengan transil dan alat sipat datar, gelembung
bergerak dalam arah ibu jari kiri bila sekrup penyetel diputar). Pemasangan kaki tiga yang
kokoh adalah penting untuk teodolit yang mempunyai gelembung amat peka dan instrument
harus dilindungi peneduh jika dipasang di terik matahari; kalau tidak gelembung akan
mengembang dan bergerak kearah ujung yang lebih hangat bila instrument kena panas.
Setelah proses pemusatan (centering), sudah dapat melakukan pengukuran sudut. Dengan
cara membidik sasaran yang ingin diukur terlebih dahulu dan setelah membidik kunci teropong
agar tidak bergerak lagi. Setelah itu, bsia dilakukan pembacaan sudut baik di lingkaran vertikal
maupun horizontal. Pada Teodolit FK Besar / Kecil, hasil jumlah sudut pada lingkaran horizontal
teodolit depan dan belakang akan sama dengan 360o.
B. Pembacaan Sudut Vertikal dan Horizontal
Setelah proses centering selesai, maka dapat dilakukan langkah pengukuran sudut. Pada
teodolit tipe lama terdapat dua jenis, yaitu teodolit Fennel Kessel (FK) Besar dan Fennel Kessel
(FK) Kecil. Cara pembacaan sudut pada FK Besar dan Kecil mempunyai perbedaannya
tersendiri.
Fennel Kassel Besar lingkaran horizontal
1.

Membidik menggunakan theodolit ke sembarang arah.

2.

Mengunci pergerakan menggunakan klem horizontal

3.
Mengatur jarum pembacaan pada lingkaran horizontal agar berhimpit di skala utama dan
nonius dengan memutar klem penggerak halus horizontal.
4.

Membaca hasil bacaan dengan aturan :


Pada skala utama menentukan besar derajat dan menit dengan memerhatikan jarum yang

berhimpit pada skala, setiap skala mempunyai nilai 10.

Pada skala nonius mencari pula jarum yang berhimpit dengan skala, dengan besar sudut
setiap skala 20.

Menjumlahkan hasil bacaan antara skala utama dan nonius.


Contoh:

Pengaturan Teodolit

Page 3

Pembacaan sudut:
Skala utama
Skala nonius

= 53 50
=
06 20
= 53 56 20
Fennel kassel besar lingkaran vertical
1.

Membidik theodolit ke segala arah

2.

Mengunci pergerakan dengan klem vertical

3.
Membaca besar sudut pada mikroskop bacaan lingkaran vertical dengan aturan sebagai
berikut :

Pada skala utama, besar sudut ditentukan dengan memerhatikan skala sebelum angka nol
pada skala nonius,jarum diabaikan.

Pada skala nonius, memerhatikan skala yang sejajar atau berimpit dengan skala utama.

Menjumlahkan hasil bacaan skala utama dan nonius

Pengaturan Teodolit

Page 4

Pembacaan sudut:
Skala utama
Skala nonius

= 283 15
=
02 30
= 283 17 30

Fennel Kassel kecil lingkaran horizontal


1.

Membidik theodolit ke sembarang arah

2.

Mengunci pergerakan menggunakan klem horizontal

3.

Membaca besar sudut pada mikroskop bacaan lingkaran horizontal dengan aturan:

Pada skala utama, besar sudut ditentukan dengan memerhatikan skala sebelum angka nol
pada skala nonius.

Pada skala nonius, pembacaan dilakukan dengan memerhatikan skala yang sejajar atau
berhimpit dengan skala utama.
Contoh:

Pembacaan sudut:
Skala utama
Skala nonius

= 222 30
=
04 00
= 222 34 00

Fennel kassel kecil lingkaran vertical


1.

Membidik theodolit ke segala arah

2.

Mengunci pergerakan dengan klem vertical

3.

Membaca besar sudut pada mikroskop bacaan lingkaran vertical dengan aturan :

4.

Langsung membaca pada skala dengan memerhatikan jarum yang memotong skala.

Contoh:
Pengaturan Teodolit

Page 5

Fennel kassel kecil lingkaran vertical


1.

Membidik theodolit ke segala arah

2.

Mengunci pergerakan dengan klem vertical

3.

Membaca besar sudut pada mikroskop bacaan lingkaran vertical dengan aturan :

4.
Langsung membaca pada skala dengan memerhatikan jarum yang memotong skala.
Contoh:

Pembacaan sudut:
Skala utama
Skala nonius

VIII.

= 294 23
== 294o 23

KESIMPULAN

Pengaturan Teodolit

Page 6

Sebelum melakukan pengukuran sudut, teodolit harus diseimbangkan terlebih dahulu atau
biasa disebut dengan sentering, bila proses sentering tidak benar maka hasil pengukuran tidak
akan akurat. Sehingga sentering ini perlu dipelajari secara dengan benar sebelum melakukan
tahap selanjutnya seperti pengukuran sudut
IX.

DAFTAR PUSTAKA

Brinker, Russel. C, dkk. 2000. Dasar Dasar Pengukuran Tanah Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Frick, Heinz. 1979. Ilmu dan Alat Ukur Tanah. Yogyakarta: Kanisius
http://learnmine.blogspot.co.id/2013/04/ilmu-ukur-tanah.html
http://bondangalih.blogspot.co.id/2013/01/pembacaan-sudut-pada-theodolite-fennel.html

Pengaturan Teodolit

Page 7